Chanyeol baru saja menghentikan mobil di parkiran di pinggir jalan, ketika ia melompat keluar.

"Apa-" Baekhyun mulai berbicara, tapi kemudian ia menyadari bahwa Chanyeol keluar untuk membuka pintu untuknya.

Dia tidak bisa menahan alisnya naik ke atas tertuju pada Chanyeol. "Tidakkah kita melihat seseorang yang begitu gentleman malam ini?"

Chanyeol memberinya senyum kecut. "Jika kau benar-benar berhenti sejenak dan berpikir tentang hal itu, aku selalu menjadi seorang gentleman."

Tubuh Chanyeol mengalami getaran kecil ketika Baekhyun menyilangkan tangannya di atas dadanya sendiri.

"Setidaknya sebagian besar."

"Mungkin saja," jawab Baekhyun.

Chanyeol memberi isyarat pada Baekhyun untuk masuk ke dalam. Dengan dinginnya udara yang menusuk, Baekhyun dengan senang hati menyelip masuk ke jok kulit hangat mobil Chanyeol.

Chanyeol menutup pintu kemudian bergegas berputar untuk duduk di belakang kemudi. "Udara sangat dingin untuk bulan Oktober, kan?" Gumannya.

Getaran berjalan menelusuri seluruh tubuh Baekhyun seperti air hujan mengalir ke anak sungai. Seketika Baekhyun mengingat percakapan mereka di tempat parkir setelah Chanyeol pertama kali mengajukan proposi padanya di O'Malley.

Chanyeol gugup saat itu dan membicarakan masalah lalu lintas. Sekarang Baekhyun tahu bagaimana gugupnya Chanyeol karena dia terpaksa berbicara tentang cuaca.

Kenangan itu tanpa sengaja menyentuh sebuah saraf yang nyeri, mengirimkan rasa sakit kerinduan pada masa lalu menjalar ke tubuhnya. Untuk meredakan dinginnya emosi, Baekhyun mengusap tangannya sendiri secara bersamaan.

Chanyeol mengulurkan tangan dan menyalakan pemanas. Baekhyun melirik padanya. Jantungnya berdegup liar pada perhatian terus-menerus dari Chanyeol.

"Terima kasih."

"Kau ingin makan malam?" Tanya Chanyeol.

"Aku benar-benar tidak lapar," dia berbohong.

Chanyeol mendengus. "Aku menebak Dr. Jaehyun memberimu makan, benarkan?"

Baekhyun menegang mendengar kata-katanya yang menusuk. "Dia hanya membawakan aku makanan ringan."

"Kau butuh makan." Dia berpaling dari jalan untuk menatap Baekhyun.

"Demi Jiwon, jika bukan untukmu."

Baekhyun menyipitkan matanya ke arah Chanyeol. "Aku tahu apa yang dibutuhkan Jiwon, terima kasih."

Chanyeol meringis. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengatakannya seperti itu."

Chanyeol menarik napasnya dengan kasar. "Hanya saja kupikir kau harus makan untuk dia, meskipun kau masih sedih tentang apa yang terjadi hari ini dengan Ayah."

Ketulusan dalam suaranya, bersama dengan belas kasihnya, telah melunakkan hati Baekhyun. Matanya melihat tubuh Chanyeol yang lebih kurus. Mr. Park tidak melebih-lebihkan ketika ia mengatakan Chanyeol jarang makan.

"Dari penampilanmu, kau seharusnya makan juga." Rahang Chanyeol menegang.

"Mungkin jika kamu mau makan denganku, aku akan makan."

Baekhyun tahu, hal terakhir di dunia yang harus dia lakukan adalah setuju untuk makan malam. Tapi dia merasa ketetapan hatinya perlahan pudar saat perut pengkhianatnya menggeram.

Baekhyun meringis ketika hal itu membuat Chanyeol menyeringai padanya. "Jjadi kau lapar? Ataukah hanya teman makan malamnya yang ingin kau tolak?"

Baekhyun memutar jari-jarinya masuk ke keliman baju atasannya. "Jangan berdebat lagi, oke?"

Saat memandang ekspresi penuh harap Chanyeol, Baekhyun mendesah.

"Bawa aku makan malam."

Sudut mulut Chanyeol naik ke atas, dan Baekhyun tahu Chanyeol sedang menekan senyumnya yang berseri-seri.

.

.

Ketika Chanyeol berhenti di sebuah tempat parkir yang begitu familiar, Mau tidak mau Baekhyun terkesiap.

"Di sini?" suara Baekhyun mencicit melihat kerlip neon hijau dan jingga bertuliskan O'Malley.

Chanyeol mengangkat bahu saat ia mematikan mesin. "Ini adalah tempat pertama yang aku lihat. Selain itu kita berdua menyukai makanan dan suasana disini, kan?"

Serbuan kenangan terasa menyakitkan telah menabraknya seperti gelombang laut di tengah badai yang bergolak.

"Kurasa ya," gumamnya.

Selalu bersikap gentleman, Chanyeol menahan pintu restoran terbuka untuknya. Untuk beberapa saat, dia bersyukur tidak melihat Jenny berdiri di tempat hostess. Kemudian jeritan tajam menyebabkan Baekhyun mengalihkan tatapan matanya menuju bar.

"Baekhyun!" Pekik Jenny. Wajahnya berseri-seri saat ia melompat dari kursinya begitu cepat sampai jatuh ke lantai.

Bergegas setelah melompat, Jenny memeluk leher Baekhyun. "Oh Ya Tuhan! Aku tidak percaya ini!"

Kehangatan memenuhi pipi Baekhyun serta hatinya melihat antusias Jenny yang berlebihan. "Aku juga senang melihatmu."

Jenny menarik diri. Mata birunya menyala dengan kebahagiaan saat ia melihat penampilan Baekhyun.

"Kau tampak benar-benar menakjubkan!" Tatapannya tertuju pada perut Baekhyun yang menonjol.

"Aku berharap aku terlihat seksi seperti penampilanmu ketika aku hamil!"

Baekhyun tertawa dan menaruh tangannya di atas perutnya." Terima kasih. Aku justru tidak merasa seksi saat ini."

"Percayalah, kau terlihat seperti itu, Mama Seksi! Sial, kau hampir tidak terlihat sedang hamil, dan kau seharusnya terlihat hamil, seperti enam bulan sekarang, kan?" Baekhyun mengangguk.

"Selamat atas calon anak laki-lakimu."

"Terima kasih."

Jenny mengalihkan perhatiannya kepada hostess. "Kenapa kau tidak mengantar Chanyeol masuk menuju ke salah satu bilik? Aku ingin mendengar lebih banyak tentang bayinya."

Dengan mengangguk, hotness meraih dua menu dan memberi isyarat pada Chanyeol. Chanyeol dengan enggan mengikutinya. Dia bahkan melemparkan beberapa tatapan hati-hati dari balik bahunya ke Baekhyun.

Jenny meraih tangan Baekhyun dalam genggamannya. Ekspresi riangnya segera memudar menjadi simpati.

"Aku hanya ingin kau tahu bagaimana khawatirnya kami dengan Chanyeol. Pada minggu minggu pertama ayahku harus mengantarnya pulang beberapa malam." Air mata menggenang berkilauan di matanya.

"Kami takut kami akan kehilangan dia."

Baekhyun tercekat. Sebelum dia bisa menjawab, Jenny menggelengkan kepalanya. "Dengar, aku tahu dia mengacaukannya. Aku mencoba untuk memperingatkan dia ketika ia memiliki keberanian untuk membawa pelacur itu kesini."

"D-Dia membawanya"

Jenny menganggukkan kepalanya. "Kadang-kadang aku berharap aku tidak menolak saat dia memesan meja. Kurasa mungkin jika ia mau berpikir tentang hal itu sedikit lebih lama ia tidak akan pernah membawanya pulang."

Dari atas bahu Jenny, Baekhyun melihat Chanyeol menatap penuh harap kepadanya. "Aku harus pergi."

Dia mulai menarik tangannya, tapi Jenny meremasnya dengan ketat. "Aku tidak tahu apa yang aku akan lakukan jika aku ada di posisimu. Aku berharap dan berdoa aku tidak akan pernah mengalaminya. Tapi aku tahu aku belum pernah melihat seorang laki-laki yang lebih sengsara karena mengacaukan semuanya sepanjang hidupku. Dia begitu tertekan oleh perasaan bersalah dan penyesalan, sehingga membuat kami takut hal itu akan menghancurkan dirinya."

Baekhyun tidak tahu harus berkata apa, jadi dia hanya menyentakkan kepalanya mendengar pengakuan Jenny. Dengan langkah goyah, ia berjalan menuju ke Chanyeol. Untungnya, pelayan tidak menempatkan mereka di tempat yang sama dimana mereka pernah kemari sebelumnya.

Chanyeol hanya memesan minuman mereka. Karena Baekhyun tidak minum kafein sejauh ini, ia tidak meminta sesuatu yang lain daripada Coke yang sudah di atas meja.

Setelah meminum seteguk, Baekhyun mulai melihat menu. Melirik keatas, dia bertanya, "Makanan apa yang enak?"

Chanyeol mengangkat bahu. Baekhyun bisa tahu dari cara Chanyeol memutar bolak-balik bibir bawahnya diantara giginya kalau Chanyeol bergumul dengan sesuatu.

Baekhyun membuka mulutnya untuk bertanya pada Chanyeol ketika pelayan mereka kembali. "Apa yang bisa saya sajikan untuk anda?"

Baekhyun menatap menu. "Aku mengalami kesulitan untuk memutuskan."

Ketika dia mendongak, dia bertemu mata sendu Chanyeol. Baekhyun tahu dia harus melakukan sesuatu untuk meredakan sedikit ketegangan ini.

"Apakah kau yang membayar?"

Alisnya berkerut. "Boleh. Kenapa?"

Baekhyun menyeringai. "Bagus. Aku bingung antara memesan sajian yang lebih murah atau sesuatu yang lebih mahal. Tapi karena kau yang membayar, aku akan memanjakan diriku sendiri."

Ketika Baekhyun mengedipkan mata padanya, senyum lambat tersungging di bibir Chanyeol. "Pesan seluruh menu sialan itu. Aku tidak keberatan."

"Kurasa aku ingin Ribeye, matang, dengan sayuran kukus. Dan aku ingin salad juga dengan saus mustard madu."

Sambil mengangguk, pelayan menuliskan pesanan. Dia kemudian beralih ke Chanyeol. "Dan bagaimana dengan Anda?"

"Hanya bir saja untukku," jawab Chanyeol.

Pelayan mulai akan meninggalkan mereka menuju dapur, tapi Baekhyun memukul kepalan tangannya di atas meja.

"Tidak, tidak! kau tidak hanya akan duduk disana dan minum. Kau lebih baik memesan sesuatu dan lakukan itu sekarang! Itu bagian dari kesepakatan, ingat?"

"Baekhyun, aku tidak ingin-"

Baekhyun mengalihkan tatapan bermusuhan dari Chanyeol ke pelayan yang tampak sedikit pucat melihat ketegangan yang telah berkembang.

"Dia pesan steak Porterhouse, setengah matang, dengan banyak kentang panggang. Kau juga dapat membawakannya tambahan kentang tumbuk bumbu bawang putih. Dia juga pesan salad, salad Caesar. Dan bisakah kau bawakan sekeranjang roti dengan banyak mentega secepat mungkin, please?" Baekhyun memiringkan kepalanya ke arah Chanyeol.

"Dia sangat menyukai rotimu hingga dia bisa hanya dengan makan itu saja."

Chanyeol menatapnya dengan kaget. Pena pelayan melayang di atas pad sampai Chanyeol mengangguk-angguk setuju.

"Baiklah. Aku akan menaruh pesanan anda di dapur dan membawakan roti."

"Terima kasih," jawab Baekhyun sambil menyodorkan menu.

Setelah meneguk Coke, ia menemukan Chanyeol menatapnya.

"Apa?"

"Kau ingat apa yang aku sukai," gumamnya.

Baekhyun membanting gelasnya lebih keras daripada yang dia ingin lakukan. "Tentu saja aku tahu. Satu-satunya hal yang mudah diprediksi selain libidomu adalah perutmu. Kau memesan makanan yang sama setiap kali kita datang ke sini."

Senyum menggoda samar-samar bermain di bibir Chanyeol. "Jika aku tidak menghabiskan isi piringku, apakah kau akan memukul pantatku, Mommy?"

Baekhyun menyilangkan tangan di depan dadanya. "Tidak, tapi aku akan memaksamu makan karena kau bersikeras bertindak seperti balita yang sedang sialan merajuk!"

Chanyeol membawa satu tangan ke dadanya sendiri. "Ouch, Baekhyun."

"Jangan mulai denganku, Chanyeol. Kau tampak seperti neraka, dan kau membutuhkan lebih banyak makanan daripada alkohol setiap waktu."

Chanyeol menjatuhkan siku di meja dan mencondongkan tubuh ke depan. "Tidak adil, bukan?"

"Apa?"

"Bahwa aku terlihat seperti neraka, tapi kamu tampak begitu sialan cantik." Suara kepedihan datang dari jauh di belakang tenggorokan Chanyeol saat ia menatap atasan baju hamil warna hijaunya.

"Dan kau mengenakan warna hijau seperti malam pertama kali aku melihatmu." Salah satu tangannya di ulurkan untuk mengosok tangan Baekhyun.

"Ya Tuhan, kau masih wanita paling cantik yang pernah kulihat."

Baekhyun menghembuskan nafas dengan frustrasi. "Aku tidak ingin atau butuh rayuanmu atau pujianmu, terima kasih banyak!"

Chanyeol memberikan tatapan terluka padanya. "Tidak bisakah aku mengatakan pada ibu dari anakku bahwa ia terlihat sangat cantik? Bagaimana kehamilan telah membuat perutnya membesar menjadi seorang wanita yang lebih cantik dan seksi."

Jantung Baekhyun terhenti kemudian berdetak lagi mendengar kata-kata dan gairah didalamnya saat Chanyeol menyampaikan itu. Kilau di mata Chanyeol menimbulkan respon di antara pahanya juga.

Dia ingin menampar tubuhnya yang berkhianat serta hormon kehamilan yang telah memompa keseluruh tubuhnya.

"Apa yang kubutuhkan lebih dari pujian, aku ingin kau berubah, Chanyeol," katanya, lirih.

.

.

TBC