James Buchanan Barnes & Wanda Maximoff adalah karakter milik Marvel, tidak ada keuntungan komersil yang didapat dari pembuatan karya ini.


Wanda tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama.

Sampai sekarang juga begitu.

Namun ia, pada akhirnya, harus percaya pada cinta pada pertolongan pertama.

Terdengar seperti sebuah keadaan gawat darurat karena kecelakaan, tapi terserahlah.

Perjalanan ke beberapa kota di Eropa adalah impiannya, dan ia mengumpulkan uang selama dua tahun kerja sambilan untuk itu. Maka, saat liburan semester tiba, ia tak pikir panjang. Ia mempersiapkan semuanya seteliti mungkin, ia memperhitungkan hingga ke budget untuk berbelanja suvenir (termasuk beberapa titipan Pietro yang tidak masuk akal).

Akan tetapi, selalu ada cela.

Ia meninggalkan ponselnya di bus menuju bandara!

Kepanikannya terbaca oleh salah satu anggota tur yang ia ikuti, yang langsung mendekatinya dengan sapaan ramah, "Kau kehilangan sesuatu, Nona?"

"Ponselku!" Wanda masih dengan panik membongkar ranselnya, kemudian mengangkat pandangan. Wanda suka sekali membaca wajah sebelum ini, dan ia merasa lega ia mendapati dirinya didekati orang yang tidak berekspresi macam-macam. "Masalah utama, saudara kembarku pasti akan sangat ribut jika aku tidak mengabarinya ini dan itu dalam perjalananku."

Soal harga, Wanda tak terlalu memikirkannya. Ponsel itu sudah tiga tahun dimilikinya, ketinggalan zaman, dan karena ia terbiasa menggunakan kamera terpisah, tak banyak memori penting di sana. Namun masalah utama adalah Pietro. Lelaki itu cerewet sekali jika Wanda jauh darinya.

Teman seperjalanan yang akan Wanda temui hingga dua belas hari ke depan itu pun tersenyum lembut. "Kalian pasti tidak pernah terpisah, ya?" Dia kemudian merogoh sakunya. "Pakailah ponselku untuk meneleponnya. Kabari bahwa ponselmu hilang, mungkin dia bisa mengusahakannya kembali dengan melapor."

"Boleh jika kau tidak keberatan."

Orang itu mengangguk dan menyodorkan ponselnya lebih dekat pada Wanda. Wanda mengangguk, dan nomor telepon Pietro yang sudah dihafalnya di luar kepala itu pun segera dihubunginya.

"Apa? Aku tidak bawa cukup uang untuk membeli ponsel baru! Kaupikir semudah itu beli ponsel baru di bandara? Atau di negara tujuan? Ya sudah, nanti aku akan menemukan cara!"

Begitulah awalnya, hingga kemudian si teman seperjalanan, yang mengenalkan diri sebagai Bucky itu menjadi 'partnernya' sepanjang perjalanan karena ia menawarkan diri sebagai penghubung Wanda dan Pietro. Pietro boleh menghubunginya kapan saja untuk bertanya soal Wanda, begitu pula sebaliknya. Yang menyebabkan mereka hampir tidak terpisahkan selama perjalanan. Bucky adalah juru foto untuk Wanda, pun sebaliknya. Bucky lebih mudah menghafal tujuan mereka dari itinerari dan sangat melek arah, sementara itu Wanda ahli menemukan sudut yang cocok untuk foto lanskap atau bangunan.

Sampai ke Praha, kota kelima mereka sepanjang perjalanan, Wanda sadar bahwa mereka memang selalu bersama, dan liburan ini terasa milik berdua.

Ada tatapan-tatapan tak tergambarkan, senyuman yang punya makna ganda, dan lirikan-lirikan yang seharusnya berakhir pada kata-kata, tetapi tak ada yang berani memulai.

Wanda gemas sekali.

Begitu mereka tiba di Paris, kota terakhir sebelum pulang, Wanda tidak ingin waktu terbuang sia-sia.

"Sebentar lagi kita pulang," katanya, tak mau melihat wajah Bucky karena ia takut berharap, alih-alih hanya mendongak sambil mengamati puncak Menara Eiffel, "sepertinya kita harus bicara sesuatu."

"Ya." Bucky kemudian mendeham. "Bisakah kita meneruskan hal ini setelah kita kembali ke D.C.?"

Wanda melirik. "Meneruskan? Jalan-jalannya?" ia tergelak.

Bucky juga tertawa, renyah sekali. "Bukan. Terus bersama, maksudku."

#