MY DAY WITH YOU
Keseharian Hinata dan Naruto, asam manis cinta yang mereka berdua rasakan.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem
Rated T
Genre : Romance, dan Friendship. :), Bad Shion (maaf3x ya, Shion aku buat kamu jadi peran antagonis disini! *sujud-sujud dulu dilante, sebelum digampar dan dibantai*)
Pair : NaruHina :D, dan semakin banyak Chara yang muncul.
Warning : Typo, OOC, plus rada-rada gaje hihi~
.
.
.
Chapter 7 : Festival Day : Cinderella Story?
Akhirnya hari yang sangat di tunggu-tunggu oleh seluruh murid di Konoha High School datang juga. Setelah melewati hari ujian yang sangat melelahkan, benar-benar bagai surga!
"Festival Sekolah!" teriak Ino, dan Sakura bersamaan.
"Aku sudah tidak sabar!" diikuti teriakan senang Tenten,
"Iya kan Hinata, Temari!" ujar ketiga gadis itu, dan segera menoleh ke samping mereka, tapi..
"..." tidak ada jawaban.
"Ah! Aku lupa!" teriak Ino seraya menepuk pelan jidat Sakura. Membuat gadis merah muda itu kesal.
"Ino! Kau tidak perlu menepuk jidatku seperti itu kan?! Pakai jidatmu sendiri dong!" teriak gadis itu kesal, sedangkan Ino hanya nyengir nggak jelas serta membentuk tangan 'peace'
"Hehehe~ Gomen, Sakura~ habis jidatmu lebih cocok daripada jidatku!" Ino mulai menjahili temannya tersebut, Nah Tenten yang melihat itu segera menengahi kedua sahabatnya. Sekarang yang lebih penting, kemana Hinata dan Temari? Kedua Gadis itu tidak bersama ketiga sahabatnya seperti biasa. Apa mereka sedang kencan dengan kekasih mereka masing-masing. Atau mungkin kedua gadis itu malah tersesat karena sekolah mereka yang terlalu besar ini?. Oke, lupakan pilihan kedua.
"Aku masih tidak setuju dengan pemilihan itu!" teriak Tenten.
"Iya, benar-benar tidak cocok!" Sakura ikut membarengi, melupakan kejadian tadi dengan cepat.
Apa yang sedang mereka bicarakan? Mari kita mundurkan waktu sebelum festival ini di mulai, tepatnya seminggu yang lalu.
OoOoOoO
FLASH BACK ON :
"Nah, Karena festival sekolah tinggal satu minggu lagi, apa ada yang punya saran. Sebaiknya kita mementaskan apa di festival nanti?!" teriak Konan, salah satu pengurus kelas.
Hari festival sudah semakin dekat, setiap kelas baik itu kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Harus membuat sebuah acara, untuk memeriahkan acara festival Konoha High School ini. tidak hanya itu, bagi kelas yang memiliki penampilan yang baik dan paling bagus daripada kelas-kelas lainnya tentu saja akan mendapatkan hadiah yang sangat besar, dan mengejutkan pastinya.
"Bagaimana kalau kita buat rumah hantu saja?" ujar salah satu murid.
"Sepertinya ide itu sudah diambil oleh kelas Neji, di sebelah." Tenten selaku pacar dari Neji tentu saja tahu acara apa yang akan dilaksanakan oleh kekasihnya tersebut, yang tidak lain adalah membuat rumah hantu.
"Baiklah, kalau begitu rumah hantu kita coret." Konan segera mencoret daftar rumah hantu dari listnya di papan.
"Lebih baik kalau kita buat, rumah boneka saja!" ujar Sasori, yang langsung dijawab oleh sweatdrop semua teman-temannya di kelas.
'Kau kira ini taman bermain boneka!' batin mereka bersamaan.
"Le..lebih baik tidak.." ucap Konan sedikit salah tingkah menerima ide Sasori tadi, dan Sasori yang mendengar itu hanya bisa kecewa.
"Kalau begitu kita buat saja tempat untuk bermain dengan anjing disini, setiap masuk boleh menyentuh dan memeluk anjing sesukamu!" teriak Kiba dengan semangat empat lima.
Gedubrak! Semua teman-teman disana hampir saja terjatuh bersamaan *lagi*
'Memang ini kebun binatang!' batin mereka semakin kesal, kenapa tidak ada orang yang memikirkan ide yang lebih masuk akal.
"Tidak!" Jantung Konan hampir copot kalau saja tidak segera di tenangkan oleh Pein, kekasihnya.
"Sabar, sabar.." Pein menenangkan kekasihnya tersebut, menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Hah~ Arigatou Pein~" ujar Konan, dan segera menatap mata Pein, pemuda itu membalas menatap manik gadis itu.
"Sama-sama~" bisiknya.
Krik...krik..Lho?! kenapa jadi dunia milik berdua kayak gini!
"Ehem!" Ino yang sedikit kesal melihat kemesraan Konan dan Pein yang tidak pada tempatnya mendehem keras.
"Eh!" pekik kedua pasangan itu, segera melepaskan pegangan tangan mereka berdua dan melanjutkan pemilihan tadi. Tentu saja masih dengan wajah yang sama-sama merona. Nah ketika Shion melihat adegan kemesraan pasangan tadi, Gadis itu jadi punya ide yang brilian. Dengan cepat ia mengangkat tangannya.
"Bagaimana kalau kita buat drama Cinderella saja! Apalagi adegan romatisnya banyak, pasti semua orang suka. Dan aku yakin kelas kita bisa memenangkan festival ini kalau memilih drama ini!" usulnya.
Konan dan semua anggota pengurus kelas berdiskusi,
"Bagaimana?" tanya Shion kembali.
"Baiklah, kalo memang seperti itu yang kau pikirkan. Yah~ daripada membuat kelas kita jadi taman boneka dan kebun binatang." Ujar Pein yang akhirnya menyetujui ide Shion.
Sedangkan Kiba dan Sasori, mereka berdua sudah hampir melempar Pein dari lantai atas kalau tidak ada yang menghentikan mereka berdua. Hah~
Nah pemeran utama kita Hinata, 'Cinderella, sepertinya bagus~' batin gadis itu senang, dari dulu dia memang suka sekali dengan dongeng-dongeng. Naruto yang melihat kekasihnya, Hinata yang tersenyum seperti itu. Membuatnya ikut setuju dengan ide Shion tadi, matanya masih memandang gerak-gerik Hinata. Sampai sebuah teriakan mengagetkannya.
"Naruto!" Bagaimana menurutmu?!" ujar Shion yang kini sudah berdiri tepat di depannya, pemuda itu langsung terperanjat kaget dan menjauh.
"A..Apanya?" tanyanya bingung, Ia benar-benar tidak dengar apa yang dibicarakan Konan di depan,
"Kau ini kenapa sih, dari tadi aku teriak tidak di dengar?!" ujar Shion kembali.
"Hahaha~ Gomen~ Aku keasyikan melihat Hinata, jadi aku tidak mendengarmu." Naruto yang ceplas-ceplos bicaranya di tambah dengan garuk-garuk kepala yang tidak gatal, tanpa ada rasa malu sedikit pun. Serentak membuat seisi kelas tertawa, tapi tidak bagi Shion tentunya, gadis itu malah makin geram.
'Pembicaraanku sudah tidak didengar, ditambah karena keasyikan melihat si gadis indigo itu lagi!' pekik Shion dalam hatinya, dia masih tidak menyerah untuk mendapatkan hati Naruto, bahkan sampai sekarang banyak ide yang ia gunakan. Tapi semuanya tidak berhasil sesuai rencananya. Sekarang gadis itu harus memastikan bahwa idenya itu harus berhasil!
Dan lain halnya Hinata, wajah gadis itu sudah benar-benar memerah. Entah kekasihnya itu sengaja berbicara seperti karena ingin menggodanya atau sifat pemuda itu yang terlalu polos, sampai bicara hal seperti itu tanpa ada rasa malu sedikit pun.
"Na..Naruto-kun.." bisiknya kecil.
"Diam! Semuanya, sekarang kita tinggalkan acara romantisme-romantisme tadi. Fokus ke masalah drama kita sekarang, Shion coba ulangi sekali lagi. Apa yang kau katakan tadi?" ujar Konan.
Gadis pirang itu mencoba menenangkan dirinya, "Baiklah, seperti yang kukatakan tadi. Untuk pemeran pangeran dalam drama ini, Aku memilih Naruto, dan Putri Cinderellanya, yaitu aku." Jelasnya singkat.
Hinata yang mendengar itu sedikit terkejut (ternyata gadis itu juga tidak mendengar perkataan Shion tadi, terlalu menghayal tentang dongeng itu mungkin?), ketika masih kecil. Gadis itu sering sekali mendengar cerita Cinderella, kisah mereka benar-benar romantis. Entah apa yang membuat hati ia tidak rela melihat Naruto akan bermesraan di depan panggung nanti, walaupun itu hanya akting. Ditambah ada adegan ciuman dari dongeng itu, membuatnya semakin tidak rela. Gadis itu benar-benar bingung!
Konan hanya mengangguk kecil mendengar ide Shion. "Jadi pemerannya sudah kita tentu..."
"Tunggu dulu!" sebuah teriakan memotong perkataan gadis berambut pendek itu,
Konan segera menghentikan kegiatannya tadi dan menoleh ke sumber suara tadi.
"Ada apa Ino?"
"Aku tidak setuju kalau Shion yang memerankan Cinderellanya!" teriak gadis pony tail tersebut. Sakura, Tenten, dan Temari mengangguk setuju.
"Jadi apa kau ada ide lain?"
"Lebih baik kalau yang memerankan Cinderella itu Hinata saja! Dan pangerannya biarkan Naruto." Usul gadis berambut merah muda itu ikut andil.
"Eh!" teriak Hinata kaget, tiba-tiba dicalonkan seperti itu.
"Lagi pula, Cinderella itu kan gadis yang baik hati jadi Hinata pasti cocok!" ujar Temari.
Konan kembali berpikir, diikuti seluruh pengurus kelas. Dan mereka mengangguk bersamaan.
"Ya sudah, kalau begitu yang memerankan Cinderella adalah.."
"Aku tidak setuju!" sebuah teriakan lagi-lagi memotong perkataan gadis itu.
"Apa lagi!" teriak Konan kesal, Pein kembali menenangkan kekasihnya yang hampir lepas kendali.
"Menurutku Hinata tidak cocok memerankan Cinderella, kalian tahu sendiri kan kalau dialog Cinderella itu banyak. Sedangkan kalau Hinata bicara saja dia masih gugup, apalagi kalau berdiri di panggung nanti!" tukas Shion, sontak membuat Ino dan kawan-kawannya terdiam. Memang benar sih apa yang dikatakan gadis itu.
"Sedangkan aku, sudah pernah bermain drama sebelumnya, jadi tentu saja tidak masalah~" Lanjut gadis pirang itu.
Ino yang mendengar itu sedikit geram, "Kalau begitu kita tanyakan saja dengan Naruto, apa dia mau memerankan peran itu?" tantang gadis itu.
"Oke! Naruto kau maukan menjadi pangeran di drama ini?" tanya Shion.
Sedangkan Naruto yang mendengar itu hanya menatap gadis pirang itu, "Hee~ Aku tidak mau disuruh menghapalkan dialog sebanyak itu." Jawabnya singkat, membuat Shion sedikit kesal. Tapi demi rencananya dia harus membuat agar Naruto mau memerankan pangeran itu.
"Lihat! Naruto saja tidak mau~" ejek Sakura sambil menyeringai kecil.
"Naruto pasti mau!" teriak Shion.
"Nggak!" teriak Sakura dan Ino balik. Terjadilah keributan kecil, Konan yang melihat pertengkaran ini sudah kehilangan kendali. Belum sempat Pein menenangkan gadis itu, kekasihnya sudah memberi death glare terbaiknya membuat pemuda itu bergidik takut dan hanya membeku disana.
BRAK! Konan menggebrak meja guru di depannya dengan wajah yang hampir memerah, Amarahnya sudah tidak bisa di kendalikan lagi. Dengan cepat gadis itu berjalan menuju arah Naruto, memberi death glarenya pada pemuda pirang itu.
"Naruto, Kau yang jadi pangerannya." Ujarnya singkat.
"Hee~.." Naruto yang mau menolak pemilihan itu langsung diam begitu melihat tatapan menusuk Konan.
"Mau kan?" tanya gadis berambut biru itu sedikit menekan kata-katanya serta menatapnya horor, membuat Naruto sedikit menegak ludah dan mengangguk cepat.
"Baik, baik!" teriak pemuda itu frustasi,
"Bagus, dan kau Shion yang menjadi Cinderellanya!" ujar Konan, diiringi senyum kemenangan gadis pirang tersebut, sedangkan Ino dan kawan-kawan kecewa berat dengan keputusan Konan.
"Tapi..." ucapan Sakura terpotong ketika melihat wajah horor Konan, ternyata wakil ketua kelasnya ini benar-benar mengerikan kalau marah,
'Kalian baru tahu ya?' batin Pein.
"Hinata, kau yang jadi pemeran kakak tiri kedua nya. Sedangkan yang pertama adalah Temari!" ujar gadis itu kembali.
"Eh!" semua murid di kelas langsung kaget dengan pemilihan Konan. Hinata, gadis lemah lembut itu menjadi pemeran kakak tiri! Kok jadi aneh seperti ini?!
"Kenapa, kalian tidak setuju?" tanya gadis biru itu. Tentu saja semua murid mengangguk keras.
"Tentu saja! Lebih baik kalau Hinata saja yang memerankan peran ibu peri!" ujar Ino.
Konan menghela napas pelan, "Baik, Sekarang akan kuperjelas kembali siapa saja pemeran Cinderella kali ini, dan tidak ada penolakan lagi!" teriaknya kesal. Semua mengangguk paham.
"Jadi pemeran Cinderella adalah Shion, peran pangeran adalah Naruto, peran Ibu peri adalah Hinata, peran Ibu tiri, dan kedua kakak-kakaknya adalah Temari, Karin dan Matsuri, yang menjadi pelayan kerajaan adalah Kiba, dan bla...bla..." Konan menjelaskan semuanya.
Temari dan Hinata yang tak disangka malah dipilih menjadi salah satu pemeran Cinderella itu hampir pingsan, inginnya sih memprotes tapi apa daya Konan tidak menerima penolakan lagi. Sedangkan Karin, gadis berambut merah itu senang-senang saja bisa tampil di panggung nanti. Tidak peduli dengan peran apa yang dia mainkan, yang penting dapat tampil! Sama halnya dengan Matsuri.
"Jadi hanya itu yang bisa aku sampaikan, Mulai besok kita akan berlatih. Sekian!" ujar Konan menutup dikusi itu.
FLASH BACK OFF
oOoOoO
Nah jadi karena itulah kedua gadis itu tidak ikut bersama Sakura, Ino, dan Tenten hari ini. Mereka berdua terlalu sibuk untuk persiapan pentas nanti.
"Hah~ sepi sekali kalau tidak ada mereka berdua~" ujar gadis merah muda itu diiringi dengan anggukan kepala kedua sahabatnya.
"Ya, sudahlah. Ayo kita jalan-jalan sebentar!" teriak Ino menyemangati kedua sahabatnya itu.
"Ayo!" teriak Sakura dan Tenten, belum sempat mereka berjalan jauh.
PLOK, sebuah tepukan mengejutkan ketiga gadis itu, mereka segera berbalik dan melihat..
"Konan!" pekik mereka bersamaan.
"Kalian lupa, kenapa aku menyuruh kalian bertiga pergi keluar kelas?" tanya gadis biru itu sambil tersenyum manis (?)
"Hehehe~ Te..tentu saja kami tidak lupa, Ya kan Sakura, Ino?" ujar Tenten sedikit gugup, sepertinya rencana mereka untuk berjalan-jalan harus dibatalkan dulu. Sakura dan Ino mengangguk kencang. "Iya!" teriak mereka.
"Kalau begitu, cepat kalian sebarkan brosur kelas kita! Jangan bermain-main dulu!" teriak Konan, ketiga gadis itu dengan cepat berlari dan memberikan brosur-brosur di tangan mereka kepada pengunjung. 'Hah~ batal deh jalan-jalannya~' batin mereka bersamaan.
"Dasar~" Konan menghela napas melihat kelakuan teman-temannya yang satu itu dan berjalan kembali ke kelasnya.
OoOoOoO
In Class.
Hinata benar-benar gugup, baru kali ini ia akan bermain di atas panggung dan disaksikan banyak orang. Gadis indigo itu takut mengacaukan semua kerja keras teman-temannya, hanya karena ketakutannya itu. Tangannya tak bisa berhenti gemetar.
Plok, sebuah tangan memegang tangan mungilnya, dengan cepat gadis itu menolehkan wajahnya. "Na..Naruto-kun?!" pekiknya kecil ketika melihat di depannya kini ada pemuda yang dicintainya.
"Kau tidak apa-apa Hinata?" tanya Naruto, khawatir melihat tangan kekasihnya gemetar seperti itu.
"I..iya Naruto-kun.." jawab Hinata seadanya, bahkan tersenyum pun terlihat dipaksakan.
Naruto mengusap lembut rambut Hinata, membuat gadis itu sedikit kaget. "Na..Naruto-kun, kenapa kau tidak latihan?" tanya gadis itu gugup.
"Aku hanya minta waktu untuk bersamamu dulu~" goda Naruto seraya mendekatkan wajahnya pada Hinata.
"A...aku sedang tidak ingin digoda Naruto-kun.." ujar Hinata semakin merona. Dia memang tidak bisa menghindari godaan kekasihnya tersebut.
"Berusahalah Hinata, Kau pasti bisa." ucap Naruto menenangkan Hinata. Pemuda itu menarik gadis indigo itu ke dalam pelukannya, dan mengecup puncak kepalanya lembut.
"A..Arigatou Naruto-kun, Kau juga berusaha ya.." Hinata sedikit tercekat ketika mengatakan kata-kata itu pada Naruto, membuat pemuda itu melepaskan pelukannya dan menatap Hinata.
"Hinata.." bisik Naruto. Pasalnya, kini dia melihat wajah Hinata yang sedikit cemberut dan mata lavender gadis itu yang terlihat sedih.
"Jangan cemberut begitu dong, Aku janji tidak akan melakukan apa-apa dengan Shion~" ujarnya seperti tahu apa yang dipikirkan kekasihnya yang satu ini. Hinata yang mendengar itu, wajahnya sontak memerah.
"Na..Naruto-kun!" pekiknya kecil seraya memukul pelan badan pemuda pirang itu.
"Lagi pula menurutku, Kau cocok kok menjadi peran Ibu peri itu."
"Be..benarkah?" tanya gadis itu tak percaya.
Naruto mengangguk keras, "Wajah dan kepribadianmu sama-sama cantik! Aku suka." Ujarnya tanpa ada rasa ragu sedikit pun.
"Na..Naruto-kun, ju..juga..tampan dan keren." bisiknya kecil. Memang benar, pemuda pirang itu benar-benar terlihat keren di mata Hinata, pakaiannya, rambutnya yang tertata rapi, ditambah senyum Naruto, benar-benar membuat Hinata mabuk kepayang melihatnya.
"Kau bilang apa Hinata? Aku tidak dengar~"
"Ak..aku bilang kalau Naruto-kun, ju..juga tampan dan keren." Ucapnya sekali lagi, menahan agar semburat merah di wajahnya tidak bertambah.
"Hehehe~ Arigatou Hinata~" Ujar pemuda itu seraya mengecup singkat bibir kekasihnya dan kembali berlatih, meninggalkan Hinata yang tengah membeku di tempat duduknya.
Gadis indigo itu bahkan tidak melihat bahwa kini Shion tengah menatapnya kesal. 'Awas kau Hinata!' batinnya. Penampilan gadis pirang itu juga cantik hari ini, Ia menggunakan wig berwarna coklat berdesain seperti rambut Cinderella yang sebenarnya, dan memakai gaun yang terlihat menawan.
.
.
.
"Baiklah, sebentar lagi giliran kelas kita akan dimulai!" teriak Konan menginstruksikan semua teman-temannya untuk segera bersiap-siap.
"Baik!" teriak semuanya bersamaan.
Akhirnya pentas Drama Cinderella dimulai.
OoOoOoOo
Tirai panggung mulai terbuka. Dan kini sudah ada Konan berdiri bersama Pein di samping panggung sebagai pembawa ceritanya.
"Di sebuah kota, ada seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Cinderella namanya." Konan memulai pembukaan cerita itu. Dan Shion segera muncul di panggung memulai semua aktingnya.
"Cinderella tinggal bersama ibu tiri dengan kedua kakak tirinya dimana mereka selalu berbuat jahat kepada Cinderella. Cinderella selalu disuruh melakukan semua pekerjaan rumah, dibentak dan dimarahi oleh kedua kakak serta ibu tirinya. Bahkan dengan kejamnya kadang Cinderella hanya diberi makan satu kali setiap hari. Mereka memanggilnya Cinderela yang mempunyai arti gadis yang penuh debu dan kotor." Intro Konan, dan dilanjutkan oleh Pein.
"Namun walau mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, Cinderella mempunyai hati yang bersih. Dia tidak pernah membalas perlakuan jahat kakak dan ibu tirinya dengan kejahatan pula. Sebaliknya, Cinderella dengan tulus selalu menerima perlakuan itu dan mengerjakan semuanya dengan lapang dada."
"Hei Cinderella, Kau belum mencuci bajuku dengan benar ya?!" teriak kakak pertama Cinderella aka Karin.
"Ba..Baik Kak, setelah aku menyelesaikan tugas ini, akan segera aku cuci." Ujar Cinderella aka Shion seraya mengepel lantai di panggung itu dengan cepat.
"Cepat!" teriak kakak tiri kedua aka Matsuri.
"Hari yang kelam selalu dialami oleh Cinderella, sampai pada akhirnya sebuah pengumuman dari kerajaan mendatangi rumahnya."
Shion segera beranjak dari aktingnya dan berjalan meninggalkan panggung, setting diganti.
Back Stage
"Hah~ Syukurlah aku bisa memerankan peran ini dengan baik!" bisik gadis pirang itu kecil. Ia segera mengambil secangkir teh yang sudah disiapkan teman-temannya di meja, untuk menghilangkan hausnya. Tanpa tahu bahwa minuman itu masih panas. Dan..
"Aw!" ringisnya kecil, ketika meminum teh itu lidahnya terasa panas dan tak sengaja menjatuhkan isi teh tersebut sedikit dan mengenai tangannya. Tapi walau pun sedikit, panas teh itu benar-benar membakar tangannya.
"Sh..Shion-chan.." Hinata yang melihat kejadian itu dengan cepat menghampiri gadis pirang itu, tak lupa membawa obat dan perban yang selalu ia siapkan di situasi seperti ini.
"A..apa kau tidak apa-apa Shion-chan?!" tanya gadis itu sedikit panik. Dan begitu melihat tangan Shion yang semakin memerah.
"Harus segera ku obati, sebelum semakin parah!" ujarnya seraya mengambil perban dan perlahan-lahan mengobati luka Shion, sedangkan Shion. Gadis itu sedikit kaget melihat kelakuan Hinata terhadapnya.
"Le..lepaskan! Nanti juga sembuh sendiri!" pekiknya sambil menarik tangannya dari Hinata.
"Ta..tapi ini harus ku obati, Shion-chan!" ujar Hinata kembali memegang tangan Shion.
"Tidak usah! Lepaskan tanganku!" ujarnya.
"Sh..Shion-chan, Kau tahu kan kalau tangan itu adalah aset berharga seorang gadis. Jadi jangan dibiarkan terluka seperti ini!" teriak Hinata mengobati tangan gadis pirang itu kembali.
Shion benar-benar kaget, seorang Hinata yang ia kenal selalu takut serta gugup kalau berbicara, dan tidak pernah membentak orang. Sekarang dihadapannya gadis ini berubah. Wajah gadis pirang itu benar-benar memerah, bukan karena marah tapi karena malu.
'Kenapa dia masih mau menolongku, padahal aku selalu saja berusaha merebut Naruto darinya. Kenapa?' batinnya gelisah.
"Ke..kenapa kau menolongku Hinata?" tanyanya pelan. Hinata yang mendengar itu hanya bingung dengan pertanyaan Shion, dan kemudian tersenyum kecil.
"Ki..kita ini kan teman Shion-chan, jadi kalau kau terluka seperti ini aku pasti akan menolongmu. Kan sudah sewajarnya." Ujar gadis indigo itu.
'Arigatou..' bisik Shion pelan, sehingga Hinata tidak mendengar ucapan temannya itu.
"Ta..tadi kau bilang apa, Shion-chan?"
"Tidak apa-apa." Shion menarik tangannya yang sudah selesai di obati oleh Hinata, dan kembali menuju panggung.
OoOoOoO
Akhirnya sedikit demi sedikit pentas drama itu berjalan lancar, Hinata berhasil menghilangkan sifat gugupnya dan berdialog dengan lancar sebagai Ibu peri. Begitu pula dengan Naruto, ketika pemuda itu bermain. Sorakan dan teriakan dari arah penonton terdengar sangat keras, siapa lagi yang berteriak kalau tidak para gadis yang benar-benar tidak tahan dengan ketampanan pemuda itu.
Sampai pada akhirnya drama Cinderella ini mencapai puncaknya ketika Naruto dan Shion berdansa di kerajaan...
"Keduanya terus berdansa hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Lonceng pun berdentang-dentang." Intro Pein.
"Maaf pangeran, Saya harus segera pulang." Ujar Cinderella aka Shion, dan segera berlari meninggalkan Kerajaan. Setting diganti...
"Cinderella langsung berlari pulang, di tengah tangga sepatu kacanya terlepas. Tapi karena pengaruh sihirnya sebentar lagi akan menghilang, Ia harus merelakan sepatunya itu dan terus berlari meninggalkan istana." Intro Konan.
"Pangeran yang mengejar Cinderella kehilangan jejak putri tersebut, dan yang ia temukan hanya sebuah sepatu kaca. Dan ia yakin bahwa sepatu itu adalah sepatu putri yang ia ajak berdansa tadi." Intro Pein.
"Aku akan mencarimu." Ucap pangeran aka Naruto.
...
Setting di ganti...
Back Stage
Shion kembali ke belakang panggung, disana ia hanya melihat Hinata seorang. Gadis indigo itu terlihat cemas. Kalian pasti tahu, kenapa gadis itu cemas kan?
'Se..Sebentar lagi, akan ada adegan ciuman Shion-chan dan Naruto-kun!' batinnya panik, hati gadis itu benar-benar takut. Ia mencoba menepis semua perasaannya dan mengingat kata-kata Naruto padanya tadi, tapi Tidak bisa! Ia cemas sekali..
Plok, lagi-lagi seseorang mengagetkannya, dengan cepat ia menoleh ke belakang, dan melihat..
"Sh..Shion-chan!" pekiknya terkejut, melihat Shion sudah ada di belakangnya sekarang sambil membawa naskah. Naskah?
"Ini.." Ujar gadis itu seraya memberikan naskah itu padanya.
"Eh! A..apa ini Shion-chan!" pekiknya semakin terkejut, tapi Shion tidak mengidahkannya. Gadis itu malah memanggil seorang tata rias. Hinata sudah tidak tahu harus bicara apa lagi, Tiba-tiba saja tata rias itu merombak rambut Indigo Hinata dan me make up wajah gadis itu.
"Kau hapalkan dialog ini, hanya tinggal sedikit saja. Kau pasti bisa." Ujar Shion.
Dan ketika Hinata melihat naskah itu, ternyata..
"In..ini kan naskah Cinderellamu, Shion-chan?! Ke..kenapa kau memberikannya padaku? Kan tinggal sedikit lagi cerita ini akan selesai!" ucap Hinata terus-menerus, pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan pada gadis pirang itu, tapi jawabannya sangatlah singkat, tapi menohok hati Hinata.
"Kau takut kan kalau aku akan berciuman dengan Naruto, jadi kau saja yang memerankan Cinderella itu." Jawabnya singkat.
"Ta..tapi aku tidak bisa.." Hinata menggeleng keras, tidak mungkin ia bisa memerankan peran sepenting ini.
"Itu ucapan terima kasihku untuk tadi, jadi berusahalah, Jaa~ Aku harus pergi ke UKS, mengobati lukaku kembali."ujar Shion seraya meninggalkan back stage. Sekilas Hinata dapat melihat senyum dari wajah Shion, bahkan Shion mengucapkan terima kasih padanya. Entah kenapa hatinya senang sekali karena akhirnya Shion mau sedikit demi sedikit terbuka dengannya. Eiiit! Sekarang bukan waktunya untuk terharu dulu!
'A..apa yang harus kulakukan!' pekiknya dalam hati, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa sekarang peran Shion sudah berganti tempat dengannya. Gadis indigo itu dalam waktu singkat benar-benar berubah persis seperti Shion tadi.
"Shion, giliranmu tinggal lima menit lagi!" ujar Konan, Hinata hanya mengangguk gugup.
'Se..sepertinya tidak ada jalan lain, A..Aku harus menghapal semua dialog ini!' pekiknya kembali. Untung saja otak Hinata ini termasuk ke dalam otak jenius. Jadi gadis itu dengan mudah dapat mengingat setiap dialog itu. Dan tak sampai empat menit dialog yang tinggal beberapa itu sudah ia hapalkan.
"Ak..Aku akan berusaha!" teriaknya kecil.
OoOoOo
Di luar Back Stage.
"Apa yang kulakukan ini benar?" bisik gadis pirang itu, yang ternyata adalah Shion, gadis itu masih berdiri di depan pintu Back Stage.
"Kau benar-benar rela?" ujar Seseorang, mengagetkannya.
"Sa..Sasuke.." pekiknya kaget, melihat pemuda berambut pantat ayam itu sudah berdiri di sampingnya.
"Hn."
Shion menghela napasnya pelan, "Ak..Aku tidak mau dikira mencari-cari kesempatan untuk mencium Naruto. Ja..jadi aku akan mencari cara yang lebih baik dari pada cara seperti ini." ujarnya seraya meninggalkan Sasuke, yang hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Shion.
OoOoOo
"Apa kau siap Shion?" tanya Konan. Shion aka Hinata mengangguk gugup. Tidak berani bicara.
"Baiklah, adegan terakhir dimulai!"
Hinata melangkahkan kakinya ke atas panggung dengan takut-takut, berjalan perlahan-lahan. Di sana ia dengan jelas melihat wajah Naruto yang sedang mencocokan sepatu kaca itu pada Karin dan Matsuri.
"Sepertinya bukan kalian putri yang dicari-cari oleh pangeran, Maaf." Ujar pengawal aka Kiba seraya melepaskan sepatu kaca itu dari Matsuri yang ternyata kebesaran untuknya.
"Karena tidak ada seorang pun yang cocok dengan sepatu ini. Kami akan mencarinya di lain tempat." Lanjutnya kembali.
"Tepat pada saat itu Cinderella lewat." Konan Intro.
"Apakah dia ini anak gadis anda?" tanya Pengawal aka Kiba itu.
"Bukan dia hanya pembantu di rumah ini." Ujar kedua kakak tirinya.
"Tidak masalah, asalkan dia itu seorang gadis maka dia berhak untuk mencoba sepatu ini." Ujar Pangeran aka Naruto segera menghampiri Cinderella, pemuda itu benar-benar tidak tahu bahwa pemeran Cinderella itu sudah berganti menjadi Hinata, benarkah?.
"Silakan coba." Ujar pengawal aka Kiba. Hinata segera mencoba sepatu itu, dan ternyata..
"Pas sekali. Kau memang putri yang dicari oleh pangeran!"
"Iya." Jawabnya sebisa mungkin, Naruto tiba-tiba mendekatkan dirinya kepada Hinata, gadis itu merasa sedikit aneh. Dalam naskah disebutkan kalau pangeran itu akan menegur terlebih dahulu keluarga Cinderella, tapi pemuda itu malah semakin mendekatinya. Bahkan Temari, Matsuri, Karin, dan Kiba sudah kelabakan melihat akting Naruto. Mereka semua mencoba membisiki pemuda itu, tapi nihil. Naruto malah semakin mendekati Hinata yang sekarang sedang dalam kostum Cinderella.
'Ke..kenapa Naruto-kun malah melenceng dari naskah!' batinnya panik.
Grep, Semua penonton termasuk para pemain langsung kaget melihat tindakan Naruto. Ya, pemuda itu tiba-tiba menarik si Cinderella dan menciumnya dengan mesra.
Di kursi penonton
"Apa yang dilakukannya!" pekik Konan dan sahabat-sahabat Hinata bersamaan.
"Awas kau Naruto, nanti akan kugunduli rambutmu itu!" teriak Sakura kesal, ternyata mereka sudah kembali dari menyebar brosur dan begitu menonton pertunjukkan itu, mereka bertiga langsung kaget. Tenten sudah pingsan, Ino sudah berubah jadi setan (?) #digampar#
Kembali di panggung.
'Ke..kenapa Naruto-kun malah menciumku!' pekik Hinata dalam hatinya, antara senang dan kesal. Gadis itu senang karena Naruto menciumnya seperti ini, dan kesal kalau saja peran ini tidak ia gantikan, berarti nanti Naruto akan mencium Shion dong!
Karena tidak ada cara lain, terpaksa Hinata harus memutar otaknya. Agar drama kelasnya ini tidak hancur berantakan.
"Aku sudah menunggumu Pangeran." Ujarnya seraya melepaskan pelukan Naruto, gadis itu berusaha mengubah suaranya seperti Shion agar tidak dikira aneh oleh para penonton. Dan ia yakin bahkan Naruto pun pasti tidak akan tahu bahwa di depannya kini adalah dia.
Konan yang melihat akting Cinderella segera mencari-cari cara agar pertunjukan mereka tidak hancur. "Setelah Cinderella mengucapkan rasa senangnya terhadap sang pangeran, Pangeran pun MENEGUR Ibu dan Kakak tiri Cinderella agar tidak berani menyakiti gadis itu lagi." Ujar Konan menekan kata-kata'menegur', agar Naruto bisa sedikit sadar.
Hinata benar-benar berterima kasih pada Konan karena sudah mau membantunya mengubah alur cerita yang tadi hampir saja berantakan. Gadis indigo itu menatap sekilas pada Naruto, dan entah ia salah lihat atau tidak, pemuda pirang itu seperti menyeringai padanya.
Naruto berbalik kembali ke perannya tadi, dan menegur ketiga Ibu dan Kakak tiri Cinderella.
"Akhirnya Ibu dan Kakak-kakak tirinya meminta maaf terhadap Cinderella karena sudah menyiksa dan selalu memperalat gadis itu. Tapi Cinderella dengan hatinya yang tulus dan bersih, memaafkan samua perbuatan keluarganya tersebut, dan masih menyayanginya." Intro Pein.
"Sang pangeran kembali berjalan menuju arah Cinderella dan berlutut dihadapan gadis itu, membuka sebuah kotak kecil yang ternyata berisikan cincin kecil." Intro Konan.
"Pangeran, benarkah ini?" tanya Cinderella aka Hinata.
"Aku mencintaimu, karena itu maukah kau menikah denganku Putri Cinderella?" tanya sang Pangeran aka Naruto. Cinderella mengangguk senang, dan memeluk sang pangeran.
"Iya! Aku mau Pangeran." Ujar Cinderella masih dalam pelukan sang Pangeran.
"Akhirnya pangeran dan sang putri menikah dan hidup bahagia selamanya di istana." Ujar Konan mengakhiri pertunjuknan drama Cinderella itu.
'Sebentar lagi pertunjukan ini akan selesai,' Batin Hinata sedikit senang. Dalam pelukan mereka berdua itu, tak sengaja Naruto berbisik padanya. Dan itu sukses membuat Hinata benar-benar kaget, dan menarik pelukannya itu dari Naruto.
Dia masih kaget, ditambah gadis itu kini melihat jelas seringaian di wajah tan pemuda pirang itu. 'Eh!' pekiknya dalam hati.
OoOoOoOoO
Back Stage
"Fiuh~ Akhirnya kita berhasil menyelesaikan drama ini!" Ujar Konan seraya menghempaskan badannya di sebuah kursi. Semua teman-teman mengangguk setuju.
"Hanya satu yang membuat kita hampir menghancurkan pertunjukan kita!" teriak Sakura yang mau menjitak kepala durian Naruto, tapi...
"Lho? Kemana Si Naruto dan Shion?!" pekik Ino kaget ketika melihat Naruto dan gadis yang masih berpakaian Cinderella itu sudah tidak ada di sana. Padahal ia ingin menyemprot pemuda itu karena sudah berani bertindak seperti itu tadi. Sepertinya gadis itu belum tahu ya?
"Bagaimana kita menjelaskan hal ini pada Hinata!" pekik Tenten mulai panik.
"Menjelaskan apa?" sebuah suara ikut andil dalam pembicaraan mereka.
"Tentu saja masalah Naruto mencium..." perkataan Tenten terpotong ketika melihat gadis yang ia bicarakan sudah ada disampingnya.
"Shion!" teriaknya kaget, begitu pula Temari, Sakura, Ino,dan tentu saja semua teman-teman di situ.
Sedangkan gadis pirang itu hanya tersenyum kecil.
"Ja..jadi yang ada di panggung tadi itu siapa...?" tanya Sakura sedikit pusing.
"Menurut kalian siapa?" uajr Shion seraya meninggalkan kembali Back Stage, dan berbisik kecil, "Untuk hari ini aku menyerah Hinata.." bisiknya, tanpa sadar sebuah senyuman terukir kembali di wajah cantiknya. Hanya dengan kebaikan kecil dari gadis indigo itu mampu meluluhkan dinding es di hatinya, sedikit demi sedikit.
.
.
.
.
Nah sedangkan pemeran utama kita sekarang sedang,,,
"Kyaa! Na..Naruto-kun, Turunkan aku!" berteriak kencang, Ya Hinata memang kaget, karena tiba-tiba saja Naruto menggendongnya ala Bridal Style dan melarikannya keluar Back Stage.
"Hehehe~ kan sudah kubilang tadi Hinata~" ujar pemuda itu seraya mengeluarkan seringaiannya.
Gadis indigo itu hanya menunduk malu mengingat kata-kata yang Naruto bisikan padanya tadi ketika di panggung. "Aku tahu kalau kau Hinata kan~" setelah mendengar itu dia langsung membeku. Darimana kekasihnya ini tahu kalau itu dia?!
"Na..Naruto-kun , Dariman kau tahu itu aku?" bisiknya kecil sambil menahan agar semburat dipipinya tidak bertambah.
"Rahasia~" bisik pemuda itu semakin membuat Hinata penasaran.
...
Orang-orang yang melihat adegan mereka berlari-lari seperti itu, hanya cengo. Ternyata Hinata dan Naruto masih menggunakan kostum mereka masing-masing.
"Kya! Itukan orang yang tadi bermain Cinderella!"
"Hei! Photo bersama denganku dong!"
"Pangeran dan Putrinya cantik sekali! Tunggu!" teriakan demi teriakan mulai terdengar di telinga Hinata, dan ketika gadis itu menoleh ke belakang, Dia benar-benar kaget.
"Na..Naruto-kun, Kita dikejar!" pekiknya.
"Ah iya benar~" hanya itu saja yang diucapkan pemdua itu, dan malah mempercepat larinya. Tentu saja masih menggendong Hinata.
"Tu...turunkan aku Naruto-kun!" teriaknya makin panik ketikas semakin banyak orang mengejar mereka.
"Tidak mau! Kau peluk aku saja agar tidak jatuh, Hinata~" goda pemuda itu kembali. Membuat Hinata mau tak mau memeluk erat Naruto, padahal wajahnya sudah semerah tomat sekarang.
"Kau tahu tidak Hinata?" ujar Naruto disela-sela larinya, Hinata hanya mengadahkan wajahnya dan menatap manik Saphire Naruto.
"I..iya.."
"Dialog terakhir yang kukatakan tadi itu. Aku serius lho mengatakannya~" ujar pemuda itu kembali. Gadis indigo itu memutar otakknya dan mengingat apa yang Naruto katakan tadi padanya, sampai...
Blush, wajahnya kembali memerah, gadis itu hanya menelungkupkan wajahnya itu pada dada bidang Naruto, terlalu malu. "Na..Naruto-kun mesum..Kau selalu menjahiliku.." ujarnya gugup.
Naruto yang mendengar itu tersenyum lebar, "Ah, Hinata lihat! Ada sesuatu di kepalamu!" Naruto berteriak panik.
"Eh! A..ada apa?!" pekik Hinata ikut-ikutan panik, dan ketika ia mengangkat kembali wajahnya.
Cup, Naruto mengecup bibir mungil gadis itu, "Kena kau~" godanya semkain mengeluarkan seringaiannya.
"Na...Naruto-kun mesum, turunkan aku!" pekik gadis itu.
"Aku mencintaimu, karena itu maukah kau menikah denganku Putri Cinderella?"
Mereka berdua tidak tahu, bahwa kejutan yang lebih besar akan datang besok.
OMAKE
"Hah~ dasar pasangan mesra~" Ujar Ino ketika melihat papan pengumuman di depannya.
"Aku tebak, Hinata yang melihat ini pasti akan pingsan." Ucap Sakura seraya tersenyum kecil.
"Aku setuju!" teriak Tenten.
"Benar-benar pasangan yang bikin iri, iya kan teman-teman?" tanya Temari menghembuskan napasnya pelan, dan diikuti anggukan ketiga sahabatnya.
"Best Couple Ever, Never Running Out Time of Cinderella. Pemenang pentas festival kali ini!" Foto ketika Naruto menggendong Hinata terpampang jelas di papan pengumuman itu.
Silakan menikmati wajah Hinata ketika melihat foto ini ya! *Author Kabur dulu*
TO BE CONTINUED...
A/N :
Hai minna! Saia kembali lagi #basi thor!#dilempar mangga# Ceritnya ini khusus saia buat tentang cerita Cinderella, kalian pasti tahu kan ceritanya? :D Lagi demam Cinderella! *nari-nari gaje* #digampar# mungkin ceritanya kurang romantis ya? Hiks Gomen kalau begitu, :( :)
Nah untuk chapter depan, Nie author gaje nggak janji buat update cepet, coz udah mulai belajar kembali DI SEKOLAH *capslock jebol*, *huwee!*nangis guling-guling* jadi Gomen Minna, akan saia usahakan update secepatnya deh kalau ada waktu hehe :D Arigatou buat yang sudah me riview!
Balasan Riview :
Guest : Arigatou! *hidup NaruHina!* chap update! :D
SyHinataLavender : Huwee, Arigatou sudah dibilang the best, *ketawa-ketawa sendiri* banyak kissunya hihi, emang otak authornya rada-rada lepas sih #plak# :D
Pika-chan : Hihi~ Arigatou Pika-chan, *cup-cup jangan nangis* #ditampar# Syukurlah ceritanya bisa diterima dengan baik hehe :D Sip" chap update!
Ines-chan : Iya, chap ini masih ada Shionnya, Gomen ya, hehe :D dan untuk request, minta Naruto cemburu sama Hinata, di chap depan ya! Arigatou sudah menyemangati nie author gaje hehe :D
Nagasaki : hehe Arigatou! :D Chap Update! :D
Bumble Bee : Siapa ya? #plak digampar# bercanda-bercnda kok hehe, masih inget kok, mana mungkin lupa :D Makasih buat requestnya ya, ditunggu chapter sembilannya ya. Pasti tak buat deh! :D
Okee deh segitu aja cuap-cuap dari saia, bagi yang ingin merequest cerita lagi silakan ya, akan saia tunggu kok! :D
Nah sebagai salam terakhir,
SILAKAN RIVIEW! ^O^ =^^=
JAA~
