Annyeong ~
Someone special request ganto untuk update ini.
Dan kbetulan dia mau ngasih something untuk ultah ganto hoho, so menurut ganto biar adil ganto kabulkan requestnya dia. Ntar ganto nerima something itu makin afdol rasanya haha
Hope you like it, Baby
Dan untuk semuanya, semoga masih menghibur.
Btw, maaf karna chapter kali ini kelewat cheesy dan mungkin terkesan alay. UDPATE KILAT, JADI SORI KALAU GA BAGUS.
GantoSci
Sifat dasar yang dimiliki Park Jimin selama ini akan berubah menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda ketika berkaitan dengan Min Yoongi. Semua yang mengenal Jimin sudah tahu benar dengan fakta yang satu itu, apalagi kekasihnya sendiri.
Yup, Yoongi hapal betul bagaimana perubahan signifikan tabiat si manis Park Jimin. Bagaimana Jimin bahkan tak peduli dengan nilai sekolahnya namun akan menguras otak untuk mempelajari gerak gerik seorang Min Yoongi, bagaimana acuhnya Jimin dengan saudara kandungnya sendiri namun begitu -kelewat- perhatian dengan Min Yoongi. Masih banyak lagi yang intinya membuat Min Yoongi pada pagi ini tidak bisa tidak menampik adanya kemungkinan bahwa kekasih polosnya-
Mustahil! Mustahil! Mustahil! Mustahil! Mustahil!
Yoongi menggeleng-geleng kuat, berusaha untuk tidak berprasangka yang bukan-bukan [contohnya, mungkin saja seorang Park Jimin menaruh sesuatu yang membahayakan kesehatan pada sarapan yang dibuatnya untuk Jungkook].
"Hyung?"tanya Jimin setelah melepas celemek dan duduk manis di sebelah Yoongi, "ada apa, Hyung?"
"Eh? Memangnya aku kenapa?"Yoongi bertanya balik, mencoba tersenyum setulus mungkin.
Namun seperti yang telah disinggung sebelumnya, seorang Park Jimin bisa saja memiliki intuisi kelewat tajam terhadap Min Yoongi. Tampak sepasang matanya sedikit menyipit, menelusuri baik-baik gurat lelaki tampan di sampingnya. Remaja yang baru lulus SMA satu bulan lalu itu kemudian akan membanjiri Yoongi dengan segala analisisnya namun Jungkook sudah lebih dulu muncul di antara mereka.
"Heeeee~ Kau benar-benar bisa memasak ternyata,"Jungkook menggeret kursi di seberang Yoongi, lalu duduk di sana sembari mematai hidangan di atas meja, "kuharap rasanya sesuai dengan visualnya."
"Tentu saja! Kau pikir aku ini seperti kau!"kesal Jimin karena sungguh, bagi pendengarannya nada bicara Jungkook barusan sangat, sangat mengejek, "memasak ramyeon saja tidak bisa!"
"Ya! Aku sudah bisa memasak ramyeon!"
"Heol. Kau bilang mie kelebihan kuah itu sebagai ramyeon?"
"Selera orang berbeda-beda kan! Aku tidak suka terlalu kental!"
"Alah, bilang saja belum bisa menakar air. Astaga! Hanya menakar air saja tidak bisa."
"Apa kau-"
"Ehm!"
Yang paling tua di ruang makan itu berdehem cukup keras untuk menengahi. Ia memandang bergantian kekasih dan sepupu kesayangannya, "mari makan,"ucapnya singkat tak bisa dibantah, dan diikuti oleh dua sosok lainnya meraih alat makan bersiap untuk melahap sarapan ala korea yang telah dimasak Jimin sejak pagi-pagi buta.
Sup mentimun itu sesaat lagi akan masuk ke mulut Jungkook jika Yoongi tidak teringat kembali dengan mimpi buruknya. Bayangan Jungkook yang terduduk lemas mengeluarkan darah dari mulut juga hidungnya tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran Yoongi.
Tanpa sadar Yoongi menghentikan pergerakan sendok Jungkook. Sontak saja mengundang tatapan heran dari sepupunya, dan tentu saja dari kekasih manisnya juga.
"Hyung?"tanya Jungkook heran memandang bergantian wajah Yoongi dan tangan Yoongi yang memegang tangannya yang menggenggam sendok.
Yoongi terdiam sesaat, dalam sepersekian detik memikirkan alasan masuk akal atas tindakan tidak wajarnya. Sebelum Jimin mulai menaruh curiga, Yoongi akhirnya bisa berkata dengan baik dan terkesan natural, "astaga, Kookie. Hyung lupa memberitahumu, kita jadinya ke tempat Taehyung pagi ini. Dan oh, lihat jam berapa sekarang, kita tidak boleh terlambat."
"Hha-"
"Maaf, Sayang,"kini Yoongi beralih memegangi kedua tangan Jimin, "kami tidak sempat makan bersamamu. Dan tenang saja, kami akan tetap memakan sarapan buatanmu selama di perjalanan. Jadi bisakah kau membungkusnya untuk kami sembari kami bersiap-siap?"
"Tapi, Hyung bilang-"
"Ne. Hyung bilang akan mengantar Jungkook ke sana siang ini kan, tapi tadi malam setelah kau tertidur Taehyung menelponku, dia bilang hanya ada waktu pagi ini."
"Kok-"
"Kookie, bersiap-siaplah. Kita harus berangkat sekarang juga."
Jimin hanya bisa menuruti Yoongi dengan otak yang mulai berpikir keras.
Age Gap
Min Yoongi 29 thn x Park Jimin 18 thn
Warning! Typo (s)
Happy Reading
"Aw!"
"Kookie! Kau kenapa?!"
"Ouh, tidak apa-apa, Hyung. Hanya tergores sedikit."
Yoongi serta merta bangkit, tidak ia pedulikan gerakan tiba-tibanya membuat kepala Jimin yang semula bersandar di bahunya langsung jatuh menabrak permukaan sofa.
"Astaga! Tidak apa-apa bagaimana!? Lihat! Kau berdarah, Baby!"Yoongi meraih tangan Jungkook, wajahnya mengeras begitu melihat aliran berwarna merah itu. Ia langsung menarik Jungkook untuk duduk di kursi meja makan, bersamaan dengan itu Jimin menyusulnya karena mendengar kata 'berdarah'.
"Ke ataskan tanganmu,"perintah Yoongi.
"Hyung ini hanya-"
"Ke ataskan,"ulang Yoongi tegas, "kalau tidak darahnya tidak akan berhenti,"ujarnya seraya membuka semua rak kitchen set untuk mencari kotak obat.
"Ou..."angguk Jungkook canggung, merasa heran karena tidak biasanya Yoongi panik karena hal kecil.
"Kenapa kau ceroboh sekali heoh? Hati-hati lain kali. Sakit sekali? Apa yang kau rasakan? Bagaimana-"Yoongi terdiam begitu Jimin telah duduk di samping Jungkook dengan sebuah kotak obat. Ia jadi ingat, bahwa kemarin kotak obat yang biasa ada di dapur telah dipindahkan ke rak TV. Dan bukannya lega, Yoongi malah cepat-cepat menghampiri Jimin dan mengambil alih salap obat yang akan dioleskan pada goresan di jari Jungkook.
Jimin mengernyit heran, sedang Yoongi mencoba tersenyum tulus -dibalik pikirannya yang kembali dihantui mimpi buruknya-.
"Biar Hyung yang mengurus luka Jungkook, ya. Kau nonton saja."
Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Jimin mengangguk, meskipun masih keheranan ia menuruti kata-kata Yoongi. Kembali duduk di sofa, kembali menonton komedi malam amerika, dan semakin yakin ada yang aneh dengan kekasihnya.
GantoSci
Sungguh, intuisi seorang Park Jimin tak akan pernah meleset jika itu berhubungan dengan Min Yoongi. Ia merasa yakin, benar-benar yakin jika Yoongi memiliki suatu pemikiran aneh terhadap pertemanannya dengan Jeon Jungkook.
Jimin merasa Yoongi tidak ingin ia lebih dekat dengan Jeon Jungkook. Heol, tentu saja Jimin merasa ada sesuatu yang tidak beres. Bukannya selama ini Yoongi malah berharap bahwa Jimin bisa akur dengan sepupunya. Sepupu kesayangannya.
Ya, sepupu kesayangannya.
"Katakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan Min Yoongisshi?"
Baru kali ini Jimin bertanya seperti itu, Jimin bukannya sok-sok serius. Tapi dia benar-benar serius.
Yoongi yang baru saja selesai mandi setelah mengantar Jungkook ke tempat Taehyung membalas pertanyaan Jimin dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Well, awalnya aku sempat senang ketika Hyung bilang kalau malam ini Jungkook menginap di tempat Kim Taehyung,"papar Jimin yang duduk di tepian ranjang, menyilang tangan di depan dada, mematai Yoongi yang sedang mengeringkan rambutnya, "tapi sepertinya aku saja yang besar kepala, kau bukannya memang ingin berduaan saja denganku kan. Karena dari gelagatmu sebelum pergi sampai detik ini, yeah sampai detik ini. Lihat, tatapan dan gerak gerikmu, Hyung. Plis, ada apa sebenarnya?"
"Oh, Tuhan, Jiminie,"desah Yoongi mendekati dan berlutut di hadapan Jimin, "kau yang kenapa, Sweetheart. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kenapa kau berwajah begitu hm? Hei, kau tidak cocok-"
"Aku tidak sepolos itu, Hyung."
"Kau polos, Jiminie."
"Tidak jika kau menyembunyikan sesuatu dariku."
Yoongi menelan ludah. Ia akui Jimin pasti menyadari pikirannya terganggu seharian ini. Namun tentunya Yoongi tak ingin Jimin tahu, well mana mungkin, mustahil Yoongi membiarkan Jimin tahu bahwa yang menganggu pikirannya adalah sosok Jimin yang bisa saja berubah menjadi psikopat karena terbakar rasa cemburu.
"Hy-hyung... nngh."
Barangkali dengan melewati malam yang panas akan mengalihkan kecurigaan Jimin. Karena itu Yoongi tak lagi melanjutkan pembicaraan mereka, membawa Jimin ke dalam ciuman panjang sembari membaringkan Jimin di bawah kungkungannya.
Berhasil. Tampak kini Jimin memandanginya dengan tatapan berkabut, berharap Yoongi untuk menyentuhnya lebih dan lebih lagi.
GantoSci
Yoongi terbangun dengan keabsenan Jimin di sebelahnya. Ia langsung bangkit. Bergerak keluar kamar memanggil Jimin setelah memeriksa ke kamar mandi.
Tak ada sahutan, dan Yoongi mendapati secarik kertas di atas meja makan.
Hyung, aku sudah buatkan sarapan. Ada di kulkas, tinggal dipanaskan. Maaf karena aku tidak pamit secara langsung, aku tidak ingin membangunkanmu. Aku ada urusan mendadak dengan Jungkook, jadi-
Yoongi langsung kembali ke kamarnya tanpa membaca pesan Jimin lebih lanjut lagi. Mengambil asal satu stel pakaian, meraih handphone dan juga dompet serta kuncil mobil. Lalu tergesa-gesa meninggalkan apartemennya sembari menelpon Jungkook.
"Halo, Hyung."
"Kookie-a! Di mana kau sekarang?! Apa kau baik-baik saja!?"
"Hha?"
"Jawab aku, Jeon Jungkook!"
"Ou, aku sedang di... di- di- em... di toko baju bersama Jimin-"
"Hyung akan ke sana! Jangan ke mana-mana."
GantoSci
"Kau bilang kalian sedang di toko baju kan. Kenapa tidak sesuai dengan gprs-mu hm?"
Yoongi berkacak pinggang di depan Jungkook. Wajahnya menuntut sebuah penjelasan.
"Dan Hyung kenapa sih?"Jungkook balik bertanya. Benar-benar heran mendapati seorang pria tiba-tiba saja meneriakkan namanya begitu keras tepat ketika ia dan Jimin akan menaiki bis, jadi mereka bertiga sekarang berdiri di halte terdekat apartemen mereka. Dengan Yoongi yang masih mengatur napas sehabis berlari kencang dan berteriak lantang, Jungkook yang kebingungan dan Jimin yang mematai Yoongi seraya berpikir keras.
"Plis, kami sudah besar, Hyung,"sambung Jungkook, "ke mana-mananya tidak perlu selalu ditemani kan. Taetae-hyung sah-sah saja kok ketika aku menolak diantarkan oleh sopirnya. Karena begini, urusan ini benar-benar hanya-"
"Jungkook. Ssst." Sela Jimin menarik ujung baju Jungkook. Mengingatkan bahwa 'acara mencari hadiah peringatan hari pertama kerja untuk Min Yoongi' tidak boleh sampai bocor sebelum waktunya.
Jimin mencoba tersenyum manis, "aku dan Jungkook ada urusan kampus-"
"Kalian baru mulai kuliah minggu depan kan."
"Dan yeah,"timpal Jungkook, "tentunya dalam minggu ini kami sibuk untuk mempersiapkan semuanya."
"Kalau begitu Hyung ikut."
"Heol,"desah Jungkook, "plis, biarkan kami pergi berdua saja, Hyung."
"Kalian tidak boleh berdua saja,"Yoongi bersikeras, bahkan ia sudah menarik tangan Jungkook untuk mengikutinya, "ke manapun kalian pergi harus ada aku."
"Hyuuuung!"rengek Jungkook tak terima.
"Kalian pergi dengan mobilku."
"Hyung kenapa heoh! Sudah kubilang-"
"KALAU KAU KENAPA-KENAPA BAGAIMANA HAH!?"
Jungkook dan Jimin terdiam. Ada jeda yang cukup lama di antara mereka sampai Jimin membuang napas kasar menatap Yoongi tepat di kedua mata.
"Excuse me?"Jimin mendekat ke arah Yoongi dengan alis yang menukik tajam, "barusan Hyung bilang apa? 'Kau'? 'Kau'? Bukannya seharusnya kalian ya? Dan apa-apaan sikap Hyung sejak tadi hm, kenapa seolah-olah hanya ada Jungkook di sini heoh. Astaga... jadi- jangan bilang- heol..."
Oh, crap! Yoongi mulai menyadari sesuatu.
Seorang Park Jimin tentu saja mampu membaca jalan pikirannya.
"Jiminie, ini bukan-"
"Waw!"Jimin berdecak kagum dibuat-buat, "waw..."desahnya tak percaya. Kini ia benar-benar mengerti dengan gelagat Yoongi sejak kemarin.
"Plis, Jimin. Ini bukan-"
"Kau terlihat khawatir ketika Jeon Jungkook akan memakan masakan buatanku. Kau tidak membiarkan aku merawat luka Jeon Jungkook. Kau kelewat perhatian dengan Jeon Jungkook. Kau berlebihan mencemaskan Jeon Jungkook. Kau membatasi interaksiku dengan Jeon Jungkook. Kau. Takut. Jika. Aku. Berduaan. Saja. DENGAN JEON JUNGKOOK! HEOL! KAU-"
Air mata Jimin mulai berlinang, pemuda manis itu benar-benar tak habis pikir dan sangat kecewa. Tangannya menepis kuat ketika jemari Yoongi terulur untuk menenangkannya.
"What a shit." Jimin melangkah pergi, segera di cegah oleh Yoongi namun dirinya lebih dulu mendesis penuh emosi, "get off my back, shitty asshole."
Sukses membuat Yoongi tak berkutik.
GantoSci
"Ternyata kau juga bisa sebodoh ini ya, Hyung."
Jungkook menyodorkan sekaleng kopi dingin kepada Yoongi. Setelah itu ia mulai meneguk minumannya sendiri, jus stramberry kotak. Dan duduk di bangku taman di sebelah Yoongi.
"Aku hanya- aku- haaaah. Astaga. Apa yang sudah kulakukan."
"Kau sudah melalukan hal yang benar-benar konyol, Hyung. Kau berpikir bahwa kekasih manismu akan mencelakakan sepupumu sendiri."
"Soalnya-"
"Plis, Hyung. Kami memang sering bertengkar, well sampai sekarangpun sebenarnya aku masih belum rela sih Hyung pacaran dengan Jimin. Tapi tidak mungkin rasa 'tidak suka' kami itu sampai ke tahap yang- nah, kami memang pernah saling jambak dan saling pukul sih. Pokoknya sebenci dan secemburunya Jimin, ia tidak akan mungkin membahayakan diriku. Apalagi, kuakui dia itu ternyata sangat manis dan juga baik. Bahkan aku sudah mulai menyukainya. Ish! Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu Hyung! Mana mungkin seorang Park Jimin serius ingin mencelakaiku."
"Ne... aku... "
"Hyung sih! Seenaknya saja menghakimi pertemanan kami. Apa Jimin tidak pernah cerita, bahkan ketika masih di Seoul kami beberapa kali pergi ke salon berdua."
"Well, dia tidak pernah cerita mengenai itu. Lebih tepatnya dia tidak pernah mau ada pembahasan tentang 'Jeon Jungkook' di antara kami."
"Ugh. Segitunya dia alergi dengan Jeon Jungkook. Aku tarik kembali kata-kataku sebelumnya, aku tidak menyukai Park Jimin."
Yoongi hanya mendengus dan tersenyum tipis. Sedang Jungkook kemudian terkekeh sambil menyenggol bahu Yoongi.
"Hei ~ Bercanda kok, Hyung. Aku serius menyukai Jimin, aku sudah mulai nyaman dengannya. Aku maklum, sebelum ke amerika kalian sama-sama sibuk kan, jadi jika sekalinya bisa bertemu pastinya Jimin ingin memanfaatkannya sebaik mungkin, tentunya topik tentang Jeon Jungkook tidak akan Jimin masukkan ke dalam obrolan berharga kalian."
"Dan asalkan Hyung tahu, kami sering berbagi cerita tentang percintaan kami lho."
Yoongi yang semula hanya bisa menunduk memikirkan kemarahan Jimin mendongak dan memandangi wajah Jungkook. Tentang percintaan Jimin, tentang dirinya dan Jimin.
"Kami sama-sama mengencani om-om tua sih."
"Ugh... Om-om tua ya."
"Jimin pernah bilang begini lho, Hyung."
"Hm?"
GantoSci
Jemari gembul itu masih saja setia melap kasar kedua pipi merahnya yang basah dan lengket karena air mata. Mulutnya melahap es krim banyak-banyak semampu tampungan mulutnya. Hidungnya tersedu-sedu, satu box tissue hampir habis karenanya.
Pemuda manis itu lalu mencibir kesal mendengar pintu depan apartemen terbuka dan terdengar langkah kaki mendekati dirinya yang duduk di atas pantry dapur. Ia lalu memalingkan wajah dari pandangan si pemilik langkah barusan.
"Aku, aku. Bukannya aku besar kepala lho! Tapi kau juga pasti berpikir bahwa suatu saat nanti kau akan menikah dengan Kim Taehyung kan. Mereka selalu mengatakan bahwa mereka mencintai kita kan. Aku juga sangat, sangat mencintai Yoongi-hyung. Dan aku tidak akan membiarkan rasa cinta Yoongi-hyung berkurang sedikitpun, karena itu aku ingin berubah."
Yoongi tersenyum simpul. Mengingat pengakuan Jungkook beberapa saat lalu, sebuah pengakuan mengenai pemikiran Jimin terhadap dirinya.
"Aku tidak ingin lagi menjadi anak-anak yang selalu merepotkan Yoongi-hyung. Aku belajar memasak dengan tekun, aku belajar bagaimana menjadi pasangan yang sempurna bagi Yoongi-hyung. Aku berusaha keras untuk mengimbangi kedewasaan Yoongi-hyung."
Senyuman Yoongi kian lebar ketika dirinya telah sampai di hadapan Jimin.
"Dan aku belajar untuk menyukaimu. Jika kami menikah, kita juga jadi keluarga kan. Em, awalnya hanya semata-mata demi Yoongi-hyung tapi yah, ternyata kau asik juga ya. Mungkin kita bisa berteman dengan baik."
Seperti tak terjadi apa-apa, Yoongi bergerak membersihkan noda es krim di sekitar mulut Jimin menggunakan lidahnya. Yeah, membuat Jimin langsung ingin memukulnya namun dengan sigap ia menahan kedua tangan Jimin.
Yoongi menarik Jimin mendekatinya, membuat posisi mereka menjadi Yoongi berdiri tepat di depan Jimin yang duduk di tepi pantry. Sepasang tangan Yoongi ditumpukan di tepian pantry, di sisi kiri dan kanan Jimin.
"Apapun akan aku lakukan agar kau mau memaafkanku..."
"Kalau begitu mati sana."
Yoongi tidak bisa tidak tersenyum ketika Jimin sedang marah seperti ini. Jauh berbeda dengan marahnya Jimin beberapa saat yang lalu yang benar-benar serius dan bersungguh-sungguh, kali ini ada merajuk di dalamnya. Jimin memanglah seseorang yang jarang berlarut-larut kemarahannya. Apalagi wajah bersalah Yoongi terlihat benar-benar menyesal, dan Jimin sangat mengerti akan hal itu.
"Maafkan aku, Sweetheart."
"Kau seenaknya saja mencurigaiku! Kecurigaannya parah lagi!"
"Ne, maafkan aku."
"Kau pikir aku sejahat itu apa!"
"Maafkan aku..."
"Kau pikir aku masih kekanak-kanakan apa!"
"Well, soalnya wajahmu terlalu manis dan menggemaskan sih."
"Ish! Hyuung!"
Yoongi tersenyum lembut dan memandang teduh setelah memberikan kecupan penuh sayang di kening Jimin, "sarang he. Maafkan Hyung, ya..."
"Tidak semudah itu."
"Well Hyung benar-benar kelewatan kali ini, karena itu tadi sudah Hyung katakan kan. Hyung akan mengabulkan apapun permintaanmu."
"Apapun?"
"Un. Apapun. Selama Hyung mampu melakukannya."
Tampak Jimin berpikir sejenak, lalu wajahnya berbinar berekspresi 'aha' seolah-olah sebuah bohlam berpendar terang di atas kepalanya.
"Setiap harinya Hyung harus mengatakan kau mencintaiku walaupun hanya sekali. Setiap hari harus selalu ada morning kiss juga goodnight kiss. Minimal sekali seminggu kita harus mandi bersama. Perayaan hari jadi setiap bulannya, Hyung harus membelikan aku mawar -yang banyak- dan hadiah yang aku suka. Seletih apapun, setidaknya Hyung harus sempat menceritakan keseharian yang Hyung jalani. Sesibuk apapun, Hyung harus meluangkan waktu untuk menelponku. Selama kita di Amerika aku yang menentukan tempat kita berkencan."
Deretan permintaan manis itu membuat Yoongi terkekeh lucu. Mendengar itu Jimin memukul dadanya gemas.
"Hyung aku serius! Satu saja terlewat, aku benar-benar tidak akan pernah lagi memaafkanmu."
"Iya, Jiminie. Iya..."
"Se-sebagai gantinya. Kalau Hyung mengabulkan semuanya-"
-Jimin mengecup singkat bibir tipis Yoongi, lalu menunduk malu-malu.
"-aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu puluhan kali setiap harinya. Jika kau menginginkan lebih dari ciuman, aku dengan senang hati melakukannya. Aku juga sangat senang jika kita mandi bersama, bersama ketika menyegarkan dan merilekskan diri setelah beraktifitas seharian adalah hal yang membuatku senang. Perayaan hari jadi akan selalu mengingatkanku, bahwa aku milik Hyung dan Hyung adalah milikku. Jika Hyung membelikan mawar dan hadiah untukku, aku akan merawat dan menjaganya baik-baik serta memberikan hadiah balasan semaksimal yang mampu aku berikan. Seletih apapun, aku akan setia mendengar cerita tentang keseharian Yoongi-hyung, bahkan aku benar-benar bersyukur jika aku adalah tempat Hyung untuk berkeluh kesah. Sesibuk apapun, aku akan menghubungi Yoongi-hyung, aku akan selalu membuatmu ingat bahwa ada aku yang selalu mendukungmu. Dan selama kita kencan di Amerika, sebisa mungkin aku akan memilih tempat yang Hyung sukai."
Rentetan kata yang keluar dari mulut Jimin sukses membuat Yoongi terdiam. Lelaki yang sebentar lagi genap berumur tiga puluh tahun itu menatap lekat kekasih manisnya yang kini telah menjelma menjadi seseorang yang-
aaaah, Yoongi tak bisa lagi berkata-kata. Ia memeluk Park Jimin. Merengkuhnya erat dan bersumpah bahwa ia akan memberikan yang terbaik untuk Park Jimin.
"Kau baru mulai kuliah minggu depan ya."
"Ne..."
"Astaga, aku ingin kau lulus detik ini juga Park Jimin. Agar aku bisa menjadikanmu milikku seutuhnya."
"Hyung..."
"Aku ingin mengikatmu, Park Jimin. Aku ingin bersumpah di hadapan kedua orang tuamu, di hadapan semua orang yang mengenal kita, bahwa aku akan menjaga dan melindungimu selama-lamanya. Aku akan membahagiakanmu, aku akan rela bertaruh nyawa demi dirimu. Aku akan selalu setia mencintamu."
"Hyung... kata-katamu barusan kok seperti-"
"Karena kau sudah membuatku gila, Park Jimin. Lihat, apa aku barusan melamar seorang remaja yang baru saja lulus SMA."
Jimin terkekeh dan tersenyum manis, "kuliah sambil menikah sepertinya seru, Hyung."
"Atau menikah sambil kuliah?"
-CUE-
Well, gamsahanida ~
Sori, akhir2 ini writer block. FF lain belum keketik sama sekali. E tapi, masih ada yg nungguin ga ya, haha. Kayanya ga ya.
BTW! Yang tau Ganto pasti kenal juga sama author Park Injung kan ya. Yang baca ff Ganto, pasti udah baca ff karya Park Injung juga kan ya. Jangan sampai ketinggalan PO The Mask karya Park Injung ya! Seperti yang udah kalian ketahui, ceritanya seru bikin penasaran. Kriminal bumbu romance itu memang topik yang paling menarik, Ganto pribadi juga suka tema begitu. FF Ganto banyak yang macam begitu kan ya hohoho.
Jangan lupa ya! Mampir ke lapaknya Park Injung, ikutan PO The Mask! Ga bakal rugi, dijamin.
Once again, gamsahamnida ~
.
.
.
Ganto, with love and peace.
2017 Juli 27.
