disclaimer: i just own the story.
Chapter 7
Kedai kopi itu terlihat ramai di pagi hari, banyak orang mampir untuk sarapan sebelum berangkat kerja. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki yang membawa tas kerja di tangan kiri dan koran diapit lengannya.
Lelaki berambut hitam itu memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang masuk ke dalam kedai atau memperhatikan orang-orang yang berjalan dengan terburu-buru di luar sana. Ia kembali meneguk kopinya, sepotong croissant yang tinggal setengan pun di habiskannya. Lalu ia kembali membaca korannya. Koran yang aneh, gambar dalam koran itu kadang terlihat bergerak.
Harry melipat koran itu dan bangkit dari kursi lalu keluar dari kedai kopi setelah membayar sarapannya. Ia berjalan menyusuri jalan yang tidak pernah terlalu ramai itu. Harry berada di sebuah kota kecil di Rumania, sebuah kota yang indah dan damai. Harry senang berada di sini, ia berharap bisa mengajak Hermione datang kemari suatu saat nanti.
Hermione.
Sudah lima tahun berlalu sejak Harry terakhir melihatnya, sejak Harry meninggalkannya. Harry merindukannya. Merindukan mata cokelat hangat yang selalu menyejukkan hatinya, merindukan senyum di wajah Hermione yang selalu menguatkannya. Harry mendesah. Tau dia sudah melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah Hermione atau Ron maafkan.
Harry mendongak menatap langit biru yang cerah, ingin rasanya ia berteriak. Meneriakkan rasa rindunya, berharap Hermione mendengarnya. tapi ia hanya diam dan kembali menyusuri jalan, seraya tenggelam dalam pikirannya.
0oooo0oooo0
Jubah putih Hermione berkibar seiring dengan langkahnya menyusuri kamp dan memasuki sebuah tenda. Hermione dan beberapa Healer ikut dalam misi Auror untuk meringkus beberapa Pelahap Maut yang telah buron dalam enam tahun terakhir ini. Setiap misi dilaksanakan, para Auror selalu membawa beberapa Healer ikut serta dan ini adalah kali ketiga Hermione diikutsertakan dalam misi tersebut.
Hermione merapalkan mantra pada tangan salah satu Auror yang patah, lalu membebatnya dengan perban juga menyuruh si Auror untuk meminum sebuah ramuan. Neville juga ikut dalam misi kali ini, untungnya ia tidak terluka parah, hanya luka ringan di pipi kirinya. Neville nyengir pada Hermione ketika ia masuk ke dalam tenda.
"Hai Hermione!" sapa Neville riang, ia terlihat senang karena misi sudah berakhir. Pelahap Maut terakhir sudah di ringkus, akhirnya ia bisa kembali ke rumah. Hermione tersenyum pada Neville, terlihat sama senangnya dengan berakhirnya misi ini. "Hai Neville. Senang akhirnya bisa pulang?" gurau Hermione.
Neville terkekeh, "Ya tentu saja! Satu bulan aku pergi dari rumah, aku sangat merindukan Luna dan Kate," mata Neville menerawang, membayangkan dirinya pulang ke rumah, disambut istri dan anak perempuannya yang manis.
"Aku juga senang akhirnya bisa pulang," ujar Hermione, Neville nyengir pada Hermione sebelum ia pamit keluar karena mendapat panggilan.
Akhirnya Hermione bisa pulang kembali ke Inggris, ia tersenyum. Hermione berpikir, ia ingin mengunjungi Hogwarts setelah kembali dari Rumania, bertemu dengan Minerva. Mungkin mendiskusikan berbagai macam hal, Minerva masih ingin Hermione mengajar di Hogwarts. Awalnya Hermione menolak karena Hogwarts penuh dengan kenangan yang menyakitkannya tapi juga membahagiakannya. Kenangan akan Harry. Tapi kini Hermione merasa ingin mengajar. Menjadi Healer memang menyenangkan baginya, tapi Hermione merasa, ia lebih cocok menjadi seorang Professor.
Harry.
Sudah lima tahun berlalu sejak Harry tiba-tiba menghilang dari hidup Hermione. Tanpa peringatan, hanya selembar surat yang ditinggalkannya. Surat yang sampai saat ini masih tersimpan di rumahnya di inggris. Hermione menghela nafas, ia keluar dari tenda itu lalu mendongak pada langit.
Hermione merindukan Harry. Sangat merindukannya. Tapi ia juga kesal, kecewa dan marah padanya yang telah meninggalkannya begitu saja.
Harry, kemana sebenarnya kau pergi.
0oooo0oooo0
Hermione ingin berjalan-jalan sebentar di Rumania sebelum pulang ke Inggris. Ia membeli beberapa buku dalam bahasa Rune yang tidak ditemukannya di inggris, beberapa oleh-oleh untuk para Weasley kecil dan oleh-oleh lainnya untuk Weasley dewasa.
Ia sedang asyik memilih oleh-oleh ketika ia melihat sosok yang sangat familiar di matanya. Sosok yang ia rindukan selama bertahun-tahun, sosok yang selama ini menghiasi mimpi-mimpinya. Sosok yang pernah membuatnya sangat bahagia.
Hermione bergegas keluar dari toko itu tanpa memperdulikan tatapan aneh dari orang-orang di sana. Hermione yakin ia tidak salah mengenalinya walau ia hanya melihat punggung sosok itu. jantungnya langsung berdebar kencang, bayangan masa lalu memenuhi otaknya.
Sosok itu berambut hitam berantakan, tinggi dan kurus. Sosok itu menoleh. Tenggorokan Hermione tercekat melihat mata hijau di balik kacamata bulat itu, tangan Hermione membekap mulutnya sendiri. tidak salah lagi, itu adalah dia.
Harry.
0ooo0ooo0
Harry baru saja kembali dari Gringgots untuk menyelesaikan urusan keuangan keluarganya, tadinya ia akan langsung pulang. Tapi ia memilih untuk jalan-jalan sebentar, ia ingin membeli majalah baru di swalayan. Harry menikmati sore yang indah ini. Ia bersenandung melewati jajaran toko-toko, ia sempat berhenti di depan toko buku untuk melihat daftar buku baru. Tapi tidak ada yang menarik perhatiannya, maka ia kembali berjalan pergi.
Harry berbalik hendak masuk ke dalam sebuah swalayan ketika ia melihat sosok perempuan yang ia bayangkan tadi pagi. Wanita itu juga menatap Harry, tangan wanita itu membekap mulutnya sendiri.
Mata Harry melebar. Ia berhenti di depan swalayan, Harry mengenali sosok itu. sangat mengenalnya malah. Rambut cokelat itu, mata cokelat teduh itu.
Hermione.
0oooo0oooo0
Hermione masih memandang sosok Harry yang semakin lama semakin dekat dengannya. Hingga hanya jarak dua langkah yang memisahkan mereka. Mereka saling berpandangan selama beberapa lama, "Hermione.." panggil Harry pelan. Hermione tidak menyahut, tangannya terulur, menyibakkan poni yang menutupi dahi Harry. Luka sambaran kilat terlihat samar di dahinya.
"Harry..." bisik Hermione. Mulut Hermione terbuka, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu—
"Harry!"
Tangan seseorang mengalung pada leher Harry, Hermione melotot, begitu pula Harry yang tampak sangat terkejut. Seorang gadis berambut merah dengan mata gelap bergelayut manja di leher Harry. Terbesit rasa sakit yang amat sangat di hati Hermione.
"Owh. Aku mengganggu ya," gumam gadis itu, Hermione memaksakan diri tersenyum. "Tidak. Sama sekali tidak mengganggu, aku baru saja pamit," Hermione berbicara dengan cepat, secepat ia berbalik dan melangkah menjauh. Harry baru membuka mulutnya, hendak memanggil Hermione ketika Hermione hilang. Ia ber-apprate.
0oooo0oooo0
"Zack! Ya Tuhan! Seseorang hentikan anak itu!" jerit lelaki itu di depan halaman rumah keluarga besarnya. "Ada apa Ron?" tanya Lavender dari balik jendela, Ron dewasa menunjuk seorang anak laki-laki berambut merah yang sedang berlarian di halaman The Burrow, "Zack mengambil tongkatku," jawab Ron kesal.
"Zack! Kembali ke sini sekarang juga!" teriak Ron lagi, tapi anak lelaki itu tetap berlarian dengan tangan kanannya menggenggam tongkat Ron. Ron baru akan berteriak lagi ketika Lavender menjerit—
"Zachary Lionel Weasley! Kembalikan tongkat ayahmu sekarang juga! Kau bisa melukai seseorang dengan itu!" jerit Lavender. Ron tersentak kaget, begitu juga Zack.
Ia mengakui, teriakan Lavender semakin lama semakin mirip ibunya. Zack mendekati Ron dengan wajah tertekuk, dia memang tidak pernah bisa melawan keinginan ibunya. "Jangan bermain dengan tongkatku lagi, mengerti?" Zack mengangguk pelan sebelum masuk kembali ke dalam rumah dengan wajah merengut.
"Makanya jangan menaruh tongkat di sembarang tempat Ron," kata Bill yang sedang bermain dengan Lorraine, putri Charlie yang baru berusia tiga tahun. Keluarga Weasley memang semakin bertambah banyak, semua anak keluarga Weasley sudah menikah dan kelima putra pertama Weasley masing-masing sudah memiliki minimal satu anak.
George turun sambil menggendong putranya,Fred, yang baru berumur dua tahun. "Pagi-pagi begini sudah ribut," katanya sambil mencomot secuil daging asap, tangannya langsung dipukul Mrs. Weasley, "Jangan sentuh, tunggu semuanya turun baru kita sarapan!"
"Biasanya juga kau yang selalu membuat keributan di pagi hari," kata Percy ringan sambil membaca koran."Diamlah Perce! Aku sudah lama tidak berbuat seperti itu," bela George.
"Delapan jam lima belas menit kau bilang lama, George?" ledek Ron disambut tawa orang-orang yang ada di sana.
Drap-drap-drap.
Terdengar langkah kaki turun, "Ada yang lihat Victoire? Lagi-lagi dia keluar memakai gaunku," gerutu Fleur. "Tadi dia sedang di luar, bermain dengan Dad dan Mervin di luar," jawab Charlie yang juga baru turun dari atas, masih lengkap dengan piyamanya. "Merlin!" Fleur keluar dari sambil menggerutu.
"Ron, apa Hermione akan datang hari ini?" tanya Mrs. Weasley pada Ron yang malah mengangkat bahu, ia menyelundupkan sepotong daging asap ke mulutnya. "Sepertinya, tapi dia tidak bilang jam berapa,"
Fleur masuk dengan wajah kesal, tangannya menggandeng anak perempuan berambut pirang ikal yang memakai gaun kedodoran dan juga sedang cemberut. "Kan sudah Mum bilang, jangan pakai gaun Mum!" suara kesalnya terdengar samar-samar.
"Istrimu tuh," Charlie menyikut Bill yang duduk di sampingnya. "Yah, dan aku mencintainya," mereka terkekeh pelan.
"Sarapan siap! Lavender, panggilkan Arthur dan Marie panggilkan mereka yang masih di atas," kata Mrs. Weasley, Lavender pun berjalan keluar memanggil Arthur yang kemudian masuk sambil menggendong Mervin. Percy mendekati ayahnya, mengambil putranya dari gendongan ayahnya.
Marie—istri Percy—turun bersama dengan Ginny dan suaminya Dean Thomas. Diikuti Melissa—istri Charlie—Angelina, Fleur dan Victoire yang masih cemberut. Para Weasley—dan Thomas—itu duduk mengelilingi meja. Semua Weasley ini berkumpul demi merayakan libur natal mereka, Ron dan Percy mengambil cuti dari kementerian sedangkan George menyerahkan tokonya untuk di urus beberapa pegawainya.
"Kau harus makan lebih banyak Ginny," kata Fleur yang melihat Ginny hanya makan sedikit, "Aku kenyang Fleur," ujar Ginny, nyengir.
"Dia baru makan kue banyak sekali," kata Dean yang langsung disikut Ginny. "Tapi kau harus makan lebih banyak Ginny, anakmu butuh lebih dari sekedar kue," kata Mrs. Weasley.
"Itu betul Ginny, dengarkan apa kata ibumu," sekali lagi Ginny menyikut Dean, hanya kali ini lebih keras.
Terdengar suara pop keras di luar, Mrs Weasley bangkit dari kursinya dan melihat keluar jendela. Hermione berjalan menyebrangi halaman menuju the burrow. "Ron, Hermione datang!" seru Mrs Weasley. Ron langsung memasukkan beberapa potong daging asap ke mulutnya sebelum pergi keluar, "Ron! Jorok!" gerutu Ginny, Ron tidak peduli, ia tetap melangkah keluar.
"Hermione!" sapa Ron riang setelah semua daging dimulutnya ditelan, ia tersenyum lebar menyambut sahabatnya. Hermione juga menyambut Ron hangat, mereka berpelukan erat. "Akhirnya kau pulang juga!"
Hermione tersenyum, "Aku juga sangat senang bisa pulang,"
"Bawa oleh-oleh?" tanya Ron sambil nyengir, Hermione menggeleng pelan karena Ron menanyakan oleh-oleh lebih dulu daripada menanyakan kabarnya. "Ya aku baik-baik saja Ron, terima kasih. Oh tentu tidak ada masalah selama aku bekerja Rumania. Oh tidak, sama sekali tidak ada korban jiwa, semua baik-baik saja!" ujar Hermione dengan nada sarkasme yang jelas. Ron terkekeh, "Ya ya ya, sudahlah, semua orang menunggumu Hermione,"
Semua Weasley dewasa langsung menyambut Hermione dengan riang. Hermione selalu senang berada di the burrow, ia senang dengan semua kebersamaan ini. Harry juga sangat senang berada di sini—
Harry.
Pikirannya kembali melayang pada pertemuan kecil mereka di Rumania. Hermione mengingat jelas bagaimana mata hijau itu memandangnya, antara rindu, sayang, cinta, bingung dan rasa bersalah yang mencampur menjadi satu. Hermione juga ingat gadis yang mengalungkan tangannya di leher Harry dengan manja. Hati Hermione sakit mengingatnya.
"Ada cerita seru selama di Rumania?" tanya Charlie sambil menggigit roti bakarnya. "Apa ada cowok ganteng?" kali ini George yang bertanya, dengan cengiran jailnya menghiasi wajahnya.
Hermione tertawa, "Tidak, tidak ada yang terlalu menarik selain kumpulan Auror yang terluka. Dan George—tidak ada cowok ganteng yang kutemui, hanya ada—" senyum menghilang dari wajah Hermione, ia ragu, tapi ia melihat semua orang di meja itu menunggu lanjutan kalimat Hermione.
"—hanya ada Harry," lanjut Hermione pelan.
Sontak suasana langsung berubah kaku. Cengiran di wajah George menghilang, tidak ada yang tersenyum bahkan Hermione bisa melihat rahang Ron berubah kaku. Tidak ada yang pernah menyebut nama Harry selama beberapa tahun belakangan, mungkin mereka tidak ingin membuat Hermione teringat akan Harry dan kembali hancur. Dan kini nama itu kembali di sebut, membuat semua terdiam.
"Harry—maksudmu—Harry—" ucapan Ginny terputus-putus, ia tampak tidak yakin bahwa Harry itu yang Hermione maksud. Ginny berpikir, mungkin ada Harry lain dalam hidup Hermione.
"Apa itu Harry Potter?" tanya Ron dingin, tangannya mengepal di atas meja. Lavender mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Ron erat, berusaha menenangkannya.
Hermione mengangguk ragu. Bayangan Harry yang dipeluk gadis lain di depannya kembali memenuhi benaknya, tapi Hermione tidak mau memberitau siapapun soal itu, termasuk Ron. "Jadi selama ini Harry ada di Rumania," gumam Mrs Weasley.
"Aku tidak pernah tau," kata Charlie pelan, mendengar fakta bahwa ia dan Harry tinggal di negara yang sama.
Hermione merasa tidak enak dengan suasana itu. "Aku ingin beristirahat jika kalian tidak keberatan," ujarnya pelan. Mrs Weasley menoleh dan tersenyum lembut pada Hermione, "Pergilah, kau pasti sangat lelah," Hermione mengangguk dan pergi meninggalkan ruang makan menuju lantai atas, dan langsung merebahkan diri di ranjang, terlelap tidak lama kemudian.
"Kenapa dia harus bersembunyi, aku masih tidak habis pikir," kata Ron geram, masih tidak menerima kenyataan Harry meninggalkan Hermione begitu saja. Masih terbayang penderitaan Hermione selama beberapa tahun belakangan, Ron tidak habis pikir betapa egoisnya Harry.
"Aku yakin Harry punya alasan sendiri untuk melakukan semua ini," kata Mr Weasley bijak. Ron menggebrak meja, mengagetkan semua orang. "Ron! Demi Merlin! Tenanglah!" seru Bill.
"Aku tidak mungkin tenang!" Ron menatap Bill garang, Bill baru mau membantah ketika Mr Weasley angkat bicara. "Apa kalian sadar kalau kita seharusnya tidak mencampuri urusan Harry dan Hermione,"
Ron jelas-jelas keberatan dengan pendapat ayahnya. "Tentu saja aku harus mencampuri urusan mereka! Harry sudah menyakiti Hermione! Sahabatku! Apa aku bisa diam saja dan berleha-leha?"
"Tapi ada tahap dimana kau tidak bisa mencampuri urusan mereka terlalu dalam Ron! Aku mengerti kau berusaha menjaga Hermione, tapi kau tidak bisa ikut dalam memutuskan apapun!" seru Mr Weasley. Ron diam, ia tau ayahnya benar. Ia tidak bisa terlalu jauh mencampuri urusan pribadi Hermione dan Harry, tapi ia juga tidak terima perbuatan Harry.
Ron ingin sekali memukul Harry, memaki-makinya.
"Jika dia kembali..." kalimat itu Ron biarkan menggantung. Semua masih tetap diam, tidak menanggapi kalimat tanggung Ron yang penuh nada ancaman.
0oooo0oooo0
Harry menatap the burrow ragu. Ia tau Hermione ada di sana, begitu pula dengan Ron.
Ron.
Harry yakin Ron akan sangat murka padanya, mungkin Ron akan melancarkan beberapa pukulan pada Harry.
Dari jarak sejauh ini Harry bisa melihat anak-anak berambut merah—beberapa di antara mereka ada yang berambut pirang dan cokelat, mungkin keturunan ibu atau ayah mereka. Harry juga melihat George dan Charlie yang tampak lebih dewasa dari terakhir Harry lihat sedang bermain dengan anak-anak itu. Lalu Angelina keluar, bersama seorang wanita lagi yang Harry kenal sebagai Melissa, mungkin sekarang Melissa dan Charlie sudah menikah.
Hati Harry dipenuhi rasa rindu yang meluap-luap melihat pemandangan itu, apalagi ketika ia melihat Mr Weasley keluar untuk bermain bersama cucu-cucunya. Mr Weasley tampaknya tidak banyak berubah, hanya rambutnya yang mulai berubah warna. Lalu Mrs Weasley—
Harry sangat merindukan Mrs Weasley, sosok ibu yang menghiasi hidup Harry sejak tahun pertamanya di Hogwarts. Ia melihat seakan tidak ada yang berubah sejak terakhir ia datang, kecuali fakta bertambahnya anggota keluarga Weasley.
Seseorang menepuk bahu Harry. Gadis berambut merah tua lurus dengan mata gelap itu tersenyum pada Harry, Harry balas tersenyum padanya. "Kau siap?" tanya gadis itu, Harry mengangguk lalu menggeleng lalu mengangguk lagi.
"Aku tidak yakin," jawab Harry jujur, gadis itu menggenggam tangan Harry, berharap itu bisa menenangkan dan menguatkannya. "Kau tidak bisa terus mundur Harry, kau tau itu,"
Harry mengangguk, "Aku tau Iv, aku tau,"
"Jadi kita pergi?" tanyanya lagi, ia terlihat sangat bersemangat, berbeda dengan Harry yang ragu dan agak takut.
"Yah mungkin,"
Gadis itu memutar matanya, "Ayolah!"
Harry mengerang, tapi ia tetap melangkah mendekati The Burrow.
0oooo0ooo0
Fred asyik melempar bola dengan sepupunya, Lorraine, ditemani kakek Weasleynya. Sedangkan Zack, Victoire dan Mervin asyik bermain dengan George dan Charlie, berbagai macam barang lelucon dari toko George ada di sana. Mrs Weasley keluar untuk menawari anak-anak kue kering yang tentu saja disambut riang oleh semua Weasley junior.
Charlie baru sampai di ambang pintu ketika ia berbalik dan melihat dua sosok penyihir mendekati rumahnya. mata Charlie menyipit, berusaha mengenali siapa sosok yang akan mendatangi rumahnya itu. mulutnya menganga ketika menyadari sosok itu adalah Harry, ditemani seorang gadis berambut merah gelap di sisinya. Mereka bergandengan tangan.
George yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Charlie langsung menoleh ke arah pandangan Charlie. George juga terkejut melihat Harry, matanya melebar, ia melongo menatap Harry.
"Potter!"
George dan Charlie menoleh. Setengah berlari Ron keluar dari the burrow, menabrak Charlie hingga hampir jatuh, George berusaha menahan Ron agar tidak bertindak ekstrim. Tapi sia-sia, Ron sangat kuat. Kuat karena murka.
Harry diam di tempat, menatap mata Ron yang melebar dengan sorot penuh kemarahan. Ia tersenyum sedih pada Ron, yang justru semakin kesal dengan melihat senyuman itu.
Ron mengepalkan tangannya, mengangkatnya tinggi dan dengan mantap meninju Harry tepat di wajah. "Brengsek!" umpat Ron, Harry jatuh tersungkur. Gadis di sisinya berteriak kaget. Teriakan itu membuat Mrs Weasley keluar, diikuti Mr Weasley, Melissa, Fleur dan Bill. Mereka sama-sama kaget melihat Ron semurka itu, tambah kaget melihat Harry yang berada di bawah tubuh Ron, sementara Ron memukulinya.
Charlie dan George menarik kedua tangan Ron, berusaha menariknya dari Harry. "Lepaskan aku brengsek! Orang ini pantas mendapatkannya!" teriak Ron histeris ketika Charlie dan George menahannya mendekati Harry lagi. Melissa dan Fleur menarik anak-anak yang sempat keluar kembali ke dalam, agar tidak melihat atau mendengar adegan itu.
"Ron! Tenanglah!" seru Charlie sambil mengencangkan pegangannya pada Ron. "Kau tidak apa-apa Harry?" tanya George, ia mengapit Ron kuat-kuat. Harry mengangguk, ia menatap Ron lurus tanpa bicara apapun. Gadis itu berjongkok, membantu Harry berdiri. Tangannya menyentuh pipi Harry yang lebam, adegan ini menambah amarah pada diri Ron.
"Kau! Kau menyakiti Hermione dan sekarang kau muncul dengan gadis lain! Kau bajingan Potter!" umpat Ron, gadis itu menoleh menatap Ron. Matanya berkilat marah, "Hei! Jaga mulutmu! Kau tidak tau apa yang terjadi!"
"Diam! Aku tidak bicara denganmu!" seru Ron kasar. "Ron!" seru Mrs Weasley, tapi Ron tidak mendengarkannya. Wajah gadis itu memerah, matanya menatap Ron tidak suka. "Hei! Kau—"
Harry menyentuh bahu gadis itu, menahannya untuk berbicara lebih jauh. Gadis itu terdiam, walau matanya masih menatap Ron benci. "Jangan berbicara seperti itu padanya, Ron," kata Harry, ia terdengar putus asa dan sedih. "Aku berhak berbicara seperti itu pada siapapun! Aku bebas berkata apapun padamu atau padanya!" seru Ron lagi.
"Ron! Tenangkan dirimu!" teriak Mr Weasley, matanya menatap Ron dan Harry bergantian. Bill menyentuh bahu Ron, menahannya. Mrs Weasley berdiri agak jauh dari mereka, menatap Harry dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Tiba-tiba Ron bergerak dengan cepat, mendorong ketiga kakaknya sampai terjatuh lalu mengeluarkan tongkatnya dengan sigap. Pengalaman bertarung bersama Harry selama bertahun-tahun benar-benar melatih kecepatan, kekuatan juga kelincahan Ron dalam bertarung.
"Stupefy!" jerit Ron. Refleks Harry juga cepat, ia meraih tongkatnya dan langsung meneriakkan mantra protego.
"Kita tidak harus melakukan ini Ron!" teriak Harry, ia mendorong gadis itu untuk berlindung di belakangnya.
"Stupefy!"
"Protego!"
"Ron!" Harry berteriak putus asa. "Jangan menghindar Potter! Hadapi aku!" teriak Ron sebelum melancarkan mantra lagi, "Crucio!"
"Expeliarmus!"
Mantra Ron lebih cepat dan mengenai Harry. Harry jatuh, ia mengerang dan berteriak kesakitan. "Ron! Sadarlah! Ron!" panggil Mr Weasley, tapi Ron tenggelam dalam kemarahannya.
"Harry!" gadis itu terkejut melihat Harry yang terkena mantra cruciatus. Ia memandang Ron tidak percaya.
"Ron!" Mr Weasley mengguncang tubuh Ron yang malah mendorongnya menjauh. "Minggir! Ini urusanku dengannya! Dia pantas menerimanya," ujar Ron dingin.
"Ron! Apa yang kau lakukan!"
Hermione berlari menghampiri mereka, rambut cokelatnya diikat acak-acakan, terlihat sekali ia melakukannya terburu-buru. Hermione melihat Harry mengejang kesakitan di tanah, ia segera menghampirinya lalu menatap Ron tajam.
"Ron hentikan!" Ron tetap bergeming, tongkatnya masih terarah pada Harry.
"Kau berlebihan Ron!" jerit Hermione, ia menatap Harry yang kesakitan dan Ron yang murka bergantian. "RONALD!"
Ron menurunkan tongkatnya perlahan, matanya masih menatap Harry murka. Harry kembali rileks, nafasnya terengah-engah. Ia tersenyum menatap Hermione, sorot matanya masih penuh kesakitan. "Hermione," panggilnya lembut. Hati Hermione menghangat, sudah lama ia ingin mendengar Harry menyebut namanya. Hermione selalu menyukai cara Harry memanggilnya, Hermione selalu bisa melihat pancaran kasih sayang yang besar setiap Harry menatapnya dan menyebut namanya. Seperti sekarang.
"Sebaiknya kita masuk sekarang," ujar Mr Weasley dengan tenang namun tetap terdengar tegas. Mereka menurut, Ron langsung berbalik dan pergi ke dalam rumah. Harry berusaha untuk berdiri, dibantu Hermione dan gadis itu. Bill dan Charlie mengambil alih Harry dan menyangga tubuh Harry seraya masuk ke dalam.
sengaja di update lebih cepat, biar cepet beres juga sih. hehehehe.
read the next chapter!
