Haiii *lambai lambai unyu* Ai kambek~ *terus*. Makasih ya sudah mereview chapter sebelumnya. Tembus 100 reviewnya aaaa tak terkatakan terimakasihku untuk kalian/? Langsung masuk story ajadeh, bacotnya dibawah saja/? Happy Reading^^

LONG KISS GOODBYE

CHAPTER 7

DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATING : T

WARNING : ALUR YELLOW FLASH

Story begin….

Hinata membatu. Sesaat, rasanya ia tak dapat menggerakkan badannya. Jawaban Naruto tadi, benar benar menghancurkan dirinya.

"Ta-tapi kenapa Naruto-kun?" entah keberanian darimana yang mendorong gadis itu untuk bertanya. Naruto menghela nafas. Untunglah, gadis itu ada di belakangnya. Ia tak ingin gadis itu melihat wajahnya yang menahan tangis.

Ingin berkata laki-laki tak boleh menangis?

Coba rasakan, bagaimana rasanya membunuh perasaan sendiri dan orang yang kau cintai, karena tahu hidupmu tak lama lagi

"Apa aku pe-pernah berbuat sesuatu yang Naruto-kun benci?" Hinata meneteskan airmatanya. Gadis ini patah hati.

Naruto tahu, gadis ini pasti menangis. Ia tak menoleh, agar ia tak goyah dengan apa yang baru saja dinyatakannya.

"Naruto…." suara gadis menyapa indra pendengaran Naruto dan Hinata. Hinata segera menyeka airmatanya.

"Ah, Sakura-chan~" Naruto nyengir melihat Sakura bersama Sasuke menghampirinya. Hinata juga melemparkan senyumnya pada Sakura.

Sakura menahan tangisnya melihat Naruto duduk di kursi roda.

"BAKA! APA YANG MEMBUATMU MENYEMBUNYIKAN INI DARIKU HAH?" teriak Sakura sambil menangis. Naruto masih nyengir. Ia tahu, Sakura mengkhawatirkannya. Dan ia merasa sedikit bersalah, menyembunyikannya dari sahabatnya ini.

"Sudahhlah, Sakura. Ini rumah sakit, jangan teriak," nasihat Sasuke. Sakura menggenggam tangan Naruto.

"Sembuh ya? Sembuh. Jika kau sembuh, aku takkan memukulmu lagi," Sakura menitikkan airmatanya deras. Ia betul betul menyayangi sahabatnya ini.

Naruto tersenyum. Ia menepuk nepuk kepala Sakura.

"Doakan saja ya, Sakura-chan,"

Sakura mengangguk.

"Kembalilah ke kamar bersama Sasuke-kun. Angin malam tak baik. Aku dan Hinata ingin mencari minum sebentar," ujar Sakura sambil menyeka matanya. Naruto mengangguk. Kemudian Sasuke mengambil alih kursi roda Naruto, dan pergi ke kamar rawat Naruto.

Hening menyelimuti Naruto dan Sasuke. Naruto memang bodoh, tapi ia tak sangat bodoh sampai tak menyadari, bahwa Sasuke mendengar percakapannya dengan Hinata tadi. Singkatnya, Naruto tahu Sasuke dan Sakura menguping.

"Well, sampai mana kau mau meneruskan kebodohanmu itu, bodoh?" tanya Sasuke sarkastik. Naruto tersenyum miris.

"Kau tak paham situasinya," jawab Naruto.

"Memang. Aku terlalu jenius untuk memahami jalan pikiranmu yang bodoh itu,"

Naruto terdiam menerima makian Sasuke.

"Gadis mana yang tidak hancur mendengar penerimaan dan penolakan dalam waktu sama?" Sasuke kembali berbicara sembari mendorong kursi roda Naruto.

"Kau tahu, jika aku jadi gadis itu, sudah kusumpahi kau mati cepat-cepat. Dasar bodoh,"

Naruto tersenyum miris. Makin pedas saja mulut Uchiha ini.

Sasuke mendorong pintu kamar rawat Naruto, dan mendorong kursi roda Naruto ke dekat ranjang.

"Jangan bohongi perasaanmu, Naruto," Sasuke membantu Naruto naik ke ranjang.

"Jangan tambah penderitaanmu. Aku yakin, gadis itu tulus padamu. Justru ia takkan bahagia, jika kau menolaknya seperti tadi,"

Naruto terdiam. Ia tahu, jika tadi benar benar melukai Hinata. Namun, ini demi gadis itu sendiri.

Sasuke duduk di sebuah sofa. Ia ikut diam. Sedingin-dinginnya dirinya pada perempuan, tak sampai hati ia berkata seperti itu pada seorang gadis. Apalagi gadis itu ia cintai.

Setengah jam berlalu. Masih hening antara mereka. Hinata dan Sakura kembali membawa kaleng minuman. Tampak mata Hinata sedikit lembab.

"Sakura, besok kita kembali lagi. Ayo pulang," Sasuke melangkah keluar ruangan. Sasuke menatap Sakura sebentar, semacam memberi kode. Sakura menangguk.

"Besok aku kembali ya," Sakura menepuk pundak Naruto.

"Baiklah. Terimakasih Sakura-chan," Naruto tersenyum. Sakura dan Sasuke meninggalkan ruangan itu.

Hinata menjadi canggung berduaan dengan Naruto. Gadis itu duduk di sofa yang tadi diduduki Sasuke.

"Hinata-chan?" panggil Naruto.

Hinata terdiam. Ia ingin menjawab, namun mulutnya tak mau terbuka.

"Apa kau masih mau mendengar penjelasanku?" tanya Naruto sambil menatap Hinata yang menunduk. Hinata mengangguk.

Naruto menghela nafas.

"Maaf. Aku rasa, aku telah berkata bodoh tadi,"

"Tapi sungguh, kau akan menyesal jika jatuh cinta padaku," Naruto tertunduk. Hinata mengangkat wajahnya.

"Naruto-kun tahu darimana, kalau aku akan menyesal?" tanya Hinata dengan suara sedikit serak.

"Kau teman yang pertama tahu penyakitku, yang sudah tak tertolong ini, kan? Aku akan mati sebentar lagi. Meninggalkan dunia ini, dan tentunya juga kau, Hinata. Aku tak punya apapun, untuk dicintai gadis sepertimu. Kau pantas mendapatkan yang terbaik," jawab Naruto. Tak ia duga, akan sesakit ini rasanya membohongi perasaan sendiri.

Hinata bangkit, berjalan ke arah Naruto. Naruto mengangkat wajahnya, senyum pahit Hinata terlihat olehnya.

"T-tak apa, Naruto-kun. Aku mengerti," Hinata masih mencoba tersenyum, untuk mencegah airmatanya jatuh.

"Tapi, ma-maafkan aku Naruto-kun. Aku ta-tak bisa menuruti kemauanmu. Aku tetap a-akan j-ja-jatuh cinta padamu, berapapun lamanya lagi kau didunia ini," Hinata tak sanggup, airmatanya jatuh. Naruto menunduk.

"Aku sudah tak bisa berjalan, Hinata"

"Lalu?"

"Mungkin sebentar lagi tanganku tak berfungsi lagi"

Hinata mengangguk. "Aku tak perduli,"

"Mungkin aku juga tak dapat berbicara lagi" Naruto mengatakan semua kemungkinan pahit yang akan menimpanya.

"Sampai Naruto-kun terbujur kaku, dan tak dapat membuka mata lagi, perasaanku takkan berubah," jawab Hinata mantap walau dengan airmata membanjiri pipinya.

Naruto memeluk gadis itu. Gadis yang tulus, tanpa pamrih mencintainya. Ia mulai merutuki dirinya, bodohnya ia hampir melepaskan gadis ini.

"Na-naruto-kun, jangan larang aku lagi," Hinata menangis, namun tetap menahan sesenggukannya.

Naruto menangguk.

"Terimakasih, Hinata"

Hinata tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, ia membalas pelukan pemuda itu.

"Mulai malam ini, kau adalah kekasihku, ya?"

Oh tidak, jangan pingsan Hinata.

-Kamar Rawat Naruto, 00.30-

Hinata masih terjaga. Ia mengelus elus rambut kuning pemuda yang sedang tertidur itu. Sepertinya, obat yang diberikan begitu berat, hingga kelelawar seperti Naruto mampu tertidur. Hinata masih tak bisa mempercayai hal yang terjadi hari ini. Menyatakan perasaan, sempat ditolak, dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Kekasih..

Piass! Wajah Hinata memerah. Pemuda ini kekasihnya.

Kushina dan Minato harus pergi bekerja shift malam, dan baru akan kembali besok pagi. Jadilah, gadis itu yang menjaga Naruto malam ini.

Hinata menguap. Gadis itu meletakkan kepalanya di samping tangan Naruto, dan ikut tertidur.

-Kamar Rawat Naruto, 07.00-

"Naruto~ Kaasan-" ucapan Kushina terhenti saat mendapati anaknya yang tidur sambil menggenggam tangan gadis berambut biru itu. Kushina tersenyum. Ia menutup pintu perlahan. Ia meletakkan bungkusan sarapan di meja.

Naruto tampak sangat bahagia.

Hinata mulai bergerak. Tanda bahwa ia telah bangun. Ia mengucek matanya dengan tangan kiri, membiarkan tangan kanannya digenggam Naruto.

"Ohayou, Hinata-chan," sapa Kushina. Hinata terlonjak kaget.

"A-ah, obaasan," Hinata menarik tangan kanannya. Yang membuat Naruto menggeliat tak nyaman.

"Mmm," Naruto menyambar tangan Hinata, dan menggenggamnya lagi. Pemuda itu masih tertidur. Hinata hanya mampu menunduk. Wajahnya memerah malu.

"Sudah Hinata, tidak apa kok," Kushina tertawa melihat Hinata yang tampak malu.

"Aku sudah tak pernah melihatnya sepulas ini. Jangan dibangunkan," Kushina menarik kursi ke depan Hinata. Hinata mengangguk.

"Ada sarapan. Apa kau mau makan?" Hinata menggeleng.

"A-aku tunggu Naruto-kun bangun saja, baasan," jawab Hinata.

"Terimakasih ya, kau mau menemani Naruto disini. Tadi aku sudah ke sekolah, dan aku sudah membuat surat pengunduran diri Naruto dari sekolah. Jadi, mulai besok, ia tidak bersekolah lagi," Kushina tersenyum miris. Hinata terdiam. Ia tahu, sudah setengah tahun lewat, Naruto bertahan dari penyakitnya. Dan itu sudah sangat lama. Akhirnya tiba, saat Naruto harus mundur perlahan.

"Aku juga yakin Naruto tak mau ke sekolah dengan kursi roda. Haha," Kushina kembali berujar.

Naruto perlahan terbangun. Ia melihat dua perempuan yang dicintainya tengah berbincang.

"Berisiiiik~" ujar Naruto manja. Kushina tersenyum.

"Gomen gomen. Kau tidur seperti kerbau sih. Enak ya, tidur sambil menggenggam tangan gadis?" goda Kushina. Naruto memerah. Kemudian perlahan melepas genggamannya.

"Ka-kaasan!"

Dan merekapun tertawa melihat ekspresi Naruto.

Ah, bahagianya.

-0000-

Hari-hari berlalu. Naruto sudah tidak bersekolah. Ia menghabiskan waktunya dirumah sakit. Setiap pulang sekolah, Hinata datang dan menemaninya sampai malam. Jika esoknya hari sabtu, Hinata menginap.

Makin lama dua sejoli ini bersama, makin tidak rela melepaskan. Makin kuat dan berakar rasa sayang dalam hati mereka masing-masing.

Ini minggu ketiga, Naruto sudah tak bersekolah. Teman-temannya bertanya tanya, kemana pemuda itu pergi. Namun, tak satupun dari Hinata, Sasuke atau Sakura dan guru guru memberitahu.

Hinata membereskan bukunya, bersiap pergi ke rumah sakit menemui kekasihnya.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Menandakan panggilan masuk. Dari Naruto. Hinata mengangkatnya.

"Moshi-moshi, Naruto-kun. Ada apa?" Hinata menjawab.

"HINATA-CHAN. KAU TELAT 30 MENIT. KAU KEMANAAA~" Naruto berteriak dari seberang. Membuat Hinata menjauhkan ponselnya dari telinga.

"A-ano. Maaf, Naruto-kun. Ta-tadi ada tambahan sebentar," jawab Hinata menanggapi kekasihnya itu.

"Hmph. Aku takut kau kenapa-kenapa. Kaasan Tousan kerja. Cepat kemari~~" Naruto berujar manja. Hinata tersenyum kecil.

"Baik Naruto-kun. Jangan khawatir, ya? Aku sebentar lagi sampai kok," Hinata terkekeh. Pemuda ini manja sekali padanya.

"Huuh. Bagaimana aku ti-" Naruto tak melanjutkan perkataannya.

"Naruto-kun?" Hinata mengerutkan dahinya.

"UHUKH- UHUKH-" terdengar Naruto terbatuk.

"Naruto-kun? Naruto-kun?!" Hinata berteriak panik. Suara batuk Naruto makin keras. Orangtua Naruto bekerja, jadi Naruto sendiri?

Hinata berlari sekuat tenaga keluar dari sekolah. Dengan panik, ia menutup telfon Naruto, dan menelfon lama, Kushina menjawab.

"Moshi-moshi, ada ap-"

"Baasan- t-tolong telfon si-siapapun yang ada di-dirumah sakit. To-tolong Naruto-kun. A-aku masih di-dijalan" Hinata menyela perkataan Kushina. Gadis itu terus berlari menuju rumah sakit yang tidak begitu jauh dari sekolah.

"Astaga Kami-sama," Kushina terdengar panik dan menutup telfon. Hinata sampai di pintu rumah sakit, dan berlari sekuat tenaga ke kamar Naruto. Kakinya gemetar, gadis itu ingin jatuh. Namun ia tetap berlari. Airmata mulai jatuh dari pipinya.

Hinata mendobrak kamar Naruto, ia mendapati pemuda itu meremas selimut yang telah banjir darah. Wajah Naruto begitu menyedihkan. Airmata keluar dari matanya. Tangannya meremas kuat dadanya sendiri. Mulut dan hidungnya mengalirkan darah segar.

"NARUTO-KUN!" Hinata melempar tasnya dan mendekati Naruto. Ia memeluk pemuda itu sambil menangis.

"Sebentar, sabar Na-naruto-kun. Dokter akan ke-kesini,"

Naruto menangis. Dadanya sakit. Sangat amat sakit. Airmata mengalir sendiri dari matanya. Tangannya mencengkram Hinata yang memeluknya. Berusaha meredakan sakit itu.

"Uhukh!" Naruto memuntahkan darah lagi. Hinata makin mengeratkan pelukan. Ia menangis pedih.

"Naruto-kun, be-bertahan. Aku mohon hiks-," Hinata mengelus punggung -tiba, pintu kamar Naruto terbuka kasar.

"Yaampun. Cepat siapkan ruang UGD," Kabuto masuk dan langsung memerintahkan seorang perawat. Kabuto dan beberapa perawat lain mendekati Naruto dan Hinata.

"Nona, letakkan ia pelan pelan, dan mundurlah," perintah Kabuto. Hinata menurut. Sambil menangis, ia mundur dan melihat Kabuto yang langsung bertindak.

Hinata memejamkan matanya sambil menangis keras saat melihat banyak sekali jarum suntik menusuki lengan kekasihnya. Naruto menjerit, merasakan sakit yang berlipat-lipat. Hinata terus menangis. Ia tak tega!

"AAARRGH! ARRRGHH!" Naruto terus menjerit. Hinata makin memejamkan matanya. Airmata deras menuruni pipinya

"Dokter, UGD siap," seorang perawat berujar.

"Bantu aku," Kabuto mendorong ranjang, dibantu para perawat lain, menuju UGD. Hinata ikut. Ia berlari disebelah ranjang Naruto. Hinata terus menangis. Rasanya airmatanya tak dapat berhenti.

Naruto menatap Hinata yang ikut berlari membawa ranjangnya ke UGD. Naruto menangis lagi. Kali ini, bukan hanya karena sakit di dadanya.

Namun karena ia membuat gadisnya ini menangisinya lagi.

Naruto pun kehilangan kesadaran.

TBC

Mampus mata Ai pedes banget uwaa. Oke, Ai sudah warning alurnya bakal yellow flash, tapi Ai bikin biar feelnya tetep dapet walau dikit/? SAATNYA BALAS RIPYUH

Satryobudi26 : Saya sih maunya ga lebih dari 10 chapter/? Liat nanti saja yaa hehe

Fury F : waa jangan nangis/? Emm happy atau sad ya? hehee enjoy

Anna Fitry : Iyaa makasihh hehe

Hikarisyifaa : Yes, untung tangan kamu gatel/? Umm soal chapt, doakan saja ga lebih dari 10. Hehe

Tetsuya99 : iya aku ga telantarin kok/? Sad atau happy ya? hmm/?

Kimimaruchan : Sudah kilat nih/? Alur juga kilat/? Hehe enjoy

HyuNami NaruNata :Iyaa aku akan berusaha tamatin kokk hehe. Perlu tisu lagi? Aku jual nih/? /plak

98 :sudah lanjuuutt

Mifta cinya :hehe bijak sekali kamuu/? Sudah lanjuut

Dsakura : aku tak suka akhir bahagia.. *krik* *ditampar*

Guest : Sudah lanjuuut

Indigorasengan23 : Mudah mudahan gak lebih dari 10 chapter yaa hihi

Virgo24 : datangkan keajaibannya piyeee haha. Enjoy yaa

Yudi : ada enggak ya. hmm…./? hehe diikutin saja ya Yudi-san~

Mao-chan : Sudah lanjut maooo

Chacha : Ini udah panjang lho/?

HinataLavenderCitrus14 : sudah nihh hehe

Shiko-chan : Sudahh arigatouu!