Datang Lagi Saja Besok
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warn : .TYPO
.
.
.
Naruto mendecah kesal, ia menopang dagunya sembari melempar pandangan ke luar jendela. Ia memilih meninggalkan Sakura hanya untuk makan malam rutin Bersama keluarga. Lihat saja, kini ia harus menunggu Ayahnya yang datang terlambat, sementara ibu dan sepupunya terus bicara tanpa henti, menggosipkan hal ini dan itu, membicarakn tas merk ini atau itu.
Konoha yang diguyur hujan terlihat jauh lebih cantik. Cahaya lampu jalan yang ditabrak hujan memerlihatkan kelap-kelip cahaya keemasan. Beberapa orang berhenti sejenak dan memilih berteduh di depan toko-toko jalan, bahkan di depan restoran tempat pemuda itu berada.
Lagi-lagi ada sedikit perasaan tidak enak ketika melihat derasnya hujan di luar sana. Bayang-bayang gadis berambut merah muda itu memenuhi kepala kuningnya.
Sedang apa dia? Apakah ia terjebak hujan atau malah sudah tiba di rumahnya?
Naruto semakin khawatir saja mengingat gadis itu berjalan sambil terus menunduk tadi, ia menyesal tak sampai mengantarnya pulang.
Hingga sebuah suara yang ditunggu-tunggu berhasil membuyarkan lamunannya.
"Maafkan Ayah datang terlambat!"
Pria yang memiliki rambut sewarna dengannya tertawa hati-hati, ia menyibakkan mantelnya sebelum duduk di hadapan anak laki-lakinya.
"Huh, kau ini masih saja terlambat, kami hampir mati kelaparan menunggumu."
Narutonya hanya bisa menghela napas mendengar ocehan ibunya, padahal wanita itu sudah menghabiskan semangkuk ramen sebelum Ayahnya tiba.
"Paman benar-benar payah, aku tidak menyangka kau pernah menjabat sebagai kepala sekolah kami."
"Ahaha, maafkan aku, Karin. Sudahlah, sekarang lebih baik kita pesan makanan saja, ok?"
Namikaze Minato memang pandai mengelak, pantas saja ia bisa menikahi putri kesayangan Klan Uzumaki.
Sementara Naruto tidak seantusias ibu dan sepupunya, ia masih setia memandangi hujan di luar jendela.
Melihat anaknya yang nampak galau, bahkan ketika makanan yang dipesan telah tersaji di hadapannya, lantas membuat sang Ayah senyum-senyum sendiri.
"Apa yang mengganggu Anak Ayah seperti ini, hm?"
Naruto mengerucutkan bibirnya, ia sangat kesal setiap kali mendengar ayahnya memanggilnya dengan sebutan 'Anak Ayah', Karin selalu tertawa begitu mendengarnya.
Tapi kesampingan saja rasa kesalnya, toh rasa laparnya jauh lebih besar.
Ia tolehkan kepala kuningnya dan mulai beralih pada ramen yang mengepulkan asap hangat, pemuda itu sudah mengangkat sumpitnya, sebelum ia kembali menatap ayahnya kesal sembari bergumam, "Kenapa kita harus melakukan hal ini setiap minggu, sih."
Ada kekehan kecil melihat putra semata wayangnya menatapnya seperti itu, "Tentu saja agar keluarga kita tetap harmonis dan penuh cinta. Lagi pula Karin juga akan senang jika bisa makan Bersama keluarganya seperti ini mengingat ia tinggal jauh dari ayah ibunya, bukan begitu?"
"Tentu saja, Ayahku menitipkan salamnya untukmu, Paman. Tapi sepertinya anakmu ini tidak terima, sedari tadi ia pandagi hujan di luar sana, seolah-olah ada gadis yang sedang ia pikirkan."
Mendengar kalimat sepupunya yang asal bicara itu sontak membuat wajahnya memerah, "Itu tidak benar! Aku tidak memikirkan siapapun!"
"Ara, ara. Naruto sudah besar rupanya, hihi."
"Hahaha, lain kali kau boleh mengajaknya kemari, jadi tak perlu kau pikirkan sampai segitunya."
Ayah dan Ibunya malah tertawa melihat wajah merah anak laki-lakinya, sementara gadis berkacamata di hadapannya tersenyum meledek.
"Bukan seperti itu, Ayah …" Mulut Karin memang menyebalkan, begitu juga Ayah dan Ibunya yang gampang menelan ocehannya, kalau sudah begini Naruto hanya bisa pasrah. "Aku hanya lelah dengan kegiatan OSIS."
"OSIS?"
Hanya perasaannya saja atau air muka ayahnya sedikit berubah? Tawanya tiba-tiba terhenti dan keningnya sedikit mengerut.
"Iya, kami diminta menagih program kerja ke setiap klub untuk mendukung penyelenggaraan Festival Budaya. Apa saat kau menjabat sebagai kepala sekolah, hal ini juga dilakukan?"
Sementara kedua perempuan di meja itu memilih menyantap ramen mereka, Ayahnya malah terlihat semakin kikuk. Pria itu bahkan sempat berdeham kecil.
"Aku rasa tidak, tapi jika Kakashi memerlukan bantuanmu, maka bantulah dia."
Naruto tertegun sesaat melihat kilatan cahaya di manik ayahnya, sebelum akhirnya Pria itu beralih menyantap ramen yang ia pesan.
"Oh, ya, Paman. Apa kau tahu sesuatu soal hantu-maksudku, kebakaran yang melanda sekolah kami?"
Lagi-lagi, dari ekor matanya, Naruto bisa melihat gerak gerik ayahnya yang kembali kaku begitu mendengar pertanyaan dari sepupunya.
"Apa benar kebakaran itu menewaskan seorang siswa? Apa ia menjadi hantu?"
Kepala keluarga Uzumaki itu belum membalas satu pertanyaan pun, sementara sepupunya yang menyebalkan itu malah kembali menimpali.
Tapi biarlah, ia juga ingin tahu cerita yang ia dengar di Perpustakaan tadi. "Ah, temanku juga membicarakannya di sekolah, Ayah."
Untuk sesaat, Minato kembali tertegun. Ia terdiam sembari menatap mangkuk ramen yang sudah habis setengah. Kemudian, tanpa disadari oleh si Penanya maupun isteri yang duduk di sampingnya, Pria itu melukiskan sebaris senyum.
"Anak laki-laki yang begitu menyukai ramen, setelah mati tidak akan jadi hantu."
"Ahahah, maksudmu Naruto? Kalau dia 'sih pasti akan datang menghantuiku! Hahaha…."
Entah mengapa, baik Kusina maupun Karin, malah tertawa mendengar jawaban Ayahnya. Pertanyaan yang gadis itu lontarkan melayang begitu saja.
Tidak puas melihat arah pembicaraan mereka, Naruto kembali bersuara.
"Apa kau tahu sesuatu, tentang kebakaran itu?"
Begitu mendengar pertanyaan anaknya, Minato malah tertawa lebar, berbanding terbalik dengan raut bingung anak laki-lakinya.
"Aku sudah mendengar pertanyaan itu dua kali hari ini."
"Apa maksudmu?"
Naruto semakin penasaran saja dengan jawaban ayahnya, tapi ibunya lebih dulu menegur pemuda itu untuk tidak terlalu banyak bicara ketika makan. Benar juga, ramen yang ia pesan sudah hampir mendingin.
Biarlah, lain kali saja ia tanyakan hal ini pada ayahnya. Kesal juga mendengar Karin terus menyebutnya penakut.
Sementara, jauh di dalam hati Naruto, ia tahu betul pasti ayahnya menyembunyikan sesuatu darinya. Sebab Namikaze Minato itu sangat pandai mengelak.
.
.
.
"Anggap saja rumah sendiri."
'Mana bisa, bodoh!'
Sakura merutuki nasibnya yang bisa tersasar sampai ke kediaman Uchiha. Sungguh rumah bergaya modern yang megah.
Ia duduk di salah satu sofa yang menghadap ke perapian. Lumayan menghatkan tubuh di cuaca seperti ini.
Sementara Sasuke duduk di seberangnya, ia meminta seorang pelayan membawakan minuman hangat untuk mereka berdua.
Ada bingkai foto yang memamerkan keluarga besar Uchiha. Sakura bisa menebak pria tua yang duduk di satu-satunya kursi di sana adalah kakeknya, sekaligus kepala keluarga Uchiha. Sedang kedua orang tuanya berdiri di sampingnya.
Tapi sesaat kemudian gadis itu mengerutkan alisnya dalam-dalam. Seseorang yang berdiri tepat di samping Sasuke, sepertinya ia pernah bertemu dengannya.
Ah, pemuda yang waktu itu melempar bola di belakang sekolah!
"Ini program kerja klub olahraga."
Suara si Bungsu Uchiha mengudara, membuyarkan lamunannya.
"O-oke, terima kasih."
Entah kenapa Sakura merasa gugup berada di rumah orang yang sudah menolak perasaannya.
Ia meraih lembaran proker itu dan membaca tiap lembarnya. Gadis itu agak risih dengan suasana hening di antara mereka, hanya suara gemerisik hujan yang mengisi ruangan itu. Ia tidak bisa menebak seperti apa raut wajah pemuda di depannya itu. Lagi pula mau bagaimana lagi, Sakura bukan perempuan yang pandai mencari topik pembicaraan.
Dalam keadaan yang seperti ini, biasanya Naruto yang mencairkan suasana dan membuatnya kembali ramai.
Ah, kenapa juga ia harus memikirkan orang itu di saat seperti ini?
Gadis itu melirik arloji di tangannya, kemudian bergantian menatap curah hujan yang tidak kunjung mereda.
Hari semakin larut dan ia terjebak di rumah mewah keluarga Uchiha, apa kata Ayahnya nanti?
Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa minuman hangat yang dipesan sang Majikan.
"Minumlah, lumayan untuk menghangatkan tubuhmu."
Sasuke lebih dulu mengenggak minumannya, sedang Sakura mencoba meniup kepulan asap hangat dari minumannya sebelum ikut menyeruputnya.
Gadis itu kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencoba merilekskan dirinya dari suasana canggung yang tercipta.
Selain bingkai besar di dinding, ada beberapa figura kecil lainnya yang terpajang di atas perapian.
Kebanyakan figura menampilkan foto Sasuke dan pemuda berkuncir yang waktu itu bertemu dengannya. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
Tapi ada beberapa foto yang tidak ia kenali. Seperti foto seorang pemuda berambut hitam dengan Gogle yang disangkut di atas kepalanya. Dan dari itu semua, yang paling mendominasi adalah figura seorang gadis berambut panjang berwarna hitam legam. Sakura tidak bisa mengenali kedua orang itu.
Hingga mata gadis itu menangkap sebuah figura kecil yang terletak pinggir perapian. Foto yang ia yakini sebagai Sasuke saat kecil.
Entah kenapa ia merasa tak asing. Bukan, bukan hanya itu. Ia benar-benar mengenal sosok itu.
Astaga.
"Sasuke-kun … apa dulu kita pernah bertemu sebelumnya?"
Gadis itu bertanya, ada ragu juga kalut di saat bersamaan.
Sasuke diam sesaat, dengan wajah datarnya ia kembali menjawab, "Pernah."
"Apa-"
"Wah, ada tamu rupanya."
Seorang pria paruh baya datang, membuyarkan pembicaraan mereka disana. Ia tersenyum ramah, tapi entah kenapa tampak tidak biasa di mata Sakura.
"Kakek? Kenapa kau ada di sini? Kupikir kau akan menemui calon istri kakakku."
Pria itu ikut mengambil tempat dan duduk di sebelah cucunya. Sakura semakin gugup saja ketika bertemu dengan kepala keluarga Uchiha.
"Tadinya begitu. Tapi tahu-tahu saja dibatalkan. Omong-omong, siapa gadis ini?"
Sakura hampir terlonjak kaget ketika mata kelam sang Kakek beralih padanya. "A-aku Sakura Haruno, salam kenal, Tuan Madara."
"Haruno? Pemilik rumah sakit Konoha? Wah, wah. Kau sudah mengenalku rupanya. Apa kau kekasih Sasuke?"
Ada-ada saja kakek satu ini, apa ia tidak tahu kalau Sakura sudah pernah ditolak oleh cucu kesayangannya?
Gadis itu tertawa kikuk dan bermaksud meluruskan pertanyaan kakek tua itu, sebelum Sasuke lebih dulu menjawabnya.
"Tentu saja, apa kau tidak lihat kami sedang bermesraan?"
Pantat Ayam sialan, Sakura membatin dalam hati.
"Oh? Benarkah? Bisa saja kau Sasuke memikat hati anak pemilik rumah sakit Konoha, hahaha …"
Gadis itu meringis mendengar suara tawa Madara Uchiha, belum lagi Sasuke yang malah santai menyesap minuman hangatnya tanpa mempedulikan raut kesal Sakura.
Gadis itu menghela napas pasrah. Ia kembali melihat ke luar jendela, hujan mulai mereda.
Diliriknya lagi arloji di pergelangan tangannya, masih ada beberapa waktu lagi hingga bus terakhir tiba. Atau mungkin ia bisa memasan taksi saja.
"Tuan Madara, Sasuke-kun, hujan sudah mereda, sebaiknya aku pulang sebelum larut. Terima kasih sudah menjamuku. Aku permisi."
Sakura hendak bangkit dari kursinya dan membungkuk hormat, tapi kemudian kakek tua itu malah menyuruh Sasuke mengantarnya pulang, mengingat sekarang sudah jam 9 malam.
"Nah, sebagai pria jantan dari Uchiha, antarlah gadismu ini pulang."
Sebenrnya Sakura hendak menolak, ia takur merepotkan Sasuke. Tapi pemuda itu malah bangkit dan mengambil jaket dank unci motornya.
"Tentu saja."
"Hahaha, itu baru cucuku. Datang lagi besok, ya, Haruno-san."
Lagi, pria itu tersenyum ramah, tapi tampak janggal. Ada sesuatu yang menahan dirinya untuk mengangguk mengiyakan sebagai bentuk hormat, tapi ia abaikan sesaat.
Hingga akhirnya ia berbalik dan mengekori Sasuke, meninggalkan kepala keluarga Uchiha dengan segala kemisteriusannya.
.
.
.
"Katakan padaku, Ayah."
"Sudah kukatakan, aku hanya sedang memeriksa berkas lama."
Shikamaru memutar bola matanya malas. Hujan deras seperti ini memang enak jika ditemani dengan secangkir teh hangat dan papan catur sougi lengkap lawan yang seimbang.
Hanya saja saat ini bukan waktu yang pas untuk bermain catur Jepang Bersama sang Ayah. Ada hal yang jauh lebih penting.
"Kau … membuka kembali kasus kebakaran itu?"
Shikaku Nara memilih mengabaikan anak laki-lakinya yang berdiri di depan pintu kamar. Di saat seperti ini lah ia membutuhkan bantuan Yoshino untuk menghentikan anaknya atau sekedar memerahinya. Sayang dirinya sedang tak ada di rumah.
Pria yang masih lengkap dengan seragam kepolisiannya itu melempar tasnya asal, sementara tubuhnya ia rebahkan di sofa empuk kesayangannya.
"Apapun itu, berjanjilah padaku untuk tidak mendekati keluarga Sabaku."
Mendengar kalimat ayahnya terkesan mengelak malah membuat emosi Shikamaru memuncak. Dengan langkah cepat pemuda itu memasuki kamar dan berdiri tepat di hadapan ayahnya.
Segenggam kertas ia lemparkan di depan wajah sang Ayah. Manik pria itu membulat sesaat ketika melihat berkas kertas yang tercecer di lantai.
"Aku tak akan membiarkan teman-temanku dalam bahaya, terlebih lagi tak akan kubirakan hubunganku hancur karna hal yang tak kuketahui."
Tapi lagi-lagi Shikaku memilih diam, walau tahu anaknya melontarkan pandangan menusuk untuknya. Bahkan tak ia tolehkan kepalanya ketika pemuda itu keluar ruangan.
Matanya menatap lembaran kertas yang berserakan di lantai. Pria itu menghela napas panjang sebelum akhirnya ia pungut kembali kertas-kertas yang tergeletak.
Di bagian depan kumpulan kertas tersebut, ada judul yang tertulis besar-besar.
'SAKSI KASUS KEBAKARAN SMA KONOHA ; KAKASHI HATAKE, NAMIKAZE, SABAKU, UCHIHA, HARUNO.'
Pria itu merapihkan kembali berkas-berkas yang telah terkumpul, beberapa lembar kertas tersebut memuat foto dan biodata tiap saksi.
Hingga akhirnya ia sandarkan kembali punggungnya dan tersenyum pada daun pintu tempat anaknya beridir tadi, seraya berujar, "Lakukan hal yang seharusnya kau lakukan, Shikamaru."
.
.
.
TBC
