Let's Play Truth or Dare

.

.

.

.

.

A Hetalia FanFiction

.

.

.

.

Warning:

Gay shipping(I mean y not), keampasan, typo dimana-mana, kemungkinan OOC akut, penistaan karakter

.

.

.

Rin:

Shyt. Gua lupa dah berapa ronde ini.

Someone tolong PM ane dan kasitahu sudah berapa ronde, karena ane niatnya cuma 15 ronde aja:(((

.

.

.

"Rossiya, Truth or Dare~?"

Russia hanya tersenyum mendengar kalimat laknat itu. Ia menghembuskan nafas singkat.

"Dare."

"NYAHO! AKHIRNYA ADA YANG PILIH DARE!" Rin langsung lompat kegirangan, sebelum ia mengambil secarik kertas dare. Ia langsung tersenyum kucing.

"Niyaniya~ jadi dare-nya adalah ini, Rossiya." Rin menunjukkan isi kertas dare-nya yang bertuliskan 'Pocky Kiss with ID'.

"Ga susah amat kan?"

Russia hanya bisa tersenyum bingung. Rian yang ada disampingnya juga kelihatan bingung, namun ekspresinya tetap terlihat datar.

"…Pocky… Kiss…?"

"Yep! Pocky kiss! Hal yang mudah~" balas Rin dengan santai, sebelum ia menyeringai kearah kedua orang itu

"Hal yang perlu kau lakukan hanya makan pocky dengan Rian…" Gadis itu terhenti.

"…Lalu menciumnya tepat di bibir, Russia~"

Indonesia langsung bergidik dan wajahnya langsung memerah. Russia mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum ia melirik Indonesia yang ada disampingnya itu.

"…Mau tak mau harus dilakukan, da? Pocky-nya mana?"

Kirana yang mendengar itu langsung kaget mendengarnya. Jiwa fujoshi-nya kambuh, dan wajahnya juga sedikit memerah. Ia mengeluarkan sekotak pocky.

"Ini! Aku baru membelinya tadi, jadi tolong lakukan!" Ucap Kirana dengan mata yang berbinar-binar. Netherland langsung menepuk jidatnya sendiri.

"Nah, toh. Lakuin ya~ dan kak Rian, jangan malu-malu kucing~"

Indonesia tersentak, sebelum ia mendengus pelan dan membuang mukanya.

"Hmph— aku tidak akan malu."

America menatap Indonesia dengan wajah tak percaya. Seriusan Indonesia yang selalu dipikirkannya itu sebagai orang yang tegas bin nyeremin itu baru saja membuang mukanya kek tsundere?

"Tsundere desu ne." Ucap Japan dengan senyuman polos kearah Indonesia. Yang dimaksud pun kembali tersentak.

"Apa maksudmu?! Aku bukan seorang tsundere atau apalah itu!"

Yep, dia tsundere.

Baru saja Indonesia ingin protes soal ucapan Japan tadi, Russia justru memasukkan sebatang pocky ke mulutnya pemuda yang lebih kecil darinya itu sambil tersenyum.

"Gigit sebentar, da?" Ucap sang pria russia itu, dan ia menggigit ujung pocky yang berlawanan dari Indonesia. Rin tersenyum lebar, segera menyalakan kameranya sedangkan matanya Kirana sudah berbinar-binar.

.

.

.

.

.

15 cm lagi…

.

.

.

.

.

.

.

10 cm lagi…

.

.

.

.

.

.

.

.

5 cm lagi…

.

.

.

.

.

"Lupakan saja."

Russia justru mematahkan pocky tersebut dan menelan makanannya itu. Rin langsung memasang ekspresi kecewa, dan Kirana langsung memasang ekspresi murung.

"Toh, aku bisa diabetes jika ikut memakan pocky yang ada didalam mulutnya Indonesiya."

Kedua gadis itu terlihat bingung. Indonesia juga memasang ekspresi bingung. Dan baru saja ia menelan pocky-nya, tubuhnya diangkat dan bibirnya langsung dicium oleh pria russia itu.

"OOOOOOOOOOHHHHHHHHHH!" Rin dan Kirana langsung teriak kek supporter sepak bola ketika melihat adegan tersebut. Kirana langsung mimisan deras dan jatuh pingsan, sama halnya dengan Rin namun wajahnya memerah.

"I-itu… Ciuman pertamanya… Kak Rian…"

Keempat negara yang lainnya langsung mematung ditempat. Seriusan? Itu ciuman pertamanya Indonesia, dan diambil oleh Russia?!

"Ci-ciuman pertama…?" Kiku memasang ekspresi syok. Wajahnya ikut memerah, sebelum ia menutup wajahnya sendiri.

"O-oy, Russia! Kau kelewatan!" Ucap England dengan panik, saat pria tinggi itu justru mencium Indonesia lagi dan lagi— yang dimana wajahnya Rian sendiri sudah sangat memerah sampai kepalanya berasap.

"Ahaha." Russia tertawa pelan, menurunkan Indonesia yang wajahnya sudah memerah seperti tomatnya Italia, dan pemuda itu langsung jatuh pingsan namun Russia sempat menangkapnya.

"Прости. Bibirnya terlalu manis sampai aku lepas kendali." Ucap sang pria russia itu dengan santai, sebelum ia duduk dan membaringkan Indonesia diatas pangkuannya.

"J-jadi, Roshia-san…" Bisik Japan kearah pria yang lebih tinggi darinya itu.

"B-bagaimana rasa bibirnya Indonesia-kun…?"

'ITU YANG KAU TANYAKAN?!' Pekik ketiga negara ini sambil sweatdrop ketika secara tak sengaja mendengar ucapan Kiku.

"Hmm~ entahlah, ada perpaduan the melati dan coklat. Mungkin karena pocky-nya." Ucap Russia dengan santai, menepuk-nepuk kepalanya Indonesia dengan lembut.

"Rin, ini ku—" kata-katanya terhenti saat menemukan kedua gadis yang berteriak seperti supporter tadi juga ikut pingsan ditempat dengan darah yang mengalir deras dari hidungnya.

"Wa-watashi wa… Nanimo koukai shite… Inai." Jiwanya sang Author langsung melayang saat ia mengacungkan jempol sambil gemetar. Kelima negara ini langsung pingsan, sebelum Indonesie berjalan kearah Rin dan berjongkok didekatnya.

"…Bangun atau nyawamu benar-benar ke surga." Ucap Agus dengan gelap, yang sukses membuat kedua orang ini bergidik ngeri dan segera tersadar.

"K-kami sudah bangun! Tolong jangan bunuh kami!" Ucap Kirana dengan panik, langsung terduduk dan memeluk Rin dengan takut.

Russia hanya tersenyum simpul. Ia pun meraih botol yang ada diatas meja, sebelum memutarnya lagi.

.

.

.

.

.

.

.

Dan…

.

.

.

.

.

.

.

.

Botol itu…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Menunjuk…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ah. Japan, Truth or Dare?"

Telinga kucingnya Rin langsung naik. Ia segera bangkit dari posisinya, dan kembali menyalakan kameranya yang mati itu.

"Haraitamae, kiyomitamae." Ucap sang gadis kucing ini dengan santai.

"…Apa maksudmu mensucikanku, Rin-san?" Tanya Japan sambil sweatdrop. Rin hanya tersenyum kucing, sebelum berdehem.

"Jadi~ Truth or—"

"Dare."

"Ooh, cepat sekali. Aku belum selesai padahal." Ucap sang dara, menyilangkan tangannya. Ia menarik keluar sebuah kertas, dan terdiam beberapa saat.

"…Allahu."

Semuanya bingung. Japan menaikkan alisnya.

"Ahem. Uh. K-kepada Japan…" Rin terhenti. Wajahnya sudah terlalu memerah.

"La—"

"Rin-saaaan. Ada temanmu nih."

Rin berkedip. Siapa? Perasaan dia ga ngundang siapapun deh.

Saat orang yang dimaksud masuk ke ruangan, Rin auto matung di tempat. Kacamataan, rambutnya item, pake kemeja, dan bongsor.

Iyep, seorang artist deviantart yang notabene kenalannya Rin, bernamakan FB Fika Muzzamil.

Rin memanggilnya dengan sebutan;

"FAUZI?!"

Kirana bingung. Putra pun menatap pemuda yang baru masuk itu yang berjalan menuju Rin.

"Sini." Sebut saja namanya Fika, yang dimana dia ngerampas seenak jidatnya kertas dare yang dipegang Rin.

"Kepada Japan, goda England dan lakukan hubungan seks di kamar."

Japan matung. Satu ruangan hening. Semuanya ngelirik England.

"...Dah, buruan ke kamar sana."

"Fauzi, pls."

Putra terpelatuk ditempat. Setelahnya dia pingsan lagi, pas di pangkuannya Russia.

Dan ya, berkat Kirana, tuh dua orang masuk juga ke kamar. Rin sama Fika udah nemplok di pintu kamar dengan gelas di pintu.

"Woi, ga sopan." Ucap America.

"Bodo amat! Gua mau dengar!"

"Rin, lu ngapain juga ikutan—"

"...Aku mau mendengar desahannya Nihon." Balas sang dara sambil mimisan. America sama Netherland auto nepuk jidat.

"Ga boleh dengar tanpa pengawasan orang dewasa." Kirana ikutan nemplok di pintu kamar, nguping. America langsung sweatdrop.

"Neth, Kirana lu tuh."

"…Dah, minggat aja dari sini kuy." Netherland langsung nyeret America balik ke ruang tengah, meninggalkan ketiga orang itu.

Sekitar 10 menit, belum ada suara. Lima menit selanjutnya, ada bunyi decitan kasur. Rin auto melotot.

"Ahn—"

Kirana langsung mimisan. Menit ke 20, ada suara desahan yang lumayan kuat. Dan tak lama, decitan kasur campur dengan desahan pun sayup-sayup mulai terdengar.

"Jangan teriak lu zi—" ucap Rin, hidungnya sudah mimisan deras seperti air terjun. Sedangkan Fika berusaha menahan teriakannya dengan menutup mulutnya.

"Gue pengen liat—"

"Hush—" Kirana langsung mendiamkan. Desahannya terdengar makin kuat, sampai mereka mendengar satu kalimat yang menandai bahwa mereka akan selesai.

"Tunggu, Arthur— aku tidak kuat lagi—"

"TIDAK KUAT NAON—" Rin hampir teriak. Untung aja Kirana langsung bekap mulutnya.

Dan ya, tepat pada saat akhir dari dare-nya, Rin langsung nyembur darah. Selanjutnya, dia langsung pingsan di tempat. Kirana langsung mimisan deras, sedangkan Fika mulai mimisan dan tetap berusaha menahan teriakannya.

"Udah lu bertiga. Cepetan sini." Agus nyeret ketiga orang tersebut balik ke ruang tengah.

Sejam pun berlalu. England dan Japan udah balik ke ruang tengah, dengan Japan yang wajahnya memerah sedangkan England malah nyengir gaje. Dan ya, Rin malah nanya-nanya tentang kejadian tadi ke Japan, kampretnya.

"Eh, habis ini udah deh. Wong kalau kebanyakan ronde ToD, capek juga kan yha." Ucap Kirana, tersenyum.

"Woh. Iya sih. Yaudah, Nihon! Putaar~" ucap Rin dengan lantang, dan botolnya pun diputar.

.

.

.

.

.

.

.

.

Lalu…

.

.

.

.

.

.

.

Botol itu…

.

.

.

.

.

.

.

Menunjuk…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Semuanya mulai berdoa, berharap kaga kena.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aye. America, Truth or Dare?"

"Truth aja deh. Gua capek." Balas America, menghela nafas panjang. Rin ketawa cengengesan.

"Yaudah deh. Truth untuk America. Kau aslinya takut kepada Indonesia atau tidak?"

"…Ya." Balas America, menatap kearah lain dengan wajah yang kusut. Russia bingung.

"Lah? Kan Indonesia kecil gini. Unyu pula. Kok takut?"

"Ckckck, sir Russia." Rin nyender ke pundaknya Russia, menyeringai.

"America kan, takut hantu. Apalagi sama Rian yang sadis. Auto teriak mah."

Negara besar itu langsung nahan tawa. America rasanya mau melempari gadis kucing itu dengan bom sekarang. Ngeselin amat bat.

"…Oh, iya."

Seisi ruangan natap Fika. Pemuda itu sempat menatap England untuk beberapa saat.

"Cium Japan sekali lagi dong."

Rin langsung matung. Wajahnya Japan semakin memerah. England natap pemuda itu dengan shock.

"ANU, ABAIKAN SAJA PERMINTAANNYA, ENGLAND! MAKLUMI DIA EHEHEHEH—" Rin segera ngacir ke temannya itu, dan membekap mulutnya dengan wajah yang mucat.

"…Aku tidak masalah sih."

Matanya Kirana langsung bersinar. Fika langsung lepasin bekapannya Rin. Sedangkan gadis kucing itu natap England dengan tidak percaya.

"Seriusan?"

"Ye."

Ketiga orang ini langsung nyengir puas. England berdiri dari tempatnya dan duduk di dekat Japan, sebelum ia menarik wajahnya pemuda jepang itu dan langsung mengecup bibirnya. Rin, Kirana, sama Fika langsung teriak kek supporter bola.

"Mungkin ngelakuin Truth or Dare sesekali ga salah." Putra tersenyum, dan menatap semua negara yang duduk di meja makannya beserta dua orang penduduk aslinya.

"Mayan kan. Lagian…" Rin langsung nyengir, dan sedikit menyikut Fika yang tepat di sebelahnya.

"England sama Japan jadian toh. Hehe."

Yang dimaksud langsung memerah wajahnya. Gadis kucing ini tertawa.

"Sekalian juga, kirimin video-nya lain kali kalau ngelakuin." Ucap Fika dengan santai, ikutan nyengir.

Japan langsung nyemburin teh yang diminumnya.

Semuanya langsung tertawa. Setelahnya, ruang makan tersebut kembali berisik karena semuanya justru berbincang-bincang tentang permainan tadi.

THE END—

Rin:

Fucc. Gua cukup capek ngerjain ini.

DITA DO YOU HEAR ME BITCH?! I'M DOING DIS FOR YOU!

LU JUGA YA, FIKA MUZZAMIL! I SHALL NEVER FORGET THIS HUMILIATION!

Au ah. Anyhoo, ada review? Mungkin guna untuk gua nulis novel.