Sthricynix, in.

A/N : Karena sudah lama tidak update, disarankan membaca kembali dari chapter 1.


Minato melihat ke arah kantor Hokage yang sudah hancur. Asap dan api masih membara, menerangi malam yang gelap itu. Beberapa orang Jounin dan ANBU sudah berada di tempat itu. Sebagian dari mereka mulai melakukan evakuasi korban yang terluka. Ledakan tadi sepertinya cukup kuat karena juga menghancurkan beberapa ruangan di dekat kantor Hokage, yang sialnya, beberapa orang ada disana.

"Rin?!" Minato menatap Rin yang ia rangkul saat menyadari muridnya itu meringis kesakitan. "Ah, kau terluka, ya?" Pria itu menatap lengan kanan Rin yang mengeluarkan darah.

"Minato!" "Minato-sama!"

Minato melihat ke samping, dia mendapati Kushina dan Hinata yang baru saja tiba di tempat itu. "Kau baik-baik saja?" Kushina bertanya kondisi suaminya itu. Namun, perhatiannya teralihkan oleh luka di lengan Rin. "Rin?! Hinata, bawa dia!" Kushina merespon dengan memerintahkan Hinata membawa Rin.

"Baik!" Hinata mengangguk, kemudian membawa Rin ke rumah sakit Konoha.

Sementara itu, Kushina langsung memapah sang Hokage. "Minato?" Dia memanggil nama suaminya itu pelan.

"Aku baik-baik saja." Minato tersenyum pada Kushina sebelum mengalihkan pandangannya ke arah ruangannya yang sudah tak berbentuk. "Tapi, perasaanku benar-benar buruk..."


Kaze

I don't own Naruto or Naruto Shippuden. There is no financial gain made from this nor will any be sought. This is for entertainment purposes only.

Χ―

Sebuah fiksi penggemar yang dibuat berdasarkan imajinasi seorang bujangan terhadap sebuah Manga yang selalu berada di angan. Ditulis menggunakan aplikasi bajakan dan usaha tanpa bayaran. Mungkin kalian, bisa lebih menghargai arti dari sebuah perjuangan, dengan sumbangan, berupa review dari tangan rupawan, agar fiksi ini lebih berkesan, dan penulis tidak kesetanan.

Χ―

Chapter 7 : Stage 5 – The Silent Strategy.

Malam itu, menjadi sedikit menakutkan untuk Konoha. Melihat bagaimana pemimpin tertinggi mereka, diancam secara langsung dan terang-terangan. Dan tentu saja, ini adalah sebuah deklarasi perang.

Akan tetapi, mental para penduduk Konoha patut diacungi jempol. Tidak ada satupun warga yang panik akan situasi ini. Memang, semua sudah tahu apa yang terjadi pada Minato. Tapi, tidak ada terlihat kepanikan ataupun huru-hara di daerah mana pun di Konoha.

Tentu saja, semenjak penyerangan Konoha oleh pria yang mengaku sebagai Uchiha Madara itu, penduduk desa sudah banyak belajar tentang bagaimana menghadapi situasi yang benar-benar kode merah. Sesuatu hal seperti ini, bagaikan lalat dibandingkan bagaimana mencekamnya suasana desa saat penyerangan dua Bijuu itu terjadi.

Dan di tengah gelapnya malam, hanya para ANBU lah, yang bergerak dibalik bayang-bayang purnama.

Χ―

"Jadi, apa maksudmu memanggilku kemari, Minato?"

Hiashi Hyuga mengambil posisi duduk di sofa putih itu. Maniknya tertutup tatkala ia menyesap nikmatnya teh buatan istri sang Hokage. Patut diapresiasi mengingat betapa sulitnya wanita berambut merah itu beradaptasi dengan aktivitas dapur. Hiashi mengingat ketika ia, Shikaku serta Minato berkunjung kerumah Kushina saat mereka Genin, Kushina bahkan tak bisa membuat air putih dengan benar.

Hiashi bergidik saat mengingat peristiwa yang mengantarkan mereka ke rumah sakit itu.

Mata putihnya kemudian terbuka, dan menatap lurus sang Hokage. Dia tahu apa yang menimpa Minato beberapa jam yang lalu. Dan melihat Ko –asistennya– yang dengan tergesa-gesa memanggilnya atas perintah Hokage, otak jeniusnya yakin, apapun yang menjadi alasan ia dipanggil, pasti berhubungan dengan kejadian tadi.

"Ini tentang kejadian barusan–" Minato memulai.

Hiashi mendengus pelan, tebakannya benar.

"Itachi dan timnya melakukan olah TKP. Lihat apa yang mereka temukan." Minato menyerahkan map yang berisi hasil investigasi ANBU.

Hiashi mengambil map itu dengan tatapan datar. Dia membacanya dengan perlahan. Ekspresi dan gestur tubuhnya mengeras sejalan dengan bagaimana ia mengamati apa yang ada di dalam kertas tersebut.

Minato bahkan dapat merasakan aura Hiashi yang mulai berubah.

Mata sang pemimpin klan Hyuga menatap Minato tajam. "Apa laporan ini benar?" Ia tahu jawabannya, dan Hiashi tidak meragukan kerja dari Itachi, tapi tetap saja, ia harus memastikan bukan?

Minato mengangguk, Hiashi melanjutkan. "Siapa lagi yang tahu tentang ini?"

"Kau, aku serta tim Itachi. Aku menjamin tidak ada yang tahu tentang ini." Minato tersenyum simpul.

"Termasuk dewan?"

"Termasuk dewan."

Hiashi menyandarkan punggungnya ke sofa dengan kasar, kemudian menghembuskan nafas panjang. Dia tahu akan menerima masalah pelik, tapi ia tak menyangka akan serumit ini. Sialan, sepertinya waktu senggangnya akan kembali berkurang.

"Aku akan melakukannya sendiri. Bagaimanapun juga, ini adalah masalah intrik klan." Ucap Hiashi dengan nada berat.

"Tapi, tetap saja menyangkut keamanan desa." Minato menyanggah. "Kau yakin tak melibatkan desa?"

"Tidak untuk saat ini. Kau tahu sendiri bagaimana kondisi desa kita, kan? Terutama sektor pemerintahan intern. Akan semakin repot jadinya." Hiashi menjelaskan.

Minato mengangguk paham. "Tapi ingatlah, aku selalu siap membantu, Hiashi." Dia tersenyum simpul.

Hiashi berdiri, kemudian pergi meninggalkan tempat itu. "Itu yang kubutuhkan, Minato."

Χ―

"Kepada dua puluh delapan peserta yang berhasil bertahan pada Ujian Jounin kali ini, aku ucapkan selamat datang di Unraikyo!"

Raikage memberikan sambutannya pada para peserta yang berbaris di hadapannya.

Unraikyo, tempat yang berada di utara desa Kumogakure. Tempat yang terdiri dari pilar-pilar batuan yang menjulang tinggi ini adalah lokasi dimana desa Kumo menyegel monster-monster mereka. Dan B, merupakan orang yang bertanggung jawab atas semua monster itu. Dia juga menggunakan tempat ini untuk berlatih.

Kumo memang terkenal akan budi daya monster mereka sejak mengetahui kepiawaian B dalam mengontrol tidak hanya Bijuu, melainkan juga para monster. Namun, monster-monster di Unraikyo masih dalam status buas. Ketika mereka sudah lebih jinak, mereka akan dipindahkan menuju Shimagame (Pulau Kura-kura).

"Dari 90 peserta yang mendaftar, hanya 28 yang tersisa. 62 peserta lainnya dinyatakan gugur dan diantara mereka, 17 dinyatakan tewas."

Walaupun berita itu cukup mengerikan, nyatanya tidak mengganggu ke 28 peserta itu.

Raikage menyeringai. "Tapi itu adalah harga yang pantas. Itulah yang diperlukan untuk menghasilkan Jounin-Jounin unggul seperti kalian! Namun, masih ada dua tahap lagi yang harus kalian lewati. Dan pada tahap kali ini, adikku yang akan menjadi mentor kalian."

Pria berbadan kekar tersebut menjentikkan jari. Dan B muncul dari kepulan asap.

Musik hip-hop terdengar, walau tidak seorangpun yang tahu asalnya.

"Yo! Selamat datang aku ucapkan~, untuk kalian, para peserta rupawan~!" B memulai dengan ciri khas Rap-nya.

"Tahap kali ini adalah pertarungan~! Jangan sungkan dan gunakan kekuatan, dan jangan lupa pakai otak kalian!"

"Akan tetapi, jangan berkecil hati, karena di sini, akan ada yang menemani! Para Genin yang imut, mereka 'kan ikut, bertarung melawan maut~! OH YEAH!"

"Mari berjuang sekuat tenaga, karena dari semua peserta, akan ada enam yang tersisa~! DASAR PAYAH, DASAR LEMAH!"

Sementara itu para peserta hanya mendengarkan sambil berkeringat jatuh. 'R-rapnya, sangat susah untuk dicerna, dasar payah, dasar lemah~!' Mereka semua membatin kompak.

"Satu hal lagi." B berkata tanpa nada rapnya. Membuat semua peserta memandangnya dengan serius. "Selama pertarungan, baik kalian, maupun anggota tim kalian, tidak boleh berbicara atau memberi isyarat dalam bentuk apapun! Dengan kata lain, silent strategy~! Oh yeah!"

B ngerap lagi.

"Kalian boleh bertemu dengan Genin kalian, hanya sepuluh menit sebelum pertarungan~! Ingat kata kuncinya kawan, Ke- Per- Ca- Ya- An!" Dan B, mengakhiri rap gilanya.

Salah seorang Shinobi berambut perak mengangkat tangannya. "Bagaimana jika Genin tersebut, mati?"

"Hm...?" B menatap Chuunin itu sejenak. "Intinya, kalahkan monster itu dengan kekuatan penuh, tapi jangan sampai Genin kalian terbunuh! Jika salah seorang Genin kalian sekarat, maka kalian akan dianggap lewat! Ucapkan selamat tinggal, pada babak final!" B menjawab dengan Rapnya.

"Ketika salah seorang Genin sudah tak mampu melanjutkan pertempuran, tim medis akan datang ke tempat kalian, dan pertempuran, akan dihentikan~!"

Setelah memastikan tak ada pertanyaan lagi, B menutup sesinya. "Permainan ini memakai waktu, dan hanya 6 yang akan melaju, menuju babak yang ditunggu~!"

"ITU SAJA! DASAR PAYAH! DASAR LEMAH!"

Sementara itu, tokoh utama kita hanya memandang kertas ditangannya dengan pandangan bete yang teramat sangat kentara.

Sarutobi Konohamaru

Nara Shikamaru

Naruto hanya bisa membatin, '...Sialan~'

Χ―

Beberapa Jounin berkumpul bersama B, memperhatikan para peserta yang menyusun strategi dengan para Genin-nya.

"Bahkan untuk pasukan veteran pun, bertarung tanpa isyarat dan berbicara sangatlah sulit. Karena kondisi lapangan yang sangat dinamis." Salah seorang pembimbing dari desaKonoha –Hamaki Mimura– berkomentar. "Akan tetapi, melihat statistik akhirnya, apabila mereka berhasil melewati ini, tentu akan menghasilkan Jounin yang sangat berkualitas."

"Ini akan sangat berguna pada misi penyusupan yang memang mengutamakan keheningan dan ketenangan serta pertarungan yang dinamis." Hamaki melanjutkan.

Salah seorang lagi menyambut, "Ditambah lagi, tidak hanya dari sisi peserta saja, ini juga merupakan kesempatan bagus untuk mengembangkan kemampuan para Genin. Aku tak menyangka, kau memikirkannya sampai sejauh itu, B-san." Sebuah pujian lepas dari mulut Ninja Suna bernama Satetsu itu.

"Meski sudah diatur agar rekan Genin mereka berasal dari desa yang sama, tetap saja ini hal yang sangat sulit." Seorang dari mereka menimpali.

B menatap mereka datar.

Satu detik.

Dua detik.

Raut mukanya berubah terkejut. "EHHH!? Aku baru tahu ada hal yang seperti itu!" B tertawa lebar. "Bukan begitu, tapi menurutku, pasti sangat keren apabila mereka menghajar para monster itu tanpa berbicara! BAM! BAM! BAM!" B berucap dengan semangat sambil memberikan empasis pada ucapan terakhirnya.

Dan para Jounin hanya berkeringat jatuh dan menatap B dengan pandangan cengo.

― 'Ini orang, serius gak sih?'
'Ini orang, serius gak sih?'

Para Shinobiitu membatin kompak, dan tawa B menggema semakin keras.

Χ―

"Impresif." Shikaku memberikan komentarnya.

Di desa Konoha para Jounin dan para Shinobi veteran menyaksikan layar proyeksi dari Ujian Jounin di Unraikyo. Layar proyeksi berukuran jumbo itu memperlihatkan aksi para peserta yang melawan monster di tahap kelima itu.

Awalnya, mereka tidak yakin ada yang benar-benar bisa bertarung dengan koordinasi yang sangat apik tanpa berbicara. Tapi melihat apa yang ditunjukkan para Shinobi muda itu...

"Sialan, mereka membuatnya kelihatan mudah." Asuma tidak bisa menahan diri untuk tertawa.

"Tapi, apakah hal seperti ini diperbolehkan?" Inoichi mengganti saluran untuk menampilkan seorang peserta lainnya.

Dan cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu terkejut.

Layar itu menampilkan seorang Ninja berambut keperakan, dengan model yang acak-acakan. Pemuda tersebut melawan Ninken (Ninja Dog ) ukuran besar yang mereka yakini berlevel Aseorang diri. Sementara rekan Geninnya tidak melakukan apapun. Hanya disembunyikan dibalik seorang Bunshinnya.

Para ninja veteran itu bisa melihat sang peserta, melakukan lompatan ke depan sebelum kemudian memukul bagian kepala sang Ninken. Tak berselang lama, monster itu, lenyap dalam kepulan asap. Mengembalikannya ke alam Kuchiyose.

"Di-dia mengalahkannya dalam beberapa menit..." Iruka berbicara dengan nada tercekat.

"Tapi, apa tidak memakai Genin diperbolehkan?" Tanya Chouza.

Shikaku mengalihkan pandangannya sesaat ke arah kepala klan Akimichi itu, sebelum pandangannya kembali ke layar proyeksi. "Tidak masalah. Yang penting adalah, Genin tersebut tidak sekarat atau tewas." Dia kemudian mengangkat bahu. "Mungkin baginya, para bocah tersebut hanya mengganggu."

Inoichi mengambil daftar peserta, untuk melihat data dari peserta tadi. "Genyumaru, Tokubetsu Chuunin. Satu-satunya peserta yang dikirim dari Kusagakure. Catatan misi, 86 rank D, 201 rank C, 198 rank B, 52 rank A, 2 rank S. Persentase keberhasilan misi 98%."

"Dari catatan misinya saja kita sudah tahu, kalau dia itu berbahaya." Shikaku menyeringai. "Kusagakure sialan. Mereka menyembunyikannya selama ini."

Mereka kemudian menukar layar proyeksi menuju peserta yang lain.

Χ―

Genma menatap monster di hadapannya datar. Seekor Mizu Hebi memang sangat merepotkan, terutama racun mereka yang sangat mematikan. Genma kemudian melirik ke belakang, dimana dua orang Genin Inuzuka Kiba dan Tenten menatapnya dengan yakin. Membuatnya tidak tahan untuk tidak tersenyum.

Pandangannya beralih ke arah ular besar di hadapannya. Dia mengambil ancang-ancang, sebelum menyerang ular besar itu dari depan. Membuat beberapa Insou (Hand Seals), dia memberikan serangan pembuka pada ular itu.

'Katon : Endan. (Fire Release : Fireball)'

Ledakan terjadi saat bola api yang ditembakkan Genma, berhasil mengenai sang ular. Aksi ini kontan saja membuat sang makhluk besar marah. Dengan gerakan yang sangat cepat, ular tersebut melesakkan badannya ke arah Genma.

"GKHHH?!" Genma hanya mengeluarkan geraman tertahan saat muncung ular tersebut menabrak perutnya.

Namun, rencana itu hanya pengalihan. Hilangnya Genma yang merupakan Bunshin, membuat sang ular melesat maju ke arah Tenten yang tadinya berada tepat di belakang Genma. Genin yang merupakan anggota dari tim Guy itu merespon dengan menarik kertas gulungan, mengeluarkan ratusan Kunai yang kemudian melesat ke arah sang ular.

Tak ada satupun dari Kunai tadi yang mengenai sang ular, melainkan hanya lewat di samping kiri dan kelas A itu pun membuka mulutnya dan terus maju, berniat melahap Tenten.

Akan tetapi...

GRAKKK~

Suara gemericik terdengar, dan gerakan sang ular terhenti. MizuHebiitu kemudian menyadari, ratusanKunaitadi merupakan Henge dari rantai raksasa yang sekarang berhasil menahan gerakannya. Ditambah lagi, Genma yang kini muncul entah dari mana, memberi tambahan Fuin sederhana pada rantai itu, untuk memastikan sang ular benar-benar tak bisa bergerak.

Genma mengadahkan kepalanya dan tersenyum, saat melihat sang bocah Inuzuka, sudah bersiap melakukan jurus pamungkasnya. Menyeringai untuk mengakhiri pertarungan ini.

"GATSUGA! (Fang Passing Fang)"

Suara putaran sekeras angin puyuh terdengar saat jurus Kiba menghantam punggung sang ular dengan telak. Pewaris masa depan klan Inuzuka itu bahkan tak berhenti saat sisik dan daging mulai terkelupas dari makhluk itu.

Beberapa detik kemudian, sang MizuHebi, hilang dalam kepulan asap. Pertanda bahwa makhluk mistik itu sudah tak dapat melanjutkan pertarungannya.

Kiba berteriak senang, "HORE! Itu rencana yang sangat hebat, Shiranui-sensei!" Dia menyengir pada Genma.

Tak lama, salah satu Bunshin dari B muncul, "Shiranui Genma dari Konohagakure. Waktu : 3 menit 24 detik. Posisi dua." Kemudian menghilang dalam kepulan asap.

Genma tersenyum dan memandang dua Genin berbakat didepannya. "Kerja bagus, Inuzuka-kun, Tenten-san."

[Kembali ke Konoha]

"Kemampuan putramu sungguh hebat, Tsume." Mendengar itu, ibu dari Kiba hanya mendengus senang.

"Kerjasama di tim-tim yang lain juga cukup bagus. Kalau begini, penentunya adalah seberapa cepat mereka melewati ini." Komentar Hiashi yang disambut dengan anggukan.

"Yah, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi, kan?" Shikaku menanggapi.

Pria dengan model rambut nanas itu kemudian mengambil remote yang tadi ada pada Inoichi. "Baiklah, bagaimana dengan putra Yondaime." Matanya melirik sesaat ke arah sang Hokage yang juga berada di tempat itu. "Kudengar Genin mereka adalah anakku, dan cucu Sandaime-sama." Dia tak menutupi rasa tertariknya.

Layar berganti, dan semua orang di ruangan itu memasang wajah cengo, dengan keringat jatuh yang besar. Tak lupa dengan rahang yang tergantung.

"Eh...?" Mereka ber-'eh' ria dengan kompak.

[Tayangan di layar proyeksi.]

"Aku tidak tahan lagi!" Naruto menarik kerah Konohamaru dan mengangkatnya. "Sialan, Konohamaru! Tidak bisakah kau membantuku dengan benar?!" Dia memaki bocah itu.

Konohamaru tidak mau kalah, dia menggunakan tangannya untuk mendorong wajah Naruto darinya. "Strategimu bahkan tak ada di protokol Ninja! Kami masih Genin, tahu! Kau pikir kami cenayang?! Berhentilah melakukan hal yang tidak perlu, setan!"

Konohamaru melayangkan tendangan ke arah kepala sang Chuunin. Naruto mengelak, namun membuat Konohamaru terlepas dari cengkramannya. "ANALISA SITUASINYA BODOH! PAKAI OTAKMU!"

"KAU JUGA BERGERAK SESUKAMU! KAU PIKIR KAMI INI APA?! PIKIRKAN JUGA ANGGOTAMU, SOMPRET!"

Bunyi kencang seperti deru mesin angin terdengar. Tekanan chakra mulai terasa disitu ketika energi padat mulai berputar ditangan Naruto. "KAU MENANTANGKU BERTARUNG, BRENGSEK?!"

Konohamaru tidak mau kalah, dan juga membuat Jutsu yang sama di tangannya. "KAU PIKIR AKU TAKUT HAH?!"

"BERANINYA KAU MENGGUNAKAN JURUS YANG DIAJARKAN SHISOU-MU UNTUK MENYERANGNYA!"

"KAU BAHKAN MENGGUNAKAN JURUS LEVEL A UNTUK MENYERANG GENIN!"

Sementara itu, Shikamaru hanya bisa cengo menatap mereka. "M-Mendokusei~..."

Namun, pertarungan itu tidak sempat terlaksana karena B sudah melerai mereka. "Kalian mau kudiskualifikasi?" Dia mengancam. Namun juga tidak menutupi dia juga mengalami hal yang sama dengan Shikamaru.

[Kembali ke Konoha.]

Pandangan semua Ninja di tempat itu beralih ke arah Minato dan Jiraiya yang kebetulan, duduk bersebelahan.

Tajam dan garangnya pandangan mereka membuat Minato dan Jiraiya berkeringat jatuh dan membatin kompak.

'Aku mau pulang~...'

Χ―

Kembali ke Naruto dan tim dadakannya. Dua orang berdarah panas yang tadi sempat berkelahi tadi, sudah mulai tenang. Walaupun raut muka penuh kebencian mereka masih belum hilang.

Shikamaru menghembuskan nafas berat dan memijit pelipisnya. Dosa apa dia semalam sampai harus terlibat sama dua orang gila ini. Namun, mereka tidak bisa begini. Dia tahu kalau Asuma-sensei dan ayahnya pasti menonton dari Konoha. Dan, kalau mereka sampai kalah di sini, Shikamaru tidak mau memikirkan, betapa merepotkannya mendengarkan omelan dari dua orang itu.

Maka dari itu, dia memutuskan untuk berbicara. "Sudahlah Naruto-san, Konohamaru... Kalau begini, Naruto-san juga tidak bisa maju ke final kan?" Ucap Shikamaru dengan nada malasnya.

Naruto mendecak sesaat sebelum kemudian mengangguk. Begitu juga dengan Konohamaru.

Pemuda pirang itu kemudian melirik sesaat ke arah putra Shikaku dan cucu Hiruzen itu dengan tatapan ayo-kita-selesaikan-ini-secepat-mungkin, dan dibalas anggukan keduanya.

Naruto kemudian berlari ke depan, dengan Kunai cabang tiga di tangan kanannya.

'Si brengsek itu, bergerak sesukanya lagi...' Konohamaru membatin. Berusaha keras untuk menahan amarahnya. Tatapannya beralih ke arah sohibnya yang ada disebelah. Melihat Shikamaru yang mendesah lelah sambil memijit pelipisnya, Konohamaru tahu, Shikamaru memikirkan hal yang sama dengannya.

Shikamaru melempar tatapan pada Konohamaru. Seakan berkata, mau gimana lagi? Konohamaru menyengir miris, dan kemudian mengikuti Naruto. Sang Shinobi pirang, yang bertarung sesukanya tanpa memikirkan anggota.

'Suatu saat, akan kubunuh kau, Naruto-niichan!' Konohamaru membatin dengan perasaan dongkol.

Nuiba. Makhluk magis yang merupakan wujud sejati dari roh bumi. Terkenal karena membantai ratusan Shinobi Konoha pada pertempuran di jembatan Kannabi. Makhluk ini, memiliki bentuk humanis dengan tinggi lebih dari 4 meter, berkepala kecil dengan dua tangan yang memiliki besar hampir setengah dari tubuhnya. Ditambah kepala berukuran kecil dengan wajah yang tertutupi oleh topeng yang mirip seperti Shinigami, Nuiba secara visual memang cukup menebar rasa takut.

Naruto melirik Konohamaru yang sudah tiba disisinya, kemudian menepuk pundak bocah itu pelan. Sebuah tindakan yang tidak dimengerti Konohamaru pada awalnya. Namun, Naruto tersenyum padanya, Konohamaru tidak melakukan apapun, selain menciptakan Rasengan di tangannya.

Sang Chuunin tersenyum saat mendengar deru Chakra padat mulai terdengar, kemudian mengaktifkan jurus yang sama. Melirik sesaat ke arah Shikamaru, dan saat menerima anggukan dari sang Nara, dia melesat ke arah Nuiba, bersama Konohamaru.

Naruto berlari lebih cepat, kemudian melemparkan Kunainya dengan cepat. Sang monster berusaha menggunakan tangan besarnya untuk menepis Kunai itu, karena jujur saja, arahnya sangat tertebak bahkan untuk Genin sekalipun. Namun, seringai tidak hilang dari wajah sang pemuda pirang. Dia sudah menyiapkan Jutsu Fuuton sederhana, yang kemudian membelokkan alur Kunai itu, dan dengan cepat, menancap di tubuh sang Monster.

Sebuah kesalahan yang harus dibayar mahal oleh Nuiba.

'Hiraishin : Goshun Mawashi no Jutsu! (Flying Raijin : Reciprocal Round-Robin Technique)'

Nuiba, lebih cepat dari kedipan mata, kini berpindah ke tempat Konohamaru dan Naruto. Di tempat seharusnya ia masih berada, sebuah Kunai bercabang tiga terjatuh. Jutsu-Shiki Naruto, memindahkan Nuiba dengan perantaraan Kunai yang tadi menancap di tubuhnya, dengan sebuah Kunai dalam kantungnya. Serta memindahkan tubuh Konohamaru di belakang tubuh sang monster.

Membuat makhluk humanis itu, terkepung dalam dua arah.

Melihat Naruto yang menyerang dari depan, serta Konohamaru dari belakangnya dengan Rasengan di masing-masing tangan mereka, Nuiba merespon dengan berusaha menyerang kedua Ninja tersebut.

...Hanya untuk mendapati tubuhnya yang mendadak kaku.

Mata kuning makhluk berwarna kecoklatan itu terbelalak saat melihat Shikamaru menyeringai ke arahnya. Dengan tangan yang membentuk Insou yang merupakan ciri khas dari klan Nara, ditambah dengan bayangan di kakinya yang memanjang sampai menyentuh bayangan sang Nuiba.

'Kagemane no Jutsu, sukses.'

Konohamaru dan Naruto kemudian menutup kombinasi apik mereka bertiga.

"RASEN..." Konohamaru melesakkan chakra padat itu ke tubuh sang Nuiba.

"...GAN!" dan Naruto melakukan hal yang sama dengan Kouhainya itu.

Χ―

"Kalau mau pakai Hiraishin, bilang-bilang dong!" Konohamaru mengomel keras, namun tak lama Shikamaru menarik kerah bajunya. "Ayo, Konohamaru! Urusan kita sudah selesai di sini!"

Konohamaru terus meronta dan berteriak keras. "Eit. Eh? Tunggu, Shikamaru! Hey! Urusan kita belum selesai, brengsek! KEMARI KAU!" Teriakan Konohamaru semakin lama semakin memelan, sejalan dengan menjauhnya mereka dari tempat Naruto.

Naruto hanya mengangkat bahu, tidak memperdulikan omelan cucu Sandaime itu. Dia kemudian berjalan ke arah papan pengumuman, untuk melihat hasil tes mereka. Semua peserta juga berada di tempat yang sama.

'Sebelas orang gugur. Baiklah, jadi siapa yang ke tahap final?' Naruto bermonolog dalam hati.

Pandangan semua orang kemudian teralih pada B yang tiba-tiba muncul, bersama dua orang yang mendorong sesuatu seperti papan pengumuman. Saat B menarik kain yang menutupi papan itu, hasilnya kemudian bisa dilihat oleh semua orang disitu.

"Inilah, yang maju ketahap final! Dasar payah, dasar lemah~!"

1. Genyumaru (Kusagakure) waktu : 1 menit 10 detik.
2. Shiranui Genma (Konohagakure) waktu : 3 menit 24 detik.
3. Houzuki Mangetsu (Kirigakure) waktu : 5 menit 12 detik.
4. Yamato (Konohagakure) waktu : 6 menit 54 detik.
5. Pakura (Sunagakure) waktu : 7 menit 0 detik.
6. Samui (Kumogakure) waktu : 7 menit 10 detik.

Naruto menganga dengan sangat lebar, dia shok, se-shok-shoknya. Dia tidak lulus? DIA TIDAK LULUS?!

Apa pertengkaran konyolnya dengan Konohamaru membuatnya kehabisan waktu? Apa dia didiskualifikasi? Apa dia...?

'Konohamaru, sialan...' Naruto menggeram kesal. Aura kehitaman menguar dari tubuhnya. Beberapa peserta yang tadi berada di dekatnya, perlahan mengambil langkah menjauh.

Dan di tenda para Genin, entah kenapa Konohamaru merasa badannya tiba-tiba menggigil.

"Ada apa, Konohamaru?" Tanya Shikamaru.
"Entahlah. Aku tiba-tiba merasa takut, untuk alasan tertentu." Ucapnya masih bergidik

Kembali ke tempat pengumuman~

"Ah, satu pengumuman lagi." B berbicara. Para peserta mendengarkan, namun tidak dengan Naruto yang masih sibuk memikirkan siksaan macam apa yang pantas ia turunkan pada Konohamaru setibanya nanti ia di Konoha.

"Ada satu peserta lagi yang lolos ke tahap final. Dia memiliki catatan waktu yang sama dengan Samui dari Kumogakure. Sebagai pertimbangan karena peserta lainnya memiliki catatan waktu diatas sepuluh menit, kami memutuskan untuk memasukkannya ke tahap final." B berbicara.

"Dan nama peserta itu adalah..."

Χ―

Keesokan harinya di Konohagakure, Minato serta beberapa pengawalnya berdiri di depan gerbang desa. Mereka bersiap untuk berangkat ke Kumo, untuk melihat kelangsungan babak final dari Ujian Jounin. Perhelatan final itu juga akan dihadiri oleh Raikage, Kazekage, Mizukage, serta Daimyou dari Kusagakure, mengingat peserta dari negara mereka yang juga turut berpartisipasi di Ujian Jounin yang digadang-gadang sebagai yang terhebat yang pernah ada.

"Aku pergi." Mencium kening istrinya, Minato kemudian berjalan meninggalkan desa tercintanya.

Pria dengan rambut pirang itu menatap jadwal pertandingan ditangannya dengan tatapan antusias.

Shiranui Genma v Yamato

Pakura v Samui

Mangetsu Houzuki v Pemenang antara Pakura v Samui

Pertarungan kedua, ketiga dan keempat yang menunggu pemenang dari pertarungan ketiga.

Namun yang dinantikan Minato, tentu saja pertarungan pertama.

Namikaze Naruto v Genyumaru

To Be Continiue...


A/N : Maaf sebesar-besarnya karena sudah lama tidak update! *sujud. Salah saya, beneran. Kesibukan demi kesibukan terus menghantui. Bukannya dapet inspirasi, malah wb. Padahal plot udah mateng. Tapi, yang terpenting, fic ini tetep update, dan tetep terus melangkah maju.

Anyway, untuk Brother, tolong bersabar ya. Dan saya tahu fic saya ini jelek dan penuh kekurangan. Plot abal, dan tidak menarik. Ditambah lagi, saya sudah lama tidak menulis, jadi apabila ada kekurangan, mohon dimaafkan. Tapi, jika anda sekalian tertarik dengan fic saya ini, mohon komentar serta masukkannya, dan jangan lupa koreksinya! ^^

Aku bahkan sudah lupa cara buat Author Note, dan sudah gak tau lagi apa yang mau ditulis di sini.
-_-

See ya!

Sthricynix, out.