Tittle : Revenge

Cast : DBSK And Other

Genre : Angst/Hurt/Comfort/Romance/NC21/BDSM/GS

Marga disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Jadi disini ada beberapa karakter yang nadal masukin, bukan berarti nadal ga suka sama orang tersebut, tapi lebih untuk kebutuhan cerita ^^ ingat ini hanya fiksi ^^ siapa saja yang baca maapkan nadal ne? nadal ga bermaksud apa-apa ^^

#catatan: don't like don't read ok?

Jadi buat yang ga suka, silahkan angkat kaki. Monggo

Thank you

Happy Reading ^^

"I'm sure, God has planned the best, and we just need to run the scenario only"

Sebelumnyaaahhh~

"Yunnie.. Sudah cukup.. Jangan ceritakan apa-apa lagi.." ucap Jaejoong berusaha mencari tangan Yunho dan menariknya dalam pelukannya "Kau dan aku tidak sendirian disini.." ucap Jaejoong yang tanpa sadar mencium puncak kepala Yunho yang mulai menangis meraung-raung dalam pelukannya "Uljima ne?" ucap Jaejoong mengusap kepala serta punggung Yunho. Sedangkan Yunho hanya bisa menangis menyandarkan kepalanya pada dada Jaejoong dan memeluk pinggang ramping orang yang dia anggap 'kekasih'nya itu.

Chapter 7~

Yunho meluapkan semua isi hatinya yang selama bertahun-tahun lamanya dia pendam semua itu dan menangis dipelukan Jaejoong hingga akhirnya dia tertidur kelelahan seperti anak kecil dipelukan ummanya. Jaejoong yang masih diam ketika Yunho masih memeluk pinggangnya hanya bisa mengelus halus punggung Yunho tanpa berniat membangunkannya.

"Joongie-ah.. Jangan tinggalkan aku" ucap Yunho yang mengigau dalam tidurnya.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Yunnie.. Tidurlah.." ucap Jaejoong tersenyum tipis.

Tangannya perlahan membelai surai Yunho. Halus, satu kata yang terlintas dalam pikiran Jaejoong. Dirinya merasa sangat beruntung bisa dimiliki oleh Yunho. Dan Yunho mampu menerimanya dalam keadaan apapun dan berusaha untuk melengkapi kekurangannya. Tidak tahukah Kim Jaejoong? Bahwa semua ini terjadi karena Yunho, dan terlebih dengan sikapmu dulu? Dan dialah yang sudah merusak hidupmu.

.

Setelah beberapa hari menjalani perawatan, Jaejoong diperbolehkan untuk pulang. Yunho masih setia menemani Jaejoong dan menuntunnya berjalan memasuki rumahnya.

"Pelan-pelan.. Hati-hati didepanmu ada anak tangga untuk turun" ucap Yunho dan menuntun Jaejoong.

"Apa masih jauh?" tanya Jaejoong yang terlihat takut menggengam erat tangan Yunho.

"Tepat didepanmu.. Raba saja" jawab Yunho.

Jaejoong tidak bertanya lagi dan mulai mengikuti perintah Yunho. Tangannya masih menggenggam erat tangan Yunho dan bahkan terkesan meremasnya.

"Sudah.. Awas didepanmu ada kursi Joongie" ucap Yunho menghentikan langkah Jaejoong.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" tanya Jaejoong dengan nada kesal.

"Mianhae.. Aku lupaaaa"

"Tuan muda" panggil So ahjumma dari arah dapur.

"Oh ahjumma? Joongie sudah kembali, kau lihat?" tanya Yunho mengerlingkan matanya kearah So ahjumma memberi isyarat untuk berbohong mengikuti scenarionya.

"Ah? Ne.. Selamat datang kembali nona" ucap So ahjumma dengan tampang bingung.

Namun ada sesuatu yang ganjil yang dia lihat pada diri Jaejoong. Matanya, lurus kedepan dan terlihat kosong, dan lagi tidak ada pemberontakan pada diri Jaejoong ketika berdekatan dengan Yunho. So ahjumma menatap Yunho dengan butuh penjelasan. Sedangkan Yunho hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa So ahjumma untuk tidak bertanya hal yang aneh-aneh pada Jaejoong. Merasa mengerti, So ahjumma mengangguk dan berjalan kembali kedalam dapur.

"Joongie-ah.. Duduk disini dulu" ucap Yunho menuntun Jaejoong untuk duduk "Kau tunggu disini jangan kemana-mana, aku akan mengambilkan sesuatu untukmu. Aku segera kembali"

Cup~

Yunho langsung mengecup pipi kanan Jaejoong dengan singkat dan berlari meninggalkannya membuat Jaejoong terlihat bingung.

"Yunnie.. Kau mau kemana?" panggil Jaejoong sedikit berteriak.

"Aku akan mengambilkan camilan yang bisa kau makan" teriak Yunho dari arah dapur.

"Tuan muda, apa yang terjadi dengan-"

"Ahjumma, aku minta tolong padamu, anggap saja bahwa Jaejoong sudah biasa kesini bersama ummanya, ne?" ucap Yunho memotong pertanyaan So ahjumma.

"Apa maksudmu aku tidak mengerti" ucap So ahjumma.

"Joongie kehilangan ingatannya, ahjumma karna kecelakaan itu.. Aku mengarang semua cerita tentang dirinya, keluarganya dan juga pertemuan kami berdua" Jawab Yunho.

"Dan jangan bilang kau juga mengarang tentang kehidupanmu?" tuduh So ahjumma.

"Ani, soal itu aku menceritakan yang sebenarnya, kumohon jangan buat dia mengingat masa lalu, aku tidak mau dia membenciku" ucap Yunho memohon.

"Tuan muda, bukankah sama saja kau membohonginya? Membiarkannya hidup ditengah semua kebohongan yang telah kau buat?"

"Aku tahu, aku mengerti, aku tidak mau kehilangan dia ahjumma.. Kumohon mengertilah" ucap Yunho lagi.

"Tapi tuan muda, bagaimana jika dia tahu yang sebenarnya? Tidakkah kau berpikir bahwa dia akan semakin membencimu?" ucap So ahjumma khawatir.

"Aku tahu itu, aku juga tidak ingin hal itu sampai terjadi, kumohon bantulah aku" mohon Yunho dengan wajah memelas.

"Tuan muda.."

"So ahjumma kumohon.."

"Baiklah, aku akan bersikap sebiasa mungkin tapi.. Apa yang terjadi dengan matanya? Kenapa kau menuntunnya? Dan.. Kenapa pandangan matanya seperti itu?" ucap So ahjumma dengan rentetan pertanyaan.

"Joongie buta, dan itu berisifat permanen, dokter yang menanganinya berusaha untuk mendapatkan pendonor yang cocok untuknya dan kami hanya bisa menunggu" ucap Yunho lemas.

"Tuan muda, aku minta satu hal darimu, jaga dia.. Jangan pernah menyakitinya dia lagi" ucap So ahjumma.

"Ne, aku berjanji.." ucap Yunho mantap.

"Jja, jangan terlalu lama disini.. Bawakan ini untuknya" ucap So ahjumma memberikan sebuah gelas berisikan jus"

"Gomawo.." jawab Yunho mengambil gelas tersebut "Oh ya, aku ambil ini ya ahjumma" ucap Yunho mengambil sebuah toples dan cepat-cepat berlari kembali ketempat Jajeoong "Joongie-aahhh… Hah mian tadi sedikit lama hehehe"

"Apa yang kau lakukan?" tanya Jaejoong bingung.

"Ini.. Tadi So ahjumma membuatkanmu jus.." jawab Yunho menaruh gelas tersebut diatas meja.

"Tidak perlu repot-repot seperti itu, Yunnie.. Aku jadi merasa tidak enak" ucap Jaejoong menunduk malu.

"Kenapa harus seperti itu? Biasanya juga kau selalu membantu So ahjumma didapur jika sedang kesini" dan lagi-lagi Yunho berbohong.

"Begitukah? Kenapa kau tidak membawaku kerumahku?" tanya Jaejoong bingung.

"Mulai saat ini, kau akan tinggal disini bersamaku, agar aku bisa selalu mengetahui kondisimu, semua yang kau butuhkan sudah ada disini, kau tidak perlu khawatir" jawab Yunho.

"Apa itu tidak akan merepotkanmu nanti?" tanya Jaejoong lagi yang merasa tidak enak hati.

"Kau bercanda? Kenapa aku harus merasa kerepotan dengan itu semua? Ayolah Joongie.. aku ini namja chingumu" rayu Yunho dan Jaejoong hanya mengangguk pelan.

So ahjumma yang memperhatikan keduanya sejak tadi hanya bisa menatap sendu melihat keadaan Jaejoong sekarang dan juga sikap Yunho yang terus menebar bibit-bibit kebohongan dalam hidup Jaejoong.

"Tuan muda, kenapa kau lakukan ini padanya?" ucap So ahjumma pelan yang tidak tega melihat keadaan Jaejoong saat ini.

So ahjumma menatap dengan kasian kearah Jaejoong yang tengah tertawa bersama Yunho. Tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika Jaejoong mengetahui semua kebohongan yang Yunho buat.

"Semoga saja semua yang kupikirkan tidak pernah terjadi" ucap So ahjumma dan kembali masuk kedalam dapur.

.

"Ya, berhenti menggodaku! Kau itu seperti ahjusshi mesum yang tengah menggoda pelacurnya, hish hentikan" rengek Jaejoong menyingkirkan tangan Yunho yang selalu mencolek dagunya dan juga mendorong kasar kepala Yunho dari pundaknya.

Yunho terdiam, dia tahu kalau Jaejoong seperti belum terbiasa dengan kehadirannya dan juga sikapnya yang dibuat manja seperti anak kecil. Tapi bukan itu masalahnya, lebih dari ucapan Jaejoong yang terdengar seperti menyindiri dirinya.

"Joongie-ah.. Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Yunho takut.

"Kenapa?" tanya Jaejoong bingung "Apa aku salah bicara?"

"Ah tidak.. Kau tidak salah, apa kau mau istirahat? Biar aku antar kau kekamar" ucap Yunho.

"Ani, aku mau disini bersamamu dulu" tolak Jaejoong.

"Kau yakin tidak mau istirahat atau bagaimana?" tanya Yunho lagi dan Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya "Ok, lalu sekarang kita mau apa?"

"Aku tidak tahu.." jawab Jaejoong bingung.

"Kita kebelakang saja, mungkin kau butuh udara segar kan? Ayo bangun dan ikut aku" ucap Yunho dan perlahan menarik lengan Jaejoong untuk berdiri.

Jaejoong tidak menjawab dan hanya menuruti apa yang dikatakan Yunho. Ikut berjalan mengikuti ucapan dan tuntunan dari namja yang setia berjalan didepannya.

"Jadi sebanyak 27 langkah kau sudah sampai di pintu belakang ini.. Dan disini… Waaahhh terang sekali disini, anginnya juga sejuk" ucap Yunho menuntun Jaejoong keluar.

'Terang? Aku hanya bisa melihat putih disini' ucap Jaejoong dalam hati dan hanya bisa tersenyum kecut.

"Belok kanan, 12 langkah.. Dan coba kau pegang ini.." ucap Yunho menuntun tangan Jaejoong untuk memegang sesuatu.

"Ah apa ini" ucap Jaejoong takut-takut dan menarik tangannya.

"Kau tidak perlu takut hahaha.. Ini hanya bangku taman.. Duduk disini" jawab Yunho dan menuntun Jaejoong untuk duduk.

"Tidak ada binatang yang aneh-aneh kan disini?" tanya Jaejoong.

"Tidak ada.. Disini hanya ada taman bunga lily" jawab Yunho melihat kearah tanaman bunga lily yang tengah mekar.

"Bunga lily?"

"Ne, sebentar akan aku ambilkan untukmu" ucap Yunho dan berlari kecil menjauhi Jaejoong "Nah, ini dia" ucap Yunho kembali mendekati Jaejoong dengan membawa setangkai bunga ditangannya "Kau pegang ini" ucap Yunho dan menuntun tangan Jaejoong untuk menggenggam tangkai bunga tersebut.

"Harum.." jawab Jaejoong tersenyum ketika menyesap aroma bunga tersebut "Ini warna apa Yun?"

"Warnanya putih, dan cantik.. Sama seperti dirimu" jawab Yunho tersenyum dan membuat rona merah pada pipi Jaejoong yang hanya bisa mengulum bibirnya menahan malu "Hahaha.. ya, pipimu memerah hahahaha" ledek Yunho.

"Berhenti menggodaku, Yun. Kau membuatku malu" jawab Jaejoong lagi-lagi hanya bisa menutup wajahnya.

"Sudah kubilang jangan tutupi wajah cantikmu" ucap Yunho menarik tangan Jaejoong yang tidak mau dilepaskan dari tangannya.

"Shirreo.. Kau selalu seperti itu padaku, aku malas, godai saja sana orang lain" ucap Jaejoong kesal.

"Baiklah aku tidak akan menggodamu seperti itu lagi" ucap Yunho menahan tawa dan kembali melepaskan tangan Jaejoong dari wajahnya "Jangan ditutupi seperti itu. Nah begini kan lebih baik" tambahnya dan justru menyentuh bibir Jaejoong dengan ibu jarinya.

Jaejoong hanya diam ketika Yunho menyentuh bibir dan juga menekan tengkuknya. Perlahan dapat dirasakan sebuah benda kenyal yang untuk kedua kalinya menyentuh permukaan bibirnya dan memagut dengan lembut. Tidak ada yang mengganggu, Jaejoong justru langsung memejamkan matanya dan menikmati sentuhan tersebut.

.

Beberapa haripun berlalu, Yunho dan Jaejoong semakin lengket, dan bahkan Jaejoong sudah seperti bisa menerima kehadian Yunho dalam hidupnya, tidak ada rasa aneh dalam dirinya ketika Yunho bergelayut manja padanya. Seperti sekarang ketika pagi hari dan keduanya sedang mengumpulkan kesadarannya. Yunho dengan santai memeluk pinggang dan menumpukan kepalanya pada perut Jaejoong. Sedangkan Jaejoong hanya tersenyum kecil dan memainkan helaian rambut Yunho dengan menarik-nariknya dengan pelan. Seketika raut wajah Jaejoong langsung berubah dan mengerutkan keningnya.

"Yun…" panggil Jaejoong dengan suara pelan.

"Hng?" sahut Yunho dengan gumaman yag terdengar masih mengantuk.

"Aku mau kekamar mandi dulu.." rengek Jaejoong dan melepaskan tangan Yunho dari pinggangnya.

"Hm? Wae Boo?" tanya Yunho bingung dan mengubah posisinya menjadi duduk.

"Molla.." jawab Jaejoong menyibak selimutnya dan berjalan perlahan mengulurkan tangannya mencari-cari letak kamar mandi.

"Hati-hati Boo.. Kau bisa menabrak nanti jika berjalan sendirian" ucap Yunho yang bergerak dengan cepat langsung membantu Jaejoong untuk mengarah pada kamar mandi.

CKLEK

"Masuklah, aku akan menunggumu diluar" ucap Yunho dan membiarkan Jaejoong masuk kemudian menutup pintunya.

"Mmm…Woooeeekkkk" ketika masuk dan mendekat kearah washtafel, Jaejoong langsung memuntahkan isi perutnya yang bahkan hanya berupa lender putih.

"Boo? Gwaenchana?" tanya Yunho yang khawatir mendengar suara Jaejoong.

"Gwaen..Chana" jawab Jaejoong terbata dan mengelap mulutnya.

"Jika kau merasa tidak enak badan, kita periksakan kedokter hari ini" ucap Yunho bersandar peda pintu kamar mandi.

"Aku tidak apa-apa, hanya tidak enak badan tidak perlu sampai seperti itu, Yunnie" jawab Jaejoong lagi dan membuka pintu kamar mandi dengan perlahan.

"Ya ya ya, bilang kalau mau keluar, hampir saja kau membuatku jatuh" dengus Yunho yang badannya langsung oleng ketika Jaejoong membuka pintu kamar mandi.

"Mianhae.." jawab Jaejoong pelan.

"Kau istirahat saja, aku yang akan memanggilkanmu dokter kesini, ayo" ucap Yunho dan menuntun Jaejoong kembali ke ranjang 'mereka' "kau istirahat disini, aku akan meminta So ahjumma menelfon dokter" ucap Yunho dan membantu Jaejoong kembali berbaring.

"Aku tidak apa-apa Yunnie.. Jangan manjakan aku seperti anak kecil" ucap Jaejoong kesal.

"Tidak-tidak, pokoknya kau harus tetap istirahat, tunggu disini" ucap Yunho dan berlari keluar dari kamar.

.

"Ahjumma…" panggil Yunho menuruni tangga.

"Ne? Tuan muda sudah bangun? Tunggu sebentar ne, aku akan menyelesaikan masakku dulu" jawab So ahjumma.

"Itu nanti saja dulu, tolong panggilkan dokter Kim kemari"

"Kau sakit tuan?" tanya So ahjumma yang terlihat khawatir.

"Bukan aku, tapi Joongie.. Tadi dia mual-mual didalam kamar mandi, tolong panggilkan ya ahjumma, aku akan menemaninya lagi daahh" ucap Yunho yang langsung melenggang pergi.

"Mungkinkah?" gumam So ahjumma diam melihat Yunho yang berlari kecil kembali ke kamarnya.

CKLEK

"Boo.." panggil Yunho yang kembali masuk kedalam kamar.

"Yun? Kau kah itu?" tanya Jaejoong memastikan.

"Kau bersihkan dulu tubuhmu, kita akan sarapan" ucap Yunho.

"Mmm…" jawab Jaejoong dan menyibak kembali selimutnya.

"Biar kubantu" ucap Yunho dan membantu Jaejoong bangun serta berjalan kembali kearah kamar mandi "Masuklah, aku akan menunggumu hehehe"

"Jangan mengintip ya Jung" ucap Jaejoong memberi peringatan.

"Siap cantik.. sudah sana masuk" ucap Yunho sedikit mendorong tubuh Jaejoong agar masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya.

"Hish, dasar menyebalkan" dengus Jaejoong dari dalam membuat Yunho terkikik geli.

.

Kini keduanya sudah menikmati sarapan setelah bergantian mandi. Dengan sabar Yunho menyuapi Jaejoong yang tidak bisa untuk makan sendiri. So ahjumma hanya bisa tersenyum dengan perubahan sikap Yunho yang cuek dan mudah sekali meledak-ledak beberapa waktu ini menghilang, bagaikan bukan Yunho yang biasanya. Sebenarnya So ahjumma mensyukuri perubahan ini, tapi ini semua mengorbankan fisik dan perasaan Jaejoong. Dan itu semua rasanya tidak adil bagi Jaejoong.

"Ahjumma? Kenapa diam? Kau tidak memakan makananmu?" tanya Yunho bingung.

"Ah iya, aku hanya sedikit iri kau seperti itu pada nona, sayang sekali suamiku sudah meninggal" ucap So ahjumma berbohong.

"Ahjumma, sudah berapa kali aku bilang panggil aku Joongie saja" ucap Jaejoong sedikit kesal karena harus mengingatkan So ahjumma berkali-kali.

"Ne no.. maksudku Joongie.. Maklum, aku sudah tua jadi mudah lupa"

"Ahjumma, kapan dokter Kim datang?" tanya Yunho.

"Tadi dia bilang sedang menangani pasien dulu, mungkin satu jam lagi dia baru sampai" jawab So ahjumma.

"Hah, dokter itu, sudah aku tawarkan dengan harga mahal untuk menjadi dokter pribadi keluarga ini malah tidak mau" keluh Yunho.

"Yun, kau tidak bisa memaksakan orang lain untuk menjadi apa yang kau inginkan" ucap Jaejoong yang langsung menohok hati Yunho.

"Ah ne.." jawab Yunho pelan.

Beberapa kali ucapan yang lontarkan yeoja cantik itu mengarah pada prilaku buruk Yunho terhadap Jaejoong yang selama ini dia tutup dengan rapat. Tangannya mengepal menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja menyeruak dalam dadanya.

"Aku permisi dulu sebentar" ucap Yunho yang langsung bangun dari kursinya.

"Yun, kau mau kemana?" tanya Jaejoong bingung.

"Aku mau ke kamar mandi sebentar" jawab Yunho seraya berjalan.

So ahjumma hanya bisa diam melihat Yunho yang seperti itu, dia tahu kalau ucapan Jaejoong barusan pasti membuat perasaannya menjadi tidak enak. Dan itu sudah beberapa kali terjadi.

"Ahjumma, Yunnie kenapa?" tanya Jaejoong bingung.

"Dia mungkin ingin buang air kecil, terkadang dia memang seperti itu dari kecil suka mendadak ingin buang air ketika sedang sarapan" jawab So ahjumma dengan senyum hambar yang tidak dapat dilihat oleh Jaejoong.

"Oh begitu.."

.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Yunho ketika Junsu dokter yang dimintanya untuk kerumah selesai memeriksa keadaan Jaejoong.

"Sebenarnya tidak ada masalah apapun, Jaejoong-shi bilang juga tidak telat akan kan? untuk lebih baiknya kau membawanya kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, kalau hanya seperti ini kan kita tidak tahu apa yang sebenarnya dialami" ucap Junsu menjelaskan.

"Mungkin besok aku akan membawanya" ucap Yunho menatap Jaejoong yang sudah kembali tidur setelah sebelumnya merasa mual seusai sarapan.

"Kenapa tidak kau bawa siang ini sampai setelah dia bangun saja? Supaya lebih cepat penanganannya" usul Junsu "Memangnya rapatmu tidak bisa ditunda dulu?"

"Bisa saja, nanti akan aku hubungi bawahanku untuk membatalkannya"

"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu" ucap Junsu dan membungkukan sedikit tubuhnya.

"Ne, gamsahabnida" jawab Yunho dan Junsu langsung berjalan keluar.

Yunho kembali duduk disebelah Jaejoong dan menyibak sedikit surai yang dulunya pernah dia jambak sedemikian rupa hingga rontok, mengelus pipi yang sudah kembali mulus yang dulunya sering dia lukai. Pandangan Yunho menyendu, pikirannya menerawang, mengkhawatirkan andai Jaejoong mengetahui semua kebohongan yang sudah dibuatnya, apa yang akan dilakukannya? Semakin membencinya? Ataukah langsung meninggalkannya. Yunho tahu betul sedalam apapun bangkai dikubur, suatu saat akan terbongkar dengan sendirinya. Tapi Yunho tidak ingin itu terjadi, apapun kondisinya, selama Jaejoong tidak mengingat apapun, sampai matipun Yunho akan mengubur masa lalu kelam itu dalam-dalam dan semakin dalam hingga tidak ada yang bisa menguaknya.

"Boo.. Berjanjilah, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku" ucap Yunho dan mencium dengan lembut kening Jaejoong yang masih setia memejamkan matanya "Saranghae.."

_TBC_