Mata biru Naruto membulat, terkejut dengan penglihatannya. Bukan karena pelayan itu sangat manis. Eh, memang manis sih. Melainkan karena,,

"Hinata!" Guman Naruto.

.

.

Naruto ©Masashi Kisimoto

Amnesia ©msconan

Rate : T+

Warning : AU,OOC, Typo berserakan dimana2, EYD tidak jelas dll

Don't like, press the back button!

Happy reading ^^/

Present:

Amnesia chap 6

~0~

.

.

#Flashback#

Setalah sarapan, Hinata kini duduk di sebuah sofa ruang tengan untuk menonton televisi, jari jemarinya yang lentik tengah asik memencet tombol remot, mencoba mencari siaran atau acara yang membuatnya terhibur.

"Bosan sekali" Kata Hinata mengeluh sambil terus memencet tombol remot itu berulang-ulang.

"Kenapa tidak ada acara yang menarik sih" Kataya lagi, kali ini dia melempar remot tak berdosa itu ke atas sofa.

Hinata bersandar pada badan sofa, mata lavender nya menerawang memandangi pelafon rumah itu.

"Orang itu(Naruto), sedang apa dia? Apa dia kerja? Pasti pulangnya lama" Kata Hinata sambil terus menerawangi pelafon tersebut.

Hinata terdiam cukup lama, mata lavendernya tetap memandang menerawang pada pelafon.

Deg.

Hinata tiba-tiba teringat dengan kejadian yang dialaminya beberapa jam lalu. Bodohnya, bisa-bisanya pria itu dengan mudahnya keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan training saja. Mengingat kejadian itu pipi Hinata kembali merona, "Dia tidak malu apa!" batin Hinata. Lagi pula "kenapa dia tidak ganti baju dikamarnya sendiri sih?" Batin Hinata lagi. loh? Kamar Naruto kan memang disitu. Ckck. kali ini Hinata berusaha menghilangkan rona mera diwajahnya dengan menutupi wajahnya dengan bantal yang ada di sofa itu.

"Ah! Tuunggu dulu, kalau dia tidak ada dirumah buat apa juga aku berdiam diri disini"

Hinata kemudian bangun dari posisi duduknya di sofa itu, kemudian dia beranjak menuju lantai atas yaitu kamar.

Keluar dari kamar, Hinata telah berganti baju, sambil membawa tas jinjing dia berjalan menuju pintu depan, sepertiya dia berniat untuk keluar rumah.

~0~

Bus yang Hinata tumpangi berhenti di halte. Gadis lavender itu turun dari bis mata lavendernya berbinar ketika melihat apa yang tersuguh didepannya. Keramaian.

Gadis itu berjalan di sebuah lokasi tempat perbelanjaan, diamana ditempat itu berjejer bangunan-bangunan seperti butik, café-café maupun toko-toko lainnya.

"Seharusya aku tidak berdiam diri dirumah" Kata Hinata sambil terus melangkahkan kakinya.

Kaki-kaki jenjag Hinata memnbawanya menelusuri pertokoan tersebut, sesekali matanya memandang beberapa barang-barang yang menuruknya menarik.

Hinata berhenti, ketika melihat sebuah bangunan unik dengan warnah yang cerah.

-'Maid caffe'-

Begitulah tulisan yang terpampang di sebuah papan kayu di depan bangunan itu.

"Maid? Wah, keren! Ternyata ada tempat seperti ini" Kata Hinata girang.

Mata lavender Hinata menangkap sebuah selebaran yang tertempel di dekat papan kayu itu.

"Wah, aku ingin mencobanya" Kata Hinata, kemudian dia mengambil sebuah selebaran yang tertempal tadi, Hinata berniat mendaftar sebagai salah satu pelayan disitu. Tidak salah nih?

~0~

"Kawai!" Kata Hinata sambil tersenyum lebar memandangi setelan baju maid yag akan dia kenakan.

Ketika mengajukan permohonan untuk bekerja tadi Hinata segera diterima, karena melihat pengunjung yang ramai, dan tempat itu sedang memerlukan tambahan pegawai.

Hinata tampak bercermin, berdiri di depan kaca yang seukuran tubuhnya, memandangi dirinya yang kini telah memakai pakaian maid selutut berwarna hitam dan ungu, dia tampak manis sekali mengenakkan baju yang di penuhi oleh renda tersebut, tidak lupa aksesoris bando yang mempercantik surai indigonya, serta sepatu yang yang serasi dengan tema baju tersebut.

Setelah puas memandangi dirinya di depan cermin, Hinata segera bergegas untuk melaksanakan pekerjaan pertamanya.

"Silahkan pesan tuan" Kata Hinata sambil menyodorkan buku menu pada tamu pertamanya.

Tamu tersebut begitu terpesona melihat Hinata.

"Hei aku tidak pernah melihatmu sebelumnya nona" Kata tamu yang ternyata pelanggan ditempat itu sambil tersenyum pada Hinata "kau manis sekali" kata pelanggan itu lagi, kali ini dia mencoba memegang tangan Hinata.

Hinata merasa risih di pandang seperti itu oleh tamu tersebut, sebelum tamu tersebut berhasil memgang tangan Hinata, dia dengan cepat menarik tangannya.

"Eh maaf tuan, jika tidak anda yang ingin ada pesan saya akan segera pergi" Kata Hinata sambil membungkuk sopan. Padahal itu hanya alasannya saja agar bisa kabur dari tamu maniak tersebut. Ah, beruntung ada seorang tamu lain yang memanggilnya.

#Flashback off#

"Pelayan" Kata salah tamu baru yang memanggil Hinata.

Hinata segera menuju bangku tempat tamu yang memanggilnya tadi, orang itu tidak sendirian. semakin Hinata berjalan mendekat nampaknya Hinata mengenali siapa orang duduk bersama dengan tamunya tersebut.

Loh?

Rambut jabrik, berwarna kuning, dan kini wajah orang yang ia kenali Hinata tersebut nampak sangat jelas ketika menghadap ke arahnya.

"Naruto Kun!" Batin Hinata terkejut.

Naruto tak percaya melihat siapa yang kini berjalan mendekatinya," Benarkah itu Hinata?"pikirnya

Dengan takut-takut Hinata berjalan menuju kemeja dimana Naruto dan Sasuke duduk.

"Oh tidak, apa dia melihat wajahku?" Batin Hinata. Gadis itu mencoba menutupi wajahnya dengan buku menu dan buku catatan yag dibawanya. Dia mengintip dari cela buku tersebut kalau Naruto saat ini sedang memandanginya.

"Apa dia sadar ya?" Kata Hinata lagi sambil berbisik.

Sedangkan Naruto sama sekali tidak berniat untuk mengalihkan wajahnya, semakin dekat maid itu berjalan kemeja nya semakin dia yakin jika orang itu adalah Hinata.

TidaK! Itu pasti Hinata, kali ini Naruto yakin sekali.

Bruk.

Naruto berdiri dengan tiba-tiba dari kursinya, Sasuke dan klien tersebut nampak terkejut melihat tingkah Naruto.

"Hinata!" Kata Naruto memanggil nama Hinata lagi.

"Ketahuan!" Batin Hinata berteriak "Apa yang harus kulakukan?" Hinata mencoba berpikir keras, bagaimana caranya agar dia tidak terkena masalah.

Cukup lama Naruto berdiri, menuggu respon apa yang akan di berikan oleh gadisnya tersebut.

Tidak ada respon.

Naruto menatap Hinata didepannya yang masih saja mencoba menutupi wajahnya dengan buku menu.

"Dasar, sudah ketauhan juga" Batin Naruto.

"Ada apa? Kau mengenal pelayan tersebut?" Kata klien Naruto dan Sasuke saat Naruto bediri di depan Hinata.

"Ti,tidak!" Kata Hinata dengan cepat.

Dengan cepat Naruto menolehkan kepalanya memandang Hinata. "Apa-apaan dia?" Batin Naruto.

Hinata tak berani menatap Naruto, seakan-akan jika dia menatap mata pria itu dia mungkin akan mati ditempat.

Naruto, tampak berpikir. "Aku akan ikuti permainanmu Hime" Kata Naruto dengan pelan di depan wajah Hinata, menyunggingkan senyuman di wajahnya, senyuman Lucifer.

"Ke, kenapa dia tersenyum?" Batin Hinata, sekilas ia memberanikan diri untuk melihat Naruto, oh, pasti akan terjadi sesuatu.

Set.

Naruto tiba-tiba menyentuh pergelangan tangan Hinata, membuat bola mata lavender Hinata terbelalak terkejut.

"Wah, sepertinya kau sering kesini ya?" Kata klien tersebut melihat Naruto yang tampak berani menyentuh Hinata.

Sedangkan Sasuke hanya diam melihat tingkah sahabat yang juga partner kerjanya tersebut, kalau sudah begini Naruto tidak akan bisa di hentikan, Sasuke tau itu.

"A,,apa yang-" Kata Hinata ingin megeluarkan aksi protesnya, namun bibirnya terkunci begitu melihat senyuman Naruto, oh senyuman Naruto membuat Hinata tak bisa membuatnya bicara.

Tatapan orang-orang yang berada di café tersebut sama sekali tidak mengusik Naruto, dia sama sekali tak peduli jika orang-orang disekelilingnya memandangnya sebagi seorang maniak, Hinata harus diberi pelajaran.

"kau berani sekali, aku juga ingin menyentuhnya" kata klien tesebut menatap Hinata, dia kira pelayan disini dengan mudah bisa diperlakukan seperti itu apa? Dasar maniak. #author ngamuk D:

Klien tersebut berdiri dan ingin menggapai tangan Hinata, tetapi niatnya tersebut di urungkannya ketika manic Saphire Naruto memandangnya tajam seolah berkata, jika kau menyentuhnya berarti mati!.

"Aku ini tamu istimewa, bukan begitu Hime" Kata Naruto pada Hinata. Sekarang tangan tan Naruto bergerak marangkul pinggang ramping Hinata.

"Eh! A,apa yang kau lakukan! Ini tempat umum" Kata Hinata berusaha melepaskan rangkulan Naruto.

Oh, pipi Hinata kini sudah benar-benar memerah, dan Naruto semakin suka melihat reaksi itu.

"Kenapa? aku tidak peduli" Kata Naruto lagi. Seperti ya Naruto benar-benar ingin memberikan Hinata pelajaran.

"Ba,baiklah, aku menyerah" Kata Hinata akhirnya, tentu saja dia tidak ingin mengambil resiko.

Karena aksi nekat Naruto tersebut membuat kepala pelayan disana angkat tangan. Yah, dia tidak ingin salah satu pelayan café tersebut mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

"Maaf tuan, anda tidak seharusnya melakukan hal tersebut" Kata kepala pelaya itu sopan.

Naruto menoleh pada pelayan tersebut, oh sepertinya dia terlalu terbawa suasana hingga tidak menyadari keaadaan sekitarnya.

Naruto menoleh pada kepala pelayan yang meneggurnya tadi, bukannya marah karena kegiatannya telah diganggu Naruto malah tersenyum.

"Tuan, terimakasih telah menjaga istri saya" Kata Naruto sambil memperlihatkan senyuman ramahnya, dan dengan suara yang cukup nyaring untuk didengar oleh pengunjung café lainnya.

Kepala pelayan tersebut nampak sangat terkejut dengan perkataan Naruto, dia hanya diam dan tak begitu percaya, mungkin saja kan Naruto sengaja mengatakan hal itu.

Naruto menautkan jemarinya dengan jari-jari mungil Hinata, membuat Hinata tampak terkejut untuk kedua kalinya, kemudian pria pirang tersebut mengangkat tangannya di depan sang kepala pelayan.

Si kepala pelayan tersebut nampaknya telah menghilangkan rasa curiga yang sempat ia tujukan pada Naruto ketika melihat jari manis pemuda pirang tersebut mengenakkan cincin yang sama denga dengan yang di pakai oleh pegawai barunya.

"Mulai saat ini istri saya tidak akan bekerja disini lagi" Kata Naruto masih dengan mempertahankan senyumnya.

Sedangkan para pengunjung yang berada di café tersebut Nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan Nartuo tadi, termasuk orang-orang yang tadi ingin menyentuh Hinata.

"Nona Hinata, anda bisa membicarakan hal ini dengan manager nantinya" Kata pelayan tersebut, kemudian dia membungkuk untuk undur diri.

Sepertinya pelayan tersebut tidak ingin ikut campur dengan apa yang terjadi pada pasangan suami istri tersebut, tentunya pasti ada masalah kan karena sang istri bekerja tanpa sepengetahuan suaminya.

"A,,apa yang kau lakukan" Kata Hinata setelah kepala pelayan tersebut meninggalkan mereka, dia sangat merasa tak enak hati pastinya.

"Kau harus diberi hukuman Hime" Kata Naruto dengan senyuman Lucifer melekat di wajahnya.

"Lepaskan" Kata Hinata meronta.

Naruto merenggangkan rangkulannya pada pinggang Hinata dan perlahan-lahan melepasnya.

"Ayo pulang" Kata Naruto menarik pergelangan tangan Hinata.

"Tu-"

"Dobe" akhirnya Sasuke yang sedari tadi diam buka mulut, dia menatap Naruto, dengan isyarat mengingatkan Naruto tujuan mereka berada disini, tentu saja urusan bisnis.

Naruto menepuk jidatnya, oh tentu saja dia punya urusan disini.

"Aku tidak mau pulang" Kata Hinata kemudian.

Naruto menatap Hinata.

"Memangnya kau lupa, berkat kamu aku harus bertemu dengan pemilik disini tau!" Kata Hinata lagi dengan ketus.

"Aku akan bicara dengan pemilik café ini" Kata Naruto pada Hinata.

"Tidak perlu aku bisa mengatasinya sendiri" Kata Hinata kemudian pergi meninggalkan Naruto.

"Hei!" Panggil Naruto, tapi tentu saja Hinata tidak mau mendengarannya.

Oh baiklah, aruto berpikir Hinata pasti bisa membereskannya, sedangkan dia harus melakukan apa yang harus dia lakukan disini, kalau tiak Sasuke pasti akan memberikannya kutukan mematikan karena sudah merusak rencananya.

"Maaf" Kata Naruto pada Klien tersebut kemudian duduk di dtempatnya kembali.

"Dobe, kau benar-benar membuat ulah lagi kali ini" Kata Sasuke pada Naruto yang telah duduk dikursinya.

"Heh, tidak masalah teme" Kata Naruto tersenyum pada Sasuke.

Kalau saja sedang tidak didepan klien pasti Sasuke sudah mendaratkan kepalan tangannya di kepala kuning Naruto, tidak masalah apanya, jelas-jelas tadi dia membuat keributan.

"Hei, tadi itu benar istri mu?" Kata Klien tersebut memecah pikiran Sasuke.

"Yah, anda sudah liat kan tadi" Kata Naruto.

"Tak kusangka kau mempunyai istri semanis itu" Kata Klien itu lagi.

"Tentu saja, bisakah kita membahas pekerjaan" Kata Naruto, tentu saja dia tidak ingin si klien yang dia tau maniak tersebut menyebut dan menilai Hinata, menyebalkan.

"maaf atas ketidaknyamanan ini" Kata Sasuke mencoba mendinginkan suasana.

"Yah, tidak apa" kata Klien itu lagi.

Sasuke memberikan deathglare pada Naruto, 'Jika kau tidak bisa mendapatkan proyek ini kau tau akibatnya! . Deathglare Sasuke diartikan seperti itu oleh Naruto, entah mengapa Naruto bisa membacanya.

Setelah itu mereka memulai pembicaraan yang benar-benar meyangkut pekerjaan.

.

.

Ditempat lain. Hinata berjalan menuju bagian belakang café, bermaksd langsung menemui pemilik café tersebut.

"Hei, Hinata apa yang terjadi?" Tanya salah satu maid yang saat Hinata berada dibelakang.

"Tidak ada apa-apa" Kata Hinata lagi.

"Janga bohong, aku tadi melihatmu dengan salah satu pelanngan disini, kau pasti menggodanya" Kata Maid itu lagi sinis pada Hinata.

"Apa-apa an sih orang ini" Batin Hinata, sungguh maid itu menambah mood Hinata yang sudah jelek karena Naruto jadi tambah jelek lagi.

"Anak baru, mentang-mentang ada pemuda tampan langsung cari perhatian" Kata maid itu lagi.

Ctik.

Mungkin jika diibaratkan manga, perempatan siku-siku akan muncul di pelipis Hinata.

Apa-apaan maid itu, perasaan Hinata sama sekali tidak pernah berurusan dengannya, kenapa dia bersikap seperti itu pada Hinata. Dan hello! Tampan? Siapa? Naruto? ukh, sepertinya maid itu perlu memakai kaca mata deh, tampan darimananya coba. Sekilas Hinata kembali teringat seyum Naruto yang membuatnya tampak tak bisa membalas tadi, "oh oke baiklah dia memang tampan" batin Hinata.

"Hei, kenapa kau hanya diam, tidak sopan!" Kata Maid itu lagi.

"Huh, jika aku bicara maka mungkin akan menjadi tidak sopan lagi" Batin Hinata jengkel.

"Oh, apakah anda ingin berkenalan dengan pemuda itu, saya bisa membantunya" Kata Hinata sambil memberikan senyuman manis yang dibuat-buat.

"Tidak perlu, aku bisa dengan mudah mendekati pemuda itu" Kata maid itu.

"Dasar!" Batin Hinata, kenapa dia merasa dongkol ya?

"Tapi tidak baik menganggu orang yang sudah menikah Nona" Kata Hinata lagi.

"Haha, sok tau! memangnya kamu tau darimana? Kalau begitu apa yang kamu lakukan tadi? Mendekati suami orang heh?" Kata maid makin sinis pada Hinata.

Sebenarnya salah Hinata apa sih? Maid ini sepertinya kesal sekali dengan Hinata.

"Loh, anda tidak tau? anda sedang berbicara pada istri dari pemuda tampan yang anda maksud tadi" sepertinya kesabaran Hinata telah melampaui batasnya, orang didepannya ini benar-bnenar harus diberi pelajaran agar menutup mulutnya.

"A,,ap" Maid itu tampak tak bisa berkata-kata lagi, wajahnya merah menahan amarah. Yah, dia kalah telak.

"Memangnya aku percaya begitu saja" Kata Maid itu kemudian pegi meninggalkan Hinata.

Senyum kemenangan terpampang jelas di wajah Hinata, rasa senang sekali melihat maid yang menyebalkan itu tak bisa berkutik, lagipula siapa yang cari masalah terlebih dahulu sih. Kali ini mungkin Hinata cukup tertolong karena berstatus sebagai 'Nyonya Namikaze'.

~0~

"Pak, saya ingin meminta maaf atas apa yang telah terjadi" kata Hinata. Ia kini telah berada dihadapan pemilik café tersebut.

Sungguh Hinata tidak enak hati, apalagi ini adalah hari pertamanya bekerja.

"Sayang sekali nona anda harus berhenti, padahal kami sedang membutuhkan pegawai" Kata pemilik café itu pada Hinata.

"Maaf saya tidak tau jika aka nada kejadian seperti ini" Kata Hinata lagi menyesal.

"Seharusnya kami juga menanyakannya terlebih dahulu" Kata pemilik café itu lagi.

"Saya merasa tidak enak pada anda, bagaimana jika sampai besok saya akan tetap bekerja disini, mungkin lusa aka nada yang menggantikan saya" Kata Hinata lagi pada pemilik café itu.

"Tapi, bagaimana dengan suami anda" Tanya pemilik café tersebut pada Hinata.

"Kali ini saya akan meminta izinnya, tenang saja anda tidak perlu khawatir" Kata Hinata tesenyum pada pemilik café tersebut.

"Baiklah nyonya, saya sangat berterima kasih pada anda" Kata pemilik café tersebut pada Hinata.

"Tidak apa-apa pak" Balas Hinata.

Sepertinya Hinata harus membujuk Naruto agar mengijinkannya sehari saja ke café ini, tapi bagaimana caranya ya? Sedangkan Naruto saja masih marah padanya.

Dan.

'kau harus diberi hukuman Hime'

Ukh! Hinata tiba-tiba teringat perkataan Naruto, apa yang akan dilakukan pemuda itu padanya nanti?

Huhft, rasanya Hinata tidak ingin pulang saja..

.

.

To be continue :D

.

.

Hello, saya kembali lagi #keluar dari goa

Maaf, sepertinya updatenya amat, sangat, banget, terlambat,,,haha ^^

Hontou ni gomen nasa minna *bungkik 90 derajat.

Belakangan ini saya mengalami penurunan mood yang sangat ekstrim hehe sampe-sampe dikatakan kalau aku lagi kena writer block ama teman saya #yui chan XD.

Benar-benar,,padahal laptop sampe saya bawa kemana-mana loh, tapi niat untuk menulis sama sekali tidak ada, daripada ntar jadinya malah kacau,,hehehe. Soalnya kalau mau buat fic yang fluffy hatinya harus berbunga-bunga juga kan? #plakk XD

Ehehe,,oh iya untuk chap yang lalu aku berterima kasih banget ama yui chan yang mau bantu publish chap 5 itu, solanya waktu itu lagi error trus untuk besoknya aku ga bisa update karena ada tugas,,hontou ni arigatou Yui chan :D

Oh ya, sebenarnya aku bingung Sasuke kalau marah gimana ya? Karena kupikir dia ga bakalan memberikan ceramah panjang buat Naruto yah kuganti aja dengan kata Kiasan 'kutukan',,wkwk #dichidori

Aku mau minta maaf juga untuk para readers yang setia baca fic ku, maaf belum bisa memenuhi permintaan kalian untuk lebih memanjangkan cerita per chapternya,, padahal chap sebelumnya sudah hampir 3k loh ternyata masih kurang panjang ya ^^,, tapi seperti biasa otak saya langsung tiba-tiba ngerem kalau sudah hampir 3k words #plakk *bungkuk lagi.

Baiklah, cukup sekian celotehan saya,

sepertinya kemarin ada review yang belum dibalas ,,hehehe maaf computer keburu error,,hehe

Nah, yang log ini silahkan Intip PM nya ya :D

Kemaren malah sempat curhat-curhatan ama salah satu readers,,haha ^0^7 *loh?


Thanks to :

Yondaime Namikaze Fadil, utsukushi hana-chan, Yui Kazu , Bunshin Anugrah ET , Amu B, D Phoniex 07 R, Blue-senpai ,

Hinatahimelover : Bingung? Begini,,iya dsini Hinata amnesia, karena otak itu salah satu organ yang sensitiv maka waktu kepala Hinata terbentur terjadi sesuatu yang ga berese di otaknya *hehee,, dampaknya sifat Hinata itu berubah 180 derajat, trus memori nya dia sebagian terhapus, tapi memori sebelum dia SMA masih ada, dan dia juga ga sdar kalau sifatnya ooc hehee,, begitulah ^^

Hmm,, ada readers lain jga yang belum mengerti hahah,,

putchy-chan, rienaldisjah, TigaSetangkai, Guest, Tiwie Okaza, LotuS-Mein319, vincentyagami,

Mikuru12 : khekhe,, maaf g bisa cepat hahahaa ^0^ *balik ditimpuk

TanteiFath : heu,,heu,,makasih *blushing,, baca riviewmu juga buat aku senyamsenyum hahah #plakk,,

Otousan: tuh jawabannya ada di di atas :D

*untuk silent readers juga, jika ada :D

*makasih juga buat yang nge fav n nge follow XD

Makasih semuanya sudah mau baca XD \^^/

.

.


Yosh,,seperti biasa,

Silahkan tinggalkan jejak di kotak RIVIEW :*

msconan