Shiso no saigo no resu

7.

.

.

.

Hari sudah semakin malam, saat aku selesai berlatih Teknik Rokushiki, hari ini aku merasa cukup puas dengan latihanku, karena mengalami kemajuan, aku sudah dapat menggunakan Shigan, yaitu suatu Teknik untuk menusuk dengan menggunakan jari-jari tangan, sekarang aku sudah dapat membuat lubang dengan jari-jariku walupun tak dalam, tapi setidaknya ada sedikit kemajuan karena dapat membuat lubang pada pohon besar ini.

Sudah lima bulan aku memfokuskan untuk melatih Teknik Shigan ini. Telah banyak yang aku lalui, dimana tulang jari-jariku bergeser dari tempatnya sampai bahkan jari-jariku patah. Bagaimana tidak media yang menjadi sasaran targetku adalah sebuah pohon besar yang berada di Traning Ground. Sebelumnya aku hanya mengganti gaya push-up ku dengan menggunakan kesepuluh jariku untuk menahan beban tubuhku, jika umumnya dalam push-up posisi telapak tangan terbuka atau terkepal, sekarang aku menggantinya dengan membiarkan jari-jari ku terbuka untuk menahan bobot tubuhku.

Jika saja Nii-chan tak mempelajari ilmu medis tanpa menggunakan cakra dan regenerasi tubuhku yang abnormal sudah di pastikan tangan ku akan sembuh dalam waktu yang lama.

Nii-chan pernah berkata padaku dulu saat aku masih sering mencoba untuk menghentikan Kira keluar pada malam hari, katanya tubuhku memiliki regenerasi tubuh yang sangat cepat, karena setelah Nii-chan mengobati luka yang di hasilkan oleh cakaran serta gigitan Kira, ke esok paginya luka itu sudah kering walau meninggalkan bekas. Jika aku membuka baju ku sudah pasti akan banyak sekali bekas luka yang di akibatkan oleh Kira. Beruntung hanya sedikit luka yang dapat terlihat seperti 3 garis panjang bekas cakaran Kira, yang sampai siku.

"akhhh aku jadi malas pulang kerumah, saat ini pasti rumah sepi sekali, pasti hanya ada Kucing pemalas itu di kamarku, dan sebentar lagi dia juga akan keluar entah kemana" gumamku, dan kemudian merebahkan tubuhku di rumput Traning Ground.

"Aaa'haaahhh, aku dapat ide, kenapa tidak aku ikuti Kira saja malam ini, sudah sejak lama aku penasaran kemana kucing pemalas itu pergi saat malam hari" aku langsung bangun dari tidurku, kemudian aku langsung pergi meninggalkan Traning Ground menuju rumahku.

~oOo~

.

.

.

~Change Scene~

Di dalam sebuah ruangan bawah tanah yang berada di tengah-tengah Desa Konoha, kini terlihat seorang wanita bersurai merah tengah merintih kesakitan di atas sebuah meja batu. Ada 3 orang lainnya di sekitar wanita yang tengah merintih kesakitan.

"Biwako-sama, bagaimana ini.. Kushina sepertinya sangat kesakitan" ucap panik seorang pria dengan surai pirangnya. Pada wanita tua yang saat ini sedang berada di dekat wanita yang tengah kesakitan bernama Kushina.

"Astaga Minato..kau itu terlalu berisik, biarkan aku berkonsentrasi dalam persalinan istrimu ini" Wanita tua yang bernama Biwako itu nampak kesal dengan Pria bersurai pirang yang berjalan kesana kemari dengan mulut yang berbicara dengan raut wajah panik.

"Minato.. kau aku biarkan untuk berada disini karena untuk memperbaiki segel Kyuubi yang melemah saat anakmu lahir nanti, jadi tetaplah tenang sampai nanti giliran tugasmu" ucap Istri dari Hokage Ketiga itu dengan nada keras, dirinya tak bisa berkonsentrasi untuk membantu Kushina melahirkan kalau Minato terus berjalan berkeliling ruang sambil berbicara tak jelas.

"Arghhhh…..sakit sekali Biwako-sama…." Kushina nampak kesakitan saat mendorong keluar bayinya dari dalam rahim. "Fuuu….fuuhhh….Argghhhh…."

"Iya terus dorong Kushina-chan, aku sudah melihat kepala bayimu" ucap Biwako memberi semangat pada Kushina.

"A…anata….sakit sekali.. Argghhhh…" Minato yang merasa di panggil kemudian mendekat kearah istrinya, dia kemudian mengenggam tangan Kushina dan tangan sebelahnya membelai surai merah istrinya itu.

"Ayoo semangat Tsuma…sebentar lagi anak kita akan lahir"

"Arghhh…Minato ini sakit seka…Arghhhh…."

Oekk…

Oekkk…

Ucapan Kushina berhenti ketika mendengar suara tangisan yang sangat ia nanti-nantikan. Dirinya merasa bahagia ketika mendengar suara tangisan dari bayinya. Kemudian Biwako membawa bayi tersebut untuk dibersihkan dengan air yang yang telah di sediakan oleh assistennya.

"Selamat Kushina-chan, Minato-kun bayi kalian berjenis kelamin laki-laki" Terdengar suara Biwako yang menggendong bayi laki-laki bersurai pirang dan bermanik Violet. Ada 3 goresan halus pada kedua pipi bayi laki-laki itu, menambahkan kesan imut dan lucu. Kemudain saat berjalan mendekati pasangan itu ada sebuah portal muncul di belakang Biwako.

Pasangan suami isteri yang tengah bahagia itu di buat kaget dengan secara tiba-tiba ada seseorang dengan topeng dan jubah berwarna hitam itu berada di belakang Biwako yang sedang menggendong bayi laki-laki mereka.

"BIWAKO-SAMA AWAS…!" teriak Minato memperingatkan, namun terlambat sosok bertopeng tersebut langsung menyayat leher istri Hokage Ketiga tersebut. Istri dari Sandaime Hokage itu langsung tewas di tempat, sebelum tubuhnya terjatuh sosok bertopeng itu langsung mengambil bayi dalam gendongannya.

Wushhh….sebuah kunai berhasil dihindari oleh sosok bertopeng itu, rupanya Minato yang melemparkan kunai miliknya ke arah sosok bertopeng itu. "Siapa kau…?" ucap Minato tajam, manik birunya mengkilat marah pada sosok bertopeng yang saat ini menggendong putranya.

"Lepaskan bayi ku, berengsek…" sosok bertopeng itu nampak terkejut ketika mendengar suara orang di belakangnya, yang ternyata adalah Minato yang saat ini tengah mengarahkan kaki kanannya kearah kepala sosok bertopeng tersebut.

Krakk….

Wushhh…

Terdengar suara retakan pada tangan kanan sosok bertopeng tersebut saat menahan tendangan dari Hokage Keempat itu. Sosok itu tak pernah menyangka bahwa kabar tentang kecepatan pemimpin Desa Konoha itu benar-benar di luar akal.

Dirinya masih ingat jelas saat Hokage Ke empat itu masih dihadapannya sedang berbicara, namun dia sedikit terkejut saat mendengar suara dari belakang yang ternyata adalah Hokage ke empat yang tadi masih di hadapanya. Dia tak pernah melihat Sang Hokage itu berpindah tempat, dirinya mengalihkan pandangan karena mendengar suara dari belakang dan bagaimana mungkin orang yang ada di depannya tiba-tiba sudah ada di belakangnya sedang mengayunkan tendangan kaki kanan yang penuh cakra.

"Kau memang sangat cepat Namikaze" ucap Sosok bertopeng itu dengan tangan kiri yang masih menggendong seorang bayi laki-laki, sementara tangan kananya hanya menjuntai kebawah karena patah setelah menahan tendangan yang di lepaskan oleh Hokage ke empat itu.

"Katakan siapa kau, dan apa mau mu ?" ucap Minato lagi dengan tajam pada sosok bertopeng itu. "Aku bukanlah siapa-siapa, dan tujuanku kesini adalah untuk mengambil hewan peliharaan milik Tuanku Uchiha Madara"

"Hentikan leluconmu keparat, Uchiha Madara sudah lama tewas setelah bertarung dengan Hokage Pertama" Minato sangat kesal dengan ucapan dari sosok bertopeng itu. Madara katanya, cihhh dia membawa sebuah nama yang telah lama mati.

"Khekhe lucu sekali Namikaze, kau bilang Tuan ku mati haah.. jangan berkata sesuatu yang lucu seperti itu, Jika memang Tuanku telah mati seperti yang di kabarkan oleh semua orang, lalu dimana jasad dari Tuanku yang katanya tewas saat bertarung dengan Shodaime Hokage, haahhh…?" ucap sosok bertopeng itu dengan nada mengejek.

"Persetan dengan leluhur Uchiha itu, sekarang aku mau kembalikan putraku" Minato kemudian maju dengan cepat menuju sosok bertopeng tersebut, ada kunai khusus miliknya yang saat ini tergenggam erat di tangan kanannya.

Wushh... Minato melemparkan kunai cabang tiga miliknya kearah sosok itu, saat kunai cabang tiga itu melesat maju hampir mengenai kepala sosok bertopeng itu , Minato kemudian menghilang, namun bersamaan dengan menghilangnya Minato ada sebuah portal terbuka sehingga membuat kunai miliknya tertelan portal tersebut.

Tertelannya Kunai miliknya ke sebuah portal dimensi, membuat Hiraishin miliknya jadi kacau, bentrokan antara jutsu ruang waktu membuat Minato terlempar masuk ke suatu tempat

Sementara sosok bertopeng tersebut hanya terkekeh pelan saat tak melihat Minato muncul di dekatnya, kemudian sosok itu mendekati Kushina yang tengah terbaring lemah karena proses melahirkan.

"Saaaa, kita mulai proses pengeluaran Kyuubi dari Jinchuurikinya" Sosok bertopeng itu kemudian menaruh telapak tangan kanannya yang sudah patah di perut mulus milik Kushina, setelah telapak tangan tersebut menempel dengan kulit perut Kushina sosok bertopeng tersebut mengalirkan cakra miliknya, tak lama kemudian muncullah sebuah pola rumit dari fuuinjutsu pengekang milik Clan Uzumaki. Dari pola fuuinjutsu itu kemudian keluar semacam cahaya kemarahan, pola dari fuuinjutsu itu bergerak berputar dengan cepat sampai akhirnya terlihat seperti lubang hitam kecil menggantikan pola fuuinjutsu tersebut.

Dari lubang tersebut keluar semacam cairan berwarna hitam dengan asap yang mengepul. Kushina bergerak kesana kemari karena merasakan sakit yang luar biasa dari bocornya segel fuuin pengekang Kyuubi.

"Arggghhhh...Minatoooo..." teriak Kushina disaat dirinya sudah hampir kehilangan kesadaran. "Khekhe, kau memanggil orang yang telang menghilang dari si..."

Crashhhh...

Jleb...

Ucapan sosok bertopeng berhenti ketika tangan kanan yang menempel di perut milik Kushina itu terputus karena terkena tebasan benda tanjam. Belum sempat tersadar dari keterkejutannya, ada sebuah kunai cabang tiga yang langsung di tancapkan pada leher sosok bertopeng tersebut.

"Choghkk..B..bagaimana mungkin Choghkk..." mata sosok bertopeng itu melotot kaget, tubuhnnya limbung, karena serangan tiba-tiba yang membuat organ vitalnya hancur. Kini di hadapannya ada seorang pria bersurai pirang dengan pakaian yang compang camping tengah menggendong bayi di sebelah tangan kirinya, sementara tangan kanannya terlihat ada darah yang menetes dari sana.

"Syukurlah aku berhasil keluar dari ruang dimensi tersebut, jika saja aku tak menandai tubuh istriku dengan segel Hiraishin aku pasti sudah hancur karena tekanan dari dimensi aneh itu" ucap Minato setelah mendapatkan putranya kembali. Dia melirik sebentar pada kondisi istrinya yang tengah pingsan, segel pada perut istrinya sudah bocor dengan parah, menyebabkan cakra hitam milik Kyuubi keluar dari lubang segel yang bocor tersebut.

"Khekhe,, kau terlambat nee Namikaze, Kyuubi sudah tidak dapat lagi kau kekang dengan segel itu" ucap sosok bertopeng itu dengan nada mengejek, kemudian muncul sebuah portal yang pelahan menelan tubuh sosok bertopeng tersebut. "Ingat ini Namikaze, cepat atau lambat suatu hari nanti seekor hewan pliharaan pasti akan kembali pada pemiliknya dan kau tak akan bisa mengehentikan itu saat waktunya tiba" ucapan terakhir dari sosok bertopeng itu sebelum dirinya lenyap tertelan portal.

Brukh…

"Hosh… Hosh… Sial tubuhku sudah terluka parah dan cakraku tinggal sedikit" Minato jatuh dengan berlutut, tangan kirinya yang menggendong putranya bergetar halus, sudah sejak keluar dari lubang dimensi tersebut dirinya menahan sakit yang luar biasa pada bagian belakang tubuhnya

Jika di lihat bagian tubuh belakang Minato sangat menyeramkan, banyak kulit yang tampak terlepas dari tubuhnya, sudah tak terhitung berapa banyak darah yang keluar dari luka semacam itu. Saat di dalam lubang dimensi tersebut tubuh Minato seakan tersedot semakin dalam, tapi dia bersihkeras untuk bertahan dengan menggunakan cakranya, sampai akhirnya dirinya berhasil menyambungkan koneksi jutsu Hiraisihin miliknya pada segel yang di tanamkan pada Kushina, saat ingin keluar menggunakan Hiraishin diri Minato seakan tertarik dua arah, Hiraishin kedepan dan tarikan dalam lubang dimensi menarik bagian belakangnya. Sampai akhirnya dia mengeluarkan sebagian besar cakranya untuk memperkuat tarikan Jutsu Hiraishin menyebabkan kulit pada punggungnya terkoyak karena tarikan dimensi di belakangnya.

"Kushina, bersabarlah sebentar, aku kan membawa putra kita dulu ketempat aman" ucap Minato kemudian menghilang meninggalkan Kushina yang tengah pingsan dengan segel yang bocor.

.

.

.

~Change Scene~

Naruto Pov

Brrrrrr….

"Dingin sekali malam ini, Oh ayolah kemana sebenarnya tujuan kucing ini" saat ini aku tengah membuntuti Kira, aku berada beberapa meter darinya. Kira berjalan dengan santai melewati gang-gang sempit lau keluar lagi menuju jalan besar yang biasa di lalui oleh warga desa. Sampai pada akhirnya Kira menuju sebuah tempat yang sudah taka sing lagi bagi ku, yaitu Hutan Kematian.

"Oi..Oi apa yang dia lakukan dengan masuk kedalam Hutan Kematian malam-malam begini" aku masih diam di tempatku saat melihat Kira masuk melalui cela kawat-kawat pembatas hutan. Sebenarnya aku takut untuk masuk kedalam hutan, aku biasanya hanya sampai kawat-kawat pembatas saja, belum pernah terpikirakan oleh ku untuk masuk kedalam hutan yang saat siang hari saja sudah menyeramkan bagiku.

"Ahhh terserahlah aku harus bisa menuntaskan rasa penasaranku" aku kemudian menyelinap, mendekati kawat-kawat pembatas itu, aku memanjat kawat-kawat itu untuk bisa masuk kedalam hutan mengikuti Kira. Beruntung Shinobi penjaga hutan sedang tidak ada di posnya, sehingga aku dapat masuk dengan mudah.

Setelah masuk aku segera berlari kecil untuk mengejar Kira yang sudah tak terlihat lagi, sepanjang perjalanan aku menemukan hal yang aneh dimana banyak hewan-hewan seperti rusa, tupai, dan kelinci nampak tidak sadarkan diri, ku pikir mereka mati tapi aku masih melihat perut mereka bergerak tanda mereka masih bernafas. Tapi apa yang menyebabkan hal ini.

"Akh lupakan sekarang waktunya mengejar Kira lebih dulu, Kucing pemalas itu sudah semakin jauh di depan sana" aku terus berjalan mengikuti Kira, tak jarang dalam setiap jalur perjalanan aku menemukan hewan-hewan nampak tak sadarkan diri. Sebenarnya apa yang terjadi dengan hewan-hewan ini, kenapa mereka bisa pingsan seperti ini.

DUARRHHHH…!

Aku langsung berhenti ketika mendengar suara ledakan yang begitu besar di belakangku, tepatnya berada di desa. "Ledakan apa itu…?" aku masih terus memandangi arah dimana ledakan itu berasal, pandangan ku melihat sebuah asap hitam tebal yang membumbung tinggi di langit. Kemudian aku beralih ke arah Kira di depan sana, dan nampaknya Kira juga terkejut dengan suara ledakan barusan, aku dapat melihat Kira nampak waspada, matanya bersinar di dalam gelapnya Hutan Kematian.

Aku langsung berlari untuk keluar dari Hutan Kematian, rasa penasaranku akan ledakan lebih besar ketimbang mengikuti aktivitas Kira. Aku terus berlari di antara pohon-pohon besar yang tumbuh disana, sampai aku dapat melihat cahaya di depan.

Setelah keluar aku berlari kembali untuk melihat apa yang terjadi, dan sampai akhirnya tubuhku kaku, terkejut bukan main saat melihat Monster berjenis rubah ekor sembilan tengah mengamuk di tengah desa, tubuh besarnya tak menghalangi monster rubah itu untuk bergerak kesana-kemari untuk mengahancurkan bangunan-bangunan yang ada di Desa.

GROAAHHH…..

Aku menutup telingaku ketika mendengar raungan dari monster rubah berekor sembilan itu, sial makhluk apa itu, Monter Rubah it uterus meratakan banguna-banguna dengan kaki dan sembilan ekornya. Aku juga melihat beberapa Shinobi tengah melemparkan kunai peledak mereka kearah Monster Rubah tersebut.

Aku mendengar suara dari penduduk berteriak ketakutan, pandangan ku terus terpaku pada kehancuran yang di sebabkan oleh Monster Rubah tersebut, kesembilan ekornya bergerak liar menyapu semua bangunan yang ada di dekatnya, puing-puing bangunan berterbangan kesana kemari.

Aku jatuh terduduk, tubuh ku bergetar hebat tak kala melihat salah satu bongkahan bangunan mengarah kesini, ketempat dimana aku berdiri dekat dengan kawat-kawat pembatas Hutan Kematian. Sial ini lebih parah dari saat aku melihat pembunuhan pertamaku, kaki dan tubuhku bagaikan mati rasa, diam bagai patung, hanya dapat pasrah dengan menutup mataku, pasrah menerima bongkahan bangunan yang akan menimpaku.

Blarrrr…..

Aku dapat mendengar suara benturan keras dari bongkahan yang mengarah padaku, namun ada yang aneh, aku membuka mata saat tak merasakan sakit sedikitpun.

Gerrrhhh…

"Ki..Kira..k..kau?" aku sangat terkejut ketika megetahui bahwa Kira lah yang melindungiku dari bongkahan bangunan itu. Warna bulu-bulu Kira saat ini hitam legam, matanya menyala-nyala, ekornya bergerak liar kesana kemari.

Kaaakhhhhh…

Kira mendesis marah kepada Monster Rubah yang saat ini tengah menghancurkan kota. Namun entah kenapa Monter Rubah tersebut mengalihkan pandangannya pada ku dan Kira. Monster Rubah tersebut seperti sangat marah melihat Kira karena Monster Rubah teresebut langsung mengibaskan salah satu ekornya ke arahku. Aku yang melihat sangat ketakutan namun Kira berbalik arah menatapku, dan langsung mengigit kerah belakang baju ku.

Aku terhindar karena tepat setelah Kira menarik ku, ekor rubah itu melewatiku, hembusan angin dari ekornya membuat aku dan Kira terpental kebelakang.

Jleb…

Khooaghkkk…..

Aku merasakan sakit di bagian punggung dan perutku. Aku tersangkut oleh kawat-kawat pembatas hutan, dan salah satu kayu penyanggah itu patah menyebabkan aku tertusuk di bagian belakang sampai menembus perutku.

"arghhh kusooo sakit sekali" pandangan mataku beralih kearah dimana Kira terpental "syukurlah Kira kau selamat" aku mulai menggerakan tubuhku mencoba untuk terlepas dari kayu penyanggah yang menembus perutku.

Hosh..Hoshh..Arghhhh….

Crassh….

Darah keluar begitu banyak dari lubang setelah kayu penyanggah itu terlepas.

Brukkhh….

Akhhh sial pandanganku mulai kabur.. aku terjatuh setelah telepas dari kayu penyangga tersebut. Kira kembali berdiri di depanku, entah karena aku kehilangan darah begitu banyak sampai membuatku berhalusinasi, tapi tubuh Kira tidak seperti biasanya, tak ada lagi bulu-bulu orange kemerahan sekarang di gantikan dengan bulu-bulu hitam legam sampai ekornya. Postur tubuhnya sedikit besar seperti seekor anjing dewasa.

Bragh…

Bragh…

Aku kembali membuka mataku, saat merasakan getaran di sekitarku, mataku seakan ingin keluar dari tempatnya saat melihat Monster Rubah itu berada di dekatku.

Kesadaranku di paksa kembali oleh rasa keterkejutanku melihat sosok monster besar, aku dapat melihat mata dan gigi-giginya yang tajam itu. Aku tak tahu apa alasannya Monster Rubah ini nampak tak suka dengan Kira. Terlihat jelas dari pandangan matanya, kemudian Moster Rubah itu mengangkat salah satu kaki depannya menggerakan dengan cepat ke arah Kira yang saat ini berada di depanku.

"Tii…Tidakkkk…Kiraaaaa !"

Jleb…

Aku melihat Kira tertusuk oleh kuku-kuku tajam milik Mosnter Rubah tersebut. Namun disaat yang sama setelah Kira tertusuk oleh kuku milik Monster Rubah itu, keduanya menghilang.

Sringg…

aku masih dapat melihat berkas cahaya kuning disana, "I…Ini Jurus Minato jii-san" pandangan ku mengedar mencari keberadaan Kira, tapi tak kutemukan, sepertinya Kira ikut berpindah tempat dengan Monster Rubah itu.

BLAARRRRR…..

Aku melihat di arah Hutan Kematian, sepertinya suara tersebut berasal dari sana "Arghh.. aku harus menyelamatkan Kira" dengan tertatih-tatih aku melangkahkan kaki masuk kedalam Hutan Kematian, darah dari lubang bekas tusukan kayu penyanggah itu nampak sudah mulai mengering, pakaian ku sudah hancur, hanya menyisahkan celana pendek berwarna hitam yang juga compang camping.

Aku terus melangkah perlahan aku harus menjaga kesadaranku agar bisa sampai menuju tempat Kira.

Duaaarrrhhh…

Groaaahhh….

Suara ledakan dan raungan dari Monster Rubah itu sudah semakin dekat terdengar, aku terus memaksakan langkahku, untuk menuju tempat pertempuran. Semakin dekat dengan tempat pertempuran itu, semakin keras juga suara ledakan dan raungan dari Monster Rubah tersebut.

Setelah sampai di tempat pertempuran aku melihat banyak kawah tercipta di sana, dapat aku lihat Minato jii-san mengeluarkan bola berwarna biru dengan ukuran yang besar lalu di hantamkan pada tubuh Monster Rubah tersebut.

Monster Rubah tersebut terikat oleh banyak rantai berwarna ke emasan, ternyata bukan hanya Minato jii-san yang bertarung dengan Monster Rubah itu, rupanya ada Kushina baa-san yang tengah terduduk dekat dengan sebuah meja batu berwarna hitam dengan ukiran-ukiran aneh berada di sana.

Pandangan ku mencari keberadaaan Kira, tapi aku tak menemukan kucing pemalas itu sampai pada akhirnya pandangan tertuju pada seonggok tubuh yang ku kenali berada di bawah pohon besar dekat meja batu tersebut.

"KIRAA !" teriaku ketika menyadari bahwa itu adalah kucing pemalas milik ku. aku berlari dengan tergopoh-gopoh mendekati Pohon tersebut. Tepat setelah aku berlari sebuah rantai muncul di belakangku, aku sekedar menengok kebelakang tanpa menghentikan langkahku, aku dapat melihat adanya sebuah kubah besar muncul secara tiba-tiba seperti mengurung aku, Kushina baa-san, Minato jii-san, Kira dan Monster Rubah di dalamnya.

"A…Astaga Naru-chan se..sedang apa kau disini" aku mendegar suara Kushina baa-san nampak terkejut dengan kehadiranku. Aku tak memperdulikan Kushina baa-san yang nampak berusaha untuk bangun. Aku melewati Kushina baa-san, pandangan ku focus pada tubuh kucing pemalas kesayanganku.

"K..Kira, kau tak apa, hey bangunlah" ucapku ketika sudah melihat Kira sedang tak sadarkan diri, bulu-bulu hitamnya sudah tidak muncul dan ukuran tubuhnya sudah kembali seperti kucing pada umumnya. Tapi aku dapat melihat sebuah lubang menganga besar di sekitar perutnya.

Kira nampak susah untuk bernafas terlihat dari gerakan tubuhnya yang begitu lemah, aku kemudian mengangkat tubuh yang telah kembali kecil itu dalam pelukan. Saat itu aku menangis, tanpa memperdulikan kondisi yang di sekitarku.

Chough…..

aku tersadar ketika mendengar suara dari samping kiri ku, aku melihatnya dan kemudian tubuhku seperti tidak memiliki tulang, aku lemas benar-benar lemas, air mataku kembali mengalir deras.

Saat ini aku melihat Minato jii-san dan Kushina baa-san tertusuk oleh kuku salah satu jari Monster Rubah tersebut. "Ti…tidak..Tidak mungkin"

"Jii-san, baa-san hiks…hiks..Tidak… ini pasti hanya mimpi"

Aku nampak berjalan dengan menyeret kedua kaki ku, mendekati mereka berdua yang nampak seperti melindungi sesuatu yang berada di atas meja batu tersebut.

"Naa..choughh…Naru-chan, me…menjauh dari sini" ucap Kuushina baa-san dengan darah yang keluar dari mulutnya, aku hanya menggelengkan kepala, aku masih terus melangakah mendekati mereka berdua.

"BERHEN…Choughh…TI Naruto, hah…hah…T..Tetap berada disana.." kali ini Minato Jii-san yang membentak ku menyuruh aku untuk tidak mendekat.

Aku masih terus menggelengkan kepala ku, air mata terus mengalir deras turun dari kedua mataku, aku bejalan tertatih tatih karena lubang di perut bagian kananku mengeluarkan darah kembali, pandanganku masih terus melihat kearah dua orang keluargaku, sambil terus bergumam tidak,,tidak,, ini hanya mimpi,,,tidak, hanya itu yang aku gumamkan sejak tadi, sementara Kira masih dalam dekapanku aku terus berjalan pelan kearah kedua orang yang aku sayangi punggung dan perutnya tertusuk oleh kuku tajam dari Monster Rubah itu.

Pandanganku beralih kearah Monster Rubah yang tersebut dengan tatapan marah dan benci yang teramat dalam pada sosok monster tersebut. Tapi aku kembali di buat terkejut saat melihat Monster Rubah mengerakan salah satu jarinya yang lain untuk menusuk sesuatu di atas meja batu itu yang aku ketahui adalah seorang bayi bersurai pirang dengan 3 guratan halus di kedua pipinya.

"Tidak… Tidakkk.. Tidak.. Hentikan….aku mohon behentilah, HENTIKAN !" teriaku panik, sampai akhirnya aku tak sadarkan diri karena tidak kuat melihat hal selanjutnya yang akan terjadi.

Naruto Pov End

Beberapa saat sebelum Naruto tak sadarkan diri, terlihat ada beberapa orang di luar kekkai yang di buat oleh Kushina, mereka adalah para Shinobi Konoha dan Sandaime Hokage.

Trang…. Suara benturan dari kunai yang di tusukan pada kekkai oleh salah satu Shinobi.

"Sial kita terlambat…" ucapan berat penuh penyesalan dari seorang pria tua, yang bernama Sarutobi Hiruzen, dia adalah mantan Hokage Ketiga 5 tahun yang lalu. Saat ini dia sangat menyesal karena keterlambatannya menuju lokasi, Yondaime dan istri harus bertarung melawan Kyuubi sendirian.

"Sandaime-sama bagaimana ini, kenapa kita tidak dapat masuk kedalam kekkai ini" ucap salah satu Shinobi Konoha yang tadi mencoba menusuk kan kunainya pada kekkai..

"Percuma ini merupakan Kekkai khusus milik Clan Uzumaki yang di keluarkan oleh Kushina-chan, Kekkai ini sangat kuat bahkan mampu untuk mengurung seekor Biju di dalamnya"

"Sa…Sandaime-sama A..apa itu yang muncul di belakang Yondaime" ucap Shinobi Konoha yang lainnya ketika muncul sesuatu sosok yang menyeramkan di belakang Hokage mereka.

"Kusooo,, Minato benar-benar sudah keterlaluan sampai mengeluarkan Shikifujin, apa dia bermaksud membawa Kyuubi mati bersamanya…..tu..tunggu lihat ada bayi diatas altar jangan-jangan…."

"Minato hentikan jangan melakukan hal yang gila seperti itu !" teriak Sandaime yang mulai sadar apa yang akan di lakukan oleh Hokage ke empat itu. Dia bermaksud untuk menjadikan anaknya sebagai Jinchuuriki Kyuubi yang baru.

"Enma apa kau tak bisa menghancurkan kekkai ini" tanya Sandaime pada Tongkat besar berwana hitam di sampingnya.

"Kau tahu sendiri Saru,, jika Fuinjutsu milik Uzumaki ini bahkan tak dapat di hancurkan oleh Bijudama sekalipun, jadi bagaimana mungkin aku bisa" ucap Tongkat Hitam tersebut.

"I…Itu siapa, siapa anak kecil yang ada di dekat Minato dan Kushina" Sandaime sangat terkejut ketika menemukan ada orang lain selain keluarga Yondaime. Sandaime menatap para Shinobinya untuk mengetahui siapa bocah bersurai silver yang berada bersama Yondaime dan isterinya.

"Itu adalah Naruto Hatake, anak itu merupakan anak dari Sakumo Hatake" ucap salah seorang Anbu yang juga berada di sana.

"Berarti dia adik Kakashi, lalu dimana Kakashi saat ini kenapa membiarkan seorang bocah berada di dalam Hutan Kematian tengah malam begini" tanya Sandaime kembali pada Anbu yang tadi menyebutkan identitas Naruto.

"Kakashi sedang menjalankan misi ke Desa Sunagakure bersama Anko dan Sarutobi Asuma" ucap Anbu itu kembali.

Sandaime nampak berpikir keras tentang siapa Naruto Hatake ini, seingatnya Sakumo hanya meninggalkan Kakashi, apa dia mengahamili wanita lain. "hentikan pikiran laknatmu itu Saru ini bukan waktu yang tepat" Enma sebagai Kuchiyose memiliki link perasaan dan pemikiran yang sama pada pemiliknya, sehingga apa yang di pikirkan oleh pemiliknya Enma dapat mengetahui.

"Apa kau tak ingat siapa anak itu, itu adalah bocah yang di temukan oleh Kakashi saat Perang Dunia Shinobi 3" "Oi..Oi Saru lihatlah bocah itu berteriak pada Kyuubi"

"Anoo.. Saru kau mendengarku…" Tongkat Hitam tersebut nampak bingung ketika tak mendapatkan tanggapan dari orang yang dia panggil.

Pooff…

Tongkat hitam itu berubah menjadi seekor Kera berwarna putih dengan ikat kepala berlambangan Konoha, jubahnya berwana kuning dengan loreng-loreng hitam.

Enma nampak terkejut karena melihat semua orang termasuk Kyuubi berhenti bergerak. Dirinya dibuat bingung dengan fenomena ini, waktu seakan berhenti, dirinya juga melihat bahkan angin ikut berhenti disekitar Hutan Kematian.

"Apa yang sedang terjadi di sini..?"

~Lokasi berpindah di tengah Desa

Saat ini kondisi di desa juga sama dengan kondisi di dalam hutan kematian, hanya ada beberapa hewan kuchiyose yang dapat bergerak, hewan-hewan itu juga nampak bingung dengan kondisi saat ini, semua orang berhenti bergerak, api yang membakar beberapa bangunan juga nampak berhenti bergerak. Bahkan ada beberapa Shinobi yang berheti bergerak saat dirinya tengah melompat, membuat beberapa Shinobi nampak seperti melayang di udara. Air dari Jutsu Suiton juga nampak berhenti di udara.

"Apa ini, kenapa semuanya berhenti, seakan waktu berhenti bergerak" ucap dari salah satu Kuchiyose Kura-Kura dengan ikat kepala tergantung di lehernya.

Wilayah Uchiha

Kondisi di komplek Uchiha juga sama, semua yang berada di dalamnya berhenti bergerak, disalah satu rumah terlihat anak berusia 5 tahun tengah menggedong bayi laki-laki, keduanya sama-sama terhenti, anak yang lebih dewasa berhenti ketika dirinya melihat kearah pusat Desa Konoha, sementara bayi laki-laki berhenti bergerak dan menangis di atas gendongan bocah tersebut.

~Lokasi berbeda di tengah Hutan perbatasan antara Konohagakure dan Sunagakure

Aaaahhhhh….Haahhh…Ahhh…

"Arghh…grhmmm…lebih cepat Kakashi-Senpai Haahhh…Cloghkkk…Cloghkkk….Hmmm" terlihat 3 orang sedang dalam keadaaan yang sangat panas, bahkan dinginnya angin malam di tak membuat suasana panas yang diciptakan oleh ketiga orang itu berkurang.

Dua orang pria dan satu gadis bersurai ungu gelap sedang mengejar puncak kenikmatan bersama. Tapi ada yang aneh dari pria bersurai silver yang bergerak di belakang sang wanita, dirinya nampak merasakan sesuatu perasaan yang aneh dan mengganggu.

Merasa gerakan di belakangnya semakin pelan sang perempuan mengelepaskan sesuatu yang berada di dalam mulutnya, "Ada apa Kakashi-Senpai" tanyanya pada pria di belakangnya. Sementara itu Pria di belakangnya nampak berhenti bergerak, hilang sudah gairahnya, gairahnya malam ini dikalahkan oleh perasaan yang tak mengenakan.

"Ada apa Kakashi kenapa berhenti…?" tanya seorang pria bersurai hitam dengan rambut-rambut halus yang berada di sebagian wajahnya, saat melihat rekannya berhenti dan kembali menggunakan pakaiannya.

"Tidak apa-apa, kau lanjutkanlah, moodku tiba-tiba berubah" ucap pria bersurai silver itu sambil menjauh dari kedua rekannya yang kembali melakukan kegiatan panas itu. Pria bersurai silver itu berjalan menuju sungai di dekat camp peristrahatan mereka.

Kemudian dirinya membasuh wajahnya dengan air dari sungai tersebut, 'sial perasaan aneh apa ini, kenapa aku begitu mencemaskan adik bodohku yang ada di desa' bathinnya bertanya-tanya tentang perasaan cemas yang tiba-tiba hinggap pada hatinya.

"Semoga kau baik-baik saja Naruto" gumamnya dengan memandang pantulan bulan dari sungai.

~Unknown Place

Terlihat seorang gadis bersurai silver panjang yang berada di sebuah rumah pohon, gadis berusia 5 tahun tersebut nampak terkejut saat manik berwarna birunya manangkap seseuatu yang ganjil, dia melihat ada salah satu kertas yang nampak sedang terbakar halus di dalam kotak kayu.

"Salah satu saudaraku sedang dalam bahaya" gumamnya pelan,

lalu dirinya mengambil kertas yang terbakar tersebut. Kemudian dirinya mengalihkan pandangan pada bulan yang nampak besar saat dia berada diatas rumah pohon ini.

~Unknown Place

Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun sedang berada di salah satu ruangan, surai silvernya nampak basah dan berantakan, menutupi mata yang memiliki warna berbeda satu sama lainnya. Dirinya memandang sebuah kertas berwarna putih sedang terbakar halus. Bocah tersebut mengambil kertas itu, "Satu saudaraku saat ini dalam kondisi yang membahayakan nyawanya" ucapnya ketika melihat kertas tersebut terbakar secara lambat.

"Siapapun kau dan dimanapun kau saat ini, aku harap kau selamat agar nantinya kita dapat bertemu wahai saudaraku" gumamnya lirih, kemudian dirinya memandang keluar jendela dimana salju turun dengan lebatnya.

"Bertahanlah wahai para Saudaraku, bertahanlah untuk beberapa tahun lagi sampai nanti kita semua dapat bertemu, dan jadi lah kuat"

Ucap kedua anak berbeda gender bersamaan itu, keduanya sambil melihat latar yang berbeda, di genggaman mereka hanya ada satu kertas yang sama dalam kondisi terbakar secara halus.

Hari itu hari dimana seorang bayi dari pasangan Hokage lahir, Kyuubi menghancurkan desa Konoha, dan fenomena aneh muncul dimana semua yang ada di dalam Desa Konoha berhenti bergerak, waktu berhenti membekukan semuanya termasuk angin, api, dan air.

.

.

.

~CUT~