Six Reason for Love you

.

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

Six Reason for Love You © Shigeyuki Zero

.

Mumpung author lagi lancar ngetik huhuy

Typo, OOC, overdose, menuju ke rating M

Karena terus didoktrin.. author juga jadi dukung Rivamika LOL

Tapi masih ngambang kok pairing utamanya wkwk

Mungkin akan ada banyak percakapan disini hehe.. karena author lagi males main deskripsi, lagi liar di obrolan ehe

Btw, maafkan author yang ga konsisten pake keterangan tanggal atau jam.. author lelah mengingat tanggal hehehe

Playlist : sedikit Hoshi ni Negai wo by Aho no Sakata x Mafumafu lagi

Sedikit Yume no mata Yume by Mafumafu

Happy reading

RnR please

.

.

chapter 7

.

Aitakute, aitakute, ima aitakute

(I want to see you, I want to see you, I want to see you now)

22.29

Hampir setengah jam lagi menuju pesta kembang api di pusat kota. Dan akhirnya Levi harus menekan keinginannya untuk menepati janji. Nyatanya ia tetap disini, di apartemennya, menemani Petra. Banyak yang sudah mereka obrolkan sampai saat ini –kecuali tentang kenyataan kesembuhan mata wanita itu-, kopi yang sempat tersuguh pun sudah habis. Menyisakan dua cangkir yang mendingin.

Seiring berjalannya waktu, Levi semakin sering menghela napasnya. Begitu terasa berat bagi pria itu. Sesekali matanya melirik jendela besar yang sengaja tak tertutup gorden, menampakkan langit gelap dengan cahaya-cahaya gedung perkotaan. Menyadari hal itu Petra turun menghela napas, mulai merasa tidak enak.

"Ano, Levi.."

"Hn?"

"Mungkin sebaiknya aku pulang saja."

Levi menoleh, ingin mempertanyakan keputusan wanita itu.

"Kembang apinya?"

"Akan ku lihat saat perjalanan pulang saja."

Hening.

Keputusan tiba-tiba itu mampu membuat Levi sedikit bingung.

"Aku rasa kau ingin bertemu Mikasa saat ini."

Dalam hati, Levi merutuk kebenarannya. Ya, ia akui. Bahwa janjinya dengan wanita itu tak bisa dengan mudah ia lupakan walaupun sedang bersama Petra –wanita yang hampir membuatnya jatuh hati. Tak ada perbincangan lagi setelah tebakan mutlak itu melayang. Levi tak tahu harus membalas seperti apa. Sedangkan Petra tengah sibuk memasukkan ponselnya ke dalam tas, bersiap untuk pulang.

Levi terdiam, hanya memandangi gerak-gerik wanita itu. Tak ada niatan sama sekali untuk menghentikannya, namun entahlah.. ada rasa bersalah juga disana. Sampai akhirnya Levi berdiri, hendak mengambil mantel dan kunci mobilnya, dan tiba-tiba ada sebuah perasaan terbersit. Sesuatu yang aneh, dimana batinnya begitu bergetar dan sel-sel otaknya langsung mengumpulkan image satu wajah dalam ingatannya. Gerakannya terhenti, dan suara bel apartemennya terdengar.

Pandangannya beralih pada pintu. Menerka sosok yang tengah berdiri di balik pintu itu.

"Mikasa.." suaranya hampir tak terdengar.

Dengan setengah berlari ia menuju pintu, mengharapkan sesuatu. Dan saat objek didepannya benar-benar terbuka, nampaklah sosok yang ia nantikan malam ini, menyerbunya. Tangan wanita bersurai hitam didepannya yang gemetar melingkar di lehernya dengan erat, memaksakan ciumannya. Menekan, sarat emosi. Saat Levi menyadari adanya aliran air di manik terpejam itu, ia mengalah. Membalas pelukan itu lebih erat. Membuka mulutnya untuk turut memperdalam ciuman mereka. Meski rasa alkohol semakin terasa saat semakin dalam ia mengecap mulut wanita itu. Senyap.

Dalam diam Petra menyaksikan, kedua insan itu menumpahkan kerinduan mereka. Ia tersenyum, miris. Entah apa yang singgah dalam pikirannya saat ini. Sesuatu yang pelik. Sakit. Petra mencoba mengalihkan pandangannya, mengalah. Merasa tak berhak sama sekali dengan objek yang menyita perhatiannya itu. Ia menahannya, luapan emosi bening dalam manik karamel miliknya.

Ciuman berakhir. Mata terpejam Mikasa perlahan terbuka. Menampakan sembabnya manik hitam itu.

"Aku mencintaimu, Levi.. jangan meninggalkanku.."

Satu kalimat singkat itu menjadi penutup, dimana manik itu menutup kembali, kehilangan kesadarannya.

"Mikasa? Oi Mikasa?!"

Levi menahan tubuh terkulai itu, memegangnya erat. Sesekali ia menepuk pipi wanita itu, merasakan suhu panas yang tersalur saat kulitnya saling bersentuhan. Demam kah? Akhirnya ia mengangkat tubuh Mikasa, membawanya ke kamar karena sofa panjang di ruang tengah masih diduduki Petra. Persetan dengan sepatu boots yang masih dipakai Mikasa, ia bisa membersihkannya nanti.

Dengan sigap ia melonggarkan ikatan pita pada blus yang dikenakannya. Dan saat melepaskan sepatu, ia mendapati luka lecet disekitar jemari kakinya. Helaan napas terdengar.

"Kau menahannya untuk berlari kemari? Dasar bodoh.."

Setelah mengelus pucuk kepalanya sebentar, Levi berlalu dari kamar. Hendak membawa kotak P3K dan beberapa handuk dingin. Sepertinya hari ini ia benar-benar menjadi seorang petugas IGD. Saat hendak menuju dapur, ia mendapati Petra tengah berdiri.

"Setelah mengompresnya, aku akan mengantarmu pulang. Tunggulah sebentar lagi."

"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Senyuman terukir, sedikit dipaksakan.

"Eh? Tapi−"

Kali ini Petra menggelang, kembali menolak.

"Aku akan memesan taxi, tenang saja."

"Kalau begitu aku akan mengantarmu sampai taxinya datang."

Levi mengurumkan niatnya untuk ke dapur lebih dulu, ia menghampiri Petra. Mungkin ia harus menyelesaikan yang ini dulu. Namun saat itu, Petra juga turut melangkah menuju foyer –hendak memakai sepatunya.

"Aku belum mengatakannya padamu, sebenarnya aku sudah bisa melihat." Senyuman itu kembali terlihat.

Kali ini Levi benar-benar terkejut. Merasa tidak yakin namun apa yang ia lihat membuktikannya.

"Jadi sebaiknya kau menjaga Mikasa dengan baik, tidak perlu mengantarku. Nah jaa nee."

Tanpa sempat menjawab, Petra sudah membuka pintu, menutupnya kembali, meyisakan Levi di dalam. Perlahan Levi memegangi keningnya, memikirkan apa yang sudah ia lakukan tadi –dengan Mikasa, di hadapan Petra.

oOo

02.39

Manik hitam milik Mikasa terbuka perlahan. Kepalanya masih terasa pening, dan ia merasakan sesuatu yang setengah basah berada di keningnya. Dengan hati-hati wanita itu memastikan benda tersebut, menyentuh handuk yang mengompres dirinya.

Kali ini perhatiannya tertuju pada sosok pria yang terlelap dalam jarak pandangnya, meringkuk di atas lantai dengan kepala dialasi kasur yang Mikasa tempati. Wajah pria itu begitu damai, tak menunjukkan kerutan-kerutan di alisnya seperti biasa. Dan ia merasakan tangan kanannya digenggam olehnya, dengan erat.

Perlahan Mikasa mendudukkan diri –setelah menyimpan handuk di keningnya ke atas meja nakas. Diam-diam dirinya tersenyum, menyadari situasi ini sangat ia rindukan. Dengan hati-hati ia mencoba mengelus rambut kelam disampingnya itu, merasakan kelembutan yang sudah lama tak ia rasakan. Saat sentuhan kecil itu terjadi, Levi terbangun. Matanya terbuka, meski tanpa mengubah posisi kepalanya di atas kasur.

"kau sudah siuman?" Levi bertanya, dengan suara parau khas orang baru bangun.

"Ya. Maaf membangunkanmu."

"Ah.. begitu banyak kata maaf yang aku terima belakangan ini, aku sangat bosan."

"Aku yakin Petra mengucapkan hal itu karena benar-benar merasa bersalah."

Levi memejamkan matanya lagi –meski ia sepenuhnya tengah sadar. Nampak tak suka dengan topik yang dibawakan Mikasa.

"Berhentilah memasukkan nama itu dalam perbincangan kita." Kali ini suara Levi tak terdengar parau lagi.

Mendengar hal itu tertu membuat Mikasa tersenyum, senyum ambigu. Antara lega atau miris. Namun yang pasti kehangatannya bertambah saat Levi mengeratkan genggaman tangan mereka.

"Kau tidak menyukainya?" Mikasa tak menyerah, untuk mengorek hal ini lebih dalam.

"Aku hanya ingin menjaga perasaanmu."

Senyuman Mikasa memudar perlahan. Dan Levi kembali membuka matanya, memandang sesuatu yang tak pasti.

"Ah sepertinya kau lupa pesanku dari dulu, untuk selalu memakai kaos kaki jika menggunakan sepatu tertutup." Pengalihan.

"Kau membawa Petra kemari ternyata."

Genggaman Levi melonggar, refleks.

"Kau mabuk dan berlari-lari ke apartemenku, apa Erwin tidak menghentikanmu?" lagi.

"Karena aku tidak dihampiri olehmu, jadi aku sendiri yang datang. Aku tidak bisa dengan mudah membuatmu mau membawaku masuk, tidak sepertinya."

"Kau benar-benar gila jika berlari dari bar kemari."

"Ya, aku terlalu tergila-gila padamu. Menyedihkan sekali bukan?"

Levi mendongak, menatap raut wajah Mikasa yang tidak terlihat baik-baik saja. Dengan cepat ia langsung menahan tubuh wanita itu dalam kendalinya, menindih tubuh itu. Perkataan yang akan terlontar segera dibungkamnya dengan ciuman, menahan semua luapan kecemburuan yang berusaha Mikasa tunjukan.

Ciuman itu berubah panas. Lidah mereka membelit, saling menyatukan saliva. Levi tak peduli dengan desahan nikmat yang ia dengar, ia terus meraup keinginannya. Sampai napas mereka tercekat, terpaksa untuk berhenti sejenak.

"Jika bagimu begitu menyakitkan, untuk apa kau terus menginginkanku?" setengah berbisik.

Manik mereka bertemu, saling memperdalam tatapan.

"Kau tahu ini menyakitkan, kenapa kau tetap bertahan.." suara itu begitu dekat dengan telinganya, hembusan napas yang hangat. "Tapi aku tidak yakin kau akan menyerah saat aku baru saja mulai."

Mikasa membelalak. Ia merasakan sesuatu yang basah meraup lehernya yang terbuka. Dirinya seolah tersengat.

"Hanabi-nya.. sudah selesai. Aku tidak menepati janjiku. Maaf.." suara pria itu terdengar lagi. Berhasil membuat Mikasa meloloskan sebulir air dari matanya yang mulai terasa panas.

"Kau ingat.."

"Aku tidak pernah, lupa pada janji kita."

Isakan kecil terdengar. Mikasa melingkarkan kedua tangannya di pinggang Levi, mengeratkan tubuh mereka. Meniadakan jarak.

Ciuman kembali terulang. Semakin intens. Terhanyut dalam keinginan untuk menikmati tubuh masing-masing. Lidah yang bertautan diiringi sentuhan-sentuhan lembut yang dilakukan Levi dibalik blus yang Mikasa kenakan, menikmati belahan dada yang masih tertutup itu, memainkan gundukan kecilnya. Mikasa menggeliat, tubuhnya reflek menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan padanya. Membuat dirinya tak kalah untuk menyusup ke balik pakaian santai yang dikenakan Levi. Tubuh kekar pria itu ia susuri perlahan. Memanjakan nafsunya.

Boku wa suki de, suki de, suki de, suki de, suki de, tomaranai

(I like you, like you, like you, like you, like you, can't stop)

oOo

.

10.29

Liburan musim panas yang telah dimulai tak menjadi alasan Levi melupakan pekerjaannya. Bukan, bukan hanya pekerjaannya sebagai guru. Namun juga pekerjaan sampingan yang ia lakukan untuk membantu sang paman –Kenny Ackerman- di kursi tertinggi. Jika boleh sombong, Levi bisa disebut sebagai tangan kanan pria penguasa perusahaan tersebut. Meski dirinya selalu menolak untuk mempublikasikan namanya sebagai orang dibalik sosok hebat Kenny.

Hari ini, disaat orang-orang di luar sana berkemas untuk berlibur ke pantai atau menginap di vila, Levi lebih memilih menyibukkan diri dengan tumpukan dokumen yang sudah menemaninya sejak kemarin. Ia menikmatinya, pada awalnya. Sampai seseorang tengah bangun dari tidurnya.

"Ya ampun, aku baru tahu tugas seorang guru bisa sebanyak ini." Suara itu mengalihkan dunia bagi Levi.

Pria yang masih memegang bolpoinnya untuk mengoreksi sebuah proposal itu langsung mendelik, pada sosok wanita yang hanya memakai handuk mantel untuk menutupi tubuh idealnya. Levi –yang biasa memakai kacamata jika mengerjakan pekerjaan ini- membenarkan kacamatanya yang hampir menurun, tampak menilai penampilan wanita di hadapannya.

"Kenapa kau tidak pulang-pulang dari sini sejak malam festival?" sindir Levi.

"Oh ayolah, baru 2 hari ini. Lagipula bukannya kau yang menahanku saat kemarin aku akan pulang?"

"Aku? Menahanmu? Oi, kau yang mulai menahanku dengan alasan 'ciuman sampai jumpa'mu itu. Kau pikir pria dewasa sepertiku tidak akan tergoda dengan kemampuan berciumanmu?"

"Dan akhirnya kita melakukan ronde ke-3."

Samar, Mikasa melihat ekspresi salah tingkah di wajah Levi. Hal yang sangat ia sukai darinya. Akhirnya Mikasa benar-benar mendekati pria itu, mendudukan diri di meja kerjanya, merebut perhatian lebih banyak.

"Mau ronde ke-4?" godaan.

Seringai Levi nampak, sebelum. "Tidak, terimakasih." Ia berusaha mengalihkan konsentrasinya pada pekerjaan lagi.

"Aku jadi penasaran."

"Tentang?"

"Apa kau juga pernah melakukannya dengan dokter bedah itu.."

Levi kembali berhenti. Namun kali ini tak sampai memandang wanita disampingnya.

"Kenapa kau suka sekali memasukkan dia dalam pembicaraan kita."

"Karena aku tidak pernah tahu.. perasaanmu padaku saat ini seperti apa."

Levi menoleh, tidak tahan dengan prasangka yang Mikasa rasakan.

"Bahkan setelah kita melakukan sex siang dan malam?"

"Sex bukan membuktikan cinta. Kau bahkan bisa melakukan itu dengan wanita panggilan manapun."

"Sayangnya, aku tipe pria yang hanya bisa melakukannya dengan orang yang aku cintai."

"Eh?"

Dengan tenang Levi kembali bekerja. Menyibukkan diri dengan kertas-kertas membosankan didepannya, dan sesekali mengoreksi sesuatu yang tertulis disana. Tak mempedulikan tatapan kaget yang Mikasa berikan, biarkan wanita itu menyadarinya sendiri, pengakuan cinta secara tak langsung tersebut.

Dan sedetik kemudian pelukan erat Mikasa lakukan, menghambur pangkuan Levi. Membuat sedikit senyuman nampak diwajah dinginnya.

"Oi, kau tidak menggunakan sehelai pakaian pun dibalik handuk itu?"

"Pakaian dalamku dicuci, aku kan tidak membawa apa-apa selain yang aku kenakan malam itu."

"Kau mau aku menyerangmu lagi?"

"Aku suka diserang."

"Kita bahkan belum menikah tapi sudah sering melakukannya."

"Kau mau menikahiku?"

"Memangnya kau tidak mau jadi istriku?"

"Ah! Apa sekarang kau sedang melamarku? Disini? Tidak romantis sekali.."

"Kau ingin aku bertindak seperti pria-pria di film huh? Tidak, terimakasih. Kau bisa mencari yang lain kalau begitu."

"Jadi ini benar-benar lamaran?!" Mikasa melepaskan pelukannya, memandang lebih kaget. Matanya membulat dengan manis.

Dengan lembut Levi mengacak rambut Mikasa, gemas dengan tingkah laku wanita ini.

"Tidak, karena aku belum benar-benar meyelesaikan masalahku dengan kakakmu itu."

Mikasa tampak murung sekarang. Jadi Levi mengecup bibir didepannya untuk menghibur.

"Tapi jika kita berhasil menikah nanti, apa aku harus memanggilnya 'kakak ipar'? padahal umurnya masih lebih muda dariku."

"Salahmu bertambah umur begitu cepat."

"Kenapa aku yang disalahkan.."

"Karena aku suka menggodamu."

"Ngomong-ngomong aku jadi ingat satu hal."

"Hm?"

"Apa kau sudah menghubungi rumahmu karena tidak pulang?"

"Ups.. sepertinya aku lupa.."

oOo

.

11.47

Eren melupakan sesuatu, bahwa Mikasa belum pulang sejak festifal Tenzin waktu itu. Tapi entahlah, Eren selalu yakin adik tirinya itu menginap di tempat yang aman, dengan teman-teman wanitanya. Namun sebenarnya, Eren sendiri tengah memikirkan sesuatu. Pikirannya terus tertuju pada penyakit yang ia derita, yang dikatakan Levi dengan tidak jelas. Kemarin dirinya baru memeriksakan hal itu ke rumah sakit, menuruti arahan Levi –yang tadinya sama sekali tidak ia pedulikan.

Dan hasil tes kesehatan itu berada di tangannya saat ini. Perkataan dokter saat bertemu dengannya juga masih terngiang-ngiang di telinganya. Ternyata seburuk yang ia duga.

Eren mengalami penyakit PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), yaitu gangguan stres pasca trauma yang ia yakini berasal dari trauma kecelakaannya saat baru lulus kuliah. Dimana kecelakaan mobil yang dikendarai Eren itu menyebabkan ibunya meninggal. Dari sana mimpi buruk sering berdatangan, dirinya tak pernah tenang. Rasa bersalah selalu menyertai langkahnya kemanapun sehingga semua halusinasi yang menyerangnya selalu ia atasi dengan obat penenang –meski tak banyak membantu.

Akhirnya Eren ingat akan kenyataan bahwa dirinya pernah melukai diri sendiri dan supir pribadinya saat sangat frustasi dengan halusinasinya. Hal i tulah yang berbahaya. Kondisi buruk yang datang tak diundang bisa mencelakai orang lain tanpa sadar. Itulah yang Levi cegah terjadi.

Sedangkan Eren yang baru menyadari apa yang telah ia alami ini hanya bisa memijat keningnya yang pening. Setelah sekuat tenaga membenci Levi, apa ia harus bertekuk lutut dan mengakui kondisinya? Harusnya begitu, jika egonya tak setinggi langit.

Ucapan terakhir dokter yang ia ingat akan kemungkinan kesembuhannya membuatnya berpikir beribu kali. Terapinya mahal. Tapi Levi sudah menawarkan kartu Ackerman untuk menyelesaikan masalah registrasi dan pembiayaan. Yang diyakini akan dilayani seperti pasien VIP.

Apa ini akhir kebenciannya?

Harus menjadi akhir kebenciannya?

oOo

13.10

Petra mengetuk-ngetuk bolpoin dalam genggamannya. Kebosanannya memuncak berkat membaca banyak jurnal kedokteran tentang jantung buatan. Sejak bangun tidur di musim panas ini, sampai siang hari dirinya terus berkutat untuk mempelajari banyak hal untuk operasi Farlan.

Pikirannya melayang. Terlalu jauh malah. Pada ingatan malam dimana Levi mengakui perasaannya yang baru setengah. Rasa bersalah yang muncul ternyata percuma saja. Karena toh pria bersurai hitam itu sudah bisa menahan perasaan itu sedemikian rupa dan kembali menganggap Mikasa.

Perasaannya yanng berkecambuk saat ini membelenggunya dalam ketidakjelasan. Ada sensasi rasa sakit jika mengingat nama Levi. Namun haknya apa? Setelah lebih dulu menghentikan perasaan pria itu padanya. Ia pikir bukanlah urusannya jika pria itu akhirnya mengakhiri penantian.

Bimbang. Saat seharusnya Petra menenggelamkan diri pada tanggung jawabnya, saat lengah ia malah memikirkan pria itu. Apa dirinya telah jadi pendosa saat ini?

Maniknya ia paksakan untuk terpejam, sedikit merilekskan diri dalam kusutnya emosi dalam hatinya. Ruang kerja yang ia diami ini sesejuk apapun tetap mampu membuatnya gelisah. Tumpukan dokumen dan layar komputer yang menyala menampakan penampang jantung buatan tak lagi menarik perhatiannya. Sampai suara ponselnya berdering, tanda panggilan masuk.

Dengan sedikit malas, Petra mengangkat telpon itu.

"Ya, halo?"

"Ah Petra, apa hari ini kau sibuk?"

Tak seperti biasanya, saat mendengar suara Farlan wanita bersurai karamel itu tak menyunggingkan senyumannya.

"Um.. aku sedang mempelajari jurnal untuk operasimu, tapi saat ini aku sedang istirahat. Ada apa?"

"Aku ingin mengajakmu makan malam di restoranku hari ini. Apa bisa?"

"Tentu. Aku akan datang."

"Baguslah, aku akan mulai mempersiapkannya."

"Tidak usah disiapkan dari sekarang, aku juga ingin membantumu."

"Tapi−"

"Aku sudah sembuh, Farlan." Dan barulah Petra tersenyum kali ini, saat memberitahukan kabar gembira itu.

"Benarkah? Syukurlah.. pantas saja aku agak cuiga saat kau bilang sedang mempelajari jurnal."

"Sebenarnya aku ingin menjadikan ini kejutan nanti, tapi aku tidak tahan memberitahumu."

"Aku turut senang untukmu, Petra. Kalau begitu aku tunggu nanti sore ya?"

"Iya, sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Telepon terputus. Petra kembali bermalas-malasan di atas meja kerja sambil mengetuk-ngetukan bolpoinnya lagi. Seolah dengan hal itu bisa sedikit menghiburnya. Dan tiba-tiba satu pesan masuk terlihat di layar ponselnya, kali ini bukan dari Farlan. Tapi..

"Levi.."

'Apa sore ini kau senggang? Aku ingin berkonsultasi tentang sesuatu. Berhubungan dengan rumah sakit tempatmu bekerja.'

Dan ini situasi yang Petra hindari saat ini. Sumber kebimbangannya. Dalam waktu bersamaan. Apa yang harus ia lakukan?

oOo

-TBC-