"Bayi kalian sangat lucu."
Dahi Taehyung mengernyit.
"Bayimu dan Irene."
Sangat lucu melihat ekspresi pria di depannya ini, yang sesaat lalu dipenuhi dengan raut kebahagiaan itu kini dipenuhi dengan ketakutan. Jungkook sendiri tidak mengerti mengapa Taehyung terlihat begitu ketakutan ketika tidak ada yang harus ditakutkan dari kata-katanya.
"Kenapa kau terlihat begitu terkejut, hyung?"
"Bagaimana-"
"Aku bisa tahu?" sebuah tawa pelan keluar dari mulut Jungkook, "Hyung, kau sungguh mengira aku tidak akan mengetahui berita sebesar itu?"
Hanya bungkam yang menjawab pertanyaannya.
"Selalu saja ada orang yang akan memberitahukan berita tentangmu padaku. Semua orang beranggapan aku masih mencintaimu dan aku paling tidak masih ingin mengetahui segala hal tentangmu."
"Apakah mereka salah?"
"Hm.. tidak juga. Mereka benar." gigi kelinci yang masih terlihat menyembul dari balik bibir ranumnya nampak ketika ia tersenyum, "Mungkin aku memang masih mencintaimu."
"Jika kau masih mencintaiku, mengapa berkata kau siap mengakhiri semuanya?"
Jungkook kembali tersenyum, berdiri dari kursi yang didudukinya dan berjalan menuju jendela kaca besar berbentuk persegi yang menampakkan jalanan kota Seoul yang masih ramai. Semakin malam, semakin ramai pula jalanan kota ini. Mengingatkannya pada kota Pattaya di Thailand.
"Itu karena kau, hyung."
Taehyung sontak berdiri dan berjalan cepat ke arah Jungkook, menarik tangannya hingga mereka berhadapan satu sama lain. Ekspresi tidak suka terpampang jelas di wajah tampan Kim Taehyung.
"Kau tau aku mencintaimu."
Mata tajamnya menatap lurus pada bola mata berwarna gelap yang kini juga balas menatapnya lekat. Mencoba menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh. Perasaannya pada Jungkook memang tulus, penantiannya selama satu tahun pun bukan hal yang akan dilakukannya jika ia tidak tulus padanya.
"Aku tau." Jungkook melepaskan genggaman tangannya, "Aku juga tau kau tidur dengan para jalang itu di belakangku."
Mata Kim Taehyung melebar mendengar pernyataan itu. Memang, ia dulu sering bermain api dibelakang Jungkook. Meskipun ia menjalin hubungan dengan yang lebih muda, ia masih sering berkencan dengan orang lain. Lebih kepada alasan ia bukanlah seorang gay dan perasaannya ini hanya untuk Jungkook seorang.
Paling tidak, itu adalah pembenaran yang selalu ditanamkan olehnya pada benaknya sendiri.
"I-itu.. aku tidak melakukannya lagi, sumpah." Taehyung tidak tahu harus berkata apa lagi, "Aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun sejak kau pergi."
Jungkook menghela nafas panjang, "Dan itu akan membuat perubahan?"
Ia tidak habis pikir betapa egois dan kekanakan pikiran pria yang mengaku dirinya seorang CEO itu.
"Irene baru melahirkan bukan? Itu artinya kau masih berhubungan dengannya 2-3 bulan setelah kepergianku, hyung."
"..."
"Kau tidak mencintaiku. Kau hanya terobsesi padaku. Kau ingin dianggap bisa melakukan apapun termasuk memiliki aku -mahasiswa yang tidak bisa dimiliki. Well... itu dulu, dan kau berhasil. Membuatmu menyadari bahwa kau tidak benar-benar mencintaiku."
Taehyung ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya bergeming. Memang alasan ia menyatakan perasaannya pada Jungkook dan menjalin hubungan dengannya pada awalnya adalah alasan itu. Ketika seluruh teman kampusnya mengatakan bahwa Jungkook adalah orang yang tidak pernah menerima pernyataan cinta orang lain, ia menjadi tertantang.
Pendekatan yang ia lakukan pada Jungkook membuatnya menyadari bahwa Jungkook bukan tidak ingin menerima pernyataan cinta namun ia tak bisa. Ia tak bisa memaksakan perasaannya ketika ia bahkan tidak mengenal orang yang menyatakan perasaannya itu padanya. Hingga pada saat Taehyung mulai mendekatina ia mulai membuka diri dan bersedia menerima cintanya.
Alasan tak masuk akal itu membuatnya merasa hina, menjadikan Jungkook sebagai tantangan. Dan ada akhirnya ia benar-benar jatuh cina pada Jungkook. Namun kegemaran untuk memacu adrenalin ketika berselingkuh dari Jungkook tak bisa ia hindari. Bahkan ketika ia kembali menemui Irene seperninggalan Jungkook dalam keadaan mabuk.
Membuatnya melakukan hal yang tidak ia inginkan dan menambah tanggung jawab pada pundaknya dengan hadirnya seorang anak. Tak hentinya ia merutuki tindakannya yang gila namun nasi sudah menjadi bubur dan ia kini harus menerima tanggung jawab yang diberikan Tuhan padanya.
Menganggap semuanya adalah untuk menebus dosanya pada Jungkook.
Ingin rasanya ia menceritakan semua itu namun tindakannya menemui Irene bukan sesuatu yang bisa ia banggakan. Ia menemui wanita yang sudah ia hancurkan hidupnya, sebagian mungkin karena ia merasa bersalah. Menghilangnya Jungkook mebuat ia kehilangan arah dan ia mendatangi satu-satunya jalan yang bisa membuatnya merasa kembali 'diinginkan'.
Tidak, ia tidak mencintai Irene.
Ketika Irene mengatakan bahwa ia mengandung, ingin rasanya ia menolak dan mengatakan bahwa itu bukan anaknya. Namun ia teringat kebiasaannya untuk berlari dari tanggung jawab dan melemparkan tanggung jawab itu pada orang lain, dan berpikir untuk berubah.
Dengan harapan bahwa ketika Jungkook kembali ia akan melihat bahwa dirinya yang sekarang bukan lagi dirinya yang dulu.
Namun ia salah, mungkin Jungkook tetap akan menganggapnya demikian.
"Aku... bertemu seseorang."
"Eh?"
"Aku bertemu seseorang, hyung. Ketika berada di Thailand." Jungkook kembali menatap sendu pada pria didepannya itu, "Ia pria yang baik, sedikit bodoh dan ceroboh, selalu ingin membuat orang disekitarnya bahagia, selalu ada ketika aku membutuhkannya, dan yang terpenting, ia membuktikan ucapannya ketika ia menyatakan perasaannya padaku."
Dahi Taehyung mengernyit, tidak suka kemana arah pembicaraan ini berjalan.
"Ia mengatakan bahwa tak seharusnya aku lari dari kenyataan. Tak seharusnya aku berlari dari masalah ini. Tak seharusnya aku lari darimu."
Tangan lentik Jungkook menyentuh rahang tegas Taehyung, mengusapnya perlahan sembari matanya memperhatikan setiap lekuk wajah pria yang pernah dicintainya itu.
"Aku mencintaimu, hyung. Sangat. Namun aku tak bisa bersamamu karena rasa cintaku itu menimbulkan rasa benci yang lebih besar lagi ketika kau mengkhianatiku..." tangannya turun dan menggengam tangan dengan kulit tan itu, "Mulai sekarang, hubungan kita sudah berakhir, hyung. Lupakan aku dan mulailah hidupmu yang baru dengan putri kecilmu. Aku juga akan melupakanmu dan memulai hidupku yang baru. Hidupku yang tanpa adanya Kim Taehyung di dalamnya."
Taehyung tak bisa berkata-kata lagi, ucapan Jungkook ini jelas terdengar sebagai keputusan akhir dari semuanya, dan ia tak bisa ambil andil lagi. Hanya mengeratkan genggaman tangan merekalah yang bisa ia lakukan.
"Tak bisakah kita mengambil jalan lain?"
"Maaf, hyung. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama."Jungkook menarik genggaman tangannya, mengambil long coat yang diantung di rak dekat pintu ruangan itu dan membuka pintu besar itu sebelum menoleh, "Aku berharap kita tak lagi memiliki hubungan satu sama lain, agar kita tak lagi saling menyakiti." lanjutnya sebelum melangkah keluar dari ruangan kerja milik Kim Taehyung itu.
Senyum merekah di bibir Jeon Jungkook. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan memencet tombol panggilan cepat no 1 disana.
"Yoongi-hyung, aku ingin tiket yang kau tawarkan padaku. One way ticket to Thailand."
Setelahnya ia mengetik sebuah pesan pendek, mengirimnya pada nomor panggilan cepat no. 2 di ponselnya.
"Nichkhun hyung, I am going home tomorrow. Make sure to come and pick me up at the Airport :)."
Jeon Jungkook memutuskan untuk membuang kehidupannya yang sebelumnya dan memulai lembaran baru yang -semoga- lebih indah dari yang terdahulu. Meninggalkan Kim Taehyung yang masih berusaha menerima kenyataan bahwa sebenarnya ia tak menghancurkan hidup siapapun kecuali hidupnya sendiri.
Dan ia menyadari bahwa ia pantas mendapatkannya.
END
