Warning!

Hunhan Fanfiction.

Yaoi. BL. Rated M. NC.

DLDR.

Happy Reading~

-My Nightmare-

Ujian telah selesai digelar. Para siswa di tingkat akhir dapat bernafas lega sekarang karena ujian telah berakhir. Walaupun hasilnya masih belum dapat diketahui, tapi paling tidak beban yang menumpuk di pundak telah terangkat sebagian.

Kyungsoo termangu sambil menopang dagu, memandangi seorang pria berkacamata yang sedang berjalan dengan seorang wanita dari jendela kelasnya. Berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan jika dirinyalah yang menjadi wanita itu, pasti ia akan merasa bahagia. Tapi yang dapat ia lakukan hanyalah menghela nafas panjang karena selamanya hal itu tidak akan pernah terjadi. Ia harus bisa melupakan segalanya, termasuk perasaan cinta yang telah ia pendam sekian lama.

Seseorang muncul dan ikut memperhatikan pemandangan itu.

"Sedang patah hati, pinguin?"

Kyungsoo melirik namja bertubuh lebih tinggi darinya itu dengan sinis, "Sok tahu kau, Jongin!" elaknya.

Jongin tertawa melihatnya, "Tak perlu menutupinya, pinguin. Di mata bulatmu itu jelas-jelas menunjukkan bahwa kau sedang patah hati. Apa aku perlu memberitahu Suho saem?"

Mata Kyungsoo melotot mendengarnya, "Ya! Sialan kau, Jongin! Kalau kau berani memberitahunya, aku bersumpah akan mencincangmu hidup-hidup!"

Jongin hanya tertawa geli mendengarnya, ekspresi Kyungsoo sama sekali tidak menakutkan ketika mengatakannya, ia malah terlihat lucu dengan mata bulatnya.

Jongin mengangkat bahu, "Baiklah, aku tidak akan mengatakannya pada Suho saem. Lebih baik mulai sekarang kau mencoba melupakannya. Lagipula masih banyak pria lain di sekolah ini."

Kyungsoo hanya mengangguk pelan mendengarnya, "Akan kucoba... walaupun pasti akan sulit karena tidak ada laki-laki seperti dia." Kyungsoo menghela nafas.

Jongin hanya terdiam melihatnya. Entah kapan Kyungsoo akan melihatnya bukan sebagai teman sekelas, tetapi sebagai seseorang yang mempunyai perasaan padanya.

Sementara di tempat lain, Sehun dan Luhan sedang menghabiskan waktu di bawah pohon rindang selepas ujian. Sehun bersandar di pohon dan Luhan bersandar di bahunya. Luhan menghela nafas panjang. Diliriknya Sehun yang sedang bersandar di pohon dengan kedua mata terpejam dan tangan yang masih mengisi sela jari-jarinya.

Sehun membuka matanya saat menyadari kepala Luhan tak lagi bersandar di bahunya. Pemuda itu duduk tegak dengan kepala menunduk, seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat.

Sehun mengeratkan gengamannya dan hal itu membuat Luhan menoleh menatapnya.

"Kukira kau tidur." Ujar Luhan dengan senyum tipis di bibirnya.

Sehun hanya menggeleng sambil tersenyum menanggapinya. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya.

Luhan tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin mengatakan apa yang telah dilakukan Victoria padanya. Luhan tahu Victoria hanya merasa insekuritas atas keberadaannya. Padahal tidak pernah sekali pun terlintas dalam benaknya untuk mengambil posisi Sehun di mata Yifan. Ia hanya berusaha menjadi anak yang baik, yang bisa membantu dan tidak merepotkan mereka. Tetapi pada kenyataannya, semua yang ia lakukan hanya membuat Victoria salah paham padanya.

"Sehunna... bagaimana jika suatu saat nanti orang tua kita mengetahui tentang hubungan kita? Apa yang akan kau lakukan?" Luhan memilih mempertanyakan hal lain yang menjadi bebannya selama ini sambil duduk bersila menghadap Sehun.

Sehun terdiam sejenak mendengarnya. "Yang kulakukan?" Sehun berpikir, "Tentu saja aku akan mengakuinya. Lalu aku akan menikahimu dan kita bisa hidup bahagia selamanya." Ucapnya tersenyum.

"Sehun, aku serius!" Luhan merenggut mendengarnya, wajahnya sudah merona merah akibat ucapan Sehun.

"Aku juga serius." Sehun masih tersenyum menatap sang kekasih, lalu mengggenggam kedua tangan Luhan erat. "Kalaupun mereka mengetahuinya, tidak akan ada yang berubah di antara kita, Luhan. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, uhm?"

Luhan terdiam mendengarnya.

Tidak akan ada yang berubah? Benarkah itu?

Entah mengapa Luhan merasa hubungannya dengan Sehun tidak akan berjalan semudah itu.

"Karena ujian sudah berakhir, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan untuk refreshing?" ajak Sehun.

Luhan mendongak mendengar usul Sehun, "Kemana?"

"Lotte world. Sudah lama aku tidak ke sana."

Luhan tersenyum mendengarnya, "Baiklah! Aku juga ingin pergi ke sana. Tunggu di sini, aku akan mengajak Kyungsoo juga."

"T-tunggu, Lu..."

Sehun terlambat mencegah Luhan yang sudah berlari meninggalkannya untuk bertemu Kyungsoo. Padahal Sehun sebenarnya hanya ingin pergi berdua dengan Luhan, berencana kencan dengan kekasihnya itu. Tapi apa daya Luhan memang tidak terlalu peka dengan hal semacam itu membuat Sehun hanya bisa menghela nafas.

Lotte World terletak di Songpa-gu, Seoul, merupakan theme park indoor dan outdoor terbesar di Korea. Terdapat beragam wahana yang dapat dinikmati pengunjung di sana. Ice skating salah satunya. Sehun, Luhan, Jongin, dan Kyungsoo telah berada di sana dengan perlengkapan lengkap. Mulai dari jaket parasut dan beanie untuk mencegah suhu dingin memasuki tubuh mereka, hingga sepatu skating dengan warna hitam untuk Sehun dan Jongin serta biru untuk Luhan dan Kyungsoo.

"Aku merasa tidak pernah mengajakmu, Jong. Kenapa kau ikut?" Sehun berujar sinis saat mengetahui Jongin ikut dalam acara mereka.

Jongin hanya terkekeh mendengarnya, "Oh, ayolah Sehun. Kapan lagi kita bisa jalan-jalan seperti ini?"

"Ck!" Sehun berdecih, "Kau kira aku tidak tahu kalau kau hanya ingin lebih dekat dengan Kyungsoo?"

"Wah, kau pintar, Hun!" Jongin berseru berlebihan, "Kau juga sama kan'? Aku yakin kau merencanakan ini agar bisa kencan dengan Luhan. Jadi, aku tidak rela kalau Kyungsoo jadi obat nyamuk di tengah kencan kalian."

"Sialan kau!"

Jongin tertawa sambil meluncur meninggalkan Sehun yang sepertinya sudah bersiap mengulitinya dengan tatapan tajamnya. Sehun menyusulnya, mereka lalu menghampiri Kyungsoo yang sedang mengajari Luhan di pinggir arena.

"Kemari, Luhan. Aku akan mengajarimu." Sehun menarik tangan Luhan menjauh dari Kyungsoo. Luhan yang memang tidak tahu bermain ice skating terkesiap dan segera menggenggam tangan Sehun erat agar tidak terjatuh. Sehun mulai meluncur mundur, perlahan-lahan membimbing Luhan yang bergerak sangat kaku. Mereka menjauh dari pinggir ke tengah-tengah arena seluncur dengan dua pasang mata yang terus menatap mereka.

"Haaah... aku iri pada mereka." Kyungsoo menghela nafas, pemandangan itu membuatnya semakin terbawa perasaan.

Jongin yang menyadari hal itu berdehem, "Kau pasti senang kan?"

Kyungsoo mengerut mendengarnya, "Maksudmu?"

"Tidakkah arena seluncur es ini membuatmu rindu kampung halamanmu?"

Kampung halaman? Kyungsoo berpikir keras mendengar kalimat Jongin. Sesaat kemudian ia tersadar dan mengerti ucapan Jongin. "Y-Yak!"

"Apa kau mau kuantar kembali ke kutub utara, pinguin?" Jongin tertawa melihat Kyungsoo dengan raut wajah kesal menatapnya.

"Ya! Sialan kau Jongin!" Kyungsoo pun meluncur cepat mengejar Jongin yang meluncur menghindarinya. Bagaimanapun Jongin tidak mau terkena pukulan Kyungsoo yang terkenal cukup menyakitkan itu.

Sementara Luhan tersenyum melihat pemandangan itu dari kejauhan.

"Tampaknya tak lama lagi mereka akan menjadi sepasang kekasih." kata Luhan.

"Benar." Sehun memegang tangan Luhan, membantunya meluncur dengan sabar. Menjadi objek pemandangan yang menarik perhatian para pengunjung, terutama kaum hawa. Mereka mengagumi betapa tampannya pemuda yang lebih tinggi itu.

"Hei, Sehunna. Kau merasa tidak para wanita itu memperhatikanmu sejak tadi?" tanya Luhan.

"Entahlah. Aku tidak begitu memperhatikannya." ujar Sehun.

"Aku benar. Coba lihat mereka. Kau memang populer di kalangan wanita." Luhan melirik ke kanannya.

"Kau baru sadar, Lu?" Sehun tertawa, "Sepertinya kau harus menjaga kekasihmu dengan baik."

Luhan mendengus mendengarnya, "Ya, aku tahu. Itu membuatku berpikir untuk mengurungmu saja di dalam kamar. Dengan begitu tidak ada seorangpun yang bisa merebutmu."

"Wow." Sehun sedikit takjub dengan kalimat Luhan itu. "Aku tidak menyangka kau memiliki sifat posesif seperti ini, Lu." Sehun tersenyum senang, "Kenapa kau berpikiran seperti itu?"

Luhan masih meluncur dengan pelan dibantu Sehun, "Aku teringat Jongin pernah bilang kau punya banyak kekasih di luar sekolah. Kyungsoo bahkan pernah melihatmu di hotel bersama wanita seksi."

Sehun mendengus kesal mendengarnya, ia benar-benar harus memberi pelajaran pada Jongin dan Kyungsoo nanti. "Itu tidak benar, Lu. Memang banyak gadis yang selalu menawarkan diri untuk menemaniku, tapi aku tidak pernah menganggap mereka sebagai kekasih." Sehun menjelaskan, "Dan soal wanita yang dilihat Kyungsoo, mungkin dia adalah ibuku."

Luhan mendongak menatap Sehun, "Ibumu?"

"Ya," Sehun teringat ketika ia mengikuti ibunya ke hotel dan mendapati kenyataan bahwa ibunya berselingkuh dengan pria lain.

"Ibuku selalu berpakaian terbuka saat menemui kekasih gelapnya."

Luhan tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka Victoria yang biasanya berpakaian tertutup itu mengenakan pakaian seksi jika bertemu kekasihnya.

"Maaf, Sehun. Aku tidak bermaksud membahasnya."

"Tidak apa-apa." Sehun tersenyum dan Luhan membalasnya dengan senyuman.

Luhan mulai menegakkan punggungnya saat Sehun melepaskan kedua tangannya. Ia meluncur pelan dengan tetap berada dalam pengawasan Sehun. Namun, tak lama kemudian ia kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh. Beruntung Sehun sigap menariknya dan memeluknya.

"Hunna... Aku tidak mau main lagi. Ayo kita menepi."

"Baiklah." Sehun pun memegang tangan Luhan, membantunya meluncur hingga ke tepi.

.

.

.

"Sehuuuuun..." Luhan memanggil, namun Sehun masih enggan beranjak dari tempatnya. Luhan menghela nafas kesal, lalu meninggalkan tempat photo box dan menghampiri sang kekasih yang berdiri tak jauh darinya.

"Sehun, ayo!" Luhan menariknya lagi, dan Sehun sengaja memberatkan badannya, sehingga Luhan kesulitan menariknya. Bahkan, ia tidak bisa membuat Sehun berpindah tempat membuatnya mendengus jengkel.

"Kalau kau tidak ingin ikut masuk, kita putus!" ucap Luhan final.

Mata Sehun membulat mendengarnya, "Ya! Mana bisa seperti itu!"

"Salah sendiri tidak mau mengikutiku. Sekarang kau pilih, ikut berfoto atau putus denganku!"

Sehun menghela nafas mendengarnya, "Baiklah, aku akan ikut berfoto!"

Luhan tersenyum sumringah mendengarnya, "Ayo, palli~palli~" Luhan menariknya bersemangat, sementara Sehun yang ditarik hanya pasrah. Ia tidak habis pikir mengapa Luhan begitu bersemangat ingin berfoto di photo box, padahal sekarang sudah ada smartphone berkamera depan belakang dengan resolusi yang sangat tinggi. Baginya, berfoto di photo box sudah ketinggalan jaman. Tapi bagaimana lagi, ia harus mengikuti keinginan kekasihnya itu.

"Sehun, lihat ke kamera!"

Luhan telah memakai topi ala bajak laut dan memaksa Sehun memakainya juga. Di layar telah tampak hitungan mundur dari angka 3.

"Sehun, senyum!"

Luhan memasang senyum termanisnya dengan dua jari berbentuk V di dekat pipi. Sementara Sehun hanya memasang wajah tanpa ekspresinya.

Klik!

"Ya! Kenapa kau tidak senyum, Sehun?" Luhan merenggut kesal.

Klik!

"Astaga! Kenapa kamera ini memotret sendiri? Sehun, cepat senyum!"

Klik!

"Sehun, senyum yang tulus sedikit, kenapa susah sekali sih?" Luhan mengangkat tangannya ke wajah Sehun dan memaksa agar sudut bibir Sehun terangkat membentuk sebuah senyuman.

Klik!

Luhan melongo karena kamera memotret di saat ia belum siap, sehingga tak lama kemudian, mesin berproses dan mengeluarkan selembar foto dengan empat macam take yang semuanya gagal. Luhan menghela nafas melihatnya.

"Ini benar-benar foto terburuk yang kumiliki."

Sehun ikut melihat foto itu, dan hasilnya memang benar-benar di luar harapan Luhan. Sehun tertawa melihatnya, "Sudah kubilang tidak perlu foto di sini. Ini hanya untuk remaja labil kurang piknik, Lu."

Luhan mendelik kesal melihatnya, "Maksudmu, aku adalah remaja labil kurang piknik, begitu?"

"Kau sendiri yang mengatakannya." Sehun tertawa.

"Aish.. kau benar-benar..." Luhan menggigit bibirnya sendiri menahan amarah, memilih berjalan cepat keluar meninggalkan Sehun.

"Hei, tunggu, Lu!"

Luhan tidak mempedulikan panggilan itu. Langkahnya semakin cepat dan berlari mencari tempat bersembunyi dari Sehun.

Sehun berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Ia sudah kehilangan jejak Luhan. Ia baru sadar kalau Luhan seorang pelari yang cepat. Pantas saja kalau Luhan masuk ke dalam tim sepak bola di sekolah mereka.

Luhan duduk di pinggir taman sambil memandangi foto di tangannya. Padahal ia hanya ingin mempunyai foto berdua dengan Sehun karena mereka memang tidak memilikinya. Tapi selembar kertas di tangannya sepertinya tidak layak untuk disebut sebuah foto.

"Lu."

Tubuh Luhan bergeming, tak berniat menoleh sedikitpun.

Sehun tersenyum kecil menyadari kekasihnya yang sedang merajuk itu. Ia pun mengambil tempat dan duduk di samping Luhan.

"Kau marah?"

Luhan masih diam.

"Baiklah, aku minta maaf, Lu. Aku memang tidak terlalu suka berfoto di tempat itu."

"Tidak apa-apa, aku mengerti." Luhan menjawab pelan. Lalu memasukkan foto di tangannya ke dalam tas ranselnya, "Aku mengerti kalau kau tidak mau berfoto denganku."

Sehun terkejut mendengarnya, sepertinya Luhan sudah salah paham terlalu jauh dari apa yang ia pikirkan.

Sehun berdehem, "Kau tetap cantik bahkan jika sedang marah, Lu. Kau tahu?"

"Yak!" Luhan menoleh kesal, dan kedua matanya lalu membulat terkejut saat Sehun tiba-tiba menempelkan bibir mereka.

Klik!

Sehun menjauhkan wajahnya dari Luhan sambil tersenyum menatap kekasihnya yang masih mengerjap tidak percaya. "Bukan aku tidak ingin berfoto denganmu, Lu. Tapi aku hanya tidak mau foto yang biasa saja seperti itu. Kita bisa berfoto saat sedang berpelukan, berciuman, atau saat kita bercinta. Itu akan jauh lebih menarik." Ujarnya dengan smirk di bibir.

Wajah Luhan memanas mendengarnya, "Dasar, mesum!"

Luhan beranjak pergi sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya. Sementara Sehun tersenyum mengikutinya dengan smarphone di tangan yang menampilkan gambar ketika mereka berciuman. Ia berjanji akan mencucinya nanti untuk diberikan pada Luhan.

"Ya, Luhan, kau tega sekali meninggalkanku dengan Jongin. Kau tahu apa yang dia lakukan dari tadi? Dia terus mengataiku pinguin!" Kyungsoo menggerutu sambil menggandeng lengan Luhan begitu melihatnya. Luhan hanya tersenyum menanggapinya. Sementara Sehun dan Jongin berjalan di belakang mereka.

"Lebih baik kau cepat-cepat menyatakan perasaanmu, Jong. Mataku gatal melihat pinguinmu terus menempel pada Luhan." Ujar Sehun.

Jongin meliriknya sinis, "Kau kira apa yang kulakukan selama ini? aku juga sedang berusaha."

"Berusaha menjadikannya musuhmu? Kurasa kau berhasil kalau begitu."

"Aish... kau kira itu mudah? Sudahlah, kau tidak akan mengerti!" Jongin mendengus kesal dan Sehun mengangkat bahu tidak peduli.

Luhan pun berbalik menghadap mereka untuk memutuskan akan makan di mana sekarang. Mereka sepakat untuk makan di sebuah restoran Italia.

Kyungsoo dan Jongin masuk ke dalam restoran terlebih dahulu untuk mencari tempat. Sementara Luhan melangkah menghampiri Sehun untuk menarik kekasihnya yang tampak terpaku di depan pintu.

"Kita cari restoran lain saja." Sehun berujar pelan tanpa melihatnya.

Kening Luhan mengerut mendengarnya, "Kenapa? Kyungsoo dan Jongin sudah ada di dalam, Sehun. Lebih baik-"

"Kita cari restoran lain dan biarkan saja mereka berdua."

Sehun masih berucap dengan nada dingin yang baru pertama Luhan dengar darinya, membuatnya bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Sehun?

"B-baiklah, aku akan memberitahu Kyungsoo," Luhan baru saja akan kembali masuk untuk memberitahu Kyungsoo sebelum Sehun menahannya.

Grep.

Luhan mendongak saat tangan Sehun menahan lengannya, namun Sehun masih tidak melihat padanya dan hanya berfokus melihat pada satu titik. Luhan mengikuti arah pandangan Sehun, melihat lewat jendela dimana ada banyak pengunjung restoran yang sedang bersantap siang. Dan fokus Sehun tertuju pada sebuah meja yang dihuni sepasang suami istri dan dua orang anak perempuan.

Luhan kembali menatap Sehun tidak mengerti.

"Kita pergi dari sini." Sehun menariknya menjauh dan Luhan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia segera mengambil smartphone dari sakunya dan mengirimi Kyungsoo sebuah pesan singkat.

Kyungsoo, maaf. Kami pulang duluan.

Mata Kyungsoo yang sudah bulat semakin bulat membacanya.

Ya! Luhan kau benar-benar tega meninggalkanku sendiri :( Aku tidak mau memaafkanmu TT

"Ada apa pinguin?" tanya Jongin menyadari perbedaan raut wajah Kyungsoo.

Kyungsoo menghela nafas panjang, "Luhan dan Sehun sudah pulang. Jadi, kita makan berdua saja."

Mata Jongin berbinar cerah mendengarnya. Berdua dengan Kyungsoo? Itu yang ia tunggu-tunggu selama ini. Jongin berselebrasi dalam hati, ia harus ingat untuk mengucapkan terima kasih pada Sehun nanti. Walaupun sebenarnya bukan hal itu yang membuat Sehun meninggalkan restoran.

"Sehun, ada apa?" Luhan menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk bertanya setelah mereka berjalan cukup jauh dari restoran.

Sehun hanya terdiam tak menjawab.

Luhan menghela nafas, "Kau membuatku bingung, Sehun. Kalau ada apa-apa, ceritakan padaku agar aku mengerti." Luhan menggenggam erat tangannya, "Karena kita adalah sepasang kekasih. Jadi, kau tidak perlu menutupi apapun, Sehun. Ceritakan padaku..."

Sehun memandang sejenak tangan yang digenggam Luhan, lalu menatap wajah kekasihnya yang sedang menatapnya lekat.

Sehun menghela nafas berat, "Aku melihat ayah biologisku di sana."

Luhan terkejut mendengarnya.

"Keluarga yang sedang makan di sana dengan dua anak perempuan itu adalah keluarga ayahku."

"Keluarga ayahmu?"

Sehun mengangguk, "Dia adalah Oh Kyuhyun. Kekasih ibuku sejak kuliah."

"Kalau dia mempunyai keluarga, kenapa dia..."

"Karena mereka saling mencintai. Ibuku dan Oh Kyuhyun saling mencintai. Itu yang ibuku katakan padaku." Sehun menghela nafas, "Sementara pernikahan yang mereka jalani hanyalah bagian dari perjodohan keluarga."

Luhan tidak percaya mendengarnya. Bagaimana bisa dua orang yang telah memiliki keluarga menjalin hubungan asmara?

"Jadi, ibumu tidak mencintai appa?"

Sehun mengangguk lemah, "Dia hanya mencintai Oh Kyuhyun."

"Tapi, kalau tidak mencintainya, kenapa dia masih bertahan dengan appa?" Luhan menutup mulutnya seketika mengingat perkataan Victoria saat itu.

"Kau berusaha menjadi anak baik kesayangan suamiku sehingga ia akan lebih mempertimbangkan keberadaanmu dan akhirnya akan menjatuhkan semua hak waris kepadamu."

"Semua karena harta." kata Sehun pelan.

Luhan menatapnya tidak percaya. Ia tidak menyangka orang tega melakukan hal sejauh itu hanya demi harta.

"Sekarang kau tahu betapa mengerikannya ibuku, Lu. Dan aku adalah anak yang dilahirkan dari rahimnya." Sehun menatapnya pasrah. "Apa kau membenciku sekarang?"

Luhan menggeleng cepat, "Tidak, Sehun. Aku tidak membencimu." Tubuhnya mendekat dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun, memeluknya erat.

"Aku mencintaimu, Sehun. Aku mencintaimu karena kau adalah Sehun, bukan karena kau anak Victoria."

Sehun tersenyum membalas pelukan Luhan, "Terima kasih, Lu. Aku juga mencintaimu."

Sehun memejamkan matanya saat memeluk Luhan. Menikmati kehangatan yang sanggup membuat perasaannya menjadi tenang dalam sekejap. Luhan adalah segala yang ia punya saat ini. Sehun tidak peduli akan harta atau status keluarga selama Luhan berada di sisinya.

Selama ia masih memiliki Luhan, ia akan baik-baik saja...

.

.

.

Kaca kamar mandi menjadi kabur karena uap panas air yang mengalir dari shower. Namun, hal itu bukan satu-satunya alasan mengapa udara dalam ruangan lembab itu menjadi panas, melainkan karena aktivitas dua pemuda yang sedang bergumul dengan tubuh basah seluruhnya. Tangan Luhan terangkat bertumpu pada pintu kaca saat Sehun menusuknya dari belakang. Suara lenguhan disertai desahan nikmat tak luput dari bibirnya saat Sehun semakin melekatkan tubuh mereka sambil mencium dan membuat tanda di tengkuk dan punggungnya.

"Shh.. Sehunnnahhh..."

Desahan itu semakin tidak terkendali saat Sehun menyentuh titik ternikmatnya. Kepala Luhan menoleh ke samping dan Sehun yang mengerti pun segera memberikan lumatan-lumatan lembut di bibir mungilnya. Sementara satu tangannya ikut menggenggam tangan Luhan dan tangan yang lain mengurut penisnya membuat Luhan tak bisa menjabarkan kenikmatan yang kini ia rasakan.

Bibirnya terbuka dan mengais udara dengan rakus, tak peduli lelehan saliva yang jatuh membasahi dagu dan turun ke dadanya. Tubuhnya dibalik dengan cepat dan kuluman Sehun di puting merah mudanya semakin menghantarkan gelinyar panas di sekujur tubuhnya. Sehingga tak lama kemudian, cairan kental keluar membasahi lantai dan cairan Sehun keluar keluar memenuhi rektumnya.

Keduanya mengatur nafas dengan tatapan yang saling mengunci satu sama lain. Kemudian senyum kepuasan yang terukir di bibir mereka mengungkapkan bahwa setiap kegiatan bercinta yang mereka lakukan memang selalu terasa hebat.

Dan seperti biasa, kegiatan panas itu diakhiri dengan kalimat cinta yang sudah familiar di bibir masing-masing.

.

.

.

Luhan sedang menyiapkan buah-buahan saat merasakan tangan Sehun memeluknya dari belakang. Hembusan nafas Sehun di tengkuknya begitu terasa ketika Sehun dengan sengaja meniup-niup daun telinganya membuat Luhan tidak bisa menahan diri untuk tertawa karena geli.

"Sehun, stop. Aku tidak bisa memotong buah kalau begini." Luhan berusaha melepaskan diri namun Sehun justru memeluknya semakin erat. Kemudian kecupan-kecupan Sehun di tengkuknya membuatnya sadar kemana hal itu akan bermuara.

Luhan berbalik dan menahan Sehun dengan kedua tangannya, "Sehun, berhenti. Kita baru saja melakukannya." Luhan mengingatkan.

"Memangnya apa yang baru saja kita lakukan?" Sehun justru bertanya dengan tampang polos khas anak-anak.

Wajah Luhan memerah, "Y-yak! K-kau tidak perlu pura-pura lupa!"

"Lupa apa? aku memang tidak ingat," ujar Sehun dengan seringai kecil. "Apa yang baru saja kita lakukan, Lu?" Sehun mengulangi pertanyaannya.

"Kita baru saja bercinta!" Luhan segera berbalik menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Sementara Sehun tertawa melihatnya.

"Ooh.. aku ingat sekarang." Sehun mengambil tempat di samping Luhan sambil menopang dagu dengan satu tangannya, "Kita baru saja bercinta di kamar mandi." ucapnya memperjelas membuat Luhan semakin memerah mendengarnya. "Mungkin aku harus merekam suara desahanmu, Lu. Itu sangat indah sebagai lagu pengantar tidur."

"Yak! Sehun, kau menyebalkan!" Luhan berjalan cepat meninggalkan dapur. Ia benar-benar merasa malu sekali.

Sehun masih tertawa sambil menghampiri Luhan yang telah duduk menonton televisi dengan tampang merajuk yang lucu. Sehun mengeluarkan selembar foto dari saku celananya dan menunjukkannya pada Luhan.

Luhan terkejut melihat foto itu. Sebuah foto ketika ia dan Sehun berciuman. Luhan menoleh melihat Sehun yang telah duduk di sampingnya.

"Bagaimana? Itu foto yang bagus, kan'?"

Luhan mengangguk pelan.

"Kalau begitu ini untukmu." Sehun memberikannya pada Luhan dan Luhan menerimanya dengan senang hati.

"Aku akan menyimpannya."

"Satu lagi." Sehun mengeluarkan sebuah gelang cartier dari sakunya. Lalu ia memakaikan gelang itu di tangan Luhan, "Aku benar-benar tidak paham dengan hal-hal romantis seperti ini. Tapi, aku sering melihat sepasang kekasih memiliki benda couple mereka dari televisi. Jadi, aku ikut membelinya juga. Kuharap kau menyukainya."

Luhan memandangi gelang itu dengan perasaan bahagia. Sehun memakai gelang yang sama di tangan kanannya. Mereka benar-benar tampak seperti sepasang kekasih sekarang.

"Terima kasih, Sehun." Luhan tersenyum memeluknya. Sehun ikut tersenyum membalas pelukannya. Mereka begitu diliputi rasa bahagia sehingga tidak menyadari Victoria telah pulang dan berdiri mematung di belakang mereka.

"Apa yang kalian lakukan?!"

Sehun dan Luhan berbalik terkejut dan segera berdiri ketika melihat Victoria. Victoria mendekat dan Luhan berusaha menyembunyikan foto di tangannya di balik punggungnya.

"Perlihatkan!" Victoria tahu Luhan menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. "Perlihatkan padaku apa yang kau sembunyikan, Luhan." Ujar Victoria tenang tapi dengan nada yang mengancam.

"Ibu,"

Victoria yang mulai tidak sabar, segera mengambilnya dengan paksa. Selanjutnya, kedua mata Victoria terbelalak tidak percaya melihat selembar foto dimana Sehun dan Luhan sedang berciuman. Kata 'tidak mungkin' berulang-ulang terucap di bibirnya.

"Sehun. Jelaskan apa maksud semua ini!" Victoria tidak dapat mengendalikan suaranya yang meninggi akibat perasaan tak tenang, berharap apa yang ia pikirkan tidak seperti kenyataan yang ada.

Mulut Luhan membisu mendengarnya. Ia menatap Sehun dan Sehun menatapnya. Sehun tahu ia memang harus menghadapi hal ini cepat atau lambat. Sehingga yang ia lakukan selanjutnya adalah menjelaskan dengan sebenarnya apa yang terjadi.

"Sudah jelas, bu. Aku dan Luhan, kami sepasang kekasih." Sehun menjawabnya dengan tenang, tanpa sedikitpun memberikan pembantahan membuat Victoria seakan tertohok oleh kenyataan.

Victoria memang telah merasakan ada yang ganjal dari interaksi Sehun dan Luhan. Mereka tampak begitu dekat dan tidak terpisahkan. Padahal Sehun bukanlah orang yang begitu menyukai skinship, tapi Sehun justru tersenyum saat Luhan mengelus lembut dagunya. Mereka sering belajar bersama dan Sehun memang banyak berubah belakangan ini. Sehun tidak lagi pulang telat karena ia selalu pulang bersama Luhan. Ia juga lebih sering terlihat berkeliaran di rumah, tidak seperti sebelumnya yang hanya mengurung diri di kamar. Memang semua perubahan Sehun adalah perubahan yang baik. Victoria mengakuinya. Tetapi tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Dan ia mengetahui alasannya sekarang.

"Apa kau sadar dengan yang baru saja kau ucapkan Sehun?! Sepasang kekasih? Jangan bercanda! Demi Tuhan! Kalian sama-sama lelaki, Sehun!"

"Memangnya kenapa, bu? Aku mencintai Luhan. Kami saling mencintai. Tidak ada yang salah dengan itu!"

Victoria menggeram menahan amarah, ia tiba-tiba melayangkan tamparan keras di pipi Luhan.

Plakk!

"Ibu!"

"Kau!" Victoria menunjuk Luhan dengan amarah memuncak, "Apa yang sudah kau lakukan pada putraku, sialan!"

Luhan memegang pipinya yang panas dan nyeri di saat bersamaan, menatap Victoria dengan mulut yang membisu.

"Apa yang ibu lakukan?!" Sehun menggeram dan segera menatap Luhan cemas, "Maafkan aku, Lu. Kau tidak apa-apa?" Sehun meraba bekas tamparan ibunya di pipi Luhan, berharap hal itu dapat sedikit mengurangi rasa sakit yang kekasihnya rasakan.

Victoria berdecih tidak percaya melihatnya.

"Ibu salah kalau melemparkan semua kesalahan pada Luhan! Ini salahku, bu. Aku yang mencintainya lebih dulu!"

"Diam Sehun!" Victoria berteriak penuh amarah, "Tentu saja ini semua salahnya! Kalau saja dia tidak pernah muncul dalam keluarga kita, semua akan baik-baik saja! Kau tidak akan menyimpang dan tetap menjadi satu-satunya pewaris keluarga!"

Luhan tertegun mendengarnya. Kalimat-kalimat Victoria terasa benar di telinganya.

"Dia adalah mimpi buruk bagi keluarga kita, Sehun! Kau harus sadari itu!"

"Ibu, cukup!" Sehun berteriak frustasi.

"Sehun!" Mata Victoria terbelalak mendengarnya, "Ibu tidak pernah mengajarimu bersikap tidak santun seperti itu! Kau meneriaki ibumu sendiri karena dia! Dia yang sama sekali tidak ada hubungan darah denganmu!" Victoria masih dengan pandangan sengitnya menunjuk Luhan dengan nafas tak beraturan.

"Ini bukan karena Luhan, bu! Sejak awal aku memang bukan anak kandung ayah! Aku memang tidak akan pernah menjadi pewaris keluarga! Ibu hanya menggunakanku untuk mendapatkan harta tanpa sedikitpun memikirkan apa yang kurasakan! Ibu tidak tahu berapa besar rasa bersalahku pada ayah! Ayah yang menghidupiku tanpa mengetahui kalau aku bukan anak kandungnya!" Sehun menarik nafas dalam, "Aku menyesal terlahir dari rahim wanita yang gila harta seperti ibu!"

"Sehun!"

"Sehun, cukup." Genggaman tangan Luhan di tangannya membuat Sehun menoleh, Luhan menatapnya dengan kedua mata memohon, "Cukup, Sehun. Dia ibumu..."

Sehun menghela nafas melihatnya, sementara Victoria menggeram menahan amarah.

"Ada apa ini?" Yifan muncul dengan masih mengenakan pakaian kantornya.

Sehun, Luhan, dan Victoria serempak melihat ke arahnya. Suasana berubah hening sesaat dengan Victoria yang masih menatap benci pada Luhan. Tak lama kemudian, Victoria melirik Luhan sinis, lalu berjalan menghampiri Yifan.

"Mereka menjalin hubungan asmara terlarang." Kata Victoria sambil memberikan selembar foto di tangannya pada Yifan.

Yifan melihat foto di tangannya tidak percaya. Ia menatap Sehun dan Luhan yang hanya terdiam membisu bergantian dengan tatapan yang syarat kekecewaan.

"Apa itu benar?"

Luhan menunduk tak mampu menjawab.

"Ayah..."

"Kalian saudara, demi Tuhan! Mengapa hal ini bisa terjadi?!" Suara Yifan meninggi, "Luhan adalah kakakmu, Sehun! Di dalam tubuh kalian mengalir darah yang sama! Tidak seharusnya kalian terlibat dalam hubungan percintaan!"

Sehun mengelak mendengarnya, "Tapi, aku bukan-"

"Sehun!" Mata Victoria membulat saat menyadari Sehun akan mengungkapkan rahasia terbesarnya saat ini.

Dan Sehun memang akan melakukannya, jika saja Luhan tidak memegang tangannya untuk menghentikannya. Sehun menoleh dan menemukan Luhan menggelengkan kepalanya pelan.

"Maafkan aku, appa..."

Yifan menghela nafas kasar, sambil memijat pelipisnya.

"Ini tidak boleh terjadi." Yifan berpikir keras, "Bagaimanapun, kalian tidak boleh bersama."

Yifan terdiam sejenak, "Luhan, ayah akan mengirimmu ke luar negeri dan lanjutkan pendidikanmu di sana."

Mata Sehun membulat mendengarnya. Mulutnya terbuka untuk menyuarakan protes namun terhenti ketika mendengar suara Luhan berucap pelan.

"Baiklah, appa."

Sehun melihatnya tidak percaya. Mengapa semudah itu Luhan menyanggupinya? Menyanggupi perpisahan dengannya? Tanpa sedikitpun berusaha mempertahankan hubungan mereka?

Luhan menatap Sehun dalam diam. Menyadari kekecewaan yang jelas tersirat dari kedua mata Sehun untuknya.

"Maafkan aku."

.

.

.

TBC

Terima kasih sudah membaca~

Jujur sy tidak bisa memikirkan akhir yg bahagia untuk cerita ini. Dari judulnya saja sdh 'my nightmare', jadi bawaannya pengen nulis yg sad ending. Apa tidak apa?

Mohon tanggapannya chingu~

Terima kasih untuk yg sdh review chapter 6 kemarin:

luluuuHS/ DEERHUN794/ Han HunHan/ sherli898/ Arifahohse/ DeerLu947/ Seravin509/ Kyunie/ karinaalysia2047/ andhin31/ Eun810/ Princess Xiao/ lulunaoh/ Lunar effect/ luhanzone/ shamphony/ RenBelva/ RusAngin/ jinyoungie98/ Double Kim/ aicikm/ .58/ Kania Ssinz/ dearmykrishan/ Nam sung young/ Hannie222/ Luhan204/ Dian Rizky226/ nurhasanah94/ Apink464/ xiyu1220/ LuHunHan/ yongie17/ mischa baby/ auliaMRQ/ niaexolu/ nqomariah947/ / jonginims/ Oh Hee Ra/

See u final chapter~