Main Cast : Hunhan
Other Cast : bermunculan sesuai dengan cerita
"Hah... ternyata Cuma mimpi" Sehun bersyukur karena hal yang tadi dialamainya Cuma mimpi kemudian Sehun beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mandi
Sehun sudah siap – siap pergi ke kantor namun ketika diruang tamu sekelebat bayangan mun cul didepan matanya dimana ketika Sehan merengek padanya untuk meminta es krim. Sehun teringat betapa kejamnya dirinya pada sang anak dan tidak pernah memanggil anaknya dengan nama panggilannya.
"ARGH..." Sehun menjambak rambutnya frustasi karena dia bisa gila mengingat semua tentang anak sialan itu. Kemudian Sehun berjalan dengan cepat agar bayangan tersebut tidak muncul lagi dan membanting pintu apartementnya dengan kuat
..
..
..
"Pagi pak" Sehun disambut oleh seluruh staff Oh Corporation ketika dirinya memasuki lobby utama
"Hm" Sehun menjawab singkat kemudian melangkahkan kakinya dengan arogan hingga menuju ruangannya
"Pak, nanti siang anda jadwal dengan nona Luhan untuk proyek di jeju" sang seketaris memberitahu jadwal bosnya sedangkan Sehun hanya mengangguk dan menyuruh seketarisnya keluar melalui gerakan tangannya
"Hah... Kenapa sulit rasanya untuk berjumpa denganmu Lu" Sehun merasa bukan dirinya untuk saat ini semenjak dia memimpikan Luhan dan Sehan tidak mengenal dirinya bahkan menganggapnya sebagai orang asing
"Bagaimana pun Luhan harus menjadi milikku" Sehun tersenyum licik karena jika Luhan memang tidak mengenalinya seperti di mimpinya maka biarkan Sehun memperkenalkan dirinya
..
..
..
Drtt.. Drtt..
"Sehun, kutunggu kau dibawah. Sekarang adalah jadwal untuk memeriksa proyek tersebut" Luhan malas berbasa basi dengan suaminya, lagian Sehun adalah perayu ulung sehingga membuat Luhan semakin jijik dengan suaminya
"Tidak sopan langsung mengatakan ke hal inti sayang" Sehun mendengus namun memberikan pengertian pada Luhannya
"Terserah, sekarang kau turun" Luhan menutup telephone sedangkan Sehu tersenyum karena Luhan masih bisa diajak kerja sama
Setelah keluar dari ruangannya, Sehun terkejut karena Luhan sama sekali tidak nampak lalu seseorang muncul dari belakangnya dan menarik tangannya secara mendadak "Lu.."
"Ayo cepat, kau membuang waktuku saja" Luhan kesal karena Sehun masih sempat santai sedangkan yang lainnya melihat mereka ada yang cemburu dan ada yang terpesona namun Luhan mengabaikannya
"Sabar sayang" Sehun tetap mengikuti Luhan yang menarik tangannya, jika bukan Luhan sang pelaku maka bisa dipastikan Sehun akan menghajarnya
BLAM
"Kenapa naik satu mobil Lu" Sehun tidak terima jika dirinya disuruh duduk diam disamping Luhan sedangkan Luhan yang akan membawa mobil
"Biar cepat, kau nanti bisa saja memperlambat langkahku" Luhan menatap lurus kedepan sambil menjalankan mobilnya sedangkan Sehun menatap tidak suka
"Begitukah caramu bicara pada suamimu" Luhan diam saja, dia malas menjawab pertanyaan tidak bermutu milik Sehun
"Oh, aku baru ingat. Tadi malam aku bermimpi kau dan Sehan bermain di taman kota lalu aku menghampiri kalian tetapi kalian tidak mengenalku termasuk anak sialan itu yang menangis dan memanggilku ahjussi. Kalau Sehan tidak menganggapku ada aku tidak masalah, tetapi jika itu dirimu maka aku tidak bisa hidup" Sehun menceritakan mimpinya dengan secara singkat
"Mungkin itu karma yang kau terima, dan juga kau bisa hidup selama sebulan lebih dengan baik tanpaku" Luhan menyerang Sehun
"Tidak ada yang namanya karma, dan juga kau tidak akan bisa pergi jauh dariku karena kau milikku" Sehun mengusak sayang rambut Luhan dan turun ke dada Luhan
PLAK
"Sopan kau pada orang lain" Luhan menampar Sehun karena sudah berani melakukan yang tidak – tidak padanya
"Kau masih sah jadi istriku jadi berbuat sopan atau tidak, itu tidak masalah" Sehun menjawab santai sambil menarik tangannya dari dada Luhan
"Bukan berarti aku seperti budakmu yang rela melakukan apapun Sehun" Luhan tak habis pikir dengan pemikiran suaminya
"Well, aku minta maaf padamu" Sehun minta maaf karena dia sudah menyinggung perasaan Luhan yang derajatnya disamakan dengan budak
"Aku tidak butuh" Luhan fokus menyetir dan mereka butuh waktu sekitar dua jam untuk menuju jeju. Selama perjalanan mereka hanya diam, Luhan tidak mau terlalu banyak bicara pada Sehun yang ujung – ujung akan berkelahi di tempat orang
..
..
..
BLAM
Luhan dan Sehun turun dari mobil lalu menuju lokasi proyek yang akan dibangun di Jeju. Luhan berjalan dibelakang Sehun karenan suaminya lebih tahu lokasi tersebut dibandingkan dengan dirinya sehingga sekarang dia membutuhkan bantuan Sehun.
"Kenapa kau dibelakang, kau kira kau bosnya" Sehun berujar sinis karena Luhan berjalan dibelakangnya
"Bukan, aku hanya tidak tahu lokasi ini" Luhan menjawab sambil berjalan agak cepat agar sejajar dengan Sehun
"Siang tuan Sehun dan nona Luhan" sang arsitek yang hasil rancangannya digunakan untuk proyek ini meyapa Sehun
"Siang" Sehun membalas singkat sedangkan Luhan tersenyum singkat
"Siang ahjussi" Luhan menyapa ramah arsitek tersebut
"Proyek yang dikerjakan sudah selesai setengahnya, dan sisanya akan selesai dalam seminggu lagi" sang arsitek yang diketahui bernama Minhyuk tersebut menjelaskan keseluruhan proyek yang sedang dikerjakan
"Bagus, aku harap proyek ini cepat selesai agar bisa digunakan" Sehun tetaplah angkuh didepan semua orang
"Kerjakan sesuai dengan kemampuan kalian, aku tidak mau proyek ini hancur hanya karena ingin mengejar waktu" Luhan mengatakan hal yang bertolak belakang dengan yang dikatakan Sehun
Sehun menatap Luhan tidak percaya, selama ini istrinya selalu mengikuti apa yang dikatakannya. Namun kali ini berbeda, Luhan terlihat lebih dewasa dan menjadi pemimpin yang peduli pada segalanya.
"Jika Tuan Sehun dan Nona Luhan ingin beristirahat, silahkan berjalan sekitar dua meter dari tempat ini dan disana ada hotel untuk penginapan" sang arsitek memberikan petunjuk karena dia bisa melihat wajah kelelahan dari Nona Luhan, namun tidak sopan jika tidak mengajak Tuan Sehun
"Baiklah, terima kasih" Luhan tersenyum singkat kemudian dia mengajak Sehun untuk masuk kedalam mobil dan menuju lokasi yang ditunjukkan Minhyuk tadi
..
..
..
"Permisi, ada yang bisa saya bantu" sang kasir bertanya ramah pada Sehun, dia memasang wajah menggodanya berharap Sehun si pria tampan terangsang dengan godaannya
"Saya ingin memesan satu kamar yang executive room" Sehun memesan dengan cepat sedangkan Luhan ketakutan karena akan satu kamar dengan Sehun
"Maaf, kami pesan dua kamar executive room" Luhan menyela dan sang kasir memeriksa ruangan yang kosong
"Maaf nona, hanya tinggal satu kamar untuk executive room. Sisanya semua sudah full" Sehun memasang wajah senangnya karena pada akhirnya pilihannya selalu tepat
"Terima saja" Sehun mengambil kunci kamar tersebut setelah registrasi dan pembayaran
Mereka berjalan hingga menuju lantai tiga dengan kamar nomor 1220. Sehun membuka pintunya kemudian mempersilahkan istrinya untuk duluan masuk.
"Aku tidur disofa" Luhan mengalah kali ini agar tidak berdebat dengan Sehun
"Tidak, kasurnya bisa untuk dua orang. Walaupun kita memang berkelahi tetapi cobalah profesional, aku tidak mungkin memperkosamu" Sehun selalu heran dengan tindakan Luhan yang diluar batas
"Nghh... kau saja yang mengatakan tidak akan memperkosaku namun selama ini kau menggunakan Sehan sebagai umpan untuk menjeratku dan menggodaku dengan melakukan sex" Luhan tetap takut dengan suaminya yang akan menerkamnya suatu saat
"Aku janji kalau aku tidak akan menyerangmu" Sehun mengangkat kedua tangannya untuk bersumpah
"Baguslah, kalau kau pria maka tepati janjimu" Luhan membaringkan tubuhnya karena dia sungguh lelah dengan jadwalnya sebagai manager
"Kau istirahat lahh" Sehun mengambil barangnya dari dalam tas dan Luhan yang hendak tidur terkejut dengan apa yang dipegang Sehun
"Sejak kapan kau minum alkohol?" Luhan sungguh kecewa dengan Sehun yang sudah berbeda dengan yang dulu
"Sejak kau dan Sehan meninggalkan apartement" Sehun meneguknya setelah menjawab pertanyaan Luhan
"Bisakah kau membuangnya, aku tidak mau memiliki suami yang pemabuk" Luhan berang untuk kesekian kalinya pada Sehun, apakah ini caranya untuk menikmati dunia dengan mabuk – mabukan
"Kenapa kau perhatian padaku, kau mengatakan kalau kau ingin kita bercerai" Sehun tidak habis pikir kenapa Luhan masih peduli padanya, padahal setiap ketemu pasti akan berujung perkelahian diantara mereka
"Kau masih suamiku, aku belum menceraikanmu dan juga aku hanya kecewa dengan caramu memperlakukan Sehan. Jika kau berubah mungkin aku akan kembali padamu"
"..."
"Sehun, kumohon buang semua alkohol itu jika kau masih menghargaiku sebagai istrimu" Luhan menggunakan statusnya untuk menghentikan Sehun merusak tubuhnya lebih dalam sambil menangis sedih dengan keadaan suaminya
"SIAL" Sehun membuang botol alkohol tersebut kedalam keranjang sampah dan mendekati Luhan diranjang serta memeluknya erat
"Maafkan aku sayang" Sehun memeluk Luhan yang sudah ketakutan
"Hm" Sehun yang berada didalam pelukan hangat suaminya hanya menganggukan kepala saja
"Sehun, aku ingin bertanya satu hal padamu tetapi kau jangan marah" Luhan mencoba untuk mengambil hati Sehun dengan cara lembut
"Apa sayang?" Sehun menjawab sambil tangannya mengusap sayang rambut istrinya yang sudah mulai berubah menjadi istrinya seperti dulu
"Aku ingin kita kembali seperti semula dan dimana Sehan sebagai kebahagian kita"
"Maaf kalau tentang Sehan aku masih belum bisa menerimanya"
"Aku mengerti, namun coba lah kau terima dian sebagai anakmu. Kau tahu dia sungguh mirip denganmu mulai dari alis, mata, hidung, bibir, dagu, kulit putih, tinggi, manjanya, dan terakhir pastinya dia akan memiliki penis yang panjang sepertimu" Luhan mengatakannya sambil memegang tubuh Sehun dan terakhir meremas penis suaminya
"Lu.. jangan menggodaku, aku tidak bisa menahan hormonku" Sehun menahan hormonnya karena perjanjiannya dengan Luhan tadi
"Seandainya kau tidak membuat perjanjian tadi, aku juga akan tidak akan menyerahkan diriku padamu. Aku takut hamil untuk kedua kalinya, dan setelah dia lahir appanya tidak mengharapkannya padahal melahirkan begitu sakit dan itu adalah taruhan nyawa"
"..."
"Coba kita tukar posisi, aku hanya memberikan spermaku untukmu dan kau yang melahirkan. Apakah kau sanggup anak yang kau kandung selama sembilan bulan dan anak yang kau pertaruhkan nyawanya dengan nyawamu sendiri disakiti oleh orang lain. Apa kau tega melihatnya" Luhan menyerang Sehun dengan cara yang baik
"Aku tidak tega Lu" Sehun sebenarnya berhati emas namun kecemburuannya mebutakan segalanya
"Cobalah kau mengerti diriku, aku sakit melihat anakku sakit. Jika anakku sakit, aku berdoa pada Tuhan agar sakitnya pindah padaku saja"
"Aku minta maaf Lu" Sehun merasa dia bersalah karena sudah membuat istrinya menangis hebat malam ini
"Jangan meminta maaf padaku, kau minta maaf pada Sehan"
"Hm"
Kemudian mereka tertidur berdua dengan posisi saling berpelukan, Luhan sudah mencoba membuka hatinya untuk kedua kalinya dan berharap Sehun berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
..
..
..
Pagi harinya disibukkan untuk mengecek secara lebih rinci mengenai lokasi proyek yang sedang dibangun. Setelah Sehun bersiap – siap dan memainkan handphonenya menunggu Luhan yang masih mengeringkan rambutnya.
"Ayo Lu" Sehun mengajak Luhan untuk bergegas menuju lokasi proyek namun ketika mereka setangah jalan dari hotel dengan jalan kaki, hujan turun dengan derasnya hingga membuat Sehun dan Luhan berlari untuk mencari tempat berteduh
"Kau baik – baik saja Lu" Sehun khawatir dengan istrinya yang tidak tahan cuaca dingin sehingga Sehun memberikan jaketnya pada Luhan
"Pakailah, kau pasti kedinginan Lu" Sehun masih perhatian padanya, Luhan menyukai cara Sehun memperlakukannya layaknya majikan
"Terima kasih Hun" Luhan terseyum lembut dan dia masih menyukai cara lembut Sehun memperlakukannya
Mereka menungguh sepuluh menit hingga hujan reda, namun mereka tidak mungkin ke proyek dengan kondisi basah sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersih - bersih.
"Sehun, ayo" Luhan yang baru siap mengeringkan rambutnya untuk kedua kalinya langsung menyuruh Sehun untuk beranjak
"Hm" Sehun dan Luhan berjalan beriringan menuju lokasi proyek dan mereka menemukan semua pekerja dengan kondisi basah, Sehun naik pitam karenanya
"Kenapa kalian tidak berhenti bekerja ketika hujan, kalian tahu karena hujan kalian bisa sakit" Sehun tidak terima alasan untuk besoknya jika mereka tidak bekerja karena alasan sakit kena hujan
"Maaf pak, kami harus menyelesaikannya dalam waktu cepat karena sesuai dengan permintaan anda" salah satu pekerja bangunan tersebut menjawab pertanyaan Sehun dengan tidak sopannya
"Sabar Sehun, kau sabar lah melihat mereka" Luhan menasehati Sehun yang hendak memaki orang yang berani menjual namanya dengan cara yang tidak baik
"Lain kali kalian pakai otak, kalau kalian sakit besoknya bisa lebih parah kalian tidak bekerja" Sehun tidak habis pikir dengan cara pemikiran mereka
"Lu, ayo kembali" Sehun menarik tangan Luhan karena kesal dengan pekerja bangunan yang tidak memiliki sopan santun tersebut
Setelah didalam kamar hotel Sehun memasang wakah kesalnya mengingat yang tadi, sedangkan Luhan mencoba untuk menasehati Sehun.
"Sudahlah Hun, mereka memang sulit diatur" Luhan mengusap sayang punggung Sehun yang saat ini masih berstatus suaminya
"Aku tidak suka saja dengan cara mereka bekerja Lu" Sehun berbicara lembut namun masih terkesan dingin
"Biarkan saja mereka mengurus diri sendiri Hun, kau lebih baik istirahat saja" Luhan menidurkan badan Sehun dan menaikkan selimutnya namun tangannya tidak sengaja menyenggol penis suaminya yang masih tidur
"Shh..." Sehun mendesah sedangkan Luhan terkejut dengan suara yang dikeluarkan Sehun
"Kau kenapa?" Luhan memasang wajah herannya
"Kau menyenggolnya Lu" Sehun hanya memberikan arahan singkat, namun Luhan mengerti arti dari maksud Sehun
"Oh, aku minta maaf" Luhan grogi karena dia sudah memancing serigala untuk keluar dari kandang
"Ya, aku sudah janji dan itu harus ditepati" Sehun mencoba untuk merilekskan badannya agar tidak berpikir aneh - aneh dan berujung menyerang Luhan
~TBC~
