Expectation of Love
Disclaimer : Mamashi Kishimoto
By : wf
Pairing : naru x?, sasuruko, gaasaku, shikaten, sai x?, nejitem, dll
Warning : smart!naru, cool!naru, OOC, maaf kalau cerita ini masih abal, gaje, dan banyak sekali typo, karena saya masih penulis baru dan masih amatir dan juga kalau ada kesamaan cerita dengan author lain, saya sungguh minta maaf, tapi sungguh ini murbi dari pikiran saya sendiri, I hope you can enjoy reading this story, guys...
Chapter 7 : kejadian tak terduga..
Aku berjalan gontai dilorong menuju kearah kelasku, sudah dua hari sejak ia mengatakan pernyataan itu padaku. jujur, selama dua hari itu aku cukup terpuruk, memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Kami-sama, kenapa masalah ini bertambah rumit, awalnya aku hanya ingin melihatnya bahagia dengan hinata, agar ia terbebas dari jeratan gadis pembawa sial sepertiku. Dan juga aku harus menuruti kemauan dari orang itu, agar tidak terjadi sesuatu yang akan menyebabkan kekacauan.
Tapi, apa aku akan sanggup dengan keadaan seperti ini, melihatnya saja sudah hampir membuatku lepas kendali. Karena, hanya dengan melihatnya, hati kecilku selalu meneriakan agar aku segera berlari kearahnya dan memeluknya dengan erat. Kami-sama, hanya kau yang tahu seberapa besar aku mencintainya.
Aku ingin sekali membalas pernyataannya itu dengan jawaban iya, namun aku takut jikalau suatu waktu orang itu tahu bahwa kami tengah menjalin hubungan. Dan ia segera melakukan ancamannya itu. Aku tidak mampu membayangkan jika itu terjadi, maka dari itu aku harus menjauhi dan menghindarinya agar ia tidak melakukan perbuatan yang dapat mengancam keselamatanku dan dirinya serta bisa saja keselamatan teman dan keluarga kami juga terancam.
Aku terus memikirkan hal itu sambil berjalan gontai menuju kelas, 'bruk'aku tidak sadar telah menabrak seseorang karena lamunanku.
"kenapa kau melamun sambil berjalan, yamanaka-san" tegur suara berat yang sangat aku kenali. Ya dia adalah Kakashi sensei. Mati aku, aku pasti terkena hukuman ganda, pertama aku terlambat, ya aku memang terlambat, dan sudah tahu terlambat aku masih saja berjalan santai kearah kelas. Kedua aku menabrak wali kelasku sendiri, yak, kenapa kau baka sekali ino, batinku sambil memukul kepalaku.
"kenapa kau memukul kepalamu sendiri, yamanaka-san" tanya kakashi sensei padaku, aku hanya diam sejenak dan ketika aku hendak menjawab, kakashi sensei menebak, "pasti kau sedang memaki dirimu sendiri, karena menyadari kesalahan yang telah kau perbuat, begitu kan yamanaka-san" tebaknya. Aku terdiam mendengar tebakan wali kelasku ini, apa mungkin kakashi sensei itu seorang cenayang, sehingga ia bisa membaca pikiranku.
"aishh, sensei bukan cenayang" dengusnya, nah benarkan tebakanku, ia bisa mengetahui apa yang aku pikirkan. "kenapa sensei tahu apa yang aku pikirkan, sensei memang seorang cenayang kan, mengaku saja sensei, aku tidak akan mengatakan pada siapapun, suer deh" jelasku padanya sambil menampilkan jari telunjuk dan tengahku membentuk simbol pis. Mungkin jengah dengan penjelasanku, ia mendengus pelan.
"ck, sekali lagi sensei katakan, sensei bukan cenayang" tekannya padaku. aku menatapnya bingung. "tapi, kenapa sensei mengetahui apa yang tengah aku pikirkan, hayo, kalau bukan seorang cenayang" protesku lagi.
"ck, semuanya terpampang jelas pada ekspresi dan raut wajahmu, mengatakannya dengan jelas, baka" jelasnya padaku. aku masih belum mengerti apa hubungannya dengan ekspresi wajah.
"kakashi sensei, apa hubungannya dengan ekspresi wajah, apa iya itu bisa menjelaskannya" tanyaku padanya. "tentu saja, bisa baka, karena ekspresimu menjelaskannya, sudahlah sensei sibuk sudah bel masuk sensei harus mengajar" katanya padaku sambil berjalan mendahuluiku.
OMG, mati aku, pasti ia akan menyadari aku kan terlambat. Sepertinya dugaanku benar, sensei menghentikan jalannya pertanda ia sudah menyadarinya.
"eeh, tapi tunggu bukannya kau baru datang ya yamanaka-san" suara kakashi sensei bagai harimau yang tengah mengejar mangsanya ditelingaku. Aku bergerak seperti cacing, memikirkan alasan yang cocok agar tidak terkena hukuman darinya.
"ck, tidak usah banyak memikirkan alasan, sensei akan memaafkanmu hari ini, mengingat kau baru masuk sekolah" ujar kakashi sensei padaku.
"benarkah, sensei" tanyaku dengan nada riang dan mataku berbinar-binar karena senang. Ia hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. "yey" teriakku girang. "kelas sudah dimulai yamanaka-san, jangan kau buat keributan dengan suaramu" tegurnya padaku. hehehe, aku menampilkan cengiran bodohku padanya. "gomen kakashi sensei, aku hanya terlalu senang, arigatou, sensei ganteng deh hari ini" ucapku padanya sebelum aku berjalan mendahuluinya menuju kelas.
Aku tahu ia pasti sedang mendengus karena kelakuanku, biar saja. Dengan ini, sedikitnya memperbaiki moodku. Aku memasuki kelasku dengan santai dan senyum di wajahku, tidak peduli dengan tatapan heran dari teman-temanku, ditambah dengan tatapan dingin dari naruto-kun. Sungguh menyakitkan menerima tatapan itu dari orang yang kita cintai, sudahlah ino, bukannya ini adalah pilihanmu. Jadi jangan merusaknya dengan wajah menyedihkanmu. Aku tetap memberikan senyumanku pada mereka.
Aku melangkah pelan menuju kursiku disamping naruto-kun. Aku berusaha menenangkan diriku yang sekarang dilanda kegugupan dan gelisah sebab canggung atas kejadian itu.
Tenang ino, kau bisa mengatasinya, aku memutuskan untuk fokus pada pelajaranku. Agar semuanya tidak menjadi kacau.
Naruto pov
Sejak ia melangkah masuk dengan santai serta senyum yang terpatri diwajahnya, apa ia tidak merasakan gelisah seperti aku, jujur setelah mendapat penolakan itu. aku tidak dapat mengendalikan diri. Aku kembali pada kebiasaanku lamaku, yaitu balapan ugal-ugalan.
Apakah ini akhir dari kebahagiaanku kami-sama? Sebenarnya aku tidak ingin menjadi orang lain dihatinya, apakah memang dihatinya aku hanya orang lain. Atau ia memang sudah mendapatkan orang yang ia cintai sehingga ia menolakku.
Aku sudah mengikuti semua yang ia minta, aku menghindarinya, aku akan berusaha melupakan perasaanku ini. Sehingga ia tidak kehilangan kebahagiaannya.
"baiklah, anak-anak, karena kita sebentar lagi akan menghadapi ujian kenaikan kelas, kita akan mengadakan kelas tambahan bagi yang memiliki nilai yang rendah" suara kakashi-sensei menghilangkan lamunanku.
Hah, aku mendengar suara helaan nafas berat bagi sebagian teman sekelasku ini, apa mereka memang memiliki nilai yang buruk sehingga membuat mereka seperti itu, bukannya setahuku baa-chan, mengatakan kalau kelas ini adalah kelas yang paling genius di sekolah ini.
Aku tidak mengerti kenapa mereka seperti itu dan juga aku cukup heran dibuatnya. "kau, tidak perlu heran seperti itu, naruto-kun, walau kami memang dikelas ini, namun nilai kami juga tidak terlalu sempurna, mungkin kami memasuki kelas ini karena prestasi non akademik kami" sahut gadis itu. "hn" gumamku dengan dingin dan datar.
Aku tidak ingin terlalu menggubrisnya sehingga aku hanya membalasnya dengan nada itu.
Skip time
Sudah setahun semenjak penolakan yang dilakukan ino pada naruto. Tidak ada perubahan yang terlalu signifikan pada mereka, namun persahabatan naruto dan teman-temannya sudah terjalin erat.
Termasuk dengan dua anak, yang pada awalnya mereka anggap aneh. Yang sudah mereka ketahui namanya adalah inuzuka kiba dan Rock lee. Mereka adalah teman yang cukup konyol di group mereka, karena hanya mereka yang bisa merubah suasana yang tenang itu menjadi heboh selain para wanita itu.
Dan disinilah mereka, berada di sebuah bukit yang pernah naruko dan sasuke temukan. Tempat mereka mencurahkan segala keluh kesah mereka, tempat mereka menenangkan diri jika mendapatkan masalah.
"hm, teman-teman, setelah ini kalian akan melanjutkan kuliah kemana, kalau aku akan pergi jauh apa kalian akan merindukanku" tanya seorang gadis berambut pirang bermata aquamarine kepada teman-temannya setelah cukup lama terdiam menikmati pemandangan hamparan bunga di musim semi ini.
"ck, kau mengatakan itu seolah kau akan pergi saja" ejek seorang pemuda berambut pirang dengan nada datar yang duduk di sebelahnya. "biarin, aku kan hanya bertanya" balas gadis yang bernama ino. Naruto hanya diam menanggapi tatapan tajam dari gadis yang masih menempatkan posisi pertama dihatinya itu.
Walau mereka tidak ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih, ia percaya suatu saat nanti ia dan ino akan mempunyai kebahagiaan yang hanya mereka dapatkan sendiri. Ia sekarang dapat mengerti kenapa ino menolaknya sewaktu itu, karena ino tidak ingin menyakiti hinata yang bernotaben sekarang adalah tunangannya.
"kalau aku ingin melanjutkan kuliah ketempat dimanapun jika itu bersama dengan sasuke-kun ku" jawab seorang gadis berambut pirang dengan iris mata sapphier seperti naruto. "ck, itu sih maumu naruko-chan" ucap seorang gadis berambut indigo dengan iris lavendernya, yang sedari tadi duduk sembari memeluk mesra pemuda disampingnya. Yang disambut gelak tawa dari para gadis.
"benar sekali, itu yang dikatakan hinata-chan," sambung gadis berambut coklat yang dibentuk seperti telinga panda disela tawanya, yang duduk disebelah pemuda berambut hitam diikat seperti nanas, yang kini memeluknya dengan posesif dan menjadikan bahu sang gadis sebagai tumpuan kepalanya,.
"dasar, kalian suka-suka ruko dong, tapi sekarang aku akan menjawabnya dengan serius, yang akan aku akui didepan kalian, bahkan ini baru aku katakan, yang belum ada seorang pun yang mengetahuinya selain diriku sendiri" ujar naruko pada mereka.
"apa itu naruko-chan" tanya sakura dengan nada penasaran yang diikuti anggukan oleh yang lain, bahkan para teman laki-laki mereka ikut mendengarkan dengan serius, terutama sasuke.
"aku ingin kuliah di prancis, karena aku ingin mendalami bidang fashion" jawab naruko. "eeh, kenapa kau kuliah kesana, bukannya kaa-san memintamu untuk masuk jurusan politik agar dapat ikut menjalani tradisi klan uzumaki, kitsune" ujar naruto pada adik kembarnya itu.
"tidak, aku akan tetap kuliah fashion di Prancis, aku tidak ingin mengikuti tradisi kuno itu, aku tetap akan kesana." Balas naruko. "terserah kau saja, aku tidak akan membantumu jika kaa-san marah" kata naruto dengan nada datar.
"kau akan tetap membantuku apapun yang akan terjadi nii-chan, aku akan pastikan itu" tegas naruko dengan nada tajam dan ancaman, sehingga teman-temannya yang lain bergidik ngeri seakan mereka melihat sinigami didalam diri naruko termasuk naruto dan sasuke.
'kenapa semua perempuan keturunan senju dan uzumaki itu, menyeramkan' batin naruto dan sasuke. "hn" gumam naruto. Naruko yang mendengar itu tersenyum puas.
"kalau kalian teman-teman" sambung naruko dengan nada ceria. "kalau aku ingin masuk jurusan tata boga, sehingga aku dapat meneruskan bisnis ayahku" sambung tenten.
"aku akan mengikuti jejak kakakku kuliah jurusan bisnis" ujar sakura.
"aku sih ingin mendalami lagi cara pembuatan alat kecantikan yang bagus, agar aku dapat melanjutkan usaha ayahku" jawab ino. Mereka sesaat terdiam mendengar jawaban ino, karena mereka mengetahui permasalahan ino dan ayahnya itu.
"aku ingin masuk jurusan hukum, menjadi pengacara hebat" lanjut temari, sehingga menghilangkan efek canggung tadi.
"aku akan masuk jurusan dibidang politik" sambung hinata.
" kalau kalian para cowok" tanya mereka dengan serempak.
"ck, merepotkan, tentu saja kami akan memasuki jalan yang akan membuat kami mudah untuk melanjutkan tugas dan pekerjaan orang tua kami" jawab shikamaru dengan nada malas.
"hn" sambung 5 pemuda lainnya dengan nada datar. Yang membuat para gadis sweatdrop mendengar jawaban singkat mereka.
Skip time
Hari ini adalah hari kelulusan kami semua, aku merasa sangat senang dapat melalui masa smaku dengan tenang dan damai, aku bersyukur orang itu tidak melakukan tindakannya.
Walau jujur, selama ini aku sangat menahan perasaan yang membuncah didadaku, aku sangat merasa sakit melihatnya bermesraan dengan hinata. Hati kecilku sungguh tidak rela. Tapi, aku tidak tahu harus berbuat apa.
Dan disinilah aku sekarang, menikmati keindahan pemandangan dari atap sekolah untuk terakhir kalinya. Aku menikmati hembusan angin, yang membelai setiap inci wajahku.
"aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini" sebuah suara berat membuyarkan lamunanku, suara yang sangat aku kenali.
Namun, ketika aku ingin menjawab pernyataannya, ia tiba-tiba memelukku erat. Aku cukup terkejut ditambah lagi suara jantungku berdebar kencang.
Aku berusaha melepaskan pelukannya, agar tidak ada orang yang akan salahpaham, namun ia tidak membiarkanku melepaskannya.
"kumohon, biarkan seperti ini, untuk sementara" lirihnya padaku. aku terhenyak mendengarnya. Kami-sama, tolong kuatkan aku agar aku dapat menahannya.
"aku mencintaimu ino, apa tidak bisa kita untuk bersama" ungkapnya lagi padaku. iya aku juga mencintaimu naruto-kun, sangat. Tapi aku tidak bisa. Aku cukup sadar dengan posisiku.
"aku..aku.."
"apa yang sedang kalian lakukan disini" sebuah suara yang juga aku kenali memotong perkataanku.
"hii..hinata" ucapku spontan, aku sungguh kaget dengan kedatangannya.
"ka..kami, kami hanya sedang mengobrol sebentar.." kataku mencoba menjelaskan padanya, namun perkataanku terpotong oleh naruto-kun "kami memang sedang mengobrol hinata, atau lebih tepatnya aku menyatakan perasaanku pada ino"
"bu..bukan, kok hinata. Kami hanya mengobrol biasa, naruto-kun hanya bercanda, iya kan naruto-kun" sanggahku akan ucapan naruto-kun. Aku menatap tajam kearahnya dengan mengatakan jangan bicara apa-apa.
"hn" gumam naruto-kun, "oh, begitu syukurlah, ayo kita turun, naru-kun, orang tua kita sudah menunggu" ujar hinata menarik lengan narutoku dengan mesra. Meninggalkanku sendiri diatap.
Sungguh dadaku sangat sesak sekarang. Kau kuat ino, kau harus kuat, lupakan perasaan ini. Setelah beberapa saat akupun turun dari atap menuju ruang aula yang digunakan untuk perpisahan kami yang selesai setengah jam yang lalu.
"hei, pig, kau kemana saja" teriak sakura padaku. aku hanya tersenyum mendengar teriakan sakura, "aku berada diatap sekolah, memangnya kenapa" tanyaku pada sakura,
"oo, ayo ikut, kami akan merayakan kelulusan kita, ayo teman-teman sudah menunggu" tarik sakura pada lenganku.
"eeh, darimana saja kau ino-chan" tanya tenten padaku. "dia dari atap" jawab sakura, aku yang ditanya malah dia yang menjawab.
"tunggu mana hinata-chan" tanyaku pada mereka. "hinata pulang bersama dengan orang tuanya, ia tidak diizinkan ikut dengan kita" jelas naruko padaku, oo..
"ya, sudah ayo kita berangkat" teriak temari. "oke" balas kami, tentu saja hanya kami yang perempuan, para cowok ini kan memang berwajah datar dan dingin.
Skip time
Aku terbangun ketika matahari mulai memasuki pelupuk mataku, aku mencoba menyesuaikan mataku dengan cahaya yang masuk.
Setelah kesadaranku mulai penuh, dimana ini, aku bertanya pada diriku sendiri, aku merasakan dua tangan kekar tengah memelukku. Kami-sama sebenarnya apa yang terjadi denganku, siapa orang yang tengah memeluk, yaayy, tanpa sadar aku berteriak.
"kenapa kau berteriak ino" suara itu. "naruto-kun" sahutku. "tunggu apa yang terjadi, kenapa kita bisa ada disini,,,dann... kenapa, kita tengaah.." ujarku panik sehingga aku tidak dapat melanjutkan perkataanku.
"eee, iya,, kenapa kita ada disini" ujarnya padaku. aku sungguh tidak dapat mengingat dengan jelas apa yang terjadi. Seingatku kami sedang berada disebuah cafe pribadi keluarga Uchiha, setelah itu kami memutuskan meminum bir pertama kami, dan kami cukup mabukk,, dannn...
Ya Tuhan, jangan bilang kalau kami "apa kita menuju kesini tanpa sadar" ujar kami bersamaan. "ya,, tuhan,," racau naruto-kun. "ino, sungguh aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu, aku akan bertanggung jawab atas dirimu" ujarnya padaku.
Bertanggung jawab, kata-kata itu tergiang diotakku, ya tuhan, aku baru teringat akan satu hal, aku sekarang sedang dalam masa subur.
Kami-sama apa yang harus aku lakukan. "tidak apa-apa naruto-kun, kau tidak perlu bertanggung jawab atas ini, aku tidak akan hamil, kan kita baru melakukannya sekali, jadi belum tentu aku hamil" jawabku dengan nada tenang, walau jantungku berdebar kencang dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
"tidak bisa, begitum aku akan tetap bertanggung jawab" tegasnya padaku, "tidak apa-apa, begini saja aku akan mengatakan padamu jikalau aku hamil nanti, aku akan mengatakan hamil atau tidak dua minggu lagi, bagaimana" jelasku padanya, sungguh aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan.
"tapi,," protesnya, "tidak ada tapi-tapian" tegasku padanya, walau jujur aku juga merasa takut. "baiikklah" pasrahnya atas keras kepalaanku.
Skip time
Dua garis, itu yang aku lihat pada alat tes ini. Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku hamil, anak naruto-kun. Apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus mengatakan ini padanya.
Iya, aku harus mengatakannya. Ia harus tahu kalau ia akan memiliki calon bayi, aku kemudian mengiriminya pesan untuk bertemu di taman untuk mengatakan hasil kejadian dua minggu yang lalu.
Tak beberapa lama, kemudian aku mendapati balasan iya darinya, setelah itu, aku bergegas menganti pakaian.
Aku menunggu dengan sabar naruto-kun, di tempat kami biasa bermain bersama sewaktu masih kecil. "ino,," sapa naruto-kun yang tengah berlari kearahku.
"jadi bagaimana, apa aku akan menjadi seorang ayah" tanyanya padaku. "aku..aku.."
"naruto-kun, aku mencarimu kerumah, tapi kata bibi kau sedang pergi ketaman, aku ingin mengatakan kalau aku hamil, anakmu" ungkap hinata pada kami.
Apa hinata hamil? Dan itu anak narutokun apa aku tidak salah dengar, ya tuhan, kenapa kau membuat ini semakin rumit. "apaa,, kapan kita melakukannya" tanya naruto-kun dengan nada terkejut, aku bisa tahu ia benar-benar jujur tidak tahu akan hal itu, aku dapat melihatnya dari kedua matanya.
"hikss, kau tidak ingat kejadian tadi malam naruto-kun, kita melakukannya setelah makan malam keluarga, kau menarikku kekamarmu, setelah itu, kita,,, kita,, hiks,, hiks" jelas hinata pada kami.
"aku tidak mengingat apapun, kalau kejadian itu pernah terjadi, hanya saja kepalaku sangat sakit ketika bangun dipagi hari" balasnya pada hinata. "kalau naruto-kun tidak menanyakan pada bibi kushina,," jelasnya lagi.
"ino, kau ingin mengatakan apa tadi ino" tanya hinata padaku, aku melihat tatapan tajamnya. "ee, iya naruto-kun, aku hanya ingin mengatakan tidak ada hasil atas kejadian dua minggu yang lalu, dan juga aku ingin mengatakan aku akan pergi kuliah ke luar negri, jadi aku hanya ingin mengucapkan perpisahan" ujarku, yah, aku sudah memutuskan untuk membesarkan anak ini sendiri, aku akan pergi dari jepang.
"jadi, aku mengucapkan selamat pada kalian" sambungku pada meraka. "tapii,, ino,.." protes naruto-kun dipotong oleh hinata. "ya, terima kasih ya ino" ujarnya padaku.
"hm, aku permisi, sayonara" ujarku sambil berlalu dari hadapan mereka.
Diperjalanan pulang aku mencoba menahan isak tangisku, setelah sampai dirumah aku segera mengemas barang-barangku dan mencari tiket ke luar negri.
"yabbuseyo (halo)" sahut seseorang.
"nee, naya unnie,(ini aku unnie)"
"ino-ya, ada apa"
"aku akan berangkat ke korea, besok pagi"
"baiklah, hati-hati"
"hm"
Setelah itu aku menutup telponku. Aku memutuskan untuk meninggalkan kesedihanku disini, dan mencoba hidup bahagia dengan anakku kelak.
.
.
.
.
.
Aku sekarang tengah menunggu, pesawatku lepas landas, sendirian. Ya sendiri, karena teman-temanku sudah pergi mengejar impian mereka di pilihan mereka.
Sakura sudah pergi ke new york, untuk melanjutkan kuliah bisnis bersama dengan gaara, sasuke juga sudah pergi ke inggris menuntut ilmu disana, tenten juga sudah berangkat kechina, untuk belajar menjadi chef handal, temari juga tengah sibuk mengurus keperluan untuk kuliahnya di Universitas of Tokyo. Naruko, kudengar dari sakura sedang mempersiapkan studinya di Prancis. Shikamaru sudah masuk keakademi kepolisian. Sedangkan sai, ia tengah berada di Los Angeles, Callifornia, untuk melanjutkan studinya.
Sedangkan aku tengah mencoba kabur dari setuasi yang rumit. Yah, aku akan pergi jauh dari Jepang ini.
'perhatian untuk penerbangan dari bandara narita ke incheon korea akan landas sebentar lagi' setelah mendengar petugas mengumumkan itu aku segera menuju pesawatku..
'sayonara, naruto-kun'
.
.
.
.
TBC
Hai hai,, ketemu lagi dengan author yang kece badai,,,hahaha pede abis,, baiklah author datang dengan fic lanjutannya,,, namun sebelumnya auhtor minta maaf jika update nya agak lama,, heheh juga kalau alurnya terkesan cepat,, harap dimaklumi, karena memang sengaja dibuat seperti itu,,,,
Oke ini dia balasan dari Reviews
Tamiino ,, heheh emang sengaja dibuat kesannya seperti itu, mengikuti alurnya, heheh mereka sudah ketemu kan, naruino, semoga saja, terima kasih sudah mereview..
Ahmad mahmudi, hana, peintendo6, ini udah dilanjutkan, terima kasih sudah mereview, semoga capther ini tidak mengecewakan.
Yudhabagusdwi, terima kasih atas pendapatnya, iya tidak apa-apa, dan juga terima kasih sudah menikmati dan mereview cerita gaje author ini, iya ini lanjutannya, semoga tidak mengewakan ya..
Wf out..
