JEON GINGERSNAP PRESENT :

VAGUENESS

Cast :

Jeon Jungkook

Kim Taehyung

All member of BTS

YAOI

NO BASH

MIAN KALAU DITEMUKAN BEBERAPA KATA-KATA RANCU DAN TYPO, HARAP MAKLUM.

ENJOY AND HAPPY READING GUYS! :*

*BACK SONG : MISS YOU – SM The Ballad


Hari ini aku mengenakan setelan hitam-hitam lengkap dengan dasinya.

Bukan untuk menghadiri sebuah penghargaan bergengsi. Melainkan untuk menghadiri pemakaman Yeri, salah seorang penggemarku.

Ia harus meregang nyawa di tengah ribuan penonton yang bersorak ketika menonton konserku.

Aku tak pernah mengharapkan ini. Aku tak ingin siapapun terluka karena diriku.

Tubuhku gemetar hebat setelah berita ini menyeruak.

Aku pun tak bisa mengontrol emosiku. Seakan terbawa atmosfer keadaan yang begitu menyayat.

Mengapa ini harus terjadi padanya?

Ia harus menghembuskan nafas terakhirnya ketika ia berbahagia bisa hadir di konser perdanaku.

Mataku berair ketika akan masuk ke gedung itu. Tak bisa kubendung. Walaupun sudah kupertahankan, mereka terlalu lihai untuk melewati celah-celah mataku.

Berjejer rangkaian bunga turut berduka cita di sana.

Tak sanggup rasanya aku melangkahkan kakiku. Seolah mati rasa dan lelah.

"Apakah Yeri bersedia memaafkanku hyung?"

"Ne. Yeri adalah yeoja yang baik, dia begitu mengagumimu Jungkook-ssi."

"Apakah aku pantas menemuinya hyung?"

"Dia akan bahagia, jika bisa melihatmu di hari pemakamannya. Percayalah."

Aku berusaha menguatkan hatiku. Mencoba mempercayai apa yang Taehyung hyung katakan, walaupun aku merasakan takut.

Bukan takut karena ia akan menghantuiku, tapi takut karena aku tidak akan pernah mendapat maaf darinya.

"Mianhae Yeri-ssi. Jeongmal mianhae."

"Kaja.."

"Changkeuman hyung."

"Waeyo?"

"Bisakah kau menguatkanku?"

Taehyung hyung lalu menatapku dan menggenggam jemariku erat.

"Isseo Kookiya."

Aku melebarkan mataku mendengar dua kata itu, baru kali ini ia memanggilku dengan banmal.

Setelah mengucapkannya ia tersenyum padaku.

"Gomawo hyung."

.

Aku melihat foto Yeri yang tersenyum bahagia diantara bunga-bunga yang disusun di sisi-sisinya.

Melihatnya rasa bersalahku semakin besar. Mengapa kau harus pergi begitu cepat setelah aku ingin mengenalmu lebih dekat.

Aku dan Taehyung hyung lalu membungkuk dan berdoa untuknya. Hanya ini yang bisa kulakukan sebagai penghormatan terakhirku padanya.

Tiba-tiba…

"Pergi kau dari sini!"

Aku dan Taehyung hyung reflek menoleh pada asal suara.

"Kau adalah penyebab Yeri meninggal. Untuk apa kau kemari? Hah?"

Seorang namja mengacung-acungkan telunjuknya padaku dengan amarahnya.

"Yoongi hyung, sadarkan dirimu!"

"Jadi kau membelanya?"

"Bukan begitu hyung, ini bukan kesalahan Jungkook-ssi."

"Lalu siapa yang harus kusalahkan atas kematian Yeri? Seandainya dia tidak datang ke konsernya, ini semua tidak akan terjadi. Ara?"

"Tapi hyung…"

"Sudahlah, yang jelas aku tak mau menerimanya di pemakaman Yeri!"

Aku tersentak mendengar kalimatnya. Apakah aku memang penyebab kematian Yeri?

Hatiku sendiri selalu bertanya-tanya, dan berakhir dengan menyalahkan diriku sendiri. Mungkin memang benar semuanya karena diriku.

Aku berlutut di hadapannya.

"Jeosonghabnida."

"Jeosonghabnida. Nega jalmotaeseoyo."

"Apakah dengan permintaan maafmu ini, Yeri akan kembali hidup?"

"Hyung, kemanhae! Jungkook-ssi ireona!

"Jaebal jeosonghabnida."

Aku tetap berlutut tanpa memedulikan perintah Taehyung hyung.

"Aku tidak mengerti mengapa Yeri bisa mengidolakanmu, bahkan ia harus meregang nyawa karenamu!"

Deraiku tumpah tak terbendung. Kata-katanya begitu menusuk. Tak bisa aku membalasnya selain dengan penyesalan dan permintaan maafku.

"Ireona Jungkook-ssi!"

"Sireo!"

"Kau hanya mencari muka bukan? Dengan berpura-pura datang ke pemakaman Yeri?"

"Animida."

"Coba kau lihat, bahkan wartawanpun kau bawa untuk meliput ini! Kau masih mau berkelit?"

Matanya begitu menakutkan ketika menatapku.

Aku benar-benar tak menyangka, bahkan beberapa kamera on merekam semuanya.

"Jangan merekam apapun, jaebalyooo…"

Aku memohon kepada mereka dengan sangat.

Taehyung hyung juga berusaha menghadang kamera-kamera mereka.

"Sebaiknya kita pergi dari sini Jungkook-ssi."

"Tapi…"

"Jaebal, dengarkan aku kali ini."

Akhirnya aku hanya menurut pada Taehyung hyung dan mempercayakan semua padanya.

Tapi para wartawan itu tetap berusaha merekam apapun yang bisa mereka rekam. Saling berdesakan untuk bisa mengambil gambarku.

Membutuhkan kekuatan ekstra supaya bisa menghindar dari mereka, hingga akhirnya aku berhasil masuk ke mobilku.

Aku masih terguncang, tak menyangka mengapa semuanya tak sesuai dengan apa yang aku harapkan.

Bahkan kakak kandung Yeri sangat membenciku dan menyalahkanku atas kematian adiknya.

.

Sesampainya di parkiran apartemenku.

Aku merasakan perubahan pada kondisi tubuhku.

Penglihatanku sedikit buram, kepalaku pening, dan badanku sedikit menggigil.

"Jungkook-ssi gwenchanayo?"

Aku bisa mendengar pertanyaan Taehyung hyung, tapi aku hanya bisa melenguh singkat.

Taehyung hyung lalu meletakkan telapak tangannya di dahiku seraya memeriksa keadaanku.

"Kau demam, kita harus ke rumah sakit."

Berusaha sebisaku menahan telapaknya, dan menatapnya.

"Temani saja aku malam ini hyung, aku tidak ingin pergi ke rumah sakit."

"Tapi….."

"Jaebalyo. Oh?"

Manik matanya menunjukkan kesedihan.

"Na….gwenchana, selama kau ada di sisiku hyung."

Bisa kulihat senyumnya terbentuk setelah mendengar kalimatku. Walaupun aku tahu ia hanya berusaha menunjukkannya supaya aku bisa lebih tenang.

.

"Istirahatlah, aku akan menjagamu malam ini."

Aku hanya mengangguk.

.

.

"Kau pembunuh!"

"Kau pembunuh!"

"Kau penyebab kematian Yeri!"

"Kau adalah penyebabnya!"

"Aaaaaniiiiiiiiiii"

Nafasku menderu setelahnya.

"Waeyo?"

"Hyung…"

Aku memeluk Taehyung hyung dengan begitu erat.

"Waeyo Jungkook-ssi?"

"Apakah aku memang seorang pembunuh?"

"Kau pasti bermimpi buruk."

"Tapi hyung….."

"Lihat aku. Kau adalah orang yang baik. Kau bukan seorang pembunuh. Ini semua sudah menjadi takdir yang harus kau lewati. Dan aku di sini, akan selalu ada untukmu Jungkook-ssi."

Aku mendekapnya begitu dalam. Ku rasakan pula remasan jemarinya pada punggungku.

"Gomawoyo."

Ia lalu membantuku terlentang kembali. Menyibak beberapa helai rambutku yang berantakan di wajahku. Lalu mengecup singkat di dahi dan pipiku.

Menggenggam jemariku menguatkan, memberiku tanda bahwa ia ada di sini bersamaku.


2 Hari Kemudian

Aku tak bisa terus berdiam diri di apartemenku.

Aku harus menemuinya, dan meminta maaf.

Awalnya Taehyung hyung tidak menyetujuinya.

Tapi aku berusaha meyakinkan, bahwa aku bisa menghadapi Yoongi-ssi.

Dan yang pada akhirnya disetujui olehnya, dengan syarat ia akan menemaniku.

.

RUMAH YERI

Keraguan kembali menyeruak, padahal aku sudah memantapkan hatiku sepenuhnya sebelum mengijakkan kakiku di depan rumahnya.

.

"Untuk apa lagi kau kemari?"

Itulah respon pertama yang aku terima darinya.

"Hyung, bisakah kau tidak kasar pada Jungkook-ssi?"

"Ya! Taehyung, bisakah kau bersikap baik dengan orang yang telah menyebabkan adikmu meninggal?"

"Ini bukan kesalahannya, apa kau belum sadar itu?"

"Maafkan aku Yoongi-ssi. Aku hanya ingin meminta maaf padamu dan Yeri-ssi."

"Jangan pernah bermimpi mendapatkan maaf dariku ataupun Yeri!"

"Hyung!"

"Aku tidak pernah mengharapkan semua ini terjadi pada Yeri-ssi. Ia adalah yeoja yang ceria dan ramah bahkan aku senang memiliki penggemar seperti dirinya."

"Dan itu lah kesalahan Yeri, kenapa ia bisa mengidolakanmu!"

"Ini semua karena dirimu hyung!"

"Mwo? Jadi kau menyalahkanku dan lebih membelanya? Begitu?"

"Kau berubah hyung. Kau bukan Yoongi hyung yang dulu."

"Apa maksud ucapanmu?"

"Apa kau pernah peduli pada Yeri semenjak orang tuamu bercerai? Apa kau pernah peduli padanya semenjak kalian memutuskan untuk hidup berdua dan berpisah dengan orang tua kalian?"

"Jaga ucapanmu Tae!"

"Bahkan Jungkook-ssi lah yang membuat Yeri lebih kuat selama kau sibuk dengan duniamu sendiri hyung!"

"Mwoya? Apa kau tak salah bicara?"

Sambil menudingkan telunjuknya pada Taehyung hyung.

Sedangkan aku tak bisa berucap banyak.

"Ini adalah bukti dari semua ucapanku hyung!"

Taehyung menyodorkan sebuah buku kepada Yoongi-ssi.

"Ini kan milik Yeri."

"Memang ini milik Yeri, yang tertinggal ketika dia berkunjung ke rumahku."

"Apa maksudmu dengan memberikan ini?"

"Kau akan menemukan semua jawabannya di situ hyung."

Yoongi-ssi terlihat mematung setelah memerhatikan cover buku itu. Seperti sebuah buku diary.

Terlihat ragu, tapi tetap ia buka halaman-halaman di buku itu.

Tak berapa lama setelahnya, kulihat air matanya menetes dari pelupuknya.

Tapi maniknya masih bergerak membaca.

Lalu ia peluk buku itu dengan memejamkan matanya.

"Yeriya mianhae…."

Aku hanya memerhatikan, tapi rasa prihatinku mengiringi ketika melihatnya.

Entah apa yang ia baca di buku itu.

Dan aku juga berusaha mencerna ucapan-ucapan yang sebelumnya Taehyung hyung ucapkan pada Yoongi-ssi.

"Hyung apa yang sebenarnya terjadi?"

"Nanti…. kau akan mengetahuinya nanti Jungkook-ssi."

Taehyung hyung lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di pipiku.

"Percayalah, Yeri adalah yeoja yang baik. Dan kau hadir di saat dia membutuhkanmu."

"Hmmm."

Aku hanya bisa memercayai apa yang baru saja aku dengar dari Taehyung hyung.

Karena aku selalu percaya padanya.

"Sekarang kita pulang, biarkan Yoongi hyung sendiri untuk menenangkan dirinya."

Dan aku hanya menurutinya.

.

"Apa kau ingin berjalan-jalan malam bersamaku?"

"Oh?"

"Sireoyo?"

"Ani, aku hanya sedikit kaget mendengar tawaranmu hyung."

"Waeyo?"

"Kau tidak pernah mau jika aku memintanya, kau lebih suka aku beristirahat. Bukankah begitu?"

"Gwenchanayo jika kau tidak mau."

Kugenggam jemarinya secara tiba-tiba dan berlari.

Dan ia hanya mengikutiku langkah cepatku.

.

Dan kami berakhir di bukit bintang.

Dia berbaring tepat di sebelahku dengan matanya yang menatap langit malam yang dihiasi jutaan bintang yang berkelap-kelip tanpa alasan.

Aku memerhatikan garis-garis wajahnya yang begitu sempurna di mataku.

Bahkan aku merindukannya ketika ia berada di dekatku. Aku pun tidak mengerti dengan perasaan ini.

Tak akan pernah bisa berbohong, dan tidak akan pernah rela untuk melepaskannya.

SRET….

Manikku dan maniknya bertemu.

Dia menatapku tanpa kata, begitu juga dengan diriku. Kami hanya sedang saling mengagumi.

"Apakah kau begitu mencintaiku Jungkook-ssi?"

Senyumku mengembang mendengar pertanyaannya.

"Ani…"

"Waeyo?"

"Karena aku tidak hanya mencintaimu, tapi semua yang berhubungan denganmu, bahkan lingkungan sosialmu, aku mencintainya dengan sepenuh hatiku."

"Apa itu tidak berlebihan?"

"Itu bukan keinginanku hyung, aku hanya mengikuti kata hatiku dan perasaanku yang sebenarnya."

"Kuharap kau tidak akan pernah menyesalinya."

"Tidak akan pernah, hyung."

Ia merapatkan tubuhnya padaku.

Mengenggam jemariku.

Menatapku lekat.

"Saranghae Jeon Jungkook."

DEG….

Jantungku tak terkontrol mendengarnya. Degupannya terus menerus menderu.

Jemarinya berpindah pada pipiku. Mengelus lembut.

Wajahnya semakin mendekat. Hembusan nafasnya terasa di pipiku.

Bibirnya mulai merapat.

Aku menginginkannya. Kupejamkan mataku reflek karenanya.

Bisa kurasakan benda kenyal miliknya melumatku lembut.

Lebih dalam dan semakin dalam.

Aku hanya ingin menikmatinya, tapi aku tak bisa membiarkannya begitu saja.

Kubalas lumatannya. Kami masuk ke dunia kami.

Mencari kebahagianku dengannya.

Dan membiarkan bintang malam ini yang menjadi saksinya.

Waktu-waktu bersamanya adalah waktu yang ingin aku hentikan.

Tak ingin cepat berlalu.

Hanya aku dan dia, itu cukup untukku.


KEESOKAN HARINYA

J&K COFFE SHOPE

Aku sedang duduk berhadapan dengannya.

Min Yoongi, kakak kandung Min Yeri.

Bukan tatapan mengancancam ataupun kebencian seperti sebelumnya.

Tatapannya kali ini lebih bersahabat.

Aku tak tahu mengapa ia ingin bertemu denganku, tapi aku sangat bersyukur karena ia yang memintanya.

"Maafkan aku karena memintamu ke sini Jungkook-ssi."

"Gwenchanayo, aku bahkan sangat senang kau memintaku untuk menemuimu Yoongi-ssi."

"Maafkan aku karena sikap kasarku sebelumnya padamu."

"Aniya, bahkan aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Maafkan aku Yoongi-ssi, karena diriku Yeri-ssi…."

"Kau tidak perlu melakukannya, bahkan aku berterima kasih padamu."

"Maksudmu apa Yoongi-ssi?"

"Ini…."

Ia menyodorkan sebuah buku padaku. Buku yang sudah pernah aku lihat sebelumnya. Buku yang Taehyung berikan padanya ketika aku ke rumahnya untuk meminta maaf.

Aku menatap heran padanya, mengapa ia malah memberikanku ini.

"Bacalah halaman ini ketika kau memiliki waktu senggang Jungkook-ssi."

"Hmm baiklah Yoongi-ssi."

"Sekali lagi maafkan aku, dan terima kasih sudah bersedia menemuiku di sini."

"Nado Yoongi-ssi."

"Kalau begitu, aku pamit Jungkook-ssi."

"Ne, kuharap kita bisa bertemu lagi di kesempatan yang lebih baik."

"Ne."

Dan ia tersenyum padaku sebelum ia benar-benar keluar dari pintu coffe shope.

Setelah ia benar-benar menghilang dari penglihatanku.

Mataku tertuju pada buku yang Yoongi-ssi berikan.

Aku membuka halaman yang sebelumnya ia tunjukkan padaku untuk ku baca.

"Hari ini aku seperti melihat permata penyemangatku.

Aku menyesal terlambat mengidolakanmu.

Terima kasih telah hadir Jeon Jungkook-ssi.

Aku menjadi bersemangat setelah mendengar lagumu.

Kau membawakannya dengan begitu baik.

Kau seolah membawa jiwa lagu itu dengan benar-benar nyata.

HUG ME, aku menyukai lagu itu.

Mungkin kau juga merasakan apa yang kurasakan saat ini.

Kesepian dan kesendirian.

Jiwaku hampa, aku tak memiliki siapapun selain Yoongi Oppa.

Tapi, ia seolah tak peduli denganku lagi.

Ia terlalu menyibukkan dirinya setelah perceraian orang tua kami.

Ia membangun benteng yang begitu besar supaya terlihat tidak terluka.

Tapi pada kenyataannya, ia tak menyadari telah menyakitiku.

Aku berusaha seolah-olah mati rasa akan itu, tapi ternyata sakitnya tak bisa aku tutupi.

Kecewa yang kurasakan, padanya dan kedua orang tuaku.

Tapi aku tidak akan seperti itu lagi.

Karena,sekarang ada dirimu Jungkook Oppa.

Ijinkan aku untuk menjadi penggemarmu. "

Kubaca tulisan Yeri-ssi, begitu tersentuh aku dibuat karena tulisan itu.

Aku bahagia bisa menjadi penyemangatnya.

Walaupun kau sudah tidak ada di sini, kuharap kau berbahagia di sana Yeri-ssi.

Maafkan aku yang membiarkanmu meregang nyawa, dan kedinginan seperti itu ketika konserku berlangsung.

Aku sangat bersyukur memiliki penggemar seperti dirimu.

Lalu kututup buku itu.

Kubenahi topi dan kacamata hitamku. Kukenakan kembali maskerku dan melangkah keluar dari coffe shop itu.

.

GREP

Aku merasakan seseorang menahan pundakku dari belakang.

"Nugusaeyo?"

Tapi ia tak menjawab.

"Nuguragu?"

"Namja yang sangat kau cintai."

Aku berbalik memeriksa.

"Hyung!"

"Wae?"

"Kau membuatku takut, ara?"

"Aku akan selalu mengawasimu Jungkook-ssi."

"Ne…."

"Apakah kau sudah lega sekarang?"

"Hmm . Gomawoyo hyung, ini tidak akan baik-baik saja jika tidak ada dirimu."

"Jangan berlebihan, inilah yang seharusnya walaupun tanpa diriku."

"Semoga Yeri-ssi bahagia di sana hyung."

Ucapku sambil melihat ke arah langit.

"Pasti."

.

"Jungkook-ssi, ada yang ingin kukatakan padamu."

"Katakan saja hyung."

"Aku akan mengatakannya nanti."

"Wae?"

"Kau harus makan dulu, baru aku akan memberitahukannya."

"Araso."

.

.

"Aku akan berhenti menjadi body guardmu Jungkook-ssi."

"Mworagu?"

"Yang kau dengar tidak salah."

"Wae? Apa kau lelah menjadi body guardku?"

"Animida. Aku senang menjadi body guardmu karena aku bisa terus berada di dekatmu dan menjagamu."

"Lalu kenapa hyung?"

"Aku harus kembali ke Daegu."

"Kenapa semua begitu mendadak hyung? Lalu bagaimana dengan Soeul?"

"Aku sudah lama merencanakannya, hanya saja aku baru memberitahukanmu. Soeul sudah berada di Daegu dari minggu lalu bersama bibiku."

"Waeyooooo?"

Aku memelas, tak rela harus berpisah dengannya.

"Apa kau percaya padaku Jungkook-ssi?"

"Sangat."

"Apa kau ingin terus menjalin hubungan ini denganku?"

"Tentu."

"Kau hanya perlu percaya padaku, dan menungguku kembali. Ara?"

"Tapiiii….."

"Sssst, aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Tapi aku harus."

Taehyung hyung lalu memelukku menenangkan.


STASIUN KERETA

Aku memaksa untuk mengantarnya.

Walaupun Taehyung hyung sudah melarangku untuk melakukannya.

Aku tak bisa bila tidak melihatnya.

Hatiku sudah terlalu terpaut dengan dirinya.

Aku berada di hadapannya.

Mataku bergetar ingin menumpahkan air mataku. Tapi kutahan sebisaku.

Aku ingin terlihat kuat di hadapannya, walaupun dia tahu itu sedikit terlihat dipaksakan.

"Gwenchana?"

"Ani. Kau jahat hyung."

"Percayalah padaku, aku akan kembali padamu."

"Tak bisakah kau menjelaskan semuanya?"

"Aku akan mengatakannya, tapi tidak sekarang. Aku hanya butuh keyakinanmu padaku, oh?"

Aku mengangguk menyakinkannya.

Pasti dia memiliki alasan untuk ini.

"Aku akan selalu percaya padamu hyung." Ucapku dalam hati.

TREEEEET….

"Aku harus pergi sekarang."

Jemariku menggenggam erat jemarinya.

Ia melangkah menjauh. Dan melepaskan tautan kami.

Aku memerhatikannya dari luar kereta.

Penglihatanku tak bisa lepas darinya. Kuperhatikan setiap apa yang ia lakukan.

Ia duduk lalu melihat ke arahku.

Tersenyum samar tapi menenangkan.

"Ka…" ucapnya walaupun aku tak bisa mendengar suaranya.

Aku melambaikan tanganku padanya. Yang ia balas dengan lambaian pula.

Dan akhirnya kereta itu melaju membawanya.

Membawa namja yang aku cintai menuju kampung halamannya.

Pasti. Aku akan selalu merindukannya.

TBC

REVIEW JUSEYO~~~~

Miaaaannn…..super duper lama updatenya.

Moga chapter kali ini gk mengecewakan yah. Jangan lelah yah buat nunggu lanjutannya chingudeul.

Author juga mau promosi buat FF Oneshoot VKOOK, judulnya BREATHE. Ini fresh loh, VKOOK SHIPPER C'mon!