Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.
Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)
Genre: Friendship, Romance
Rated: T+
Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.
Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, Penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU, Tokoh bisa bertambah di setiap chapternya.
Author's list songs: Yesterday and Today – Do As Infinity, Lacrymosa - Evanescence
Enjoy this! ^^
.
.
Me vs Yankee
.
.
Chapter 7: The Mean of Friendship
Cho Kyuhyun's Home
Malam sudah turun dengan sempurna. Langit kembali menjadi gelap dengan taburan bintang-bintang yang berkelipan. Angin semilir bertiup membelai tubuh. Suara-suara binatang malam terdengar merdu di telinga.
Cho Kyuhyun terduduk di kasurnya yang empuk sambil memeluk lututnya yang tertutup selimut. Sementara Choi Siwon sibuk membersihkan kamar adik kelasnya itu. Kyuhyun hanya melirik kecil ke arah Siwon yang tengah sibuk itu. Terlihat matanya masih basah dan sembab.
Siwon mengambili buku-buku Kyuhyun yang berhamburan di lantai. Barang-barang lain terlihat sudah tidak pada kondisi baik. Jam beker terlihat rusak dan macet seketika, sebuah vas bunga pecah begitu saja dengan beberapa bunganya berserakan, lampu belajar yang patah, bantal dan guling juga tidak pada tempatnya, dan masih banyak lagi. Yang paling membuat Siwon mengelus dada adalah cermin di depan tempat tidur Kyuhyun yang sudah retak dan pecah. Bisa dilihat, bayangan Siwon di situ terpantul lebih dari satu. Ia frustasi menanggapi sikap Kyuhyun—yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu. Sambil menaruh barang-barang yang masih selamat ke tempatnya semula, Siwon bertanya pada Kyuhyun dengan nada tidak mengerti.
"Kyuhyun-ah... ada apa ini sebenarnya? Kenapa kau tidak masuk hari ini? Kau di rumah malah menghancurkan kamarmu sendiri, melempar barang-barang dan..." Tanya Siwon menggantung. ia menghela napas dan duduk di pinggir tempat tidur. "Dan kenapa... kau menangis seperti ini?" Lanjutnya dengan nada lembut. Ia menatap Kyuhyun dengan tatapan sedih. Sementara Kyuhyun yang ditatapi hanya meliriknya dingin, kemudian Kyuhyun membenamkan dagunya di sela-sela lutut. Oke, kalau begini caranya, Siwon tidak mau lagi berdebat. Seorang Kyuhyun susah untuk dilawannya.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Siwon peduli. "Kalau kau tak keberatan, ceritakanlah padaku..." Bujuk Siwon. Melihat kepedulian Siwon, Kyuhyun pun menolehkan kepalanya. Ia menatap Siwon dengan tatapan pedih. Lagi, air mata menumpuk di kelopak matanya. Melihat itu, Siwon jadi gelagapan.
"A-aa... K-Kyuhyun-ah... jangan menangis lagi..." Cegahnya. Karena bingung, tak ada cara lain selain merangkul pundak Kyuhyun. "Apa... kau teringat akan Changmin lagi?"
Oke, sepertinya, tebakan Siwon benar. Yaa... kepergian Shim Changmin ternyata masih membekas di hati Kyuhyun setelah beberapa tahun lalu. Mendengar tebakan Siwon, Kyuhyun langsung terisak. Ia mengangguk. Siwon pun mengerti dan menariknya ke dalam dekapannya.
"Aku mengerti kau belum bisa melupakannya walaupun kejadian itu terjadi dua tahun lalu." Kata Siwon. "Tapi, dia pergi bukan karena salahmu. Dialah yang bertekad untuk menyelamatkanmu dari truk itu... dan ternyata Tuhan berkehendak lain."
"Andai saja..." Kyuhyun terisak. "...waktu itu dia tidak mendorongku. Seharusnya aku saja yang mati..." Kyuhyun pun berhasil menangis lagi.
"Tidak, Kyuhyun-ah. Kalau kau mati, aku akan bernasib sama sepertimu saat ini. Aku tidak mau kehilanganmu, juga keluargamu. Bahkan... jika Changmin masih hidup, ia pun juga tak mau kehilangan dirimu, kan?" Kyuhyun langsung terdiam walaupun air matanya masih jatuh.
"Aku tidak percaya lagi dengan apa yang namanya sahabat." Kata Kyuhyun tiba-tiba. "Lebih baik aku punya banyak teman walaupun aku tidak dekat, daripada aku punya satu sahabat jika akhirnya dia malah meninggalkanku." Siwon tertegun mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Kyuhyun yang gemetar. Tapi, beberapa detik kemudian, Siwon tersenyum lembut.
"Kalau begitu, kau sudah menyakiti mereka yang ingin menjadi sahabatmu, dong..." Kyuhyun menoleh. Siwon menatap Kyuhyun lalu tersenyum. Ia melepaskan dekapannya.
"M-Maksud hyung?"
"Ne... kalau kau bilang tidak ingin punya sahabat, kasihan teman-temanmu yang sudah menganggapmu sebagai sahabatnya." Jawab Siwon. Kyuhyun seakan kalah karena perkataan Siwon barusan.
"Bagaimana kalau menurut mereka, kau itu menyanangkan. Apa kau tidak merasa kalau mereka sudah menganggapmu sebagai teman dekatnya? Bahkan ada yang bilang, dia kesepian karena kau tidak masuk hari ini." Kata Siwon. Kyuhyun perlahan menunduk.
"Ne, Kyuhyun-ah... aku tahu kau sebenarnya ingin mempunyai sahabat lagi setelah Changmin meninggal. Hanya saja... rasa bersalahmu... rasa sedihmu... mendorongmu untuk bersikap seperti sekarang ini." Lanjut pemuda berbadan atletis itu. "Aku tahu kau begitu sedih saat melihat kematian Changmin yang tragis. Itu memang menyakitkan. Tapi... ia berbuat seperti itu karena... kau adalah sahabatnya."
Kyuhyun menoleh lambat ketika mendengar kata 'sahabat' diluncurkan. Pikirannya tiba-tiba malayang ke saat-saat ia akan memukul Donghae sepulang sekolah karena ia kesal.
'Aku tidak butuh sahabat.'
Kata-kata yang sempat terucap dari bibirnya itu terngiang-ngiang di telinganya. Ia menyesal karena telah berkata seperti itu pada Donghae—yang sudah menganggap Kyuhyun sahabat baginya.
"Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Itu hanya akan membuatmu bertambah sakit. Di sana, Changmin pasti sedih melihatmu seperti ini..." Siwon mengelus rambut Kyuhyun dengan sayang. "Terimalah mereka yang ingin menjadi sahabatmu. Aku tahu sebenarnya kau juga berkeinginan mempunyai mereka, kan?" Siwon menjeda sejenak. "Jangan membohongi dirimu hanya karena masa lalumu yang pahit, Kyu-ah. Dengan kau punya sahabat yang baru, bukan berarti kau melupakan Changmin. Aku yakin, ia akan senang karena kau bisa mendapatkan sahabat yang baru... yang mungkin malah lebih baik darinya."
Kyuhyun tak bisa berkata apa-apa mendengar perkataan Siwon. Memang benar apa yang dikatakannya, Kyuhyun sebenarnya ingin sekali lagi merasakan bagaimana rasanya punya sahabat.
"Dan satu lagi, Kyu-ah." Kata Siwon tiba-tiba. Kyuhyun tercekat. "Tersenyumlah lebih sering... itu akan membuatmu lebih baik. Apa kau tidak lelah terus bersikap dingin dan tidak peduli selama itu?" Lanjutnya. "Jangan sia-siakan mereka yang menyayangimu. Beri mereka perhatian lebih." Kyuhyun tertegun dengan kata-kata barusan. Memang, sejak kematian Changmin, ia lama sekali tidak pernah lagi tersenyum dengan leluasa. Kyuhyun menunduk, merenungkan perbuatannya selama ini. Ia sudah dua tahun terpuruk seperti ini. Ia ingin sekali bangkit saat itu, tapi dukanya berhasil mengalahkannya. Tapi sekarang, sedikit demi sedikit, duka itu lenyap karena perkataan dari kakak kelasnya itu, Choi Siwon. Ia selalu bisa membaca perasaan Kyuhyun dengan baik.
"Yaah... ini sudah jam delapan malam." Siwon pun berdiri dan mengulet sejenak. "Apa kau sudah makan malam? Aku akan membuatkanmu sup. Ada bahan apa saja di kulkas?" Tanyanya yang tidak mendapat respon dari Kyuhyun. Siwon pun keluar dari kamar dan segera berjalan menuju dapur. Kyuhyun menatap Siwon yang mulai menjauh. Sepeninggal pemuda bertubuh atletis itu, Kyuhyun pun memalingkan pandangannya lalu menunduk.
'Apa yang kulakukan selama ini?'
.
.
Keesokan harinya...
Neul Param High School
Jam istirahat tiba. Seperti biasa, murid-murid selalu tak sabar menantinya. Setelah bunyi bel berdering, dengan gedabrugan para murid berlarian keluar kelas untuk melepas suntuk setelah belajar berjam-jam di kelas. Sebagian berlari ke kantin, ada yang berbincang-bincang di sepanjang koridor, menjahili teman-temannya, ada yang makan bekal bersama di kelas, mengobrol seputar hobi dan kesukaan yang sama, dan masih banyak lagi.
Lee Donghae terlihat sedang menuruni tangga. Di telinganya terpasang headphone yang tersambungkan pada benda kecil di saku jas almamaternya yang seluruh kancingnya terbuka. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, sesekali ia juga bersiul mengikuti nada lagu yang ia dengarkan.
Baru saja selesai menuruni tangga dan berbelok, tak sengaja ia mendapati Siwon ada di hadapannya. Ia tengah berdiri di depan ruang OSIS dan nampak sedang berbincang-bincang dengan beberapa temannya. Mungkin juga sesama anggota OSIS.
"Ah, gomawo, ne..." Ujarnya yang sempat didengar Donghae. Donghae menatap lelaki berambut hitam rapi itu lekat-lekat. Ia terdiam seraya berpikir. Sudah dua hari Kyuhyun tidak masuk tanpa izin. Pertanyaan-pertanyaan bermunculan di kepalanya sejak kemarin-kemarin. Mendengar Siwon adalah tetangga dekat Kyuhyun, Donghae pun bermaksud menanyakannya.
Setelah teman-temannya itu berlalu, Siwon pun berbalik. Ia tercekat melihat Donghae yang sedari tadi memperhatikannya. Ia memiringkan kepalanya.
"Donghae?" Setelah sekian detik bertatapan, Donghae pun menghampirinya.
"Kudengar kau tetangga dekat Kyuhyun. Kyuhyun sudah dua hari tidak masuk. Apa kau tahu dia kenapa?" Tanyanya sedikit dingin. Siwon terdiam sejenak.
"Ia tidak apa-apa. Hanya... sedikit tidak enak badan saja." Jawab Siwon beralasan.
"Benar hanya itu?" Tanya Donghae menyelidik. Siwon membulatkan matanya. Tunggu. Apa Donghae tahu kalau dia berbohong?
"Belakangan ini, Kyuhyun sedikit aneh. Ia seakan menghindar dariku dan yang lain. Ia juga gampang emosi. Adakah kau tahu penyebabnya?" Tanya Donghae lagi. Siwon hanya berdiri mematung. Haruskah ia menjawabnya?
"Itu..."
"Aku tahu pasti ada apa-apanya. Aku mohon, Siwon-ah... kalau kau tahu sesuatu, beritahu aku..." Potong Donghae. Siwon sedikit ragu untuk menceritakan latar belakang tetangga dekatnya itu pada orang lain, walaupun ia tahu orang di depannya itu juga teman Kyuhyun. Tapi...
"Kalau aku menceritakannya...?"
"Kalau kau menceritakannya, apapun itu aku akan merahasiakannya jika itu memang harus dirahasiakan." Potong Donghae lagi dengan yakin sambil melepas headphonenya. Mendengar itu, apa boleh buat. Tak ada jalan lain selain menceritakannya. Siwon menghela napas. Ia pun menyentakkan kepalanya, memberi isyarat agar Donghae mengikutinya. Melihat isyarat itu, Donghae pun dengan antusias mengikuti teman sepantarannya itu.
.
.
Siwon dan Donghae nampak sedang berdiri di atap sekolah. Angin pada siang hari ini bertiup kencang, melambai-lambaikan helai rambut mereka. Donghae beridiri di sisi Siwon yang tengah menyandarkan perutnya di pagar, tangannya bertumpuk di atas pagar. Mereka dengan seksama memperhatikan ke arah bawah—halaman depan sekolah.
"Ada apa dengan Kyuhyun belakangan ini? Ia susah untuk di ajak berbicara. Selalu saja menghindar dari aku dan yang lainnya." Ujar Donghae memulai pembicaraan sambil terus menatap halaman sekolah yang luas. "Sikapnya tidak seperti biasanya..."
Siwon mendengarkan perkataan Donghae seksama. Walaupun mereka sepantaran, tapi baru kali ini mereka seakan begitu dekat dan saling berbicara satu sama lain. Ya, latar belakang mereka berdua yang berbeda seratus delapan puluh derajat itu juga termasuk faktor penyebabnya. Siwon sedikit mengernyit serius ketika mendengarkan penuturan dari Donghae.
"Beberapa waktu yang lalu, aku menanyakan keadaannya dan memintanya untuk menceritakan semua bebannya. Bukan maksudku untuk memaksanya saat itu. Hanya saja... aku tidak tahan melihat wajahnya yang selalu ditekuk dan sedih itu." Katanya. "Tapi, ia kemudian kesal dan hampir saja memukulku."
"Kyuhyun hampir memukulmu?" Tanya Siwon sambil membulatkan katanya. Donghae mengangguk.
"Dan ia berkata setelah beberapa saat kemudian... bahwa ia tidak membutuhkan sahabat sepertiku." Donghae lalu terdiam. Ia menunduk. "Aku tak mengerti. Kukira, ia memang sudah menganggapku sebagai teman dekat atau sahabatnya karena kita selalu bersama. Tapi ternyata tidak. Apakah aku salah karena sudah menganggapnya sebagai sahabat terbaikku?" Mendengar itu, Siwon merasa tersentuh. Ia mengerti bagaimana perasaan Donghae. Kyuhyun saat ini masih dalam keadaan labil mengingat kejadian dua tahun lalu yang merenggut sahabat pertamanya yang sudah begitu nyaman di hatinya.
"Dia begitu karena suatu hal." Kata Siwon pada akhirnya.
"Suatu hal?"
.
.
Eunhyuk berjalan menyusuri koridor. Ia baru saja keluar dari ruang latihan dance untuk mengambil sesuatu miliknya yang tertinggal kemarin. Ia mendengus kesal karena sampai hari ini Kyuhyun belum juga muncul di sekolah. Istirahat hari ini begitu menyebalkan baginya. Ryeowook sibuk belajar karena setelah istirahat nanti ada ulangan mendadak. Shindong tidak masuk hari ini karena ada keperluan dengan keluarganya. Alhasil, Eunhyuk sendirian. Ia bingung ingin mengobrol dengan siapa.
"Aiish... membosankan!" Gerutunya. Seperti biasanya, kalau ia sedang bosan dan suntuk, ia suka sekali pergi ke atap sekolah. Angin di atas sana begitu menyegarkan dan menyenangkan. Pemandangannya juga indah. Ia suka berlama-lama di sana. Sesekali, jika ia tidak ada latihan dance, ia suka mengajak Kyuhyun duduk-duduk di sana. Tapi... boro-boro sekarang. Kyuhyun saja tidak ada. Huft!
Eunhyuk melangkahkan kaki menaikki tangga menuju atap sekolah. Ia begitu tak sabar untuk menghirup udara segar di sana. Dengan langkah dipercepat, ia pun sampai di depan pintu atap sekolah dan membukanya.
"Aah... entah kenapa tempat ini begitu menyenangkan...!" Serunya sambil menguletkan tubuhnya. Ia pun berjalan ke luar. Baru saja berjalan beberapa langkah dan berbelok, tak disangkanya ia mendapati dua kakak kelasnya tengah berdiri di sisi pagar pembatas. Eunhyuk tercekat melihatnya. Tapi, reaksi itu tak bertahan lama melihat wajah mereka berdua yang begitu serius. Eunhyuk sedikit heran pada mereka yang sebelumnya belum pernah seperti itu. Karena penasaran, sambil bersembunyi di balik tembok, Eunhyuk pun menguping pembicaraan mereka.
"Bukan maksudku untuk memaksanya saat itu. Hanya saja... aku tidak tahan melihat wajahnya yang selalu ditekuk dan sedih itu." Katanya. "Tapi, ia kemudian kesal dan hampir saja memukulku."
"Kyuhyun hampir memukulmu?" Tanya Siwon. Donghae mengangguk.
Eunhyuk mendengarkan suara-suara samar itu dengan seksama. Ia berusaha menajamkan pendengarannya. Tunggu. Kenapa nama Kyuhyun dibawa-bawa? Apakah mereka sedang membicarakan Kyuhyun? Kenapa begitu serius? Kenapa Donghae bilang Kyuhyun hampir memukulnya? Ada apa dengan Kyuhyun? Pertanyaan berjubel memenuhi kepala Eunhyuk.
"Ia berkata setelah beberapa saat kemudian... bahwa ia tidak membutuhkan sahabat sepertiku." Donghae lalu terdiam. Ia menunduk. "Aku tak mengerti dengan sikapnya selama ini. Kukira, ia memang sudah menganggapku sebagai teman dekatnya atau sahabatnya karena kita selalu bersama. Tapi ternyata tidak. Apakah aku salah karena sudah menganggapnya sebagai sahabat terbaikku?" Mendengar itu, Siwon merasa tersentuh. Ia mengerti bagaimana perasaan Donghae. Kyuhyun saat ini masih dalam keadaan labil mengingat kejadian dua tahun lalu yang merenggut sahabat pertamanya yang sudah begitu nyaman di hatinya.
"Dia begitu karena suatu hal." Kata Siwon pada akhirnya.
"Suatu hal?" Donghae mengernyit, begitu juga Eunhyuk dari kejauhan.
"Aku sudah berteman dengan Kyuhyun sejak aku masih SD. Aku dan keluargaku juga akrab sekali dengan keluarga Kyuhyun." Siwon memulai ceritanya. "Kyuhyun—untuk pertamakalinya mempunyai sahabat saat ia kelas lima SD—namanya Shim Changmin. Kebetulan anak itu juga tetangga kami berdua walaupun rumahnya berbeda blok. Kyuhyun dan Changmin sangat dekat hingga SMP. Aku juga dekat dengan Changmin, dan sebagai teman tertua, aku hanya bisa tersenyum hangat melihat kebersamaan mereka."
"Tapi, beberapa minggu sebelum ujian kelulusan SMP dimulai, terjadi kecelakaan yang berhasil merenggut nyawa Changmin." Donghae terasa tercekat tenggorokannya.
"Ma-maksudmu?"
"Ya. Dua tahun yang lalu, Changmin meninggal karena kecelakaan. Dan kecelekaan itu terjadi ketika Changmin menyelamatkan Kyuhyun dari sebuah truk yang nyaris menabraknya." Jelas Siwon. Mendengar penjelasan dari temannya itu, Donghae lantas terbelalak. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Lidahnya seakan kelu dan tak bisa berkata apa-apa.
"Kyuhyun begitu terpukul atas kejadian itu. Mengingat Changmin adalah sahabat pertamanya yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri, bukankan itu terasa miris sekali? Mempertaruhkan nyawa demi nyawa orang lain yang begitu ia sayangi. Kyuhyun merasa bersalah sekali dan sering menyalahkan diri sendiri." Donghae menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Setelah kelulusan, seminggu kemudian Kyuhyun pindah ke luar negeri bersama orangtuanya, sementara kakaknya tetap tinggal di Seoul. Ia sempat menjadi murid SMA di sana selama setahun. Karena orangtuanya bercerai, tahun ini Kyuhyun memutuskan kembali ke sini dan tinggal bersama sang kakak. Jadilah dia masuk ke sekolah kita. Aku tidak menyangka bakal satu sekolah lagi dengan dia setelah berpisah saat SD dulu." Siwon tersenyum tipis.
"Walaupun kejadian naas itu sudah lama terjadi, tapi ternyata Kyuhyun belum bisa melupakannya. Kejadian itu masih membekas di hatinya." Siwon membalikkan tubuhnya membelakangi pagar. Donghae menurunkan tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk menutupi mulutnya.
"Sejak saat itu, ia trauma untuk menjalin persahabatan dengan orang lain. Ia justru senang menutup diri dan menyendiri." Kata Siwon. "Kyuhyun lebih memilih mempunyai banyak teman daripada seorang sahabat." Mendengar itu, Donghae merasa kasihan pada Kyuhyun. Ia menggigit bibir bawahnya demi menahan gejolak emosinya. Saat ia membuka mulut ingin berbicara. Tiba-tiba Siwon mendahulinya.
"Aah... tapi jangan khawatir. Itu tidak akan lama. Aku sudah bertemu lagi dengan Kyuhyun kemarin dan meyakinkannya. Kuharap, ia akan kembali seperti dulu." Ujar Siwon. "Walaupun begitu, Kyuhyun sebenarnya merindukan akan kehadiran seorang sahabat dalam hidupnya. Hanya saja, karena kenangan masa lalunya yang gelap dan rasa bersalah masih mendominasi benaknya, ia bersikap seperti itu hingga sekarang." Donghae menatap Siwon yang tengah tersenyum.
"Kalau kau ingin menjadi sahabatnya, teruslah berada di dekatnya. Beri dia perhatian dan yakinkan dia bahwa kau bisa menjadi sahabat yang baik baginya." Siwon menepuk pundak Donghae dan berlalu. Meninggalkan Donghae yang masih tercengang.
Di balik tembok, Eunhyuk tak kuasa menyembunyikan perasaannya. Ia shock saat mendengar penuturan dari Siwon—yang notabene adalah tetangga dan teman masa kecil Kyuhyun. Eunhyuk tahu cerita itu dapat dipercaya. Tapi kenapa ia baru menyadari semua ini... dengan begitu terlambat? Eunhyuk berbalik ketika melihat Siwon melintas agar ia tak terlihat. Sepeninggal Siwon, ia menutup mulutnya. Tubuhnya tarasa terpaku. Matanya membulat memandangi lantai atas sekolah dan sepatunya.
'Jadi karena itukah...?'
.
.
Esok harinya...
Neul Param High School
Suasana sekolah terlihat masih lengang walaupun murid-murid sudah berdatangan. Jam besar yang bertengger di tembok depan sekolah masih menunjukkan pukul 07.00. Yah... jam-jam segini murid-murid belum terlalu banyak yang datang.
Nampak seorang pemuda berambut hitam bergelombang memasuki gerbang sekolah sambil mencangklong tas selempang hitamnya. Langkahnya terhenti sejenak. Kedua manik matanya mengeksplorasi pemandangan di depannya. Tak terasa, sudah tiga hari ia tidak menginjakkan kaki di sekolah ini. Ternyata, berdiam diri tak lantas membuatnya senang, ya? Jujur saja, ia merindukan hari-hari sekolahnya yang hangat, dikelilingi teman-teman yang sudah menganggapnya sahabat sendiri... ya. Ia merindukan itu semua. Setelah ia membuang napas cepat, ia pun kembali melangkahkan kakinya menyusuri halaman depan sekolah yang luas menuju ke dalam gedung. Seulas senyum puas terpatri di bibirnya.
Si pemuda—Cho Kyuhyun—menapakkan kakinya menaikki tangga menuju lantai tiga di mana kelasnya berada. Dengan langkah pelan tapi pasti ia berjalan menyusuri koridor yang terlihat masih lengang. Beberapa temannya menyapa ketika berpapasan dengannya. Dengan senyum kecil, Kyuhyun pun membalas sapaan mereka—walaupun telihat masih begitu formal. Ya, Kyuhyun selalu bertingkah formal pada siapa saja, kecuali dengan teman yang sudah benar-benar dekat dengannya. Ia juga tak suka beritndak urakan dan berlebihan. Satu kata untuknya, dia adalah orang yang sangat menjaga sopan santun.
Kyuhyun memasukki kelasnya yang masih sepi. Terlihat empat tas temannya yang teronggok di atas meja. Dua teman sekelasnya yang tengah asyik mengobrol saat itu kemudian menyapanya sambil melambai. Kyuhyun hanya tersenyum. Ia kemudian berjalan menuju bangkunya. Kyuhyun terpaku sejenak dengan bangkunya. Sudah tiga hari bangku ini tidak ia duduki. Tapi, tak ada seberkas debu pun di situ. Pasti teman-temannya yang bertugas piket yang selalu membersihkannya. Kyuhyun tercenung. Pagi ini, entah kenapa, banyak teman yang menyapanya dengan riang. Tidak seperti biasanya. Tapi, toh itu malah bagus, kan?
Kyuhyun menarik bangkunya dan mendudukkan diri. Ia melepas tas selempangnya dan memasukkannya dalam laci meja. Tapi, sedetik sebelum ia memasukkan, ia merasakan sesuatu menabrak tangannya. Kyuhyun mengernyit. Ada barang apa di dalam laci mejanya? Karena penasaran, ia pun menarik barang itu dan menaruhnya di atas meja.
Sebuah kotak berwarna biru berukuran besar.
Kyuhyun terheran-heran. Kenapa ada benda seperti ini di laci mejanya?
"Ah, Kyuhyun-ah... hadiah itu tadi dititipkan oleh temanmu padaku. Karena kau belum datang, jadi kutaruh saja itu di laci mejamu." Celetuk teman lelaki Kyuhyun yang tadi tengah mengobrol bersama temannya. Kyuhyun menatap temannya itu kemudian mengangguk.
"Gomawoyo..." Katanya seraya tersenyum, walaupun sedikit ragu. 'Hadiah? Untukku? Dalam rangka apa?' Lanjutnya dalam hati. Kyuhyun akhirnya membuka kotak biru itu. Saat melihat apa isinya, ia terbelalak seketika. Bagaimana tidak? Isi hadiah itu adalah PSP yang sama persis dengan punyanya dulu yang sudah hancur. Siapa yang memberinya hadiah semahal ini? Langsung saja tangan Kyuhyun mengobrak-abrik dalam kotak itu, siapa tahu ada secarik kertas berisi pesan. Dan benar saja, setelah Kyuhyun mengaduk-aduk isi dalam kotak, ia pun menemukan selembar kertas kecil berwarna putih. Ia pun mengambilnya cepat dan membacanya.
Untuk Kyuhyunnie
Ne, Kyuhyun-ah... ini PSP yang sama persis dengan punyamu dulu. Melihat PSP itu rusak ditangan Jessica noona, aku merasa tidak terima dan kau kelihatannya sangat menyayangkan benda itu, kan? Maka dari itu, aku bermaksud untuk menggantinya. Jangan khawatir. Aku membelinya dengan patungan uang bersama Ryeowook, Shindong dan Donghae hyung. Semoga kau menyukainya! ^^
Lee Hyuk Jae 'Eunhyukkie' ^^
Kyuhyun menutup mulutnya dengan satu tangan. Ia tak percaya dengan apa yang ia baca. Eunhyuk dan yang lainnya... sampai bela-bela mengganti PSP Kyuhyun yang rusak...? Tahu sendiri kan, harga PSP itu tidak murah? Melihat tindakkan teman-temannya itu, Kyuhyun merasa tersentuh. Rasanya ingin menitikkan air mata saat itu juga. Tapi Kyuhyun tidak mau. Sebagai gantinya, ia hanya bisa menggigit bibir sambil meremat dadanya. Ia sangat terharu.
'Gomawoyo... Jeongmal gomawoyo...' Batinnya. Ia pun membuang napas dan menutup kembali kotak itu, memasukkannya ke dalam laci. Saat Kyuhyun sedang tenggelam dalam gejolak perasaannya saat itu, tiba-tiba terdengar suara cempreng yang begitu ia kenal.
"AH! KYUHYUNNIE!"
Kyuhyun lantas menoleh cepat. Ia terbelalak melihat Ryeowook berlari kearahnya dan langsung memeluknya erat. Membuatnya jadi susah bernapas.
"Rye-Ryeowook...?" Ujarnya berat.
"Kyu-ah... aku sangat menrindukanmu! Akhirnya kau masuk juga setelah tiga hari ini..." Kata Ryeowook, masih memeluk erat Kyuhyun. "Hei! Kenapa selama tiga hari itu kau tidak masuk sekolah?" Lanjut Ryeowook sambil merengut. Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan mata. Eh...? Ia harus menjawab apa sebagai alasan yang logis atas absennya dia selama tiga hari itu?
"Aah... itu..."
"Kyuhyun tidak enak badan. Makanya ia tidak masuk. Benar, kan?" Tiba-tiba sebuah suara memotong perkataan Kyuhyun—sedikit membohongi Ryeowook. Kyuhyun dan Ryeowook segera menoleh ke arah suara. Donghae hyung?
"Donghae hyung?"
"Ah! Hyukkie-ah!" Begitulah kata Kyuhyun dan Ryeowook hampir bersamaan saat melihat dua sosok yang kini berdiri di ambang pintu belakang kelas. Ya. Sekarang, di sisi pintu berdiri Lee Donghae dan Eunhyuk menyusul. Donghae terlihat menyedekapkan kedua tangannya, sementara Eunhyuk memperlihatkan gummy smilenya sambil melambai.
"Dari mana hyung tahu kalau Kyuhyun sakit?" Tanya Ryeowook.
"Siwon yang memberitahuku kemarin." Jawab Donghae yang diikuti anggukan dari Ryeowook.
"Aku senang melihat Kyuhyun kembali." Kata Eunhyuk.
"Dimana Shindong? Ia belum datang?" Tanya Ryeowook.
"Sudah. Ia ada di kelasnya. Katanya, ada ulangan mendadak. Jadi dia tidak kemari." Jelas Eunhyuk yang notabene kelasnya berdekatan dengan Shindong. Ryeowook mengangguk.
"Aah... yang penting Kyuhyun kembali!" Kata Ryeowook lagi sambil merangkul pundak Kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa terkekeh pasrah.
"Kyuhyun-ah... kami semua merindukanmu. Kami juga mengkhawatirkanmu." Donghae menghampiri Kyuhyun dan duduk di kursi kosong.
"Aku tidak apa-apa..." Jawab Kyuhyun sambil tersenyum.
"Tapi tetap saja! Kami seperti ini karena kami peduli padamu, Kyu-ah..." Sambung Eunhyuk yang berdiri di sisi Ryeowook. Mendengar kata-kata itu, Kyuhyun tercenung.
"Kau adalah sahabat terbaik kami, kau tahu?" Ujar Donghae sambil menonjok pundak Kyuhyun pelan.
"Donghae hyung benar. Kau adalah sahabat terbaik kami." Lanjut Eunhyuk. Ryeowook mengangguk penuh semangat sambil tersenyum lebar. Melihat kekompakkan ketiga temannya itu, Kyuhyun tertunduk dan tertawa pelan.
"Terimakasih. Kalian juga sahabat terbaik bagiku..."
"Jinjjayo?" Tanya mereka bertiga serempak—setengah berteriak—membuat Kyuhyun mundur sedikit karena kaget. Ia pun mengangguk canggung. Mereka bertiga pun tertawa, sementara Kyuhyun hanya terkekeh sambil mengelus tengkuknya. Donghae, Ryeowook dan Eunhyuk pun mengajak Kyuhyun keluar kelas, berjalan-jalan menghirup udara pagi.
Akhirnya, Kyuhyun kembali merajut persahabatan dengan tiga—tidak—empat temannya temasuk Shindong yang kini tidak datang ke kelasnya. Walaupun beberapa waktu yang lalu ia pernah berkata ia tidak membutuhkan sahabat di sisinya. Tapi, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dengan adanya seorang sahabat, kita bisa berbagi apa saja dengannya. Sahabat adalah orang yang spesial bagi siapa saja, yang dapat mengerti akan diri kita, teman berbagi cerita dan setia menjaga rahasia kita. Teman yang akan selalu ada ketika kita senang maupun sedih, teman yang akan ikut menangis ketika kita menangis dan ikut tertawa ketika kita tertawa. Jangan sia-siakan orang yang mau menjadi sahabatmu dengan sepenuh hati. Seorang sahabat tidak akan membuatmu merugi. Ia akan selalu menjagamu, apapun kondisinya.
.
.
Di sudut koridor terdapat sebuah ruangan yang sedikit tersembunyi. Ruangan lama yang kini menjadi markas salah satu geng yankee terkenal di sekolah ini. Dari luar, pintu ruangan itu sudah digambari gambar mawar merah marun—lebih condong ke hitam—dengan sedikit taburan gliter. Di atas gambar tersebut terdapat tulisan bernada 'Monalisa' dengan pilox perak. Di dalam terdapat beberapa alat musik yang sudah tidak dipakai. Di ruangan itu juga bisa dirasakan, aliran dark gothic yang begitu kental di sini.
Terlihat tiga gadis tengah santai-santai di sana. Penampilan mereka terlihat dark dengan pakaian mereka yang beraliran dark gothic. Aksesoris bernada tengkorak perak, kalung salip berwarna hitam setia menggantung di tubuh mereka. Yaah... semuanya serba hitam, deh, pokoknya!
Terlihat gadis berambut cokelat madu bergelombang dengan poni rapi yang disematkan jepit kupu-kupu hitam tengah duduk menghadap meja dan memainkan kalung salip hitamnya iseng dengan wajah lesu, sedangkan satu rekannya tengah duduk di sebelahnya, sibuk memagut dirinya di depan cermin yang ia pegang. Tangannya dengan lihai memoles bawah matanya dengan pensil mata hingga warnanya sedikit gelap. Penampilannya terlihat mengerikan dengan aliran gothicnya yang kental. Tak lupa ia menjepit rambut merahnya ke belakang, sedikit mencuat-cuatkan helai-helai rambutnya dengan hair spray.
Gadis berperawakan tinggi dan langsing—yang berperan sebagai leader geng—tengah berdiri sambil memainkan panah-panahan. Ia melemparnya menuju sasaran yang tergantung di tembok. Penampilannya modis dan mengerikan. Seragam sekolahnya yang mini dan dipadukan dengan aksesoris bernada serba hitam dan perakbegitu pas di tubuhnya. Kelopak matanya yang dipoles hitam dan rambut pirangnya dikucir tinggi dengan kucir hitam menambah 'wah' penampilannya. Ia nampak santai dengan kegiatannya pagi ini.
"Victoria unni, kau sudah dengar tentang desas-desus anak baru itu, kan?" Tanya seorang gadis kupu-kupu hitam tadi.
"Ne, unni-ah... berita itu sudah tersebar ke seluruh sekolah ini." Sambung gadis berkucir dua. Ia nampak menyangga dagunya di atas meja dengan tangan yang sedang memegang pensil penghitam kelopak mata.
Gadis yang disapa Victoria tadi pun menghentikan kegiatannya sejenak. Sikapnya yang tadi santai kini sedikit menegang. Matanya tajam menatap pusat papan sasaran yang tertempel sebuah foto seorang laki-laki di sana—lelaki berambut hitam bergelombang.
"Ne, Sulli-ah... Luna-ah... aku sudah mendengarnya." Katanya. Ia pun melemparkan panah kecilnya menuju pusat papan sasaran dan... ctak! Panah itu tepat menusuk bulatan di tengah sasaran plus foto tersebut. Senyum sinis pun tersungging dengan sukses di bibir ranumnya.
'Cho Kyuhyun...?'
.
.
TBC
A/N: Chapter 7 melenggang...
Cieeh... chapter ini isinya cuma tentang persahabatan doang, ya? Hehehe... Persahabatan emang spesial. Menurut saia, persahabatan lebih spesial daripada percintaan. Percintaan bisa saja putus di tengah jalan. Tapi, kalau persahabatan tidak. Percaya atau tidak, saia sih percaya itu. *curcol mode*
Ada beberapa review yang sepertinya harus dijawab di sini karena emang menentukan pemahaman banget. Bukan cuma buat si pereviewnya doang, tapi juga buat semua, deh, biar gak bingung *lho?* :
JusT 4Hae: Haloo... makasih udah review, ya ^^. Saia sengaja memasukkan mereka ke dalam geng 'Black Dragon' buat memperlihatkan sisi sangar mereka. Gak cocok, ya? Hehehe... kalo Hankyung, kan, udah jadi yankee sendirian. Kangin dan Yunho? Tapi entah kenapa, di pikiran saia terbesitnya malah tiga cowok itu dan bukan yang lain. Maaf kalo gak berkenan, ya? Bayangin aja mereka lagi evil mode. Hehehe... *maksa*
Anggota geng 'The Princes' gak begitu ditonjolkan. Yang saia tonjolkan emang cuma Donghaenya doang. Kalo masalah hubungan tetanggaan dan pertemanan antara Siwon-Kyuhyun, di cerita di atas udah dijelasin. Anggota 'The Four Princesses' emang cuma saia ambil segitu member SNSDnya. Kalo kebanyakan entar jadi ribet. Kekekek~. Buat Sungminnya, sabar aja, ya? :3
Dhian KyuHae ELF: Buat YeWook, KangTeuk dan HanChul tidak dimunculkan di sini. Maaf, ya... tapi btw, makasih buat reviewnya. ^^
Choikyuhae: Siwon bisa beladiri gak ya? Hmm... coba lihat nanti, ya? Wkwkwkwk. Makasih reviewnya XD
Takishika Rinku Imnida: Saia jadi author di fandom Kuroshitsuji juga. Tapi sekarang udah ga aktif lagi sih... hehehe... makasih buat reviewnya! :3
Terimakasih buat yang masih setia baca dan review! Kalian juga adalah sahabat setia ff saia dan saia sendiri! Hehehe... buat yang baru baca dan review... saia juga cinta kalian deh, pokoknya! *jduakk!*
Akhir kata, saia mohon reviewnya lagi, ya... boleh saran, komentar, pujian... apaun, lah. Maaf kalo masih ada kesalahan, mohon dibenarkan sendiri saat membaca *lho?*. Saia juga mau menekankan, saia tidak menerima FLAME or BASHING. Hargai karya-karya orang lain. Caiyo!
Ms. Simple :D
