Cinderella of Darkness

My 1'st kyumin story

Warning: Kyumin, GS, School Life, Romance/Drama, typo (es), rate T

Disclaimer: this fic is mine, inspiration of manga

"perfect girl evolution"

No copas, Bash and Flame

Don't like, just click close (X)

Main cast: Cho Kyuhyun and Lee Sngmin

Support cast: other member Super junior and idol Kpop's

Summary: metamorfosis Lee Sungmin / "Kau lebih pantas disebut Cinderella dari kegelapan" / "Tidak bisakah aku berubah menjadi lady tanpa harus bersama kalian?" / "kami akan menjadikanmu Cinderella" / "Berhentilah menganggap dirimu buruk" / "Kesederhanaanmulah yang membuatmu cantik".

Happy Reading and enJOY

Chapter 7 : Past

Sungmin kembali mengalami pagi yang buruk. Bukan kerena teriakan atau ancaman dari makhluk-makhluk menyilaukan itu, tapi karena hangover parah yang dirasakannya saat bangun dari tidurnya. Kepalanya sakit dan perutnya mual-mual tanpa ada yang bisa dikeluarkan. Dia tidak mengingat apapun tentang semalam. Seingatnya dia hanya menemani Kyuhyun makan Teokpokki dan mengobrol ringan. Selebihnya gelap. Semoga dia tidak melakukan hal yang memalukan.

Memaksakan diri untuk memasak lebih dari sekedar buruk, karena pikirannya melayang-layang entah kemana. Jari-jarinya hampir saja terpotong karena melamun. Keahliannya dalam memasak diragukannya, entah bagaimana rasa masakannya. Lidahnya bahkan juga tidak bisa merasakannya. Tubuhnya seperti robot rusak tanpa nyawa, kosong dan eror. Dia tidak pernah mabuk separah ini, karena memang dia tidak pernah minum-minuman keras selama ini.

Tidak hanya sampai disitu, Kyuhyun menunjukkan wajah setannya saat sarapan tadi pagi. Sepertinya apa yang dia takutkan terjadi. Apakah dia berbicara kasar padanya? Atau malah memukulnya? Sepertinya opsi terakhirlah yang cocok dengan wajah yang ditunjukkan Kyuhyun. Karena kalau hanya omongan kasar, Kyuhyun tidak akan tersinggung-karena Cho Kyuhyun adalah rajanya bicara kasar. Dan lagi-lagi, semoga dia tidak bicara yang aneh-aneh saat mabuk. Aahh…bisanya-bisanya dia mabuk dan melupakan apa yang sudah terjadi semalam.

O_O

Sebenarnya Sungmin masih enggan untuk keluar rumah. Tapi tidak akan ada alasan yang masuk akal – yang pastinya dipercaya empat namja menyilaukan itu. Jadi seperti biasa dia hanya akan diam berjalan ditengah-tengah rombongan. Teriakan dan bisikan dari penggemar mereka – minus Sungmin – tak diacuhkannya. Dia terus berjalan mengikuti langkah Yesung dan Kyuhyun saat tiba-tiba mereka berhenti. Dan terdengar suara yang familiar memanggilnya. Dengan jantung yang berdebar keras dilihatnya namja dari masa lalunya berdiri didepan Kyuhyun dengan wajah datar.

Ya Tuhan, Sungmin merasa bumi yang dipijaknya goyang dan terbelah tepat dibawahnya. Tapi dengan sukarela Sungmin akan meloncat kebawah biar ditelan bumi daripada harus bertemu dengan namja yang sudah lima tahun terakhir ini dia hindari.

"Minimini…akhirnya aku menemukanmu." Suara itu masih selembut yang dulu, tapi Sungmin tahu semuanya tidak akan seperti dulu lagi.

"Mimi…" Suara Sungmin tersangkut ditenggorokan. Dia ingin kabur saja sekarang. Tapi kakinya berubah jadi jelly dan tidak bisa beranjak kemana-mana. Kalau tidak ada lengan kokoh Siwon yang menopangnya, mungkin Sungmin sudah terjatuh.

Sosok tinggi itu masih menatapnya dalam dan maju selangkah lebih dekat saat Kyuhyun menahan bahunya dengan kasar dan menggeram marah.

" Lepas." Zhoumi ikut mendorong Kyuhyun.

" Siapa kau?. Ada urusan apa dengan Sungmin?."

" Ck..bukan urusanmu."

" Brengsek" Kyuhyun yang emosi hampir melayangkan tinju sebelum ditahan Yesung dan Donghae. Dan teriakan Sungmin membuatnya membeku. Dilihatnya wajah Sungmin yang pucat pasi. Apa barusan Sungmin menghalanginya memukul namja brengsek ini?. Apakah dia namja yang semalam diceritakan Sungmin?. Kyuhyun terdiam dengan wajah memerah menahan marah. Sial. Ada apa dengannya?.

" Kau mengenalnya?." Siwon yang masih menahan tubuh Sungmin bertanya lembut. Sungmin hanya mengangguk sebagai jawaban.

" Minimini. " Zhoumi bergerak maju, tanpa ada yang menghalanginya. Saat sampai didepan Sungmin, dia hanya berdiri sambil menatap dalam mata yang sudah lima tahun tidak dilihatnya.

Sungmin yang ditatap sedalam itu kembali menunduk. Tangannya mengepal karena takut, apakah Mimi-nya akan memukulnya?. Tubuhnya gemetar, Siwon yang sudah melepaskan bahunya kembali menahannya. Tatapan Zhoumi berubah sendu, sebegitu takutnya kah Sungmin padanya?. Dengan senyum mirisnya dia semakin mendekat dan memeluk Sungmin dengan erat.

" Bogoshippo Minimini." Bisiknya lembut tepat ditelinga Sungmin yang membeku.

" Aku sudah mencarimu kemana-mana. Ternyata kau ada disini." Tanpa melepas pelukannya dia menatap wajah Sungmin yang semakin manis itu.

"Mi..Mi.."

"Ya..ini aku. Mimi-mu." Tangisan Sungmin pecah. Benarkah ini Mimi-nya?. Bagaimana mungkin orang ini begitu baik?. Tidakkah seharusnya dia memaki Sungmin atau bahkan memukulnya?. Tapi apa ini?. Pelukan yang masih sama hangatnya seperti dulu. Bolehkah Sungmin egois kali ini? Dia ingin waktu berhenti berputar karena dia senang saat sosok yang disayanginya kembali memeluknya hangat.

Semua orang terdiam, tiba-tiba saja mulut mereka terkunci dengan lakban tak kasat mata. Siapa namja berambut terbakar itu?. Dan kenapa Lee Sungmin menangis seperti itu?. Kyuhyun meradang, apa-apaan tiang itu?. Kenapa dia memeluk Sungmin seerat itu dan kenapa pula gadis aneh itu tidak menolak?. Diakah orang yang ditangisi Sungmin semalam?. Ada bara api yang tak diketahui asalnya membakar hatinya. Fu*k. Dia berdehem untuk mengembalikan suaranya.

" Sigh..kalau mau bermesraan jangan ditempat umum." Kesinisan terdengar jelas dari nada bicara Kyuhyun ditambah dengan aura mengancamnya.

" Siapa mereka Min?." Sungmin meringis mendengar pertanyaan Zhoumi. Bagaimana dia menjelaskan masalah ini?.

" Mereka temanku." Pilih jalan aman dulu. Sungmin tidak berbohongkan, mereka memang temannya dan ringisannya semakin lebar saat didengarnya dengusan keras Kyuhyun. Setan satu itu kenapa sih, dari tadi pagi emosi terus. PMS?

" Oh..ayo kita pulang Min. Banyak yang ingin aku tanyakan." Sungmin hampir mengiyakan saat Kyuhyun merangkulnya dan berdiri disamping kanannya dengan aura membunuh yang kuat.

" Maaf tuan. Tapi Lee Sungmin akan pulang dengan kami."

" Benar. Dan kalau anda ingin mewawancarai Uri Sungmin, anda harus meminta izin kami dulu." Sekarang Siwon yang berdiri disebelah kirinya lengkap dengan rangkulannya. Sungmin menganga, sejak kapan mereka seposesif ini?. Bulu kuduknya meremang sekarang. Apa mereka keracunan makanan tadi pagi?. Jangan-jangan dia salah memasukkan bumbu?. Polos sekali pikiranmu Min.

" Kami?." Tanya Zhoumi bingung. Kenapa Sungmin harus pulang bersama mereka? Dan apa-apaan tadi. Uri Sungmin?.

" Benar kami. Karena kami tinggal bersama." Yesung maju dan berdiri disebelah Siwon.

" Tapi Hyung, kitakan baru datang. Masa harus langsung pulang lagi?." Pertanyaan polos Donghae membuahkan tatapan tajam dari ketiga temannya.

" Diam idiot." Omel Kyuhyun geram, Donghae cemberut. Apa salahnya coba?.

"Tinggal bersama? Apa-apaan ini Min?. kau tinggal dengan empat laki-laki asing ini?." Sungmin semakin menunduk takut. Zhoumi pasti marah sekarang. Tanpa menunggu, Kyuhyun langsung menyeret Sungmin diikuti yang lain menuju van putih mereka. Beruntung sopir yang disediakan Kim Heechul selalu stand by di tempat. Sungmin tidak melawan, karena otaknya benar-benar berubah menjadi siput sekarang.

Zhoumi menganga, apa-apaan mereka? Kenapa main seret orang seenaknya. Dan kenapa Sungmin terlihat pasrah?. Berbeda sekali dengan Sungmin yang dia kenal dulu yang akan langsung mengeluarkan jurus matrial arts-nya. Zhoumi yang masih terbengong ditempatnya dikagetkan suara yeoja yang sedikit cempreng.

" Mereka sudah pergi." Zhoumi yang kaget langsung menatap sosok yeoja yang tersenyum aneh disampingnya. Tersadar dari lamunannya dia segera berlari mengejar rombongan yang membawa Sungmin pergi. Mereka sudah masuk mobil saat dia sampai diparkiran. Tanpa membuang-buang waktu Zhuomi masuk dalam mobil Audi merahnya berniat mengejar van putih yang mulai berjalan meninggalkan pelataran parkir. Saat mesin sudah menyala dan siap tancap gas, dia dikagetkan-lagi- dengan ulah yeoja aneh tadi yang ikut masuk mobilnya dengan seorang yeoja lainnya.

"Yak..apa-apaan ini?." tanya Zhoumi sewot.

"Salah satu dari mereka adalah kekasihku." Yeoja yang ternyata Ryeowook itu menjawab acuh.

"Lalu apa urusannya denganku?"

"Aku harus tahu apa yang terjadi disini."

"What the…" Zhuomi meradang, hampir teriak frustasi saat tatapannya sampai pada yeoja mungil yang duduk dibangku penumpang. Merasa diperhatikan Yeoja yang sudah jelas Henry itu meringis.

"Aku temannya." Dengan cengiran lucu dia menunjuk Ryeowook yang tersenyum dengan aneh lagi.

Zhoumi mengumpat, memang apa pedulinya kalau mereka kekasih salah satu dari namja yang membawa Sungmin tadi?. Sial, emosinya sampai ubun-ubun rasanya.

"Eemm,,mobil mereka sudah tidak terlihat." Yeoja mungil yang berpipi tembem itu membuyarkan lamunannya. Menyempatkan diri mengumpat, Zhoumin langsung tancap gas menyusul van putih yang sudah keluar dari gerbang kampus. Beruntung jalanan sedang lengang saat itu jadi dengan mudah dia menemukannya. Masih dengan menggerutu dia berusaha mengikuti mobil yang sudah membawa Sungmin-nya.

O_O

Mereka sudah sampai di Mansion Kim. Keempat namja menyilaukan itu langsung menuju kamar masing-masing hanya Sungmin yang masih berdiri dipintu depan menunggu munculnya Zhoumi. Hanya selang beberapa menit, mobil berwarna merah terang itu memasuki gerbang mansion dengan cepat. Menunjukkan tidak sabarnya pengemudi didalamnya.

Zhoumi keluar diikuti Ryeowook dan Henry. Sungmin mengeryit bingung, kenapa mereka bisa bersama?. Zhoumi dengan malas menjelaskan alasannya dan yang dibicarakan hanya tersenyum lebar tanpa malu. Sungmin hanya mengangguk canggung dan membawa mereka masuk dan menunggu diruang tamu.

"Duduklah dulu, aku akan membuatkan minuman." Tanpa menunggu jawaban Sungmin menuju dapur. Dapat didengarnya suara kekaguman Ryeowook dan Henry. Sebenarnya dia masih belum mengerti kenapa dua yeoja itu ikut kesini. Benarkah salah satu dari mereka adalah kekasih namja-namja menyilaukan itu?. Kenapa dia tidak tahu?. Setelah meletakkan minuman yang dia buat beserta camilan dimeja, dia duduk disamping Zhoumi yang masih menggerutu.

"Rumah siapa ini Min?" Tanya Zhoumi penasaran.

"Rumah Kim Heechul Imo. Kau ingat kan? Kalian pernah bertemu saat kelulusan Middle School." Jelas Sungmin dengan berbisik.

"Tentu saja aku ingat. Dia pernah mengancamku akan memotong kakiku yang panjang ini kalau aku sampai membuatmu menangis. Dan yang lebih kejamnya dia pernah menghukumku berdiri dihalaman rumahmu hanya menggunakan boxer di musim dingin Min. Bibimu itu sungguh mengerikan hiii." ocehan Zhoumi yang panjang lebar hanya ditanggapi Sungmin anggukan. Mereka mengacuhkan dua yeoja yang hanya bisa diam disofa sebelahnya. Dari tadi Sungmin hanya menunduk dan memainkan ujung kemejanya. Zhoumi kembali menatapnya intens. Sejauh inikah perubahannya? Zhoumi tidak pernah menyangka, sosok yang dulunya ceria, manja dan berani itu berubah menjadi seperti saat ini. Tatapannya menjadi sendu.

"Dimana namja-namja kurang ajar tadi Min?."

"Mereka masih dikamar, sebentar lagi pasti turun." Dan benar saja, keempat namja yang ditunggu sudah memasuki ruang tamu dengan pakaian yang lebih santai dan ikut duduk.

"Kau disini?" Yesung bertanya saat dilihatnya kekasih mungilnya juga duduk diruang tamu itu.

"Mian Oppa, aku hanya penasaran." Ryeowook nyengir lucu lagi, Yesung hanya mengusak rambutnya pelan tanpa adanya kata penolakan. Mereka semua diam, ruangan besar itu menjadi hening. Henry bahkan menguap tanpa sadar.

"Kenapa mendadak kau jadi bisu?" ucapan sinis Kyuhyun yang ditujukan pada Zhoumi membuat semua bangun dari lamunannya.

"Bukan urusanmu. Aku kesini hanya untuk berbicara dengan Sungmin berdua."

"Maaf tuan sepertinya anda lupa. Bukankah tadi saya sudah bilang kalau ingin berbicara dengan Lee Sungmin harus seizin kami?." Siwon yang punya sopan santun terbaik diantara yang lain sedikit berlebihan kali ini.

"Kalian bukan orang tuanya. Aku tidak butuh izin dari kalian." Zhoumi bersikeras. Sungmin menghela nafas lelah.

"Chingudeul, aku memang harus bicara empat mata dengan Zhoumi. Dia tidak berbahaya."

"Tadi kau hampir pingsan dan bahkan menangis." Kyuhyun yang duduk didepan Zhoumi melemparkan tatapan tajamnya.

"Ini tidak seperti yang kalian pikir. Aku mohon." Sungmin hampir menangis lagi. Zhoumi kembali bingung, sejak kapan Sungmin-nya secengeng ini?.

"Baiklah. Kalian memang butuh bicara sepertinya." Yesung memberi izin.

"HYUNG!" teriak Kyuhyun dan Siwon kompak.

"Diamlah."

"Terima kasih. Kami akan bicara dikamarku."

"Yakk..kenapa harus dikamar?. Kalian kan bisa bicara dihalaman belakang?. Atau dimana saja kecuali dikamar kan?." Kyuhyun kembali berteriak. Zhoumi terlihat tersenyum puas.

"Karena kalian pasti akan mengupingku. Ayo Mimi." Skak mat. Itulah rencana yang ada dibatin Kyuhyun. Sungmin dan Zhoumi sudah berdiri dan menuju kekamar saat Donghae berteriak keras.

"Noona..kalau dia macam-macam teriak saja. Aku pasti akan menolongmu." Tidak ada yang merespon, karena omongan Donghae benar-benar konyol. Kamar mereka kedap suara kan.

O_O

Mereka sudah dikamar Sungmin. Sungmin duduk diatas tempat tidur. Sedangkan Zhoumi duduk dikursi tempat belajar Sungmin. Mereka diam. Tidak tahu harus mengawalinya dari mana. Sudah lima tahun mereka tidak bertemu, banyak yang terjadi dan semuanya berubah. Dulu mereka seperti anak kembar yang kemana-mana bersama. Zhoumi yang dua tahun diatas Sungmin menjadikannya sosok kakak yang baik dan penyayang. Kedekatan mereka membuat Sungmin juga dekat dengan adik kandung dari namja asal China itu.

Sebenarnya banyak yang ingin Sungmin katakan. Permohonan maaf, kata-kata kerinduan, dan bagaimana kabar namja yang selalu tersenyum itu. Tapi bukankah akan terlihat tidak tahu malu bila dia mengatakan itu semua?. Dia benar-benar bersalah dalam hal ini. Jadi dia hanya diam menunggu sosok yang sedang menatapnya dalam itu bicara.

"Apa kabar Min?" Zhoumi yang tahu bahwa sosok imut didepannya menunggunya bicara mulai bertanya.

"Baik." Sungmin menunduk saat menjawabnya.

"Selera bajumu lebih baik sekarang." Zhoumi memuji penampilan Sungmin yang lebih matching. Dulu yeoja bergigi kelinci ini selalu buruk dalam hal padu padan.

"Terima kasih." Sungmin masih saja menunduk.

"Kemana saja lima tahun ini?."

"Dirumah saja." Suara Sungmin semakin mencicit.

"Bohong. Sudah lebih dari lima kali aku kerumahmu. Tapi pelayanmu bilang kau tidak ada dirumah." Sungmin diam. Jelas mereka bilang begitu. Karena dia yang menyuruh mereka bicara begitu bila ada yang mencarinya.

"Kau sengaja menghindariku?" ada kekecewaan dalam nada suara Zhoumi, Sungmin refleks mendongak menatap padanya.

"Tidak."

"Lalu kenapa sulit sekali untuk menemuimu?. Aku sudah mencari ke seluruh Universitas di negeri ini tapi tidak ada tanda-tanda keberadaanmu. Dan kemarin aku dikejutkan dengan desas desus ada sekelompok mahasiswa baru. Dan salah satunya bernama Lee Sungmin. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu?."

"Mian" suara Sungmin serak, tanda dia menahan tangis.

"Aku bahagia sekali. Meski aku tahu itu sedikit mustahil. Karena banyak orang bernama Lee Sungmin dinegeri ini. Tapi firasatku mengatakan itu kau."

"Mian..mian."

"Bukan itu yang aku ingin dengar darimu!." Zhoumi berteriak kesal. Sungmin benar-benar menangis sekarang. Dia sudah tahu Zhoumi akan marah, tapi dia tidak tahu akan semenyakitkan ini rasanya. Ini kedua kalinya sosok murah senyum itu meneriakinya. Lima tahun lalu adalah yang pertama. Dan rasanya masih sama, menyakitkan.

"Apakah kau membenciku? Apakah kau marah padaku? Setidaknya beri aku alasan Min. Aku seperti orang gila mencarimu selama ini." Suara Zhoumi melemah, dia menyesal. Sungguh bukan maksudnya membentak Sungmin.

"Tidak Mimi."

"Lalu kenapa?"

"Aku tahu kau membenciku. Aku tidak ingin muncul dikehidupanmu setelah melakukan dosa yang tak termaafkan itu. maaf.." air mata masih terus keluar dari mata rubahnya.

"Benci?. Sedangkal itukah kau berpikir tentangku?" ada nada kecewa dalam suara Zhoumi.

"Bukankah kau sendiri yang mengatakan kau kecewa padaku?."

"Apakah aku tidak boleh mengatakan itu setelah apa yang sudah terjadi?. Aku mengatakan itu karena aku menyayangimu. Kau tidak tahu bagaimana takutnya aku mendengar kau dan Amei menemui genk motor itu. Aku kecewa karena kau tidak mau mendengarkan kata-kataku untuk tidak bertindak gegabah. Meskipun aku tahu kau dan Amei hebat dalam matrial arts tapi melawan orang sebanyak itu sama saja mengantar nyawa dengan sukarela. Apa setelah dengan sok beraninya kau menantang geng motor itu, sekarang kau bersembunyi seperti tikus dariku? Jawab aku Min..apa aku tidak berhak marah?."

"Mianhae..jeongmal mianhae."

"Kenapa kau terus-terusan mengatakan maaf?. Kau tidak bersalah Min."

"Aku bersalah..hiks..aku bersalah karena aku yang mengajak Amei kesana. Dan karena kebodohanku kita kehilangan dia. Seharusnya aku ikut mati saat itu." tangisan Sungmin menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Karena disini hanya Zhoumi jadi hanya dia yang mendengar, mungkin.

"Apakah kau pikir aku akan tetap waras bila aku kehilangan dua adik sekaligus? Kau mau aku jadi penghuni rumah sakit jiwa?." Zhoumi kembali emosi. Dia tidak menyangka Sungmin naif sekali.

"Tidak..bukan begitu. Aku hanya merasa tidak adil pada Amei."

"Adil? Jadi dengan kau ikut mati Amei akan bahagia?. Jangan naif Min. Kau ajak ataupun tidak, saat itu Amei akan tetap meninggal karena itu sudah takdirnya." Jeda sesaat.

"Dulu aku juga tidak bisa menerima semuanya. Kenapa harus Amei? Kenapa bukan kau? Atau bahkan aku?. Tapi aku sadar. Tuhan lebih menyayanginya sehingga mengambilnya lebih awal. Dan setelah aku bisa menerima semuanya, aku ingin menemuimu. Karena aku dengar saat itu kau juga terluka parah. Tapi, aku bahkan tidak bisa menemuimu." Tanpa sadar Zhoumi ikut menangis.

"Aku menunggumu berhari-hari dirumah sakit. Tapi kau tidak datang. Aku pikir kau membenciku. Jadi aku bilang pada kedua orang tuaku bahwa aku tidak ingin menemui siapa-siapa lagi."

"Termasuk aku?" Sungmin hanya mengangguk. Zhoumi langsung memeluk Sungmin erat.

"Bodoh. Mana mungkin aku bisa marah padamu?. Karena aku tahu kalian melakukan itu demi aku." Masih dalam dekapan Zhoumi, Sungmin mendongak.

"Kau tahu?." Zhoumi mengangguk pelan.

"Amei meninggalkan pesan sebelumnya. Dia mengatakan bahwa kalian akan menuntut balas atas pengeroyokan yang terjadi padaku. Dan dengan bodohnya dua adikku bertindak tanpa bicara dulu padaku. Kau pikir dari mana aku tahu keberadaan kalian saat itu?." jelas Zhoumi.

"Aahh..pantas kau datang bersama polisi."

"Dasar bodoh. Tapi aku senang, kau baik-baik saja. Aku sempat berpikir kau koma atau apapun itu. Ternyata kau tetap kelinci gendutku." Zhoumi dengan gemas menggoyang-goyangkan tubuh mereka seperti anak kecil.

"Yah..aku tidak gendut. Lepas, jangan memelukku dasar koala jelek." Tawa Zhoumi pecah dalam kamar itu, menghangatkan suasana. Diam-diam Sungmin menghela nafas lega. Zhoumi tidak semarah seperti dugaannya. Dan Zhouminya tidak pernah berubah.

O_O

Berbeda dengan kamar Sungmin. Dikamar Yesung duduk empat namja yang mengerubungi layar laptop milik namja pecinta kura-kura itu. Terdengar pula gerutuan dari sang Magnae.

"Apa-apaan tiang itu? Sungmin kan sudah menolak, kenapa dia masih memeluknya begitu?." Omel Kyuhyun.

"Kasihan Noona, aku tidak tahu ternyata dia menanggung rasa bersalah sebesar itu." Donghae ikut menangis mendengar apa yang dua orang berbeda gender itu katakan.

"Kita memang tidak bisa menghakimi seseorang tanpa tahu alasan dibaliknya." Komentar Yesung datar.

"Kau benar Hyung, tapi ngomong-ngomong kapan kau memasang CCTV dikamar Sungmin?" Tanya Siwon.

"Tadi sebelum turun. Aku yakin Sungmin akan memilih bicara berdua saja dikamar." Mereka memandang takjub pada Yesung, namja itu benar-benar mewarisi otak sang Jenderal. Tapi kenapa memilih menjadi musisi?. Dan fakta bahwa Yesung bisa memasang cctv dikamar yeoja itu menandakan bahwa dia masih menyimpan kunci cadangan kamar Sungmin. Sungguh namja yang berbahaya.

"Licik. Pantas tadi kau mengizinkan mereka bicara dikamar."

"Tapi kau suka kan Kyu. Jadi kau bisa mengawasi apakah namja itu macam-macam pada Sungmin atau tidak." Dengan santai Yesung menanggapinya.

"Siapa bilang? Aku tidak peduli mereka mau melakukan apa. Bukan urusanku." Setelah mengatakan itu Kyuhyun langsung keluar dari kamar bernuansa abu-abu itu.

"Dasar. Egonya tinggi sekali. Padahal dari tadi dia yang paling semangat mengupingnya." Gerutu Siwon.

"Lalu kita harus bagaimana Hyung?" Tanya Donghae yang masih menangis sambil menatap layar laptop yang sudah menggelap, tanda telah dimatikan.

"Bagaimana apanya?"

"Apa kita akan diam saja?. Kita harus membantu Sungmin Noona."

"Jangan ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan masalah ini sendiri. Tugas kita hanya harus memastikan Lee Sungmin aman."

"Baiklah, masalah sudah selesai. Aku sudah ditunggu teman kencanku. Aku pergi." Siwon juga meninggalkan kamar Yesung.

"Kencan? Secepat itu dia mendapatkan teman kencan?." Seru Donghae yang takjub dengan keahlian temannya itu dalam menggoda wanita. Yesung masih cuek menanggapi rasa takjub dongsaeng kesayangannya itu.

"Kau tidak keluar juga Hyung? Kekasihmu kan masih menunggu dibawah." Ucapan polos Donghae menyentak Yesung. Menepuk kening pelan Yesung segera keluar kamar menuju ruang tamu dimana kekasihnya menunggu. Tadi dia langsung naik kekamar untuk memantau Sungmin tanpa sadar kekasihnya disana. Poor Ryeowook.

Sesampainya dia dibawah Ryeowook masih duduk menunggunya, sedangkan temannya sudah pergi. Kekasih mungilnya tampak asyik memainkan smartphonenya. Saat menyadari kedatangannya Ryeowook memasang wajah cemberut.

"Kenapa lama sekali? Aku hampir ketiduran tadi, dan tadi Choi Siwon-ssi bilang hyung masih asyik dikamar. Huh." Sambil bersedekap tangan Ryeowook mengomel. Yesung hanya tersenyum kecil.

"Mian. Aku antar pulang sekarang?" tawar Yesung yang langsung mendapatkan anggukan setuju dari Ryeowook. Dia sudah lelah menunggu, bahkan sahabatnya sudah mengomel tidak jelas dan pergi meninggalkannya sendiri.

Mereka langsung beranjak keluar mansion. Digarasi mansion terdapat beberapa mobil yang tak kalah mewahnya dengan Van putih yang biasa dipakai Yesung cs kuliah. Yesung menggiring Ryeowook masuk ke mobil Honda Civic hitamnya.

"Aku tidak tahu Oppa punya mobil. Karena kalian selalu ke kampus menggunakan mobil Van." Ryeowook mengungkapkan keheranannya. Lagi-lagi Yesung hanya menampilkan senyum kecil.

"Itu tugas dari Kim Heechul-ssi. Kami semua mempunyai mobil, baru dikirim tadi pagi." Kemudian suasana dalam perjalanan kerumah Ryeowook sangat hening. Yesung tipe orang yang pelit bicara. Meskipun Ryeowook cerewet, dia tidak tahu harus memulai obrolan dari mana. Jadilah mereka hanya terdiam sepanjang jalan. Sepertinya hubungan dua orang ini berjalan selambat kura-kura.

O_O

Matahari sudah bergeser ke barat. Langit sudah berwarna jingga. Siang sudah berganti senja. Terlihat didepan pintu utama Mansion Kim berdiri Sungmin dan Zhoumi.

"Oppa yakin akan pulang sekarang? Tidak sekalian makan malam disini?"

"Aku ada urusan lain Min. Besok kita bertemu lagi. Dan aku berharap kau mau memikirkan kata-kataku tadi." Sungmin mengangguk menanggapi ucapan Zhoumi.

"Aku pergi." Zhoumi segera masuk ke mobilnya dan keluar dari halaman mansion Kim. Sungmin masih berdiri disana. Matanya mengikuti gerakan mobil berwarna merah itu hingga tidak terlihat lagi. Dia tidak pernah membayangkan, mereka bisa kembali seperti dulu lagi. Pikirannya kembali saat mereka berdua masih dikamar. Zhoumi yang mengomel panjang lebar tentang dia yang tinggal dengan empat namja menyilaukan itu. Zhoumi hampir membawanya tinggal bersama di apartemen milik namja yang dia juluki Koala~karena hobi memeluknya~ kalau tidak ingat siapa yang memaksanya tinggal disini adalah Kim Heechul. Tapi setidaknya Zhoumi tidak berubah, masih sama seperti dulu.

"Kau terlihat tidak suka dia pulang?" suara dari belakangnya mengagetkannya. Dengan cepat Sungmin berbalik dan melihat Kyuhyun berdiri sambil menyender dipintu.

"Ye?"

"Kenapa tidak sekalian ikut saja dia pergi?" Sungmin mengeryit, namja satu ini benar-benar menyebalkan.

"Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku akan memasak makan malam dulu." Sungmin beranjak masuk Mansion saat tangan Kyuhyun menahan lengannya.

"Tidak perlu. Yesung Hyung dan Siwon Hyung pergi keluar dan akan pulang malam." Tanpa menunggu respon Sungmin, Kyuhyun masuk dan langsung menuju kamar. Sungmin hanya menggeleng maklum. Cho Kyuhyun tetaplah namja dengan tingkat sopan santun dibawah anak balita.

Sungmin akan menuju dapur saat dilihatnya Donghae diruang keluarga sedang menonton televisi. Donghae yang awalnya tiduran dikarpet bulu mahal segera bangun dan melambai padanya. Sungmin mendekat dan ikut duduk disebelahnya. Pandangannya jatuh pada televisi yang menayangkan acara musik.

"Teman Noona sudah pulang?" pertanyaan Donghae dijawab anggukan oleh Sungmin.

"Noona malam ini tidak perlu masak. Yesung Hyung dan Siwon-ie sedang keluar. Kita pesan antar saja. Ok."

"Heem, kau pesan saja. Aku bisa makan apa saja."

"Ahh, sebenarnya Kyuhyunie yang paling rewel dalam memilih makanan. Coba noona tanyakan padanya."

"Ha? Kenapa harus aku?" tanya Sungmin bingung.

"Dari tadi dia berwajah menyeramkan. Aku takut. Hanya noona yang bisa menanganinya kurasa." Jawab Donghae santai. Sungmin melongo, demi apa dia harus menemui namja setan itu lagi?. Donghae yang sudah kenal lama dengan Kyuhyun saja takut. Apalagi dia?.

"Tap..tapii…"

"Sudah tidak apa-apa noona. Sana, dia dikamar." Donghae menariknya berdiri dan mendorongnya pelan. Sungmin masih menampilkan wajah memelas, tapi Donghae hanya menggelengkan kepala lucu. Sungmin terpaksa melangkah malas menuju kamar yang berada tepat disamping kamarnya itu.

"Noona fighting!" teriakan penyemangat Donghae tidak membantu sama sekali. Sungmin hanya menyumpahi namja pecinta ikan itu mimpi buruk setiap hari. Sumpahan macam apa itu min.

O_O

Pintu kamar itu berwarna hitam pekat. Terdapat gantungan didepannya bertuliskan 'Go to Hell' dengan warna merah darah. Menyeramkan. Sungmin sedikit ragu untuk masuk, tapi mengingat bahwa namja didalamnya juga butuh makan dia memaksakan diri untuk mengetuk pelan pintunya. Satu kali, dua kali sampai tujuh kali sekalipun pintu didepannya tidak juga terbuka. Takut terjadi sesuatu pada Kyuhyun, Sungmin nekat membuka pintu yang tidak terkunci itu dan masuk pelan-pelan kedalamnya.

Suasana dalam kamar tidak lebih baik dari pintu depannya. Kamar bernuansa hitam itu hanya diterangi lampu sudut dengan sinar kekuningan. Ruangan yang sama luasnya dengan kamarnya ini terlihat seperti kapal pecah. Barang-barang berserakan dan baju-baju ~entah bersih atau kotor~ juga tersebar disegala sudut.

Dan pandangannya jatuh pada sosok namja yang berbaring diranjang dengan tertelungkup. Kepalanya berada dibagian bawah ranjang, menghadap televisi yang masih menampilkan game yang sudah bertuliskan game over dilayarnya. Pantas dia tidak mendengar saat Sungmin mengetuk pintunya tadi.

Dengan perlahan Sungmin jongkok didepannya. Menatap wajah namja yang selalu mengganggunya itu. Kyuhyun nampak tertidur, tapi wajahnya terlihat mengerut aneh. Kedua alisnya hampir menyatu dan nafasnya juga pendek-pendek. Tanpa sadar jari lentik Sungmin memegang kerutan alisnya dan ajaib kerutan itu hilang dan Kyuhyun tampak lebih tenang.

Sungmin masih memperhatikan wajah didepannya dalam diam. Sampai dia dikagetkan dengan ucapan Kyuhyun. Saking kagetnya dia sampai terjengkang kebelakang dengan keras.

"Apa yang kau lakukan disini?. Tidak seharusnya yeoja masuk kedalam kamar namja tanpa izin. Terlebih pemilik kamarnya sedang tidur." Tanpa merubah posisinya Kyuhyun bicara. Matanya juga masih tertutup rapat. Darimana dia tahu Sungmin ada disini?. Sungmin kelabakan.

"A..aku…sudah mengetuk pintu dari tadi tapi tidak ada respon. Aku takut kau kenapa-napa."

"Ck..ada apa? Kau tidak takut masuk kesini?" Sungmin memperbaiki posisinya menjadi duduk dilantai.

"Takut. Kamarmu seperti pemakaman. Tapi aku terpaksa."

"Kau ini. Yak…sudah masuk tanpa izin sekarang menghina kamarku. Apa maumu sebenarnya hah?" Kyuhyun bangkit dari tidurannya dan menunjuk kurang ajar pada Sungmin.

"Tapi benar kan, kamarmu menyeramkan." Tanpa sadar Sungmin mempoutkan bibirnya lucu. Kyuhyun menelan ludah susah payah melihat aegyo alami Sungmin.

"Aisshh…jangan sok manis!. Katakan apa maumu dan cepatlah pergi dari sini." Sungmin mencebikkan bibir kesal. Namja satu ini benar-benar menyebalkan.

"Donghae-ssi bilang dia akan memesan makanan. Dia menyuruhku menanyakan makanan apa yang kau mau." Sungmin berdiri sambil menunggu jawaban dari Kyuhyun.

"Jajjangmyeon." Jawab Kyuhyun singkat. Tanpa menjawab Sungmin segera meninggalkan kamar dengan aura menyeramkan itu.

.

Kyuhyun masih terduduk di tempat tidurnya selepas Sungmin pergi. Bukan maksudnya berkata kasar pada Sungmin. Tapi dia tidak tahu harus berkata apa saat tahu Sungmin ada dikamarnya bahkan sempat menyentuh alisnya. Benar, sebenarnya dia tidak sedang tidur tadi. Dia sedang bermain game, tapi entah karena apa dia selalu saja kalah. Membuatnya emosi dan memejamkan mata sejenak untuk meredam kekesalannya. Hingga sebuah jari yang dia yakini lentik menyentuh alisnya. Seperti disengat listrik dengan voltase rendah dia langsung tenang. Aneh memang, tapi dia merasakannya.

Dan untuk menutupi kegugupannya dia berbicara ketus lagi pada Sungmin. Entah kenapa, mengetahui alasan Sungmin datang kekamarnya membuatnya semakin kesal.

'memangnya apa yang kamu harapkan bodoh!" .Kyuhyun beranjak kekamar mandi. Mungkin dengan mandi air dingin bisa membuatnya berpikir waras.

.

Mansion Kim sepi. Karena dua penghuninya masih belum pulang. Sedangkan tiga penghuni yang lain sibuk dengan aktivitas masing-masing. Donghae berada diruang keluarga menonton acara kesukaanya 'Sea and I' entah jenis acara apa itu tapi dilihat dari judulnya berhubungan dengan laut. Jelas. Sungmin sedang diruang laundry, mengurusi pakaian kotor namja-namja yang hanya bisa makan dan teriak-teriak itu. Sungmin merasa disini dialah yang harus menjaga empat namja itu bukan sebaliknya. Sedangkan Kyuhyun memilih berkutat dengan laptopnya dihalaman belakang mansion.

Kyuhyun sedang fokus menatap laptopnya saat sebuah mug berisi susu coklat diletakkan diatas meja. Dia mendongak untuk melihat pelaku yang ternyata adalah Sungmin. Sungmin hanya menunduk canggung dan pergi dari sana. Kyuhyun yang tiba-tiba jadi bisu hanya menatap susu coklat yang masih mengepul itu seperti melihat uang satu koper. Tiba-tiba moodnya yang dari kemarin malam buruk berubah secerah matahari pagi. Dengan perlahan diminumnya susu itu hingga habis dan beranjak masuk kedalam mansion tanpa lupa membawa laptopnya.

Entah apa yang dipikirkannya. Sekarang Kyuhyun sudah berdiri didepan kamar Sungmin. Dan tanpa memikirkan alasan kenapa dia bisa berada disana dia mengetuk pintu didepannya. Tanpa menunggu ketukan kedua pintu berwarna putih itu terbuka dari dalam menampakkan wajah Sungmin yang keheranan melihat Kyuhyun dihadapannya.

"Waeyo?" tanya Sungmin pelan.

"Susunya sudah habis." Idiot. Alasan konyol lagi?. Wajah Sungmin semakin bingung.

"Lalu?"

"Kau akan membiarkanku berdiri disini?"

"Ye?"

"Ahh,,sudahlah awas. Aku mau masuk." Tanpa permisi Kyuhyun masuk kamar Sungmin dan langsung duduk disofa disamping jendela kamar. Sungmin yang sempat bingung segera menyusulnya dan menatap Kyuhyun tajam.

"Siapa yang mengizinkanmu masuk kekamarku?"

"Kau tadi juga masuk dikamarku. Kita impass sekarang."

"Apa?. Mana bisa begitu?"

"Bisa. Karena aku Cho Kyuhyun. Dan sudahlah tenang saja, aku tidak akan berbuat aneh. Namja tiang itu kau bolehkan masuk kenapa aku tidak boleh?"

"Itu karena dia MIMI-KU!" jerit Sungmin sebal dengan sikap tidak sopannya Kyuhyun.

"Mimi-mu?" wajah Kyuhyun yang tadi bersinar jahil sekarang menggelap. Sungmin mengerut takut. Dia mundur satu langkah saat Kyuhyun berdiri dihadapannya dengan wajah marah dan mencengkram lengan Sungmin dengan kasar. Sungmin meringis kesakitan.

"A..appoo..Kyu..ada apa denganmu?" tanya Sungmin yang kebingungan dan kesakitan sekaligus. Wajahnya sudah pucat pasi saat melihat kemarahan dimata sekelam malam didepannya. Kyuhyun masih menatapnya tajam tanpa melepaskan lengan Sungmin dan mendekatkan wajahnya dan mendesis bahaya tepat disamping telinga Sungmin.

"Bagaimana bisa dia jadi Mimi-mu kalau kau adalah milikku?."

*tebece*

A/N:

Yuhuuu…chap 7 hadiir. Semoga suka yaaa. Dan soal masa lalu Sungmin tidak aku ceritakan detail yaa. dan tidak ada flashback. Karena masa lalu biarlah masa laluu…#digampar reader malah nyanyi :D

Sudah tahu kan disini Zhoumi sebagai apa. HoHoHo…si evil kesetanan tuh huawakakakaka aku suka buat Kyupil kebakaran bulu ketek#plakkk maksudnya kebakaran jenggot. Biar cepet sadar ma perasaannya. Hahahahaha

Terima kasih reviewnya chinguu,,,dan terima kasih juga atas doanya. Maaf tidak bisa dibalas satu-satu yaaa. Dan buat yang follow and Fav gomawoooo…..

Buat rasa terima kasihku…oppa-deul akan nyanyiin "follow him" buat kalian semua wkwkwkwkwkwk. Authornya makin tidak waras. Mian ne..malah ngmong yang aneh-aneh. Sekali lagi gomawooyooooooo…