Sebuah t-shirt putih polos tampak tergeletak disudut kamar hotel bernomor 232, tampak pula gorden berwarna krem yang menutupi jendela berkibar pelan tertiup angin pagi melalui ventilasi, suasana remang-remang terasa lantaran lampu ruangan yang belum menyala dan gorden yang masih tertutup.
Hanya suara kicau burung gereja terdengar di atas ranting-ranting pohon yang berembun. Pagi masih buta namun suara beberapa orang di koridor hotel telah terdengar wira-wiri entah apa yang terjadi. Entah mungkin terjadi kejadian yang sama seperti kejadian yang terjadi pada pasangan kontrak kesayangan kita. Ya, sang suami dilempar gayung hingga akhirnya pingsan. Dan sang istri yang sama sekali tidak tahu ia tidur berdua dengan suami kontraknya.
Yeah, bila ia tahu entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Paling Uchiha Sasuke akan kehilangan satu kakinya atau dua kakinya.
Ah, sudahlah. Mari melihat kearah jendela dalam sudut kamar pasangan kontrak ini. Tidak ada yang banyak berubah, gorden itu masih tertutup rapat, air embun mengalir di kaca-kaca jendela karena sinar hangat mentari telah meninggi dan samar-samar sinar mentari pagi memasuki ruangan melalui ventilasi.
Setali tiga uang dengan yang terjadi di dalam kamar juga tak banyak yang berubah, kasur dengan king size itu sedikit berantakkan, lampu tidur di atas meja belum dimatikan, selimut berwarna krem itupun masih tergelung menutupi dua orang disana dan dua orang tersebut masih terlelap tidur sambil berpelukan. Tidak banyak yang berubah sejak tadi malam. Dan seharusnya Sasuke berpikir dua kali saat membiarkan Sakura tidur di sebelahnya atau ia harus menangung resiko tinggi.
Sinar mentari mulai meninggi, menyinari kamar bernomor 232 ini. Tak lama kemudian sang sinar mulai menghiasi sinarnya menuju sepasang mata emerald yang masih tertutup rapat membuat si empunya mata, membuka matanya perlahan. Sakura sedikit merasa geli saat merasakan ada sesuatu yang memeluknya dengan pelan, sesuatu tersebut masih bergerak memeluknya hingga kepinggangnya.
Wanita itu mengedutkan matanya. Memegang sesuatu tersebut, ia sadar 'sesuatu' ini adalah sebuah tangan. Tangan. Wanita bermata emerald tersebut menarik napas. Tangan? Tangan siapa? Dengan cepat ia segera mengekorkan matanya ke sebelah kanan. Uchiha Sasuke. Tidur di sebelahnya. Memeluknya. Tanpa memakai baju atasan.
Si pinky menatap Sasuke dengan pandangan kosong beberapa saat, tak lama ia menghela napas. Ooh... Cuma Sasuke yang tidur di sebelahnya, memeluknya, tanpa memakai baju atasan. Biasa. Wanita bermata emerald itu kembali menarik selimut lalu tidur sebelum akhirnya menutup mata dan...
Tunggu! Sasuke tidur di sebelahnya lalu memeluknya dan yang paling parah tidak memakai baju atasan! What the hell? Sakura segera membangunkan dirinya dari kasur. Menatap tajam sang suami yang masih tertidur lelap. Ia langsung menarik selimut, mengumpalkannya dan menjatuhkannya bersama tubuh Sasuke menuju lantai porselen dibawah kasur, membuat si empunya tubuh menggaduh kesakitan saat merasakan kepala ayamnya terjedut meja.
Sakura mendengus. Huh. Masih untung ia tidak mematahkan satu kaki Sasuke seperti yang telah diprediksi oleh author gaje ini.
Si bungsu Uchiha membuka mata saat merasakan kepalanya yang terasa sakit lantaran membentur meja disamping kasur. Ia menatap Sakura yang kembali tidur. Si pinky menyempatkan sedikit waktu sebelum beranjak tidur untuk men-deathglare Sasuke sejenak seraya bergumam 'pervert'. Dan sangat itu juga wajah tampan aktor tersebut telah berubah warna lantaran geram.
"JIDAT!"
Oo-O-oO
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Marriage Contract
Inspirited Full House K-Drama
Warning; AU/OOC, SasuSaku
Oo-O-oO
"Gomennasai," Sakura memilin kedua telunjuk tangannya dan tersenyum lebar penuh-salah- seraya menatap sang suami yang berada di depannya, mereka duduk semeja dalam ruang makan hotel yang dihiasi suasana mentari pagi dari arah jendela besar di tengah ruangan. Sasuke hanya diam, tidak mengucapkan apa-apa, ia lalu menyantap makanannya perlahan. Si pinky mengernyitkan alisnya.
Sakura tahu Sasuke pasti masih marah karena tadi pagi atau... karena tadi malam? Aduh, Sakura merasa perutnya sakit. Iya baiklah ini semua salah si pemilik emerald karena seenak jidat melempar dan menjatuhkan sang suami padahal si bungsu Uchiha sudah berbuat baik padanya dengan membiarkan ia tidur disamping Sasuke, daripada tidur di luar.
Dan Sakura telah meminta maaf karena itu seharian ini -dari sebelum mereka masuk ruang makan dan sesudah mereka mendapatkan piring cemilan.
Tapi sang suami hanya diam dari tadi dan Sakura tidak mengerti, apa maksud dari diam ini. Apa Sasuke telah memaafkannya? Apa diam artinya Sakura telah dimaafkan? Wanita itu menggigit bibir bawahnya. Sejak mereka keluar kamar tadi Sasuke terus mendiamkan dirinya seperti ini. Apakah si bungsu Uchiha masih marah karena dua gayung mengenai kepalanya?
Sakura tidak suka Sasuke seperti ini. Si pemilik emerald lebih suka Sasuke yang banyak tertawa seperti kemarin. Iya, ia terlihat sangat tampan saat tersenyum kemarin. Tunggu, sangat tampan? Tidak, mungkin lebih tepatnya SEDIKIT tampan. Iya, hanya sedikit. Hanya sedikit, oke. Dan jangan bahas lagi!
Sang suami menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan lamat-lamat sembari menatap Sakura, ia menurunkan sendok dan garpu di kedua sisi piringnya. "Hari ini kita jalan sendiri-sendiri," ia masih menatap Sakura yang langsung membulatkan mata. "Kau boleh jalan-jalan sendirian atau memilih tetap di hotel. Aku akan kembali ke hotel setelah makan malam," ujarnya dengan nada terdengar biasa namun bagi Sakura itu adalah nada terkejam luar biasa.
Sakura mengangakan mulutnya. "Apa? Aku tidak tahu jalan di Okinawa. Bagaimana kalau aku tersesat? Jangan bilang kau masih marah karena tadi malam?" wanita berumur 22 tahun itu menatap sang suami tak percaya.
Demi tuhan, tega-teganya Sasuke meninggalkan ia sendirian di hotel. Memang Uchiha Sasuke tega, tapi masa hanya karena masalah kecil -seperti-kepalanya-dilempar-gayung-dua-kali-hingga-pingsan-dan-kepalanya-kembali-terbentur-dimeja-tadi-pagi lalu jadi masalah besar. Wanita itu menundukkan wajahnya merasa bersalah. "Gomen," satu hal; ia hanya berharap Sasuke memaafkannya dan mau kembali menjadi teman (baca: tourguide)-nya saat di Okinawa.
Sasuke mengambil tisue di ujung meja dan menggelapkan ke sudut-sudut bibirnya, kemudian menaruhnya kembali. Laki-laki bermata onyx itu kembali menatap Sakura yang langsung memanyunkan bibir dan mengembungkan kedua pipinya.
Sasuke hampir saja tersenyum kalau saja ia tidak cepat-cepat berdeham. "Aku hanya pergi hingga makan malam, lagipula ini tidak ada hubungannya dengan yang tadi malam dan tadi pagi. Lalu apa kau lupa aku ini Uchiha Sasuke, aktor terbaik se-asia. Jadi wajar kalau aku sibuk dimana-mana," sahut laki-laki berumur 22 tahun tersebut sedikit gembar-gembor.
Sang istri memutar bola matanya. "Gitu saja sombong," ujarnya mencibir dengan nada pelan berharap Sasuke tak mendengarnya namun sayang Kami-sama tidak berpihak kepadanya karena si bungsu Uchiha tengah menatapnya dengan pandangan kau-cari-mati.
Sakura menelan ludah, berusaha menatap Sasuke, ia tersenyum kecut. "Ya, ya, ya, aku tahu kau memang sibuk jadi meninggalkanku disini sangat wajar," Sakura berujar memakai nada sarkastik dengan penekanan saat mengatakan 'sangat wajar.'
Tak lama kemudian Sasuke mendengus. "Bagus kalau kau sudah paham," Sakura segera menghela napas dengan tampang sebal ia mengunyah makanannya cepat-cepat. Menatap itu Sasuke menghela napas dan buru-buru melanjuti. "Hah, baiklah kau boleh keluar dari hotel untuk jalan-jalan dan kalau kau benar-benar tersesat tinggal telepon aku. Aku akan menjemputmu nanti," komentar si bungsu Uchiha, Sakura segera tersenyum lebar saat itu juga.
"Hey, Sasuke?"
"Apa?" Pemilik onyx menaikkan alis menatap Sakura seraya memegang sendoknya.
Sakura berkedip, bertanya ia. "Kau sudah tidak marah lagi kan?"
"..." Si Uchiha hanya menatap sejenak dan kembali memakan makanannya. Pertanyaan macam apa itu? Tidak berbobot.
Sakura memandang kesal. "Hey, kau sudah tidak marah lagi kan?" saat Sasuke kembali mendiaminya. Saat itu juga Sakura kembali mengembungkan pipinya. Dasar Chicken butt! Sakura mengunyah daging ayamnya dengan kesal.
Ada satu hal yang diketahui oleh beberapa orang di ruang makan yang menatap mereka dari tadi adalah; Uchiha Sakura benci dicueki dan Uchiha Sasuke sangat senang mencueki. Well, mereka tampak saling melengkapi bukan? Yeah, maybe.
Selang beberapa menit setelah mereka sarapan pagi di ruang makan hotel termewah Okinawa dalam lantai 4, SasuSaku segera menuju lantai dasar untuk keluar hotel bersama-sama. Mengikuti langkah kaki Sasuke menuju elevator, Sakura bertanya. "Memangnya kau ingin kemana, Sasuke?"
Sasuke yang tengah menekan tombol bernomor 1 di dinding elevator hanya menghela napas, tak beberapa lama pintu elevator tertutup menuju lantai 1. Ia melirik Sakura. "Bukankah aku bilang aku sibuk. Lagipula besok kita akan pulang ke Tokyo," mendengar hal itu Sakura bersungut-sungut. Ya, pulang ke Tokyo, Sakura bahkan belum sempat kemana-mana dan mereka harus sudah pulang besok. Menempelkan tubuhnya ke dinding elevator, wanita itu mendengus.
"Oh, ya aku mengerti. Kau sibuk," mendengar hal itu Sasuke melirik Sakura sekali lagi. Wanita berambut merah muda itu buru-buru melanjuti. "Aku juga sibuk, jadi jangan pernah berpikiran bahwa hanya kau yang sibuk," melontarkan beberapa kata, Sakura segera memanyunkan bibirnya.
Menatap istri kontraknya, Sasuke tersenyum disudut-sudut bibirnya. "Kau sibuk?" ia masih tersenyum dengan tampang seakan mengejek. Mereka hanya berdua di elevator itu jadi tidak masalah bukan, mengadu mulut sebentar.
"Kau sibuk karena ji-jidatmu?," aktor tersebut tertawa meledek saking lucunya bagi Sasuke, ia sampai mengucapkan 'Ji' dua kali. Sakura mendengus. Melihat pintu elevator terbuka wanita bermata emerald itu cepat-cepat mengambil langkah melewati Sasuke, berjalan dengan buru-buru, Sakura melirik Sasuke sebentar di belakang. Terlihat sang suami berjalan pelan seraya tersenyum menyeringgai disudut bibirnya. Sakura memutar bola matanya, berbalik lalu pergi. Dasar chicken butt!
Melangkahkan kakinya keluar dari hotel, Sakura berjalan bersungut-sungut. Sasuke nyebelin, ngeselin, chicken butt dan sebagainya! Beribu ungkapan kesal terujar dalam hatinya bagai mantra peredam nyeri. Tanpa menyadari bahwa ia telah berjalan sendirian dan Sakura tidak tahu harus kemana. Bahkan lebih parahnya sekarang wanita ini tidak tahu sedang berada dimana. Melihat sebuah pohon ek besar di pinggir jalan. Sakura berkedip beberapa kali ketika dirinya mendapati pohon besar yang menutupi sebuah gudang kosong di depannya. Wow, di Tokyo sulit menemukan pohon sebesar ini karena sudah banyak pohon-pohon yang dipotong lantaran membangun mall dan sebagainya. Berdiri di belakang pohon ek tua ini, tangan ramping itu menyentuh kulit pohon tersebut.
"Aduh!" Sakura mengernyit mendengar suara beberapa laki-laki mengaduh kesakitan dan itu pula yang membuat sang pemilik emerald ini tidak berani melangkah lebih pasti dari tempat ia berdiri, dibelakang pohon ek dari tadi.
Seharusnya ia keluar dari hotel bersama Sasuke tadi! Suara beberapa lelaki itu kembali terdengar mengaduh kesakitan di depannya. Siapa wanita yang tidak takut dengan hal tersebut? Mana disini sepi dan Sakura tidak tahu jalan apa ini namanya. Hiiih... Jangan-jangan terjadi pembunuhan dan saat Sakura membalikan badan maka ia akan menjadi saksi mata dari pembunuhan ini!
Hiih. Wanita berumur 22 tahun tersebut merasa bulu kuduknya merinding. Dengan pelan seraya beranjak dari tempat berdirinya Sakura yang penasaran berjalan pelan Berusaha mengintip apa yang terjadi dibalik pohon di depannya.
Seorang laki-laki terlihat memukuli empat orang pemuda yang tengah berusaha menyeret seorang anak kecil. Pemuda yang tampak menyebalkan dimata Sakura tersebut berusaha memukul namun laki-laki itu mengelak. Menendang pemuda itu dengan kakinya ia langsung memukul pemuda yang tengah menyeret anak kecil tadi membuat anak kecil itu dapat lolos melarikan diri.
Sakura membulatkan matanya ketika melihat lebam menghiasi wajah tampan laki-laki berambut hitam itu, tak lama ia menarik napas saat melihat laki-laki itu dipukul dengan kayu oleh seorang pemuda satu lagi. Sakura menutup matanya seraya membalikan badannya ke belakang pohon, ia berkedip beberapa kali.
Apa yang baru ia lihat? Beberapa orang yang berkelahi di pagi hari seperti ini? Apa ia harus teriak memanggil bantuan? Aduh, tidak. Tidak. Bisa gawat, nanti kalau sampai berujung dengan polisi gimana? Sakura tidak mau menjadi saksi. Dan kalau memang ini pembunuhan bagaimana? Lalu pembunuh itu membalas dendam karena Sakura bersaksi bagaimana? Dan Sakura mati tanpa mendapatkan rumahnya kembali gimana? Waaaah! Tenang Sakura. Tenang. Itu tidak mungkin.
Seraya menarik napas dan mengeluarkannya dengan lamat-lamat, ia kembali menghadap kedepan perlahan. Mata emerald tersebut terpaku saat sosok laki-laki tadi berdiri di depannya dengan tangan berdarah lantaran melindungi anak kecil tadi. Sakura kembali menggigit bibir bawahnya. Curang 1 lawan 4. Ini tidak adil.
Belum habis beberapa menit si pemilik emerald merasa seluruh tubuhnya tak mampu bergerak. Membeku ditempat. Dan saat itu juga mulutnya yang sempat tertutup rapat tidak kuasa menahan ketika luka di kening pemuda itu tampak sangat parah dari dekat. Sakura menarik napas.
"KYAAAH! Tolong! Polisi!"
Laki-laki bermata onyx dan anak kecil itu membalikan tubuhnya, mengernyit mereka. Bersamaan dengan itu keempat pemuda tadi segera berlari setelah mereka mendecih kesal. Sial! Polisi. Sakura merasa tenggorokannya kembali tercekat ketika mendapati dirinya di pandangi kedua mahluk yang baru ia tolongi. Oh, Kami-sama apalagi yang akan terjadi setelah ini.
Sakura menggigit bibir bawahnya ketika melihat laki-laki tersebut berjalan sedikit terseok berusaha mendekatinya. Beberapa detik menatap penuh kebingungan, wajah cantik tersebut berubah pucat pasih saat laki-laki itu tiba-tiba pingsan. Ini parah, sudah lebih dari satu kali Sakura berhadapan dengan orang pingsan tapi yang ini lebih parah. Darah segar terlihat mengalir di kening laki-laki tersebut membuat Sakura segera berlari kearahnya dan anak kecil tadi, yang hanya menangis.
Satu hal yang Sakura pikirkan; Ia harus segera mencari rumah sakit sekarang juga.
-O-o-O-
Hamparan rumput penuh ilalang tinggi tersapu merata tertiup angin. Suasana musim semi masih terasa ketika melihat pohon maple yang menampakkan daun kemerahannya. Tanda daun-daun itu siap berguguran saat musim semi telah berganti.
Di Okinawa tentu saja memiliki begitu banyak tempat-tempat indah mempesona dipandang mata. Salah satunya tempat ini. Mungkin yang terpikirkan saat ke Okinawa adalah lautnya yang indah atau resortnya yang nyaman. Namun ada satu tempat bagi Uchiha Sasuke yang tidak bisa ia lupakan hingga sekarang.
Satu tempat terpencil di daerah paling ujung timur dalam pulau Okinawa. Ia tidak pernah melewatkan datang kemari ketika pergi ke Okinawa. Tempat ini begitu sejuk, damai, tenang. Terlebih lagi pohon maple di depannya ini. Pohon yang memberikan kesejukan kepada apa yang berada di bawahnya.
Sasuke menghela napas. Membawa satu rangkai bunga lily, ia berjalan kearah bawah pohon maple tadi. Berdiri disana Sasuke menundukkan kepalanya dan menaruh satu bucket bunga itu kedepan sebuah batu nisan. Ia tersenyum tulus.
"Aku tahu kau pasti akan marah kalau aku sampai lupa hari ini bukan?" Laki-laki berambut raven itu menutup matanya sembari berbisik pelan. "Aku pulang," ia membuka matanya lalu tersenyum perlahan.
"Kau tidak datang pun tempat ini tidak akan sepi, Uchiha," suara bariton seorang laki-laki terdengar di belakang. Sasuke membalikan tubuhnya, mendongak menatap seorang laki-laki berambut merah tengah berdiri dengan kedua tangan yang sama membawa bucket bunga Lily. Sosok itu terlihat sebaya dengan si bungsu Uchiha.
Sasuke membalikkan tubuhnya, menatap pemuda disana dengan pandangan jerih. "Gaara."
"Tidak kusangka kau kembali," pria berambut merah tersebut berjalan, menaruh bunga lily yang ia bawa ke depan batu nisan, ia lalu duduk di bawah pohon maple bersama Sasuke, yang hanya bisa menghela napas. Entahlah pertama Sasuke tahu akan pergi ke Okinawa, entah mengapa semua bagian tubuhnya merasa sakit. Dan sekarang lebih sakit lagi saat bertemu dengan pria ini.
"Begitulah, aku tahu kau tidak suka."
Sabaku no Gaara -nama laki-laki ini menatap Sasuke dengan ujung matanya. "Ya, kau datang lalu pergi. Kenapa kau tidak pergi dan seterusnya jangan datang lagi."
Sasuke mengernyit. "Aku datang kesini, aku tidak yakin mungkin ini yang terakhir kali."
Angin berhembus pelan kembali meniup ilalang. Gaara berdiri dari tempat duduknya menatap batu nisan di depan, ia melanjutkan. "Yakinlah. Aku tidak ingin melihatmu lagi," ujarnya seraya berlalu pergi meninggalkan Sasuke yang hanya terdiam menunduk sendiri.
Ya, seharusnya Sasuke yakin. Tapi hatinya masih terasa tak menentu. Apalagi setelah ia menikah secara kontrak ini. Sasuke tahu kenapa Gaara begitu membencinya. Sabaku no Temari alasannya. Nama dari cinta pertama Uchiha Sasuke dan nama yang terdapat di batu nisan depan si bungsu Uchiha.
Wanita itu telah tiada, namun Sasuke merasa ia ada disini. Itu yang membuat Uchiha Sasuke merasa tidak yakin.
Ia tidak yakin dengan perasaannya ini. Itu juga yang membuatnya merasa selalu ingin kembali. Selalu ingin datang lagi kemari.
-O-o-O-
Hampir sepuluh kali seorang wanita berambut merah muda itu melirik jam dinding yang terpasang di sudut dinding salah satu rumah sakit Okinawa. Napasnya tak menentu, berulang kali ia mondar-mandir dikoridor sebelah ruangan pasien dengan wajah gentir, mengepalkan kedua tangan mungil tersebut, wanita itu terus berdoa.
Oh, Kami-sama jangan sampai pria yang ia antar kerumah sakit ini, kenapa-kenapa. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi padanya. Ia tidak ingin berurusan dengan polisi, apalagi jadi saksi. Tidak. Tidak. Jangan sampai. Menggigit bibir bawahnya Uchiha Sakura segera mendekati seorang dokter yang baru keluar dari kamar pasien.
Sakura menarik napas. "Dokter, bagaimana kondisinya? Ia baik-baik saja bukan?" bertanya wanita tersebut dengan kalang kabut. Aduh, bagaimana ini kalau sampai pria itu kenapa-kenapa? Dan kalau ternyata pria tadi adalah anggota mafia atau Yakuza? Bisa mati Sakura!
Dokter tersebut tersenyum. Menatap Sakura yang bingung, sang dokter menepuk pundak wanita berumur 22 tahun tersebut, berusaha menenangkan. "Tidak, ia baik-baik saja. Lukanya tidak terlalu parah, hanya istriharat beberapa hari ia pasti sehat lagi," dan detik itu juga Sakura segera mengucapkan syukur beribu-ribu kali. Oh, Kami-sama... Arigatou. Menatap Sakura bernapas lega, sang dokter melanjutkan. "Kurasa ia akan baik-baik saja karena mempunyai pacar yang sangat perhatian seperti anda."
Pacar? Sakura mengangakan mulutnya. Terdiam beberapa detik, ia berkedip. "Aku bukan..." belum selesai wanita itu menjelaskan sang dokter telah membungkukan bandannya seraya berlalu pergi memeriksa pasien baru yang terlihat kritis. Sakura menghela napas. Sudahlah, sudah syukur pria yang ia tolong tadi tidak kenapa-kenapa.
Menatap kaca di pintu kamar tempat terbaringnya laki-laki yang ia tolong tersebut, wanita berambut merah muda ini hanya membuka pintu berwarna hijau di depannya pelan. Berjalan mendekati kasur rumah sakit, Sakura menatap pria berambut kehitaman itu, miris. Luka-luka di wajahnya benar-benar parah, terlihat lebam disudut bibirnya, tangan dan kepalanya pun ikut diperban.
Ya ampun segini parahnya. Untung setelah kejadian tadi Sakura segera menelepon rumah anak kecil yang ditolong mati-matian oleh pria ini. Beruntung anak itu tahu nomor telepon orang tuanya dan untung saja orang tua anak tersebut cepat datang. Haah... Sakura menghela napas kemudian berkedip beberapa kali saat menatap lebih dekat ketika jari-jari pria tersebut mulai bergerak. Mata onyx itu terbuka tiba-tiba membuat Sakura yang sedang mengamati hampir terlonjak kaget karenanya.
Seraya menatap kesekeliling lalu memperhatikan Sakura, Laki-laki berambut hitam itu menyandarkan kepalanya pelan kebantal, mengernyit ia saat luka-lukanya kembali berdenyut sakit. Sakura memandang cemas. Melangkah mendekat, wanita itu kontan berujar. "Jangan banyak bergerak," tangannya refleks menggeser bantal di belakang pria tersebut agar pas mengenai kepalannya. Menatap pria itu memandanginya dengan heran, Sakura buru-buru menjauh. "Eh, maaf. Aku hanya err... dokter bilang kau harus banyak istirahat, jadi jangan banyak bergerak," ujarnya kaku.
Pria itu hanya menatap dengan mata biasa membuat orang yang dilihat menelan ludah, "Dimana anak kecil tadi?"
"Anak kecil tadi sudah dijemput orang tuanya," masih terdengar kaku. Sakura mengutuk dirinya sendiri dalam hati setelah pria itu kembali diam memandanginya. Setelah yakin kali ini ucapannya takkan kaku kembali Sakura memberanikan diri memulai pembicaraan, "Maaf, mungkin sebaiknya kau segera menghubungi keluargamu," ujarnya seraya mengeluarkan handphone berwarna silver miliknya dari saku celana. Berharap pria itu memberitahu nomor yang bisa dihubungi agar Sakura bisa menghubungi keluarganya untuk kemari.
Pria itu menggeleng, "Tidak, terima kasih."
"Tapi, apa kau yakin?" Sakura mengigit bibir bawah kembali kali ini. Bagaimana bisa ia membiarkan seorang yang terluka parah karena menyelamatkan anak kecil sendirian di rumah sakit. Memang ada perawat di mana-mana, tapi tetap saja rasa menjaga dari keluarga pastilah sangat berbeda.
Pria bermata onyx itu hanya menghela napas, "Tidak apa-apa, kau bisa pulang sekarang. Lagipula aku... Akh," mengernyit kesakitan ia saat luka-lukanya kembali lebam di pipinya kembali terasa. Sakura yang khawatir menggelengkan kepala. Menaruh handphonenya di meja sebelah kasur tempat pria itu tidur, Sakura segera berlari keluar membuat pria tersebut menaikkan sebelah alisnya. Tak lama wanita berambut sebahu ini kembali membawa kompresan dan baskom berisi air dingin yang ia dapatkan dari salah satu perawat yang ia temui barusan.
Menarik salah satu kursi disamping kasur, Sakura masih membawa baskom lalu menaruhnya dibawah kaki setelah mencelupkan kompresan tadi beberapa kali, ia memandang luka-luka di wajah pria itu dengan pandangan serius seraya mengompres lebam-lebam wajah itu pelan-pelan. Kali ini pria tersebut yang menelan ludah. Jelas-jelas ia telah mengusir Sakura tadi, tapi siapa sangka perempuan ini nekatnya tidak ketulungan. Ia memandang Sakura lamat-lamat.
Sakura menarik napas, tangannya masih mengompres sudut bibir pria tersebut dengan perlahan. "Aku tahu kau pasti tidak suka, tapi aku tidak membiarkan diriku nantinya tidak bisa tidur semalaman hanya karena seorang pria yang keras kepala. Aku juga tahu sekarang kau berada dirumah sakit tapi obat-obat itu tidak akan bisa meredahkan sakit di wajahmu dengan cepat bukan?" jelas Sakura panjang lebar sebelum pria di depannya ini memotong perkataannya. Sakura tahu sifat-sifat pria seperti ini. Sedikit keras kepala atau lebih tepatnya... jaga image? entahlah.
Pria itu memandang bingung lalu berusaha berujar. "Itu..."
Sakura memotong. "Jangan bicara."
Laki-laki itu mendengus. "Hey."
Masih mengompres lebam-lebam di pipi pria tadi, Sakura akhirnya melirik si pasien, risih. "Apa lagi? Aku kan sudah bilang..." berhenti mengomel Sakura ketika menatap pria di depannya berusaha menunjuk menggunakan telunjuknya kearah pintu. Sakura menoleh, mendapati sesosok pria besar dengan gigi bertaring, berwajah pucat, memakai jas hitam dengan celana yang berwarna sepadan berdiri di depan pintu menatapnya. Sosok itu benar-benar mirip dengan... Yakuza! Sakura membeku.
Tunggu! Ia sempat berpikiran laki-laki yang ia tolong ini mafia atau yakuza. Jangan-jangan... perempuan berambut merah jambu itu segera menaruh handuk kompresan yang ia pegang ke dalam baskom di bawah kakinya. Membungkukan badannya sebentar kearah pria yang tengah berbaring di depannya itu, ia berujar pelan. "Maaf, err sampai jumpa," lalu berlalu pergi. Si pria dan temannya yang mendekati kasur memandang bingung.
Pria bermata onyx tersebut terdiam menatap pintu kamarnya telah tertutup setelah Sakura berlalu pergi, ia melirik temannya yang sempat diyakini Yakuza oleh Sakura. "Kisame, darimana kau tahu aku masuk rumah sakit ini?" tanyanya pada pria besar yang baru mendudukan dirinya di kursi Sakura tadi.
Pria besar bernama Kisame itu tersenyum menampakkan gigi taringnya. "Pihak rumah sakit menelepon. Mereka bilang kau masuk rumah sakit diantar pacarmu," ujarnya seraya menatap sebuah handphone berwarna silver yang tergeletak, bergetar di meja sebelah kasur pasien, Kisame masih tersenyum saat mengambil handphone tersebut. "Jadi perempuan tadi pacarmu? Sepertinya handphonenya tertinggal."
Pria berambut kehitaman itu mengernyit. "Apa?" mengambil handphone berwarna silver yang masih bergetar itu dari tangan Kisame, ia menaikkan alisnya saat sebuah phone number dengan nama Chicken Butt terus memanggil berkali-kali. Chicken butt? Sebelum pria itu mengangkat panggilan tersebut, panggilan itu tiba-tiba berhenti. Ia menghela napas.
"Ngomong-ngomong, Itachi. Kenapa pacarmu langsung pergi? Apa aku menganggu kalian?" tanya Kisame dengan senyum menyeringgai. Yang ditanyai hanya terdiam lemah seraya menyandarkan kepalanya kembali kebantal, ia mendengus entah sudah berapa kali ketika handphone Sakura kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan singkat dari orang yang sama. Chicken butt. Pria bernama Itachi itu mendesah. Ya ampun perempuan itu, ada tidak ada tetap saja menyusahkan.
'Sakura, kau ada dimana?' Membaca pesan singkat itu dalam hati, Itachi terdiam sejenak. Menyentuh sudut bibirnya yang lebam, ia tersenyum kecil sesaat. Sakura. Jadi itu namanya. Nama perempuan aneh itu, Sakura.
-O-o-O-
Berlari entah kemana kaki Sakura sudah, setelah ia dapat keluar dari rumah sakit barusan. Ya ampun... untung Sakura buru-buru melarikan dirinya. Kalau tidak entah apa yang terjadi? Memikirkannya saja perempuan ini sudah pucat pasih.
Sakura menghela napas melirik kakinya yang dulu sempat keseleo karena sepatu hak tinggi sewaktu upacara pernikahannya kemarin, kembali terasa sekarang lantaran Sakura tersandung batu jalanan. Aduh, sudah jam berapa sekarang? Ia harus kembali ke hotel sebelum malam. Perempuan tersebut mendongak. Awan-awan hitam mulai berkumpul berbarengan. Hari mau hujan.
Mengedarkan pandangannya ke penjuru arah, Sakura mendesah. Ia tidak tahu jalan apa ini? Gimana caranya kembali ke hotel? Memikirkan hal itu Sakura teringat apa yang dikatakan Sasuke tadi pagi. 'Kalau ada apa-apa telepon aku' Oh iya, Handphone.
Sakura menyambarkan saku celana jeansnya, meraba kesana-sini. Ia mengernyit. Loh? Kemana handphonenya? Tak lama perempuan itu mendaplok jidat lebarnya ketika teringat dimana ia meninggalkan handphone kesayangannya barusan. Rumah Sakit. Iya, handphonenya tertinggal saat Sakura mengambil kompresan untuk pria 'Mafia' itu.
Oh Kami-sama... Apa salahnya? Kenapa dengan hari ini? Kenapa juga handphone mesti tertinggal tadi? Bagaimana caranya Sakura menghubungi Sasuke? Kembali ke rumah sakit tadi? Tidak. Tidak akan. Sakura menggigit bibirnya, entah sudah berapa kali. Ia kembali menatap kesekeliling. Semak-semak bunga aster terlihat di sepanjang jalan menutupi sebuah pos polisi. Yes, setidaknya Sakura dapat menanyakan jalan ke hotel tempat ia menginap bersama Sasuke. Melangkah wanita itu menuju tujuan. Namun pucuk dicinta ulam pun tak kunjung tiba, tuhan punya kehendak lain padanya. Pos polisi itu tidak ada orang. Kosong. Dan saat itu juga Sakura merasa pikirannya pun ikut kosong.
-O-o-O-
Mendengus. Entah berapa kali Sasuke telah mendengus hari ini, dari ia pulang ke hotel tadi dan mendapati Sakura tidak ada disana-sini. Ya ampun, kenapa Sasuke mesti punya istri seperti ulat nangka sih? Ditelepon enggak diangkat-angkat, di sms enggak dibalas. Apa sih maunya? Bukankah ia telah menggatakan kepada si jidat itu untuk meneleponnya kalau kenapa-kenapa, ini sudah jam 3 dan Sakura belum pulang-pulang juga?
Sasuke mendesah tertahan ketika melirik jam tangannya, ia berlari melewati tempat-tempat yang kemungkinan besar dikunjungi Sakura. Menatap awan-awan hitam mulai bergumpal menjatuhkan air-air hujan kebawah dunia. Sasuke mendecih, untung ia sempat membawa payung saat hari masih gerimis tadi.
Hujan tambah lebat, membuat jalanan mulai sepi. Sasuke yang sudah membuka dan memakai payung yang ia bawa dari hotel, mengernyit saat melihat merah jambu di sebelah pos polisi yang sepi. Merah jambu. Ah, sudah pasti Sakura. Mendekati pos polisi, Sasuke akhirnya bernapas lega ketika yang ia duga menjadi nyata. Sakura berdiri disudut pos polisi seraya memeggangi denkul kakinya, ia masih mencoba berdiri di sana. Perempuan bermata emerald itu mendongak sembari tersenyum lebar ketika melihat Sasuke mendekat.
Si bungsu Uchiha mendengus, mungkin sudah yang keseratus kali hari ini. Berdiri di depan Sakura, ia menurunkan payungnya. "Hey, jidat. Kau menyusahkan sekali. Aku kan sudah bilang untuk meneleponku kalau kenapa-kenapa," sembur Sasuke membuat Sakura menatap takut. "Tidak mengangkat teleponku, tidak membalas smsku, pergi dari hotel dan tidak bilang akan kemana. Seharusnya aku tidak mencarimu sekarang ini."
Sakura hanya diam. Mengembungkan pipinya, ia menjawab. "Handphoneku hilang. Kakiku keseleo dan kau datang lalu marah-marah. Lengkap."
Sasuke menghela napas, memandang Sakura yang terlihat pucat. "Sudahlah, ayo pulang," ujarnya seraya mendekatkan arah payungnya ke perempuan berambut merah jambu tersebut. Sakura tak kunjung melangkah, Sasuke curiga. "Ada apa lagi? Ayo pulang."
"Kakiku... keseleo," Sakura berujar sembari menatap kakinya. Menghela napas Sasuke sekali lagi. Memberi payung yang ia pegang ke Sakura, Sasuke menjongkokan kakinya.
"Naik kepunggungku, biar kugendong sampai hotel."
Sakura mengerjap berulang kali. Sasuke mengendongnya? Salah makan apa Sasuke hari ini? Jangan-jangan si bungsu Uchiha ini hanya main-main lalu membuat Sakura sakit hati. Memandang penuh curiga, Sakura bertanya. "Kau bercanda?"
"Oh, jadi kau tidak mau? Ya sudah, pulang sana jalan kaki sendiri," Sasuke mengancam. Sakura buru-buru menghalang.
"Aku mau! Aku hanya tidak yakin kalau kau mau mengendongku," tukas Sakura cepat sambil memegang payung tersebut, ia menaiki punggung Sasuke.
Mengendong Sakura di punggungnya seraya berjalan pelan-pelan, Sasuke mendongak melihat payung yang dipegang Sakura tak menutupi kepalanya. "Hey, payungnya," keluhnya membuat si pemegang payung menepatkan payung satu-satunya tersebut pas di kepala mereka makin deras. Sakura yang memegang payung untuk mereka berdua, melingkarkan tangan kirinya ke leher Sasuke, agar hujan tak mengenai ia dan pria berambut raven tersebut. Sasuke mengernyit. "Jidat, badanmu berat."
Sakura mendengus. "Enak saja! Badanku ringan tahu."
"Sakura percuma kau membela diri, badanmu itu berat. Makanya diet sekali-kali," ledek Sasuke seraya berteriak, berusaha mengalahkan suara hujan yang deras dan angin yang bertiup kencang. Jalan terlihat sepi hanya beberapa kendaraan tampak lalu lalang.
Sakura hanya bersungut-sungut mendengar ucapan Sasuke barusan. Membalas kata-kata Sasuke? Percuma. Pria ini pasti akan membalasnya lebih kejam lagi bahkan bisa-bisa Sakura diancam tidak digendong ke hotel. Kan bahaya. Melihat Sakura yang tidak membalas, Sasuke tidak berusaha mengucapkan sepata kata lagi.
Hujan makin menjadi-jadi, angin bertiup tambah kencang sekali, payung yang dipegang perempuan berumur 22 tahun ini mulai berkibar tak pasti. Sakura makin mempererat pelukannya digendongan Sasuke. Hampir beberapa menit mereka diam sejak Sasuke meledek Sakura tadi, sebelum akhirnya perempuan tersebut berujar. "Sasuke, kau masih marah?"
Sasuke menaikkan alisnya, tentu saja tidak terlihat dimata emerald Sakura. "Marah? Kenapa?"
"Karena tadi pagi?"
"..." kembali pertanyaan macam apa itu? Kalau Sasuke marah untuk apa ia repot-repot mencari dan mengendong Sakura. Dasar perempuan ini.
"Hey, kau marah tidak?"
"Tidak."
"Benar? Kau tidak marah?"
Sasuke mendesah tertahan. "Iya."
Sakura tersenyum, Ia tahu Sasuke tidak marah padanya tentang tadi pagi atau yang tadi malam tapi Sakura merasa risih tidak melihat Sasuke tersenyum seharian ini. Ya, Sasuke memang tersenyum tadi bahkan tertawa ketika aktor tersebut meledek dengan berkata 'Sibuk karena Jidatmu?' haaah, itu bukan senyum tulus. Itu senyuman menyeringgai, senyum meledek. "Kalau begitu, senyum."
"Hah? Senyum?" hampir terlonjak Sasuke ketika berjalan mendapati sebuah lubang jalan berada tepat didepannya. Untung Sasuke menghindar.
Si pinky mengangguk. "Yeah, smile."
"Untuk apa?"
"Ayolah sekali saja, senyum."
"Tidak, seperti orang bodoh."
"Ayolah," perempuan tersebut merengek.
"Tidak."
Sakura memanyunkan bibirnya. Walau Sasuke tidak bisa melihat tapi ia tahu Sakura pasti sedang memanyunkan bibirnya sekarang. "Huh," ujar Sakura sebal sembari mencubit kedua pipi Sasuke. Tak lama ia lepaskan segera setelah pria tersebut mengancam menurunkannya dari gendongan. Sakura pun memilih mengerutu sendiri di belakang gendongan.
Ya sayang, Sakura tidak pernah tahu bahwa Sasuke sekarang tengah tersenyum tulus di depan. Bahkan Sasuke telah tersenyum tulus, dua kali hari ini.
To Be Continued...
a/n;
SasuSakuIta! Yaii! Honestly, senang banget akhirnya sampai pada chapter ini juga, setelah sekian lama. Walau mesti ngulang sampai 6x. Hik.. -terharu. Dari awal sebelum membuat fic ini saya sempat berpikir beribu-ribu kali *lebay* tentang siapa orang ke-3 yang sedikit mengangu hubungan SasuSaku? Lalu setelah bersemedih selama tujuh menit, tujuh detik di bawah meja makan. Akhirnya author mendapatkan pencerahan -?- Itachi dan Temari lah orangnya.
Sakura enggak akan terlalu terbebani orang ke-3, cos saingannya Temari sengaja saya bikin telah tiada. -hik.. maafkan saya Temari. Karena rasa sakit saat orang itu telah tiada, terasa lebih sakit daripada orang tersebut masih ada. Jadi janganlah menyiah-yiahkan orang yang berada disampingmu sekarang, betul tidak? loh? Aa' gym?
Terima kasih telah merepiu & membaca chapter kemarin, repui kalian membuat saya semangat untuk melanjutkan fic yang masih banyak typo bertebaran dimana-mana ini. Tanpa banyak kata-kata lagi. Thanks :D dan berikan pendapat kalian.
