My Ego

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rated : M-MA

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst

Warning : lots of lemon, pure incest, OOC and many more XD

Sasuke masih berada di dalam ruangan di mana Sakura sedang terbaring, dengan berat hati, dia menelepon seseorang yang mungkin akan membuat semuanya kacau.

"Halo?"

"…" Sasuke tidak menjawab sapaan orang yang di sebrang sana.

"Sasuke, ada apa?"

"Itachi-nii…"

"Ada apa? Tumben sekali malam-malam kau menelepon?"

"Sakura…"

"Ada apa dengan Sakura? Kalian bertengkar?"

"Sakura… dia… terserang Leukimia." Ucap Sasuke dengan nada beratnya.

"APA? Sakura Leukimia? Aku segera kesana!"

Sambungan langsung terputus, bisa Sasuke jamin saat ini Itachi sangat panik dan meninggalkan semua urusannya, Sasuke kembali menatap wajah Sakura yang kini masih tertidur dengan pulas. Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya? Padahal Sasuke sangat mencintainya kan? tapi kenapa dia tidak sadar kalau Sakura sedang sakit?

Ke esokan paginya, Sasuke tertidur di kamar rumah sakit, Itachi datang dengan wajahnya yang pucat, dia datang bersama Ino, dan hal itu di luar prediksi Sasuke. Mungkin di perjalanan Itachi menghubungi pacarnya dan mengajak bareng ke rumah sakit.

Entah ada permasalahan apa Ino dan Sasuke, saat ini Itachi melihat tatapan Ino seperti tatapan benci terhadap Sasuke.

"Sejak kapan ketahuannya?" tanya Itachi.

"Kemarin," jawab Sasuke.

Melihat Sasuke yang tidak merespon tatapan gadis pirang itu membuat Ino makin jengkel. Saat Ino akan berucap, suara Sakura menggerang terdengar sehingga mereka bertiga langsung menghampiri Sakura.

"Sakura!" panggil Sasuke dengan nada panik sambil menggenggam tangan Sakura, Ino lihat adegan itu, dan hal itu membuat Ino makin kesal.

"Sasu… ke-nii… Itachi-nii? kenapa ada di sini?"

"Aku langsung datang begitu tahu kamu masuk rumah sakit," jawab Itachi dengan lembut.

"Sakura maafkan aku," gumam Sasuke sambil menciumi tangan wanita yang sangat di cintainya itu, melihat gelagat Sasuke, Itachi merasa risih, itu seperti bukan perlakuan kakak terhadap adiknya.

"Maafkan aku karena aku tidak menjagamu dengan benar," lanjut Sasuke.

"Bukan salah Sasuke-Kun, salahku juga yang tidak bisa memperhatikan kondisi diri sendiri."

"Maafkan aku~ aku akan melakukan apa saja untukmu… tapi kumohon… sembuhlah~ jangan tinggalkan aku~"

'Kun'? apa Itachi tidak salah dengar? Barusan Sakura memanggil Sasuke dengan sebutan kun? Dan lagi reaksi Sasuke yang kini menunduk sambil menggenggam tangan Sakura membuat Itachi makin aneh.

"Aku tidak akan meninggalkanmu… memangnya aku akan kemana?" ucap Sakura dengan nada bercanda.

"Sakura," kali ini Ino yang memanggil, "Bagaimana perasaanmu?"

"Ino, aku baik-baik saja, hanya masih sedikit pusing," jawab Sakura.

"Sasuke," Itachi menepuk pundak adiknya, "Bisa bicara sebentar?"

Melihat ekspresi Itachi, Ino menatap kekasihnya itu dengan ekspresi khawatir, memang sebelumnya Ino mengatakan akan memberi tahu Itachi kebenarannya, tapi tidak secepat ini, dia berencana akan mengatakannya kalau Itachi datang. Tapi sepertinya Itachi sudah tahu dengan sendirinya.

Sasuke bangkit dan mencium kening Sakura, "Aku akan kembali," ucapnya tanpa memperdulikan tatapan aneh Itachi.

Ketika Itachi dan Sasuke sudah keluar, Ino menghampiri Sakura.

"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Ino.

"Aku tidak tahu, tubuhku lemas dengan sendirinya" jawab Sakura yang masih belum tahu kalau dia terserang leukemia.

"Bukan, bukan masalah tubuhmu," kata Ino membenarkan, "Kamu… dan Sasuke… kenapa? Kalian kan saudara kandung."

Sakura tersentak mendengar topic yang Ino bawa saat ini, Ino tahu ini bukanlah saat yang tepat, tapi Ino ingin Sakura tidak mengambil langkah yang salah.

"Kau tidak mencintainya… kau hanya merasa tidak enak dan kasihan karena dia kakak kandungmu," ujar Ino dengan yakin.

"Tidak…" bantah Sakura, "Ini bukan rasa kasihan… aku… memang mencintai Sasuke."

"Lalu kenapa kau menerima Neji? Aku pikir selama ini aku menyukai Neji?"

"Memang aku menyukainya… tapi itu dulu… Ino, perasaan manusia itu bisa berubah-ubah, dan ada kemungkinan juga perasaanku pada Sasuke bisa berubah."

"Kalau begitu ubahlah sebelum-"

"Masalahnya adalah keinginan kita untuk mau merubahnya atau tidak," potong Sakura.

"Aku tahu, aku sedang terserang penyakit serius, aku bisa merasakannya," lanjut Sakura sambil mendalami perasaannya, "Dan saat ini aku tidak mau merubah persaanku terhadap Sasuke… kecuali kalau Sasuke sendiri yang mau mengakhirinya."

"Sakura…" perlahan air mata Ino mengalir, Ino merasa sangat miris, kenapa Sakura harus jatuh cinta pada orang yang salah.

.

.

.

"Ada apa?" tanya Sasuke saat Itachi membawanya ke halaman belakang rumah sakit.

"Aku hanya ingin bertanya, bagaimana hubunganmu dengan Sakura selama ini?"

"Baik-baik saja, dia adik yang merepotkan," jawab Sasuke dengan santai.

"Baik-baik saja… atau kelewat sangat baik?" sindir Itachi.

"Apa maksudmu?" kini Sasuke melontarkan pertanyaan dengan sinis, "KAlau memang ada yang ingin dikatakan langsung saja."

"Kau… sebenarnya kau menganggap Sakura itu apa?" tanya Itachi dengan perasaan yang sedikit takut untuk mendengar jawaban Sasuke.

"Hmpf," Sasuke mendengus, "Kau ingin tahu? Baiklah akan kuberi tahu, aku dan Sakura sudah resmi menjadi sepasang kekasih, dan tidak ada yang bisa memisahkan kami."

Itachi tersentak mendengar jawaban Sasuke, apalagi Sasuke menjawab dengan yakin dan tegas, seolah hal itu adalah hal yang lumrah.

"Kau memang bajingan! Adik kita itu bukan untuk dikencani! Tapi untuk dijaga! Sasuke, kau gila! terserah kau mau meniduri berapa gadis semaumu, tapi ini Sakura! adik kandung kita"

"Terserah kakak mau bilang apa, aku tetap akan mencintai Uchiha Sakura!"

"Sasuke! Sadarlah! Apa kau pikir Sakura menginginkan semua ini?" bentak Itachi.

"Tentu saja, dia tidak menolak, dia juga mencintaiku," jawab Sasuke dengan santai.

BUG!

Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Sasuke.

"Kau yang memaksanya untuk mencintaimu! Bukan perasaan alami Sakura sendiri!" kali ini, Itachi membentak, menahan air matanya agar tidak keluar, bagaimana bisa keluarga satu-satunya yang dia sayangi ini berubah menjadi sangat kacau.

"…" keadaan hening seketika, Itachi mengatur nafas amarahnya, dan Sasuke hanya berjalan dengan santai sambil berkata, "Sudah selesai?"

Kata-kata itu membuat Itachi makin marah, "Kau… memaksaku melakukan apa yang tidak ingin kulakukan," geram Itachi pelan sambil menatap sosok Sasuke yang berjalan meninggalkannya.

.

.

.

Sasuke kembali ke kamar seorang diri, dan itu membuat Ino bertanya-tanya, "Mana Itachi-kun?"

Sasuke tidak menjawab, dia menghampiri Sakura dan mengelus kepala adiknya itu, "Aku pulang sebentar yah, nanti sore aku kembali lagi."

"Ng," jawab Sakura sambil tersenyum.

Sasuke melirik Ino yang masih menatapnya dengan sinis, Sasuke tahu kalau Ino tidak menyukainyam akhirnya dengan sengaja, Sasuke menarik leher Sakura dan menciumnya di depan Ino, "Sampai nanti," bisik Sasuke pada Sakura, dan itu membuat Sakura sangat merona.

Sasuke sengaja membuat Sakura merona agar Ino tahu kalau Sakura pun juga menginginkan Sasuke, dan Sasuke kini keluar ruangan dengan senyuman yang seolah bangga membuat Ino mematung.

"Jahat~" geram Ino, dan geraman itu membuat Sakura sadar kembali dari ronaannya, "Dia jahat padamu… Sakura~"

"Sasuke-kun? Tidak kok."

"Kau jangan mau di peralat oleh Sasuke! Dia sengaja menciummu di depanku! Apa maksudnya itu?"

"S-Sasuke-kun memang seperti itu, Ino…" jawab Sakura dengan memasang wajah sedih.

"Aku harap Itachi sudah mengetahui hal ini," ujar Ino sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi.

"Tidak! Jangan! Aku mohon jangan sampai Itachi-nii tahu," pinta Sakura.

"Terlambat Sakura," ucap suara laki-laki yang membuka pintu dan membuat Ino, juga Sakura mneoleh.

"N-Neji-kun?"

"Aku tadi melihat Itachi-nii memukul Sasuke, sepertinya rahasia kalian sudah terbongkar," Neji kembali berucap sambil menghampiri Sakura.

Sakura menatap Neji dengan tatapan seolah memohon agar ucapan Neji itu salah dan bohong, tapi Neji yang kini menatap Sakura memiliki makna yang berbeda. Berita Sakura terserang leukemia sudah tersebar karena Ino yang memberi tahu Hinata. Neji membungkukkan tubuhnya dan menggenggam tangan Sakura.

"Aku masih mencintaimu," ucap Neji, tidak peduli di sana ada Ino yang sedang megawasi mereka.

Sakura sedikit tersentak mendengar pengakuan Neji yang tiba-tiba, begitu pula Ino. Kenapa kedua orang ini tidak bisa bersatu? Itulah yang Ino pikirkan.

"Aku juga menyukai Neji-kun, kamu orangnya baik, kamu cinta pertamaku… tapi sekarang aku hanya ingin menjalani apa yang ingin kulakukan," ujar Sakura sambil tersenyum,"Habis sepertinya aku tidak mempunyai waktu yang cukup lagi untuk hidup."

"SAKURA!" bentak Ino, "Jangan ucapkan hal itu! Aku mohon, walaupun hanya bercanda, jangan ucapkan hal itu," pinta Ino sambil memeluknya.

Sakura terdiam saat Ino memeluknya, pandangannya kini menuju Neji, saat Sakura akan berucap, Ino melepaskan pelukannya sambil menahan hisakan tangisannya, "Nee, Neji-kun…" panggil Sakura, "mau memaafkanku?"

Neji melihat wajah Sakura yang kini terlihat sangat pucat, kenapa wajahnya tidak bisa berseri seperti dulu lagi? Neji menunduk sambil menempelkan punggung tangan Sakura pada keningnya, ""Pasti… cepatlah sembuh, Sakura~"

"Neji-Kun… menangis bukanlah imej yang pas untukmu."

Neji tidak menjawab lagi, bahkan Ino yang masih menangis kini merasa sangat kaget, seorang Neji bisa menangis begini? Dia pasti sangat mencintai Sakura, lalu bagaimana dengan Sakura? Apa yang dia inginkan sebenarnya? Membuat sekelilingnya begitu bingung dan resah.

.

.

.

"…"

Kedua orang yang tadinya akan masuk ke ruangan Sakura kini terdiam di depan pintu ketika mendengar apa yang baru saja terjadi di dalam kamar itu.

"Kau dengar itu, Hinata-chan?"

"Ng, sangat jelas… Naruto-kun…." Jawab Hinata sambil termenung, "Padahal dulu aku sangat tahu, Sakura-chan sangat mencintai Neji-nii."

Naruto menatap gadis yang baru menjadi kekasihnya ini dengan pilu, "Kau tahu, Hinata-chan… Teme mencintai Sakura-chan itu sudah sangat lama, bisa dibilang sejak aku berteman dengan mereka sekitar kelas 1 SD, si Teme itu sudah sangat mencintai Sakura-chan."

"Benarkah?" ucap Hinata tekejut mendengarnya.

Naruto mengangguk, "Sakura-Chan mencintai Neji dan Sasuke, itu adalah ego nya, Sasuke mencintai adik kandungnya sendiri, tidak memperdulikan perasan orang sekitarnya dan ingin memilikinya sendiri, itu adalah ego Sasuke, Neji masih terus berjuang mendapatkan Sakura, meskipun dia tahu bahwa Sakura kini mencintai Sasuke, itu adalah ego nya Neji."

"Ng, Masing-masing mempunyai ego yang sulit untuk dikendalikan." Utar Hinata pelan.

"Kita sebagai teman baik mereka, hanya bisa memberi dukungan terbaik, yaah walaupun aku tahu dukunganku ini pada Teme tidak baik, tapi… aku merasa Teme sangat mencintai Sakura-chan, makanya aku ingin mendukungnya walaupun ini salah." Ucap Naruto.

"Aku… saat ini tidak tahu harus mendukung siapa lagi, Neji-nii sangat mencintai Sakura-chan… tapi sekarang aku rasa Sakura-chan sudah memberikan seluruh hatinya untuk Sasuke," ujar Hinata.

"Yaah, kita serahkan saja pada mereka," jawab Naruto, "Masih ingin menjenguk, atau pulang?"

"Sepertinya saat ini kita pulang saja dulu, Sakura sudah terlalu banyak mengeluaran emosi, aku ingin dia istirahat," jawab Hinata.

"Kau memang sahabat yang baik."

.

.

.

Waktu terlewati begitu cepat, ini sudah hari ke tiga Sakura di rawat, namun kondisinya masih belum pulih, malah lama kelamaan kondisi Sakura makin menurun. Saat Sasuke menjaganya, Sakura selalu ceria, bahkan saat dokter memberi tahu Sakura tentang leukemia-nya, Sakura hanya tersenyum pada dokter dan meminta bantuan pada dokter sebisanya agar penyakitnya itu sembuh.

Kini Sasuke sedang berada di rumah, memberesi pakaian Sakura yang akan di bawanya, namun saat Sasuke sedang sibuk memlih, bel pintu berbunyi. Dengan berat hati Sasuke melangkah keluar dan membuka pintu tersebut. Mata Sasuke sedikit terbelalak melihat siapa yang ada di depan pintu itu.

"Paman Madara?"

"Hai, Sasuke," sapa laki-laki dewasa yang kini berada di hadapan Sasuke, "Boleh aku masuk?"

"… silahkan," izin Sasuke ragu.

"Aku dengar… Sakura di rawat yah?" tanya Madara.

"Ya," jawab Sasuke singkat, pikirannya masih bertanya-tanya, apakah Madara tahu hubungannya dengan Sakura? Ah, persetan dengan semua itu, Sasuke tidak akan mundur begitu saja kalaupun Madara harus tahu tentang hal itu.

"Aku dengar dia terkena leukemia, kau dan Itachi pasti kerepotan," ujar Madara sambil menduduki dirinya di sofa.

"Tidak juga," jawab Sasuke, "Ada apa paman? Tumben datang?"

"Loh? Itachi tidak memberi tahumu kalau aku akan berkunjung?"

"…" Sasuke terdiam dan kemudian dia teringat ucapan Itachi saat sarapan pagi bersama waktu itu, "Ah! Ya, aku ingat."

"Sebenarnya aku punya tujuan lain sih," ujar Madara, "Sasuke, aku ingin kau ikut denganku."

"Ikut denganmu? Kemana?" tanya Sasuke sambil mengangkat sebelah alisnya.

"London, tolong pegang salah satu perusahaan yang ayah kalian tinggalkan, aku tidak sanggup mengelolanya sendirian." Pinta Madara

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Sakura yang sedang sakit!" tolak Sasuke dengan tegas.

"Sakura bisa Itachi yang mengurusnya, kalau kau tidak mau, perusahaan di London itu bisa bangkrut," ucap Madara dengan nada penuh permohonan.

"Aku bilang tidak ya tidak, aku tidak perduli dengan perusahaan atau semacamnya," ucap Sasuke dengan nada sedikit meninggi.

"Aku harus mempertahankan apa yang ditinggalkan oleh ayahmu!" kini Madara ikut meninggi, "Apa kau sebagai anaknya tidak peduli sama sekali? Hah!"

"kenapa kau tidak minta tolong pada Itachi?" tanya Sasuke dengan nada sewot.

"Itachi sedang mengelola rumah sakit yang dia jalani sekarang, sedangkan kau? Kau hanya belajar kan?"

"Aku memang hanya belajar di sini, tapi aku tidak mau menjadi boneka Uchiha!" tolak Sasuke."Lagipula… Sakura membutuhkanku di sini, aku mohon paman mengertilah…"

Madara kehabisan kata-kata, akhirnya dia memutuskan sesuatu yang mungkin Sasuke bisa menoleransikannya, "Baiklah, bagaimana kalau kita tukar tempat?"

"Maksudmu?" tanya Sasuke.

"Aku yang akan pergi ke London, tapi kau harus tinggal di Okinawa, masih berada di dalam jepang kan?" pinta Madara sekali lagi.

Tawaran ini bisa menjadi benefit untuk Sasuke, selain Sasuke bisa mempunyai perusahaan sendiri dan bisa membawa Sakura kedepannya, letaknya juga masih di dalam jepang, bukan di luar negri, tapi tetap saja Sasuke tidak bisa pergi sekarang, karena Sakura masih sakit.

"Akan kupertimbangkan," jawab Sasuke.

"Baiklah, aku tunggu jawabanmu," kata Madara dengan nada lega, "Sekarang bolehkah aku menginap di sini?"

"Tentu saja, kau kan Uchiha juga," jawab Sasuke tersenyum.

.

.

.

Sasuke berjalan menuju rumah sakit, sambil membawa beberapa barang-barang Sakura, saat Sasuke sudah berdiri di depan lift, seorang suster berlari dan menegur Sasuke.

"Ah, maaf… apakah anda tuan Uchiha Sasuke?"

"Hn," jawab Sasuke malas-malasan tanpa menatap suster itu.

"Maaf, anda tidak boleh naik ke atas."

"Kenapa? Aku ingin menjenguk adikku sendiri!" protes Sasuke.

"Ini perintah, maafkan saya, anda tidak boleh menjenguknya," sekali lagi suster itu berucap.

"Kenapa? Aku kakak kandungnya! Siapa yang berani memberi perintah begitu?"

"Aku!"

Tubuh Sasuk tersentak ketika mendengar orang lain yang menjawabnya dari belakang, begitu Sasuke menoleh, "… Itachi."

Itachi menghampiri sosok Sasuke dan mengambil alih barang-barang Sakura, kemudian menyerahkannya pada Ino yang dari kemarin selalu menemaninya.

"Aku lah yang mengambil alih dari semua tentang Sakura di sini, kau tidak ada hak apa-apa, bahkan menjenguknya pun aku larang, sekarang kau bisa pulang, paman Madara menunggumu kan?"

"Hah? Jadi kau! Kau yang menyuruh paman Madara membawaku ke London?" bentak Sasuke.

"Ya, keberatan?" ujar Itachi dengan sinis.

"Sayang sekali usahamu gagal! Dapat atau tidak dapat izin darimu, aku akan tetap menemui Sakura sekarang!" geram Sasuke.

"Coba saja kalau berani, aku tidak akan segan-segan mencabut seluruh asuransi Sakura," gertak Itachi dan itu membuat Sasuke mematung.

"Kau tidak akan berani," ancam Sasuke.

"Itu lebih baik, dari pada harus melihat kalian bersama," jawab Itachi sambil meninggalkan Sasuke dan mengambil alih barang-barang Sakura yang tadi Ino pegang.

"Sasuke," panggil Ino pelan, "Bisa bicara sebentar?"

Sasuke menatap sosok Itachi dengan sinis, dan kini menatap Ino yang seolah memohon, mungkin tidak ada salahnya mendengar celotehan Ino sebentar,"Cih, baiklah."

Ino mengajak Sasuke untuk mengobrol di sebuah cafeteria yang terletak di lantai dasar rumah sakit itu, sesudah memesan minuman, Ino mengaduk minukan itu.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sasuke sinis.

"Tentang Sakura," jawab Ino dan Sasuke sudah yakin akan hal itu.

"Langsung saja," pinta Sasuke.

"…" Ino terdiam, sedikit ragu, apakah tindakannya ini benar atau tidak.

"aku sangat mengerti perasaan cintamu pada Sakura," Ino mulai membuka pembicaraan, "Aku juga tahu kalau sekarang Sakura sangat mencintaimu."

"Lalu?"

"Tapi… apakah kau tidak memikirkan yang lain? Aku tahu kau itu sangat egois, begini… aku tidak memintamu untuk memikirkan perasaan Itachi, aku, Neji atau yang lainnya…"

Ino memberi jeda pada ucapannya, kemudian setelah menghela nafas sedikit, Ino melanjutkan, "Tapi kumohon pikirkanlah perasaan Sakura."

Mata Sasuke terbelalak mendengar ucapan Ino.

"Apa kau pikir dengan bersatunya kalian Sakura akan bahagia? Apa kai pikir Sakura tidak menyayangi Itachi-kun? Apa kau pikir Sakura mau pisah dari keluarga satu-satunya yang dia miliki?"

Wajah Sasuke makin mengeras, kenapa dia tidak pernah berpikir seperti itu dulu? Dia terlalu memikirkan ego-nya.

Ino mulai menangis, "Jujur… aku senang kalau Sakura senang… tapi… apa kau tahu kenapa sampai saat ini kondisi Sakura tidak kunjung membaik?"

Sasuke masih terbelalak dan menatap Ino, "Itachi-kun melarangku memberi tahumu, karena dia tidak ingin kau khawatir lebih dari ini~" bahkan setelah kejadian pengakuan Sasuke terhadap Itachi, kakak tertua itu masih memikirkan perasaan Sasuke.

Sasuke terdiam, menyiapkan diri dengan apa yang akan Ino katakan, "Sakura tidak kunjung membaik karena mengidap stress yang sangat tinggi," lanjut Ino yang akhirnya mengeluarkan air matanya.

"Aku mohon~ Sasuke… kita semua hanya melihat Sakura yang ceria… kita tidak tahu kalau Sakura ternyata juga memikirkan hal yang nista ini… aku tidak ingin kehilangan Sakura~" pinta Ino.

Wajah Sasuke kini berubah, ekspresinya sangat syok, perasaannya kini sangat ngilu dan perih, apakah dia penyebab semuanya? Penyebab Sakura terserang leukemia? Penyebab Sakura stress?

Teeee teeeet

"Pemberi tahuan kepada seluruh keluarga Uchiha agar datang ke ruangan 283, saat ini kondisi pasien sangat menurun, sekali lagi kepada seluruh keluarga Uchiha agar datang ke ruangan 283, terima kasih."

Sasuke dan Ino saling padang, tanpa basa-basi lagi mereka berdua berlari menuju ruangan Sakura, tidak memakai lift, mereka berdua berlari menaiki tangga menuju lantai 3, Sasuke berharap agar semua baik-baik saja, sambil memohon Sasuke terus berlari, juga sambil menahan air matanya yang memberontak ingin keluar itu.


A/N : oyay, akhirnya update, maaf yah telat terima kasih kalian masih menunggu fict saya, saya benar-benar berterima kasih, chapter berikutnya adalah chapter terakhir, hehehee… terima kasih yah atas partisipasinya, ini bocoran untuk chapter terakhir :

.

.

"Kondisinya kritis, darah merahnya terus berkurang, kita harus segera melakukan operasi."

"Pakai darahku, golongan darahku sama dengannya."

"Resikonya sangat tinggi, apa kau siap?"

.

.

"Maafkan aku, Sakura… karena ke egoisanku, kamu menjadi menderita seperti ini… aku janji, kalau kamu sembuh nanti… aku akan membebaskanmu."

.

.

"Sepertinya Sasuke tidak bisa memegang perusahaan yang di London, maafkan aku paman sudah merepotkanmu dengan memintamu bersandiwara."

"Tidak apa-apa Itachi, aku tidak terlalu mau tahu apa permalasahan kalian, pesanku hanya satu… jagalah hubungan kalian baik-baik, kalian hanya bertiga sekarang."

"Ya, terima kasih."

.

.

"Apakah operasinya berhasil?"

"Aku tidak tahu, keduanya tidak sadarkan diri."

.

.

"Syukurlah kau sudah siuman."

"Aku bisa merasakan darahmu di dalam tubuhku."

"Sakura… maafkan aku…"

"Sasuke-kun?"

"Aku… akan membebaskanmu, terima kasih untuk semuanya."

"Kalau begitu… peluklah aku… untuk yang terakhir kali."

.

.

"Tidak bisa… ternyata aku memang sangat mencintainya… Sakura~ selamat tinggal."

"Aku mencintaimu, Sasuke-nii."

.

.

"Kondisinya kritis, kesadarannya menurun, tapi dia masih bisa mengucapkan sesuatu."

"Apa yang dia ucapkan dok? Tolong dia dokter!"

"Itachi-kun~"

"Dia mengucapkan… Sasuke-nii…"

.

.

"Sasuke… kumohon sadarlah~"

"Kondisi keduanya makin memburuk setelah menjalani operasi, tubuh Sasuke sedang tidak stabil saat itu, tapi dia memaksa untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Sakura."

.

.

"Sasuke… nii… akhirnya…"

"Sshhh, jangan ucapkan apa-apa lagi."

if god exists, why he didn't help us?