Hay. Apa kabar? Saya kembali.

Maaf baru bisa update. Sebagai permintaan maaf, saya update dua chapter sekaligus ya. Itu berarti fanfic ini tamat di Bab ke 7.

Terima kasih buat yang sudah membaca, mereview, dan menunggu fanfic ini di lanjut. Saya sayang kalian semua.

Happy Reading guys~

.

.

.

BAB 6

.

.

.

Aku benci menjadi cengeng. Tapi air mata sialan ini seakan menertawakanku dan terus mengalir tidak tahu malu. Aku pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan dari Kyuhyun. Ia mengejarku setelah membuat hidung Siwon kembali berdarah. Mungkin. Karena aku hanya mendengar suara pukulan dari sana.

Aku langsung mendapatkan taksi tanpa harus menunggu. Sialan, ini seperti dalam drama yang menyedihkan. Ya Tuhan, aku bahkan tidak tahu harus bersyukur atau malah menyesal. Aku ingin jauh dari Kyuhyun, tapi aku juga ingin ada di pelukannya. Aku sepertinya mulai membenci diriku sendiri.

Lebih dari tiga puluh menit taksi ini hanya membawaku berputar-putar di kota Seoul. Aku tidak tahu kemana harus pergi. Kembali ke apartemen Kyuhyun adalah pilihan terakhir yang ada di kepalaku. Tapi aku juga tidak mungkin kembali kerumah. Ia pasti mencariku kesana.

"Nona, kemana saya harus mengantar anda? Dari tadi anda hanya meminta saya untuk tetap jalan tanpa tujuan."

"Jalan saja dulu, pak."

Supir itu hanya mengangguk.

Aku menghapus air mataku. Saat lampu lalu lintas menyala merah, aku melihat ke arah papan penunjuk jalan.

Stasiun.

"Tolong antarkan saya ke stasiun, pak."

Lima belas menit kemudian aku tiba di stasiun. Aku melangkah gontai seperti orang bodoh. Berdiri di tengah antrian pembelian tiket kereta menuju Busan. Ya, aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku sebelum memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Kyuhyun atau... tidak.

Aku merogoh saku mengambil ponselku. Persetan dengan pesan-pesan dan panggilan tak terjawab dari Kyuhyun. Dengan cepat jemariku bergerak mencari nomor seseorang. Menghubunginnya tanpa harus berfikir dua kali.

"Hallo, Kangin."

.

.

.

Kepalaku terasa berat dan mataku terlihat sembab. Aku tertidur sepanjang perjalanan menuju Busan. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama. Terakhir kali aku kemari sekitar tiga tahun yang lalu. Busan kota yang cukup menyenangkan.

Aku menghampiri Kangin yang tengah berdiri menungguku. Ia merentangkan tangannya, menyambutku dengan pelukan hangat dan juga kecupan di keningku.

Kangin. Pria yang lebih tua beberapa tahun dariku ini adalah kakak tiriku. Ibuku menikah dengan ayahnya saat aku berumur tujuh tahun. Setelah lulus kuliah, Kangin memutuskan untuk tinggal di Busan dan bekerja disini. Aku sangat merindukannya. Kesibukan membuatnya jarang pulang kerumah beberapa tahun ini.

"Hai, Sweety. Bagaimana kabarmu?"

Aku membalas pelukannya. "Seperti yang kau lihat."

"Kedengarannya buruk."

Aku hanya mengedikan bahu. Kami tak ingin berlama-lama disini. Jarak rumah Kangin tak begitu jauh. Tidak lebih dari dua puluh menit kami sudah sampai dirumahnya.

"Apa yang membuatmu mendadak ingin tinggal disini? Kau sedang ada masalah?"

Aku mengangguk. Menekuk kedua kakiku, menyandarkan daguku diatas lutut. Aku sudah berganti pakaian. Aku bersyukur pernah meninggalkan beberapa pakaianku disini.

"Ya. Itu sangat memalukan."

"Pacar?" Ia kembali bertanya.

"Begitulah."

Kangin hanya mengangguk paham. Ia berjalan menuju dapur mengambil dua minuman kaleng. Aku memperhatikan gerak-geriknya dari tempat dudukku. Kangin memiliki tubuh yang tegap dan juga wajah yang tampan. Ia adalah seorang arsitek yang hebat. Ekspresi wajahnya memang terlihat angkuh, tapi ia memiliki hati yang sangat baik. Aku berani bertaruh jika banyak wanita yang ingin tidur bersamanya. Bahkan Eunhyuk pernah naksir pada Kangin.

"Apa ada pihak ketiga?"

"Tidak... Eum maksudku iya."

Kangin mengangkat alisnya. Aku membasahi bibirku. "Bukan seorang wanita jalang. Tapi pria brengsek."

Kangin menyemburkan minuman dimulutnya dan terbatuk. "Sialan. Kau berkencan dengan seorang homo?"

Aku melotot melempar bantal sofa padanya. "Kyuhyun bukan seorang homo. Sialan kau."

"Jadi namanya Kyuhyun." Ia masih terbatuk sambil menepuk dadanya. "Ya ku pikir dia itu..." Aku menatapnya tajam. "Oke, oke, jadi yang kau maksud pria brengsek itu yang seperti apa?"

"Aku dulu berkencan dengan Siwon."

"Aku tahu itu."

"Aku dan Siwon putus karena ia harus mengurus perusahaan ayahnya di luar negeri. Tapi itu hanya omong kosong."

Aku berhenti lalu menoleh padanya. "Lanjutkan." Ucapnya. Aku menarik nafas dalam-dalam.

"Ini mungkin tidak penting. Tapi Kyuhyun adalah pria kaya yang mempunyai kekuasaan. Ia bisa melakukan apapun termasuk menawarkan jabatan tinggi pada Siwon."

"Pria itu memilih jabatannya dan memutuskan hubungan kami." Aku melanjutkan dan hampir menangis. Kangin meraih tubuhku. Aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Ia membiarkanku menangis dipelukannya.

"Jadi?"

"Kyuhyun membohongiku. Aku pikir mereka tidak saling kenal, aku juga menceritakan tentang masalaluku dengan Siwon padanya. Tapi kenyataannya, Kyuhyunlah yang membuatku putus dengan Siwon."

"Apa yang Kyuhyun katakan?"

"Tidak. Aku langsung pergi."

"Kenapa? Bukankah Kyuhyun berhak menjelaskan sesuatu padamu?"

"Semua sudah jelas. Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi."

"Kau seharusnya mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu."

"Aku tidak ingin melihat wajahnya."

"Sementara." Kangin menyahut.

Aku mengangkat bahuku.

"Kau mungkin hanya butuh waktu. Tinggalah disini sampai kapanpun kau mau. Tapi kau harus ingat, lari tidak akan menyelesaikan masalah."

"Aku tahu. Terima kasih." Aku melepas pelukannya. "Kaosmu basah."

Kangin menunduk melihat kaos biru yang ia kenakan. Aku mengernyit jijik melihat bekas air mata bercampur air hidungku disana. Entah kapan terakhir kalinya aku menangis seperti anak kecil di pelukan Kangin. Mungkin sepuluh tahun yang lalu.

"Tidak masalah. Kau yang cuci besok."

Aku mengangguk.

"Aku pasti terlihat sangat menyedihkan."

"Sedikit." Ia mengambil sapu tangan dari saku celananya. Aku tidak tahu jika para pria masih menyimpan benda seperti itu disaku mereka.

"Aku serius. Kau harus mendengarkan penjelasannya, sayang. Setelah itu, kau boleh memintaku untuk membunuhnya jika kau mau. Kau mau aku membunuh Siwon terlebih dulu atau Kyuhyun?"

"Tidak!" Aku melotot padanya. Kangin menahan senyumnya. Ia mengedikan bahunya, menyilangkan tangan, mengangkat kakinya diatas meja. Sial, aku meresponnya berlebihan. "Terserah kau saja."

.

.

.

Aku bangun pukul tujuh pagi, kepalaku masih sedikit berat membuatku enggan beranjak dari kasur. Perutku mengeluarkan suara saat mencium aroma mentega dari luar. Kangin pasti sedang membuat sarapan. Ia pandai memasak.

Aku menggosok gigiku, mencuci muka, lalu mencepol asal rambutku keatas.

"Kau menyedihkan, Lee Sungmin. Benar-benar menyedihkan."

Setelah puas mengejek bayangan diriku di cermin. Aku menyusul Kangin didapur. Ia sedang memanggang bacon sambil mendengarkan musik dari I-pod nya. Lagu Sugar milik Maroon5 mengingatkanku pada Eunhyuk. Aku merindukannya.

"Oh. Kau sudah bangun. Duduklah, makanan sebentar lagi siap."

Aku masih berdiri di samping meja makan.

"Boleh aku pinjam ponselmu?"

"Ambil saja di kamarku. Ada apa dengan ponselmu?"

"Aku sengaja mematikannya."

Aku memilih duduk di sofa ruang tengah setelah mengambil ponsel Kangin. Beruntung pria itu menyimpan nomor Eunhyuk. Aku bukan tipe orang yang suka menghafal nomor. Bahkan nomor ponselku sendiri aku tidak hafal.

"Hallo." Eunhyuk menjawab setelah nada sambung ketiga.

"Hyuk, ini aku Sungmin."

"Ya Tuhan, Sungmin. Kau Sungmin temanku kan? mengapa kau pergi tanpa pamit padaku hah? Kau menelpon dari ponsel Kangin ya? Kau bersamanya?"

Aku memutar mataku. "Memangnya Sungmin siapa lagi."

"Kau membuatku khawatir. Kau tidak dirumah, juga tidak di apartemen Kyuhyun."

Aku menghela nafasku. Menekuk kedua lututku lalu memeluknya. "Maafkan aku."

"Apa Kyuhyun menemuimu?"

"Tentu saja."

Aku tersenyum tipis mendengar Eunhyuk mencebikan bibirnya kesal. "Lalu?"

"Lalu kau membuatku kesal. Kau bilang ada janji dengan Soojin. Tapi kau malah menemui Siwon. Sial, siapa yang mengajarimu berbohong?"

"Maafkan aku."

"Aku sudah mendengar semuanya dari Kyuhyun. Dia sangat kacau, Min. Kau seharusnya mendengarkan penjelasannya dulu. Bukan main pergi begitu saja."

"Aku tidak mau melihatnya."

"Kalau tidak mau melihatnya, setidaknya kau aktifkan ponselmu. Dan biarkan dia bicara."

Aku menggeleng kecil. "Tidak. Aku belum siap, Hyuk."

Eunhyuk hanya menghela nafasnya. Aku mendengar suara Donghae bertanya pada Eunhyuk dengan siapa kekasihnya itu menelpon.

"Hyuk, kau tidak boleh memberitahu Kyuhyun jika aku berada di rumah Kangin."

"Mengapa tidak boleh?"

"Karena aku tidak ingin melihatnya."

Eunhyuk berdecak. "Baiklah. Kau mungkin memang butuh waktu untuk menenangkan pikiranmu. Tapi jangan terlalu lama lari dari masalah."

"Aku tidak lari dari masalah." Aku mendengus.

"Ya. Terserah kau saja. Aku menyayangimu, Min. Kau tahu pasti dimana kau bisa menemukan seseorang untuk berbagi."

"Terima kasih, Hyuk. Aku juga menyayangimu."

.

.

Aku lebih banyak menghabiskan hariku dengan berdiam diri di kamar. Kangin sedang pergi, sepertinya berkencan mengingat ini adalah akhir pekan. Aku memandangi ponselku yang tergeletak malang di atas meja. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Eunhyuk. Aku harus mengaktifkan ponselku.

Tidak.

Iya.

Astaga iya!

Aku mengambil ponselku mengaktifkannya kemudian. Aku tidak pernah tahu jika menghidupkan ponsel memakan waktu yang lama. Ku rasa itu hanya lima belas detik. Bukan, itu lima belas jam. Sial, mengapa aku menjadi gugup.

21 Pesan dan 17 panggilan tidak terjawab. Ya Tuhan, aku tidak memiki teman sebanyak itu. 16 pesan dari Kyuhyun, dan sisanya dari Eunhyuk, Taemin, dan juga Kangin yang belum sempat kubaca.

Aku menarik nafasku sebelum membaca pesan Kyuhyun. Semua isi pesan itu hampir sama. Kata maaf, dan menanyakan keberadaanku. Air mataku dengan lancang mulai mengalir. Bodoh. Aku menangis hanya karena membaca pesannya. Bahkan aku merindukan pria yang sudah membohongiku.

Ponselku bergetar. Kyuhyun. Itu Kyuhyun. Perlahan aku menggeser tanda hijau menjawab telponnya.

"Sungmin."

Aku hanya diam. Dadaku terasa sakit mendengar suaranya. Bukan, ini bukan karena Kyuhyun sudah membohongiku. Tapi karena aku menghianati egoku. Aku ingin bersamanya.

"Sungmin."

"Sungmin, kau menjawabku? kau mendengarku kan?"

"Sungmin. Ku mohon dengarkan aku."

Pip!

Tidak. Aku tidak ingin mendengarnya.

Aku meringkuk seperti anak anjing setelah melempar asal ponselku. Air mataku kembali mengalir. Berjam-jam menangis membuatku ingin berendam air hangat. Badanku sedikit pegal dan kepalaku terasa berputar. Mungkin sedikit menambah aroma terapi bisa menguranginya.

Aku menyetel pemanas air menambahkan jel sabun milik Kangin kedalamnya. Aroma mint. Persis seperti milik Kyuhyun. Aku melepas semua pakaianku dan mulai berendam didalam bak. Hangat dan menenangkan. Aku mulai tidak waras dan membayangkan tangan Kyuhyun menyentuh kulitku, menyusurinya dari bahu hingga kepusatku membuatku mendesah menyebut namanya. Aku menyentuh milikku, membayangkan Kyuhyunlah yang melakukannya. Aku tidak pernah masturbasi sebelumnya, dan ini membuatku gila. Aku semakin liar, mendesah keras menyebut nama Kyuhyun ketika aku mencapai kepuasan.

Aku beranjak saat air semakin mendingin. Membilas tubuhku dengan air shower kemudian. Kangin kembali saat aku sedang berpakaian. Ini masih pukul delapan, bukankah masih terlalu sore?

"Kau pulang? Mengapa cepat sekali."

"Aku hanya pergi untuk mengisi bensin lalu ke super market."

"Ku pikir kau pergi berkencan."

Kangin terkekeh. Ia berjalan menuju dapur mengambil air mineral. "Aku sedang tidak berkencan."

Aku berjalan keruang tengah. Kangin mengekoriku. "Bagaimana dengan perempuan yang kau ceritakan waktu itu?"

"Yang mana?"

"Si super model."

"Maksudmu Leeteuk? Dia hanya one night stand."

"Berhentilah bermain-main. Kau sudah tua, seharusnya kau mencari wanita yang tepat untuk menjadi istrimu."

Kangin tertawa. "Ya ya. Aku memang sudah tua." Ia meluruskan kakinya lalu menatapku. "Omong-omong, ada pria yang ingin bertemu denganmu?"

"Hah? Siapa?" Suaraku terdengar bergetar. Sial, Kangin pasti menertawanku.

"Aku bertemu dengannya diluar. Temui saja, dia tidak ingin masuk padahal aku sudah menawarkannya."

Siapa?

Sial, sial, sial. Apa itu Kyuhyun? Bukankah aku sudah meminta Eunhyuk untuk tidak mengatakan padanya. Aku menarik panjang nafasku. Oke, mungkin orang lain. tapi siapa?

Aku bergegas keluar. Mobil sedan hitam terparkir didepan gerbang. Seseorang berdiri menyender di badan mobil membelakanginku. Cahanya lampu jalan membuatku melihat jelas sosok tinggi itu. Aku mengenalnya.

"Siwon?"

Siwon membalikan tubuhnya. Tersenyum menyapaku.

"Hai."

"Untuk apa kau kemari?"

"Bertemu dengan mu."

Aku tersenyum congkak. "Well, kau sudah bertemu denganku 'kan? Sebaiknya kau pergi."

"Kita harus bicara." Siwon menahanku pergi. Tangannya menggenggam kuat tanganku. "Maafkan aku."

Aku menyentak tangannya lalu menghela nafas. "Sudahlah lupakan saja. Anggap kita tidak saling mengenal."

"Oke, oke, tapi kau harus mendengarkanku dulu. setelah itu kau boleh menganggap kita tidak saling kenal. Please, i am so sorry, Min."

Aku mendengus.

Dugh!

"Ahh! Kenapa kau menendang kakiku?"

"Itu untuk pria brengsek sepertimu."

Dugh!

"Aww, Min. kenapa kau menendangku lagi?"

"Itu balasan karena kau sudah membuat hidung Kyuhyun berdarah."

Aku membuka pintu samping mobil kemudinya. Udara semakin dingin, aku tidak ingin menggigil saat mendengarkannya bicara. Siwon tersenyum melihatku duduk di mobilnya. Ia bergegas masuk, duduk di bangku kemudi lalu menyalangkan mesin juga penghangat mobil.

Siwon menanyakan kabarku. Aku hanya menjawab seadanya dan menyuruhnya untuk tidak mengulur-ulur waktu.

"Kau tahu, Min. Semua yang ku katakan pada Kyuhyun hari itu tidak bohong."

"Kau hanya ingin mengatakan itu?"

"Tidak. Tapi kau harus tahu, sebenarnya Kyuhyun memang sudah menyukaimu dari dulu. Entahlah, mungkin sejak pertama kalian bertemu?"

Itu sudah sangat lama. Aku bertemu dengan Kyuhyun saat pertandingan bola basket. Aku menonton pertandingannya.

"Dia tahu kau sedang berkencan denganku. Jadi ya begitulah, dia menginginkanmu tapi dengan cara yang salah."

"Kau memutuskanku, Siwon!"

Siwon terkekeh. "Ada banyak alasan kenapa aku memutuskanmu. Jabatan dan pekerjaan itu adalah impianku. Walau terdengar licik, tapi itu adalah kesempatan untukku. Tapi selain itu, aku tahu Kyuhyun sangat mencintaimu. Jadi aku membiarkanmu menjadi miliknya. Aku melepasmu pada orang yang tepat."

"Kau tidak memikirkan perasaanku saat itu. Kau membuatku kacau karena memutuskanku begitu saja."

"Kau tidak menyukai hubungan jarak jauh." Siwon menyela. "Hubungan kita saat itu memang sudah hambar. Aku tahu kau mulai menyukai Kyuhyun. Saat kita tidak sengaja melihatnya sedang berkencan. Kau terlihat selalu memikirkan itu. Kau tidak menganggapku disampingmu, Min. Kau berubah, menjadi lebih pendiam."

Aku menahan nafasku. Yang dikatakan Siwon memang benar. Dari mana pria itu bisa tahu. Aku menggigit kecil bibirku. Merasa sedikit bersalah padanya.

"Kau ingat saat hari ulang tahunmu? aku memberimu bunga. Tapi sebenarnya itu dari Kyuhyun." Ucapnya.

Aku menganga.

"Tapi kalung yang kuberikan itu asli dariku. Kau masih menyimpannya?"

"Mungkin." Aku menguburnya. Batinku melanjutkan.

Siwon tersenyum.

"Saat aku menjemputmu, aku menemukan bunga di depan rumahmu. Ada sebuah kartu disana dan itu dari Kyuhyun. Tapi aku membuangnya."

Kyuhyun menaruh bunga di depan rumah?

Siwon tertawa keras. "Well, kau harus mendengarkan penjelasan Kyuhyun, Min. Dia mencintaimu."

"Mengapa kau tiba-tiba seperti ini? Kau sangat berbeda dengan Siwon yang kemarin lusa kutemui. Kau bahkan sengaja menjebak Kyuhyun."

"Bukan menjebak. Aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Dan aku ingin bermain-main."

"Sialan."

Aku menamparnya.

Ia meringis sakit mengusap bekas tamparanku dipipi kirinya. "Itu balasan karena kau membuang kartu milik Kyuhyun."

Siwon tertawa lalu mengacak rambut depanku. Aku keluar dari mobilnya. Siwon menurunkan kaca jendela melihatku. "Kau akan kembali ke Seoul 'kan?"

"Bukan urusanmu. Pergilah. Aku membencimu." Aku berteriak tanpa menoleh padanya.

"Hei, kau tidak ingin tahu bagaimana aku bisa menemukanmu disini?"

Aku berbalik melotot padanya. Tentu saja itu Eunhyuk. Siapa lagi? Hanya Eunhyuk yang tahu kemana aku pergi.

"Tidak perlu. Aku sudah tahu siapa pelakunya."

Siwon tertawa keras. Ia menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya. Aku hendak membuka pintu tapi Kangin sudah lebih dulu membukannya dari dalam. "Butuh bantuan? Kau ingin aku membunuhnya?"

Aku memutar mata. "Kau sangat manis. Terima kasih bantuannya."

.

.

NEXT