Yap, kembali lagi dengan saya, Shinsekiryuutei dengan chapter terbaru dari fanfict Sekiryuutei Rebirth ini! Well, sebelumnya saya ingin meminta maaf karena lama tidak meng-update fict ini karena banyak sekali hal yang saya lewatkan sehingga fict ini pun menjadi terbengkalai :P

Untuk chapter terbaru ini, saya mendapatkan beberapa bantuan dari my fellow writer, Drak Yagami. Terima kasih sudah membantu saya saat saya mengalami writer block my friend... T-T

Mungkin di fict ini, kalian bisa menemukan gaya menulis dari teman saya itu jika kalian jeli wkwkwkw

Oh well, untuk review kurasa saya akan balas satu-satu

Dark Namikaze Ryu : Ha ha ha ha! Sebenarnya kalau teliti membaca dari chapter satu, sudah ketebak kok siapa. Untuk kegilaan lainnnya, mungkin anda bisa membacanya sendiri di chapter ini. Maaf ya kalau garing wkwkwk.

Erythrina : Saya sumpahin anda harus nulis 2x lipat dari jumlah word di chapter ini karena saya bener-bener sampe harus ngereview berapa kali karena chapter ini cukup panjang! (Canda kok, santai aja :P )
Untuk hal itu, bisa dibilang itu kesalahan teknis... ^ ^;

iib junior : kau ini bilang menarik terus ya gan wkwkwk. Dan tentu saja masih banyak misteri lainnnya untuk kedepannya~

Elsagon : terima kasih atas supportnya gan wkwkwk. Dan jangan dipikir terlalu dalam, nanti otak anda konslet lho wkwkwk

Chisaki : untuk pair Issei kurasa salah satunya sudah jelan. Untuk Naruto, lihat saja karena saya tidak terlalu suka memfokuskan pairing karena itu akan membuat jalan action di cerita menjadi berkurang hahahaha
Pairing itu bonus kok. :P /ditabok

Reyvanrifqi : sayangnya itu salah besar bung :P

Elvenboy : Hmmm... Aku tidak merencanakan adanya FEM-Issei karena rasanya bakal terlalu banyak character yang malah akhirnya berakhir sebagai minor chara :P
Yup2, wanita yang dibahas sejak chapter 4 tersebut adalah Rossweisse-chuannn~~ /plak

Drak Yagami : Hmmmm... Benar juga, kurasa bagian fokus tersebut sedikit melenceng karena perbedaan usia. Tapi tenang saja, aku sudah merencanakan plot tersebut dengan hati-hati, karena kalau salah malah akan terlihat dipaksakan.

Z Irawan : waduh bro, review anda niat sekali sampai saya bingung balasnya wkwkwkkw
Ok, untuk Heathcliff, cobalah baca novel berjudul Wuthering Height. Dari situlah saya mendapatkan inspirasi untuk menggunakan heathcliff.
Dan terima kasih atas pujian anda mengenai cara menulis saya. Memang saya menulis dengan berdasarkan pada Light Novel, tapi bukan berarti saya akan terus menggunakan first person point of view lo wkwkwk
Karena mesumnya itu adalah humor yang mengocok perut bagi saya muahahahah!

Dan untuk lainnya yang tidak saya sebut, terima kasih atas reviewnya ya!

Oh well, aku sudah terlalu lama dengan pojok jawab review ini, lanjut ke cerita!

Disclaimer : I do not own Naruto or Highschool DxD. They belong to Masashi Kishimoto and Ichiei Ishibumi

.

.

.

.


"Benarkah? Benarkah? Benarkah?"

"Iya benar! Aku akan mengantarmu mencari kedua kakakmu dan berhentilah bertanya terus-menerus karena itu membuat kepalaku sakit!"

"Yaaaay!~~ Terima kasih Nii-chan~"

Hah... Karena inilah aku tidak bisa cocok dengan anak kecil-

"Wah-wah... Apa yang kita lihat di sini... Seorang pemuda dengan salah satu pewaris dari keluarga bangsawan Sitri..." tiba-tiba dari arah belakangku, terdengar suara serak yang sepertinya memang ditujukan kepada kami. Aku pun menoleh ke arah asal suara tersebut dan menghela nafas panjang lebar begitu melihat sosok yang memanggil kami berdua.

Astaga... Sepertinya hari ini bukanlah hariku sama sekali.. Seharusnya aku menggunakan celana dalam favoritku untuk sedikit keberuntungan...

.

.

.

.

.

Chapter 7 : Maelstorm


Lilith City, Marketplace Alley


-Maelstorm P.O.V-

Aku, Maelstorm, hanya bisa menghela nafas saat melihat kondisi di sekitarku. Tampak puluhan orang yang tidak kukenal mengepungku dan juga gadis kecil yang bernama Sona ini. Tampak Sona sendiri terlihat gemetaran sambil memeluk kakiku dengan erat.

"... Siapa kalian, badut-badut dari Norwegia yang diusir akibat mempertunjukan aurat kalian kepada putri tercinta dari bangsawan di sana?" ucapku dengan santai sambil perlahan mengarahkan tanganku ke saku celana belakangku, menghiraukan tatapan heran dan tercengang yang mendadak menggantikan tatapan sinis para pria tersebut.

"Wah-wah... Kami bukan siapa-siapa anak muda. Hanya sebuah grup yang kebetulan lewat dan melihat sesuatu yang tidak kami sangka, salah satu putri dan juga calon pewaris dari keluarga Sitri." ucap salah satu dari mereka. Membuatku langsung dapat menyadari siapa orang-orang ini. Sialan, apa karena hari ini aku memakai celana dalam hitam sehingga nasibku sesial ini sih?

Old-Maou-Fraction.

"Tidak kusangka, tikus-tikus suruhan datang ke hadapanku hanya demi menemui gadis kecil ini..." ucapku sambil menepuk pelan kepala gadis yang bernama Sona ini. "Lalu, apa ini perintah dari para babi dari Old-Satan-Fraction yang berkedok sebagai anjing-anjing dari dewan 72 pilar itu?" ucapku dengan tenang. Tampak beberapa dari mereka bergidik kaget mendengar ucapanku, namun kurasa hal itu tidak berlaku untuk pria berambut merah yang ada di depanku. Jika dia tidak mengenakan kerudung dari jubah hitam yang dikenakannya, aku yakin sekarang ia pasti sedang tersenyum menyeringai.

"Hoo... Jadi kau tahu siapa kami sebenarnya... Boleh juga." ucapnya sinis sambil kemudian menarik keluar sebuah pedang dari balik jubahnya, membuat mata Maelstorm bergidik sesaat sebelum tatapan dingin menghiasi wajahnya.

"... Pedang itu... Darimana kau bisa mendapatkannya, kepala tomat...?"

"Hoo... Sepertinya kau tahu mengenai pedang ini... Khu khu khu..." pria itu pun tertawa sambil mengacungkan pedang tersebut ke arah Maelstorm yang membalas dengan mengeluarkan aura membunuh dari tubuhnya, membuat beberapa anggota yang berada di sana tampak terkejut dan merinding oleh aura tersebut.

Namun ia tidak peduli dengan hal itu, karena apa yang menjadi pikirannya sekarang adalah pria berambut merah yang tampak tersenyum lebih lebar dari sebelumnya, bagaikan bibirnya seperti memanjang dan memenuhi kedua pipinya.

... Senyum yang menjijikkan...

Tidak bisa dimaafkan.

"Kau... Berani sekali kau mengambil pedang itu..." dengan nada jijik, aku mendesis kepada lelaki berambut merah yang berada di depanku. Tampak ia seolah tidak terpengaruh sama sekali oleh perkataanku. Yang ada, senyumanya yang menjijikan itu semakin bertambah lebar seolah hampir seluruh wajah bagian bawahnya tertutup oleh senyuman menjijikannya itu. Bahkan pengamen dari Swiss masih jauh lebih baik daripada muka kotor penuh minyaknya itu.

"Tentu saja! Karena senjata berharga seperti ini tidak seharusnya di kubur ke dalam liang kuburan yang hanya akan menyia-yiakan kegunaannya! Karena itu aku mengambilnya!"

"Brengsek! Kau membongkar tempat peristirahatan seseorang hanya demi sebuah senjata!? Tindakanmu itu bahkan lebih rendah dari hewan! Tidak, bahkan hewan sudah bukan kelasmu lagi mongrel!" ucapku dengan penuh kemurkaan. Tapi yang kudengar hanyalah suara tawa yang menjijikan dari mulut lelaki berambut merah tersebut.

"Sayang sekali, tapi kami tidak peduli dengan ucapan atau pun hinaan! Kekuatan adalah segalanya! Karena itulah, kami akan melakukan segala cara demi mendapatkan kekuatan tersebut!"

Ucapan itu... Sama seperti orang itu!

Ok, tidak ada lagi Maelstorm yang baik hati, tidak ada ampun sama sekali, titik. Orang ini telah berani mengambil pedang yang merupakan benda keramat yang dimiliki oleh seseorang yang sangat ia hormati dan berharga baginya. Untuk lelaki berambut merah ini mengambilnya, MENGAMBILNYA dari kuburan di mana seharusnya adalah tempat bagi seseorang untuk beristirahat dalam kedamaian dan kesunyian!

-Flashback-

"Kenapa kau melakukan ini..! Kenapa!?"ucapku sambil mencoba berdiri dari tanah yang kotor dan dipenuhi dengan bau amis. Bau yang berasal dari cairan kemerahan yang mengalir dari tubuhku yang tergeletak di tanah. Aku pun menggunakan mata kiri yang masih berguna untuk menatap lelaki yang berdiri di hadapanku, menatapku dengan mimik wajah seolah aku ini hanya sebuah 'sampah' yang menghalangi jalannya. Sebuah batu yang hanya pantas untuk ditendang dan diinjak begitu saja.

"Itu mudah sekali bocah." ucapnya dingin seolah tidak memperdulikan ucapanku sama sekali. "Itu karena mereka 'lemah'. Sudah menjadi hukum alam bahwa yang 'lemah' akan ditindas oleh yang 'kuat'. Mereka yang 'lemah', hanya pantas digunakan sebagai 'batu pijakan' bagi mereka yang 'kuat'..."

"Lemah... Hanya karena itu kau menghabisi semuanya?! Ayahku?! Ibuku!? Saudara-saudariku!? Apa karena mereka lemah maka kau menghabisi mereka?!"teriakku dengan penuh kebencian dan keputus-asaan. Hanya karena mereka lemah, bukan berarti bahwa nyawa mereka hanya sebatas bagaikan sebuah batu yang bisa diinjak begitu saja! Hidup manusia hanyalah satu kali dan tidak ada seorang pun yang menentukan kehidupan mereka harus diakhiri hanya karena mereka itu 'lemah!' Jika benar begitu, maka manusia tidak lebih rendah dari hewan!

"Kau naif... Bocah..."

"A-apa...?"

"Kekuatan adalah segalanya... Kekuatan menguasai segalanya... Yang lemah, akan musnah... Yang kuat akan bertahan..."

Kekuatan adalah segalanya kau bilang... Jangan bercanda dasar kau brengsek!

" Kau... Kau bukanlah manusia! Kau tidak berperikemanusian sama sekali! Kau sama saja dengan hewan liar yang hidup dengan berdasarkan pada hukum alam!" sergahku dengan penuh kebencian yang terpancar dengan jelas dari mata biru yang kumiliki ini. Mata pemberian dari ayahku yang sekarang tergeletak kaku di dekat lelaki berambut hitam yang telah membantai desa dimana aku tinggal ini.

"Karena aku memang bukanlah manusia, bocah..." ucapnya tenang, menghiraukan teriakan pilu yang keluar dari mulutku yang lagi-lagi terbatuk dan mengeluarkan darah segar. Tatapanku pun perlahan mengabur. Namun, sepanjang apa yang bisa kulihat, hanyalah darah, mayat dan juga api yang membara, membakar segalanya menjadi abu tanpa sisa sedikit pun. Meski begitu, bukan kondisi desa ataupun rasa sakit di sekujur tubuhku yang menjadi perhatianku. Mataku tertuju pada sosok yang berada di depanku. Berdiri sambil menatapku dengan tatapan bosan dengan mata merahnya yang bagaikan warna darah itu sendiri.

Dan di tangannya... Terdapat darah yang mengalir turun. Darah... Dari orang tua dan juga adik-adikku! Orang ini muncul begitu saja, dan mulai membantai segalanya. Keluargaku, teman-temanku, penduduk-penduduk desa, semuanya mati di tangan orang ini! Dan dia berkata bahwa karena mereka lemah!?

"BRENGSEK!"

Tidak bisa dimaafkan! Orang ini! Dia sudah-!

[Brugh!]

"Ukh-!"

Aku pun tersentak kaget saat merasakan sesuatu telah menghantam perutku dengan sangat keras. Perutku, seperti dihantam oleh sebuah besi seberat lima ratus kilogram. Otakku pun juga tidak bisa merespon dengan tepat saat tubuhku merasakan rasa sakit lainnya, yang berasal dari dinding beton yang menghantam-tidak, lebih tepatnya akulah yang menghantam dinding tersebut karena tubuhku ini terpental dengan keras akibat tendangan yang dilancarkan oleh lelaki itu.

"Hmph... Hanya segitu saja kekuatanmu..? Setelah semua omong kosong yang kau ucapkan?" Meski kesadaranku tinggal setengah, aku masih dapat mendengar ucapan dari lelaki yang berada di depanku. Entah aku hanya berhalusinasi, atau aku sempat melihat bahwa mata merah seperti perlahan berubah menjadi mata berwarna biru gelap sebelum kembali ke semula. Ia perlahan berjalan ke arahku, lalu menarik rambutku dengan keras sampai tubuhku pun ikut terangkat.

"Ughh-! K-kau... Hhhahhh...! Gahh...!" Aku pun berteriak kesakitan saat rambutku ditarik olehnya. Kepalaku seperti terasa terbakar oleh setiap genggamannya pada tiap helai rambutku.

"Hmph... Lemah... Lemah sekali..." ucapnya sambil menatapku dengan mata birunya tersebut. Mata yang dipenuhi dengan aura dingin, kejam dan juga... Kekuatan.

Ya, kekuatan.

Aku benci mengakuinya, tapi aku sadar bahwa ia kuat. Sangat kuat. Bahkan terlalu kuat sehingga ia dapat memusnahkan seluruh desa yang menjadi tempat tinggalku.

Seandainya aku juga kuat... Pasti tidak akan seperti ini...

"Ada kata-kata terakhir bocah...?"

Lelaki itu pun mengangkat tangan kanannya, mengacungkan pedang yang di bawanya tinggi-tinggi, nampak siap untuk membelahku kapan saja.

"Tidak.."

"Hmmm..?"

"... Aku tidak ingin mati... Aku... Aku akan..."

"... Hoo..."

Tanpa kusadari, bibirku pun bergerak sendiri tanpa perintah dari otakku. Seluruh kujur tubuhku bergetar tidak terkendali, oleh karena suatu perasaan yang membanjiri tubuhku saat ini.

Takut...

Takut, itulah perasaan yang kurasakan sekarang.

Aku Takut... Aku takut... Aku tidak ingin mati...

Aku tidak ingin mati...

Aku masih ingin hidup...

Aku masih ingin hidup!

AKU MASIH INGIN HIDUP!

"Aku... Masih... Ingin hidup!" teriakku bersamaan dengan aura kebiruan yang meledak keluar dari tubuhku, menyelimutiku dengan balutan aura yang menari di sekujur tubuhku. Aku bisa merasakannya, aura ini... Memberiku kekuatan! Lelaki bermata merah tersebut tampak terkejut selama beberapa saat, memberikanku kesempatan untuk dapat menyerangnya.

"Haarrrggghhhh! Terima ini lelaki brengseeek!" aku pun mulai mengalirkan energy kepada telapak tangan kananku, dimana sebuah bola kecil pun terbentuk, seraya berputar dan bertambah besar dengan menyerap angin dan udara di sekitarnya. Ini adalah, jurus yang diajarkan oleh ayah kepadaku. Dengan ini, aku akan membalaskan dendam semuanya! Akan kubunuh lelaki ini, sekarang, detik ini juga!

"RASENGAN!"

[DHUAR!]

Begitu kalimat tersebut terucap, aku pun langsung menyarankan bola kebiruan yang terbentuk di tangan kananku, langsung ke arah dada lelaki bermata biru tersebut. Pada saat Rasengan menyentuh dadanya, seketika itu juga bola kebiruan itu pun langsung membesar sampai seukuran tubuhnya, membuat suatu gerakan berputar yang menggilas dada lelaki tersebut, menggiling dadanya sampai kulitnya terkoyak dan darah pun mengalir keluar dengan deras. Lelaki itu pun terdorong oleh efek gelombang dari Rasengan dan menabrak pepohonan yang kemudian tumbang dan menimpa tubuhnya.

Selesai sudah... Tidak mungkin ia bisa selamat terkena serangan langsung Rasengan dari jarak sedekat it-

[Jleb!]

... Eh...? A-apa...?

Terasa seperti... Sesuatu yang dingin, tiba-tiba muncul dan bersarang di dadaku...

"...I-ini..." ucapku perlahan sambil perlahan menyentuh dadaku, dimana aku merasakan suatu cairan yang lengket dan mengeluarkan bau amis yang teramat kuat. Bibirku pun terasa panas, sangat panas saat lagi - lagi darah segar pun mengalir dengan deras dari dalam tenggorokan dan keluar secara paksa dari bibirku. Sebuah dorongan kuat dari kerongkonganku pun membuat aku terbatuk keras dan memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Tubuhku pun terasa lemas,bagaikan kekuatan besar yang barusan kurasakan tadi, tiba - tiba lenyap begitu saja. Tidak hanya itu saja, kesadaranku pun perlahan menghilang.

"... Hmph... Usaha yang bagus bocah. Kuakui, aku sempat terkejut oleh ledakan chakra yang kau buat barusan." Meski kesadaranku hampir hilang sepenuhnya, aku masih dapat mendengarnya. Kata-kata dari pria yang sangat ingin kubunuh. Tampak tidak terdapat tanda-tanda rasa sakit dari nada bicaranya.

"Tapi sayang sekali... Sepertinya hanya segini saja kemampuanmu bocah..."

Aku tidak bisa berkata apa-apa, suaraku tidak mau keluar oleh karena darah yang menyumbat kerongkonganku. Tubuhku juga tidak mendengar perintah otakku. Hanya perasaan kecewa, sedih, putus asa dan kemarahanlah yang mendiami pikiranku sekarang. Aku telah gagal. Gagal membunuh orang yang sudah menghabisi semua orang yang kucintai. Dan sebentar lagi, aku pun akan menyusul mereka semua ke alam baka.

"... Sekarang ada dua pilihan untukmu bocah..." samar aku masih bisa mendengar ucapan lelaki itu, yang terdengar sangat dekat denganku. Aku pun sadar, bahwa ia sedang berlutut dan berbicara tepat di depan tubuhku yang tergeletak di tanah.

... Pilihan... Apa maksudnya...?

"Kau mati begitu saja, mati sebagai sosok yang lemah dan tersingkir... Sama seperti orang tuamu." ucap pria itu sambil menarik rambutku, sehingga wajahku pun dapat bertatap mata dengan wajahnya. "Atau, kau bertahan hidup. Hidup untuk selamanya mencariku demi pembalasan dendam... Semua sekarang pilihanmu bocah... Mati sebagai yang lemah, atau hidup sebagai yang kuat."

Mati... sebagai yang lemah... Atau... Hidup... Sebagai yang kuat...

"... Aku akan melihat, apakah kita suatu saat akan bertemu lagi. Dan pada saat kita bertemu kembali, aku ingin melihat seberapa dalam rasa dendam yang kutanamkan di dalam hatimu yang rapuh itu..."

Lelaki itu pun melempar tubuhku, yang sudah tidak memiliki daya sama sekali bagaikan boneka lusuh yang sudah tidak berguna lagi. Lalu, sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, aku pun samar mendengar ucapan terakhir lelaki tersebut.

"Ingatlah bocah, akan nama orang yang telah membunuhmu kalau kau akan bangkit dan mencariku lagi demi dendam yang telah tertanam di hatimu...

...Namaku...Adalah..."

-End Flashback-

"...Menma..." ucapku dengan nada penuh kebencian, bagaikan minuman pahit yang tertelan dengan menyakitkan ke dalam tenggorokanku.

Tanpa aku sadari, aku berdiri di atas tumpukan mayat sambil berlumuran darah. Mayat dari orang-orang yang menjadi suruhan dewan dari 72 pilar yang kuhabisi menggunakan tanganku sendiri.

"... Cih, kehilangan kontrol emosiku semudah ini... Sial, kurasa malam ini aku harus menambah jatah Vanilla shake-ku..." ucapku pelan sebelum sebuah jeritan terdengar oleh telingaku, membuatku menoleh ke arah asal jeritan tersebut dan melihat bahwa jeritan itu berasal dari gadis kecil yang tapi sempat memintaku untuk menemaninya mencari kakak laki-laki dan perempuannya.

... Astaga... Ini lebih rumit dari yang kuduga. Kenapa juga aku harus terjebak dalam permainan para babi dengan anjing-anjing mereka. Tapi ini masih belum selesai, karena si brengsek itu masih berdiri dengan senyuman yang membuatku ingin muntah!

-Sona P.O.V-

Aku, Sona Sitri, hanya bisa terdiam saat melihat gerombolan orang berbaju hitam yang sepertinya mengincarku. Apakah itu orang-orang yang sama yang mengincar Onee-chan? Jika benar, berarti kali ini mereka mengincarku?!

Onee-chan! Issei-niichan! Tolong aku! Di mana kalian!

"... Pedang itu... Darimana kau bisa mendapatkannya...?"

"Hoo... Sepertinya kau tahu mengenai pedang ini... Khu khu khu..."

[Deg...]

... Eh...?

Aku pun mendadak tidak bisa bergerak, tubuhku seperti beku oleh suatu hal, namun tidak bisa kujelaskan sama sekali!

Kakak yang baik! Tolong aku! Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa berge-

[Deg!]

Tubuhku, seperti ditusuk oleh ratusan benda tajam sekaligus saat menatap ekspresi dari kakak yang sepertinya bernama Maelstorm ini.

Wajahnya... Dingin. Menakutkan...

Tidak hanya itu saja, aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan jelas. Namun, aku seperti merasa lingkungan di sekelilingku berubah secara tiba-tiba. Langit yang biasanya berwarna keunguan, mendadak berubah menjadi kemerahan, bagaian warna darah yang merasakan ada sebuah sosok berwarna kehitaman dengan mata kuning menyala yang bagaikan merayap di belakangku.

Perlahan - lahan...

Selangkah demi selangkah...

Tangan busuk yang berwarna hitam dan bau, siap menariknya ke dalam kegelapan. Kapan pun.

Aku benci perasaan ini...

Aku takut...

Tubuhku... serasa bergetar bagaikan angin utara berhembus langsung kepadaku. Hawa dingin serta mencekam yang sama sekali bukan berasal dari dunia ini...

Entah bagaimana, semua berlalu begitu saja dengan cepat. Semua berlalu tak dapat diikuti olah mataku. Nii-chan, orang yang mengaku bernama Maelstorm. Melesat maju kedepan dan melindungiku di balik punggungnya yang lebar.

Aku mengintip dari balik sana, ketakutanku terasa semakin nyata saat. Mereka hanya tertawa melihat apa yang dilakukan Maelstorm-niichan untuk melindungiku. Mereka tertawa, namun terlihat Maelstorm-niichan hanya diam. Dia menoleh kebelakang, dan terlihat tersenyum dan membuka mulutnya. Terlihat akan berbicara, namun tak ada suara yang keluar sama sekali-!

Seakan terjadi kekosongan waktu di mana begitu mataku berkedip, kakak itu, orang yang mengaku bernama Maelstrom menghilang! Begitu saja di depan mataku!

[Krak!]

Namun jauh di sana, tepat di gerombolan orang jahat itu, hanya kekacauan lah yang bisa kulihat.

Aku pun melihat bagaimana Maelstrom-niichan muncul dan menghantam salah satu di antara mereka dengan keras. Aku tidak dapat mengetahui kejadian itu dengan pasti, namun yang jelas aku dapat melihat bahwa tampak pria yang dihantam oleh Maelstorm-niichan terlihat memegang rahangnya sambil meringis kesakitan. Pria lainnya yang melihat itu pun sontak bereaksi seraya berlari ke arah Maelstorm dengan mengacungkan senjata mereka masing-masing sambil melepaskan teriakan keras yang mengumandangkan kemarahan mereka. Namun kulihat juga beberapa dari gerombolan itu terlihat memisahkan diri, tidak mengikuti mereka yang berlari ke arah Maelstorm dan memilih untuk menyisihkan diri mereka dari area pertarungan.

Aku yang melihat dari tempat yang tak jauh, hanya bisa melihat saat salah satu dari mereka kembali meraung keras saat Maelstorm-niichan mematahkan tangannya. Terlihat bahwa tangan itu berada dalam posisi yang tidak lazim. Tulang yang mencuat dengan darah yang mengalir bagaikan air mancur.

Hal itu pun membuatku secara tidak sadar mundur beberapa langkah.

Aku ingin berteriak, aku ingin memperingati Nii-chan bahwa ada yang ingin menyerang dari belakang.

Namun... Hal itu sudah terlambat. Dan waktu juga sama lambatnya. Aku bisa melihat itu semua dengan mataku yang dipenuhi dengan rasa ketakutan yang menggeliat dan menggerogoti setiap bagian dalam otakku.

[Buk!]

Maelstorm-niichan terlihat sedikit kehilangan keseimbangannya saat sebuah hantaman mendarat di pipinya. Bisa aku melihat bahwa terlihat darah mengalir di sudut bibirnya. Namun meski demikian dia masih memiliki tatapan yang sama. Tatapan beku yang bagai menurunkan suhu di sekitarku seketika saat aku memandang kedua bola matanya. Tatapan dingin bagaikan hewan pemangsa yang mengincar mangsanya, tidak peduli seberapa keras mangsa itu meronta dan melawan.

Aku melihat pria itu tersenyum menyeringai karena telah berhasil memukul Maelstorm-niichan. Ia pun mencoba untuk memukul Maelstorm-niichan untuk kedua kalinya. Tapi, Maelstorm-niichan Berhasil menangkap tinju tersebut dan menariknya sehingga tubuhnya pun mengikuti gravitasi saat ia tertarik ke arah Maelstorm-niichan.

Bisa aku lihat bagaimana dengan cepat tangannya beralih dan menjambak rambut Devil itu.

Dan lagi-lagi kejadian yang aku tak ingin lihat terjadi.

Dengan kasar, Maelstrom-niichan menghantamkan wajah pria itu ke tembok yang berada di dekatnya. Dan dengan aku melihat bagaimana dia menyeret wajah itu tepat di tembok dengan keras.

Darah terlihat mengenang... Teriakan serak yang dipenuhi rasa sakit yang melengking pun terdengar...

Pria tersebut pun terjatuh tepat di ujung tembok yang berpemukaan kasar itu. Dia jatuh dengan wajah yang hancur dan dipenuhi dengan warna merah darah. Wajah yang tidak berkulit, tidak berhidung, bahkan bibir dan mata yang hancur akibat gesekan antara wajahnya dengan tembok berpermukaan kasar tersebut. Bahkan aku dengan jelas dapat melihat sesuatu yang berwarna keputihan, yang dapat kuindentifikasikan sebagai tulang. Tulang tengkorak dari pria tersebut yang tampak tergeletak begitu saat. Tidak bergerak sama sekali saat darah mulai menggenangi tubuhnya.

"Ceh, bahkan puding stroberi masih lebih enak dilihat daripada mukamu yang sudah menjadi gumpalan daging. Sepertinya kau perlu ke salon untuk pembenahan identitas..." ucap Maelstorm-niichan dengan sinis, membuatku sedikit menaikkan alis mataku. Apa hubungannya puding stroberi dengan sesuatu yang sudah tidak berbentuk seperti itu?!

Namun seakan tidak peduli dengan kondisi teman-teman mereka. Para pria lainnya kembali menyerang Maelstorm-niichan, begitu juga Maelstorm-niichan yang meresponnya dengan ikut melesat ke arah para devil tersebut. Namun aku melihat ada hal yang ganjil. Terlihat Maelstorm-niichan berlari dengan bahu bagian kanan yang sedikit terlihat tidak pada tempatnya. Kenyataan pahit pun menghantui pikiranku. Hal itu membuatku tersadar...

Bahwa bahu Maelstorm-niichan...

Tulang sendinya terlepas dari posisi kerangka tubuhnyanya...

Meski begitu, terlihat Maelstorm-niichan kemudian mendadak berhenti sambil menatap ke arah gerombolan yang berlari ke arahnya. Dia menunggu, menunggu saat yang tepat untuk dapat melancarkan serangan. Dan hal itu pun terbukti ketika salah satu pria itu melompat menuju ke arahnya. Maelstrom-niichan langsung bereaksi begitu saja dengan memutar tubuhnya dan menendang pria ke samping. Membuat Devil tersebut menabrak tembok berpermukaan kasar yang sudah.. Dihiasi dengan warna darah. Tampak terdengar suara keras yang membuat tubuhku merinding, karena aku tahu suara apa itu.

Itu adalah... Suara tulang yang patah dan juga suara daging yang terkoyak.

"Whops, kurasa itu akan membuatnya tidak bisa bercumbu dengan sesama anjing!"

"Kurang ajar kau anak ingusan!"

Kulihat datang satu lagi, pria yang lain dengan mencoba untuk mencoba mengunakan kekuatan demonic-nya dengan merapalkan suatu mantra. Tapi, dengan cepat ekspresi iblis itu beralih seketika saat ia meraung kesakitan saat kakinya, atau lebih tepatnya tulang keringnya hancur ketika kakak Maelstrom menginjak bagian tersebut dengan sangat keras.

Tidak puas dengan hal tersebut, Maelstorm-niichan pun melanjutkan serangannya saat ia menghantam wajah pria tersebut dengan keras. Ia menghantam wajah pria itu berkali-kali mengunakan kepalan tangannya yang mulai dilumuri oleh darah. Bahkan seakan tidak puas dengan hal tersebut, dia mengangkat pria itu dan mulai mencekik lehernya. Mataku bisa melihat, pria itu meronta-ronta sambil menggenggam keras pergelangan tangan Maelstorm-niichan yang mencekik lehernya, berusaha dengan putus asa untuk mengambil kembali oksigen yang terputus dari tubuhnya.

"Bosannya mendengar kalimat klasik ala penjahat jaman 60-an seperti itu, cobalah gunakan perkembangan jaman untuk membuat kalimat modern, mantan anjing!"

Kakak Maelstorm yang melihat itu pun hanya tersenyum sinis. Senyum yang membuatku merasakan suatu teror di tubuhku saat sebuah suara benda yang patah terdengar, dimana hal itu membuat orang-orang yang berada di sekitar area tersebut menghentikan segala gerakannya dan menatap rekannya dengan tatapan penuh kengerian.

Aku tahu...

Aku tahu bahwa Maelstorm-niichan...

Telah mematahkan leher pria tersebut, yang membuat iblis itu pun mati seketika. Kemudian kulihat Maelstrom-niichan pun membuang tubuh yang sudah tidak bernyawa itu seperti mainan yang sudah rusak dengan tanpa menatap sekilas pun ke arah tubuh iblis yang sudah tidak bernyawa tersebut. Atau pun saat tubuh iblis tersebut perlahan menguap dan hanya meninggalkan abu berwarna hitam pekat. Takdir bagi iblis yang sudah tidak bernyawa adalah hal mengerikan yang bahkan lebih kejam daripada apapun. Berbeda dengan manusia yang bila mati, rohnya masih akan menuju ke surga ataupun neraka. Bila seorang iblis mati, ia tidak akan menyisakan apapun. Keberadaannya akan hilang begitu saja tanpa ada sisa kecuali abu berwarna hitam pekat seperti yang kulihat pada sisa-sisa yang sebelumnya adalah seorang iblis.

Aku hanya bisa terdiam melihat semua itu. Sifatnya jauh berbeda dari saat kami bersama. Tidak ada kakak yang baik hati meskipun galak. Yang ada sekarang..

Hanyalah seorang pembunuh berdarah dingin... Tersenyum sambil mengejek dan menghina para pria yang masih mengelilinginya dengan tatapan penuh rasa membunuh.

Kulihat satu orang pria yang terlihat seseorang mencoba untuk lari, lari menuju ke arah kelompoknya yang entah mengapa terasa jauh. Sedangkan jauh di belakang iblis itu, Maelstorm-niichan yang melihat itu pun hanya bisa terkekeh sambil berjalan pelan dengan tubuh berlumuran dengan darah, dan juga bahunya masih sedikit naik turun...

Mungkin dia sedikit lelah...

Tapi wajahnya sama sekali tidak menunjukan semua kelelahan itu...

Dan itu... Sungguh mengerikan...

[Bruk!]

Tiba-tiba, Pria itu pun terjatuh, entah karena kakinya yang terantuk batu atau karena rasa takut yang sekarang juga kurasakan yang dimana membuat kakinya berhenti berfungsi. Tampak ia pun mencoba berdiri, namun dia tidak bisa bangkit. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa bahwa kakinya seperti ditelan oleh tanah yang berada di pijakannya. Bahwa sesuatu seperti menahan kakinya dari bergerak sama sekali. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah kakinya, sebelum ekspresi wajahnya berubah menjadi ekspresi yang dipenuhi dengan ketakutan dan teror.

"Memangnya kau mau kemana... Anjing kampung...?"

Aku tahu mengapa... Karena entah sejak kapan...

Kakak Maelstorm muncul begitu saja dan memegang kedua kakinya.

"Tolong aku! Hei kalian! Tolong aku dari monster ini!"

Dia berteriak tertahan meminta tolong dengan suara yang dipenuhi dengan keputus-asaan. Namun sebagian dari mereka hanya mendengar teriakannya hanya terdiam penuh dengan rasa ngeri yang tertanam di hati mereka. Tidak berani bergerak sama sekali karena takut mereka akan menjadi korban selanjutnya. Kesampingkan si pembawa pedang yang sedari tadi diam saja.

Aku tak tahu harus berkata apa oleh pemandangan selanjutnya yang kulihat dengan kedua bola mataku...

Karena...

Pria malang itu berteriak lebih kencang ketika Maelstorm-niichan menariknya. Dia mencakar-cakar tanah, seolah berusaha untuk merangkak menjauhi kakak Maelstorm yang sejak tadi hanya menatap Devil tersebut dengan tatapan yang sama. Tatapan dingin yang dipenuhi dengan rasa kebosanan yang sama. Semua hal yang dilakukan Devil tersebut pun seperti tidak berarti saat tarikan Maelstorm-niichan terlihat jauh lebih kuat dibandingkan dengan tangan pria tersebut yang terus mencakar hingga kuku serta jarinya habis karena gesekan pada tanah yang keras. Tampak darah segar membanjiri kedua tangannya yang berlumuran tanah.

Dan dia terus saja menjauh dari kelompoknya, dengan teriakan yang semakin lama semakin pilu.

"Cu-"

Aku ingin meminta orang itu, untuk menghentikan semua ini. Ini terlalu sadis dan sudah melewati batas. Aku ingin melangkah, tapi langkahku seolah terhenti ketika mendengar suara teriakan serak melengking disertai ucapan kotor... Diikuti dengan suara tawa yang penuh dengan kegembiraan dan juga kegilaan.

[Krak!]

Dan suara sesuatu yang patah pun terdengar...

Suara tulang tulang yang patah...

Diikuti dengan suara tubuh yang terjatuh ke tanah...

"Ah, tidak pernah terasa tua sama sekali saat aku mendengar suara aluna ini... Oi! Apa segini saja kemampuan kalian? Sepertinya hanya mulut kalian saja yang besar seperti tante setengah baya yang setiap hari berteriak karena frustasi akan kehidupan percintaan mereka!"

Mendengar hal itu, pria berambut merah itu pun maju sambil mengacungkan pedang yang ia pegang di tangan kanannya. Tampak kearoganan tinggi yang terlihat jelas, dari mimik wajah, dan juga gerak-gerik tubuh pria tersebut. Dengan angkuh, dia memainkan pedangnya dan memandang remeh Maelstorm-niichan yang padahal sudah menghabisi setidaknya setengah dari pasukan yang dibawanya.

Maelstrom-niichan pun hanya memberikan tatapan lurus menatap ke arah pria tersebut. Aku melihatnya memgambil nafas panjang sebelum membuangnya dengan kasar.

"Oi penari McDonald..! Kearogananmu itu tidak pantas dengan pedang yang kau pegang dengan tangan kotormu itu! Sekarang, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku..!"

Hah, seperti biasanya, sejak aku bertemu pertama kali dengannya. Dia selalu berucap dengan penuh kepercayaan diri dan juga keyakinan yang tinggi.

Tidak termasuk dengan mulut kotormu yang tidak bisa dikontrol itu nii-chan...

"Kau mau pedang ini bukan...? Khe khe khe! Kalau begitu cobalah ambil sendiri bocah! Mungkin aku akan dengan senang hati menusuknya dari 'belakang!' Khe khe khe!" bersamaan dengan itu, Pria berambut merah itu pun melesat maju. Memperpendek jarak dengan menuju kakak Maelstorm yang juga melesat maju.

Sebuah tebasan pun dikeluarkan, tetapi kakak Maelstrom menahan tebasan itu dengan sebuah mayat Devil yang telah di bunuhnya. Devil itu terlihat senang, bahkan menurutku senyumannya itu adalah senyuman seorang maniak. Berbeda jika dibandingkan dengan kakak Maelstorm yang tidak memberikan ekspresi sama sekali.

"Oh! Demi ibu dari semua perawan lelaki! Setelah aku memastikan bahwa kau mengembalikan pedangku dari tangan menjijikkan itu, akan kupastikan bahwa kau berdoa seratus ribu kali pada ibumu dimana pun ia berada karena kau sudah menyia-yiakan kejantananmu demi selera MIRING yang dimana semua pria tulen mengutuknya sampai ke akhirat!"

Ralat, dengan penuh ekspresi.

Kakak Maelstrom berusaha memberikan pukulan demi pukulan, dimana hal tersebut gagal dan ia pun harus membayar akibatnya saat pria berambut merah tersebut berbalik mengayunkan pedang yang digenggamnya. Aku pun berteriak tertahan saat melihat bagaimana pedang itu berhasil mengores lengannya, membuat darah segar pun mengalir dan berceceran di tanah.

"Hou.. Darah yang cukup manis ya... Bagaimana dengan bagian lainnnya? Khe he he he he!"

"Aku bersumpah bahwa setelah ini aku akan mandi tujuh kali demi menghilangkan rasa jijik yang mengerayangi pikiran dan hati kecilku ini..."

Aku juga Maelstorm-niichan... Aku juga.

Pria itu sungguh menjijikan, ia menjilat lelehan darah yang tersisa di pedangnya dengan wajah yang dipenuhi dengan euforia kesenangan.

"Aku jadi ingin mencicipinya lagi!"

"Terima kasih atas pujiannya, tapi tidak!"

T-tunggu dulu nii-chan! Ini bukan saat yang tepat membalas pujiannya!

Pertarungan ini pun berlanjut dalam waktu yang lama, sampai aku tidak tahu berapa lama jantungku berdegup saat pukulan demi pukulan serta tebasan demi tebasan melayang dari keduanya. Tampak terlihat sekujur tubuh maelstrom hampir dipenuhi dengan berbagai luka gores.

Dan iblis di depannya juga di penuhi dengan lukan lebam menghitam.

Mereka saling tebas dan pukul. Secara sekilas gerombolan itu tidak bermain adil. Namun maelstrom dapat mengimbanginya. Dan itu sudah menunjukan betapa kuatnya dia

Tapi seperti kata orang. Semua ada batasnya, dan itu terbukti.

Aku sudah memperingati, dan bersuara sekeras yang aku bisa. Namun sekeras apapun aku berteriak, yang terjadi tak akan pernah bisa berubah.

[Jleb!]

Darah mengalir pelan dari balik punggung dan dada Maelstorm-niichan. Sebuah pedang menancap dan menembus tubuhnya. Pria berambut merah itu kesenangan saat ia berhasil melukai Maelstorm-niichan yang tampak menahan sakit di bagian tubuhnya yang tertusuk.

"Ha ha ha ha ha! Sepertinya kau akan mati di sini bocah!" ucap pria itu dengan penuh keangkuhan. "Selamat menikmati alam akhirat bocah, yang tentunya tidak berlaku bagi kita para iblis! Khe he he he he..! Mungkin setelah ini aku bisa sedikit bersenang dengan mayatmu... Khe he he!"

"Bangsat, sudah menyimpang dengan pikiran menjijikan yang membuatku ingin muntah, sekarang ditambah dengan necrophilia...? Sialan, sekarang aku benar-benar ingin mengutukmu karena menciptakan makhluk semacam ini pencipta sialan...!"

Aku hanya bisa diam menyaksikan bagaimana pemuda itu perlahan jatuh di atas lututnya saat tubuhnya terus ditusuk oleh pria berambut merah itu. Tanpa sadar, air mataku pun mengalir saat aku pun menangis dengan tidak sadar melangkah mundur. Mereka hanya diam mematung dalam posisi itu. Iblis itu terus saja menusuk tubuhnya sambil berceloteh dengan angkuhnya, berbanding terbalik dengan maelstrom yang tampak tidak bergerak sama sekali.

Dia terluka...

Apa dia kesakitan..?

Bagaimana ini..?

Tidak...

Tidak!

"Maelstorm-niichan!"

Aku berteriak keras, berharap agar suaraku sampai kepadanya. Terdengar dan setidaknya berharap agar dia tetap hidup.

Dan.. Keajaiban pun terjadi.

Dia perlahan bangkit dan menolehkan kepalanya kepadaku, matanya bersinar hangat sebagaimana saat kami pertama bertemu. Dari kejauhan pun aku masih dapat melihat jelas bahwa dia tersenyum.

Dia membuka membuka mulutnya, berbicara... Gerakan mulut itu sama saat dia pertama kali mengicapkan kata kata tak terdengar itu.

Namun semua terdengar jelas, dan aku yakin dengan apa yang dia ucapkan.

"...Semua... akan baik baik saja. Jangan menangis kembang api cebol..."

Nii-chan, meski pun kau terluka... Masih saja kau memikirkan hal yang aneh-aneh...

"Apa yang kau tertawakan?" iblsi itu terlihat heran saat, tawa aneh Maelstrom kembali terdengar aneh.

"Awalnya aku ingin lama berada dalam posisi ini, ingin lebih lama menikmati rasa sakit ini... Oh demi perawan gadis kecil, apa aku ini masokis ya..?"

"K-k-kau..! Mungkin kalau begitu kita bisa"

"Tapi sayangnya pria homo...! Aku tidak ingin terjebak dalam imajinasi liarmu yang bahkan aku tidak ingin memikirkannya sama sekali! Karena masih ada seorang tuan putri kecil yang menanti kehadiran sang pengawalnya..!"

Aku melebarkan mata tidak percaya dengan apa yang terjadi. Maelstrom, aku melihatnya lebih memperdalam tusukannya. Mendekat dan berusaha mengapai pria di depannya yang terlihat terkejut melihatnya. Namun sebelum ia akan bertindak, tiba-tiba kulihat bahwa ekspresinya mendadak berubah serius dalam waktu singkat, sebelum-

[Syat!]

Tampak pria itu pun dengan cepat mencabut pedangnya dari tubuh Maelstorm-niichan. Tampak tatapannya dipenuhi dengan tatapan yang tidak bisa kutebak.

"Heh! Kau benar-benar menarik Maelstorm-channn!~ Tapi sayang sekali karena permainan kita harus ditunda karena bosku sudah memanggil!~ Sampai jumpa Maelstorm-chann!~ Mungkin lain kali bila kita bertemu kembali, aku mungkin akan memberikan sedikit 'kesenangan' padamu! Kya hya hya hya!"

"Dan aku akan dengan senang hati mengembalikannya dengan beratus-ratus kali lipat, tikus kelainan!"

Bersamaaan dengan itu, pria itu pun tertawa dengan keras, sebelum berbalik dan menarik jubah hitamny yang tergeletak di tanah. Ia pun pergi bersama dengan para pria lainnya begitu saja, meninggalkan kami kembali berdua.

Maelstrom kembali mendekatiku setelah semuanya berakhir. Aku tak tahu harus berkata apa. Bahkan aku tak terlalu berminat akan gulali yang baru saja dibelikannya. Tanpa kusadari, tubuhku pun refleks dan memberikan sebuah tamparan di pipi kanannya, membuat pipi Maelstorm-niichan perlahan memerah.

[Plak!]

"Adaow! Apaan sih cebol?! Pipiku ini terlalu mahal untuk kau tampar tahu!" protesnya saat ia merasakan rasa panas di bagian pipi kanannya. Namun ia pun kemudian terdiam sejenak dan tersenyum saat melihat ekspresi wajahku yang dipenuhi dengan air mata. "Cih, dasar kau ini... Ayo, bersihkan wajahmu dan jangan menangis lagi. Aku tak mau berurusan dengan amarah wanita dari kakakmu nantinya tahu."

"Bodoh, mataku hanya kemasukan debu tahu..."

"Kau terlalu cepat 100 tahun untuk dapat membohongiku gadis muda. Ayo cepat lap matamu yang berair itu..."

aku mengangguk dan mengikuti perkataannya. Meskipun ia telah menunjukkan sisi yang berbeda dari sifatnya yang kasar dan mulutnya yang selalu mengucapkan kalimat yang kotor. Namun, walau bagaimanapun aku tahu bahwa pada dasarnya dia adalah orang yang baik.

-Skip Time-

Third person P.O.V

"Hei apa yang kau lakukan..?"

"Sudah diam dan liat saja, Onii-chan!"

Sona memayunkan bibirnya dengan kesal. Bagaimana tidak jika pemuda di depannya yang manis ini terus saja mengerutu dan bergerak seperti hewan liar ketika dia akan membalutkan perban pada luka-lukanya itu? Ah iya, baru saja gadis kecil mengingat bahwa luka yang didapat oleh pemuda tersebut merupakan hasil pertarungan singkat dengan salah satu dari anggota Old-Satan-Fraction yang mencoba membunuhnya tadi.

"Bisa tenang tidak Onii-san, aku sudang mengobatimu!"

"Apanya yang mengobati kalau kau hampir membungkus semua tanganku hah?!"

"Kalo begitu diam sedikit kenapa? Udah baik Sona mau menolong Onii-chan!"

"Menolong?" ucap Maelstorm mengangkat alisnya. "Perasaan aku nggak minta tolong apapun sama anak kecil deh..." pemuda itu bersiul setelahnya, merasakan sebuah kemenangan telah di raihnya saat ia melihat pipi wajah Sona yang tampak menggembung karena cemberut mendengar ucapannya.

Seharusnya ia tidak membangunkan harimau yang sedang tidur.

"Adao- apa yang ka- Wadaouww! bisa-adu-OUCH! ITU SAKIT OI!"

Namun Sona hanya menulikan telinganya, membalut perban tersebut dan mengeratkan ikatan pembalut sekeras-kerasnya. Bahkan kurasa ia tidak peduli lagi dengan teriakan pilu maelstorm saat tubuh pemuda ini yang kejang-kejang menahan sakit serta berteriak bagaikan anjing yang melolong.

Yup, harimau yang sedang tidur sudah terbangun.

"Hmph...! Itu balasannya karena Onii-chan tidak menghargai kebaikan gadis kecil yang sudah bersusah-payah merawat lukamu!

"Nah, sudah selesai!" Sona pun menepuk tanganku dengan riang, tersenyum ceria ketika bagaimana untuk pertama kalinya gadis kecil bisa mengobati seseorang... dan bukan sebaliknya. "Coba kalau Onii-chan diam dari tadi, ini akan cepat selesai kan?"

'Pertama dia mencoba membunuhku dengan tangan terkutuknya itu, lalu memasang tampang polosnya begitu saja?' berbanding terbalik dengan Sona yang terlihat senang,hal yang terjadi kepada Maelstorm justru bisa dikatakan sebaliknya. Sekujur tubuh pemuda itu terlihat telah terbalut, atau mungkin terikat sepenuhnya oleh perban yang dibalutkan oleh Sona, membuatnya menjadi seperti sebuah definisi dari 'menjadi mumi hidup'. Matanya berkedut kesal tak kala mengaksikan wajah sona yang ceria menatapnya. 'Gadis kecil sialan ini...'

"Nah, karena Onii-chan sudah kubalut dengan sempurna-

'Sempurna darimananya hah!?'

Ayo sekarang kita cari One-sama!" Sona dengan ceria sambil menggandeng tangan Maelstrom yang tampak bersunggut-sunggut. Gadis itu memegang dan menarik tangan pemuda itu dengan kuat, sesuatu yang mengejutkan dan tak disangka oleh pemuda tersebut.

"Oi! Sabar sedikit kenapa sih?!" Maelstorm menyahut seraya berjalan terkatung-katung mengikuti tarikan Sona yang kuat. Bahkan pemuda itu pun sesekali harus beberapa kali minta maaf kepada orang-orang yang ditabraknya.

Sepertinya hari ini memang bukanlah hari yang baik bagi pemuda berambut pirang tersebut...


Scene Break


Lilith City, Marketplace Northeast


-Maelstorm P.o.V-

"Neee... Apa kita sudah dekat...?"

"Belum..."

"... Kalau sekarang?"

"...Belum..."

"... Bagaimana kalau 5 menit lagi?"

"Tentu saja... Belum!"

Aku, Maelstorm, hanya bisa mengutuk pelan saat aku harus menemani gadis kecil bernama Sona ini. Kenapa? Karena demi neraka, dia membawaku entah kemana tanpa tujuan, SELAMA 3 JAM!

Bukan hanya itu saja, selama 3 jam itu aku harus berkali-kali meminta maaf kepada setiap orang yang kutabrak karena di tarik oleh gadis kecil ini! Bagaimana mungkin gadis yang tidak lebih dari 4 tahun bisa menarikku sampai menembus keramaian bagaikan buldozer?!

...Aku pun bertanya-tanya kenapa aku memenuhi permintaaannya untuk mencari kakak perempuannya...

"Onii-chan! Lihat itu! Banyak sekali barang-barang yang ada di tempat ini ya!

Ralat, mencari kakak perempuannya sekaligus menjadi babysitter-nya.

Tapi melihat wajah polos gadis yang bernama Sona Sitri ini, membuatku bagaimana pun tidak tega untuk meninggalkannya sendirian di tengah-tengah pasar. Bisa-bisa dia malah diculik, atau yang lebih parah, dijual di pasar budak oleh para pedagang budak yang terkenal di sekitar daerah sini. Aku sendiri juga tidak begitu tahu akan kabar burung tersebut, tapi yang jelas mereka kebanyakan mengincar anak kecil untuk dijadikan penghibur atau pemuas nafsu bagi para pembeli yang memang memiliki ketertarikan pada anak kecil a.k.a pedophile.

Bukan hanya itu saja, jika sampai ada anggota dari Old-Satan-Fraction yang menemukannya, pasti kejadian yang sama akan terulang kembali. Dan gadis ini pun akan kehilangan kepolosannya ditangan para anjing-anjing keparat yang mengakui dirinya adalah anggota dari Council of 72 Pillars itu.

Ugh, membayangkannya saja sudah membuatku mual...

... Daripada itu, gadis kecil ya...

Sial, kenapa memikirkan tentang gadis kecil ini membuatku merasakan nostalgia saat mengingat kembali almahrum adik-adikku. Ayolah Maelstorm, bukankah kau sudah bersumpah untuk melupakan kejadian itu dan memulai kehidupan yang baru.

Hah... Bahkan mungkin aku merasa bahwa Tuhan sebenarnya memberikan kutukan pada kehidupanku ini...

"Nee.. Onii-chan..?" ucap Sona dengan nada yang terisak. Aku pun menoleh ke arahnya dan melihat bahwa gerak-geriknya terlihat aneh. Matanya berair oleh air mata, wajahnya merona dengan warna merah yang bagaikan tomat segar dan tubuhnya gemetaran dengan kedua tangannya memegangi daerah kewanitaaannya.

...Oi... Gerak-gerik semacam itu... Jangan-jangan...

"... Aku ingin ke kamar kecil..."

BENAR DUGAANKU!

Kamar kecil? Dimana? Sekarang kami berada cukup jauh dari pasar tadi sehingga mustahil menemukan toilet di tempat seperti ini! Kenapa juga harus sekarang sih dia kebeletnya!

Dan jangan menatapku dengan tatapan sayu seperti itu! Hatiku ini bisa-bisa teracuni oleh racun dari lolicon yang terkenal merabah di jaman sekarang, sialan! Aku ini masih waras dan lelaki tulen!

Sabar Maelstorm, sabar! Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan pelan-pelan. Atur pernafasanmu sebisa mungkin untuk mendapatkan ketenangan dan kedama-Kenapa aku malah menghafalkan dasar meditasi untuk mencapai kekosongan?! Aku tidak berniat untuk menapaki jalan yang di ajarkan oleh Teng Sum Chung dari film Journey from the West itu!

"Onii-chan... Aku sudah tidak tahan lagi..."

ARGH! Lupakan semua hal sialan yang barusan terputar di otak sialanku ini! Sekarang ada gadis belia berumur 4 tahun yang sudah kebelet!

"Baiklah! Baiklah! Ayo kita cari toilet terdekat!" ucapku panik sambil menggandeng tangan kecil Sona yang gemetaran sambil melangkah cepat ke arah pasar yang barusan. Tentu saja kami berjalan cepat-cepat karena sepanjang perjalanan Sona kecil ini terus saja terisak-isak karena kebelet. Ah, sialan! Lagi-lagi aku ingin bertanya kepada siapa pun kenapa aku menerima permintaannya untuk mencari kakak perempuannya itu sih!

... Oh iya. Budak dan lolicon...

"Nii-chan... Sona... Sudah mau keluar... Hiks..."

Oh tidak, jangan tidak! Seribu tidak! Kalau kau sampai mengompol di tempat seperti ini harga diriku mau dipasang dimana!?

"Baik-baik! Biar aku gendong kau supaya kita bisa mencapai toilet secepatnya!" ucapku sambil menggendong Sona dalam posisi bridal style dan mulai berlari menembus orang-orang di pasar yang ramai ini, sambil menghiraukan tatapan jijik dan heran yang mereka lemparkan padaku. Kakiku berlari cepat menapak tanah yang berdebu sambil sesekali melompati dinding kusam berwarna kecoklatan untuk menambah jarak tempuhku.

Tapi tetap saja...

Dimana aku bisa menemukan toilet di lautan yang terdiri dari kerumunan pembeli sekaligus penjual ini! Belum lagi bau aneh yang menempel di sepatuku-tunggu, sepatuku?!

"...So-tan...?"

"...?"

Tanpa sadar aku pun berlari melintasi seseorang yang seolah memanggil Sona dengan nama panggilan yang sangat kekanak-kanakan. Sosok yang memanggil tersebut adalah sesosok gadis berambut hitam dengan corak biru tua yang dikepang menjadi twintail. Dari segi pandangku, gadis ini memiliki tubuh kecil yang mungil sehingga aku pun sempat mengira bahwa umurnya masih sekitar belasan tahunan. Tapi dua benda 'mistis' yang tergantung di dadanya tersebut sepertinya membuatku menarik kata-kataku karena mustahil ada remaja yang memiliki dada sebesar itu pada usia rata-rata mereka. Ia tampak mengenakan sebuah mini dress berwarna merah muda cerah dengan sebuah hoodie berwarna putih dengan corak hitam serta stocking berwarna putih dengan sneakers berwarna pink.

Di sampingnya, berdiri sesosok remaja yang bertampang biasa-biasa saja, sangat kontras dengan gadis berambut hitam tersebut yang memiliki wajah yang terbilang sangat cantik. Ia memiliki mata berwarna coklat emas serta rambut berwarna coklat tua dengan model rambut yang terbilang unik, spiky dengan terbelah dua, serta ponytail kecil yang juga dibelah dua. Pakaian yang dikenakannya terdiri dari kaus putih polos dengan jaket kulit berwarna hitam, celana jeans berwarna coklat serta sepatu coklat. Yap, tidak ada yang menonjol darinya, kecuali aura besar yang kurasakan dari tubuhnya tersebut. Aura ini sepertinya mengingatkanku pada aura waktu itu, apa dia juga adalah...

"...Ah..." ucap gadis itu sambil menunjuk ke arahku.

".. Hmmm..?" aku pun refleks menunjuk diriku.

"...Aaaahhh..." serius, ada apa dengan gadis ini. Ia menunjukku dengan tangan yang bergetar dengan hebat. Apa kau sebegitunya kaget melihat wajahku ini? Hmmm... Mungkin itu karena-

"... Ahhhhh...! Kau... PEDOPHIL!"

Yep! Aku adalah Pedophi-Ehhhhhhh?!

Teriakan gadis itu tampak spontan membuat seluruh pasang mata yang ada di tempat itu pun menoleh ke arah kami. Tampak mereka penasaran dengan sebuah teriakan 'Pedophil' dan berkerumun ke arahku. Oh sial...

"Kau! Apa yang kau ingin lakukan kepada So-tan dasar kau pedophil kelas teri! Beraninya kau mencoba menculik So-tan ku yang manis, imut dan polos... Oh! Aku, Serafall Sitri, akan memberikanmu hukuman atas perbuatanmu itu!" teriak gadis itu sambil mengarahkan sebuah tongkat berwarna pink dengan ujungnya memiliki motif sebuah hati dengan bintang di tengah yang muncul ENTAH DARIMANA!

Yang benar saja nona! Ingat umur!

"Hiks... Onii-chan... Aku... sudah tidak tahan..."

Kenapa kau malah mengatakan kalimat berbahaya yang mengundang sejuta kemungkinan untukku mendapatkan cap sebagai pedophil meningkat 1000% gadis kecil!

[Prang!]

Oh sial... Suara yang seperti sesuatu yang pecah itu...

Dan benar saja, tampak gadis berambut hitam tersebut tampak shock ketika telinganya itu mendengar ucapan polos Sona yang sebenarnya tidak kuasa untuk menahan godaan dari panggilan alam. Perlahan, aura berwarna kebiruan pun merembes keluar dari tubuhnya dengan intensitas yang berbahaya, membuat para kerumunan yang melihat itu dengan penuh kesadaran diri perlahan meninggalkan kami.

"K-kau... TERIMALAH HUKUMAN DARI LEVIA-TAN!"

"T-tunggu dulu! Semua ini hanya salah paha-"

"Tidak ada basa-basi bagi pedophil!" ucap gadis itu seraya mengangkat tongkatnya dan dalam sekejab, molekul air di udara sekitar pun tampak membeku seketika itu juga. Membuat suatu kubah yang kemudian tampak terbagi-bagi menjadi sebuah... Ratusan tombak es yang tampak siap mengarah padaku kapan saja!?

"Terima ini!" tanpa basa-basi, gadis itu pun mengayunkan tongkatnya yang bersamaan dengan itu, ratusan tombak es tersebut melesat ke arahku, membuat aku yakin bahwa jika aku melihat ke cermin sekarang, mataku pasti membelalak dengan ukuran melebihi batas normal karena ratusan tombak es itu melesat menuju ke arahkuuuu!

[Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum!]

Terjadi sebuah suara dentuman yang cukup keras saat tombak-tombak es tersebut menghantam tanah dengan kecepatan yang mengerikan. Aku sendiri hampir tidak bisa menghindari seluruhnya meskipun aku sudah setengah mati menghindarinya, terutama karena aku juga membawa So-

'... Tunggu, dimana Sona...?' batinku saat menyadari bahwa Sona sudah tidak lagi berada di dalam dekapanku.

"Gadis kecil, kenapa kau seperti gelisah seperti itu..?" ucap suara yang kukenal yang membuatku menolehkan kepalaku di samping menghindari tombak-tombak es tersebut. Tampak sesosok gadis muda berambut perak yang bernama Rossweisse terlihat sedang menggandeng Sona kecil yang tampak berkaca-kaca karena menahan 'panggilan alam.'

"Aku... Ingin ke toilet..."

"Oh... Begitu ya. Kalau begitu kakak Rossweisse antarkan ya?"

"Uhm! Tolong ya Nee-chan! Sona sudah tidak tahan!"

Oi tunggu dulu!Bagaimana gadis kecil itu bisa berada di sana tanpa aku sadari sama sekali!? Dan tunggu Sona! Jika kau pergi sekarang bagaimana aku bisa menjelaskan bawa sebenarnya aku hanya ingin mengantarmu buang air-!

"Ketemu kau!"

Sebuah teriakan keras yang berasal tepat di depanku pun LAGI-LAGI membuatku harus memotong monologku saat gadis berambut hitam tersebut telah muncul dan yang di tangannya...

... Tunggu...

Apa-apaan dengan ukuran tombak es yang kau pegang itu gadis berapi-api!? Dan jika kau melemparkanny-!

"Terima ini dasar kau sampah masyarakat!"

[Blar!]

... Aku hanya bisa beku terduduk di tempatku dengan mata terbelalak saat melihat bongkahan tombak es raksasa yang mendarat tersebut...

Karena...

5 CENTIMETER!

Hanya 5 centimeter sebelum masa depanku sebagai laki-laki lenyap dari dunia ini!

Fuck! Goddamnit! Shit! Son of Bitch! Bongkahan tombak es raksasa ini hanya berjarak 5 centimeter dari organ kelaminku demi 7 tingkat dari neraka! Sialan! Seharusnya aku memang tidak memenuhi permintaan dari setan cilik tersebut jika nasibku hanya setipis 5 centimeter saja!

"Woi! Apa pikiranmu sudah pindah ke dengkulmu dasar wanita gila! Kau hampir saja mengambil masa depanku sebagai laki-laki!"

"Aku tidak peduli dasar kau pedophil! Seharusnya aku membuat bongkahan yang lebih besar agar alat kejahatanmu itu lenyap dan membuat ratusan gadis kecil selamat dari tangan jahatmu itu!"

"Apanya yang tangan jahat dasar kau wanita tidak berotak! Sudah kubilang ini semua hanya salah paham!" aku pun berusaha untuk membela diriku menghadapi situasi yang membuatku ingin minum vanilla shake sebanyak-banyaknya setelah aku pulang nanti. Demi 9 tingkat dari nirvana, kenapa aku harus mengalami hal gila semacam ini sih!?

"Oi! Jangan seenaknya mengatai Levia-tan, wanita tidak berotak dasar kau pedo-"

"Diam kau karakter sampingan! Kehadiranmu itu hanya memperkeruh suasana yang sudah di luar batas kemampuan otakku untuk dapat meresponnya!"

Tidak ditambah dengan bocah yang satu ini juga! Kehadiranmu itu malah membuat suasana menjadi tambah kacau tahu!

"K-karakter sampingan kau bilang?! Kau minta dihajar hah pirang keparat!?"

"Hei! Urusanku denganmu belum sele-"

"Pirang keparat kau bilang hah!? Coba kau bilang sekali lagi dasar kau karakter sampingan yang masih perawan!"

[Krak!]

Tampak terdengar sesuatu yang pecah. Ops, sepertinya aku menyentuh bagian yang rapuh dari bocah tersebut. Hah! Makan itu kepala coklat sialan!

"Perawan... Perawan katanya... Uuuu... Tapi... Benar juga ya... Aku sampai sekarang masih belum mengambil keperawanan Rias... fu fu fu..."

Ops, kurasa aku sudah mematahkan asa bocah ini...

"Ise-chan! Tenang saja kok! Aku juga masih perawan sama seperti-Ekkk! Kenapa aku malah mengatakannya?!" teriak gadis berambut hitam ini yang dengan polosnya menyatakan bahwa dirinya itu masih perawan demi pintu gerbang dunia bawah! Apa ada gadis sepolos ini yang dengan mudah mengatakan hal paling tolol yang pernah kudengar dari mulut seorang gadis?!

"Mana ada wanita yang mengatakan bahwa dirinya masih perawan dengan nada volume sekeras itu! Apa pikiranmu sudah berpindah ke dengkulmu hah!?" ucapku dengan jengkel. Jengkel karena dimana seharusnya aku hanya pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan, malah aku tiba-tiba terjebak dalam situasi tolol yang bahkan membuat otakku sudah konslet sama sekali.

"T-tapi itu kan karena kau yang pertama kali bilang-"

"Tapi bukan berarti kau harus mengatakannya untuk menghiburnya dasar wanita cebol!"

"Cebol!? Aku ini tidak cebol tahu! Umurku sudah 17 tahun!"

[Syuuuut!]

[Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar!]

Kenapa lagi-lagi aku harus menghindari tombak-tombak es yang melesat dari gadis berambut hitam ini!? Woi-woi! Jika kau melemparkannya dengan ceroboh seperti itu kau bisa menghancurkan pasar ini dan aku tidak bisa membeli bahan untuk makan malam hari ini tahuuuu!

"Ara... Kenapa jadi ribut seperti ini...?"

Dan yang terakhir kali ku dengar saat mulutku ini terus mengutuki nasib dan juga gadis gila berambut hitam yang sepertinya merupakan kakak perempuan yang menjadi target pencarian adalah suara polos Sona yang hanya menatap area kekacauan bagaikan perang dunia kedua dengan kedua mata besarnya yang polos.

Oh, fuck my life...!

-To be Continued-