/07/Lovely Kid
"Loh, ayah ibu mau kemana?"
Hana langsung menghambur dari kamarnya begitu melihat Hijikata dan Gintoki keluar pintu dengan Tamegorou. Gintoki acuh, sedangkan Hijikata terlihat pucat. Membuat Hana terdiam cukup lama. Sedikit tidak rela melihat orang tuanya pergi dengan wajah sedih begitu.
Tak lama kemudian, Hijikata berisiatif mendekati Hana dan menyentuh rambut hitamnya.
"Adikmu sakit sayang. Dia harus ke rumah sakit."
Seketika anak berusia enam tahunan itu memasang ekspresi kalut. Namun, Gintoki sang ayah masih bisa menghiburnya.
"Kau jaga rumah ya?" kata Gintoki dibuat selembut mungkin sembari mengunci jendela rumah.
"Aku ditinggal sendirian?" ujar Hana mau menangis.
"Aku sudah menelfon bibi Otae untuk membawa paman Shinpachi dan bibi Kagura kemari. Anak kuat tidak boleh menangis, oke? Berjanjilah pada ibu." hibur Hijikata.
Mau tak mau. Hana harus mengusap kedua air matanya yang sukses meluncur dibantu Hijikata yang ikut mengusapnya. Entah kenapa, sang Oni no Fukuchou yang dikenal keiblisannya tersebut juga tak rela.
Tak lama, Gintoki ikut berjongkok di samping Hijikata dan mengecup dahi Hana.
"Kami pergi dulu, sayang."
...
Hana~ Dimana kau?
Hei, Hana~ Ayo maen denganku-aru!
Dari kejauhan, Hana mendengar derap kaki mendekat ke dalam rumah. Dengan sigap, dia melipir keluar. Sesosok remaja berkacamata dan bocah china yang berpakaian merah begitu bahagia melihatnya. Tanpa segan, Kagura langsung menggendong tubuh anak tersebut sembari mencubiti pipinya.
"Wah Hana-chan, matamu seperti Gin-chan tapi rambutmu seperti si mayora jelek itu. Benar-benar kombinasi yang payah aruka!"
"Hust! Kau tidak boleh bilang begitu, Kagura-chan. Lihatlah Hana memiliki wajah secantik . . ."
"Secantik?" ujar Kagura penasaran saat si megane tidak meneruskan kalimatnya.
Shinpachi berkeringat dingin. Dia baru ingat kalau anak ini lahir dari pasangan sesama jenis. Entah keajaiban apa yang menyertai keluarga Gintoki itu.
"Ten-tu saja secantik Hiji-hijikata-san lah." kata Shinpachi dengan nada agak berat sebelah.
"Tapi mayora kan laki-laki aruka."
"A-ah maa maa, kalau begitu ayo ikut ke rumah Aneue saja. Daripada Hana disini sendirian, bukan begitu Hana?"
Shinpachi tidak peduli lagi dan berusaha mengalihkan topik. Hana tersenyum riang. Tak apa ayah ibunya pergi. Masih ada orang lain yang tak kalah sayang padanya.
...
"Aneue~"
Shinpachi berteriak dengan nada high pitchnya diikuti Kagura dan Hana di belakang. Selang beberapa saat, terdengar suara perempuan dari dalam rumah yang menyuruh mereka semua masuk.
"Eh, Hana-chan juga disini rupanya." ujar Otae sembari tersenyum bahagia.
"Bolehkah kami duduk, Anego?"
Kagura menginterupsi keadaan. Dengan senang hati, Otae mempersilahkan mereka duduk. Setelah itu perempuan kabaret tersebut pergi ke dapur mengambil beberapa es untuk mereka semua. Beberapa menit kemudian, beberapa es krim lezat mengalihkan perhatian Hana yang tertawa riang.
"Aku mau satu, Anego!"
Segera Otae memberikan satu buah es krim rasa strawberry dengan potongan cherry dan whipped cream di atasnya pada anak kecil bersurai hitam tersebut.
"Dia mirip Gin-san. Sukanya yang manis-manis." kata Shinpachi diikuti anggukan dari lainnya.
Setelah menjilati sisa es krim di jari-jari mungilnya. Otae menggendong Hana masuk ruang tengah. Mereka mau nonton TV bersama-sama.
"Eh! Eh! Itu! Kakak peramal cuaca!"
Telunjuk Hana mengarah pada sesosok gadis dengan kimono pink bermotif bunga kecil-kecil di layar bergerak tersebut. Kemudian dengan riangnya, Hana bercerita kalau dia ngefans berat dengan Ketsuno Ana.
"Kurasa ayahnya telah mengajarkan banyak hal padanya." kata Shinpachi lagi.
"Kalau sudah besar nanti, Hana pasti bisa seperti Kakak Ketsuno Ana." hibur Otae yang duduk di sebelah Hana.
Hana menggeleng cepat.
"E-em! Aku ingin menjadi wakil komandan iblis seperti ibu!"
GAZP! Semuanya saling menatap horor ke arah Hana. Sudah diduga, anak kecil yang lahir dari duo iblis memang mengerikan.
"Ja-jangan Hana, itu pekerjaan yang berbahaya. Hanya laki-laki yang bisa melakukannya. Lebih baik kau pilih yang lain saja seperti jadi dokte –"
"IYADA! Hana ingin jadi Fukuchou!"
Shinpachi sweat drop. Tumbang di tempat. Kali ini Otae yang ambil alih.
"Tapi Hana-chan, pekerjaan lain jauh lebih mengasyi –"
SIAPA YANG INGIN JADI FUKUCHOU TADI? HAH? HAH? KATAKAN PADAKU!
Tiba-tiba, seorang yang sangat tidak diharapkan kedatangannya nongol dari balik meja. Seorang pria paruh baya dengan rambut ke atas yang terlihat seperti primata berjalan.
"Kon-kondou-san?/Gorila?" ujar Shinpachi dan Kagura terkaget-kaget.
"KONO STALKER HENTAI DA! Kenapa kau ikut pembicaraan? Di atap lagi sana!"
Otae menendang pria tersebut sampai pantatnya nancep atap. Membuat pria itu malah melolong kesakitan. Hana yang melihat adegan tersebut langsung terbahak-bahak. Otae langsung lupa kalau ada anak kecil di sini. Otomatis dia segera menutupi mata anak tersebut sembari menghiburnya dengan acara anak-anak.
"Sepertinya dia sering melihat orang tuanya bertengkar, Aneue."
"Ah, ya kau benar Shin-chan."
...
Kini mereka semua berkumpul makan-makan siang. Tentunya Shinpachi Shimura, otaku megane yang baik hati itu yang membuatnya. Di samping itu, Kagura, Hana dan Kondo juga ikut menyiapkan kursinya.
Si anak berponi V tersebut berteriak kegirangan melihat satu ekor ayam panggang baru keluar dari oven. Berterimakasihlah kepada Hijikata yang memberi Otae sebagai tanda terima kasih mau merawat Hana dan Tamegorou.
Tanpa banyak cing-cong mereka segera melahap makanan mereka.
"Hana, kenapa kau tidak pernah berkunjung ke markas? Kakek sangat mengharapkanmu datang loh." ujar Kondo yang pertama kali membuka pembicaraan.
"Masalahnya, ibu tidak pernah membiarkanku pergi kesana. Katanya terlalu berbahaya, kakek." jawab Hana memelas.
Kondo langsung terdiam. Toshi sangat protektif pada anaknya sendiri, pikirnya.
"Padahal sejak dulu aku ingin kesana kakek. Tamegorou saja boleh masuk, masa aku tidak? Aku hanya ingin melihat ibu yang sedang bekerja dan kakek yang pastinya sibuk mengatur pasukan."
Sialan. Anak ini baru saja mengatakan ironi yang menyindirnya. Hijikata sudah mengatakan kebohongan besar pada Hana.
"Are? Senyum kakek kok aneh sekali?"
Bukan tersenyum Hana, aku tersinggung!
"Ya sudah kalau begitu, mumpung Hana sedang disini. Bagaimana kalau kakek ajak jalan-jalan ke markas? Kakek akan mengenalkanmu pada paman Sougo dan paman Yamazaki. Ayo berangkat sekarang!"
"Be-benarkah? Hana boleh ikut kakek?"
Hana memasang ekspresi keliwat bahagia. Seumur-umur dia tidak pernah diperbolehkan ikut ibunya bekerja. Sekarang kakeknya malah senang hati membawanya masuk. Sebenarnya apa yang dirahasiakan ibunya itu?
