Pairing : Yunjae

Rating : M (sewaktu-waktu bisa berubah)

Genre : Romance, Drama, Little Hurt

Warning : BL, INCEST, PEDOFIL, M-PREG, TYPO

Disclaimer : Cerita ini hanya karangan semata, ASLI dan MURNI dari pemikiran saya. Jika ada kesamaan ide, kata-kata atau yang lainnya itu REAL ketidak-sengajaan. Saya berani mem-publish cerita ini karena saya TIDAK merasa meniru cerita dari author lain!. Tapi jika kesamaanya begitu fatal, saya akan benar benar menghapus cerita ini.

Summary : "Baiklah, jika tidak bisa mendapat eomma-nya mengapa tidak mencoba anaknya" batin Yunho sehingga mengahasilkan smirk yang terlukis di wajahnya.


"Aku mencintaimu Yunho-ssi." Jaejoong menundukkan kepalanya semakin dalam. Tangannya yang berada dalam genggaman Yunho semakin mengepal erat. Jaejoong tidak tahu mengapa ia berbicara seperti itu. Mungkin ini sudah titik penghabisannya.

Yunho mendengar pernyataan Jaejoong hanya menyeringai. Sayang Jaejoong tak melihat seringai Yunho karena kepalanya tertunduk.

Jaejoong takut karena ucapannya sendiri. Ia menggigit bibir bagian bawahnya sehingga nampak lebih merah dari warna merah biasanya.

Yunho tak mencintainya! Itulah yang dipikirkan Jaejoong saat ini. Mana mungkin Yunho menyukainya yang kenyataannya Yunho telah memiliki seorang istri yang sedang mengandung dan gadis kecil yang begitu imut.

Jaejoong mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Yunho karena Yunho tak kunjung berbicara. Perlahan-lahan ia menarik tangannya karena genggaman tangan Yunho yang mengendur.

"Benarkah?." Ucap Yunho saat tangan Jaejoong mulai lepas.

Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak sanggup untuk berkata satu katapun. Saat ini perasaannya campur aduk. Rasa malu, kecewa, sedih, hancur telah menjadi satu. Tapi setidaknya ada rasa lega karena ia telah mengungkapkan perasaannya kepada Yunho.

Inilah, inilah keputusan Jaejoong. Ia sekedar mengungkapkan perasaannya kepada Yunho setelah itu pergi dan mencari selain Yunho. Ia tak akan berharap banyak pada Yunho lagi.

"Katakan jika kau mencintaiku."

Seketika Jaejoong langsung mendongakkan kepalanya pada Yunho. Dahinya berkerut karena merasa aneh dengan Yunho.

Yunho meraih tangan Jaejoong yang sedang berpangku pada paha Jaejoong. Digenggamnya erat sangat erat namun tidak menyakiti Jaejoong seakan memberi Jaejoong keyakinan.

"A―aku mencintaimu Yunho-ssi." Ucap Jaejoong gugup karena malu dan takut.

Yunho melihat doe eyes kelam milik Jaejoong lekat. Dicarinya kesungguhan dalam ucapan yang dilontarkan namja cantik tersebut. Yunho tersenyum saat ia tak menemukan kebohongan dalam ucapan Jaejoong. Kedua tangannya meraih pipi Jaejoong. Ibujarinya mengusapnya pelan pipinya untuk menghapus air mata Jaejoong.

Drrt drrt drrt

Tiba-tiba ponsel Yunho bergetar. Terlalu heningnya keadaan Yunho dan Jaejoong berada sehingga membuat getar ponsel terdengar lumayan keras.

Yunho merogoh ponsel yang bergetar di dalam sakunya. Matanya terus menatap mata Jaejoong, enggan berpaling sedikitpun.

Blush

Jaejoong yang ditatap seperti itu menjadikan pipinya memerah sempurna. Namun ia tetap bingung karena Yunho tak memberi jawaban.

"Yeoboseyo." Yunho berbicara pada sang penelpon.

"..."

"Dimana?."

"..."

"Baiklah."

Pip

Sambungan telepon terpetus. Yunho kembali menaruh ponsel ke dalam sakunya. Masih betah ia menatap Jaejoong. Yunho semakin mengeliminasi jarak antara dirinya dan Jaejoong. Semakin dekat dan dekat, reflek Jaejoong menutup matanya. Yunho menyeringai dengan sikap Jaejoong.

"Sudah." Ucap Yunho tiba-tiba.

Jaejoong tak merasakan apapun namun Yunho mengatakan sudah. Ia tak merasakan bibirnya dikecup oleh Yunho, karena itu adalah kebiasaan Yunho yang tiba-tiba dan kali ini Jaejoong menutup matanya karena ia merasa siap.

"Sudah aman." Ucap Yunho kemudian.

Blush

Pipi Jaejoong semakin merona setelah ia membuka doe eyesnya. Oh betapa malunya Jaejoong!. Ia pikir Yunho akan menciumnya namun ternyata Yunho meraih sabuk pengaman yang berada di belakang Jaejoong lalu memasangkannya.

"Kenapa wajahmu memerah? Hm?" Goda Yunho sedikit tersenyum. Ia tahu bahwa Jaejoong akan menganggapnya akan mencium Jaejoong. "Kita pergi." Lanjut Yunho. Ia berpaling dari Jaejoong lalu memegang stir mobil dan menancapkan gas.

"Kita akan kemana Yunho-ssi?."

"Suatu tempat."

Jaejoong sedikit mempoutkan bibirnya. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan menundukkan kepalanya. Ia tak pernah mengerti apa yang dipikirkan namja pemilik mata musang tersebut.

Jika kali ini Yunho menemui untuk meninggalkan dirinya lagi maka Jaejoong tak ingin lagi melihat wajah Yunho. Orang yang membuatnya bodoh karena berharap terlalu tinggi. Orang yang baru ia kenal namun ia sudah terlalu mencintainya.

.

.

.

JUNG'S CORPORATION

Itulah tulisan yang terpampang jelas dan besar di depan sebuah bangunan kaca yang menjulang tinggi.

Yunho segera membukakan pintu mobil untuk Jaejoong setelah memarkirkan mobilnya.

"Ini dimana?."

Yunho tak mengindahkan pertanyaan Jaejoong. Ia meraih tangan Jaejoong, sedikit menyeretnya untuk mengikuti langkah Yunho yang dipercepat.

Ting

Bunyi lift ketika telah sampai pada tingkat yang di tuju Yunho. Pintu lift terbuka. Yunho kembali menyeret Jaejoong dengan langkah cepatnya. Yunho melangkahkan kakinya pada ruangan yang tepat berada di depan lift hanya berjarak kira-kira duapuluh kaki.

Cklek

Jaejoong terbelalak seketika. Mulutnya terbuka lebar. Nafasnya serasa berhenti berhembus dalam sekejap. Ia melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Melihat adegan yang biasa ia lakukan bersama Yunho yaitu berciuman.

Bedanya, ciuman yang ia lakukan bersama Yunho hanyalah sekedar kecupan biasa namun hal yang ia lihat saat ini adalah seperti 'memakan' bibir, membuat dua orang dewasa yang melakukan adegan tersebut mengeluarkan suara mengerang cukup keras. Nafas yang bersahutan juga mengiringi ciuman yang dibilang 'panas' ini.

Jaejoong sedikit melirik kearah Yunho. Ia cukup heran melihat Yunho yang cukup tenang melihat Taehi yang Jaejoong anggap sebagai istri Yunho sedang berciuman dengan namja lain.

"Ehem." Yunho hanya berdehem untuk memisahkan dua orang tersebut.

Karena mendengar suara seseorang yang mengusik, akhirnya Taehi mendorong namja yang saat ini tengah menikmati ciuman darinya.

"Ah Yunho-ah sudah datang rupanya. Masuklah!." Ucap namja yang mencium Taehi.

Yunho menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Ia melangkahkan kakinya, tak lupa menarik Jaejoong.

Jaejoong merasa aneh. Yunho tidak marah sedikitpun bahkan terlihat begitu akrab dengan namja yang sudah mencium istrinya, itulah pikir Jaejoong.

Jaejoong yang ditarik pasrah mengikuti Yunho dari belakang.

Jaejoong baru sadar bahwa ini adalah ruangan kerja. Ukurannya begitu luas. Memiliki perpaduan coklat tua dan hitam memberikan kesan classic pada ruangan tersebut. Meja kerja yang begitu panjang dan lebar dengan tumpukan kertas, komputer, dan balok kayu kira-kira berukuran panjang tigapuluh centi dan tinggi tujuh centi yang bertuliskan 'DIREKTUR JUNG YUNHO'.

Eits

DIREKTUR JUNG YUNHO?

Yap, ini adalah ruangan kerja milik Yunho.

Yunho mendudukkan dirinya di kursi yang biasanya ia gunakan untuk bekerja. Kursi hitam empuk dilapisi kulit sehingga membuatnya begitu mengkilap. Ditariknya Jaejoong mendekat dan didudukkan di pangkuannya.

Jaejoong tersentak dengan apa yang dilakukan Yunho. Sedangkan Taehi tersenyum melihat Yunho memperlakukan Jaejoong.

"Kau membawa kekasihmu Yunho-ah?." Ucap namja yang berciuman dengan Taehi, yang sedari tadi melihat tingkah Yunho.

"Ne, dia kekasihku." Yunho melingkarkan lengannya pada pinggang Jaejoong yang berada di pangkuannya. Ditaruh dagunya pada pundak Jaejoong. Menempelkan dadanya pada punggung Jaejoong.

Jaejoong semakin tersentak dan membelalakkan matanya. Jaejoong tak mengerti dengan keadaaan yang terjadi. Mulai dari Yunho yang bersikap biasa ketika melihat istrinya yang berciuman dengan namja lain lalu mengakui Jaejoong sebagai kekasihnya.

"A―apa maksudmu Yunho-ssi?." Ucap Jaejoong terbata. Sepertinya ada yang harus diluruskan.

"Katanya kau mencintaiku Boo. Aku juga mencintaimu, jadi kita pacaran." Yunho tersenyum di pundak Jaejoong. Diliriknya Jaejoong yang melebarkan mulutnya dan dahinya yang berkerut.

"Ah mian Taehi-ssi bu―kan begitu maksud kami." Jaejoong mencoba menyangkal perkataan Yunho. Ia takut Taehi akan berburuk sangka, meskipun memang benar apa yang dikatakan Yunho. Jaejoong juga tidak mau dibilang sebagai penghancur rumah tangga orang.

"Wae? Kenapa bukan? Padahal baru saja aku senang karena dongsaeng kesayanganku ini mendapatkan kekasih." Taehi tersenyum mendengar sangkalan Jaejoong.

"Dongsaeng?." Ucap Jaejoong terbata.

"Ne." Taehi mengangguk mantap. "Tapi Yunho sangat nakal sampai-sampai tak mau memanggilku noona." Taehi mendekati Yunho yang berada di seberang karena terhalang meja. Tangannya terulur mendorong kepala Yunho kebelakang "Nappeun namja." Ucapnya.

"Ya! Kenapa mendorong kepalaku eoh? Itu tak sopan." Hardik Yunho.

Taehi hanya mengendikkan bahu menyepelekan ucapan Yunho.

"Ish kalian berdua ini memang tak bisa akur ya?."

"Ani Hunie oppa. Sepupumu itu yang nappeun!." Taehi bergelayut manja pada lengan namja yang dipanggilnya 'Hunie' atau lebih tepatnya Jung Seung Hun namja yang menciumnya tadi. Wajahnya dibuat seimut mungkin.

"Aigo istriku imut sekali." Seung Hun menatap wajah Taehi yang sedang bergelayut manja di lengannya.

"Mwo? i―istri?." Jaejoong tergagap karena terkejut. "Bu―bukannya Taehi-ssi istri Yunho-ssi?."

"Mwo?." Sekarang Seung Hun yang nampak kaget. Sedang Yunho dan Taehi hanya menyeringai. Sepertinya permainan―ah bukan permainan karena mereka tidak bermain sama sekali, mereka hanya menutupi kebenaran telah berhasil.

"Tunggu! Apa yang terjadi?." Ternyata bukan hanya Jaejoong yang tak mengerti dengan keadaan ini namun namja yang satu itu pula.

"Ani. Tidak ada yang terjadi di sini Jung Seung Hun oppa~." Ucap Taehi semakin manja. "Ah iya Jaejoong-ah kenalkan ini suamiku." Taehi menarik tangan Seung Hun lalu menjulurkan kepada Jaejoong yang masih ada di pangkuan Yunho.

Jaejoong mencoba menarik tubuhnya dari kukungan lengan kekar Yunho, namun gagal. Sepertinya Yunho menahan Jaejoong dan melarangnya untuk beranjak. Akhirnya Jaejoong mengalah dan hanya mengulurkan tangannya kepada Seung Hun. Terlihat tidak sopan lalu harus bagaimana lagi.

"Dia Kim Jaejoong kekasih Jung Yunho." Hampir saja Jaejoong meraih tangan Seung Hun tapi Yunho sudah menarik tangan Jaejoong. Dan yang menggantikan Jaejoong memeperkenalkan diri. Possesive eoh?.

"Hah kebiasaan buruk. Ne ne ne aku tak menyentuh milikmu." Seung Hun memutar bola matanya. Kebiasaan seorang Jung Yunho yang tak pernah berubah selalu protective menjaga apa yang dimilikinya. Jangankan menyentuh hanya melihat saja akan mendapat tatapan killer darinya.

"Oppa, kajja kita pergi!." Ajak Taehi yang mulai geram dengan sikap Yunho. "Kami menunggu di apartementmu Yunnie." Akhirnya mereka –Seung Hun dan Taehi- pergi meninggalkan Yunho dan Jaejoong. Sebenarnya kedatangan Seung Hun ke sini adalah karena Seung Hun ingin mendapatkan sambutan dari adik sepupunya, Jung Yunho namun Yunho merubah acara karena membawa Jaejoong.

Blam

Terdengar suara pintu tertutup. Jaejoong terdiam. Ia masih belum bisa percaya keadaan. 'Taehi bukan istri Yunho-ssi?' itulah yang ada di pikiran Jaejoong. Yunho dan Taehi sama-sama memberikan perhatian yang berlebih, bukan salah Jaejoong jika menganggap Taehi adalah istri Yunho. Dan juga Taehi pertama kali diketahui Jaejoong karena Yunho yang membawanya.

Chu~

"Kenapa melamun?." Ucap Yunho setelah ia berhasil mencium pipi Jaejoong.

Blush

Pipi Jaejoong memerah, menghiasi pipi putihnya. Dia merasa gugup karena menyadari keadaanya yang berada di paha Yunho dengan jarak yang sangat dekat bahkan bisa dibilang menempel dan merasa malu karena bisa mengambil keputusan seenaknya sendiri. Keputusan bahwa Taehi istri Yunho.

"Dia bukan istriku Boo. Kenapa bisa berfikir seperti itu eoh?." Jaejoong mengernyit. Yunho seakan tahu apa yang dipikirkan namja cantik yang berada di pangkuannya.

Oh! Jika Taehi bukan istri Yunho maka Jaejoong boleh membangun harapannya lagi bukan?.

"Benarkah?."

"Kenapa aku musti berbohong padamu hm? Nae Boo~."

"Boo?." Jaejoong kembali mengernyitkan dahinya karena panggilan aneh Yunho yang baru ia sadari.

"Ne, nae Boojaejoongie." Ucap Yunho yang menyerukkan kepalanya pada leher Jaejoong. "Aku akan memanggilmu Boo mulai saat ini. Itu adalah panggilan kesayanganku untukmu."

Jaejoong menggeliat dalam kukungan Yunho karena nafas Yunho yang menyentuh lehernya. "Geli Yunho-ssi." Ucap Jaejoong manja.

"Jangan panggil aku Yunho-ssi lagi mulai saat ini. Kau adalah kekasihku jadi berikan aku panggilan khusus."

"Kekasih? Benarkah?." Ujar Jaejoong berbinar.

"Apa perlu aku mengatakannya lagi?. Kau kekasihku Boojaejoongie." Yunho semakin menyerukkan kepalanya hingga ia bisa menempelkan bibirnya pada leher Jaejoong. Vanilla yang menguar dari tubuh Jaejoong memberikan kesan nyaman untuk Yunho.

"Nggh Yunbear ahjussi." Jaejoong melenguh karena sentuhan bibir Yunho. Kepalanya mendongak karena Yunho mulai mencium bagian depan leher Jaejoong.

"Bear?! Ahjussi?!." Ucap Yunho yang baru menyadari perkataan Jaejoong.

"Ne Yunbear ahjussi." Jaejoong melirik Yunho yang menjauh dari lehernya. Ia terkikik karena melihat respon Yunho. Baru kali ini Yunho menunjukkan raut wajah seperti itu. "Bear karena Yunbear seperti beruang dan ahjussi karena Yunbear sudah tua." Jaejoong terkekeh mendengar pernyataannya sendiri.

"Ani~." Yunho memberikan nada pada katanya. "Jika beruang aku masih bisa menerimanya tapi kalau ahjussi aku tidak mau. Bahkan wajah Yunbear-mu saja terlihat masih belasan tahun."

Jaejoong tertawa. "Ne ne baiklah Yunbear tanpa ahjussi." Ucap Jaejoong yang saat ini begitu manja dan bahagia.

"Aku mencintaimu Boo, sangat mencintaimu." Yunho mengeratkan pelukannya pada Jaejoong. Merasakan aroma yang keluar dari tubuhnya.

"Kajja kita ke restaurantmu bukankah kau harus bekerja." Yunho melepaskan pelukannya lalu mendorong Jaejoong pelan untuk beranjak dari pangkuannya. "Besok liburkan restaurantmu dan kau tidak usah pergi ke sekolah, kita akan berdua saja besok sepanjang hari."

"Ya! Kenapa seperti itu?." Jaejoong tak terima dengan keputusan Yunho yang seenaknya sendiri.

"Oh ternyata Boojae tidak suka berduaan dengan Yunbear-nya hm?."

"Bukan begitu!." Jaejoong mempoutkan bibirnya.

"Ayolah Boo hanya satu hari tak apa kan? Lagian pegawaimu juga ingin berlibur meskipun hanya satu hari. Dan juga sekolah tak akan menghukummu jika kau absen hanya satu hari dan tidak juga mempengaruhi rapormu. Iya kan?."

Jaejoong menghela nafasnya pelan lalu mengangguk. "Dasar nappeun! Masa Joongie diajari membolos?."

"Sekali saja, ayolah!."

"..."

"Boo."

"Ne baiklah! Hanya sekali ne? Yaksok?." Jaejoong mengacungkan jari kelingkingnya.

"Yaksok!." Balas Yunho melakukan hal yang sama seperti Jaejoong. Mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Jaejoong,

"Jja kita berangkat." Ucap Yunho lalu menarik tangan Jaejoong.

.

.

.

Sret

Yunho menarik Jaejoong untuk kembali terduduk, yang tadinya Jaejoong akan keluar dari mobil setelah mereka sampai di restaurant.

"Wae?." Tanya Jaejoong.

Chu~

"Nanti malam aku ke apartementmu." Ucapnya setelah mengecup bibir Jaejoong.

Blush

Pipi Jaejoong memerah sempurna. Ia langsung membuka pintu mobil lalu keluar. Masuk ke dalam restaurant lalu segera menuju ruangannya.

Blam

Pintu tertutup. Jaejoong berjingkat kegirangan di dalam ruangannya. Mengekspresikan segala apa yang dirasakannya saat ini. Jaejoong bahagia ia sangat bahagia setelah mengetahui kenyataan yang ada. Ia sempat merasakan lagi jika ia adalah orang yang benar-benar dan benar-benar bodoh karena sempat menangis untuk hal yang belum ia ketahui kebenarannya.

Ia memiliki dan dimiliki Yunho, itulah pikirnya saat ini yang membuatnya kegirangan.

.

.

.

FLASHBACK ON

"Taehi-ah mau kah kau membantuku?." Tanya Yunho pada Taehi. Mereka saat ini sedang berada di mobil Yunho setelah keluar dari bandara.

"Ya! Panggil aku noona!."

"Ani!."

"Ck Terserah!. Bantu apa?." Ucap Taehi yang saat ini sedang memangku Yura.

"Aku menyukai seseorang dan aku ingin medapatkannya."

"Lalu?."

"Bantu aku untuk membuat dia menyukaiku."

"Caranya?."

"Bersikaplah manja kepadaku melebihi sikap manjamu seperti biasanya."

"Hm?."

"Bagaimana?."

"Hanya itu?."

"Ne."

"Baiklah, itu bukan masalah besar. Tapi kenapa Yunnie tidak mencobanya sendiri?."

"Terlalu lama. Aku butuh orang ketiga."

"Ya! Kau menjadikan aku orang ketiga eoh?."

"Hanya bermain."

"Haish."

"Besok kita akan ke restaurant miliknya."

"Ne."

FLASHBACK OFF

"Begitulah oppa."

"Oh jadi begitu." Ucap Seung Hun. Ia menganggukkan kepalanya setelah mendengar cerita Taehi. "Lalu kau berhasil?." Tanya Seung Hun kepada Yunho yang saat ini sedang berbaring di sofa di apartement Yunho.

Setelah mengantar Jaejoong ke restaurant, ia langsung menuju apartementnya untuk menemui Seung Hun dan Taehi.

"Ya. Dia menangisiku dan mengakui perasaanya."

"Dasar pengecut. Lelaki sejati tidak mungkin menunggu pasangannya untuk menyatakan cinta duluan." Seung Hun menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

"Hhh jangan menilai orang segampang itu hyung! Aku punya alasan sendiri untuk melakukannya." Ucap Yunho enteng. Masih dengan keadaan berbaring.

"Maksudmu?." Seung Hun mengernyit.

"Aku hanya ingin membuatnya yakin. Aku memberinya pemanasan."

"Apa maksudmu?."

"Ya hanya pemanasan. Di dalam olahraga jika sudah melakukan pemanasan maka kita akan lebih mudah untuk melakukan hal yang berat tanpa ada keseleo atau kram bukan. Jadi aku menyiapkan Jaejoong untuk masalah yang lebih berat yang akan dihadapinya nanti. Masalah itu akan lebih mudah jika ia sudah yakin untuk mencintaiku dengan cara mengungkapkannya duluan tanpa ada pancingan. Ya, meskipun aku sering menyentuh dan menciumnya."

"Aish kau ini, apa yang kau rencanakan hm?."

"Aku tidak merencanakan apa-apa hyung."

"Awas saja kalau aku melihat kau buat Jaejoong menangis lagi akan kurebut dia darimu, meskipun aku baru mengenal dan bertemu dengannya tapi aku suka berada di dekatnya. Hhh betapa malanganya nasib anak imut dan cantik seperti Jaejoong bertemu denganmu Jung Yunho." Keluh Taehi.

"Baiklah, kami akan ke rumah eommamu dulu dan menginap di sana bersama Yura. Besok pukul tiga sore pergilah ke Bandara karena kami akan kembali ke Inggris." Seung Hun menyudahi perbincangan mereka.

"Kenapa buru-buru?."

"Ada urusan." Ucap Seung Hun singkat.

.

.

.

Jaejoong melangkahkan kakinya di bawah langit yang berwarna hitam pekat, menunjukkan hari sudah malam. Benar saja sekarang jam tangan Jaejoong sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

.

.

.

Jaejoong merogoh saku dan tasnya sejak limabelas menit yang lalu, namun ia belum menemukan kunci apartementnya. Saat ini raut wajahnya sudah sangat khawatir. Dimana dia menaruh benda itu? Bagaimana jika hilang? Pikirnya.

Drrt drrt drrt

Jaejoong hampir berbalik untuk menuju restaurantnya lagi karena mungkin kuncinya tertinggal di sana jika getar ponsel tidak mengurungkan niatnya.

Dilahat layar ponselnya, hanya terpampang sebuah nomor yang tak dikenal.

"Yeoboseyo." Ucap Jaejoong.

"Kau di mana? Ini sudah malam dan kau belum pulang?."

"Yunbear?. Bagaimana Yunbear tahu jika Joongie belum pulang?."

"Aku di apartementmu."

"Mwo?. Aku tidak melihatmu." Jaejoong menolehkan kepalanya ke kanan-kiri untuk mencari keberadaan Yunho yang katanya di apartementnya.

"Kau di mana?."

"Di depan apartement. Joongie tidak bisa masuk karena kunci Joongie hilang."

Cklek

Pintu apartement Jaejoong tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok Yunho di dalamnya.

"Y―yunho! " Sontak Jaejoong kaget karena melihat Yunho. "Ba―bagaimana bisa?." Lanjutnya.

Yunho tak mengindahkan pertanyaan Jaejoong malahan menarik tangan namja cantik tersebut. Lalu menghempaskannya di sofa.

"Kau membuatku khawatir Boo!. Kau menjatuhkan kuncimu di mobilku tadi."

"Aah? Benarkah? Hihi mian Joongie tidak tahu."

"Cepat siapkan air untukku mandi. Aku ingin berendam." Suruh Yunho tiba-tiba.

Sebenarnya ia sudah satu jam yang lalu menunggu Jaejoong di apartement milik Jaejoong.

Tanpa sepatah katapun Jaejoong melangkah pergi meninggalkan Yunho lalu menuju kamar mandi untuk menyiapkan air.

.

"Y―yun?." Ucap Jaejoong terbata. Saat ini ia berada di kamar mandi menyiapkan air untuk Yunho. Ia terbata karena kaget merasakan Yunho yang memeluknya dari belakang.

"A―apa yang kau lakukan Yun?." Jaejoong semakin kaget karena saat ini tangan kanan Yunho masuk ke dalam sweater yang dipakai Jaejoong sedang tangan kirinya meraih kancing yang mengancingkan sisi kanan dan kiri sweaternya.

"Aku ingin memilikimu seutuhnya." Bisik Yunho bahkan menempelkan bibirnya pada telinga Jaejoong.

Jaejoong diam tak berkutik. ia terkejut benar-benar terkejut sehingga membuatnya terpaku. Ia tak tahu apa yang Yunho maksud karena ia benar-benar anak yang polos sebelumnya.

Pluk

Sweater Jaejoong terjatuh setelah Yunho berhasil melepasnya. Menampilkan tubuh putih mulus milik Jaejoong. Niple yang berwarna pink menjadi hiasan pada tubuh putihnya. Pinggang rampingnya memberikan kesan sexy.

"Perfect." ucap Yunho dalam hati sambil menyeringai.

Yunho mulai menurunkan edua tangannya untuk meraih pengait yang mengait celana jeans yang dipakai Jaejoong. Namun tiba-tiba Jaejoong memegang tangan Yunho.

"Apa yang akan Yunbear lakukan pada Joongie?." Ucap Jaejoong merasa sedikit khawatir.

"Tenanglah sayang. Percaya padaku. Jangan menghentikanku Boo." Yunho melanjutkan kegiatannya kembali setelah merasakan genggaman Jaejoong menegndur.

Pluk

Kini celana jeans Jaejoong yang terlepas. Memamerkan kaki jenjang nan mulusnya.

Yunho meraih kran yang berada di atas bathup lalu memutarnya untuk menghentikan air yang mengalir. "Kita ke kamar." Ucap Yunho lalu menggendong Jaejoong ala bridal style.

.

Bruk

Yunho menjatuhkan Jaejoong di kasur milik Jaejoong yang berukuran sedang karena hanya ditiduri oleh Jaejoong seorang.

Yunho merangkak naik ke atas tubuh Jaejoong. Menggunakan siku dan lututnya menahan bebannya untuk tidak membebani Jaejoong. Ia menatap wajah Jaejoong lekat yang datar tanpa ekspresi.

"Wae? Kenapa wajahmu seperti itu? Hm?." Ucap Yunho sembari mengelus pipi mulus namja cantik yang telah menjadi kekasihnya.

Jaejoong menggeleng pelan."A―pa yang a―kan Yun―bear la―kukan?." Ucap Jaejoong terbata-bata. Kentara sekali saat ia menjawab pertanyaan Yunho wajahnya berubah menjadi gusar.

"Tenanglah sayang. Kau akan menikmatinya Boo." Yunho meyakinkan Jaejoong.

Tangan yang Yunho gunakan untuk mengelus pipi Jaejoong kini turun guna meraih gundukan yang berada di antara kedua paha Jaejoong yang tertutupi celana dalam berwarna putih. Diremasnya pelan sehingga mengeluarkan bunyi erangan dari mulut Jaejoong.

Kepalanya menunduk menghampiri leher Jaejoong yang masih putih. Lidahnya merasakan leher Jaejoong yang terasa manis baginya. Sedikit menggigit lalu menghisap sehingga menimbulkan tanda kemerahan di leher Jaejoong.

Tangan satunya yang menganggur kini sudah berada di atas niple Jaejoong yang telah menegang. Dicubit, dipilin, dan ditekan oleh Yunho. Sehingga membuat Jaejoong mengerang keras.

Desahan demi desahan keluar dari bibir mereka berdua di kamar itu. Menikmati malam indah. Saling merasakan sentuhan yang diberikan pasangan. Sepertinya Jaejoong harus merelakan semua kepada Yunho.

.

.

.

(Rule) nugunga mandeulrottgo, onjenkaneun gaejyeo beoril oreumae seongbyeok
(Rule) ke seokae na ae olgul, kideulyeojin anlakhamae manjeokhan olgul
(Move) Ijen doraseoseo koroya dwea, You know what..
nareul jibaehaneun naman ae beob, You got to...

"Nggh." Lenguh Yunho. Ia mengerjapkan matanya pelan. Terbangun karena mendengar ponselnya berdering.

"Yeoboseyo." Ucapnya dengan suara serak.

"Ya?! Kau di mana Jung Yunho?!. Hyungmu ini akan segera berangkat." Ucap seorang di seberang sana.

Yunho melihat jam yang menempel di dinding. Jam setengah tiga sore. Pantas saja orang yang di seberang sana berteriak karena memang ini adalah hari keberangkatannya meninggalkan Seoul untuk beberapa tahun kedepan.

"Ah ne Seung Hun hyung, aku baru bangun tidur. Tunggulah, aku akan segera kesana."

"Aish dasar Jung pabo. Baiklah kami menunggumu."

Pip

Yunho mematikan ponselnya. Ia melihat ke samping melihat namja cantik yang tengah tertidur pulas dengan bercak hitam yang memenuhi perut, dada, dan lehernya. Yunho tersenyum menyaksikan kedamaian wajah Jaejoong saat tertidur. Ia segera menaikkan selimut yang berada di pinggang Jaejoong hingga kelehernya.

Ia tak tega membangunkan Jaejoong, karena mereka baru berhenti pukul delapan pagi tadi, dengan istirahat setiap ronde tentunya.

Ia mengecup sekilas bibir Jaejoong lalu beranjak menuju kamar mandi dan bersiap-siap menuju bandara.

.

.

.

Yunho dalam perjalanan menuju bandara. Ia memakai seragam kerjanya yang kemarin ia pakai karena tak sempat membawa baju. Mobil hitamnya melaju cepat membelah jalanan kota Seoul.

(Rule) nugunga mandeulrottgo, onjenkaneun gaejyeo beoril oreumae seongbyeok
(Rule) ke seokae na ae olgul, kideulyeojin anlakhamae manjeokhan olgul...

Ponsel Yunho kembali berdering. Tertera nama Yoochun yang berada di layar ponselnya.

"Yeoboseyo." Ucap Yoochun.

"Yeoboseyo Yoochun-ah waeyo?."

"Aku hanya ingin bertanya bagaimana keadaanmu dan Jaejoong?. Apakah kalian masih bertemu saat aku tak ada?."

"Keadaan kami baik. Ya, aku masih menemuinya."

"Kau sudah memeberitahunya?."

"Belum. Wae?."

"Perlu bantuan?."

"Silahkan kalau kau mau."

"Oh baiklah."

Pip

.

.

.

Drrt drrt drrt

Jaejoong terpakasa bangun. Ia mendengar ponselnya yang sedari tadi bergetar. Diraihnya ponsel yang berada di atas meja nakas di sebelah kasurnya.

19 missed call

Jaejoong mengernyit karena ia mendapatkan panggilan tak terjawab sebanyak ini. Sebegitu lelapkah dia tertidur?.

"Yeoboseyo." Ucap Jaejoong mengangkat ponselnya setelah kembali bergetar.

"Yeoboseyo Joongie-ah."

"Yoochun ahjussi!. Bogusipeoyo!." Ucapnya gembira.

"Ne, nado Joongie-ah."

"Kenapa ahjussi tiba-tiba menelpon Joongie?."

"Ahjussi ingin mengatakan sesuatu padamu Joongie-ah."

"Apa itu ahjussi?."

"Eommamu."

TBC


Balas riview:

Lian Park: Haha itu perlu di periksakan, iya gapapa. Jae hebat kaann. Jangan diambil! anaknya itu buat saya. Si yun hanya menguji kkk. Iyaa itu always hihi

Jaena:Lho kenapa galau? Udah gak penasaran kan?. Si Yoochun belum tau sayang, coba deh baca lagi yaa. Always hihi. Gapapa saya suka yang panjang panjang(?)

YunHolic:Huwaaa enaknya, tapi gak enaknya gak punya pengalaman jadi gak ada persiapan buat kedepan. Ya moga aja kamu gak pernah patah hati, kalau saya pernah satu kali dan itu rasanya huh ajaib hehe. Gak beres apa?

iche.:Iya lama lama kayak jelangkung. Iyaa saya juga gak rela #curhatbalik. Udah tau kan si Yun cinta sama Jae

danactebh: Bahkan lebih cantik hehe. Udah kebongkar kan?. Kalau itu saya gak tau, waktu saya tanya salah satu temen saya "katanya" sih iya soalnya ada artikel di allkpop bahwa SM udah ngonfirm, tapi saya gak percaya soalnya saya belum nemuin artikelnya bahkan saya gak tau beritanya. Ya mudah mudahan juga itu cuman hoax.

yoon HyunWoon: Udah. Gak jadi dipanggang yaa

kikikyujunmyun: Huwaa mian saya juga gak pingin seperti itu tapi ini emang jalannya. Udah tau kan Taehi itu siapa? Mian baru update

ifa.:Udah jelas?. Lho lho kok Yoochun yang digaplok? Hihi. Iyap benerr. Udah dilanjut

hoshi.:Yun jangan ditendang kasiaan. Udah jelas?

Elzha luv changminnie: Itu juga bukan mau saya, saya jg gak tega tapi ceritanya emang begitu huwaaa. Udah tahu kan Taehi siapa?. Udah dilanjut tapi gak cepet hehe

Dennis Park: Saya sendiri juga geregetan. Udah tau kan gimana reaksinya?. Jangan direbut! Ntar beruang ngamuk

3kjj: Saya juga gak tega buatnya. Sabarr Yun cuman bikin Jae ngakuin cintanya hihi. Udah jelaskan Taehinya? Udah lanjuttt

Hana - Kara: Iya si Yun ahjussi girang. Udahh lurus kan?

Irengiovanny: Iya yun tegaa. Umaa kasiann. Udah lanjuut

Henyani: Masih penasaran? Udah dilanjuut

kim anna shinotsuke: Uwaaah gomawo. Pasti sekarang belum mandi lagi? Hihi. Yun keterlaluan tapi niatnya baik hehe

fuyu cassiopeia: Cubit aja kalau gemes hihi. Hahaha

Taeripark: Huwaa sejak kapan Yun manggil jae dengan kata oppa? Ukenya ganti? Kkk

Lady Ze: Hihi iyaa. Silahkan nikmati mencakar Yunpa hehe

Guest: Hahaa udah dilanjuuut

Vic89:Lhoo jangan dilempar ntar Yun bukannya menghindar malah dipunguti(?) Yun hanya menguji sabar yaa

Guest: Udaah

Guest: Iya jae patah hati, kasihan ckck. Udah lanjuut

ShinJiWoo920202: Cup cup cup jangan sampe nangis. Haha kok yang dicubit sayanya? Udah tahu kan reaksinyaa?

liankim10: Mati-_- hehe


TERIMAKASIH buat yang mau meriview dan TERIMAKASIH juga buat yang nge-fav dan nge-fol.

Maaf kalau chapter ini mengecewakan. Kalau ada yang salah kasih tau saya ya. Typo bertebaran

Oh ya itu Seung Hun bukan Seung Hyun ya, jadi awas keliru.

Saya menerima segala macam kritik tapi tidak dengan kata-kata kasar.

Gomawo