RE=SET—

Empty ideals and fake loves are no good

it's all so stupid I'm laughing

Enam: Acceptance (Penerimaan)

Taman kota Yoroi, Sumigakure

Tiga hari setelah kepergian Sasuke

"Kau masih diincar?"

Toshiro Jinpei mendesah keras, kabut putih langsung terhembus begitu dia membuka mulutnya. Bergidik kedinginan, dia semakin merapatkan kerah mantel di sekeliling leher sambil membatin kesal seharusnya tadi membawa syal.

"Entah. Tapi yang jelas ayah Ino masih belum mau mengerti," dia membalas pertanyaan partnernya yang berambut pirang itu dan seakan menyadari sesuatu, meraih ponsel dari saku mantel di luar kebiasaan hanya untuk melihat layar pesan. Naruto mengangguk lalu menggosok telapak tangannya seolah dengan melakukan itu bisa lebih menghangatkan diri.

"Selamat berjuang, kalau begitu."

"Berkata seolah orang lain saja!"

Dua pemuda ini duduk berjajar dalam diam di salah satu bangku taman dekat lampu penerangan. Saat itu masih peralihan pagi, matahari belum muncul, dan para pekerja yang mabuk masih tersebar di jalanan, menyanyi bersahutan.

"Jam berapa sekarang?" Naruto bergumam di antara suitan dan seruan dua pemabuk yang menggoda gadis pengantar susu.

"Empat lebih lima."

Naruto melempar pandangan kesal pada dua pemabuk itu lalu berdiri dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Telat banget dia!"

"Baru lima menit…."

"Itu lama!"

"Oke, terserah."

"Dingin."

"Dari tadi!" sembur Tou-jin.

"Nggak… beneran dingin," Naruto bergidik sekali lagi dan melihat ke arah barat, "… datang!"

"Mana?" Tou-jin ikut berdiri dan melihat ke barat dengan penasaran namun tidak tampak tanda-tanda ada yang mendekat. Walau begitu dia melihat Naruto bersikeras menatap ke arah itu, hingga….

"Naruto?"

Mereka berdua berbalik arah serentak dan melihat pemuda berkulit pucat berdiri di dekat bangku. Naruto melihat sekilas ke arah barat lagi sebelum menyapa pemuda pucat itu.

"Telat, Sai."

Tou-jin memandang arah barat selama beberapa waktu, bertanya-tanya mengapa Naruto mengarahkan pandangannya ke tempat tersebut kemudian memutuskan untuk menanyakannya nanti dan bergabung dengan Naruto yang sudah berjalan di jalur cornblock taman bersama Sai.

"Dia teman asramaku, Tou-jin," Naruto berkata pelan saat Tou-jin berlari mendekat ke arahnya, Sai hanya mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian Tou-jin baru sadar mereka berjalan menjauhi lampu ketika keadaan sekitar menjadi lebih remang dan sunyi. Dia belum memiliki kesempatan melihat seperti apa tampang Sai, kecuali saat penampakan pertamanya tadi; pucat dan serba hitam.

"Sudah mau cerita, Sai?"

Mereka masih bergerak menyusuri tapak cornblock, merapat di pepohonan, dan berjalan sepelan mungkin. Naruto kembali menambahkan sebelum mendapatkan jawaban, "Jangan bilang Kau kabur dari penjara ya… kalau dilihat dari caramu bertemu denganku sih mungkin iya!"

Tou-jin samar-samar melihat senyuman Sai di antara bayang-bayang ranting.

"Tentu saja aku tidak kabur. Mereka membebaskanku kemarin, kok. Masalahnya sekarang setelah polisi sudah mendapatkan yang mereka inginkan jadi tinggal urusan dengan orang itu…."

"Siapa?" Naruto berhenti mendadak sehingga membuat Tou-jin nyaris menginjak bagian belakang sandal asramanya.

"Orang dari masa lalu. Tapi bukan untuk ini alasanku kemari."

Sai memberi isyarat agar mereka meneruskan berjalan.

"Naruto, kembali ke Konoha. Pergi ke tempat Sarutobi-sensei dan katakan padanya kalau aku tidak baik-baik saja…."

"Katakan saja sendiri! Buktinya Kau juga nggak kenapa-napa kok!"

"Huh. Kalau bisa kulakukan sendiri untuk apa aku repot-repot melihat tampang bodohmu duluan?"

Naruto bertukar pandang pada Tou-jin sebelum menatap tanah.

"Sebenarnya ada apa Sai?"

"Sasuke pergi 'kan?"

Naruto mendongak, melangkah agak lambat agar sejajar dengan Sai.

"Hubungannya?"

"Sarutobi-sensei, Naruto. Aku bukan pihak yang tepat untuk bercerita."

Tou-jin mengawasi tingkah Naruto, baru kali ini dia melihat anak itu gugup.

"Sudah tiga tahun aku nggak ke Konoha,"

"Mungkin sudah berubah banyak," Sai mengiyakan, "…kutekankan kalimat 'sudah berubah banyak' itu. Kau pasti kaget nanti."

"Bagiku sih, sama saja...," Naruto membalas dengan cengiran sedih yang bukan khas—dia, Tou-jin langsung berasumsi begitu, tapi dia memilih bertindak pasif; sebagian besar pertemuan ini samasekali tidak dia mengerti.

"Lihatlah dulu."

Naruto kembali menghentikan langkahnya, "Lalu Kau mau kemana?"

"Tidak kemana-mana. Cuma menunggu ditangkap."

"Oleh dua orang yang sejak tadi bergerak di barat itu?"

Mendadak saja Tou-jin merasa mereka sedang diawasi. Dia tidak tahu ini karena efek perkataan Naruto ataukah karena memang benar ada yang mengawasi mereka.

Ternyata bukan hanya dia saja yang terkejut dengan pernyataan Naruto; melalui bayang-bayang daun dia bisa melihat Sai mengernyit heran,

"Hah?" lalu seakan sadar akan sesuatu yang sangat penting, Sai menyentuh dagunya dengan tangan kanan sementara fokus pandangannya ke arah lain, bergumam sendiri, "… iya, ya… Kau 'kan juga—"

"Juga apa?" bentak Naruto, kelihatannya mulai jengkel, "Dengar ya Sai! Ada dua alasan kenapa aku nggak bakal ke Konoha. Pertama, sesudah Kau cerita apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kedua… aku sudah janji pada Sasuke untuk menunggunya di sini!"

Sai tertawa, "Masih ada acara janji-janjian segala, kalian ini…," lalu memberi isyarat lagi untuk berjalan, "… bagaimana kalau kubilang Sasuke masih akan laamaaa ingat janjinya? Jangan tanya! Kau tahu sendiri dia itu seperti apa…. Nah, jeda itu bisa untuk mengisi waktu luang sebelum Sasuke kembali 'kan?"

Naruto tidak tahu harus membalas apa.

"Kau juga bukan tipe yang mengutamakan sekolah," Sai menambahkan, yang membuat Naruto memasang tampang cemberut dan mengalihkan pembicaraan.

"Siapa orang-orang ini?"

"Maksudmu?"

"Yang mengawasi kita!"

"Ya itu tadi. Penangkapku."

"Kau lari dari mereka?"

"Sebaliknya. Aku yang lari menuju mereka."

"Ini alasanmu memberitahu Sarutobi-sensei? Karena nggak bisa menghindar dari mereka?"

Sudut bibir Sai berkedut, tapi Naruto tampaknya tidak sadar.

"Berarti jawabanmu 'iya'!"

"Dianggap begitu juga tidak apa-apa. Aku sudah mengatakannya kok," untuk pertama kalinya Sai berpandangan dengan Tou-jin, tapi dia hanya tersenyum dan bertanya pelan, "Ngomong-ngomong sekarang jam berapa?"

Tou-jin menjawab setelah beberapa saat terpaku, dia merogoh mantelnya dan menghidupkan layar ponsel. "Lima kurang—,"

Tepat setelah dia menutup mulut, seseorang berteriak dari jauh disusul bunyi gonggongan anjing beberapa saat kemudian.

"Sudah waktunya…."

"Kali ini apa lagi?" bentak Naruto, masih belum puas dengan arah pertemuan mereka.

Sai berkata sabar, "Kereta ke pelabuhan Ame berangkat jam setengah enam jadi aku harus bergegas. Oh iya… titip salam untuk semua di yayasan."

Setelah melambaikan tangannya asal-asalan, Sai melangkah pelan ke arah jalan bahkan sebelum Naruto sempat berargumen. Sosok pucatnya dilatarbelakangi seleret sinar di puncak pohon terdekat. Naruto langsung bergumam pada Tou-jin ketika Sai menghilang di gang antar-gedung, "Liburan punya rencana kemana?"

Tou-jin menjawab dengan gelengan muram.

Sai berhenti untuk melihat keadaan sekitarnya setelah berbelok di sudut mati pandangan Naruto. Gang itu masih gelap, hanya neon berpenerangan redup dari jendela di salah satu gedung saja yang membuatnya bisa menghindar dari tumpukan sampah basah.

Dia merapatkan tubuh di lekukan gedung selama beberapa saat. Dari tempat ini dia bisa mengawasi Naruto dan Tou-jin berjalan di antara pepohonan taman.

Sai tahu tindakan yang paling tepat untuk saat ini adalah menunggu… dan tebakannya tepat. Dia tidak perlu menunggu lebih lama lagi.

"Sai 'kan?"

Dia merasakan hentakan déjà vu ketika suara baritone itu mengucap namanya. Namun dia tetap mengangguk dan tidak melakukan perlawanan seperti kejadian sebelum ini.

"Aku tahu kalian. "

Sosok yang menyapa Sai agak lebih pendek daripada sosok lain di belakang. Dua figur itu melangkah mendekati Sai sehingga dia bisa mengamati dengan jelas bahwa keduanya laki-laki walaupun si penyapa ternyata berambut panjang.

"Itu lebih baik," si rambut panjang lebih mendekat lagi sehingga tepat berada di lingkaran cahaya dari neon di atas. Sai sedikit bergidik saat menyadari kedua mata pemuda itu menyorotnya dengan tatapan kelabu dingin, tak berpupil. Dia jarang bergidik tanpa sebab… dan bukannya dia mengharap sensasi seperti itu di saat seperti ini. Itu karena dua pasang mata kelabu milik pemuda tersebut….

Untuk saat ini Sai tidak mau memikirkannya. Masih banyak hal yang harus dia kerjakan; gentar hanya karena warna abu-abu bisa membuatnya ditertawakan.

"Aku tahu kalian tapi tidak tahu nama kalian."

Pemuda di balik punggung si rambut panjang hendak membuka mulut, tapi Sai memotongnya. "Ah, sudahlah. Nama itu…," dia melangkah maju menyambut, "…tidak penting."

Tapi dia tetap mendapatkan jawaban. Jawaban yang tegas dan khidmat saat mengatakan dua suku kata, "Rock Lee."

Sai iri.

Dia berharap bisa mengucapkan namanya dengan nada bangga seperti Rock Lee ini.

-ii-

Kelas Anthropologi dan Budaya, Sekolah swasta yayasan Sumi

Sumigakure. Hari yang sama

"Jawaban untuk soal ini sih bisa dikarang saja…."

Saat itu mereka sedang berada dalam materi pembelajaran terhebat sepanjang semester. Selama satu setengah jam para siswa dibombardir dengan informasi melelahkan yang mencakup budi pekerti dan rasionalitas, sementara sisa waktu dari jam pelajaran digunakan untuk kuis yang sama-tidak-rasional-nya [A/N: Walaupun tentu saja materinya mengenai rasionalitas... memang agak rancu. Tapi inilah sarkasm].

Naruto mengangkat pulpen dalam posisi menyerah sambil melempar pandang mengenaskan pada perkataan Tou-jin.

"Aku sudah tidak bisa lagi…," lalu dia memandang kertas jawabannya yang baru seperempat ditulisi; termasuk tulisan nama serta tanggal kuis.

Tou-jin yang duduk semeja di seberang Naruto hanya mengangkat bahu. "Modalnya cuma kemampuan bahasa. Baca saja punyaku, nih… nanti kembangkan sendiri."

"Nggak bisa,"

"Kenapa?"

"Aku ingin tahu sejauh mana kemampuanku saat menyelesaikan masalah sosial."

Tou-jin memandang Naruto seolah baru pertama kali melihatnya secara utuh; pirang, dengan tatapan mata biru yang… sedih?

"Kau terlalu serius menanggapi kuis ini."

Naruto memutar pulpen di tangan kanan sementara tangan kirinya digunakan untuk menyangga kepala. masih memandang lembar jawaban. Kelihatannya memikirkan sesuatu.

"Sai…," dia bergumam, cukup keras untuk didengarkan Tou-jin, "Kalau ke pelabuhan Ame itu berarti kemungkinan besar mau ke Mizu, bisa juga ke kepulauan Kiri ya?"

"Mungkin juga," Tou-jin menjawab sambil lalu.

"Ujian tengah semester dimulai besok?"

Tou-jin hanya mengangguk.

"Keluargamu tinggal di Ame, 'kan?"

"Iya."

"Liburan nanti Kau ke sana, dan aku ikut denganmu," kata Naruto setelah memberi titik pada kalimat jawabannya.

"Ha?"

"Maksudku. Kalau aku belum pulang sebelum ujian susulan berakhir, Kau harus mengatakan pada semua orang kalau aku main ke rumahmu selama liburan."

"Kau mau pergi…," sambut Tou-jin tanpa bisa menahan nada menuduh di dalamnya, "… ke tempat Sai itu, walau sudah diingatkan untuk ke arah sebaliknya, ke Konoha?"

Naruto hanya menyeringai, yang membuat Tou-jin mau-tak mau mengangkat bahu dan berkata, "Sudah kubilang, nggak ada lagi yang bisa kulakukan soal absensi kalian!" lalu menambahkan, "Sebenarnya aku nggak berencana pulang semester ini jadi aku nggak bisa pakai alasanmu itu."

-ii-