Rina: akhirnya, chapter 7!

Muth: mari kembali menulis untuk melanjutkannya!

Rina: kami sungguh minta maaf atas beberapa kegajean di chapter ini :)

Muth: baca saja ya!


Elena eh, Eliza tersenyum senang. Atau mungkin misterius, seperti Monalisa. Lalu, Feliciano berkata, "Untuk hadiahnya, kami menyediakan seruling yang digunakan untuk menyodok author, piano yang digunakan untuk melempari author, dan pasta 3 kilo dari saya. Karena Ivan termasuk lawan yang tangguh, dan belum ada yang berhasil mengalahkannya (berbisik: kecuali Natalia), bagi para penonton dipersilahkan untuk memberikan hadiah masing-masing."

Para penonton mengantri memberikan hadiah mereka. Kiku yang berada di depan mulai mewawancara Roderich. Begini wawancara (gaje)-nya:

Kiku: "Baik, sekarang kita bersama dengan tuan Roderich Edelstein. Bagaimana rasanya mengalahkan tuan Ivan Braginski?"

Roderich: "Sangat menyenangkan sekali bisa mengalahkan orang sekuat dia."

Kiku: "Bagaimana cara anda belajar tehnik-tehnik untuk mengalahkan tuan Ivan?"

Roderich: "Err… latihan..?"

Kiku: "Sejak kapan anda latihan?"

Roderich: "Errrrrrr… *merasa malu dikit gara-gara Cuma latihan selama, kira-kira 3 jam* tadi pagi." (Muth: tumben ni anak jujur aja, biasanya kan jaim *emang jam karate sedikit termasuk jaim?*)

Kiku: "*merasa agak bingung* Terimakasih atas waktunya. Ini hadiah dari saya."

Kiku menyerahkan sekotak besar mochi, sushi, dan beberapa makanan jepang lainnya. Ia juga memberikan dua lembar tiket. "Ini tiket liburan ke pemandian air panas di jepang. Berlaku selamanya, asal nggak lecek." Katanya. Dalam hati, Roderich merasa bingung dengan persyaratan itu. "Terimakasih, ya." Kata Roderich tenang. "Sama-sama." Kata kiku lebih tenang lagi (?).

Alfred memberikan 10 hamburger dan cola ukuran jumbo (mendem deh Roderichnya…). Arthur memberikan scone 5 kardus, serta teh darjeeling dan earl grey. Yao memberikan boneka hello kitty. Francis memberikan bunga mawar, anggur, dan buah anggur, sekaligus menawarkan "jasanya" pada Roderich, yang jelas-jelas ditolak. Ludwig, dia hanya memberikan wurst banyak-banyak dan jam kukuk ala gilbird.

Meskipun tidak terlalu rela, Natalia memberikan pisaunya. Berwald memberikan 30 kaleng surströmming. Tino memberikan HP Nokia terbaru (Muth dan Rina: kasih ke kami aja… *plaak). Eduard memberikan laptop dan modem internet. Toris dan Raivis yang bingung mau ngasih apa, jadi mereka hanya memberikan gerobak (Toris dan Raivis: hanya? HANYA? Cape tau bikinnya…) untuk membawa semua barang.

Nation-tan lain juga memberikan hadiah mereka masing-masing. Sementara itu, Eliza ngacir entah kemana. Duo author ga tau *dilempar tomat busuk* Nethere memberikan bunga tulip banyak-banyak. Bella memberikan coklat dan wafel berkilo-kilo. Roderich pun kembali membawa segerobak penuh hadiah.

Nah, sebenarnya, Eliza pergi ke toko biola yang letaknya di kota. Dengan lari secepat *ye*hiel* 2*—coreet!— atlet sprint, dia lari ke sana dan membeli sebuah biola yang bernama Stradivarius—coreet!—apa aja namanya yang penting biola. Lalu, dia pulang dengan kecepatan lari yang sama, menyembunyikan biolanya, dan melepas penyamarannya, dan menunggu Roderich pulang.

"Eliza, aku pulang." Kata Roderich. "Kenapa kau lama sekali?" tanya Eliza (agak retoris memang). "Tadi aku ketemu Ivan, Ivan braginski yang itu tuh. Saat bertemu dengannya, dia malah mengeluarkan pipa aer kesayangannya dan bersiap memukulku. Tiba-tiba, feliciano muncul secara random, membawa TOA colongan dari SD duo author, dan berteriak-teriak gaje mengajak orang-orang menonton duel antara aku dan Ivan. Orang-orang pun berdatangan dan membayar 1 dolar pada Feli. Dasar tuh anak, mengambil kesempatan dalam kesempitan." Jelas Roderich yang ujungnya marah-marah sendiri.

"Lalu?" tanya Eliza. "Lalu? Ya, duelnya dimulai. Ivan menyerang dengan agresif dan cepat. Saat itu aku hanya bisa limbo, lompat, atau jatuh. Si antonio yang jadi komentator malah berteriak-teriak mendukungku. Seneng juga sih, didukung begitu. Tapi, mungkin itu juga karena lebih baik mendukungku daripada Ivan. Lalu, saat aku menemukan kesempatan, kupukul dia pakai wajanmu. Lalu otomatis, dia…" "Cukup. Aku sudah tahu kok." Kata Eliza mencegat. "Apa?" tanya Roderich bingung. "Ya, aku kesana. Kalau kau sempat lihat seseorang yang mirip Y*k*ko K*do dari D*tek*i* C*na* itu aku."katanya.

"Jadi, itu kau?" tanya Roderich tidak percaya. "Ya… aku awalnya kesana hanya untuk mencarimu. Tapi, karena aku tertarik dengan duelnya, aku menyamar jadi elena dan ikut menonton. Tadi itu sudah cukup bagus. Nanti sambil terus berjalan, kita latihan lagi, ya." Kata Eliza. Lalu dia mengambilkan semangkuk sup (sup mulu ya?) untuk Roderich.

Setelah makan, Eliza bertanya, "Ada apa dengan barang-barang di belakangmu?" agak retoris (lagi) memang, bukannya dia juga menyaksikan waktu Roderich dibanjiri hadiah itu. "Oh, itu hadiah yang diberikan para penonton." "Sampai kuda juga dikasih?" tanya Eliza bingung. "Ya, itu dari Feliks. Kalau gerobaknya itu dari Toris dan raivis." Kata Roderich.

"Ah, aku hampir lupa. Aku juga menyiapkan sesuatu untukmu." Kata Eliza. Lalu, dia sibuk membongkar tempat ia menyembunyikan biola. "Err… ini untukmu." Kata Eliza sambil menyerahkan biolanya.

"Makasih, ya." Kata Roderich. Lalu hening (Muth: perasaan hening mulu ya? *ditiban koto*). Tiba-tiba, Roderich mencium pipi Eliza. Alhasil, Eliza pun blushing semerah tomatnya antonio (dan romano jika dihitung).

Lalu, muncullah sekitar 40-an nation-tan dari balik semak-semak di sekitar mereka. "Cieeee…. Udah jadian… minta PJ-nya dong…" koor ke-40-an nation-tan itu bersamaan. "Eliza, siap?" tanya Roderich. Eliza mengangguk. HAIYYAAH… dan para nation-tan itu tepar dengan tak elitnya.

Setelah para nation-tan tepar, Roderich dan Eliza memindahkan para nation-tan itu ke tengah hutan yang lebih dalam. Setelah selesai memindahkan nation-tan ke tengah hutan, mereka kembali ke gubuk yang mereka bangun, lalu tidur karena besok mereka harus melanjutkan perjalanan.

Esoknya… cip cip cip ciiiip! Gilbird berkicau (bukan mengeong). Eliza pun bangun dan menyiapkan sarapan untuk Roderich dan dirinya. Awalnya, Eliza hendak memasak sup lagi, tapi karena ada pasta dari feliciano juga karena udah bosen dengan sup, akhirnya Eliza memasak pasta dari feli. Pasta dengan saus dari tomat segar yang diberi campuran daging rusa.

Setelah selesai memasak, Eliza membangunkan Roderich. "Roderich, bangun! Kalo nggak bangun, sarapan bagianmu kumakan lho…" kata Eliza. "Hoaah… 15 menit lagi ya Eliza. Mimpiku lagi indah nih…" jawab Roderich dalam tidurnya. "Ya udah boleh-boleh aja. Tapi, kalo kamu nggak bangun makan sarapanmu kumakan, dan kamu kutinggal. Ok?" ancam Eliza dengan lembut. "Yaa… jangan ditinggal!" teriak Roderich panik. "Hihi… udah ah. Cepet makan sana." Suruh Eliza sambil mentodorkan semangkuk pasta. Awalnya Roderich nggak mau makan pasta, tapi mau gimana lagi, adanya itu. Roderich pun makan dengan ogah-ogahan.

Sebenarnya, Roderich makan dengan ogah-ogahan bukan karena dia nggak mau makan pasta. Tapi, karena mimpi yang paling indah di hidupnya terpotong. Padahal mimpiku tadi bagus banget. Kenapa mesti bangun sekarang sih? Huuh… pikir Roderich. Mau tau nggak mimpinya Roderich? Roderich itu mimpi hampir ciuman sama Eliza. Tapi saat Eliza ngebangunin Roderich, mimpinya belum selesai. Makanya tadi Roderich minta 15 menit lagi buat menyelesaikan mimpi itu.

Roderich sebenarnya ingin menyatakan perasaannya pada Eliza. tapi Roderich terlalu malu untuk melakukannya. Akhirnya Roderich memutuskan untuk lempar koin. Kebetulan sekali, Roderich membawa beberapa koin. Roderich mangambil 1 buah koin. "Baik, angka berarti aku ngaku. Kalau bunga berarti nggak. Mulai!" seru Roderich pada dirinya sendiri. Roderich pun melempar koin itu. koin itu jatuh tepat di punggung tangan kirinya. Roderich langsung menutupnya dengan telapak tangan kanannya. Begitu dilihat, ternyata adalah angka. "Mampus aku." Kata Roderich. Roderich langsung membulatkan tekad. Dengan berani, Roderich berjalan ke arah Eliza

"Roderich? Kau belum siap? Cepatlah waktu kita tinggal setengah jam lagi." Kata Eliza sambil melirik jam tangannya. Itu adalah hadiah dari seorang nation-tan entah siapa. "Emm… e-Eliza, aku mau bilang sesuatu padamu." Kata Roderich dengan agak gugup. "Apa itu?" tanya Eliza sambil duduk di potongan batang pohon. "A-aku suka…" "apa? kamu luka?" tanya Eliza yang salah dengar kata suka menjadi luka. "Ti-tidak kok. Tenang saja." Jawab Roderich dengan sigap. Tapi, usaha itu tidak berhasil; Eliza melihat sebuah luka yang lumayan panjang. "Kau, tak apa-apa kan, Roderich? Sudahlah, dulu aku juga pernah kayak begitu. Ayo, waktu kita bentar lagi nih." Kata Eliza.

Mereka segera mangikatkan gerobak itu ke kuda yang diberikan oleh Feliks. Mereka lalu menaiki kuda itu. di jalan, mereka agak kesulitan karena jalannya sangat sulit dilalui, mereka akhirnya menuntun kudanya. Setelah lama ber jalan, mereka bertemu dengan Ivan dan Trio Baltik.

"Tebak siapa yang akan bergabung denganku da…" kata Ivan dengan aura item berkoar-koar di belakangnya. Ivan sedang memegang pipa aer miliknya. Sementara Toris memegang tali. "Mmm… Eliza, sekarang jam berapa?" tanya Roderich. "Jam 8 pagi. Memangnya kenapa?" tanya Eliza. "Wah… kita harus pake jalan tercepat nih." Kata Roderich. "Apa itu?" "KABUUR!" teriak Roderich. Mereka pun langsung naik manunggang kuda dan pergi kabur cepat-cepat.


Muth: hadoh, kayaknya, ni chapter paling gaje sejauh ini. aku merasakan aura gaje yang sangat besar... (padahal aura hitamnya Ivan)

Rina: hmm... iya juga ya? ya sudah, maaf untuk typo(s), thanks for reading, RnR

Natalia: jangan di-review ya, readers, soalnya, ivan janji bakal nikahin aku kalau ceritanya ngga di-review... *aura hitam berkoar-koar*

Ivan: HUAAAAAA! WAJIB DI-REVIEW! *cabut keliling dunia dengan kecepatan cahaya*

Muth: hmmm... mereka selalu begitu, ya?

Rina: ya.