Inside The Ramen
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Inside The Ramen © dheeviefornaruto19
AU, OoC, typos?
.
.
Happy reading!
.
.
Seven: Stop blaming yourself
Hinata terbangun oleh sinar matahari yang berhasil menerobos masuk dan menyoroti wajahnya. Ia membuka matanya dan memandang sekeliling. Tentu saja masih di motel kemarin. Bedanya sekarang sudah pagi dan sangat sepi. Ke mana orang itu? batin Hinata sambil menatap lantai kamar yang kosong.
Gadis itu mengalihkan pandangan ke meja kecil di samping tempat tidurnya. Ada sebuah susu kemasan rasa cokelat dengan memo di sebelahnya.
Aku tidak tahu kau suka rasa apa, jadi kubelikan saja yang kusuka. -Naruto-
Hinata mendengus tak percaya. Tapi tetap diambilnya susu itu dan kemudian meminumnya.
Tiga puluh menit kemudian, Hinata telah selesai bersiap-siap untuk meninggalkan motel. Ia mengecek jam tangannya dan melihat kalau saat itu masih sangat pagi, sehingga ia pun masih punya waktu ke makam ayahnya. Hinata memutuskan untuk tidak mencari tahu keberadaan Naruto karena cowok itu bisa saja mengganggunya lagi seperti kemarin.
Area pemakaman Osaka terletak agak jauh dari motel, tapi Hinata memilih jalan kaki daripada naik taksi atau bus. Selain menghemat uangnya, Hinata bisa bersantai menikmati pemandangan di Osaka.
Sebelumnya ia mengganjal perutnya dulu di sebuah restoran masakan Cina yang letaknya di depan motel. Dan tak urung gadis itu memikirkan Naruto juga. Apa dia sudah makan? Pergi ke mana dia sepagi ini? batinnya khawatir.
Sembari melanjutkan perjalanan, Hinata mulai berpikir bahwa tidak ada yang lebih baik daripada kampung halaman tempat masa kecilnya berlabuh. Hinata kangen semua ini. Ia rindu akan kehangatan tempat ini, tempat dimana ia belum menjadi Hinata yang sekarang, Hinata yang masih berusaha mengais kembali emosinya.
Tapi Hinata merasa kalau kenangannya banyak sekali yang telah terkikis.
Sebab ia merasa asing di sini.
Ketika mengingat ayahnya, dada Hinata serasa sesak. Tanpa sadar ia menghela napas di tengah langkahnya, mulai mengingat memori yang seharusnya ia lupakan.
Tak terasa ia mulai menjauh dari pusat kota dan mendekati area pemakaman yang lebih terisolir. Jalan di sana makin menanjak, seingat Hinata. Rumputnya juga lebih hijau dibandingkan dulu. Rumah kecil di depan pemakaman yang seingatnya kusam dan tak menarik, kini telah menjadi sebuah rumah berbata dengan warna hijau yang asri. Banyak sekali yang berubah sejak kepergiannya.
Makam ayahnya lebih jauh, ia perlu melewati sebuah jalan setapak tandus yang menanjak agar sampai ke sana. Sebutir peluh mengalir di pelipisnya dan ia segera mengusapnya.
"Ji-san, apakah aku terlalu berlebihan?"
Langkah Hinata terhenti ketika mendengar suara tadi. Samar-samar, dari kejauhan. Dan suara itu terdengar tak asing.
Gadis itu kembali melangkah lagi dan ketika ia sampai di ujung jalan tandus itu, matanya langsung tertumbuk ke depan.
Mau apa Naruto di makam ayah? pikir Hinata bingung. Ia mengalihkan pandangan ke pusara dan melihat ada seikat bunga melati di sana. Hinata tetap tidak beranjak dan memilih untuk terus mendengarkan Naruto.
"Aku... tidak ingin Hinata menganggapku sebagai seseorang yang tidak jujur," ucap Naruto lagi. Cowok itu masih belum sadar akan kehadiran Hinata.
Hinata mengerutkan sebelah alisnya.
"Sepuluh tahun aku mencarinya dan... aku berhasil menemukan teman lamaku."
Kerutan Hinata menghilang. Matanya sedikit melebar, mencoba mencerna ucapan Naruto.
Apanya yang sepuluh tahun?
Teman lama?
Belum sempat Hinata berpikir lebih jauh, Naruto telah mengucapkan sesuatu yang membuatnya menahan napas,
"Ia mungkin tidak ingat siapa aku. Tapi aku akan selalu mengingat gadis kecil pemalu yang cengeng dan culun itu. Ya, gadis lucu itu."
Hinata merasa kakinya tertancap di tanah dan tak mampu bergerak.
Matanya mulai sembab.
Ia merasa ada sesuatu yang berputar cepat dalam kepalanya.
Naruto tersenyum tulus. "Ji-san... ia tumbuh menjadi gadis yang cantik..."
"Naruto."
Panggilan pelan itu membuat Naruto menghentikan ucapannya. Pemuda itu membalikkan badannya dan melihat Hinata berdiri jauh darinya. Pandangan gadis itu menyendu, menatapnya dengan sejuta pertanyaan yang mungkin sukar untuk dijawab olehnya.
Mereka saling menatap.
"Sejak kapan kau di sana?" tanya Naruto tak percaya.
Hinata menatap Naruto, sulit memercayai bahwa sosok pemuda di hadapannya itu adalah orang yang pernah dikenalnya.
"Kau Naruto... yang dulu sering berkelahi itu? Si ranking terakhir?" tanyanya memastikan, tak peduli dengan kekagetan Naruto.
Mendengarnya, Naruto langsung tersenyum miris. "Apa hanya itu yang kau ingat dariku? Apa kau tidak ingat kalau dulu gadis-gadis di sekolah menyukaiku?"
Hinata sama sekali tidak mau tersenyum mendengarnya. Hatinya sesak. Ia merasa sangat tolol, mungkin karena dibohongi lagi. Tapi entah kenapa ia tidak bisa marah. Seakan-akan ada yang menyumbat amarah itu, memilih untuk dipendam.
"Aku... bingung."
Bukan aku yang seharusnya marah, batin Hinata dalam hati.
Naruto berdiri tak tenang di tempatnya, terdiam.
"Bagaimana kau tahu makam ayahku di sini? Tidak...," potong Hinata cepat. "Kenapa... kau di sini?'
Desiran angin yang berhembus membuat suasana seakan menisbi.
"Apa kau mau ikut aku ke akademi?" tanya Naruto kemudian.
"Akademi?"
Agak lama terdiam, Hinata akhirnya mengangguk. Walau sebenarnya ia tidak yakin.
.
.
Mungkin Akademi Osaka adalah salah satu tempat yang Hinata lupakan sejak ia masuk SMP. Kenangan masa kecilnya, tentu semua berawal dari sini. Hinata tahu kalau dirinya bukan pengingat yang baik, namun ia tidak menyangka kalau ia akan selupa ini. Baginya, sekolah kanak-kanak ini terlihat seperti gedung asing, namun tetap familiar.
Hinata berjalan dengan Naruto di sampingnya, masuk ke area halaman akademi yang luas dan sepi. Naruto sendiri terlihat senang dapat kembali ke akademi ini.
Seorang laki-laki tua terihat sedang menyapu dedaunan di dekat gerbang masuk. Beberapa ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dan masih banyak mainan lainnya, terletak rapi dengan warna-warna menarik.
"Apa kau ingat semua ini?" tanya Naruto pada Hinata yang terlihat bingung.
Gadis itu terdiam. Seharusnya ini menjadi tempat yang membuat ingatannya segar kembali sehingga ia bisa bernostalgia. Tapi pintu hatinya seakan terkunci.
"Aku... tidak tahu harus mulai dari mana," ucap Naruto kemudian. "Mungkin sudah saatnya aku berterus terang, tapi aku takut kalau kau akan pergi sebelum mendengar penjelasanku."
Hinata menghela napas dan berhenti melangkah. Naruto menatap Hinata dengan was-was, menunggu reaksi gadis itu.
"Apa lagi yang bisa kulakukan selain pergi dan melupakannya?" sahut gadis itu, termenung menatap lurus ke depan. Lalu ia menoleh pada Naruto dan berkata, "Ceritakan saja. Maka aku bisa memutuskan... bagaimana aku menghadapimu."
Naruto memutar bola matanya, bingung. "Mulai dari mana aku menjelaskannya?"
"Apa aku perlu bertanya?" ujar Hinata, yang disambut anggukan kecil dari Naruto.
"Baiklah. Sejak kapan kau mengenalku?"
Naruto menghela napas sebelum menjawab. "Sejak aku melihatmu di Fujitari. Saat itu kau sedang kembali dari kota. Aku langsung mengenalimu dari rambut gelapmu yang panjang... juga iris kelabumu. Akhirnya aku mengikutimu dan—"
"Tapi kau malah mencuri ramen?" potong Hinata cepat. "Dan membuatku tidak mengenalmu dengan itu?"
Naruto langsung terdiam.
Tanpa sadar jari-jari Hinata terkepal erat dan ia segera melayangkan sebuah pukulan ke dada pemuda itu. Naruto sangat kaget dan langsung memandangi Hinata dengan bingung.
"Dasar... Jadi kau mau membuatku terlihat kejam, begitu?" ucap Hinata dengan mata yang mulai memerah. "Apa kau tidak punya harga diri? Kenapa kau melakukan itu? Kau membuatku terlihat sangat jahat karena telah bersikap buruk padamu saat itu!"
Naruto langsung tidak tega mendengarnya. "Aku tidak bermaksud begitu..."
"Lalu kenapa kau tidak memberitahu kalau kau adalah teman masa kecilku, si Naruto Uzumaki yang berisik itu? Sekarang aku merasa kalau diriku ini sangat—"
Suaranya yang telah meninggi terhenti karena ia mulai terisak.
"Aku sama sekali tidak mau memiliki IQ tinggi jika akhirnya aku melupakan satu per satu orang yang dulu mengisi hari-hariku! (Hinata juga memikirkan Sasuke kala mengatakan hal ini.) Ingatanku sudah terkubur selamanya, di bawah buku-buku tebal yang belum seharusnya kupelajari, di bawah goresan pena yang mungkin terlalu banyak rumus trigonometri... dan saat itu kau tidak mau bilang padaku kalau kau teman lamaku, begitu?!"
Naruto menggeleng.
"Aku memang jahat... karena tidak mengenalmu..."
Kali ini Hinata terdiam, membiarkan air matanya jatuh.
Hinata sadar kalau ia sangat jahat pada Naruto.
Kenapa ia baru ingat sekarang? Naruto, Naruto Uzumaki... cowok pendek hiperaktif yang dulu selalu kena hukum guru-guru di akademi karena kebandelannya, namun mau berteman dengan si cengeng Hinata yang dulu sering diejek karena penampilan culunnya.
Hinata hanya ingat kala ia baru kelas satu dulu, saat itu musim gugur telah berakhir dan cuaca sangat dingin. Hinata kecil duduk sendirian di depan gerbang akademi, menunggu ayahnya yang belum juga tiba. Kemudian ia sadar ada seseorang yang mengalungkan sebuah rajutan syal merah ke lehernya dan menemukan sepasang mata biru safir menatapnya ceria, meneduhi hatinya yang kesepian.
"Aku sangat bodoh... karena tidak mengenali matamu itu," lanjut Hinata sedih. "Kalau kau marah, pukul saja aku. Aku tidak pantas disebut sebagai temanmu."
Naruto mengangkat tangannya dan kemudian memegangi kedua bahu Hinata. Gadis itu masih belum mau menatapnya. Di wajahnya terpancar kesedihan dan penyesalan yang jelas.
"Kau tahu kenapa aku menyimpan semua ini darimu?" kata Naruto dengan lembut.
Hinata masih bergeming.
"Karena aku takut... kau akan tetap menganggapku sebagai teman lamamu."
Barulah gadis itu menatap Naruto.
"Jika kau hanya menerima kehadiranku sebagai temanmu, maka aku tidak akan punya kesempatan untuk meminta lebih."
"Apa maksudmu?" tanya Hinata.
Naruto tersenyum. "Saat kita lulus akademi dan berpisah, impianku adalah kembali menemuimu. Aku ingin kau melihatku tumbuh menjadi seorang pria sejati, bukan melihatku sebagai sosok teman yang kekanakan dan tidak dewasa."
Hinata menjadi kesal. Ia kembali memukul dada Naruto. "Bodoh! Jadi maksudmu aku ini tidak punya perasaan?" teriak gadis itu.
Memukul lagi.
"Masa aku tega mengabaikan teman lamaku hanya karena ia masih seseorang yang kekanakan dan tidak dewasa? Apa kau tahu seberapa sakitnya hatiku ket—?!"
"Aku ingin terlihat baik di hadapanmu karena aku menyukaimu!" potong Naruto lantang.
Napas Hinata tercekat. Tangannya membeku di udara, bergetar perlahan. Netranya memandangi Naruto tanpa berkedip, membuat setetes air mata kembali mengalir dari sudut matanya.
"Aku menyukaimu sejak dulu, apa kau masih tidak mengerti? Aku ingin kau memandangku sebagai orang asing yang kemudian bisa kau cintai, bukan sebagai sahabat lama yang ingin kau temui! Sepuluh tahun ini... kumohon... jangan buat semua yang kulakukan sia-sia, Hinata," lanjut Naruto yang makin kuat meremas bahu Hinata.
Hinata masih terdiam, membuat Naruto kehabisan kata-kata untuk menjelaskan lebih jauh. Percuma saja. Mungkin semuanya akan berakhir dengan Hinata yang terus menyalahkan dirinya sendiri dan Naruto akan meninggalkan gadis itu dengan sia-sia selamanya.
"Kau mungkin lupa, tapi kau pernah bilang kalau kau tidak akan pernah menganggap lebih seorang teman. Itulah kenapa aku lebih baik menjadi orang yang tidak kau kenal. Agar kau bisa menyukaiku tanpa perasaan tertekan atau bersalah."
Tak tahu lagi ingin berkata apa, Naruto melepaskan kedua tangannya dari bahu Hinata dan hendak berjalan pergi, namun...
Puk.
Sebuah sentuhan di bahu kanan Naruto membuatnya menghentikan langkah. Hinata telah meletakkan keningnya, bersandar di pundaknya.
"Aku tidak mengerti..."
Suaranya begitu parau.
"Lima menit... tidak. Sepuluh menit saja." Hinata pun memejamkan matanya. "Walau tidak sebanding dengan sepuluh tahun yang telah kau gunakan untuk mencariku, tapi...," ucap gadis itu getir,
"Maafkanlah aku... karena melupakanmu."
Naruto bahkan tidak sadar kalau air matanya telah jatuh dengan sendirinya, tanpa dapat ia cegah.
Mendadak perasaannya hampa.
Sebelah tangan Naruto terangkat dan menyentuh punggung Hinata, menepuknya lembut agar gadis itu tenang.
Tapi Hinata masih terisak.
.
.
.
.
Fujitari, 07.19 p.m.
Kedai sudah tutup sejak sejam yang lalu dan ibu Hinata hampir menutup pintu depan ketika Hinata mencegatnya.
"Kenapa? Apa kau menunggu seseorang?"
Hinata menggeleng salah tingkah. "Ini kan belum larut, jadi biarkan saja dulu."
Walau sedikit heran, ibunya mengangguk juga. "Tapi jaga kedai ya, jangan sampai kecolongan."
Kali ini Hinata tersenyum mendengarnya.
Gadis itu duduk di salah satu bangku yang menghadap ke pintu kedai dan mulai termenung. Hari ini pikirannya tidak menjadi lebih baik, malah bertambah kusut sejak mendengar pengakuan Naruto akan identitasnya yang sebenarnya.
Hinata menghela napas. Ia sudah tidak tahu berapa banyak helaan napasnya yang keluar belakangan ini, namun rasanya kalau tidak dikeluarkan memang bikin sesak.
Terlebih ketika ia ingat ucapan Naruto yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang hingga saat ini,
"... karena aku menyukaimu, Hinata. Sejak dulu, sepuluh tahun yang lalu."
"Aku ingin kau memandangku sebagai orang asing yang kemudian bisa kau cintai, bukan sebagai sahabat lama yang ingin kau temui!"
Matanya kembali basah.
"Bodoh... Dia memang tidak berubah," gumam Hinata sedih. "Kalau memang dia ingin aku menyukainya, ia tidak perlu untuk tidak memberitahuku semua itu," lanjutnya menyesal. Menyesal karena mereka berdua ternyata sama saja, bodoh jika menyangkut perasaan.
Hinata sebenarnya tidak tahu kenapa ia sekarang duduk di sini. Ia hanya ingin. Dan untuk pertama kalinya ia merasa sangat nyaman tidak berada di kamarnya.
Sudah hampir seminggu semenjak mereka bicara di Osaka dan setelahnya, Naruto bahkan belum menampakkan batang hidungnya di depan Hinata. Apa ia menghindar? Karena kecewa? Jelas. Bahkan sampai sekarang rasa bersalah Hinata belum juga hilang.
"Permisi, apa kau masih menjual ramen?"
Hinata menjawab tanpa menoleh. "Maaf, kami sudah tutup."
"Begitu kah? Bagaimana kalau aku ini teman lamamu?"
Deg. Tubuh Hinata menegang. Ketika ia mengangkat kepalanya, ia melihat Sasuke berdiri di pintu kedai dengan seulas senyum tipis.
"Oh... Sasuke-senpai. Maaf, ramen kami benar-benar sudah habis," ucap Hinata menyesal.
Sasuke menggeleng. "Sudahlah, aku tidak serius. Kau tidak ingin diganggu ya? Tapi ada yang harus kukatakan."
Hinata tertegun. "Tidak kok. Silakan duduk, Senpai," kata Hinata sambil menunjuk bangku di depannya.
Sasuke berjalan masuk sambil memandangi kedai ramen Hinata. Setelah pemuda itu duduk, Hinata langsung menanyakan maksud kedatangan Sasuke.
"Aku akan langsung saja," jawab Sasuke. "Si kuning itu, maksudku Naruto..."
Mata Hinata melebar sedikit.
"Sepertinya ia salah paham pada hubungan kita."
"Salah paham?" ulang Hinata bingung.
"Aku berkali-kali mendapati dirinya mengawasi kita jika sedang berbicara. Sepertinya ia menganggap kalau aku ini menyukaimu atau semacamnya," jelas Sasuke yang terlihat kesal. "Jelas-jelas ia menyukaimu, tapi ia sama sekali tidak mau bertindak untuk mendekatimu dan hanya bisa mengomeliku."
Hinata terpekur. "Senpai juga tahu kalau dia... menyukaiku?"
"Itu sangat jelas dari wajah dan tingkah lakunya jika di dekatmu. Aku sih tidak masalah jika ia menyukaimu, tapi tolong beritahu dia agar tidak bersikap menyebalkan. Sepertinya ia menganggapku sebagai rivalnya."
Dan Hinata pun tergelak mendengarnya.
"Tapi, Senpai, aku yakin kau ke sini... bukan untuk membicarakan Naruto saja kan?"
Sasuke mengangguk kecil. "Kau pernah menyuruhku untuk menghentikan semua hal yang dulu ayahmu katakan padaku."
Mereka berdua saling menatap.
"Demi dirimu, aku akan melakukannya, Hinata."
Senyum Hinata mengembang. "Ini bukan demiku. Tapi demi ayahku, Senpai."
Sasuke terlihat menyesal akan keputusannya. "Ayahmu adalah orang yang sangat baik. Kalau bukan karenanya, mungkin aku tidak akan menjadi Sasuke yang sekarang, Hinata. Aku merasa... ketika ayahmu memintaku menjagamu, maka aku harus melakukannya."
Hinata tersenyum. "Dan itu tidak harus, Senpai. Aku sudah dewasa. Aku bukan lagi Hinata yang hanya bisa menangis jika menghadapi suatu masalah. Sudah saatnya kau berjuang untuk hidupmu sendiri. Mengenai ayahku, anggap saja aku, putrinya, telah mewakilinya untuk menyuruhmu menghentikan semua ini."
"Kau yakin?"
Hinata mengangguk.
Sasuke tersenyum, begitu juga Hinata.
"Melihatmu sedewasa ini, kurasa aku tidak perlu khawatir lagi," ujar Sasuke lega.
.
.
.
Jam pelajaran terakhir baru saja selesai dan kini bel pulang berdering keras di seluruh SMA Konoha. Seluruh murid berhamburan keluar dari kelas, membuat suasana langsung gaduh di mana-mana.
Hinata berjalan tanpa semangat. Ia masih tidak mendapat kabar dari Naruto, dan hal itu membuat dirinya makin merasa bersalah.
Gadis itu duduk di halte tempat ia biasa menunggu bis dan kembali termenung. Kata ibunya, belakangan ini ia jadi sering melamun.
Hinata memejamkan matanya sejenak. Ia berharap dengan melakukan itu, pikirannya bisa tenang sejenak. Tapi nyatanya tidak.
Ia membuka matanya dan melihat ke seberang jalan.
Seorang cowok berkemeja dengan rambut kuning yang sangat familiar, berdiri di sana. Sangat jelas. Sepertinya orang itu juga sedang menunggu bis.
Hinata langsung beranjak dari duduknya ketika pemuda itu menyadari kehadirannya.
Naruto sepertinya juga kaget melihat Hinata, tapi ia menghindari tatapan gadis itu.
"Naruto...," panggil Hinata pelan.
Ia tidak menoleh.
Tentu saja cowok itu tidak bisa mendengarnya.
Tiba-tiba ponsel Hinata berdering. Hinata membukanya dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Mau makan ramen? Kutunggu di kantin SMA Konoha.
–Naruto-
.
.
Keduanya telah duduk berhadapan di bangku yang sama, bangku yang dulu mereka duduki saat mencari tempat tes Hinata. Ramen mereka telah dipesan dan keduanya membisu, masing-masing bingung ingin berkata apa.
Hinata membuka mulut duluan. "Aku khawatir padamu. Kenapa kau tidak mengabariku sejak dari Osaka?"
Naruto langsung menatap Hinata dengan senyuman miris. "Aku tahu kalau pada akhirnya kau hanya menganggapku sebagai Naruto saat sepuluh tahun yang lalu."
Hinata mengangguk. "Ya, pada akhirnya kita hanya akan seperti ini, bukan? Aku tidak bisa tetap mengabaikanmu ketika sekarang aku tahu siapa dirimu."
Mendengarnya, Naruto terlihat sedih. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke meja, kehilangan semangat.
"Tapi..."
Naruto langsung mendongak. Sedangkan Hinata meremas kedua tangannya di atas meja, mencari kata-kata yang pas di dalam benaknya untuk disampaikan.
"... dibandingkan dengan rasa bersalahku, sebenarnya aku merasa lega. Aku lega karena aku bisa bertemu dengan seorang teman lama yang telah kulupakan," ujar gadis itu.
Naruto menggeleng, seakan menentang ucapan Hinata.
"Saat ini aku hanya melihat Hinata yang penuh rasa bersalah. Aku kangen Hinata yang dulu memarahiku saat aku bekerja di kedai. Juga Hinata yang dingin setiap bertemu denganku. Aku juga rindu saat dulu kau makan sushi denganku dan saat kita bersepeda mengantar ramen ke kota. Saat dimana kau masih tidak tahu siapa diriku."
Hinata menggigit bibir bawahnya, perasaannya tidak karuan.
"Mengenai pengakuanmu... maksudku saat kau mengatakan kalau kau menyukaiku...," ucapnya pelan setelah terdiam beberapa saat.
"Apa kau mau menjawabnya?" tanya Naruto.
Hinata terdiam memandangi Naruto.
"Sudahlah, aku tahu kau belum siap. Kau bisa menjawabnya kapanpun kau mau," lanjut pemuda itu sambil tersenyum.
Saat itu ramen pesanan mereka pun datang.
"Benarkah kau tidak marah karena aku melupakanmu?" tanya Hinata yang masih ragu.
Naruto mengangguk pelan.
Melihat reaksinya yang biasa saja, Hinata menjadi kesal. "Setidaknya kau memarahiku atau men—"
"Kalau kau ingin aku memaafkanmu, maka berhentilah menyalahkan dirimu sendiri," potong Naruto cepat.
Hinata langsung terdiam dengan air mata yang mulai mengalir.
"Kau tidak berubah. Tetap cengeng," ledek Naruto sambil memajukan badannya. Dengan sebelah tangannya, ia pun mengusap air mata Hinata.
"Kau tidak tahu seberapa besar rasa bersalahku ini," ucap Hinata sedih.
Naruto tersenyum. "Tentu saja aku tahu."
Hinata menatap lekat mata Naruto.
"Karena aku... memahami dirimu," kata Naruto tulus.
.
.
.
Tbc
.
.
A/N: ITR benar-benar menjadi melodrama sekarang! Aku sedang bersemangat mengikuti cerita yang mellow, jadinya terbawa deh ke fic ini. Oh ya, fic-nya mungkin bakal segera selesai, kalau tidak chapter berikutnya, mungkin di chapter sembilan. Maaf jika update-nya lama, tapi kuharap kalian tidak kecewa dengan lanjutannya. Mohon feedbacks-nya, guys!
Sign,
Devi Yulia
