Title : It's Okay My Love
Pairing : Meanie (Mingyu and Wonwoo of SEVENTEEN)
Genre : Angst, Romance, Drama
Length : Special Sequel
Rating : PG-13
Note :
Mingyu ampun itu rambut kenapa jadi oren.. haduh masih speechless ngeliat transformasi Mingyu di MV Check In. Tapi setidaknya ada Meanie moment di MV itu, kya kya kya Meanie bobo bareng dan pandangan mata si Gyu itu lho... Haduh udah deh nggak usah dilanjutin cuap2 authornya.
Btw akan sangat jahat kalau cerita ini berakhir dengan membuat Mrs. Kim terlihat sangat jahat. Bagaimanapun juga beliau adalah seorang ibu dan dibalik semua kekejamannya, pasti terselip juga rasa keibuan. Selamat menikmati sequel istimewa ini.
.
.
Don't like don't read. No bashing please! No harsh comment whatsoever!
© 2016 David Rd Copyrights
.
When rain falls, I'll be the umbrella that covers you
When the wind blows, I'll be the wall that shields you
And however deep the dark of night,
Tomorrow will surely come.
.
Lima tahun yang lalu
Seorang sopir membukakan pintu bagi atasannya, seorang pengusaha yang datang jauh-jauh dari Seoul menuju sebuah desa kecil di pinggiran Seoul yang sebagian besar penghuninya adalah petani untuk menemui sahabatnya yang sudah lama hilang kontak. Pria yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu melangkah pelan menuju sebuah rumah tradisional yang berada sekitar sepuluh meter di depannya. Dilihatnya seorang pria sebaya dengannya sedang menorehkan cat ke kanvas di bawah sebuah pohon yang kemungkinan sengaja ditanam untuk menyejukkan udara di sekitar rumah. Tidak salah lagi, pria itu adalah orang yang selama ini dicarinya.
"Ehm, maaf Haraboji," Kim Ilsik tak sadar kalau ia sudah berdiri persis di depan pagar rumah dan melamun cukup lama. Kalau tidak karena suara halus anak muda di sampingnya, bisa dipastikan dia akan melamun lebih lama lagi.
"Apakah Haraboji sedang mencari orang?" kembali, anak muda berambut hitam dengan paras manis itu bertanya dengan sopan padanya.
"Ah, iya. Aku ke sini untuk menemui Jeon Jaejin-ssi," jawabnya secara refleks karena mengingat tujuan awalnya ke tempat ini.
Seketika pemuda itu tersenyum,"Kebetulan sekali Haraboji, orang yang Haraboji cari adalah kakek saya."
"Benarkah? Kau cucu Jaejin?" pria tua itu terpana mengetahui kenyataan bahwa pemuda yang sangat sopan ini adalah cucu sahabatnya. Pasti sahabatnya telah mendidik pemuda ini dengan sangat baik. Selain itu, paras pemuda ini bisa dikatakan sangat manis. Tubuhnya tinggi, ramping, pokoknya satu kata untuknya. Sempurna.
"Ne Haraboji. Mari masuk!" pemuda itu membuka pintu pagar yang terbuat dari kayu.
"Wah, terima kasih anak muda," Kim Ilsik membalas senyuman pemuda itu.
"Haraboji tidak perlu berterima kasih. Lagipula Haraboji adalah tamu kakek saya. Oya, Haraboji boleh memanggil saya Jeon Wonwoo," pemuda itu mempersilakan Kim Haraboji masuk dan memberitahukan kedatangannya pada sang kakek yang masih sibuk melukis. Pria itu berbalik dan tersenyum pada Kim Ilsik.
Setelah mengantarkan suguhan pada tamu sang kakek di ruang keluarga, Wonwoo undur diri untuk memberikan privasi pada kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Kebetulan juga dia sudah ada janji untuk mengunjungi sahabatnya, Lee Jihoon.
"Cucumu sangat sopan, Jaejin-ah," Kim Ilsik membuka pembicaraan.
"Hahaha, tentu saja. Dia adalah satu-satunya hartaku yang tersisa. Harta paling berharga yang aku miliki sekarang."
"Apa maksudmu dengan satu-satunya?"
"Kedua orang tua Wonwoo sudah meninggal karena kecelakaan saat dia masih berusia lima tahun."
"Jadi, kalian hanya tinggal berdua sekarang?" tidak disangka, banyak sekali hal yang telah ia lewatkan selama lebih dari tiga puluh tahun ini.
"Begitulah. Tapi, sepertinya hal ini tidak akan bertahan lama."
"Apa maksudnya?"
"Aku rasa aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi," pria berkacamata itu mendesah pelan membuat sahabatnya mencoba berpikir keras mengolah kalimat itu. Tidak mungkin kan kalau sahabatnya itu akan pergi untuk selamanya, padahal mereka baru saja bertemu. Lalu bagaimana nasib Wonwoo kalau sampai hal itu terjadi?
"Aku rasa kau sudah tahu apa yang kumaksud, Ilsik-ah. Kita berada di usia dimana batas antara hidup dan mati sudah sangat tipis, sahabatku. Mungkin hari ini atau besok, mungkin aku atau engkau yang akan menghadap-Nya lebih dahulu. Kita tidak tahu," Lee Jaejin menatap hamparan ladang yang penuh ditanami kubis dengan tenang.
"Apa yang kau sembunyikan dari cucumu?" pria yang mengenakan sweater tebal itu menuntut jawaban jujur dari sahabatnya. Tidak mungkin Jeon Jaejin asal bicara tanpa alasan.
"Kau memang pintar Ilsik-ah. Pantas saja sekarang kau sudah sukses seperti ini."
"Cepat katakan, Jaejin-ah. Apa yang kau sembunyikan dari Wonwoo?"
Pelukis itu tersenyum miris sesaat, kemudian berkata,"Beberapa tahun terakhir kesehatanku memburuk. Aku didiagnosis mengidap gagal hati dan dokter mengatakan sisa hidupku hanya satu bulan lagi."
Kim Ilsik menegakkan tubuhnya seketika mendengar pengakuan sahabatnya. Bagaimana bisa takdir mempermainkan mereka seperti ini? Di saat sang CEO sudah menemukan sahabatnya, kemungkinan mereka terpisah sudah di depan mata.
Jaejin hanya tertawa kecil berusaha menetralkan suasana. Dia tidak ingin mereka larut dalam kesedihan. Hidupnya tinggal satu bulan dan dia tidak ingin menghabiskannya dengan bersedih. Ditatapnya sang sahabat yang masih terkesan terkejut,"Ilsik-ah, tadinya, aku merasa sangat sedih karena harus meninggalkan Wonwoo seorang diri di dunia ini. Tapi, sekarang sudah tidak lagi."
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?"
Senyum tulus kembali mengembang menghiasi wajah lelah sang pelukis,"Bolehkah aku minta bantuanmu, sahabat?"
Tentu saja. Ilsik akan melakukan apa pun yang diminta oleh sahabatnya itu. Oleh karena itu, sang CEO mengangguk dengan mantap. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk membalas budi keluarga Jeon yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Tolong jaga Wonwoo untukku."
"Baiklah. Mulai saat ini, Wonwoo adalah cucuku juga."
.
.
Dedaunan kering terlepas dari dahan dan beterbangan tertiup angin ke arah gundukan tanah yang berjejer dengan rapi di dalam area pemakaman di sebuah desa kecil di pinggiran Seoul. Desa yang ditinggali oleh penduduk yang masih menjunjung tinggi adat dan kebudayaan lokal. Desa dimana seorang Jeon Wonwoo dilahirkan, dibesarkan, ditinggalkan kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan, ditinggalkan kakeknya seorang diri, dan dimana ia bertemu dengan Kim haraboji. Desa yang akan menjadi salah satu bagian terbesar dalam kehidupan seorang Jeon Wonwoo, atau sekarang sudah secara resmi disebut Kim Wonwoo.
Dua orang pria berdiri di depan sebuah makam yang terletak di puncak sebuah bukit di bawah sebuah pohon pinus. Seorang yang berambut kecoklatan dengan coat panjang warna hitam memperhatikan foto penghuni makam yang tidak lain dan tidak bukan adalah Jeon haraboji, sahabat kakeknya sekaligus kakek dari istrinya. Foto itu menunjukkan seorang pria berusia enam puluhan berambut putih yang sedang tersenyum ramah ke arah kamera. Sekilas, Mingyu bisa merasakan kemiripan sang kakek dengan istrinya.
Pria lainnya yang mengenakan coat berwarna burgundy berjongkok dan meletakkan bunga yang ia bawa di dekat foto almarhum kakeknya. Pria tua yang selalu menjaganya dengan sangat baik, bahkan hingga tiada pun beliau masih menjaga cucu tunggalnya. Diusapnya pelan foto sang kakek sambil berujar,"Haraboji, hari ini aku datang bersama cucu menantu Haraboji. Tentu saja Haraboji sudah tahu siapa dia, tapi pastinya Haraboji belum pernah bertemu dengannya, kan?"
Mingyu tersenyum mendengarkan perkataan istrinya yang sedang mengenalkan dirinya pada sang kakek. Perilaku istrinya ini menunjukkan bahwa Mingyu merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan Wonwoo sekarang. Dadanya terasa hangat. Ia merasa sangat dicintai. Apalagi ketika kedua mata indah Wonwoo menatap ke arahnya disertai dengan sebuah senyuman manis yang bisa membuatnya meleleh.
"Gyu, kenalkan dirimu pada Haraboji!"
Sang atlet mengangguk kemudian mengambil posisi untuk berlutut secara formal di depan makam sang kakek. Tangan kanan berada di atas tangan kiri lalu kedua lutut menyentuh tanah kemudian badan membungkuk sampai lipatan tangan menyentuh tanah. Walaupun Haraboji tidak bisa menerima hormat Mingyu secara langsung, tapi dia tetap harus bersikap hormat pada orang yang telah berjasa membawa Wonwoo padanya.
Selesai memberikan hormat, Mingyu kembali berdiri dan berucap,"Haraboji, maafkan aku yang baru bisa mengunjungimu sekarang. Aku tahu, aku bukanlah cucu menantu yang baik, tapi aku berharap kau mau menerima hormatku. Haraboji, perkenalkan, namaku Kim Mingyu. Aku cucu dari sahabatmu dan aku adalah suami dari cucumu yang sangat manis."
"Yah, jangan menggombal di sini, Gyu!" Wonwoo melemparkan protes, tapi Mingyu bisa melihat semburat merah muda menyelimuti pipi sang istri membuatnya ingin kembali menjahilinya.
"Haraboji, terima kasih telah menjaga Wonwoo selama ini. Sekarang aku berjanji di depan Haraboji, bahwa aku akan mencintai Kim Wonwoo selamanya. Aku akan berusaha menjadikannya seorang istri dan ibu yang paling bahagia di dunia ini. Aku mohon Haraboji memberkati dan merestui hubungan kami berdua."
"Haraboji, jangan dengarkan Mingyu! Aku tidak tahu kalau dia punya bakat menggombal yang luar biasa," seolah-olah sedang berhadapan langsung dengan sosok Jeon Haraboji, istri sang atlet merajuk dengan gaya andalannya.
"Hahahaha, Haraboji pasti senang mendengarnya jagiya," sontak warna merah itu sampai ke telinga Jeon Wonwoo membuat Mingyu makin senang.
Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan sang kakek, keduanya lantas berjalan meninggalkan area pemakaman yang sudah secara resmi masuk dalam daftar agenda tahunan. Sesuai dengan usul sang suami yang menginginkan mereka bertiga untuk kembali mengunjungi sang kakek pada perayaan Chuseok tahun depan. Iya, mereka bertiga, keluarga Kim.
Kim Mingyu meraih jemari istrinya dan menautkannya dengan jemarinya. Wonwoo tersenyum mendapat perlakuan seperti ini dari suaminya. Sebelum keluar dari area pemakaman, Wonwoo berkata,"Haraboji sangat menyukaimu, Gyu."
"Tentu saja. Aku kan menantu idaman semua orang di Korea."
"Aku menyesal mengatakannya," sang istri menepuk dahinya dan ingin rasanya menarik kembali perkataannya barusan. Benar-benar memalukan.
"Hahaha, hari ini kau sering berblushing ria. Apakah ini karena Minwoo tidak bersama kita sekarang?"
"Apa maksudmu Gyu?"
"Kau tahu sendiri. Apa yang akan dilakukan oleh dua orang dewasa yang mendapatkan waktu bebas dari anaknya?" alis kiri Kim Mingyu naik turun menggoda sang istri.
Wonwoo melepas tautan jemari mereka dan meninggalkan sang suami sembari berbisik,"Dasar mesum!" sang suami hanya bisa mengikuti langkah istrinya yang terasa lebih cepat dari biasanya sambil gagal menahan tawa.
.
.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah lama Wonwoo, mereka berhenti di sebuah kedai kecil di pinggir jalan raya yang tidak begitu ramai. Sebenarnya Wonwoo ingin cepat kembali ke Seoul karena naluri keibuannya sudah mengkhawatirkan keadaan Minwoo. Akan tetapi, sang suami meyakinkan dirinya kalau Minwoo berada di tangan yang tepat, Jisoo dan Seokmin. Tentu saja, Seokmin dan Minwoo adalah partner in crime dalam keluarga besar mereka. Hal ini karena keduanya mempunyai hobi yang sama, yaitu menjahili orang, terutama jika targetnya adalah Kwon Soonyoung.
Seorang gadis berusia belasan yang ternyata adalah cucu sang nenek pemilik kedai menyambut kedatangan mereka berdua dengan hangat. Kedai kecil ini menyajikan menu sederhana, tetapi rasanya sangat menggugah selera. Pantas saja banyak pengunjung yang datang kemari.
"Permisi," seorang pria mendekati meja Mingyu dan Wonwoo membuat pasangan itu menghentikan acara makan mereka.
"Ah, ne. Ada apa ya Tuan?" Mingyu yang memandang pria itu sedikit terkejut karena mengetahui ternyata ada anak kecil sedang bersembunyi di belakang tubuh sang ayah. Sesaat ia tersenyum menyadari keadaan ini.
"Maaf mengganggu acara makan Anda. Tapi, Anda Kim Mingyu, kan?"
"Benar."
"Ah, syukurlah! Begini Mingyu-ssi, anak saya adalah penggemar Anda. Dia sangat menyukai aksi Anda di lapangan. Bahkan cita-citanya sekarang adalah menjadi pemain bola hebat seperti Anda," betul kan tebakannya.
"Jadi, bersediakah Anda berfoto bersama anak saya?" sang ayah menunjukkan telepon genggamnya pada Mingyu. Sang atlet menatap Wonwoo meminta persetujuan yang tentu saja langsung dibalas anggukan.
"Baiklah Tuan," Mingyu berdiri dan mendekati anak kecil yang masih setia bersembunyi di belakang tubuh ayahnya dan bertanya,"Komaya, siapa namamu?"
"Cha Eunwoo, ahjussi," si anak melepaskan genggaman tangannya pada baju sang ayah dan menatap Mingyu yang langsung dibalas dengan tangan besar Mingyu mengusak rambut si anak dan tersenyum ramah.
"Oke Eunwoo, ayo sekarang berfoto bersama ahjussi!" masih dengan posisi berlutut, Mingyu berpose bersama Eunwoo. Ayah Eunwoo sibuk mengambil beberapa foto dari berbagai arah karena ini adalah kesempatan langka.
"Terima kasih, Mingyu-ssi," sang ayah membungkuk sembilan puluh derajat berterima kasih pada sang atlet. "Saya doakan supaya Anda sehat selalu dan bahagia bersama keluarga Anda. Terima kasih juga Wonwoo-ssi telah mengizinkan suami Anda untuk berfoto bersama kami," ujar sang ayah sembari membungkuk kecil pada Wonwoo yang masih duduk di tempatnya.
"Tidak perlu berterima kasih Tuan. Aku ikut senang kalau suamiku bisa membuat anak sekecil Eunwoo sudah mempunyai mimpi dan cita-cita."
"Ayo, ucapkan terima kasih, Eunwoo-ya!"
"Eung," anak berambut hitam pekat itu maju selangkah dan membungkukkan badannya sembilan puluh derajat seperti yang tadi dilakukan ayahnya pada pasangan di depannya.
"Terima kasih banyak Ahjussi-deul."
"Ah, betapa imutnya," ujar Wonwoo yang gemas dan langsung menghampiri anak kecil itu untuk mengusak surai hitamnya.
Hari ini adalah hari pertama Mingyu kembali bertanding setelah hampir satu tahun absen. Rekan setim dan pendukungnya sangat menantikan kembalinya sang atlet berbakat ke lapangan hijau. Untung saja tim di mana ia bernaung memberikan waktu supaya Mingyu bisa memulihkan kesehatannya pascaoperasi transplantasi hati yang dijalaninya sehingga ia tidak perlu terburu-buru dan memaksakan diri untuk kembali merumput.
Di dalam ruang ganti, ia kembali merasakan suasana yang sangat dirindukannya. Memang, sepakbola adalah sebagian dari hidupnya. Untuk bisa sampai pada posisi ini, ia harus memulai kariernya sejak belia. Itulah sebabnya ia tidak ingin menjadi seorang pengusaha seperti yang ayahnya lakukan dan beruntungnya ayahnya mendukung keputusan Mingyu itu.
"Wah, adik kecil, sedang mencari siapa?" suara Yang Yoseob, rekan satu timnya, membuat Mingyu yang tengah sibuk berganti pakaian membalikkan badannya ke arah suara. Terlihat beberapa rekannya, seperti Doojoon, Woohyun, Yoseob, Dongjun, Minhyuk, dan Howon sedang mengerumuni sesuatu. Ah, tidak, lebih tepatnya seseorang.
"Ah, imut sekali anak ini," Woohyun yang seolah-olah sudah berubah menjadi fans anak itu mencoba mencubit pipi si anak.
"Betul, aku ingin sekali mencubit pipinya. Gemas sekali rasanya," Minhyuk yang berdiri di samping Woohyun pun ikut menjulurkan tangannya ke arah pipi gembil si anak.
"Yah! Jangan main cubit-cubit begitu! Kasian tahu!" Howon yang memang terkenal kaku dan sulit menerima skinship mencoba menyelamatkan si anak dari tangan-tangan nakal Woohyun dan Minhyuk.
"Aku sedang mencari Appa, Ahjussi," suara itu sudah tidak asing di telinga pemain sepakbola bernomor punggung 10.
"Appa?" Doojoon yang merupakan kapten tim berlutut di depan anak kecil itu membuat Mingyu dapat melihat dengan jelas sosok buah hatinya yang tersenyum bahagia.
"Eung. Aku ingin memberikan semangat dan dukungan untuk Appa," Kim Minwoo memang anak yang baik. Beruntung sekali dia bisa mempunyai anak sepertinya.
Kini giliran Dongjun yang berkata,"Aigoo, dia benar-benar anak yang baik karena telah menyempatkan untuk datang menonton pertandingan Appanya. Tapi," pemain bernomor punggung 21 itu menatap rekan-rekannya,"siapa Appa anak ini?" hal itu hanya ditanggapi gelengan yang lain dan ekspresi bingung yang membuat Mingyu ingin tertawa.
Minwoo yang tiba-tiba mengalihkan pandangan dari ahjussi di depannya langsung bersitatap dengan sang ayah. Senyumnya kembali mengembang dan suara cerianya membuat keenam orang dewasa yang sedang mengerubunginya membalikkan tubuh mereka,"Appa!" Kim Minwoo berlari dengan kaki mungilnya dan melompat ke dalam pelukan sang ayah.
"Hah, Kim Mingyu?" semuanya melotot tidak percaya dengan pemandangan di depan mereka. Mingyu yang terkenal sangat irit bicara dan selalu menampilkan ekspresi menakutkan ternyata punya anak selucu itu. Bagaimana mungkin, begitu pemikiran mereka.
"Hahaha Minwoo-ah, kenapa kau ada di sini? Mana eomma? Jangan bilang kalau kau kabur dari eomma dan meninggalkan eomma di suatu tempat," si anak cuma tersenyum jahil ke arah ayahnya, sedangkan Mingyu sudah bersiap menyentil hidung Minwoo ketika sang ibu memasuki ruangan sembari mengatur napas. Sepertinya perkiraan Mingyu benar. Aish, karena terlalu lama diasuh oleh Seokmin, anaknya jadi ketularan sifat jahil sepupunya itu.
"Minwoo-ah, di situ kau rupanya," anak dalam gendongan Mingyu itu langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya seolah mengatakan 'oo aku ketahuan' dan hal itu sontak membuat semua yang berada di ruang ganti tertawa.
"Appa," Minwoo memeluk leher sang ayah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang atlet seolah-olah dengan melakukan hal itu bisa membuat Wonwoo tidak dapat mengetahui keberadaannya.
"Minwoo-ah, lihatlah eomma sampai mengkhawatirkanmu begitu," ujar Mingyu sembari menepuk-nepuk bokong sang anak membuatnya berbalik menatap sang ibu yang berada di ambang pintu ruang ganti dengan keringat membasahi dahinya.
"Tapi Minu hanya ingin memberikan dukungan pada Appa," mata bulat itu hampir berkaca-kaca dan refleks Wonwoo mendekati ayah dan anak itu. Tangannya mengusap punggung Minwoo sayang.
"Sayang, Minu boleh memberikan dukungan pada Appa, tapi jangan sampai berlari dan meninggalkan eomma seperti tadi, ne? Kita kan bisa pergi bersama untuk menemui Appa," ceramah halus yang diberikan Wonwoo sepertinya sudah dipahami Minwoo. Anak itu mengangguk kecil dan menatap ibunya sembari berkata,"Mianhae, eomma," ucapan maaf dari si kecil diiringi kecupan singkat di pipi kanan sang ibu.
"Eung, tak apa sayang. Yang penting lain kali jangan diulangi ya?" Kim Minwoo mengangguk. Sang ayah menghadiahi anak tersayangnya sebuah kecupan di pipi, begitu juga sang ibu yang turut memberikan kecupan di pipi satunya. Dan drama keluarga itu disaksikan dengan penuh khidmat oleh rekan satu tim Mingyu yang langsung kehilangan kata-kata.
"Ah, guys, maaf telah mengejutkan kalian dengan kedatangan tamu tak diundang ini. Sekarang aku bisa memperkenalkan kalian pada istriku Kim Wonwoo dan anakku Kim Minwoo."
"Salam kenal," ujar Wonwoo yang langsung membungkukkan badan sembilan puluh derajat kemudian dibalas dengan perkenalan singkat dari rekan setim suaminya.
"Bahkan, Mingyu yang memiliki tampang menyeramkan dan sangar itu sudah menikah dan punya anak," keluh Doojoon yang langsung dihadiahi pukulan di kepala oleh Yoseob yang notabene lebih pendek darinya.
"Kau saja yang tidak laku-laku. Jangan membawa-bawa orang lain dalam penderitaanmu itu, Hyung," kalimat pedas yang keluar dari mulut Yoseob sontak membuat semuanya tertawa.
Hari itu Mingyu bertanding dengan semangat yang membara dan hasilnya sungguh tidak mengecewakan. Tim mereka memenangkan pertandingan dengan skor telak. Sebuah berita bertajuk 'Kembalinya si Macan Lapangan Kim Mingyu dan Sepenggal Kisah Cintanya' menghiasi surat kabar cetak maupun online. Seluruh Korea sudah mengetahui kebenaran hubungan Mingyu dan Wonwoo.
.
.
Pohon besar itu masih tetap kokoh berdiri di depan rumah seakan setia menjaga rumah sekalipun pemiliknya telah berpulang. Tempat dimana sang kakek sangat gemar menghabiskan waktunya untuk menuangkan semua imajinasi yang merasuk ke dalam hati dan pikirannya. Pintu kayu pada gerbang model kuno yang membatasi rumah itu makin terlihat penuh sejarah bagi pria yang kini kembali dengan menggandeng seorang belahan jiwanya. Lantai kayu yang dulu selalu terasa hangat karena kelakar dan canda tawa bersama kakeknya, kini dingin dan lembab. Akan tetapi, semuanya tidak masalah bagi Wonwoo. Sekarang, ia bisa kembali dan menghangatkan rumah ini kapan pun ia mau bersama suami dan anaknya.
Dibukanya semua jendela dan pintu supaya udara pengap di dalam rumah berganti dengan udara segar. Wonwoo menyibukkan diri menyapu dan menghilangkan debu yang menempel di berbagai permukaan. Mingyu turut membantu dengan mengeluarkan semua kasur dan selimut yang masih tersusun rapi di dalam lemari dan menjemurnya di bawah sinar matahari sembari memukulinya beberapa kali membuat debu yang menempel lenyap.
Wonwoo menghidangkan apel yang sudah dikupas kepada suaminya yang tengah duduk di serambi samping rumah setelah selesai membereskan semua pekerjaan rumah yang bisa mereka temui, mulai dari mencuci, mengepel, menata kamar tidur, dan mengganti beberapa lampu yang kebetulan sudah rusak.
"Gomawo," ujar Mingyu sembari menusuk sepotong apel dengan garpu dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Gyu, aku yang harusnya berterima kasih," sang kartunis mendudukkan dirinya di samping sang suami dan ikut memandang kebun sayur yang menghampar luas.
"Waeyo?"
"Karena kau telah mengizinkanku untuk mengunjungi makam Harabeoji dan menginap di sini," Mingyu mengalihkan tatapannya dan mengulurkan tangannya untuk menggenggam telapak tangan istrinya.
"Hei, aku sudah pernah bilang kalau aku ingin mengenalmu lebih jauh dan ini adalah langkah pertama yang bisa kulakukan. Aku ingin mengenal lingkungan tempat tinggalmu, Wonwoo-ya."
Mendengar hal tersebut, Wonwoo kemudian berdiri dan menarik Mingyu untuk ikut berdiri,"Baiklah kalau begitu. Ayo kita mulai tur keliling desa, Gyu!" sang suami mengangguk semangat.
Yang dimaksud dengan tur keliling desa benar-benar keliling desa. Wonwoo mengajak Mingyu ke rumah sahabatnya, Jihoon dan memperkenalkan suaminya itu pada ibu dan ayah Jihoon; memperkenalkan suaminya pada para tetangga yang sudah lama tidak berjumpa dengannya (dan mendapatkan pujian karena telah berhasil mendapatkan suami yang tampan dan baik); mengunjungi sungai favorit tempatnya selalu menenangkan pikiran (sempat bermain air seperti anak kecil); taman bunga liar yang menjadi sumber inspirasi; dan masih banyak lagi. Keduanya baru pulang menjelang senja.
Sinar bulan menerobos masuk kamar lama Wonwoo menyinari wajah cantik sang istri membuat Mingyu yang tengah berbaring di sampingnya membeku seketika. Betapa beruntungnya ia mendapatkan Wonwoo sebagai istrinya. Harabeoji memang tahu yang terbaik untuknya. Ingin sekali rasanya ia mengucapkan beribu-ribu terima kasih karena kakeknya telah mengantarkan malaikat ke sisinya.
Jemari sang atlet tanpa sadar menyentuh pipi Wonwoo membuat si empunya menoleh. Kedua pasang manik hitam mereka bertemu dan Mingyu merasakan ada percikan listrik di dalam hatinya. Ia menyadari bahwa sudah sangat lama ia bisa berada sedekat ini dengan istrinya tanpa ada orang lain, bahkan Minwoo. Tentu saja, sebagai seorang pria, Mingyu masih mempunyai kebutuhan lain yang perlu dipenuhi. Mungkinkah ini saatnya?
"Waeyo, Gyu? Kenapa melamun?" tidak tahukah Wonwoo kalau suaminya itu sedang dilanda nafsu? Pria berambut kecoklatan itu justru memiringkan tubuhnya menghadap sang atlet dan hal sederhana itu cukup membuat sang atlet bergairah.
Buku jari sang atlet mengusap pipi Wonwoo lembut, sedangkan lengan satunya sedari tadi digunakan sebagai bantal oleh Wonwoo. Ibu Kim Minwoo itu tersenyum manis. Namun, senyumnya memudar saat ia sadar betapa dekat wajah mereka berdua. Hembusan hangat napas Mingyu menerpa wajahnya dan hal itu membuat rona merah menghiasi kedua pipinya.
"Gyu," Mingyu masih enggan mengatakan sesuatu dan lebih memilih untuk semakin mendekati sang istri.
"Katakan sesuatu, Gyu. Jebal. Jangan diam begini! Hal ini membuatku takut," tangan kanan Wonwoo hendak mendarat di pundak lebar sang atlet, tetapi Mingyu justru menahannya dan malah menautkan jemari mereka berdua membuat Wonwoo semakin salah tingkah.
"Kau terlihat cantik, Wonwoo-ya."
Ingin rasanya Wonwoo menarik tangannya dari tautan jemari sang suami untuk menutupi wajahnya yang sudah benar-benar memerah hingga ujung telinganya. Gombalan suaminya sekarang berbeda dengan saat mereka berada di pemakaman. Gombalan yang ini terasa lebih intim dan merangsang, apalagi mengingat posisi mereka sekarang.
"Gyu, lepas!" dengan tenaga yang tidak terlalu besar ia berusaha menarik tangannya, tapi justru tautan itu semakin kencang dan gerakan mendadak Mingyu yang mengubah posisi mereka sedikit menghasilkan pekikan kecil dari Wonwoo. Kini, Wonwoo sudah berbaring di bawah sang atlet dengan kedua tangan yang berhasil dikuasai.
Mingyu mendekatkan wajahnya berusaha meninggalkan sebuah kecupan di bibir Wonwoo, tetapi Wonwoo justru memalingkan wajahnya membuat bibir tipis Mingyu mendarat di pipi.
"Woo, sudah lima tahun lebih kita tidak melakukan ini. Apa kau tidak menginginkannya?" mata keduanya kembali bertemu.
"Gyu, aku malu."
"Kenapa harus malu? Aku suamimu dan kau istriku. Kau tak perlu malu padaku," ujar Mingyu sembari melepaskan tautan tangan kanannya dan menangkupkannya pada wajah tirus sang istri.
"Tapi, Gyu, sudah lima tahun berlalu. Tubuhku sudah banyak berubah. Bahkan bekas operasi ini-," Mingyu sekarang tahu arah pembicaraan istrinya.
"Tidak ada yang berubah Woo. Kau tetaplah Jeon Wonwoo yang selalu cantik di mataku. Apa pun yang terjadi pada tubuhmu tetaplah indah menurutku. Dan bekas operasi ini," Mingyu menelusupkan tangannya ke bawah piyama yang dikenakan istrinya dan meraba bekas operasi sesar di perut,"adalah bukti kau benar-benar belahan jiwaku yang telah berjuang melahirkan masa depan kita. Aku sangat berterima kasih untuk itu."
Diciumnya bekas operasi yang sudah memudar itu. Oh, betapa Wonwoo merasa sangat merindukan sentuhan Mingyu sekarang. Hanya Mingyu yang selalu memujanya seperti ini, menjunjungnya, dan memberinya kepercayaan diri bahwa dirinya pantas untuk mendapatkan cinta.
"Terima kasih, Gyu," tangan Wonwoo memegang tengkuk sang suami dan menariknya untuk mendekat kemudian diciumnya pelan bibir tipis nan menggoda itu. Sebuah senyuman menghiasi wajah sang atlet dan keduanya makin memperdalam ciuman itu.
Satu per satu pakaian yang menempel di tubuh keduanya mulai terlepas. Bibir keduanya bertaut dalam ciuman panas yang menyatukan saliva keduanya. Jemari panjang mereka bergerilya meraba apa yang bisa mereka jangkau. Rambut sang atlet semakin acak-acakan karena Wonwoo secara refleks menjambaknya saat sang suami memberikan bagian private-nya kenikmatan hingga ia tidak bisa lagi menahan erangan menggoda dan mengeluarkan seluruh cairannya di dalam mulut sang suami.
Mingyu tersenyum dan mengusap sisa cairan yang berada di sudut bibirnya sembari merangkak menyejajarkan tubuh mereka. Dengan sebuah kerlingan nakal, ia berkata,"Woo, ayo kita berikan hadiah untuk Minwoo!" yang langsung dihadiahi pukulan di bahunya, namun sama sekali tidak dipedulikannya.
Malam itu, Wonwoo tidak menahan erangannya dan membiarkan Mingyu larut dalam surga dunianya. Tubuh keduanya beradu dalam satu alunan menciptakan sebuah simfoni kehidupan. Bahu dan punggung sang atlet menjadi saksi kenikmatan itu. Bekas-bekas cakaran dan bekas tancapan kuku ditinggalkan Wonwoo saat Mingyu berulang-ulang menghujam titik kenikmatannya.
Mingyu menatap wajah Wonwoo setelah keduanya berhasil mencapai puncak kenikmatan dan Mingyu selesai menyemburkan cairannya ke dalam lubang kenikmatan sang istri. Sang atlet menyibak rambut yang menutupi dahi pria yang masih berada di bawahnya kemudian memberinya sebuah kecupan mesra.
"Terima kasih, Woo. Aku sangat mencintaimu. Jadi, kumohon tetaplah berada di sisiku sampai maut memisahkan kita."
Malam itu, bulan menjadi saksi kisah mereka.
.
.
Satu bulan setelah perjalanan ke pemakaman dan desa tempat tinggal Wonwoo, pasangan berbahagia itu kembali ke aktivitas masing-masing. Wonwoo sibuk dengan kegiatannya mengedit salah satu manhwa yang akan diterbitkan perusahaan. Saking sibuknya, ia selalu berangkat lebih pagi dari biasanya dan pulang lebih malam, bahkan ia sering membawa pulang pekerjaan yang belum selesai. Beruntung saja, dalam minggu ini Mingyu tidak ada latihan sehingga ia bisa menjaga Minwoo.
Sang editor yang sedang membahas hasil koreksi seorang editor junior dikagetkan dengan kedatangan mendadak sang CEO yang dibuntuti oleh saudara sepupu suaminya.
"Wonwoo-ya, terjadi sesuatu di rumah."
Wonwoo tidak menyangka bahwa yang dimaksud dengan 'sesuatu' itu adalah ibu mertuanya ditahan kepolisian karena terlibat penipuan. Masalah ini tentu sudah tidak bisa dianggap sesuatu lagi. Lebih parahnya lagi, Mrs. Kim ditangkap bersama Mrs. Park, wanita sosialita yang menyarankan ibu mertuanya untuk menjodohkan Mingyu dan Jinhee.
"Dia sudah melakukan hal bodoh dan menjatuhkan harga dirinya sendiri," kalimat bernada dingin itu keluar begitu saja dari mulut Mingyu saat keduanya sedang menunggu kehadiran Mr. Kim di ruang tamu kediaman Kim.
"Gyu, jangan berkata seperti itu! Bagaimana pun beliau tetap ibu kandungmu."
"Karma."
"Mwo?"
"Sepertinya dia sudah mendapatkan karmanya karena telah menyakitimu. Ah, Tuhan memang adil. Walaupun kita tidak membalas perbuatan kejamnya, dia akhirnya terpuruk juga," Wonwoo berdiri dan memeluk pundak suaminya yang terduduk dan masih saja menunjukkan ekspresi dingin.
"Gyu, padamkanlah api dendam dalam hatimu! Sudah satu tahun kita bermusuhan dengan ibumu. Bukankah sekarang saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan kalian?" ucap Wonwoo sembari mengelus rambut cokelat sang suami mencoba menenangkan hatinya. Setelah menghela napas berat, Mingyu melingkarkan kedua lengannya pada pinggang ramping Wonwoo dan semakin membenamkan wajahnya pada perut sang istri. Menghirup dalam aroma parfum yang dipakai istrinya selalu bisa membuatnya merasa tenang.
"Haruskah aku melakukannya?" pertanyaan itu penuh keraguan dan makna ambigu. Di satu sisi, Mingyu seperti ingin berlari segera ke kantor polisi dan mengusir semua reporter yang sedang menyudutkan ibunya, tetapi di sisi lain ia ingin membiarkan ibunya merasakan karma yang memang sudah seharusnya diterimanya.
"Biarkan hatimu yang menentukan, Gyu," Wonwoo masih mengelus kepala suaminya dan merasakan bahwa pundak suaminya sudah mulai rileks.
"Ayo hubungi Soonyoung Hyung!" akhirnya.
.
.
Di ruang jenguk kantor polisi
Wanita yang kelihatan lebih tua dari usia aslinya karena sudah beberapa minggu ini kurang tidur dan istirahat membulatkan manik hitamnya, telapak tangannya menutup mulutnya yang melongo dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata sekaligus untuk menahan isak tangis yang hampir saja lolos. Di tangan satunya, telepon genggam sang suami masih saja memutar adegan sang menantu yang menyarankan anaknya agar menolong sang ibu yang sedang merasakan karma.
"Ada yang ingin kau katakan?" ujar sang suami yang sedari tadi terduduk di seberang kaca pembatas sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
Tak kuasa menahan tangis, cairan bening itu akhirnya lolos dari sudut mata Mrs. Kim. Begitu bodohnya ia yang telah menyia-nyiakan seorang malaikat dalam keluarganya. Dalam keadaannya yang tersudut ini, saat anaknya sendiri sudah hampir tidak peduli padanya, justru menantunya itu yang masih berada di sisinya.
"Mian...," kepalanya yang selama ini selalu mendongak angkuh akhirnya menunduk dipenuhi rasa malu. Malu akan tingkah laku dan ucapannya.
"Jangan katakan hal itu padaku!"
.
.
Hari itu Soonyoung datang ke kantor polisi ditemani seorang asistennya dan menyelesaikan masalah yang membelit mertua sahabatnya. Bukan hal yang mustahil bagi pengacara sekelasnya untuk mengusut tuntas keterkaitan Mrs. Kim dengan jaringan penipuan Mrs. Park. Buktinya, dalam waktu dua hari Soonyoung berhasil mengumpulkan bukti bahwa Mrs. Kim merupakan salah satu korban penipuan yang diperalat untuk turut serta melakukan penipuan tanpa disadari. Walaupun demikian, pihak kepolisian mengusulkan untuk menunggu putusan hakim di pengadilan terkait status Mrs. Kim.
"Terima kasih sudah membantuku, pengacara Kwon," Mrs. Kim menunduk.
"Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya, Nyonya. Saya melakukan semua ini demi memenuhi permintaan anak Anda," ujar pengacara yang mengenakan setelan jas bergaris.
"Tetap saja saya perlu mengucapkan terima kasih. Anda bisa saja menolak untuk menangani kasus ini, tapi Anda tidak melakukannya. Terima kasih sekali lagi."
"Saya tidak berniat mengancam atau apa pun, tapi saya harap kejadian ini bisa membuka mata hati Anda, Nyonya."
Benar. Mata hati dan perasaan yang telah lama terkubur ketamakan dan kesombongan yang telah membuatnya menjadi seorang perempuan tak berhati. Ibu mana yang tega melakukan hal keji dan menghancurkan kehidupan anaknya?
Satu bulan kemudian, persidangan digelar. Selama itu, Mingyu tidak pernah sekali pun mengunjungi ibunya. Memang ia meminta Soonyoung untuk mengurusi kasus ibunya, tapi ia tetap belum ingin bertemu tatap dengan wanita itu. Ia perlu waktu untuk menenangkan diri dan menata perasaannya. Dan beruntungnya, selama itu Wonwoo tidak pernah memaksanya untuk mengunjungi ibunya.
Tapi hari ini, Mingyu dan Wonwoo sudah terduduk manis di barisan bangku pengadilan untuk mendengarkan putusan hakim mengenai kasus penipuan yang menjerat salah satu anggota keluarga mereka. Mr. Kim juga duduk di samping putranya, sedangkan Seokmin duduk di samping Wonwoo.
Mrs. Kim yang duduk di tengah ruang sidang mengenakan kemeja putih dan celana hitam terus saja menunduk saat Kwon Soonyoung yang memakai jubah hitam membacakan semua pembelaannya dengan suara lantang dan berwibawa membuat hakim ketua mendengarkan dengan saksama. Setelah dua kali istirahat, saat pembacaan putusan akhirnya tiba.
"Setelah menimbang dan mengingat, dengan ini hakim memutuskan Lee Yoonji tidak bersalah dan bebas dari segala tuntutan," diiringi ketukan palu tiga kali.
Suasana canggung menyelimuti kediaman Kim saat nyonya rumah kembali menginjakkan kaki di rumah itu. Semua orang dewasa di dalam ruang tamu terdiam di tempat, sedangkan Kim Minwoo justru berlari menyambut kedatangan sang nenek.
"Selamat datang, Halmeoni!" dengan senyum ceria menghias wajah polosnya, Minwoo berdiri tepat di hadapan sang nenek yang baru sekali ini berada sangat dekat dengannya.
Perempuan itu terdiam dan menangis. Bagaimana bisa anak ini tetap menganggapnya nenek setelah semua yang dilakukannya? Bagaimana bisa orang tuanya tidak mengajarkan untuk membenci si nenek ini? Bagaimana bisa dia tetap tersenyum seperti itu? Dan bagaimana bisa dia tidak menyadari kebahagiaan yang ditolaknya selama ini?
"Kenapa Halmeoni menangis?" Mrs. Kim berlutut di hadapan sang cucu dan segera memeluk anak laki-laki itu erat sambil meraung menyuarakan semua penyesalannya.
"Mianhae... maafkan aku."
Wonwoo memberikan isyarat berupa anggukan kecil pada sang suami untuk mendekati ibunya yang sedang histeris. Telapak tangan sang atlet mendarat di pundak sang ibu membuat wanita itu mendongak menatap manik hitam sang anak.
"Mingyu, Eomma ingin minta maaf," tangan kurus itu meraih pergelangan tangan Mingyu,"Eomma ingin minta maaf pada Wonwoo."
Sebuah senyum terukir di wajah dingin Mingyu. Tentu saja. Dengan senang hati, Mingyu membantu sang ibu berdiri dan membimbingnya ke arah istrinya yang berdiri di samping sang ayah mertua.
Semakin mendekati Wonwoo, tangis sang ibu semakin keras. Sepertinya semua bayangan tentang dosanya pada sang menantu berkelebatan di ingatan membuatnya semakin tersiksa.
"Wonwoo-ya," Mrs. Kim mengulurkan tangan ringkihnya yang langsung disambut oleh sang menantu dengan senang hati,"Eomma minta maaf atas semua kesalahan yang pernah eomma lakukan padamu. Maaf karena telah menyakitimu. Eomma berjanji mulai sekarang akan memperbaiki sikap angkuh Eomma. Eomma akan berlutut dan mencium ujung kakimu kalau-."
"Tentu saja Eomma, aku akan memaafkan Eomma," ucap Wonwoo mencegah sang ibu untuk berlutut di hadapannya. Walaupun Mrs. Kim pernah menjahatinya, bukan berarti ia bisa bersikap kurang ajar pada orang tua.
"Wonwoo-ya, tak apa kalau eomma berlutut padamu. Eomma pantas melakukannya," dengan memaksa, wanita itu berusaha menekuk kedua lututnya, tetapi sang menantu justru menariknya ke dalam pelukan hangat.
"Aku ikhlas memaafkan eomma. Jadi, tidak perlu ada acara berlutut segala, Eomma."
.
.
Dua bulan kemudian
Balon warna-warni menggantung di langit-langit sebuah ruangan bercat putih bersih. Beberapa buah balon juga terlihat berserakan di sudut-sudut ruangan. Tulisan 'Saengilchuka hamnida Uri Minu' terpampang di dinding. Pintu samping ruangan yang menuju taman sengaja dibuka menunjukkan pemandangan taman yang indah dan sudah penuh dengan hiasan juga. Ya, hari ini adalah perayaan ulang tahun Kim Minwoo yang ke-5.
"Kapan badutnya datang?" seorang wanita sibuk mondar-mandir ke sana kemari mengecek segala persiapan.
"Sebentar lagi. Lagian acaranya masih satu jam lagi, yeobo," sang suami yang sedari tadi mengikuti pergerakan sang istri hanya bisa mendesah pelan. Memang, ibu-ibu semakin tua akan semakin cerewet dan menyebalkan.
"Satu jam itu bukan waktu yang lama, yeobo."
"Aigoo, terserah kau lah. Aku mau duduk dulu. Dari tadi aku sudah capek mengikutimu ke sana-kemari."
Begitulah selama satu jam berikutnya sang nenek terus memantau persiapan ulang tahun cucunya, sedangkan sang kakek hampir tertidur di kursi goyang yang berada di beranda.
Setelah ruangan itu dipenuhi tamu, teman sebaya Minwoo sekaligus teman TK-nya, sahabat Wonwoo dan Mingyu, dan juga pengisi acara alias si badut sekaligus pesulap akhirnya acara dimulai. Semuanya menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dengan meriah, sedangkan the party boy ikut bertepuk tangan, tersenyum lebar dan jingkrak-jingkrak kegirangan. Hari ini benar-benar tak akan dilupakannya seumur hidup.
Setelah Minwoo meniup lilin, Wonwoo dan Mingyu menghadiahi pipi anak mereka dengan kecupan. Satu per satu tamu memberikan kado kepada si Kim kecil. Tiba giliran kedua orang tuanya yang harus memberikan hadiah mereka, tetapi nampaknya kedua pria dewasa itu tidak membawa apa pun.
"Eomma, appa, mana hadiah untuk Minwoo?" si Kim kecil mempoutkan bibirnya.
"Hadiah Eomma dan Appa belum bisa dilihat sekarang, sayang," sang ayah berlutut dan menatap anaknya meminta pengertian.
"Wae? Apa hadiahnya belum selesai dibuat, Appa?" dengan polosnya, si anak bertanya.
"Bukan. Tapi, hadiahn ya baru akan keluar lima sampai enam bulan lagi, sayang," lanjut sang ayah.
"Benarkah, Eomma?" Minwoo mengalihkan pandangannya pada sang ibu yang tersenyum kecil. Sebuah anggukan menjadi jawaban pertanyaan Minwoo.
"Baiklah, Minwoo akan sabar menunggu hadiahnya. Tapi, bisa beri tahu Minwoo apa hadiahnya, Appa, Eomma?"
"Sesuatu yang selama ini diinginkan Minwoo untuk menghabiskan waktu bermain bersama," sang ibu menjawab.
Beberapa saat sang anak berusaha memproses apa yang dikatakan ibunya, kemudian bibirnya tersenyum lebar dan dia berteriak,"Asyik, Minwoo akan punya dongsaeng!" mengagetkan semua tamu undangan karena anak itu melepaskan kebahagiaannya dengan berlari-lari ke seluruh ruangan, taman, dan menghampiri satu per satu temannya sembari berteriak,"Minwoo akan jadi kakak. Minwoo akan punya dongsaeng yang imut."
.
.
While stopping along the way over and over again,
We share smiles and tears alike (more and more)
Because this journey the two of us have made (this journey)
Won't just fade away
.
.
THE END
