Disclaimer : Bang Konomi Takeshi
Author : Epitsu Onna
"Choutarou, bukankah hari ini ada pesta kembang api di sekolahmu?" Kakakku bertanya padaku, menoleh dari laptopnya.
Aku mendongak dari buku yang dari tadi sedang kupandangi –Bukan kubaca, sebab pikiranku sejak tadi melayang ke mana-mana –dan menjawab lesu, "Ya… Tapi aku tidak jadi pergi…"
"Kenapa?" Kakakku bertanya, melanjutkan mengetik sesuatu sementara matanya kembali ke layar laptop.
"Tidak apa-apa… Tiba-tiba aku tidak bersemangat…" Aku menjawab, membalik-balik halaman buku dengan lemas.
"Hm..." Kakakku bergunggam, "Hari ini kau aneh sekali. Kau bahkan bolos latihan klub mu,"
"Jangan bilang pada ayah ibu, ya..." Aku memohon perlahan.
"Tentu saja tidak," Kakakku berkata, "Aku juga tidak mau kau dimarahi,"
"Terima kasih, neesan,"
Kakakku tak menjawab apapun.
Aku kembali menatapi halaman buku itu. Apakah Shishido-san jadi datang? Apakah ia datang sendiri? Atau mungkin tidak datang sama sekali? Apa ia sedang memikirkan cara minta maaf padaku, atau sudah sama sekali lupa dengan kejadian siang tadi?
Tiba-tiba bel rumah kami berbunyi.
"Biar aku yang buka," Aku berkata, berjalan lemas untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, aku melihat seseorang yang paling tidak kuduga untuk berdiri di sana.
Shishido-san.
Dan saking tak percayanya, aku menutup pintunya lagi.
"Chou... Choutarou!!" Shishido-san berteriak dari luar.
Aku membuka pintu lagi. Itu... Masih Shishido-san. Ia memakai kaus hitam lengan panjang dan celana jins panjang. Benar-benar panjang sampai ke mata kaki, padahal biasanya Shishido-san memakai celana selutut atau ¾ . Dan ia tak memakai topi. Dan... pipinya...
"Shishido-san!! Ada apa dengan pipimu??" Aku bertanya panik. Pipi Shishido-san sangat bengkak, ditutupi perekat luka.
"Tidak... Tidak apa-apa... Kau tak perlu memikirkannya..." Shishido-san nyengir, "Ayo, cepat! Sebaiknya kau segera siap-siap, atau kita bisa terlambat ke pesta kembang api,"
"Ta… Tapi…"
"Aku tak apa-apa! Sungguh. Sekarang sudah jam 7! Acaranya bahkan sudah dimulai. Kau harus segera mengganti bajumu, Choutarou!"
"Ha..." Aku mengerjap, dan dengan patuhnya aku berkata, "O... Oke. Tunggu sebentar, ya. Silakan masuk,"
"Tidak usah, di sini saja..." Shishido-san berkata, menyender pada tembok teras, tersenyum, "Kau akan cepat, kan?"
Aku mengangguk dan masuk ke rumah. Dan aku menyusun ulang apa yang terjadi selama berjalan menyusuri lantai.
A... APA...
KE... KENAPA SHISHIDO-SAN MENJEMPUTKU?? Bu... Bukannya kami sedang bertengkar?? Jangan bilang ia benar-benar lupa apa yang terjadi tadi siang?? Tapi kalau ia benar-benar lupa dan menganggap semuanya normal, seharusnya aku yang menjemputnya, bukan...?
LA... LALU ADA APA DENGAN PIPINYA?? Itu bukan bengkak yang ringan… tampaknya… agak parah… Apa yang terjadi?? Ia tidak bertengkar dengan... dengan Gakuto-senpai atau berandalan di jalan kan??
"Choutarou, siapa?" Kakakku bertanya.
"I... Itu tadi... ah... ng... Shishido-san..."
"Oh... Ada urusan apa?"
"Ah... Eng... Neesan, aku jadi pergi ke pesta kembang api..." Aku menjawab, otakku masih setengah bingung.
"Akhirnya jadi?" Neesan mengangkat alisnya, lalu tersenyum, "Baguslah. Coba ikut aku sebentar,"
"Hah?" Aku menatap neesan.
"Ayo, ikut saja,"
XxXxXx
"Neesan... I... Ini... memalukan sekali!!" Aku menatap bayanganku di cermin dengan wajah memerah, "Tidak cocok!!"
"Siapa bilang? Tentu saja cocok," Kakakku berkata sambil membereskan kerah pakaianku, "Nah, sudah beres. Sekarang semuanya sudah siap. Sana temui temanmu!"
"Ta... Tapi aku kelihatan... konyol sekali!" Aku berkata malu.
"Tidak, kau tidak konyol. Kau terlihat keren," Kakakku tersenyum, "Sudah, cepat, temanmu sudah lama menunggu. Oh ya, pakai ini!"
Aku menurut dan memakai benda yang disodorkan kakak padaku. Ketika aku berjalan menuju pintu rumah. Selama aku berjalan, benda itu menimbulkan bunyi berisik ketika berbenturan dengan lantai.
"Neesan... Kurasa aku memakai sepatu saja..."
"Mana bisa! Kau akan terlihat aneh sekali tahu!" Kakakku menarik tanganku untuk berjalan lebih cepat dan membuka pintu, "Di mana-mana, yukata paling cocok dengan geta!"
Shishido-san menatapiku dengan kaget melihat pakaianku. Yukata biru dengan motif garis-garis putih dengan obi berwarna hitam.
Aku menunduk malu. Aku pasti kelihatan benar-benar konyol...
"Aku titip adikku ya," Kakakku tersenyum pada Shishido-san.
"A-Ah... Iya," Shishido-san membungkuk.
"Hati-hati, Choutarou!" Kakakku berkata ketika kami berdua mulai berjalan keluar pagar dan menyusuri jalan.
Aku menatap jalan sepanjang kami berjalan, dan menyadari bahwa Shishido-san terus menatapku.
"A... Apakah seaneh itu?" Aku bertanya perlahan, melirik Shishido-san tapi aku tetap menundukkan wajahku, "Kakakku suka sekali pada kimono dan yukata... Ia selalu ingin mencoba memakaikannya padaku..."
"Ti-tidak aneh!!" Shishido-san berkata cepat, dan aku menyadari bahwa wajahnya memerah, namun ia tersenyum, "Kau benar-benar sangat manis sekali, kok,"
Ma... Manis?? Aku menunduk, mukaku memerah dan aku tersenyum senang, "Terima kasih,"
Shishido-san mengunggamkan 'sama-sama' dengan pelan.
Kami berjalan dengan diam.
"Choutarou... Soal siang tadi... Aku minta maaf...,"
Aku terdiam.
"Aku seharusnya sadar bahwa kau... tidak akan pernah..."
"Sudahlah," Aku memotong, "Tidak apa-apa... Aku mengerti..." Karena... Sekejam apapun kata-kata yang Shishido-san lontarkan, aku tak pernah bisa membencinya.
"Choutarou... Aku benar-benar sungguh-sungguh kali ini," Shishido-san menatapku, "Aku tidak akan pernah membuatmu menangis lagi,"
Aku tersenyum, mengangguk meski jauh di dalam hatiku aku tahu aku menyangsikan hal itu. Rasa suka itu penuh penderitaan... Terlebih jika ia tak balas menyukaimu.
"Lalu soal jawabanku..."
Aku menoleh cepat, "Ya??"
"Bisakah kau menunggu sebentar lagi?"
Aku menunduk kecewa, namun mengangguk, "Ya... Tentu saja,"
"Benar-benar cuma sebentar lagi," Shishido-san berkata perlahan, "Aku janji. Sungguh,"
Aku mengangguk. Lalu aku melihat lagi pipinya, dan rasa cemas kembali menghinggapi dadaku, "Shishido-san, sebenarnya ada apa dengan pipimu?"
Shishido-san tertawa. Ia menatapku, tatapannya begitu lembut sehingga aku berdebar-debar sendiri dibuatnya, "Choutarou... Terima kasih sudah mengkhawatirkanku ya,"
"Bicara apa Shishido-san ini... Itu kan hal yang normal untuk kuatir... Pipimu bengkak..."
"Ini cuma bagian dari pendewasaan diri..."
Aku bingung, "Ma... Maksudnya?"
"Tak apa..." Shishido-san tersenyum, "Sudah, ayo kita bergegas!"
XxXxXx
Hyotei penuh dengan lampion, bendera sekolah dan api unggun untuk membakar ubi di mana-mana. Juga ada stand-stand jajanan. Sekolah kami kelihatan sangat meriah. Bahkan ada panggung besar juga di depan, dan di sana sekarang sedang diadakan lomba karaoke. Shishido-san dan aku berpandangan kemudian tertawa berbarengan melihatnya. Aku benar-benar mengagumi Atobe-buchou karena bisa mengkoordinir acara sebesar ini.
"Oh, kalian datang bersama!" Atobe-buchou mendekati kami. Ia mengenakan yukata hitam dengan obi putih yang kelihatan minimalis namun keren sekali, dengan Kabaji di belakangnya mengenakan yukata juga, warnanya biru tua dengan motif capung putih. Aku melotot melihat luka yang benar-benar persis luka di pipi Shishido-san di pipi Atobe-buchou dan Kabaji, bengkaknya sama.
Atobe-buchou dengan santainya menepuk bahuku, "Hebat sekali, Ohtori-kun, kau berhasil mengajak Shishido yang benar-benar lamban ini,"
"Tu... Tunggu... Pipi itu... Sebenarnya..." Aku baru mau bertanya ketika tiba-tiba Shishido-san menyergah tangan Atobe-buchou dari bahuku dan berkata dengan senyuman dingin, "Terima kasih. Karena itulah, kami mau menikmati acara kami berdua. Jangan mengganggu, Atobe,"
Atobe-buchou menatap Shishido-san, "Ho... Mentang-mentang kau sudah bisa jalan-jalan berdua dengan Ohtori-kun, kau mau menyombong?"
"Tentu saja aku bangga bisa berjalan bersama Choutarou,"Shishido-san berkata, tersenyum puas.
Aku mengerjap, tak mengerti maksudnya.
"Tentu saja aku bangga bisa berjalan dengan seseorang yang begitu manis," Shishido-san tersenyum padaku.
"AP-" Mulutku terbuka, mukaku memerah, namun belum sempat aku berkata apa-apa, ada seseorang yang menerjang memelukku. Aku nyaris jatuh kehilangan keseimbangan karenanya.
"Wah, betuuulll!! Choutarou lucu sekali!! Hwaaaa...!!"
"Akutagawa-senpai..." Aku menatap Akutagawa-senpai yang balas nyengir padaku... dengan pipi yang sama, juga bengkak besar.
"Se... Senpai, pipimu!!"
"Ah... Ini..." Akutagawa-senpai tertawa, "Abaikan saja!! Bagaimana penampilanku malam ini?"
Aku masih bingung, namun aku tersenyum melihat yukata kuning gandum yang sedang dipakainya, motifnya beruang-beruang cokelat. Aku tersenyum, "Manis sekali,"
"Kyahahaha!! Benar kah??" Akutagawa-senpai tertawa ceria, "Aku jadi malu niiih..."
Gakuto-senpai muncul dari belakang Akutagawa-senpai dengan yukata berwana putih dengan motif rumput-rumput tsubaki merah di bagian bawahnya... Dan pipi yang bengkak pula.
"Areee!! Shishido, ada apa dengan bajumu itu?? Di mana semangat festivalmu??"
"Aku tidak punya yukata!" Shishido-san menjawab pada Gakuto-senpai, kemudian memelototi Akutagawa-senpai, "Jirou!! Lepaskan pelukanmu dari Choutarou segera!!"
"Hyaaa... Aku takuuutt!! Shishin menyeramkan!! Kabaji-chan, selamatkan akuu!!" Akutagawa-senpai beralih memeluk Kabaji.
"Apa boleh buat, Jirou," Gakuto-senpai tersenyum sinis, "Laki-laki yang sedang cemburu selalu begitu,"
"Oh, ya, memang benar, lihat saja Atobe," Shishido-san membalas, "Ia sudah siap membunuh Jirou, tuh,"
"Ore-sama tidak cemburu," Atobe-buchou berkata, meski sepertinya ia memang siap membunuh Akutagawa-senpai hanya dengan tatapannya.
Shishido-san menoleh pada Gakuto-senpai, "Gakuto, mana Oshitari?"
"Kangen padaku, Shishido?" Oshitari-senpai tiba-tiba saja sudah muncul, mengenakan yukata berwarna biru yang senada dengan warna rambutnya. Rambut shaggy nya itu dikuncir buntut kuda. Dan mulutku terbuka melihat pipinya juga bengkak seperti... seperti senpai-senpaiku yang lain dan Kabaji.
"Se... Senpai... pipimu..." Aku berkata perlahan, namun Shishido-san memotongku, "Oshitari, kau seperti bapak-bapak..."
"...Yang mesum," Akutagawa-senpai tergelak tertawa.
"Apa maksudmu?" Oshitari-senpai mengangkat alisnya.
"Memang dia mesum, tak salah lagi," Gakuto-senpai berkata sinis.
"Gakuto, sudah kubilang tadi aku cuma menyapa mereka,"
"Tapi mereka memeluk lenganmu,"
"Apa artinya memeluk lengan kalau kau sudah pernah memeluk seluruh bagian tubuhku?"
"Ew... Oshitari..." Shishido-san mengernyit, "Tidak ada omongan mesum, tolong..."
"Aku tidak mau peduli lagi padamu, Yuushi, lakukan saja sesukamu!" Gakuto-senpai membuang muka.
"Gakuto..."
Gakuto-senpai menarik Akutagawa-senpai menuju ke kedai gula-gula kapas. Oshitari-senpai menghela napas dan Atobe-buchou menepuk bahunya, "Itulah kalau kau terlalu aktif menggoda cewek,"
Aku merasa bingung sekali. Apa saat aku bolos tadi ada janjian seluruh anggota regular untuk punya bengkak di pipi??
"Wuaaa... Lihat lihat lihat!!" Akutagawa-senpai, yang sudah kembali bersama Gakuto-senpai dengan gula-gula kapas sangat besar berrwana merah muda di tangan mereka, melambai, "Hiyopiyooo!!"
Hiyoshi mengernyit dengan panggilan itu, namun ia mendatangi kami juga. Aku mengerjap. Bahkan Hiyoshi juga punya bengkak itu!!
"Wuaaah... Hiyopiyo cocok banget pake yukata!!" Akutagawa-senpai berkata ceria, "Keren!! Seperti yang bisa diduga dari pewaris dojo Judo!!"
"Enbu," Hiyoshi mengkoreksi tajam.
"Oh ya... hehe..." Akutagawa-senpai tertawa.
Gakuto-senpai mengerjap, terus menatapi Hiyoshi dengan bengong.
"Ada apa, Mukahi-san?" Hiyoshi balas menatap Gakuto-senpai.
Gakuto-senpai menunduk dengan wajah memerah, "Tidak apa-apa..."
Shishido-san tertawa, "Gakuto, jangan bilang kau terpukau dengan pemandangan Hiyoshi memakai yukata!!"
"APA??" Oshitari-senpai menoleh dari mie gorenya.
Gakuto-senpai berteriak malu, "Di... Diam!! Shi... Shishido berisik!! Urus saja dirimu sendiri!! Kasihan tuh Choutarou-mu kelamaan menunggu kau menjawab perasaannya gara-gara otakmu yang lamban!!"
Aku terkejut dan terdiam. Shishido-san juga. Ia melirikku tapi aku terus menunduk menatap kakiku sendiri.
"Tak ada urusannya denganmu, Gakuto," Aku mendengar Shishido-san berdesis ketus. Lalu berikutnya, aku merasakan sebuah tangan yang terasa dingin bertemu dengan tanganku, "Ayo pergi, Choutarou!!"
"Hah?" Aku masih belum sadar sepenuhnya ketika Shishido-san menarikku menjauh dari yang lain. Ternyata tangan yang menggandengku ini... Tangan Shishido-san?? Mukaku memerah, dan tanganku jadi terasa berkeringat. Aku agak kesulitan mengikuti kecepatan jalan Shishido-san karena aku tak terbiasa memakai geta.
"Oh... Maaf, Choutarou..." Shishido-san menoleh, menyadari bahwa aku terseok-seok mengikutinya. Kemudian kami berjalan melambat, tangan kami tetap bertautan erat.
"Shi... Shishido-san, sebenarnya ada apa dengan... pipi pipi kalian semua?" Aku bertanya bingung.
"Pipi apa?" Shishido-san bertanya, lalu menyambung "Ah, lihat, takoyaki!" Shishido-san berhenti berjalan dan menunjuk ke kedai dengan gambar gurita di atasnya, "Kau mau, Choutarou?"
Aku terdiam. Shishido-san tak menjawab pertanyaanku... Akhirnya aku mengangguk saja.
Shishido-san tersenyum, "Tunggu sebentar ya, akan kubelikan,"
Kupikir Shishido-san akan melepaskan tangannya untuk membelikan takoyaki, tapi ternyata ia menarikku untuk memesan bersamanya. Aku mulai memikirkan kebingungan baru... sekaligus rasa malu. Kenapa Shishido-san menggandengku terus seperti ini?
"Nih, Choutarou," Shishido-san menyodorkan piring berisi takoyaki yang masih mengepul dengan tangannya yang tidak menggenggam tanganku, tersenyum, "Krimnya banyak, tuh. Kau suka kan?"
"Terima kasih, Shishido-san," Aku menerimanya. Kemudian aku terdiam.
Shishido-san tak juga melepaskan tangannya, cuma menatapiku dan masih tersenyum. Mukaku memerah dan aku berkata pelan, "Shi... Shishido-san... Aku tak bisa makan kalau kau... terus menggandengku..."
"Oh!" Shishido-san menatapi tangan kami, lalu ia tersenyum, "Bagaimana kalau kau yang memegangi piringnya, lalu aku menyuapimu? Beres kan?"
Aku terbengong, tak percaya. Itu... Shishido-san tuh yang mengusulkan ide itu?? Ya... Yang benar saja!! Mukaku langsung memerah, benar-benar merah seperti tomat.
"Ti... Tidak usah, aku bisa makan sendiri kok..!" Aku menjawab malu, berusaha menarik tanganku dari genggaman Shishido-san tapi Shishido-san menahannya.
"Shi... Shishido-san?"
"Kau tidak akan lari kan?"
Aku menatap Shishido-san, "A... Apa?"
Shishido-san menatapku, menatap tangan kami kemudian menatapku lagi, "Kalau kulepas tanganmu, kau tidak akan lari kan?"
"Aku... tidak mengerti... Ta... Tapi aku tidak akan bisa lari dengan geta,"
Shishido-san tersenyum, "Betul juga ya," Ia melepaskan tanganku. Dan kami berjalan berdampingan menyusuri jalan di antara kedai-kedai makanan dan permainan-permainan. Shishido-san terus menatapiku yang sedang makan takoyaki sampai aku malu sendiri.
Akhirnya aku bertanya, "E... eng... Shishido-san... Kau mau?"
"Tidak..." Shishido-san menggeleng dan tersenyum, "Aku senang melihatmu makan,"
"Ha...?"
"Kalau sedang makan..." Shishido-san berkata sambil tertawa dengan ringannya, "Kau imut sekali!"
"Uhuk!!" Aku nyaris menjatuhkan piring takoyakiku dan aku tersedak mendengar kata-kata tadi. Ada sesuatu yang salah dengan Shishido-san malam ini! Aku yakin!!
"Chou... Choutarou! Kau baik-baik saja?? Mau air??" Shishido-san menepuk punggungku panik.
"Ti... Tidak, terima kasih..." Aku berkata perlahan.
"Benar?"
Aku mengangguk. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya hati-hati, "Shi... Shishido-san... Apa ada sesuatu? Karena sejak tadi... Shishido-san... tak seperti biasanya..."
"Oh ya?" Shishido-san menatapku.
"I... Iya..." Aku mengangguk sungguh-sungguh.
"Mungkin... Aku cuma terlalu senang..." Shishido-san tersenyum, "Bisa berjalan berduaan saja denganmu, Choutarou,"
BWOSSSHH!! Sekujur tubuhku benar-benar terasa panas, bahkan aku bisa melihat bahwa tanganku ikut memerah. Apalagi wajahku!! Mungkin sudah merah terang sekarang.
Benar nih.
Ada sesuatu yang benar-benar aneh. Ada sesuatu yang salah dengan Shishido-san. Shishido-san yang biasanya tidak akan pernah mengatakan sesuatu seperti itu. Maupun menggandeng tanganku di depan umum… Apalagi berkata bahwa aku imut dan mengusulkan supaya ia menyuapiku?? Itu bukan Shishido-san banget!!
Apa Shishido-san sedang bercanda denganku?? Atau…jangan-jangan ia sedang mencoba membuatku senang saja karena tadi siang kami bertengkar? Tapi Shishido-san sudah bilang maaf, dan selama ini, jira kami sudah selesai bertengkar, kami akan kembali seperti semula, tidak pakai berbaik-baikan begini… Aku memutuskan lebih baik aku mengeceknya daripada penasaran.
"Choutarou, kenapa kau menaruh tanganmu di dahiku?" Shishido-san bertanya bingung, melirik tanganku yang kutempelkan di dahinya.
"Ti... tidak..." Aku berkata gugup, mengangkat tanganku. Suhu badannya normal... Lalu kira-kira apa yang menyebabkan Shishido-san begitu aneh??
"Ah, Choutarou, kau mau bakar ubi tidak?" Shishido-san menunjuk api dengan banyak orang di sekitarnya, tertawa-tawa sambil membakar dan memakan ubi mereka.
Aku mengangguk, masih agak bingung dengan perlakuan Shishido-san.
"Ayo!" Shishido-san menggenggam tanganku lagi. Kami berjalan dan Shishido-san melepaskan tanganku begitu kami sampai di dekat api tempat membakar ubi. Beberapa orang yang tak kukenal menyapanya, mungkin mereka teman sekelas Shishido-san.
"Hei, bukan kah yang dibakar harusnya ubi?" Shishido-san tertawa, menunjuk bungkusan marshmallow.
"Mumpung ada apinya. Lagipula kalau ubi saja kan nggak ekslusif!" Salah satu temannya membalas dan mereka tertawa bersama. Shishido-san menarikku ke sebuah celah kosong di antara orang-orang dan kami duduk berdampingan. Aku bingung bagaimana aku harus duduk, dan akhirnya aku memutuskan untuk berlutut.
Shishido-san tersenyum, "Aku akan membakarkan ubi terenak untukmu,"
Aku tertawa, "Terima kasih,"
Aku memperhatikan Shishido-san selama ia membakar ubi, matanya menatap api. Mukaku memerah. Shishido-san hari ini keren sekali... Iya juga, bukan hanya perlakuannya padaku, hari ini cara berpakaiannya juga beda sekali... Biasanya Shishido-san cuek soal pakaian. Yang ia pakai cuma T-shirt dan celana, bahkan ia tidak punya celana panjang. Yang ia pakai selalu celana selutut atau celana ¾. Aku bahkan tak ingat ia punya kaus lengan panjang seperti ini.
Kenapa ya Shishido-san bersikap aneh?
Jangan-jangan...
Aku melirik Shishido-san, yang balas menatapku dan tersenyum, "Ada apa? Sebentar lagi matang nih,"
"Ti... Tidak," Aku menggeleng.
Jangan-jangan... ia akan menolakku, makanya berbaik-baik padaku sekarang biar... paling tidak aku punya kenangan indah sebelum ditolak??
Aku menggelengkan kepalaku. Shishido-san bukan orang seperti itu...
"Choutarou, sudah matang!" Shishido-san mengambil hati-hati ubi dari ujung tusuk pembakar yang panjang dan meletakkannya di dalam bungkusan dari kertas yang tersedia, "Hati-hati ya, masih panas,"
"Terima kasih," Aku menerimanya, tanganku yang agak dingin terasa hangat saat memegang bungkusan kertas itu. Di dalam kertas itu, ubi dengan kulit cokelat agak kehitaman yang sudah mengelupas memperlihatkan dagingnya yang berwarna kuning keemasan. Aku meniup ubi itu perlahan.
"Shishido-san, kau tidak mau?" Aku menatap Shishido-san.
"Tidak," Shishido-san tersenyum, "Aku mau lihat kau saja,"
"Ha... ah..." Aku menunduk malu.
Tapi... perlakuan Shishido-san yang seperti ini rasanya... benar-benar... manis sekali. Jantungku tak berhenti berdegup kencang sejak tadi. Beginikah kalau Shishido-san membalas perasaanku?
"Enak... Manis," Aku tersenyum setelah dengan perlahan mengunyah segigit ubi, "Shishido-san juga coba deh,"
"Boleh?"
"Tentu saja, kan Shishido-san yang membakarkannya,"
Shishido-san tersenyum padaku, menerima ubi yang kusodorkan. Lalu ia menggigit sepotong sebelum menunduk tiba-tiba sambil memegangi mulutnya, "Akh... Panas!"
"Tentu saja..." Aku tak bisa menahan tawaku.
Shishido-san menelan susah payah ubi itu, lalu mengeluh perlahan, "Ah... lidahku... terbakar..."
"Mau aku belikan minum?" Aku bertanya.
"Boleh... Air mineral saja. Terima kasih," Shishido-san tersenyum padaku.
"Sebentar ya!" Aku tersenyum juga, bangkit berdiri dan berjalan menuju ke konter yang menjual minuman.
Setelah selesai membeli minum, aku berjalan kembali ke arah Shishido-san, ketika tiba-tiba aku melihat tiga orang cewek sedang mengobrol dengan Shishido-san. Lebih tepatnya... mengajaknya melakukan sesuatu, sepertinya. Aku terdiam, mendengarkan isi percakapan.
"Ayolah, Shishido! Kau kan cuma sendirian malam ini! Jalan-jalan bersama kami, yuk?" Cewek yang pertama, yang memakai yukata berkata.
"Sudah kubilang aku tidak sendirian," Shishido-san berkata, "Aku bersama seseorang,"
"Siapa? Kau bohong, kau cuma menghindar saja kan! Ayolah!!" Cewek kedua, yang memakai sweter dan rok mini meskipun ini sudah musim gugur ikut-ikutan berkata.
"Aku tidak bohong!" Shishido-san berkata, "Ia sedang membelikanku minuman... Mana sih Choutarou... Ah!" Shishido-san melihatku, ia tersenyum dan berdiri, kemudian berjalan menghampiriku.
"Dia?" Cewek yang kedua menatapiku dari atas sampai bawah, ia berpandangan dengan kedua temannya, "Shishido... dia... cowok,"
"Memangnya kenapa?" Shishido-san berkata cuek, lalu menarikku, "Ayo, Choutarou, kita pergi,"
Aku bertanya perlahan saat kami sudah agak jauh dari tempat tadi, sekarang berdiri di depan panggung untuk melihat peserta ke 43 yang sedang menyanyikan... lagu apa aku tidak bisa menangkap, "Shi... Shishido-san, mereka siapa?"
"Teman sekelasku. Dua di antaranya berisik sekali. Tapi memang ada yang satu lagi anaknya pendiam," Shishido-san menjelaskan singkat.
"Oh..." Aku menunduk.
Shishido-san menatapku, lalu tersenyum, "Kau cemburu ya?"
Aku berkedip, "Hah?"
"Saat tadi melihatku bersama cewek-cewek itu, kau merasa kesal tidak?" Shishido-san bertanya.
Aku menunduk. Tentu saja kesal... Aku kan menyukaimu, Shishido-san...
"Tidak juga..." ujarku, berbohong. Aku tersenyum padanya, senyum yang kuharapkan terlihat tulus, "Kenapa aku harus kesal?"
Shishido-san menatapku, terdiam. Shishido-san tak mengatakan apa-apa lama sekali, bahkan ia menunduk terus. Aku menatapinya sampai aku menyadari jam besar di gedung sekolah menunjuka nyaris pukul delapan.
Aku memecah kesunyian kami berdua,"Eh lihat, sekarang sudah jam 8 kurang 20! Kembang api dimulai jam 8 kan?"
Shishido-san mendongak, lalu wajahnya mulai ceria lagi, "Ah, ya! Betul juga! Ayo, kita pergi!"
"Ke... Ke mana?" Aku bingung.
"Ke tempat yang paling bagus untuk melihat kembang api," Shishido-san tersenyum, menggandeng tanganku.
XxXxXx
"Atap sekolah?"
"Ya," Shishido-san tersenyum, menuntunku menaiki tangga atap sekolah. Aku agak merinding ketika merasakan angin yang berhembus di sini lebih dingin daripada di bawah.
"Ah, lima menit lagi dimulai," Shishido-san menatap jamnya lagi.
Aku menatap langit, menunggu dengan berdebar-debar. Sejak kecil, aku suka sekali melihat kembang api, karena aku jarang bisa melihatnya. Kakakku tak pernah suka pergi ke festival komplek-komplek, sedangkan ayah ibuku selalu sibuk bekerja, dan aku tak mungkin pergi sendirian, jadi jika ada kesempatan bisa melihat kembang api, aku selalu sangat bersemangat.
Shishido-san menatapku dan tertawa,"Kau begitu menyukai kembang api, ya, Choutarou,"
Aku tersenyum, mukaku memerah, "Iya,"
"Kira-kira 3 menit lagi akan dimulai,"
"Mm..."
Kami terdiam, tapi keheningan kami ini terasa nyaman.
Shishido-san tiba-tiba membuka dengan sebuah pertanyaan, "Choutarou, kau ingat kan soal grip tape yang kuterima saat ulang tahun?"
DEG. Aku mengangguk, "Mm... Iya,"
"Ternyata aku benar lho," Shishido-san tersenyum, "Yang memberikanku grip tape itu ternyata memang benar-benar... manis sekali,"
"Ha... Hah?" Aku mengerjap. Apa ada yang mengaku sebagai pemberi grip tape itu?? "Si... Siapa?"
Shishido-san menatapku,"Kau sudah tahu, kan, siapa yang kumaksud..."
"Ti... Tidak tahu... Eng... Dari... Kelas berapa?"
"Kelas 2..." Shishido-san tersenyum.
"Oh..." Aku menunduk. Kelas 2 ?? Apa ada yang tahu soal grip tape itu? Apa aku pernah menceritakan soal grip tape itu pada seseorang??
"Orangnya baik sekali, juga sangat perhatian padaku," Shishido-san berkata, "Dan lagi, ia sangat imut... Pokoknya, ia benar-benar seseorang yang menyenangkan,"
Aku menatap Shishido-san. Dadaku kembali terasa perih. Aku menunduk, "Hm... Syukurlah kau bisa menemukan orangnya..."
"Ternyata aku mengenalnya," Shishido-san berkata, "Ternyata ia dekat sekali denganku. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa aku tak bisa menduga kalau itu dia,"
Aku terdiam.
"Ngomong-ngomong, Choutarou..."
"I... Iya?"
"Terima kasih ya, sudah mau bersamaku selama ini. Aku benar-benar... benar-benar sangaaat bersyukur bisa dipertemukan denganmu,"
Aku mengerjap. Apa maksudnya? Itu terdengar seperti kata perpisahan... Ja... Jangan-jangan... Shishido-san benar-benar akan menolakku?? Dadaku terasa panas dan panas itu menjalar ke mataku. Aku terisak.
"Chou... Choutarou??" Shishido-san menghampiriku, terkejut, "Kenapa?? Kenapa kau menangis??"
"Shi... Shishido-san... memang akan menolakku ternyata..." Aku terisak, "Shishido-san... sejak tadi... sikap baik Shishido-san cuma supaya... aku tidak bersedih saat ditolak, kan?? Ya... kan...?"
Shishido-san melotot, "Tentu saja tidak!!"
Aku menghapus air mataku, "La... Lalu...?"
Shishido-san menghela napas, ia menatapku lekat-lekat, "Pemberi grip tape itu. Kau mau tahu namanya?"
Aku terdiam, cuma terisak perlahan sebagai jawaban.
"Namanya Ohtori Choutarou,"
Mataku melebar kaget.
Sedetik setelah kata-kata Shishido-san, terdengar suara ledakan besar yang diiringi dengan pecahnya warna warni yang menghiasi langit.
"Shi..." Aku menatap Shishido-san. Cuma kali ini pertama kalinya aku bisa teralih dari kembang api yang ada di depan mataku. Namun aku memang tidak akan bisa mengalihkan pandanganku... Shishido-san mencengkram bahuku dengan kuat, matanya yang berwarna biru gelap menatap mataku dalam-dalam.
"Choutarou, aku..." Shishido-san berbicara pelan, "Aku memang lamban, tepat seperti yang dikatakan Gakuto... Aku butuh...nyaris 3 bulan hanya untuk menyadari perasaanku. Benar-benar payah..."
"Shi... Shishido-san..."
"Kurasa..." Shishido-san menunduk, wajahnya memerah, "Aku... Aku sudah menyukai bahkan sejak lama sekali... Aku sama sekali tak menyadarinya. Karena kau selalu ada di sampingku, aku tak pernah memikirkan bagaimana kalau misalnya saja kau meninggalkanku suatu hari...
"Aku selalu saja keenakan, karena aku tahu bahwa di dalam hatiku kau tak akan pernah bisa membenciku. Kau akan selalu memaafkanku, apa pun yang kukatakan... Aku sendiri tidak menyadarinya selama ini... Tapi begitu kupikirkan lagi, sepertinya memang... seperti itu..."
Aku masih menatap Shishido-san dengan takjub.
Shishido-san mendongak menatapku lagi, dan aku bisa melihat mukanya benar-benar sangat merah, "Lalu tadi siang, setelah aku mengatakan... kata-kata brengsek itu... Aku uring-uringan sepanjang hari. Ditambah lagi aku melihatmu tidak masuk klub... Aku benar-benar merasa marah...
"Aku... Pertama aku tak mengerti sebenarnya kepada siapa aku marah, tapi kemudian aku sadar bahwa aku marah pada diriku sendiri. Aku marah karena tak pernah bisa membuatmu bahagia, selalu saja membuatmu menunggu, membuatmu mengalah... Dan yang paling parah... Aku lah yang selalu membuatmu menangis..."
"Lalu... Lalu akhirnya Gakuto yang jadi ketularan uring-uringanku bertanya ada apa denganku sebenarnya. Tentu saja aku tidak langsung menjawabnya... Aku malah menonjok pipinya. Gakuto malas menonjokku.
"Oshitari mencoba melerai kami dan ia kena tonjok juga. Dan akhirnya ia balas menonjokku lagi. Padahal yang menonjok dia Gakuto, bukan aku. Akhirnya aku kesal dan balas menonjoknya. Saat ia mau balas menonjokku lagi, aku merunduk dan kena Hiyoshi.
"Hiyoshi marah dan... ia menonjok Oshitari, Oshitari terhempas ke Jirou yang sedang tidur. Lalu Jirou terbangun, ia kesal dibangunkan dengan cara yang sangat... kasar, dan akhirnya ia bergabung dengan tonjok-tonjokan itu.
"Dan akhirnya, Atobe mencoba membuat kami berhenti tapi ujungnya ia kena tonjok oleh... Aku lupa, sepertinya olehku, soalnya setelah Atobe tertonjok, Kabaji menonjokku. Dan aku menonjok balik meski dengan susah payah, dan..."
"Shishido-san..." Aku mengerjap, meski aku ingin tertawa tapi aku menahan dulu niatku itu, "Lalu apa yang terjadi... Setelah semua tonjok-tonjokan itu?"
"Akhirnya aku... malah curhat ke seluruh anggota regular," Shishido-san berkata, "Dan... terus terang saja, meski aku benci harus mengatakannya, aku harus berterima kasih pada mereka. Kata-kata mereka membuatku sadar.
"Mereka membuatku sadar bahwa perasaan kesal yang sering kurasakan ketika aku melihatmu akrab dengan orang lain itu... namanya cemburu. Kenapa aku selalu saja merasa bahwa kau seharusnya selalu... selalu bersamaku, kenapa aku merasa begitu senang melihat senyummu, kenapa aku merasa sangat menderita saat sedang berdiam-diaman denganmu, kenapa aku selalu saja..."
Shishido-san berhenti sesaat dan mukaku memerah. Tatapan Shishido-san menjadi sangat... sangat lembut.
"Kenapa aku selalu saja ingin memilikimu..."
Aku mengerjap, "Apa?"
"Aku... Choutarou, demi Tuhan, aku tidak mengerti soal nama-nama perasaan. Sejak bertemu denganmu, aku baru tahu bahwa ternyata perasaan itu bukan cuma marah, takut dan senang. Ternyata ada juga nama-nama lainnya kalau mereka dicampur-campur... Aku benar-benar baru tahu.
"Makanya apa suka itu pun aku sama sekali tidak mengerti. Bahkan sampai sekarang, aku tidak tahu apa ini benar-benar suka atau bukan. Aku cuma merasa... Aku ingin memilikimu, aku ingin... aku ingin bisa menyentuhmu cukup dengan alasan 'aku sedang ingin', aku ingin bisa melarangmu untuk menemui orang lain, aku ingin punya hak untuk bisa selalu bersamamu,"
Tuhan. Ini semua terlalu indah untuk jadi kenyataan... Bahkan dalam mimpiku yang paling liar sekalipun, tak pernah terpikir kalau Shishido-san bisa mengatakan sesuatu seperti itu padaku.
Dan tak pernah pula terbayang kalau Shishido-san aku menatapku... Menatapku dengan raut wajah dan sinar mata seperti itu... Apalagi menatapku dengan jarak sedekat ini, sampai aku bisa merasakan hangat nafasnya, aku bisa mencium wangi sabunnya (Kalau aku tidak salah, sepertinya ini wangi sabun seasalt scrub), aku bisa melihat luka-luka kecil pada wajahnya bekas latihan dulu sekali saat ia berusaha menangkap Scud Serve ku, yang tidak akan bisa kelihatan dari jauh... Dan...dan…
Tiba-tiba saja dunia ini berputar.
"Cho...Choutarou!!"
Masih bisa kudengar suara sayup-sayup Shishido-san sebelum semuanya menjadi sangat terang, lalu hitam kelam.
XxXxXx
Aku membuka mataku perlahan, mengerjap karena cahaya yang tepat berada di depan mataku, sebelum akhirnya pupilku dengan cepatnya terbiasa. Namun aku masih menyipitkan mata untuk menatap sekitar, mataku belum sepenuhnya fokus. Ruangan yang serba putih...
"Choutarou!"
Aku membuka mataku sepenuhnya, melihat Shishido-san di sisiku. Rupanya aku sedang terbaring di atas ranjang UKS.
"Shi... Shishido-san, kenapa aku di sini?"
Shishido-san tersenyum, ia mengelus rambutku, "Kau pingsan..."
Aku memegangi kepalaku, "Pingsan...?"
Shishido-san cuma tersenyum simpul. Tanpa aba-aba dan pertanda apa pun, ia memajukan wajahnya, mengecup dahiku. Mataku melebar, dan mukaku terasa begitu panas.
Aku memegangi bagian yang tadi disentuh oleh bibir Shishido-san dengan takjub, berteriak malu, "Shi... Shishido-san??"
"Kau belum lupa kan?" Shishido-san menatapku, tersenyum lembut, "Mulai sekarang, kita bukan hanya partner dalam doubles tennis saja,"
Dan otakku menyusun kembali apa yang terjadi tadi, Oh... Tuhan... Shishido-san... menyambut perasaanku!! Benar juga... tadi... Shishido-san... mengatakan kalau ia... ia ingin memilikiku... MemilikiKU!! Memiliku, Ohtori Choutarou, yang tidak berharga ini...!!
"Mari kita berjuang untuk menjadi partner yang baik di kehidupan sehari-hari juga mulai sekarang, ya?" Shishido-san mengelus pipiku, tersenyum. Sentuhan Shishido-san pada pipiku membuat isi perutku terasa terbalik. Mukaku masih memerah, sangat merah, aku bisa melihat pantulan bayanganku di kaca seberang tempat aku sedang berbaring.
"Shishido-san..."
"Choutarou..."
Aku bertambah malu dan gugup ketika menyadari bahwa sekarang Shishido-san bukan di sisiku lagi, tapi di atasku, tangannya menopang tubuhnya supaya tetap ada jarak di antara tubuh kami. Mukanya sangat dekat dengan mukaku, bahkan lebih dekat daripada saat di atap sekolah tadi.
"Shi... Shishido-san, apa yang..."
Shishido-san mengelus bibirku lagi, menghela napas, "Aku baru sadar aku benar-benar ingin melakukan ini sejak lama..."
Aku terkejut, malu, panik, semuanya bercampur. Ini salah satu perasaan yang kata Shishido-san tadi, tidak jelas namanya. Aku berkata perlahan, dan aku juga merasa agak takut, "Me... Melakukan apa??"
"Choutarou..."
Aku mengerjap, wajah Shishido-san semakin... semakin, semakin... dan semakin mendekat, sampai hidung kami bersentuhan. Napas Shishido-san panas, terasa di bibirku. Dan kemudian... sesuatu yang lebih panas dari napas Shishido-san menyentuh bibirku. Bibir Shishido-san...
Dan aku tak pernah merasakan sesuatu yang lebih luar biasa dari itu. Seumur hidupku. Ini benar-benar hari terindah dalam 14 tahun aku hidup. Tadinya itu yang aku pikirkan sebelum aku ingat...
Tidak... Hari-hari esok pasti akan lebih indah lagi...
