About Love [Chapter 7]

.

.

.

Halo semua~ Sudah lama ya cerita ini tidak update. Udah setahun penuh, astaga. Waktu cepat sekali berlalu, ya?

Anyway, chapter 7 adalah chapter terakhir dari About Love. Memang butuh waktu yang lama sekali untuk menamatkan cerita ini… Dan di kesempatan inilah saya mau mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang telah bersedia meng-review cerita saya ini.

Saya juga berterima kasih untuk semua orang yang mau meng-favorite dan mau meng-follow cerita ini sampai akhir! Arigatou gozaimasu, minna-san!

Nah, let's begin!

.

About Love- Last Chapter

.

Lucy's POV

.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi.

Natsu berlari menjauh, ekspresinya menunjukkan bahwa ia terluka.

Happy buru-buru mengejar, suaranya menggaung memanggil nama Natsu.

Mereka meninggalkan aku, tidak, kami berdua disini.

Natsu melihat Loki menciumku.

Bukankah hal yang wajar apabila ia meninggalkanku?

.

Aku berusaha mengejarnya, namun aku tahu semua sudah terlambat. Ia telah pergi, entah kemana.

"Sudahlah, Lucy." Aku terkesiap mendengar suara Loki di sampingku. "Tinggalkan saja dia." Loki melanjutkan, menohok hatiku.

Aku berbalik dan menatapnya penuh amarah.

"Apa kau tahu apa yang telah kau lakukan, Loki?!" Sentakku. Air mataku mulai mengalir, perasaanku sesak dengan sedih dan marah. "Kau… Mengapa kau menciumku?!"

Loki menatapku serius.

"Dengar," Ia memulai, tangannya memegang bahuku erat. "Selama ini aku terus mengatakan kalau aku mencintaimu. Kau pikir aku bercanda? Aku selalu serius saat mengatakannya. Aku memang mencintaimu, dan aku tidak tahan melihatmu seperti itu!"

Aku memalingkan muka, mataku pedih.

Aku mengerti bahwa ia menyukaiku. Tapi…

"Loki, kau tahu aku hanya menyukai Natsu." Gumamku perlahan. Ia menghela napas, dan melepaskan tangannya dari bahuku. Ia lalu berjalan perlahan, dan menghela napas lagi. Ia lalu menunjuk sekelebat cahaya di daerah timur, dan menatapku.

"Natsu ke arah sana. Kau pasti bisa menemukannya kalau kau berlari ke arah sana, Lucy." Kata Loki. Ia tersenyum sedih, dan lalu menghilang ditelan cahaya terang. Aku terpana. Apa yang ia lakukan?

Aku menggelengkan kepalaku. Natsu. Aku harus bertemu dengan Natsu.

Aku menarik napas panjang, dan mulai berlari. Aku harus bertemu dengannya, apapun yang terjadi..

Setelah berjam-jam berlari serabutan, aku akhirnya menemukannya. Ia ada di atas bukit, matanya menatap langit senja.

"Natsu!" Seruku, dan ia menoleh menatapku. Ia tampak terluka, namun ia berusaha tersenyum. Ia berdiri saat aku menghampirinya.

"Lucy."

Aku berlari ke arahnya, dan memeluknya erat.

"Natsu… Natsu." Aku memanggil namanya. Ia tetap berdiri. Ia tidak membalas pelukanku, melainkan menjauhkanku darinya. Ia menggeleng, dan duduk kembali di atas rerumputan.

"Natsu, dengar—"

"—Aku tahu." Natsu memutus perkataanku. "Loki memang lebih baik untukmu, Lucy." Gumamnya pelan, menusuk hatiku dalam.

"Tidak, kau tidak mengerti—"

"Sudahlah." Natsu menghela napas. "Aku mengerti. Bersama denganku tentu suatu cobaan batin, bukan? Kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik, Lucy."

Aku merasa tenggelam. Dia tidak serius, kan?

"Aku selalu merasakannya, Lucy. Aku selalu berpikir kau lebih bahagia bila bersama orang lain. Mungkin itu benar…" Natsu menggumam sedih.

Tidak.

"Mungkin Loki memang lebih baik untukmu, Lucy."

Bukan begitu, bodoh!

"Mungkin… Lebih baik kalau kita berpisah saja."

DEG.

"Dengan begitu, kau akan—"

"BERHENTI BICARA, NATSU!" Aku berteriak penuh amarah. "Bisakah kau mendengarkanku untuk SEMENIT saja?"

Ia terpana menatapku, namun aku tidak peduli. Kata-katanya, suara pedihnya, semua menyakitkan. Aku tidak ingin berdiri disini, mendengarkan suara pedih itu dan berakhir dengan perpisahan menyedihkan!

"Dengar." Aku memulai, namun Natsu memalingkan mukanya. Aku bergegas duduk disampingnya, dan menarik dagunya ke arahku.

"DENGARKAN AKU!" Seruku kesal. Wajahku dan wajahnya hanya berjarak beberapa senti, namun aku tidak peduli lagi dengan hal itu. Dia selalu menentukan semuanya sendiri! Bagaimana dengan perasaanku, idiot?

"Aku tidak pernah merasa tidak bahagia denganmu." Kataku singkat. "Aku sangat sangat bahagia bersamamu! Mengapa kau tidak pernah sadar dengan perasaanku?" Tanyaku.

"Dengar ya. Loki menciumku itu bukan kemauanku. Dan lagi pula, itu hanya ciuman tidak sengaja. Kalau kau memang cemburu karena hal itu…" Aku menarik napas, dan mendekatkan wajahku padanya.

"L, Lucy?" Natsu mendadak gugup.

Aku akan melakukan sesuatu yang amat bodoh. Namun, ah, apa peduliku? Yang penting Natsu mengerti perasaanku!

"Diam saja, Natsu!" Tukasku, dan kukecup bibirnya pelan. Ia tersentak, dan mundur secara tiba-tiba. Wajahku sendiri mendadak panas, dan gelombang amarahku tersapu habis, tergantikan dengan rasa malu yang tidak tertahankan.

"A, apa… APA YANG KAU LAKUKAN?" Tanya Natsu panik. "K, kau…"

Aku menutup wajahku yang panas. Apa yang telah kulakukan…. Oh tidaak!

"Aku… Aku hanya menegaskan perkataanku!" Ujarku, dengan suara mencicit. Tidak, ini tidak benar. Ini kurang meyakinkan, tentu saja.

"Tapi…" Kata-kata Natsu tenggelam. Ia menghela napas, dan menatapku.

Aku menatapnya, dan tersenyum malu.

"Aku mencintaimu, Natsu." Gumamku malu. "Jangan biarkan orang lain membuatmu berpikir aku tidak mencintaimu."

Wajah Natsu terbakar merah, dan ia mengangguk malu.

"Aku… Aku juga." Gumamnya pelan. Ia berjalan menuju sisiku, dan duduk disampingku. Ia tersenyum malu-malu, dan menggandeng tanganku.

"Lain kali…" Ia menggumam pelan. Aku menatapnya bingung.

"Lain kali?" Tanyaku.

Ia menaruh telapak tangannya yang panas di pipiku, dan mengecup dahiku pelan.

"Lain kali, biar aku yang menciummu." Bisiknya di telingaku. Wajahku memanas, dan aku memalingkan mukaku. Ini memalukan sekali….

Kami duduk berdua, dan menatap langit dengan semburat merah berubah perlahan menjadi gelap berbintang. Selama duduk, kami menggandeng tangan satu sama lain. Ia tersenyum menatapku, dan aku hanya bisa mengangguk malu.

Setelah itu, kami tidak mengucapkan apa-apa. Ia menatap langit penuh bintang, sama denganku. Pikiranku melayang penuh kebahagiaan.

Ah, jadi inilah yang dinamakan cinta.

"Natsu?" Aku memanggilnya. Ia menoleh, dan tersenyum.

"Ya?"

Aku menghela napas, dan menggenggam tangannya lebih erat.

"Terima kasih… " Gumamku. "Karena kau telah mengajariku apa arti cinta…"

~THE END~

Yah itulah dia, ending About Love.

Memang pendek sekali, dan kesannya juga sangat aneh, maafkan saya…

Rupanya saya belum capable membuat kisah cinta romantis penuh intrik. Well, semoga di fic berikutnya saya bisa lebih berkembang~

Please Read and Review! Thanks .