.

.

.

.

.

THAT MY FAULT

Cast :

Seventeen Yoon Junghan/Jeonghan (women) - (Seungcheol wife)

Seventeen Choi Seung Cheol/SCoups (man) - (Junhui & Jeonghan husband)

Seventeen Wen Junhui/Jun (women) - (Seungcheol wife)

Seventeen Lee Chan/Dino (man) - (Seungcheol & Junhui son)

Nb : untuk Lee Chan/Dino namanya berubah menjadi Choi Chan Hui

Seventeen Jeon Won Woo/Wonwoo (man) - (Jeonghan angel)

Exo Kim Min Seok/Xiumin (women) – (Seungcheol mother)

Seventeen Kwon Soonyoung/Hoshi (man) - (Seungcheol bestfriend)

Seventeen Lee Jihoon/Woozi (women) - (Seungcheol bestfriend)

Nu'est Kang Dong Ho/Baekho (man) - (Jeonghan father)

Nb : untuk Kang Dong Ho/Baekho namanya berubah menjadi Yoon Dong Ho

Nu'est Choi Min Ki/Ren (women) - (Jeonghan mother)

Seventeen Hong Jisoo/Joshua (man) - (Jeonghan Ex Boyfriend)

Seventeen Kim Ming Gyu/Mingyu (man) - (Jeonghan bestfriend)

Seventeen Boo Seung Kwan/Seungkwan (women) - (Jisoo step sister)

Seventeen Seo Myung Ho/The8 (man) - (Jeonghan brother)

Nb : untuk Seo Myung Ho/The8 namanya berubah menjadi Yoon Myungho


Chapter 7

Pagi ini Channie bangun dengan Seungcheol yang tertidur disisinya, Channie berusaha membangunkan appanya dengan mengguncang-guncangkan tubuh Seungcheol, namun sepertinya usahanya tersebut sia-sia, Seungcheol sama sekali tidak bergerak dan terlihat mendengkur disela-sela tidurnya, ia terlihat sangat kelelahan. Perut Channie mulai berbunyi sekarang, ia memegang perutnya utuk menahan rasa lapar yang terus-menerus mengganggunya, namun sepertinya hal itu belum cukup untuk bisa membuat perutnya tenang, ia kembali mencoba membangunkan Seungcheol.

"Appa, appa, irona appa.. Chan lapar sekali", Channie menguncang-guncangkan tubuh Seungcheol, kemudian menggelitiki kakinya,

"Eunghh…" Seungcheol bergerak sedikit

"Appa,,,Channie lapar"

"Apppaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"

"Chan, appa sangat lelah, minta saja eommamu membuatkan sarapan"

Channie terlihat bingung dengan ucapan appanya,

"Tapi eomma tidak ada dirumah, bisakah kita bertemu eomma?"

Mendengar hal tersebut, Seungcheol benar-benar terbangun, ia mengutuki kebodohannya sendiri karena sudah membuka permasalahan yang seharusnya tidak pernah ia bicarakan.

.

.

"Oh benarkah? Hahaha maafkan appa. kemarilah, appa akan memelukmu terlebih dahulu"

Seungcheol mengangkat tubuh kecil Channie dan membawanya kedalam sebuah pelukan hangat, mencium kening putra kecilnya dengan penuh rasa sayang, mencoba mengubur semua permasalahan yang dialaminya beberapa hari ini dan mendapatkan kedamaian dari malaikat kecilnya.

"Channie tau, appa tidak membutuhkan apapun lagi didunia ini selain Channie, Channie tau kan seberapa besar appa menyayangi Channie?"

Seungcheol menatap kedua mata putranya lekat-lekat, berharap ia bisa menemukan jawaban yang dicarinya disana, namun putra kecilnya hanya tertunduk lemah dengan kedua tangan yang terus menggenggam kedua legan piyama appanya.

"Apa itu artinya Channie tidak akan pernah bertemu eomma?"

Seungcheol tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya tersenyum lembut kepada putranya. Membuat Channie bertanya-tanya dengan apa yang sedang difikirkan appa nya saat ini…

"Channie ingin makan apa? Appa buatkan sereal saja nee, appa tidak tau cara memasak sarapan yang lainnya, tidak apa-apa kan? Nanti appa akan belajar bagaimana caranya memasak, okke!" Seungcheol segera beranjak dari tempat tidur dan menuju pintu keluar

.

.

Di dapur, Seungcheol mengambil beberapa kotak sereal dan juga susu, ia mencoba menyelesaikan kegiatan memasaknya secepat mungkin dan menemui putranya kembali. Setelah itu Seungcheol segera naik ke lantai atas dan memberikan sarapan tersebut kepada Channie,

"Ini makanlah, hari ini luar biasa bukan ?, appa memasak untuk pertama kalinya, Hahaha.." ia berusaha mengubah suasana diruangan ini menjadi sedikit lebih menyenangkan

Channie mencoba tersenyum menanggapi obrolan appanya, ia mengambil mangkuk tersebut dari tangan Seungcheol dan memakannya sedikit demi sedikit. Mungkin bagi Seungcheol Channie hanyalah seorang anak kecil berusia empat tahun yang tidak mengerti apapun, namun tanpa ia sadari putranya telah tumbuh menjadi seorang yang lebih dewasa dari pada usianya. Meski ia tidak pernah ikut didalam pertengkaran kedua orang tuanya tapi Channie dapat melihat bahwa kehidupan keluarganya jauh berbeda dari teman-teman seusianya. Sering kali fikiran buruk terlintas diwajah lugunya, namun ia mencoba menepis semua itu dan menyakini bahwa hari dimana mereka bertiga dapat hidup dengan bahagia dan tertawa lepas bersama akan segera tiba dan tangisan yang kerap kali ia lihat diwajah ibunya akan benar-benar hilang dan tergantikan dengan senyuman tulus bersama appa nya, namun hari ini seakan harapan itu menjauh darinya...

.

.

"Chan…, bisakah appa minta sesuatu?" ia mengusap lembut surai hitam putranya

"Channie ingat cerita angsa hitam? dulu kita pernah membacanya bersama bukan?"

"Appa tidak tau bagaimana harus memulainya"

"Tapi...,tidak semua hal bisa berjalan seperti apa yang ada didalam buku tersebut. Appa juga ingin menjadi seperti angsa itu yang berusaha untuk selalu bersama dan menjaga utuh keluarganya, tapi hal ini berbeda dengan apa yang diceritakan oleh dongeng tersebut".

Channie terus saja menunduk dan memakan sarapannya, tanpa Seungcheol sadari air matanya tumpah setetes demi setetes kedalam mangkuk tersebut bercampur dengan sereal yang dimakannya, ia mengerti arah pembicaraan appanya

"Bukankah mereka berpisah karena kematian appa? kenapa kita tidak bisa melakukannya"

Seungcheol terlihat sedikit berfikir dan melanjutkan ceritanya, belum saatnya baginya untuk menceritakan tentang Junhui, karena ia sama sekali tidak pantas disamakan dengan cerita tersebut, mencintai seorang pasangan hingga kematian memisahkan dan terus mencintai meski mereka telah memiliki dunia yang berbeda, kenyataannya ia menikah lagi bahkan sebelum kematian Junhui. Seungcheol kembali melanjutkan ceritanya..

"Kau benar, kenapa kita tidak bisa melakukannya, tapi bukankah kita harus hidup dengan bahagia Chan, apa menurutmu eomma bahagia bersama appa?"

"Eomma akan bahagia jika appa memperdulikannya"

"Kau benar, eomma tidak bahagia karena appa"

"Lalu bisakah appa membawa eommaku kembali ?" Channie menatap Seungcheol dengan air mata yang terus mengalir diwajah putih kecilnya

"Jika appa tidak menginginkannya, Channie yang akan menjaganya. Bisakah appa mengembalikannya?"

"Channie tidak akan nakal lagi dan membuat eomma marah. Channie akan makan sayuran dan buah mulai sekarang, Channie juga akan tidur teratur dan tidak akan bermain diluar lagi, Channie akan mendengarkan semua ucapan appa dan eomma. Bisakah appa membawa eommaku kembali?"

Seungcheol menghela nafasnya berat sekali, bagaimana ia harus menjelasakan semua ini pada putranya..

"Channie sayang appa? Apa appa saja tidak cukup untuk Channie?"

"Appa mengerti seberapa besar Channie menyanyangi eomma, tapi bisakah Channie melihatnya dari sisi lain?, appa tidak tau harus bagaimana menjelaskannya padamu, appa hanya ingin kau tumbuh seperti anak-anak pada umumnya, jadi bisakah untuk sementara Channie tidak membicarakan eomma. Bisakah Channie mengerti?"

"Bisa appa" Channie meletakkan sendok yang dipegangnya dimangkuk dan menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya, ia mencoba tersenyum pada appanya

"Appa, Channie sudah selesai makan, terimakasih appa"

Ia turun dari tempat tidur dan melambai pada appanya kemudian berlari kecil menuju kamar tidurnya, Channie naik ketempat tidur dan segera menutup wajahnya dengan bantal guling yang ada disisinya, walau bagaimanapun ia tetaplah seorang anak kecil yang membutuhkan ibunya..

Semua hal yang pernah ia lakukan bersama ibunya seakan terputar begitu saja didalam ingatannya, ia begitu rindu akan sosok ibunya, berulang kali ia memanggil nama ibunya berharap wanita itu akan segera hadir dihadapannya dan memeluk tubuhnya erat...

"Eomma..."

"Eomma... Channie rindu eomma..."

"Kenapa eomma meninggalkan Channie…"

"Channie rindu eomma..."

"Channie tidak bisa tanpa eomma..."

Tangisan itu terdengar memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya, terutama bagi Seungcheol yang sejak tadi berdiri terdiam didepan pintu kamar putranya, air matanya menetes mendengarkan tangisan putranya, ia memijat pelipisnya kuat, rasanya kepalanya berdengung menahan sakit saat ini, ia merasa hatinya teriris-iris mendengarkan tangisan putranya..

"Appa yang sudah kuperbuat, kenapa rasanya begitu menyakitkan..."

.

.

Sementara itu ditempat lain, seorang wanita saat ini sedang duduk terpaku menatap lurus kesebuah rumah yang kini berada dihadapannya, rumah itu tampak kosong dan tidak berpenghuni, lampu-lampu masih menyala dan pintunya seakan terkunci rapat tidak membiarkan siapapun menginjakkan kakinya disana. Sudah dua jam Jeonghan duduk didalam sebuah taksi yang kini berada tepat didepan rumah Seungcheol, ia berharap apa yang dilakukannya saat ini tidak akan berakhir sia-sia, setidaknya ia bisa menatap wajah kecil putranya..

.

.

.

.

.

3 hari kemudian

.

.

.

.

Seperti biasa setiap pagi Jeonghan akan pergi kerumah tempat dimana ia tinggal dulu hanya untuk sekedar menatap wajah putranya dan setiap hari pula penantiannya tersebut akan berakhir sia-sia, ia hanya akan pulang dalam keadaan kecewa tanpa pernah bisa melihat putranya dan seperti biasa pula lampu dirumah tersebut selalu menyala, entah Seungcheol sengaja membiarkannya atau memang rumah itu tidak berpenghuni, sesekali Jeonghan mencoba menelvon ke televon rumah tersebut, namun seakan telvon tersebut terputus dan tidak pernah tersambung, begitu pula dengan ponsel Seungcheol, mereka berdua seakan menghilang dari kehidupan Jeonghan. Kini hanya Jisoo yang selalu berada disisinya, mendampinginya dan menghiburnya ketika ia larut dalam kesedihan namun seakan kehadiran Jisoo tidak mampu menutupi rasa kosong yang setiap hari menyiksanya, ia benar-benar butuh putranya..

Meski dalam kondisi yang berbeda namun kehidupan Seungcheol juga terlihat menyedihkan, setiap harinya ia harus menyaksikan putra kecilnya hanya tertunduk lemas seakan kehilangan semua senyum diwajahnya, Channie jarang sekali berbicara, ia hanya akan duduk seharian di depan televisi namun seakan tidak pernah menontonnya, ia akan makan jika Seungcheol menyuruhnya, ia akan mandi jika Seungcheol memintanya, ia akan berbicara jika Seungcheol mengajaknya dan setiap malam Seungcheol akan menyaksikan putranya menangis memangil nama Jeonghan didalam tidurnya, hal ini sangat menyiksanya namun tak ada yang bisa ia perbuat, jika Seungcheol mempertemukannya dengan Jeonghan maka akan semakin sulit bagi Channie untuk melepaskannya ketika perpisahan itu tiba. Seungcheol berencana akan membawa Channie pergi jauh dari kota ini, namun sampai sekarang ia masih belum mendapatkan izin dari kantor tempatnya bekerja, putranya hanya akan semakin terluka jika terus tinggal ditempat ini fikirnnya..

.

.

Sudah seminggu sejak hari dimana Seungcheol meminta Channie untuk tidak lagi membicarakan eommanya dirumah ini, dan sudah seminggu pula Channie hanya duduk diam tidak menanyakan apapun pada appanya, ia sama sekali tidak menyinggung keberadaan eommanya, ia juga tidak pernah menagis atau menunjukkan bahwa ia merindukan eommanya dihadapan Seungcheol, hanya ketika ia sendiri ia bisa membayangkan eommanya, berhalusinasi seakan eommanya selalu menemani ketika ia akan tidur dan didalam mimpilah ia bisa melihat wajah eommanya dan mengatakan bahwa ia merindukan eommanya namun ternyata hal ini perlahan-lahan merusak kesehatan Channie, sudah beberapa hari Channie terkena demam tinggi, Seungcheol sudah menghubungi Dokter Park, yaitu dokter yang telah merawat Channie sejak ia dilahirkan kedunia ini dan sejak itu pula Dokter Park seakan menjadi dokter keluarga dirumah ini, dan malam ini untuk kedua kalinya Dokter Park kembali berkunjung kerumah tersebut...

"Bagaimana dokter? Apa ia akan baik-baik saja?"

"Apa aku harus membawanya ke rumah sakit?"

"Ini pertama kalinya Channie seperti ini, aku tidak tau bagaimana harus mengatasinya, biasanya Jeong..." tanpa sadar ia hampir saja menyebutkan nama Jeonghan didepan putranya dan dokter tersebut

Seakan mengerti akan kondisi yang sedang dihadapi keluarga kecil ini, dokter Park segera mengajak Seungcheol berbicara diluar dan membiarkan Channie beristirahat disana..

"Dia masih belum kembali?"

"Maafkan aku, bisakah kita tidak membicarakannya"

"Uhm, baiklah, kau tidak harus membawa Channie kerumah sakit, pertemukan ia dengan ibunya dan dia akan baik-baik saja" Dokter Park menepuk punggung Seungcheol perlahan dan beranjak pergi dari hadapannya

"Hubungi aku kapanpun kau membutuhkanku dan jangan lupa beri obatnya secara teratur, aku sudah menaikkan dosisnya, 1 atau 2 hari lagi ia akan sembuh"

Perkataan dokter park tadi membuat Seungcheol berfikir sejenak,

"Mungkinkah apa yang dikatakannya itu benar?" namun Seungcheol segera menepis fikiran tersebut dan masuk kembali untuk menemui Channie, ia mengukur kembali suhu badan Channie, memastikan bahwa kondisi putranya masih cukup aman untuk dirawat dirumah...

"Channie ingin makan sesuatu? Appa akan memesankannya"

Channie hanya menggeleng dan tersenyum kecil pada appanya

"Tidak appa, Channie tidak ingin apapun"

"Ingin nonton sesuatu? kita bisa menontonnya bersama" Seungcheol memeluk putranya hangat..

Channie kembali menggelengkan kepalanya, "Channie tidur saja appa, didalam mimpi Channie nanti bisa ber..." namun ia cepat-cepat menutup mulutnya dan menyamankan posisinya didalam pelukan appanya

Seungcheol yang mengerti kembali mengeratkan pelukan tersebut

"Channie cepat sembuh nee, appa sangat khawatir, appa takut sekali kehilangan Channie, setelah Channie sembuh appa akan membawa Channie kemanapun Channie ingin pergi dan membeli apapun yang Channie inginkan"

Channie tersenyum didalam tidurnya "Appa tidak akan bisa, appa tidak akan bisa membelinya, karena eommaku tidak dijual dimanapun"

.

.

Keesokan paginya, sekitar pukul 9 Seungcheol kembali menghubungi Dokter Park karena Channie tidak berhenti muntah setiap kali ia makan apapun dan panasnya kembali naik bahkan mencapai suhu 39 Derajat, Dokter Park segera datang menemui Seungcheol dan memeriksa kembali kondisi Channie, namun ia meminta Seungcheol untuk meninggalkan ruangan tersebut dan membiarkannya tinggal berdua dengan Channie..

Dokter Park tersenyum lembut kearah Channie...

"Perutnya sakit?"

"Tidak dokter"

"Channie makan dengan benar ?"

"Iya dokter, appa menyuapi Channie"

"Channie ingin bicara sesuatu pada dokter? Channie bisa katakan apapun, dokter pintar menjaga rahasia"

Channie tersenyum jahil kepada Dokter Park, "benar dokter bisa menjaga rahasia?"

"Tentu saja bisa!, Channie tidak minum semua obatnya kan?" Dokter park kembali membalas senyum jahil tersebut dengan tawa dibibirnya

"Ia, hehehe" meski seluruh tubuhnya sakit tapi ia masih bisa mengelurkan sedikit tawanya "Dokter pintar sekali"

"Tentu saja, dokter bahkan sudah mengenalmu sejak kau lahir, tentu dokter tau apa yang kau lakukan. dimana Channie menyembunyikannya?"

Channie menunjuk sela-sela kasur dengan tempat tidur dan terlihat ada beberapa butir obat yang tersembunyi disana, Dokter Park hanya tertawa melihat tingkah polos Channie

"Pintar sekali menyembunyikannya, hahahaha"

"Kenapa Channie tidak minum obatnya? Channie tidak ingin sembuh?"

"Ingin dokter, badan Channie sakit semua" ia menunjuk segala tempat yang terasa sakit ditubuhnya

"Tapi mungkin jika Channie sakit sedikit berat appa akan membawa eomma..." dari tatapan bocah tersebut dokter park dapat melihat ada kejujuran didalam kata-kata tersebut..

"Channie sangat rindu eomma eoh?, tapi jika Channie tidak minum obatnya eomma pasti akan sedih, Channie tidak ingin lihat eomma sedih bukan?. ingin membuat kesepakatan dengan dokter?"

"Apa hal itu menguntungkan?"

"Tentu saja! Dokter akan kabulkan 1 permintaan Channie tapi sebagai gantinya Channie harus mendengarkan perkataan dokter, bagaimana?"

"Baiklah, Channie setuju.." Wajahnya terlihat sangat ceria sekarang..

"Bisahkan dokter telvon eomma? Channie ingin dengar suara eomma, tapi Channie tidak ingat berapa nomor telvon eomma..."

"Baiklah dokter akan menelvonnya" Dokter park segera mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Jeonghan dan memberikannya pada Channie..

...tut tut tut...

lama sekali namun panggilan itu tidak kunjung terjawab, hingga panggilan ke tiga

"Sudahlah Dokter, mungkin Channie tidak beruntung" hehehehe bocah kecil itu mencoba tersenyum untuk menutupi rasa kekecewaannya

Dokter Park hanya memandang iba pada bocah berusia empat tahun tersebut

"Channie memang anak yang baik, dokter bangga pada Channie. Dokter akan terus menghubungi eomma sampai ia menjawab telvonnya, tapi sebagai gantinya Channie harus minum obat dan tidak boleh membuangnya lagi okke. Dokter akan marah jika Channie melakukannya lagi, dan sebagai gantinya dokter akan merahasiakan ini dari appa, ottae?"

"Baiklah Channie setuju ^^, terimakasih dokter"' Channie tersenyum sangat tulus pada Dokter Park

Tidak lama kemudian Seungcheol masuk kekamar tersebut dan terlihat bingung melihat senyuman diwajah putranya...

"Kau tersenyum? ada apa ini, sepertinya Channie senang sekali?"

"Hehehe, tidak appa, tidak ada apa-apa"

Hahaha, Dokter Park kembali tertawa melihat tingkah konyol Channie, "tenanglah..putramu akan segera sembuh, aku pastikan itu! Lihat sekarang ia sudah bisa tertawa"

"Kufikir juga begitu, Terimakasih banyak dokter" Seungcheol membungkuk dalam-dalam sebagai ucapan rasa terimakasih nya dan Dokter Park pun segera beranjak pergi dari tempat itu.

.

.

Pukul 8 malam setelah mendengar kabar bahwa Channie sedang sakit Jeonghan segera bergegas datang kerumah Seungcheol untuk menemui Channie, meski ia akan kembali menerima hinaan dari Seungcheol namun Jeonghan benar-benar tidak perduli kali ini, ia harus bisa bertemu Channie malam ini juga. Sesampainya didepan rumah Seungcheol Jeonghan segera menekan bel sekeras mungkin tanpa henti, ia begitu ketakutan mendengar kabar bahwa putranya sekarang sedang jatuh sakit, meskipun dokter Park berkata bahwa Channie hanya demam, namun nalurinya sebagai seorang ibu benar-benar kalut saat ini, Jeonghan terus saja menekan bel berulang kali hingga akhirnya suara derap langkah terdengar. Kini jantungnya berdetak hebat menyadari langkah kaki Seungcheol semakin mendekat padanya, entah apa yang akan dikatan pria itu sekarang...

Cekrek..., terdengar suara pintu terbuka

Kini Jeonghan berdiri mematung didepan pintu tersebut, sementara Seungcheol tidak percaya dengan sosok yang sekarang dilihatnya..

"Kau?"

"Untuk apa kau datang kemari?"

"Pergilah..aku hampir bisa mengatasinya" nada suara yang terdengar tidak lagi penuh amarah seperti yang biasa keluar dari mulut Seungcheol, namun kata-kata tersebut terdengar lelah dan memohon

"Biarkan aku bertemu Channie, ia sakit kan? biarkan aku melihatnya Seungcheol, kumohon" nada suara Jeonghan terdengar mengiba, ia benar-benar berharap Seungcheol akan mendengarkannya kali ini..

"Sudahlah Jeonghan, pergilah. ia akan lebih baik tanpamu, ia sudah mulai terbiasa. Jika kau kembali lagi dan bertemu dengannya akan semakin sulit baginya untuk melupakanmu, aku sangat lelah Jeonghan, aku sangat lelah menghadapi Channie, kumohon jangan muncul lagi dihadapannya"

Seungcheol baru akan menutup pintu, namun Jeonghan menahan pintu tersebut dengan kakinya..

"Kau tidak mengerti Seungcheol, kau tidak mengerti bagaimana perasaanku saat ini, biarkan aku bertemu Channie, aku harus memastikan ia baik-baik saja. Kumohon..."

"Bagimu aku bukan ibunya tapi bagiku ia anakku, aku harus memastikan anakku baik-baik saja, kumohon biarkan aku bertemu dengannya"

"TIDAK!"

"Kenapa kau tidak mengerti juga! Apa aku harus selalu bicara kasar baru kau akan mengerti hah ?"

"Pergilah..."

Seungcheol mendorong tubuh Jeonghan hingga kakinya kini tidak lagi mengganjal pintu, namun Jeonghan bergerak secepat mungkin dan kembali meraih pintu tersebut, kini tangannya terjepit dipintu tersebut, rasa sakit mulai menjalar disekitar buku tangannya, namun Jeonghan menahan semua rasa sakit itu dan tetap mencoba menahan pintu tersebut agar tidak tertutup. Seungcheol menatap Jeonghan tidak percaya, Jeonghan menggigit bibirnya menahan rasa sakit, namun rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan rasa khawatir yang saat ini dimilikinya..

"Seungcheol, kumohon….,ia juga anakku, biarkan aku bertemu dengannya, kau tau bagaimana hidupku selama ini, ku fikir aku akan mati jika tidak bisa melihatnya lebih lama lagi, suaranya setiap hari terdengar ditelingaku, ia memanggilku eomma dan eomma, membuatku ingin mati rasanya karena sangat merindukannya, aku datang setiap hari kerumah ini, menunggu berjam-jam dipinggir jalan hanya untuk melihat wajahnya, namuan aku tidak pernah menemukannya, hingga akhirnya Dokter Park menelvon dan mengatakan Channie sakit dan dia berada dirumah ini, kumohon Seungcheol, aku sudah terlalu bergantung pada anak itu dan sekarang aku tidak bisa pergi lagi dari sisinya, kau yang memberikan ia dulu kepadaku dan sekarang aku terikat padanya, kumohon Seungcheol.. jangan membunuhku perlahan-lahan seperti ini, aku bisa gila jika tidak bisa melihatnya. Dia pasti sangat merindukanku kan? kau juga tau itu bukan?"

"Kumohon..."

Kata-kata tersebut sedikit melunakkan hati Seungcheol dan kini ia melonggarkan tarikannya pada pintu tersebut, membuat tangan Jeonghan yang hampir membiru kini bisa terlepas dari sana,

"Kenapa kita harus hidup seperti ini Jeonghan? kenapa kita harus seperti ini?"

Jeonghan jatuh terduduk dan menangis, "Terimakasih, terimakasih karena membukakannya"

Perlahan suara langkah kaki kecil seakan mendekatinya, dari jauh Jeonghan dapat melihat sosok kecil tersebut adalah putranya...

Matanya berbinar penuh haru, bocah kecil berpiyama biru tersebut terlihat pucat dan pelupuk matanya digenangi air mata, perlahan-lahan ia turun dari tangga dan semakin mendekat padanya, bocah kecil tersebut segera berlari menuju arahnya..

"Eommmmmmmmmmmaa, eommmaaaaaaaaaaaaaa" hiks hiks hiks

"Eomma, kenapa eomma baru kembali sekarang" Tangisnya tumpah begitu saja memeluk putra kecilnya yang kini kembali berada didalam dekapannya, Jeonghan dapat merasakan suhu panas bocah tersebut mengaliri tubuhnya seakan ia tersengat rasa panas, Jeonghan segera memeluk putranya sekuat mungkin, menciuminya berkali-kali, meluapkan rasa rindu yang dipendamnya selama ini, begitupula dengan bocah tersebut, ia memeluk eommanya seakan tidak akan membiarkan eommanya pergi lagi dari sisinya.

Pemandangan tersebut membuat seungcheol terpaku, ia hanya dapat berdiri memantung didekat pintu, seakan ia hanyalah sosok asing diantara kedua orang tersebut, ingatan masalalu berputar begitu saja seakan sebuah film lama yang hampir dilupakannya, semua yang pernah ia lakukan pada wanita tersebut, semua kata-kata yang pernah ia ucapkan seakan kembali kepadanya dan menohoknya keras, ia hanya dapat berdiri mematung melihat seberapa besar rasa cinta yang dimiliki putranya terhadap Jeonghan dan bagaimana Jeonghan mencintai putranya yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri, pemandangan dua orang yang begitu mengharukan tersebut menyadarkannya tentang siapa sosok wanita itu dan seberapa besar pengaruh wanita tersebut terhadap putranya..

sekarang bagaimana bisa ia memisahkan keduanya lagi?

.

.

.

.

.

TBC

RIVIEW JUSEYO...^^/

.