Thanks to:
Fayiyong, Ri – Chan, Domisaurus, ishimaru yamato, fany2 wa fany2 desu, aigiaNH4, moist fla, Sketsa Gelap, Naito Rurabi, Eleamaya, Benjiro Hirotaka, Sadako22, Quint Nite, Lolu Aithera, Shiramizu, Stellathedarkme, Hana Suzuran, aquillaa, Portgas D ZorBin, dan...
kamu, yang sudah mampir ke fic ini.
Maaf belum bisa balas review ya.. *bungkuk*
Please enjoy this story, minna!
Jika bersamamu adalah suatu hadiah
Maka akan kujaga tiap detiknya
Agar aku tak menyesal
Aku tak akan pernah melepaskanmu…
"Bunuh semua klan itu tanpa tersisa satu pun!"
"Tapi, Olvia-sama…"
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun."
Seorang anak laki-laki berjaket hitam-kuning menunduk patuh dan perlahan mundur beberapa langkah. Wanita berambut putih yang berdiri di depan anak laki-laki itu tersenyum puas.
"Olvia-sama…"
"Apalagi, Trafalgar Law?"
"Maaf, tapi boleh saya tahu alasan Anda?"
"Ramalan mengatakan bahwa darah murni Nico akan terhenti oleh klan Roronoa, tentu saja aku tak mau itu terjadi. Apalagi anakku hanya seorang."
"…" Law tertegun.
"Kau sangat menyayanginya kan, Law? Robin kecilku itu?"
"Y-ya."
"Lindungilah dia. Bunuh semua klan itu."
Dan karena tekad itu, pembantaian besar terjadi.
.
.
-Night Lullaby-
[Lullaby 7: Will You Marry Me?]
Disclaimer : One Piece © Eiichiro Oda
Rated : T
Genre : Romance/Tragedy
Pairing(s) : ZoRob
WARNING : typo(s), OOC, AU
Summary : Satu tamparan keras diberikan pada Robin hingga gadis itu jatuh bersimpuh. Goresan pedang terhenti dan darah menetes dari luka goresan di lengan Nami. Iris cokelatnya berubah menggelap.
.
.
"Ibu?"
Robin terpaku. Di hadapannya kini ada sang ibu yang tengah berdiri sambil melipat tangannya di depan dada. Beberapa langkah ke kanan ada Sanji yang tengah dipegangi secara paksa oleh vampir pelayan keluarga Nico lainnya, dan di sebelah kiri ada Nami yang dipegangi secara paksa juga.
"Aku akan bertanya, dan bila kau menolak untuk menjawab, maka…" Olvia maju beberapa langkah, "kau tahu sendiri akibatnya, Robin."
"…" Robin terdiam, pandangannya lurus teguh ke depan, seolah menantang sang ibu.
"Darimana kau?"
"Pergi."
"Bersama?"
"…" Robin kembali terdiam, tidak menjawab pertanyaan ibunya.
"Menolak untuk menjawab, Robin?" tanya Olvia, Robin tetap tutup mulut. "Bagaimana kalau sedikit goresan luka pada kedua teman baikmu?"
"Jangan libatkan mereka!"
"Jangan membantah! Kalau kau tidak mau mereka terluka, katakan!"
"…" Robin bungkam.
"Gores lengan gadis itu dengan pedang suci!"
Pedang suci. Pedang setinggi bahu orang dewasa dengan ukiran antik dan hanya dimiliki oleh kalangan vampir darah murni. Tiga ukiran di pedang itu—bunga di gagang, phoenix di gagang atas pedang, dan sulur-sulur tanaman dari bawah gagang hingga meraih phoenix; bunga menunjukkan kemurnian yang berhasil mereka pertahankan, phoenix melambangkan keabadian, dan sulur mewakilkan kekuatan mereka yang tak cenderung tenang namun tak terbatas.
Goresan luka yang ditorehkan akan membekas selamanya pada vampir yang dilukai dengan pedang itu. Robin kini melirik sekilas pada Nami, gadis itu luar biasa ketakutan saat pedang mulai mendekati lengan kanannya. Kepalanya terus menggeleng, mengisyaratkan pada Robin bahwa ia tidak ingin seperti ini.
"Kyaaaa! Nee-chan!" Nami menjerit ketakutan saat pedang suci merobek kulit lengan kanannya.
"Nami-san!"
"Nee-chan! Sanji-kun! Tolong… kumohon, argh! S-sakit."
Pedang suci itu perlahan menggoreskan luka dalam dan semakin memanjang hingga siku Nami, Robin mengepalkan tangannya, kemudian menunduk dan memejamkan matanya. Tidak. Seharusnya Sanji dan Nami tidak terlibat.
"Jawab, Robin!" bentak Olvia. "Apa benar kau menjalin cinta dengan makhluk terkutuk itu?"
"…"
"Goreskan pedang itu! Kalau perlu potong tangan gadis itu!"
"Ya! Roronoa Zoro!" jawab Robin cepat, sebelum Nami dilukai lebih jauh.
PLAK!
Satu tamparan keras diberikan pada Robin hingga gadis itu jatuh bersimpuh. Goresan pedang terhenti dan darah menetes dari luka goresan di lengan Nami. Iris cokelatnya berubah menggelap, tanda kalau vampir itu kini mulai memasuki titik terlemahnya. Ia butuh darah.
"Darah…" gumam Nami.
"Nami!" Robin tidak memperdulikan tamparan yang ia terima.
PLAK!
Satu tamparan lagi Robin terima, kini bibirnya sobek dan mengeluarkan darah. Vampir keturunan darah murni memang tidak mudah terluka, namun karena tamparan Olvia yang begitu keras, tentu saja siapapun yang menerimanya akan terluka.
"Robin-chan!"
"Kau tahu dosa terbesarmu! Kau melakukan hal bodoh, Nico Robin!"
"Kau tidak berhak melarangku!" Robin menekan suaranya.
PLAK!
Tamparan ketiga, dan Olvia menitikkan air mata. Ia tidak mengerti mengapa harus anaknya sendiri yang melanggar peraturan leluhur? Ramalan itu... klan Roronoa... mengapa ia begitu lengah? Sampai-sampai ia tidak tahu bahwa beberapa tahun ini ada seorang Roronoa yang menimba ilmu di sekolah miliknya.
"Aku berhak! Aku ibumu!"
"Apa? Ibu? Kau masih peduli? Bukankah yang kau pedulikan hanya harga diri tinggimu?" Robin berkata dengan lirih.
Olvia hendak menampar Robin lagi, namun kali ini tangan seseorang memegangnya. Wanita berambut putih itu terkejut dan langsung menoleh.
Seorang pemuda berjaket hitam-kuning tersenyum lebar padanya sambil menunjukkan jari tengahnya.
"Kau? Law! Bagaimana?"
"Bagaimana bisa aku masih hidup? Tidak penting! Kau melanggar perjanjian, Nico Olvia. Kau menyakiti Robin."
"Law nii-san."
"Tenang saja, Robin, Nii-san kesayanganmu ini akan menolongmu," Law tersenyum. "Oi, Roronoa! Bantu aku!"
"Akh!"
Hampir separuh dari vampir pelayan yang ada di sana terjatuh dengan luka di punggung, termasuk vampir pelayan yang memegangi Sanji dan Nami. Zoro menyarungkan pedangnya, kemudian menggendong Robin bridal style.
"Oi, Zoro! Masa kau tak menyisakan lawan untukku?" seorang vampir bertopi jerami protes.
"Selesaikan sisanya, Luffy."
"Baiklah. Yosh! Kita mulai!"
Zoro berlari kabur dari tempat itu, meninggalkan Olvia dan Law yang masih ada di sana, juga Sanji dan Nami.
"Robin!" panggil Olvia. "Sial! Kejar mereka!"
Beberapa vampir pelayan yang berhasil kabur dari Luffy segera mengejar keduanya. Zoro sudah berlari cukup jauh dari sana dan sama sekali tidak berniat untuk kembali. Werewolf itu menurunkan kecepatan larinya ketika merasa ada yang mengikuti mereka, kemudian menurunkan Robin dari gendongannya.
"Sebentar, Robin."
"Kau masih bisa bertarung, Zoro?"
"Jangan bercanda, tentu saja masih bisa."
Srak srak... BRUK!
Seorang pemuda muncul dan Zoro pun menarik salah satu pedangnya.
"Woah, santai saja, Zoro."
"Ace. Mau apa kau?"
"Hm? Bukankah kau kesulitan?"
"Lalu kau mau apa?"
"Membantu."
Ace berjalan mendekati Zoro dan menunjuk saku celana pemuda berambut hijau itu. Zoro menoleh, kemudian mengeluarkan isi sakunya, sebuah ponsel. Dalam hitungan detik, Ace mengambil ponsel Zoro, kemudian menginjaknya kuat-kuat.
"Hei!"
"Mudah melacakmu jika membawa benda seperti itu, bodoh!"
SRAK. SRAK.
"Ah, Bonneyku pasti melewatkan beberapa orang. Lari sana! Akan kuurus yang ini."
"Terima kasih," gumam Robin kecil.
"Tidak perlu, Nona cantik."
"Rayuanmu murahan," cecar Zoro.
Ace hanya tersenyum, kemudian berbalik. Zoro kembali menggendong Robin dan berlari lagi. Pemuda bertopi itu melirik sekilas ke arah Zoro. Memang aneh jika seorang vampir bersanding dengan seorang werewolf, namun, pasangan itu tidak buruk juga.
SRAK.
Ace memasang kuda-kuda. Seorang vampir. Entah mengapa baunya sudah tidak asing lagi bagi Ace. Hidung werewolf memang sensitif dan bau vampir sangat khas bagi para werewolf. Dan benar, seorang vampir berbaju merah muncul.
"Ho? Luffy?"
Vampir berbaju merah dengan topi jerami tergantung di leher itu mengernyit. "Siapa ya? Sepertinya aku mengenalmu."
"Bodoh! Kau tidak mengenali kakakmu?"
"Kakak? Kakak... hoo! Ace!"
"Masa kau tidak mengenali kakakmu sendiri," Ace menjitak Luffy.
Luffy malah tersenyum lebar. "Maaf, habis sudah lama aku tidak melihatmu, sih."
"Sedang apa kau?"
"Mencari vampir pelayan di sekitar sini."
"Eh? Kau teman Zoro juga?"
"Tentu saja! Ngomong-ngomong kau dan Zoro sejenis kan? Kalian saling kenal?"
"Ya, akupun sedang membantunya."
"Hei, Ace, sepertinya di sini aman. Bagaimana kalau kita bertarung? Aku ingin tahu siapa yang lebih kuat sekarang!"
"Boleh saja," Ace memasang kuda-kudanya.
Kedua kakak beradik itu pun terlibat dalam pertarungan kecil. Tak ada vampir pelayan yang tersisa dalam keadaan bugar. Separuh dibantai oleh Zoro dan sisanya dibereskan oleh Luffy dan Bonney. Sanji pun tak melewatkan kesempatan itu, ia segera membawa pergi Nami menuju purinya. Darah terus mengalir dari tangan Nami dan warna mata gadis itu semakin menggelap.
"Nami-san, kumohon. Bertahanlah."
"Darah... darah..." Nami mencengkeram baju Sanji.
BRAK!
Sanji menendang pintu masuk purinya—yang memang tidak jauh dari puri Robin bila ditempuh dengan berlari kecepatan vampir—kemudian meletakkan pelan-pelan tubuh Nami ke atas sofa besar ruang tamunya. Darah pun merembes ke sofa putih itu.
"Darah..."
"Nami-san..."
Sreeet...
Sanji merobek lengan kanan jasnya dan ia ikat ke lengan Nami. Yang ia pikirkan sekarang adalah keselamatan Nami. Kalau saja bisa, ia ingin menukar posisinya dengan gadis itu. Biarlah ia yang terluka. Setelah Sanji selesai membalut luka Nami dengan robekan lengan jasnya, kemudian ia menjilat darah yang keluar dari luka Nami. Sanji tidak lagi memikirkan rasa jijik saat ini.
"Ugh," Nami mengerang.
Sanji menggulung lengan kanan kemejanya, kemudian pelan-pelan ia duduk di belakang Nami, mendudukan gadis itu dalam pangkuannya. Sanji melingkarkan tangannya di tubuh Nami dan mengarahkan pergelangan tangan kanannya ke mulut Nami.
"Ini darah yang kau butuhkan, Nami-san."
Nami membuka mulutnya, mengarahkan kedua taringnya ke pergelangan tangan Sanji, menuju ke urat nadi vampir itu. Dan kemudian taring-taring tajam Nami menembus kulit pergelangan tangan Sanji, terus hingga ke urat nadinya. Darah Sanji kini dihisap oleh Nami, vampir berdarah murni itu meringis kecil, rasanya sedikit aneh membiarkan seorang vampir berdarah campuran menghisap darahnya.
"Nami-san... cukup... kau akan keracunan jika lebih dari ini..."
Nami tidak berhenti, dan Sanji mulai merasakan panas menjalari lengan kanannya. Gawat. Kalau begini justru Nami bisa mati karena terlalu banyak meminum darahnya. Vampir berdarah cammpuran yang terluka memang sangat membutuhkan darah vampir berdarah murni untuk memulihkan lukanya, namun jika terlalu banyak, justru akan berbalik menjadi racun.
Sanji akhirnya menggunakan tangan kirinya untuk menyandarkan kepala Nami ke dadanya, kemudian melepaskan lengan kanannya dari mulut Nami. Kedua iris gadis itu sudah kembali ke warna cokelat, tubuhnya lemas, kemudian ia menutup kedua matanya dengan posisi bersandar pada Sanji.
Vampir berambut pirang itu menjilat pergelangan tangannya, membuat lukanya menutup sendiri. Air liur vampir berdarah murni memang bisa menyembuhkan luka kecil, namun tidak termasuk luka goresan pedang suci. Kalau saja bisa... mengganti posisinya dengan Nami, Sanji tidak akan menolak.
Sanji memeluk erat gadis dalam dekapannya, meletakkan dagunya di dahi kanan Nami, kemudian mengecup rambut gadis itu. Air matanya perlahan menetes, meleleh membasahi pipi Sanji. Ia telah menyakiti gadisnya, ia gagal melindungi Nami. Walau Nami tertolong dengan darah penyembuhnya, ia tidak bisa mencegah goresan pedang suci.
"Maafkan aku, Nami-san. Ini yang terakhir, aku takkan membiarkan kau terluka lagi. Maafkan aku..."
Kuina tidak mau melepaskan pandangannya dari Robin walau sejak tadi gadis itu tidak berbuat apa-apa dan hanya duduk di kursi belajar Zoro.
Zoro tidak sempat memikirkan tempat kabur yang lain, kecuali rumahnya sendiri. Alasan pertama, Zoro tidak mau mati konyol karena tersesat kemudian bertemu dengan vampir lain dan ketahuan membawa kabur seorang vampir berdarah murni. Alasan kedua, ayah Kuina sedang ada pertemuan antar klan di luar negeri dan tidak akan kembali hingga minggu depan. Alasan ketiga, karena ayah Kuina sedang pergi, berarti rumahnya adalah tempat teraman.
Zoro menghela nafas panjang, kemudian bangkit berdiri dari pinggir tempat tidurnya. Ia berjalan mendekati Robin dan memandang kedua iris biru Robin secara intens.
"Kau masih memikirkan ibumu?"
"Aku hanya takut dengan keselamatanmu dan..." Robin melirik pada Kuina yang menatapnya dingin, seolah berkata ini-kediamanku-mau-apa-kau-di-sini?
"Kalau begitu, kita pergi dari kota ini."
"Hanya kita berdua?"
"Ya. Hanya kita."
"Tapi..." Robin menunduk, tampak berpikir.
Hening.
Zoro memegang kedua tangan Robin, kemudian berlutut di depan gadis itu. Robin tertegun, pandangannya kembali bertemu dengan sepasang iris gelap Zoro.
"Jadi benar... kalian..." Kuina memecah keheningan.
Robin menoleh pada Kuina, kemudian menganguk.
"Tapi... kenapa? Padahal peraturan leluhur..."
"Aku tak perlu alasan untuk mencintainya," Zoro menggenggam erat tangan Robin.
Kuina terdiam, bagai dipukul godam, hatinya hancur, remuk. Mungkin benar ia menganggap Zoro sebatas kakak saja, namun Kuina juga tidak memungkiri bahwa semakin lama perasaan bernama cinta itu muncul.
"Begitu... ya? Cinta..." Kuina tertegun.
"Kuina-san?" panggil Robin.
Air mata Kuina meleleh, "tidak, lupakan saja," Kuina menghapus air matanya.
Robin mengisyaratkan pada Zoro agar menenangkan gadis itu. Zoro memandangnya bingung, namun segurat senyum dari Robin menjawab kebingungan Zoro dengan jawaban 'tidak masalah'.
Zoro tersenyum kecil dan bangkit berdiri, kemudian mengecup dahi Robin lembut. Werewolf berambut hijau itu kemudian melangkah kembali ke tempat tidurnya dan mengacak rambut biru tua Kuina dengan lembut.
"Zoro?"
"Aku akan tetap menjadi kakakmu."
"Zoro!"
Kuina menghambur memeluk Zoro, sementara pemuda itu hanya bisa diam. Hal itu benar-benar mengingatkan Robin pada Law, Kuina dan dirinya tidak jauh berbeda, sama-sama rapuh tanpa ada seseorang yang menjadi pembimbing mereka.
"Aku akan menepati janjiku, tetap menjadi temanmu..."
Dan kata-kata Law yang terngiang di kepala Robin membuat gadis itu tersenyum sendiri. Benar, ia tidak pernah benar-benar sendirian. Ada banyak orang yang memandangnya sebagai 'Robin' dan bukan 'seorang vampir bangsawan keturunan darah murni'. Ada Law, Zoro, dan juga—
"Aku akan membantu kalian."
—Kuina.
Olvia melemparkan barang-barang di atas meja kerjanya, membuat kertas-kertas berhamburan keluar dari map—jatuh berserakan di lantai, sebuah tempat bolpoin yang terbuat dari keramik pecah dan beberapa bolpoin pun terhempas keras di lantai. Jelas sekali kalau tempat itu sangat berantakan sekarang.
Wanita berambut putih itu menangis sejadinya, tampak frustasi. Olvia menjambak rambutnya sendiri dan terus-terusan berteriak marah. Kuro, satu dari vampir pelayan yang tersisa, hanya dapat memandangi Nyonya Besarnya dari depan pintu masuk ruang kerja Olvia.
"Kenapa? Kenapa ramalan itu berlaku? KENAPA?" jerit Olvia frustasi.
"Nyonya Olvia..." panggil Kuro.
"Kenapa kau sama tidak becusnya dengan Law untuk menjaga Robin?"
Kini omelan dari Olvia menjadi tamparan untuk Kuro. Benar, ia telah gagal menjaga Tuan Putrinya. Dan kegagalan bagi seorang vampir pelayan berarti mati. Seharusnya Kuro tak ada di sini sekarang, ia pantas menerima hukuman bakar atau dijemur di bawah sinar matahari jam dua belas siang.
"Saya siap menerima hukuman Anda, Nyonya."
"Hukuman? Kau pikir dengan aku menghukummu, Robin akan kembali?"
"Maafkan saya, Nyonya."
"Pergi cari anakku! Jangan pernah kau berani kembali sebelum menemukannya!"
"Baik, Nyonya."
Kuro membungkuk empat puluh lima derajat, kemudian bangkit dan keluar dari ruang kerja Olvia. Jika menemukan Nico Robin berarti menyelamatkan nyawanya, maka membunuh Roronoa Zoro adalah misi keduanya.
Malam berikutnya, Law dan Robin duduk di teras rumah Zoro, sementara Zoro, Kuina, dan Ace tengah 'bermain' bersama dalam wujud werewolf mereka.
"Jadi Nii-san memutuskan untuk membantu Zoro?" tanya Robin disela-sela suasana santai itu.
"Ya, untuk menyelamatkanmu, kurasa itu bukanlah suatu kesalahan."
"Begitu?"
"Awalnya Roronoa menatapku sinis, dan berkata bahwa ia dan temannya, si Topi Jerami itu, bisa melawan bawahan Olvia."
"Lalu?"
"Si Topi Jerami berkata bahwa semakin banyak orang akan semakin bagus, dan aku bergabung."
"Aku senang kau bisa memperbaiki hubungan dengan Zoro."
Law mengangguk tidak jelas, kemudian mengalihkan pandangannya pada werewolf-werewolf yang masih asyik bermain, begitupun Robin. Ace kini melompat menubruk Zoro sementara Kuina menerjang Ace dan menggigit telinga werewolf itu. Ace menggeleng dan berhasil melepaskan diri dari Kuina. Setelah itu terdengar suara terbatuk dari mereka, mirip gonggongan kecil. Ketiganya sedang tertawa.
Law dan Robin ikut tertawa kecil. Setelah itu pandangan keduanya teralih saat seekor werewolf berbulu merah muda-putih mencolok yang melompat melewati pagar rumah Zoro. Law bersiap memegang pedangnya sementara Zoro langsung berdiri di depan Kuina, seolah melindunginya. Hanya Ace yang berlari senang kemudian menjilat moncong werewolf itu.
Para werewolf itu kemudian kembali ke wujud manusia mereka. Kuina terdiam di belakgang Zoro, sementara Ace kini sedang memeluk seorang wanita cantik berambut merah jambu. Law pun menurunkan kuda-kudanya. Ah, sepasang kekasih lainnya.
"Aku sudah mendapatkan mobil," ujar Bonney.
"Kenapa begitu terburu-buru?"
Bonney menatap Ace kesal, kemudian menarik dagu pria itu untuk mendekat padanya. "Kau pikir vampir itu tidak dikejar?"
Ace tersenyum, kemudian memberikan light kiss untuk Bonney. Setelahnya Ace merangkul pinggang Bonney dan berbalik menghadap teman-teman barunya.
"Bonney telah membawakan mobil untuk kita. Ada baiknya kita cepat pergi dari sini. Ya, Nico Robin dikejar."
Zoro langsung berlari mendekat pada Robin sambil menarik lengan Kuina. Werewolf berambut hijau itu kemudian menggenggam erat tangan Robin. Robin hanya mengelus lembut lengan kanan Zoro, seolah mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Benar, saat ini kita menang jumlah," gumam Zoro.
Robin tersenyum mengetahui Zoro dapat mengerti maksudnya dengan baik. Gadis itu kini memegang erat tangan Zoro juga. Kuina hanya tersenyum melihatnya sementara Law tampak tidak begitu peduli.
"Kita pergi sekarang," kata Ace.
Ace dan Bonney pergi lebih dulu, disusul Zoro dan Robin, lalu Kuina ikut di belakang mereka, dan terakhir Law. Keenamnya berlari membelah hutan di sekitar rumah Zoro dan Kuina.. Malam semakin larut, entahlah kali ini akan menjadi kawan atau lawan mereka.
"Kau percaya padaku sekarang?" tanya Zoro.
"Aku tidak tahu," jawab Robin.
"Kenapa?"
"Karena tidak hanya sekarang aku percaya padamu, tetapi selamanya."
"Heh," Zoro menyeringai, "kali ini aku yang senang mendengarnya."
Ace dan Bonney berhenti saat tiba di penghujung hutan. Sudah ada tiga mobil sedan hitam yang terparkir di sana. Salah satunya dengan mesin menyala—mobil paling belakang—dan seorang vampir berambut oranye turun dari sana.
"Nami?"
"Robin nee-chan!"
Keduanya berpelukan, Robin lega mengetahui kalau Nami baik-baik saja dan kini dapat bertemu dengannya. Vampir berdarah campuran itu tampak sedikit lebih pucat memang, namun tubuhnya bugar.
"Aku senang kau baik-baik saja."
"Begitupun aku, Nee-chan."
"Woah. Reuni. Bonney?" Ace melirik gadisnya.
"Tidak tahu. Vampir berambut pirang iu yang menawarkan bantuan."
Sanji turun dari mobil, lalu menghampiri Nami dan Robin. "Robin-chwaaaaan~! Aku senang kau sehat-sehat saja walau..." Sanji melirik Zoro, "...berada bersama anjing marimo itu."
"Hei! Diam kau alis pelintir!"
Nami dan Robin tersenyum. Kuina yang baru saja sampai langsung mundur beberapa langkah, dan mengambil tempat di dekat Zoro. Baginya, lebih baik melawan ratusan werewolf dengan tangan kosong daripada dikelilingi vampir seperti ini. Bau mereka terasa begitu mengganggu Kuina.
"Ho! Lihat itu, Robin-chwan! Marimo selingkuh!"
"Fufufu... itu hanya adik kecil Zoro, Sanji," Robin tertawa kecil.
"Bukankah kau yang sering begitu, Sanji-kun?" tambah Nami.
"Nami-swaaaan... aku setia padamu," Sanji menari berputar ke arah Nami dengan matanya yang berbentuk hati.
Semuanya tertawa.
"Jangan mengulur waktu," ucap Law yang baru sampai. "Apa kalian tidak merasakan kehadiran mereka?"
"Benar," tanggap Ace. "Aku, Bonney, dan Kuina akan menggunakan mobil hitam di depan. Zoro, Robin, dan Law menggunakan mobil hitam di tengah. Kita pergi."
"Kemana?" tanya Sanji. "Tidak mungkin ke puriku yang lain, kita semua sama-sama dalam bahaya."
"Kita?" Law mencibir. "Kau pikir aku dalam bahaya? Jangan bercanda!"
"Ya, ya, pengecualian untukmu dan dua werewolf ini," Sanji menunjuk Ace dan Bonney.
"Oh, padahal tadi kau sopan sekali, vampir!" cecar Bonney.
"Sudah. Aku punya tempat tinggal yang sangat jauh dari sini, mungkin akan memakan waktu tiga sampai empat hari perjalanan. Kalian siap?" tanya Ace.
"Kupikir kau nomaden," ejek Zoro, Ace tertawa kecil.
"Yah, kasihan dong Bonneyku kalau aku tidak punya tempat tinggal."
"Ace," Bonney menggelayut manja.
"Baiklah! Ayo pergi!" ajak Law. "Aku dengan Sanji dan Nami saja."
"Oh ya, satu lagi. Sanji, tolong tetaplah di belakang Zoro. Saat ia salah arah saat mengemudi, langsung berikan klakson keras agar Zoro mengubah arahnya," jelas Ace.
"Tch! Aku tak sebodoh itu! Tinggal mengikutimu saja kan?"
Sanji tertawa mengejek. "Jadi kau buta arah, Marimo?"
"Berisik!"
Para werewolf dan vampir itu pun masuk ke dalam mobil yang tadi sudah disepakati itu. Mobil terdepan dikendarai Ace, di tengah dikendarai Zoro, dan yang terakhir oleh Sanji.
Tepat lima menit setelah mereka pergi, Kuro dan beberapa vampir pelayan tiba di depan rumah Zoro dan Kuina. Menyadari kalau rumah itu sudah kosong, Kuro menandang pagar rumah itu dengan geram.
"Geledah! Pastikan kalau Nico Robin pernah berada di sini!"
Kuro membetulkan kacamatanya, kali ini ia luar biasa geram.
Dua hari berlalu dan Zoro, Robin, Ace, Bonney, Kuina, Sanji, Nami, serta Law sudah meninggalkan London sejak kemarin. Benar, berada di kota itu bukanlah ide yang baik untuk keselamatan mereka semua. Setelah dua kali berhenti untuk mengisi bahan bakar mobil dan mengumpulkan tenaga, maka kali ini adalah kali ketiga mereka semua berhenti.
Zoro memberhentikan mobil yang ia kendarai tepat di belakang mobil yang dikendarai Ace. Ternyata cukup melelahkan juga berjam-jam berada dalam mobil. Beruntung saat ini sedang musim dingin sehingga Zoro tidak perlu khawatir kulit Robin akan mengelupas ketika mengemudi di siang hari. Yah, tidak masalah juga, sih, mengingat kaca mobil Sanji ini dilapisi kaca film yang begitu tebal, jadi sinar matahari pun takkan terasa menyengat.
Zoro melirik Robin yang duduk di sebelahnya. Gadis berambut raven itu tengah tertidur lelap di sana. Ah, Zoro baru tahu kalau seorang vampir butuh tidur juga. Zoro pikir mereka tidak pernah tidur, makanya berkulit pucat. Werewolf berambut hijau itu tersenyum, kemudian mengarahkan punggung jari telunjuknya utuk membelai lembut pipi Robin.
Tubuh gadis ini memang selalu dingin, tidak seperti dirinya yang berdarah panas. Namun Zoro sama sekali tidak keberatan.
Robin perlahan membuka matanya saat ada seseorang yang mengelus pipinya.
"Kita sudah sampai?" tanya Robin pelan.
"Belum. Tidurlah lagi. Kau pasti lelah."
"Tidak, kau yang lelah karena terus menyetir. Tidurlah."
"Heh? Lalu membiarkan seorang perempuan menjagaku? Jangan konyol!"
"Zoro..." Robin memandang penuh harap pada werewolf berambut hijau itu.
Zoro menghela nafas, kemudian menurunkan sandaran joknya dan merebahkan tubuhnya di sana, dengn kedua tangannya berada di belakang kepala dan berfungsi sebagai bantal. Werewolf itupun memejamkan matanya, Robin hanya tertawa kecil melihat Zoro yang begitu menurut padanya.
Robin pun ikut menurunkan sandaran joknya dan merebahkan tubuhnya. Gadis vampir itu mengarahkan tangan kanannya ke rambut Zoro dan mulai mengelusnya pelan. Zoro pun memiringkan tubuhnya dan menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Robin. Gadis itu hanya tersenyum tipis.
Malam semakin larut, gerakan tangan Robin mulai terhenti, gadis itu kembali terlelap. Malam itu, rasanya mereka bisa lebih tenang, untuk pertama kalinya. Ace dan Bonney keluar dari mobil, keduanya duduk di atas roof mobil. Bonney bersandar pada dada Ace, sementara pemuda itu membelai rambutnya lembut. Kuina hanya duduk di kursi belakang mobil dengan pintu mobil terbuka.
Angin malam itu tidak begitu kencang, meski udara cukup dingin karena masih musim dingin. Para vampir—Sanji dan Nami—turun dari mobil, hendak menyapa Zoro dan Robin, namun melihat pasangan itu tengah tertidur, keduanya mengurungkan niat.
"Mereka bukan hanya lelah fisik, tapi juga mental," ujar Ace.
"Benar, melelahkan juga kabur dari wanita vampir gila itu," sahut Bonney.
"Hahaha... setelah ini kita akan membiarkan mereka menjalani hidup berdua."
"Hei, hei, jangan lupakan kami!" protes Sanji.
"Dan aku juga," timpal Kuina.
"Yah, kalian tinggal di tempat berbeda, dong, masa mau mengganggu?" jawab Ace.
"Aku ingin tahu akan jadi seperti apa anak mereka," kata Bonney.
"Anak?" Sanji terkejut.
"Tidak munafik, Sanji, kau tidak lihat bagaimana mereka bisa saling percaya hanya dengan tatapan mata?" tanya Nami.
"Tapi, tidak terbayang kalau mereka punya anak!" protes Sanji.
"Kau tahu, bagi werewolf seperti Zoro, memiliki anak adalah kebahagiaan untuknya," Law akhirnya angkat bicara, ia duduk di atas bagasi mobil terdepan.
"Kenapa?" tanya Ace.
"Menjadi keturunan terakhir suatu klan bukanlah hal yang menyenangkan."
"Benar, Zoro kesepian, ia ingin ada yang meneruskan klannya," timpal Kuina.
"Tapi, bagaimana kalau anaknya itu vampir?" tanya Sanji.
"Kurasa itu bukan masalah," Nami memeluk lengan kekasihnya.
Sanji menghela nafas, kemudian merangkul Nami. Kali ini ia tidak tahu apakah keputusannya benar untuk membantu sepasang vampir dan werewolf kabur dari klan mereka. Yang Sanji tahu, ia amat menyayangi Robin sebagai kakaknya dan tidak ingin gadis itu terluka.
"Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa ada seorang Roronoa di sekolah?"
Kini Olvia melampiaskan kemarahannya pada Garp. Wanita ini luar biasa menyesal pernah menyetujui ide pria itu untuk membuat sekolah bagi vampir dan werewolf. Ide itu memang sangat gila. Olvia lupa bahwa itu bisa membuka gerbang bagi ramalan keluarga Nico turun temurun: klan Nico akan habis oleh klan Roronoa.
"Aku tidak menyangka kedua anak itu akan jadi begini."
"Bukan kedua anak itu! Masalanya kenapa harus Robinku? Kenapa?"
"Tenangkan dirimu, Olvia."
"Tenang? Tenang kau bilang? Aku tidak tahu anakku dimana, dan bila aku menemukannya nanti pun, aku harus membunuhnya karena itu perintah klan vampir! Apa kau masih bisa menyuruhku tenang?"
"Olvia..."
"Dan Robin pun jadi pembangkang! Aku tahu, seharusnya aku tak membiarkan ia masuk sekolah ini! Setelah Law... kenapa Roronoa? Mereka merusak anakku!"
Garp hanya bisa terdiam. Benar, Olvia sudah tahu semuanya. Tentang awal dari semua ini, kelas sejarah—yang membuat Crocodile di hukum bakar oleh klan Nico, lalu kini dirinya yang lengah dan membiarkan seorang Roronoa bersekolah di Night Lullaby High School.
Kesalahan terbesarnya, entah harus ia tebus dengan apa.
"Kedua cucumu pun membantu mereka kabur."
"Ace dan... Luffy? Tidak mungkin! Bagaimana bisa?"
"Ace adalah werewolf! Bagaimana bisa kau memiliki cucu makhluk terkutuk seperti itu? Apa anakmu pun menikah dengan seekor werewolf?"
"Ya..." Garp menghela nafas, "...karena berdarah campuran, salah satu anakku, Rouge, adalah manusia, dan ia menikahi werewolf terkuat di atas Roronoa yang sudah punah. Gol D. Roger."
"Harusnya aku tahu! Harusnya aku tahu akan berakhir begini!"
Dan Garp tidak dapat berkata apa-apa lagi. Hukuman mati mungkin tidak akan dapat ia hindari.
Dua hari berlalu dan kini para vampir serta werewolf telah sampai di kediaman Ace. Mereka baru saja selesai membersihkan rumah sederhana yang terdapat di kota kecil daerah dalam hutan pinggir negara Inggris itu. Entahlah apa nama kota ini, yang pasti tentu saja sangatlah jauh dari London.
Rumah itu sangat minimalis, terbuat dari kayu berkualitas baik, memiliki dua kamar tidur di lantai atas, dua kamar mandi, masing-masing satu di tiap lantai, ruang tamu, ruang makan, dan dapur di lantai bawah. Perabotannya pun tidak ada yang begitu mewah. Hanya televisi, lemari es, peralatan dapur, dan beberapa lemari untuk pajangan. Bonney bahkan tidak ingat Ace punya rumah seperti ini karena sangat jarang—atau malah tidak pernah—mereka datangi.
Ketika malam beranjak larut, Sanji dan Nami memutuskan untuk menggunakan salah satu kamar karena Nami kelelahan. Ace dan Bonney bersantai di ruang tamu sambil menonton televisi. Law tampak membersihkan pedangnya sambil duduk di ruang makan, sementara Robin tengah membuat minuman di dapur. Tadi Ace keluar untuk membeli beberapa bahan makanan dan minuman agar kulkas tidak kosong. Kuina melamun di teras, dan Zoro tengah tertidur sambil bersandar di dinding depan rumah.
Setelah Robin meletakkan segelas minuman cokelat di atas meja makan—yang disambut Law dengan candaan bahwa ia lebih suka minum darah—dan di atas meja kecil ruang tamu, gadis itu membawa dua gelas minuman cokelat ke teras.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Robin sambil menyodorkan segelas cokelat panas pada Kuina.
"Tidak juga," Kuina mengambil gelas di tangan Robin, "tidak terlalu menggangguku."
"Hm? Mau menceritakannya?"
"Apakah akan mengganggumu?"
Robin tertawa kecil. "Tentu saja tidak. Ceritakanlah."
"Begini, Robin, maksudku, Nico-san..."
"Aku tidak keberatan kau panggil Robin."
"Baiklah, Robin. Aku berpikir tentang kau dan Zoro," Kuina menarik nafas, mengumpulkan keberaniannya, "bagaimana kalau nanti kalian punya anak?"
"Hm?" Robin tertegun, ia menoleh pada Zoro yang tengah tertidur. "Aku belum berpikir sampai ke sana, setidaknya sampai saat ini, hubungan kami tidak... maksudku, belum sampai ke sana."
"Begitu..." Kuina meminum cokelatnya.
Robin mengangguk, kemudian tersenyum. Kuina memeluk lututnya, sementara Robin membiarkan kakinya berada di tangga teras depan. Sang gadis werewolf menghela nafas lega, entah kenapa.
"Kau tahu Robin? Aku senang Zoro memilihmu."
"Begitu? Kenapa?"
"Sejak kecil, Zoro selalu menolak untuk berteman dekat dengan siapapun, ia lebih suka sendirian dengan pikirannya sendiri."
"Maksudnya?"
"Zoro lebih suka tertidur daripada mengobrol, menyendiri, atau berlatih dengan ketiga pedangnya."
"Zoro ahli pedang yang baik," ujar Robin.
"Benar, walau dulu ia sering kalah denganku," Kuina tertawa.
"Kalah denganmu? Kau pasti hebat sekali."
"Hahaha... tidak juga. Zoro kekanak-kanakan dan tidak pernah mau kalah. Apapun akan ia lakukan untuk melindungi sesuatu yang penting baginya."
"Ya, kurasa dia memang seperti itu."
"Aku senang kau bisa mengerti dia, Robin."
"Tidak, aku tidak pernah bisa mengerti dia. Kau tahu? Zoro hanya bertindak sesuai instingnya dan keinginannya."
"Hmm..." Kuina mengangguk, kemudian menguap.
"Kalau kau mengantuk, kamar utama masih kosong. Kau istirahat saja."
"Itu kan kamarmu dan Zoro, aku tidak mau."
"Tidak apa, aku dan Zoro sepertinya akan di sini dulu."
"Benar?" Kuina menguap lagi, Robin mengangguk.
Kuina kemudian bangkit dari tempatnya duduk, lalu berjalan ke arah dapur untuk meletakkan gelas dan beranjak naik ke lantai atas. Robin memegangi gelas cokelat panasnya, kemudian memandang ke arah langit. Mungkin karena agak terpencil, ataupun karena berada di tengah hutan, bintang terasa lebih banyak dari yang biasa Robin lihat.
"Indah," gumamnya.
"Seperti dirimu."
Robin nyaris terlonjak kaget mendengar suara Zoro yang begitu tiba-tiba. Pemuda berambut hijau itu duduk di belakang Robin dan memeluknya dari belakang. Robin hanya diam dan membiarkan Zoro sedikit 'menghangatkan'nya.
"Aku baru tahu vampir suka minum cokelat. Kukira kalian hanya minum darah."
"Untuk formalitas, terkadang dibutuhkan."
"Begitu?"
Robin mengangguk, kemudian kembali memandang ke arah langit. Kepalanya bersandar di bahu Zoro.
"Soal pembicaraanmu dengan Kuina."
"Kau mendengarnya?"
"Tentu saja. Kau pikir aku tuli?"
"Fufufu... kupikir kau tertidur pulas."
Zoro menghela nafas, kemudian mengeratkan pelukannya pada Robin. Jantungnya berdebar keras lagi, sama seperti saat ia menyatakan cinta pada Robin dulu.
"Maukah kau... menikah denganku?"
PRANG!
Gelas di tangan Robin pecah saat menyentuh tangga terbawah teras. Apa secepat ini? Soal anak... dan berkeluarga dengan Zoro? Sedikit pun hal itu tidak pernah terbesit di benak Robin, bahkan dalam khayalan terliarnya.
"Robin?"
"Zoro... aku... apakah ini tidak terlalu cepat?"
"Bagiku tidak."
Robin menghela nafas, kemudian berbalik dan mengecup bibir Zoro dengan lembut, gadis itu mengalungkan tangannya ke leher Zoro. Zoro ikut membalas ciuman itu, terhanyut ke dalamnya. Dalam jarak sedekat ini, tentu saja ia dapat mencium aroma tubuh Robin, membuat ciuman mereka semakin dalam, entah kenapa. Berbeda dengan ciuman 'kecelakaan' pertama mereka, yang kedua terasa berkesan, mereka saling berbagi perasaan, seperti biasa, tanpa kata.
Robin kemudian melepaskan ciuman itu dan terengah.
"Apa itu cukup untuk menjawab?"
"Belum. Katakan," ujar Zoro.
"Aku mau."
Dan Zoro pun tersenyum senang. Didekapnya Robin dalam pelukannya, kemudian mengecup rambut raven Robin dalam, "aku akan melindungimu selamanya."
.
.
—Tsuzuku—
.
.
#curhat: Tidak sempat memperhatikan typo. Jadi tolong beritahu bila menemukannya, minna.
Pertama, selamat ya untuk para author yang ficnya masuk ke tahap polling IFA 2011. Omedetou~ Hihihi... ^^ Jangan lupa untuk memberikan suaramu dalam polling, ya!
Kedua, Cha bingung mau ngomong apa. Hahaha... yang pasti Cha harus menyelesaikan cerita ini sebelum liburan akhir semester di mulai. Karena saat libur Cha harus test di luar kampung halaman, supaya bisa masuk ke universitas idaman. Doakan Cha, ya! :)
Keterangan:
Bagi vampir berdarah campuran, darah vampir berdarah murni adalah penyembuh, tapi tidak berlaku untuk sesama darah murni, pengecualian jika darah murni kritis (terluka parah atau kekurangan darah setelah melahirkan).
Vampir berdarah murni yang kritis diutamakan meminum darah werewolf, atau darah vampir berdarah campuran, vampir pelayan, sementara meminum darah sesama vampir berdarah murni itu di prioritas akhir, karena bisa berbalik menjadi racun.
Mobil milik Sanji semuanya memiliki setir di sebelah kiri.
Nee, mind to RnR, readers?
