Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Sunset in My Purple
Suasana malam ini begitu dingin, Manami mengambil selimut tipis yang ada di atas kasurnya lalu kembali duduk di kursi di depan meja belajarnya. Tangannya kembali sibuk mencoret-coret sebuah kertas buram, berusaha mencari jawaban soal fisika yang dari tadi membuat kepalanya pusing.
"Hatchiim" Manami bersin, refleks yang wajar ketika udara dingin menyerang tubuhnya atau meja belajarnya yang sudah berdebu. Manami melilitkan selimut tipis tersebut ke lehernya. Begini lebih baik, pikirnya.
Manami mengerutkan keningnya, soal-soal fisika ini membuatnya muak. Belum lagi, dia harus belajar pelajaran lain untuk persiapan UTS nanti. Manami harus lebih giat lagi.
'Sebaiknya aku tanyakan saja soal yang susah kepada kak Asano' Manami tersenyum mengingat wajah orang itu.
"Manami, sudah jam 11 malam. Cepat tidur yah" suara Kirara terdengar dari luar kamar Manami.
"Iyah" Manami menyahut pelan, lalu segera membereskan meja belajarnya dan mengambil smartphonenya. Mengirim pesan singkat kepada seseorang, walaupun sepertinya ini sudah terlalu larut, tidak ada salahnya dicoba dahulu.
'Kak Asano, besok aku ingin bertanya tentang pelajaran saat istirahat ke dua. Apakah boleh?'
-'Tentu saja boleh, datanglah ke perpustakaan'
Manami beranjak dari kursinya dan memencet saklar lampu untuk mematikannya.
.
.
Karma menidurkan kepalanya diatas meja, bosan. Dia melihat ke seluruh penjuru kelas tapi tidak ada yang berhasil membuatnya sedikit lebih semangat. Sampai akhirnya dia melihat seorang gadis dengan rambut yang dikepang dua tengah terburu-buru mengambil beberapa buku dari dalam tasnya, bahkan sampai lupa menutupnya.
"Oii" Karma mencoba berteriak untuk menahan sang empunya tas, tapi sayang dia tidak mendengarnya dan hilang begitu saja dari pandangannya.
Menyebalkan sekali, pikir Karma. Dia beranjak dari bangkunya, suasana kelas sudah sepi, rasanya tidak apa-apa kalau dia yang menutupnya, toh dia tidak ada maksud jahat juga. Karma berjalan ke depan menuju kursi Manami dan dengan cepat menutup resleting tas Manami.
"Karma" Karma diam membatu. Tidak ingin ada kesalahpahaman, Karma memilih untuk tetap diam.
"Tidak apa-apa, kau tidak ada maksud jahat kan" Karma menoleh kebelakang, ternyata yang memanggilnya adalah Nagisa-sahabatnya sendiri.
"Wah ternyata Nagisa, ada apa?" tanya Karma langsung.
"Ikut aku yuk ke taman, ada yang ingin kami bicarakan" ajak Nagisa.
"Kami?" tanya Karma lagi. Nagisa hanya mengangguk untuk menjawabnya, lalu dia melangkah keluar kelas diikuti dengan Karma.
Sesampainya di taman, Karma bisa melihat dengan jelas siapa orang yang akan mengajaknya bicara. Kayano telah duduk di salah satu bangku taman.
Didahului oleh Nagisa yang duduk di samping Kayano, lalu Karma yang duduk disamping Nagisa. Dan selanjutnya hanya keheningan yang tercipta diantara mereka.
"Ekhem" Nagisa berdeham untuk memecah kesunyian ini. Kayano tampak mulai panik sedangkan Karma hanya diam tak ingin menanggapi keadaan mereka.
"Ma-maafin aku yah Karma" ucap Kayano yang terdengar tulus.
Karma sedikit terkejut, dia kira Kayano sama saja dengan cewe-cewe menyebalkan yang hanya ingin dimengerti. Tentu tidak baik memikirkan hal seperti itu, karena bagaimanapun juga Kayano adalah teman dekat Karma dari SMP selain Nagisa. Dan terlepas itu semua
"Maafin aku juga yah Kayano, kurasa aku terlalu galak sama kamu" Karma mengusap bagian kepalanya, canggung dengan keadaan ini.
"Ya, mangkanya jadi orang jangan terlalu galak dong, serem tau kayak setan"
"Haah! Kan sudah minta maaf. Oke aku tarik lagi kata-kataku" ucap Karma setengah berteriak
"Sudah-sudah, kalian baru saja berbaikan..." Nagisa tersenyum, bersyukur hubungan mereka kembali seperti dulu.
Yah setidaknya kali ini Karma bisa menurunkan sedikit egonya untuk sahabatnya ini.
.
.
.
Manami berjalan cepat menuju perpustakaan agar tidak banyak waktu yang terbuang dan dia bisa belajar lebih lama dengan Kak Asano.
Setelah sampai di perpustakaan, Manami melihat kak Asano sedang membaca buku dengan serius, dia jadi tidak enak memanggilnya. Akhirnya Manami memilih diam-diam mendekati tempat duduk kakak Karma itu. Diam-diam duduk didepannya. Entah kenapa rasanya Manami gugup sekali.
"Sudah datang? Kenapa tidak memanggilku" Asano berbicara lalu mengalihkan pandangannya dari buku menuju sosok yang sudah ada didepannya.
"A-Aku tidak mau mengganggu Kakak" ucap Manami terbata-bata
"Haha, santai saja. Jadi apa yang ingin ditanyakan?" Asano memulai sesi belajar mereka.
Setelah lima belas menit berlalu, Manami meminta untuk berhenti saja, kepala Manami rasanya ingin pecah melihat angka-angka yang tadi dia kerjakan.
"Manami, kamu rajin sekali yah, haha"
"Tidak juga kak, sepertinya ini wajar karena minggu depan kita UTS" Manami hanya menyunggingkan senyumnya, menutupi fakta bahwa dia belum mempelajari semua pelajaran yang akan diujikan.
"Tapi kenapa gak minta ajarin sama Karma, walaupun keliatan seperti itu dia selalu juara umum loh"
"Be-Benarkah?" Manami sekarang sedikit menghormati Karma, setidaknya dia pintar walaupun kepribadiannya sangat mengesalkan.
"Dan kamu tahu enggak Manami, hari-hari sebelum ujian seperti ini dia tidak belajar lagi dan dia malah asik main game atau tidur di kelas. Benar-benar membuat orang lain iri hahah"
Loh ini kenapa jadi bahas Karma, Manami hanya menyunggingkan setengah senyumnya saja, entah kenapa dia agak sebal ketika berbicara sesuatu tentang Karma. Tapi tidak bisa disangkal juga dia senang bisa mengetahui rahasia si makhluk astral itu. Dan ditambah obrolan yang menyenangkan dengan kak Asano.
.
.
Teng Teng Teng
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Semua orang bergegas membereskan peralatannya untuk segera pulang.
Sama seperti yang lain, Manami juga bergegas untuk segera pulang ke rumah. Dia ingin cepat makan, lalu istirahat. Sepertinya Manami merasa tidak enak badan karena begadang semalam, tadi juga dia sempat bersin beberapa kali.
"Aduh!" Refleks Manami memegangi rambutnya yang sepertinya ditarik oleh seseorang.
"Oopss! Maaf Manami kalau sakit" ucap Karma meminta maaf, tapi di mata Manami permintaan maaf itu hanya sekadar formalitas belaka.
"Iya" ucap Manami sedikit ketus, berusaha mengabaikan Makhluk Astral yang kini sudah berjalan di sampinya, mengikutinya.
"Manami, tadi istirahat kamu kemana?"
"Ke perpustakaan"
"Ngapain?"
"Belajar bareng"
Karma merasa sepertinya Manami sedang PMS, dari tadi menjawab pertanyaannya singkat dan datar. Tapi memangnya Karma ingin mendengar jawaban yang seperti apa?. Abaikan saja
"Sama siapa?"
"Kakakmu"
"Ciee"
"Apaan sih" Manami rasanya kesal meladeni anak yang satu ini.
"Mau kuberitahu sesuatu tentang kak Asano gak?"
Manami terdiam, memangnya apa yang ingin diberitahu oleh adik yang sepertinya kurang ajar seperti dia?. Oke kali ini pikiran Manami sedang tidak beres
"Tidak ma-"
"Kak Asano itu kalau marah serem banget, pernah aku dimarahi sama dia gara-gara aku main game dari pagi sampe pagi lagi. Waktu itu dia benar-benar menyeramkan sampai-sampai aku tid-"
"Itukan emang gara-gara kamu keterlaluan, main game sampe segitunya"
'Tunggu dulu, sejak kapan Karma pakai aku-kamu?' Manami bergumam dalam hatinya
"Tuhkan kamu suka yah sama Kak Asano?!" Sepertinya Manami harus ekstra sabar menghadapi Karma kali ini.
"Apa mak- hatchiim hatchiim" Manami segera mengambil tisu yang ada di dalam kantong roknya.
"Manami, kamu sakit?" tanya Karma pada Manami. Manami menggeleng pelan
"Tadi juga Kak Asano bercerita tentang kamu, tentang kamu yang juara umum dan bagaimana caramu belajar" sepertinya Manami sekarang memegang kartu truf Karma.
"Aih, sialan" Karma mendecih pelan.
"Karma, nanti ajarin aku matematika dan fisika yah!" Manami tersenyum senang sambil memohon kepada Karma. Karma hanya terdiam melihatnya. Entah apa yang dia rasakan.
"Boleh saja, asal kau traktir aku kue strawberry cheesecake dan susu strawberry yah, hahah" Manami ingin rasanya menarik kata-katanya dan menjambak rambut orang yang ada disampingnya.
Percakapan mereka berakhir seiring jalan rumah mereka yang berbeda.
.
.
Pagi ini Manami bangun dengan kepala yang berat dan suhu badan yang lumayan hangat. Dia tidak mau izin sakit, dan Manami merasa dia bisa bersekolah. Apa yang dipikiran Manami saat ini adalah dia harus masuk ke kelas, mendengarkan guru mengajar karena sebentar lagi UTS. Akhirnya Manami memutuskan untuk masuk sekolah.
.
Manami pikir keadaannya tidak akan bertambah buruk, tapi pikirannya itu salah, sekarang dia merasa sangat pusing dan badannya bertambah panas. Saat istirahat tadi juga dia hanya minum susu dan tidak menghabiskan roti yang dibelinya. Tapi untunglah ini sudah pelajaran terakhir
Pada akhirnya Manami tidak bisa fokus ke pelajarannya. Dan dia menyesali keputusannya.
"Ketua Kelas nanti ke ruang guru menemui saya ya. Sekian dulu, semoga sukses UTS"
Manami hanya mengangguk menjawab perintah guru fisika tersebut. 'Tahan Manami, kamu pasti kuat'. Manami berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Setelah bel berbunyi Manami langsung menuju ruang guru, dan menghampiri beliau di mejanya. Ternyata beliau lupa menyerah print out soal latihan bab terakhir serta latihan untuk UTS nanti dan Manami ditugaskan untuk menyerahkan kepada yang lainnya. Serta beberapa pengarahan bagaimana menjawab soal-soal tersebut dan referensi yang harus dibaca. Sebenarnya itu tidak terlalu penting pikir Manami, dia hanya ingin pulang.
Sepuluh menit berlalu akhirnya Manami bisa pulang, dia khawatir besok tidak bisa masuk karena besok pelajaran matematika terakhir sesi UTS. Dia harus cepat sampai rumah dan segera istirahat agar cepat sembuh juga.
Koridor sekolah sudah sepi, padahal hanya sekitar sepuluh menit setelah bel. Mungkin karena minggu depan UTS, tidak ada anak yang ingin menghabiskan waktu sepulang sekolahnya untuk hal yang tidak penting.
Tapi Manami masih disekolah, dia berjalan sangat pelan, pusingnya semakin berat membuat penglihatannya sedikit kabur, Manami menyenderkan badannya ke dinding. Bagaimana ini ? sepertinya dia sudah tidak sanggup berjalan lagi.
"Manami kamu tidak apa-apa?" Karma segera membantu Manami untuk berdiri dan menyenderkannya di dinding lagi. Manami menatap mata Karma yang sekarang begitu dekat dengannya, kedua tangannya juga memegang erat bahu Manami agar tidak jatuh.
"Ka-Karma" suara Manami parau. Karma memegang dahi Manami dengan punggung tangan kanannya.
"Astaga kamu sakit begini kenapa masuk sekolah? Pantas kamu cuma duduk di bangkumu seharian ini" Karma mengambil tas Manami dan meletakkannya di depan tubuhnya.
"Berat lagi tasnya, pokoknya besok kamu ga usah masuk sekolah" Karma menasihati Manami
"Gak mau!"
"Haah?!" Karma kesal dengan jawaban bodoh Manami
"Besok pelajaran matematika yang terakhir dan ada print out latihan fisika yang harus aku serahkan ke anak-anak"
Dengan gusar Karma membuka tas Manami dan mengambil print out yang tadi disebutkan dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Biar aku saja yang mengajarimu matematikanya, mengerti?!" ucap Karma sambil membentak Manami. Mungkin Karma kelepasan dan membuat Manami terkejut lalu
Bruk
Manami pingsan tapi untungnya sempat ditahan lagi oleh Karma.
'Mampus gue ngebuat anak orang pingsan' pikir Karma.
Setelah itu ada Pak guru yang melihat mereka berdua dan menawarkan bantuan untuk mengantar Manami ke rumahnnya dengan mobil.
.
Mobil Pak guru berhenti didepan rumah Manami, Karma segera turun untuk menggotong Manami tapi niatnya terhenti setelah melihat cewek rambut ikal pendek yang dia yakini sebagai kakaknya Manami sedang berlari menuju ke arahnya.
"Kakaknya Manami, Manami tadi pingsan disekolah"
"Benarkah?! ayo bawa masuk ke dalam!" ucap Kirara panik
Pak guru segera membawa Manami masuk ke kamarnya, Karma juga ikut masuk dan meletakkan tas Manami di meja belajar. Lalu tanpa dosa duduk di kursi Manami
Setelah itu Pak guru pamit dan Kirara mengantarnya keluar rumah sekaligus berterima kasih.
.
Karma memandangi wajah tidak damainya Manami, kening Manami berkerut seperti menahan sakit. Karma kasihan dengan Manami tapi dia tidak mengingkari bahwa wajah Manami saat ini lucu sekaligus jelek. Karma tertawa dalam hatinya sampai lupa fakta bahwa mungkin yang membuat Manami pingsan adalah dia.
"Terima kasih Karma"
Karma kaget dengan suara Kirara yang tiba-tiba datang. "Tidak masalah Kakaknya Manami"
"Hazama Kirara, terserah mau manggil apa"
"Oke Kirara"
"Tunjukkan rasa hormatmu, adek kelas kampret" Kirara melotot, Karma yang biasanya jarang memanggil kakak kelas dengan sebutan 'Kakak' sepertinya harus melakukannya kali ini, atau sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Setidaknya itu yang dia rasakan saat ini.
"Oke Kak Rara"
"Mbak Rara aja, Manami biasa panggil itu juga"
'ya, ya. Terserah' batin Karma lelah.
Bersambung...
Akhirnya bisa update lagi.
Kritik dan saran selalu diterima, ingin menyampaikannya via review? silahkan ^^
Terima kasih ^^
