B3R (Basa-Basi Balesan Review)

Moch241 : Thanks-for-review :P Baiklah, ini lanjutanya. Selamat membaca chap 6~

synstropezia : Wah! Ngeship Julian x Nashi? JuNa? Keren juga ya? (*plak) xD hahaha.. aduh! mana mungkin aku nulis adegan romance buat anak segede kucrit kyk mereka hahaha, tapi boleh juga sih… anak jaman sekarang gituh xD (*apa maunya?). Inti dari cerita Mystery adalah sejauh mana para reader dapat membaca jalan pikiran author untuk menebak apa yang akan terjadi di chapter selanjutnya xD Ah, abaikan! xD. Oke ini udah di lanjut, intinya syn-san jangan sampai ketinggalan lg ya. Thanks for review~

de-chan : cie, yang kehabisan kata2…. xD (*plak), oke ini lanjutanya, gomen agak lama karena author ada urusan lain (*sapa yg nanya?). Baiklah, Semoga Nashi gak mati hehe, thanks ya reviewnya~

Fic of Delusion : hmm.. kalau Nashi mati status fic ini bukan in progress lg tp udah complete, banyak kemungkinan yg akan terjadi. Ohya, Fic-san kenapa gk bikin fanfic lg? padahal fic krangan kmu bgus2… Btw, arigatou bgt reviewnya dan selamat membaca chap 6~

Aoi Shiki : sebelumnya terimakasih atas reviewnya Aoi-san, ini udah aku lanjut. Semoga Natsu bisa kembali ^_^

Ifa dragneel92 : Tenang, Nashi mungkin gk akan mati kok. Kita lihat saja di chap ini~ arigatou reviewnya ^_^

Stayawake123 : bukanya berkurang malah bertambah? Okelah, perlahan-lahan rasa penasaran Stay-san akan terobati kok. Thanks reviewnya~

.

.

.

Reuni dari anak dan ayah..., namun?!—

.

.

.

.

Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fanfiction by me

Genre : Family, Supernatural, Hurt/Comfort, Romance, Mystery, Campur aduk.

Warning : Flat, kaku, OOC, Typos, dan segala kejelekan lainya.

Happy Reading~ :)

.

.

.

.

.

Tes…

.

.

.

.

Tes…

.

.

.

.

Tes…

Tetesan darah kental berjatuhan ke permukaan tanah.

"Pa..pa…." gadis kecil bersurai merah jambu itu bersuara dengan nada lirih—nyaris berbisik.

"?!" END tersentak.

"Uhuk!...ugh.." gadis malang yang tengah di cengkram Natsu—END itu terbatuk-batuk hingga mulutnya memuntahkan darah. Kuku panjang milik sang iblis masih menancap di perutnya.

Mata si gadis yang sejak tadi terpejam membuka perlahan, menampilkan sepasang onyx yang bulat penuh namun hampir kehilangan cahayanya.

"Papa…. Aku… senang… papa… masih…hidup….uhuk!" ia mencoba tersenyum walau yang terpatri hanyalah sebuah senyum lemah.

"Li-hat…! A-aku…. Me-makainya…., papa masih…. ingat kan.. benda ini?" tanganya terangkat dengan gerakan lemah, menyentuh benda yang terlilit di lehernya.

"?" kedua alis Natsu saling bertaut bagai medan magnet yang berlawanan.

"Ya… ini…. syal papa, pemberian Igneel." Kedua mata si kecil itu menyipit akibat senyum yang semakin melengkung naik.

DEG!

Tiba-tiba Natsu merasakan suatu hantaman dahsyat dalam benaknya.

"Bau ini…." gumamnya.

"Aku… sangat ingin bertemu papa. Aku selalu berharap, dan sekarang Kami-sama mengabulkannya…" ucap Nashi—masih mempertahankan lengkungan di bibirnya.

"Ini…." sepasang mata merah Natsu yang di balut hitam pekat itu bergetar.

"….Papa ada di depanku"

DEG!

"Setelah ini… aku akan bertemu mama, aku tidak sabar menantikanya…." Tubuh Nashi semakin lemah.

DEG!

"Lu…. Cy…."

"Papa… mengingatnya? Nama mama?..."

DEG! DEG! DEG!

"Lucy….!" Natsu lagi-lagi tersentak. Refleks ia mencabut tancapan tanganya dari perut Nashi.

Slash…

Darah segar pun bermuncratan. Natsu terlihat syok.

"NASHI!" Wendy, dan Gray segera berlari kearah mereka.

Tubuh Natsu tiba-tiba bergetar, ia menyingkir dari atas Nashi dan meringsut mundur. "Kau…! Kenapa kau memiliki aroma seperti Lucy?" Tanyanya heran terselip rasa tidak percaya.

"….Karena aku—"

"—DIA ANAKMU, NATSU!" Gray berteriak.

Natsu lagi-lagi menautkan alis, tampak bingung.

"Anakku? Natsu?—" Kedua manik merahnya langsung membulat, "Arrggggggghhhhh… Kepalaku sakit!" Erangnya. Ia memegangi kepala yang tiba-tiba terasa sakit bagai di tusuk seribu jarum. "Argghhh…. Sakit sekali!"

'Kenapa dia?' batin Gray bertanya-tanya heran akan tingkah mahluk bersayap itu.

"Siapa itu Natsu? Siapa itu Lucy? Arggrhhhh….!" Natsu tampak semakin tertekan, ia memeras kepalanya semakin erat.

Gray kini mengerti apa yang tengah dialami jelmaan iblis Zeref itu, rupanya harus sedikit di beri pencerahan. Gray melangkah, lalu dengan cepat tanganya meraih kerah jubah yang di pakai END dan mencengkramnya "'Natsu' ITU NAMAMU, SIALAN! JANGAN BILANG KAU TIDAK INGAT, BRENGSEK?!" ia langsung berteriak tak karuan di depan muka mantan frienemy-nya tersebut..

"Siapa kau?" Tanya Natsu dingin.

Gray berjengit "AKU GRAY! Cih, APA YANG SUDAH ACNOLOGIA PERBUAT PADAMU?!, SAMPAI KAU TAK INGAT DIRIMU SENDIRI!" pada titik ini ice mage putra Silver itu benar-benar kalut. Kedua matanya mengkilat tajam, menggambarkan emosi yang meluap-luap

"Aku….ARRRRGGGGHHHHHH…." Natsu—END kembali mengerang kesakitan, begitu histeris.

"Natsu-san…" lirih Wendy yang kini tengah mencoba mengobati Nashi dengan sihir healing magic-nya.

Sementara di sisi lain, beberapa mage Fairy Tail masih berupaya mengelak serangan si raja naga Acnologia.

.

.

"ARRRRGGGHHHH….."

"Biarkan hal itu mengalir, Natsu. Jangan kau tahan!" Erza melangkah tertatih-tatih menghampiri Natsu dan Gray. Dia berkata dengan nada tenang disertai senyum lembut untuk suatu tujuan yang di tujukan pada Natsu.

"Huh?!"

Seketika Natsu tertegun, perkataan Erza yang tiba-tiba secara ajaib membawa pengaruh besar padanya. Kini ia mulai berangsur-angsur lebih tenang. Matanya yang merah menyala perlahan berubah menjadi hitam kuarsa dan warna gelap di sekitar matanya berubah kembali menjadi putih. Sungguh tak dapat di tebak dan sulit di mengerti apa yang sesungguhnya terjadi pada pria Dragneel itu.

"Aku…." Ia bergumam. Terlihat baru menyadari sesuatu. Namun Natsu langsung terdiam setelahnya.

Erza, Wendy, beserta Gray menanti harap-harap cemas.

.

.

"Aku…."

"Aku ingat semuanya….ya, aku ingat…"

Flashback~

Kobaran si jago merah tersebar di segala penjuru rimba itu. Pepohonan yang semula berdiri rimbun kini tampak berguar-guar dengan jilatan api merah yang melahapnya. Udara dingin khas malam tergantikan dengan hawa panas bagai sengatan matahari yang terjatuh.

Di atas langit, tampaklah dua mahluk raksasa yang melayang-layang dengan sayap kebanggaanya masing-masing, saling beradu raungan memperlihatkan betapa perkasanya mereka, namun—

"Graaaaaawwll….."

BLARRR….

Tak disangka salah satu dari dua mahluk raksasa itu terjatuh menghantam bumi. Hembusan angin dengan tekanan tinggi menerbangkan segala benda di sekitar tempat jatuhan. Kawah dan retakan luas pun tercipta.

Belum selesai, mahluk yang masih terbang di udara melesat mengikuti medan gravitasi, hendak menyerang mahluk yang terjatuh tadi. Namun serangan itu dapat dengan mudah ditangkis oleh sang mahluk bersisik merah, kemudian ia melemparkan mahluk bersayap hitam pekat yang hampir menyerangnya hingga menabrak lereng bukit di samping hutan.

Seakan benturan dahsyat itu tak terasa, si hitam bangkit lagi dengan mempersembahkan raungan yang mengeluarkan tujuh elemen dari mulutnya, menyembur horizontal dan cepat ke arah si merah.

Gwuuuoooorrrr….

Terlalu cepat, sang naga merah tak dapat menghindar. Menyerang balik pun percuma, ia kehabisan energi—hanya dapat menahan serangan itu dengan tameng sayapnya yang sudah penuh luka robek.

Secuil harapan timbul dalam hati, bahwa ini bukanlah akhir.

'Maafkan aku, Lucy'

BLARRR….!

Bunyi ledakan besar kembali menggema.

Kepulan asap tebal menggumpal bagai bulu domba raksasa. Bergumul menutupi area yang semula adalah tempat si naga merah bertahan.

Kala kepulan asap perlahan pergi dan menipis. Terlihatlah sesosok tubuh pria tergeletak tak berdaya di tengah-tengah kawah, kondisinya mengenaskan penuh luka dan darah.

Sisik si naga hitam beringsut lenyap. Wujudnya perlahan berubah menjadi manusia—laki-laki dengan rambut perak gelap yang panjang sepinggang. Tak dapat di pungkiri, dirinya pun memiliki tubuh yang sama-sama memprihatinkan. Dengan luka dan darah yang mengucur dari perut. Ia menyeret kakinya menuju tempat manusia lainya yang terbaring.

Sret….sret…

"Perubahan yang belum sempurna tak akan bisa mengalahkanku" suaranya dingin serupa dengan sorot matanya. Setelah ia benar-benar dekat dengan lawanya.

"Tapi, kau berhasil membuatku kehilangan kekuatan"

Ia berjongkok dan merentangkan tangan kedepan. Telapak tanganya tepat berada di atas wajah si pria yang terbaring.

"Kau tak boleh mati. Masih ku butuhkan—" ia berkata seraya mengukir sebuah seringai.

"—E.N.D. Akan ku buat kau tidak mengingat apapun ketika bangun"

Pria itu kemudian menutup matanya dan merapal mantra—

"Path memory"

"Ughk…!"

End of Flashback~

Natsu membelalakan matanya. "Apa yang sudah aku lakukan?..." ia berhenti menekan kepalanya. Terkejut, cengkraman Gray pada jubahnya pun melonggar.

Natsu mengedarkan pandangan menatapi satu persatu dari wajah orang-orang yang berada di sekitarnya. Gray, Erza, Wendy. Betapa sial, selama ini ia telah di per-alat.

"Teman….. Teman…." Dia berucap lirih dan lamat-lamat.

Sontak semua terkejut mendengarnya.

"Kau ingat, Natsu?" Erza bertanya lebih dahulu dari yang lain, ia tampak berbinar menangkap secercah harapan dari nakamanya yang sempat tersesat di jalan ingatanya sendiri.

Merasa tidak percaya sekaligus kebingungan, Natsu pun bertanya memastikan "Teman-teman, kaliankah itu? Gray, Erza, Wendy?" dengan nada sedikit bergetar dan ragu.

"Syukurlah Natsu-san, jika sekarang kau ingat kami." Wendy tersenyum lega, sama halnya dengan Gray dan Erza.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Natsu?" Tanya Erza.

"Aku—"

"—APA YANG TERJADI DISANA, E.N.D?!" suara teriakan menginterupsi momen Tanya jawab mereka. Menghancurkan suasana haru yang hampir berlangsung.

"Cih, Aku lupa kalau dia masih ada." Gray berdecih pelan.

Erza geram, "Gajeel, Laxus, Elfman, Romeo!" menyaksikan beberapa bawahanya telah tumbang.

"Sialan!" Gray maju—berlari cepat dengan mode devil slayer yang aktif kembali.

Tatapan penuh amarah di lontarkan Wendy yang masih mendekap tubuh Nashi.

"Acno—!" tetapi belum selesai ia berucap, tiba-tiba sebuah tangan kecil menggenggam pegelanganya.

"Kak Wendy…."

"Nashi!" Wendy memekik. Tampaknya anak yang di dalam rengkuhanya telah siuman, 'Syukurlah dia selamat'.

Nashi tersenyum kecil meyakinkan "Aku akan ikut bertarung…" ucapnya secara tiba-tiba pula seraya bangkit berdiri.

Wendy tersentak, bukan karena perkataan mendadak si bocah melainkan apa yang ia lihat sekarang.

"Lukamu…?"

Ajaib!, luka robek bekas tusukan di perut Nashi menutup secara perlahan— dengan sendirinya, dan tidak meninggalkan bekas tak berarti.

'Tidak mungkin! Self regeneration? Sebuah ability langka yang membuat penggunanya dapat menyembuhkan luka sendiri?!' batin Wendy, nukan kepalang benar-benar terperangah tak percaya.

Nashi berdiri tegap di depan Wendy, menghadap ke arah Acnologia yang sedang bertarung dengan Gray dan yang lainya.

"Tak perlu khawatir, kak Wendy. Tak ada waktu, kita kalahkan musuh jahat itu—"

PUK…!

"!" kedua manik Nashi membulat. Pucuk kepalanya merasakan sebuah tepukan pelan dari sebuah tangan besar. Ia pun menoleh kesamping dengan gerakan ragu-ragu, lalu ia tak dapat menahan rasa kagetnya.

"Jadi, nak. Siapa namamu?" dan senyuman lebar itu…. di tujukan tepat pada Nashi.

Sang gadis kecil, penyandang gelar 'Pembantai naga' tak mampu menahan perasaan aneh dalam dadanya. Hangat, cerah, sejuk, bagai embun pagi yang membasahi relung hati, mengisi ruang yang selama ini kosong melompong. Sebulir cairan bening pun menyembul dari sudut matanya, jatuh menetes tanpa ia harus berkedip. Lantunan harapan dan do'a entah dari mana rimbanya berputar-putar dalam benak. 'Kami-sama, jika semua yang terjadi ini adalah mimpi, jangan biarkan aku terbangun'.

Kesadaran kembali, menyeka air mata dan mematri senyum yang serupa. Nashi menunjuk dadanya dengan ibu jari, menatap lurus ke depan dengan penuh semangat dan percaya diri.

"Nashi, Aku Nashi Dragneel. Penyihir Fairy Tail, dan seorang Dragon Slayer" ucapan tegas yang penuh keyakinan.

"Hahaha… kau pasti benar-benar anakku. Moette kita zo!"

Reuni antara anak dan ayah yang tak terduga. Dua generasi pemberani dan tangguh telah kembali untuk menumpas kegelapan. Akankah kekuatan ikatan dapat berhasil menang?

-To Be Continued-

What is this?!

Absurd? Yes!, Pendek? Yes!, Gaje? Yes!, apalagi coba?

Tapi author mau menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas dukungan reader semua, terlebih review/fav/follow dari kalian benar-benar memberikan secercah cahaya ke dalam kepala author yang gelap ini. (?)

T-T hiks… sudahlah, author kehabisan kata-kata.

Mohon reviewnya reader-sama sekalian~