Love or Sex

Cast :

Oh Sehun

Lu Han

dll

Rated : M

Genre : Mature content, Sex scene, Romance, Senetron

Warning : typo eperiwer dan cerita abal2an

DON'T LIKE DON'T READ

DON'T BE SILENT READER

~keiLu present~

"A-apa? Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau pergi ke Jepang" Sehun menggeleng-nggelengkan kepalanya berantakan. Dia sungguh tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Pergi ke Jepang? Dan apakah itu artinya dia harus pergi meninggalkan Luhan.

"Ini perintah Sehun bukan penawaran. Keputusan appa sudah bulat" Seho mengurut pelipisnya sebentar "Minggu depan mau atau tidak kau akan ikut appa ke Jepang"

"Baba hiks jangan seperti ini. Biar.. biar Luhan yang pergi. Jangan Sehun. Luhan mohon" wajah Luhan sudah memerah dan bersimbah air mata sanking lamanya dia menangis. Hidung mungilnya pun juga memerah. Mata yang selalu berbinar-binar kini tampak bengkak karena air mata yang terus saja mengalir di pipi gembulnya.

"Sudah berapa lama kalian melakukan ini?" Tanya Seho tegas.

"Dua tahun" jawab Sehun tidak kalah tegasnya.

"Dua tahun? Kau bilang dua tahun dengan begitu santainya setelah kau berani bercinta dengan kakakmu sendiri. Apa kau bodoh! Lalu.. Bagaimana bisa Luhan tidak hamil dalam waktu yang selama itu!"

"A-aku meminum pil baba" kini Luhan yang menjawab walaupun dengan bibir bergetar menahan isakan.

"Apa Sehun yang memaksamu?"

"Bu-bukan baba"

Yemi terus saja diam sambil sesekali mengelus punggung sang suami. Yemi tahu bagaimana perasaan Seho saat ini. Bagaimana perasaanmu saat anak-anakmu melakukan tindakan menyimpang. Tentu saja Seho sangat terpukul. Dia pasti merasa bersalah. Yemi sendiri juga sangat kaget saat membuka pintu kamar Luhan dan melihat Luhan berada dalam pangkuan Sehun dan sama-sama telanjang. Ingin rasanya Yemi berteriak marah meluapkan kekecewaannya. Walaupun Luhan bukan anak kandungnya tapi Yemi menyayangi Luhan seperti dia menyayangi Sehun. Dan melihat anak-anakmu bergumul diatas ranjang yang sama itu benar-benar menjadi pukulan untuknya.

"Appa tidak bisa memisahkanku dengan Luhan! Aku mencintainya! Bagaimanapun caranya aku tidak akan pernah pergi" Sehun berteriak kesal dihadapan appa nya dengan wajah memerah murka. Dia tidak bisa menyerah. Dia tidak boleh pergi. Dia tidak bisa jauh dari orang yang dicintainya.

"A-apa?" Mata Seho melotot kaget "Appa tidak tahu kalau hubungan kalian akan sejauh ini. Seharusnya sejak dari awal appa tidak mengijinkan kalian tinggal berdua jika akhirnya akan seperti ini"

"Ma-maafkan kami baba" Luhan lagi-lagi bersimpuh dikaki Seho memohon pengampunan. Jika sejak awal dia tidak tergoda dengan pesona adiknya semua ini tidak akan terjadi. Disini Luhan adalah kakaknya jadi yang harusnya disalahkan itu dia bukan Sehun.

"Aku tidak akan pergi"

Brak

Setelah mengatakan itu Sehun langsung pergi menuju kamarnya di lantai atas. Dengan amarah yang masih menguasai dia melampiaskan kemarahannya pada pintu kamar yang tidak bersalah. Sehun tidak habis pikir dengan appanya. Bagaimana dia bisa setega ini dengannya. Memang dulunya Sehun itu laki-laki brengsek tapi Luhan telah merubah semua tingkah lakunya menjadi lebih baik. Seharusnya appanya lega bukan malah memisahkannya dengan Luhan dengan cara yang seperti ini. Sehun menyembunyikan tubuhnya dalam selimut hangatnya dan tidak terasa aliran asin itu jatuh dari mata tajamnya yang tertutup diikuti aliran-aliran lainnya yang memaksa untuk keluar hingga terdengar isakan-isakan tertahan dari balik selimut itu.

.

.

.

.

.

"Lu makanlah dulu. Tadi eomma menyiapkan makanan kesukaanmu" Yemi masuk kedalam kamar Luhan dan menemukan anak tirinya menatap kosong keluar jendela. Persis seperti saat mamanya dulu pergi seperti yang Seho dulu ceritakan padanya. Setiap hari dia akan menatap keluar jendela sampai malam datang dan tidur saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lalu keesokannya dia akan terbangun dan akan menatap keluar jendela lagi.

Yemi yang melihatnya tentu saja tidak tega. Luhan yang dikenalnya adalah Luhan yang periang dan polos bukan Luhan yang muram seperti tak mempunyai kehidupan. "Lu makan dulu ya. Mau eomma suapi?" lagi-lagi Yemi membujuk Luhan untuk menelan beberapa sendok makanan yang dia masakan. Setelah hari itu Luhan jarang sekali makan dan tidak pernah bicara sekalipun. Sedang Sehun dia akan pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Tapi setidaknya keduanya masih mau bersekolah walaupun Luhan masih saja terus diam menimbulkan berbagai pertanyaan dari teman-temannya.

"Baiklah jika kau masih belum lapar. Eomma sudah menaruh obatmu dinakas. Eomma keluar dulu"

Cup

Setelah memberi kecupan sayang Yemi pergi dari kamar Luhan dengan tatapan miris.

.

.

.

.

.

Ku tunggu kau di cafe biasanya setelah pulang sekolah. Aku akan menunggumu sampai kau datang. Kita akan pergi melarikan diri hari ini sebelum kepergianku besok. Aku mohon datanglah. Aku tidak ingin berakhir seperti ini. Aku mencintaimu.

Oh Sehun

Luhan menatap nanar kertas yang dipegangnya saat ini. Luhan baru saja datang dan menemukan secarik kertas di atas bangkunya. Dengan wajah penasaran Luhan membukanya dan menemukan ajakan melarikan diri dari Sehun. Luhan akui dia juga mencintai Sehun. Luhan juga tidak ingin berpisah dengan Sehun. Tapi apakah rencana ini akan baik? Bagaimana dengan baba dan eommanya? Mereka pasti bertambah kecewa. Luhan menyayangi mereka tapi Luhan juga tidak ingin berpisah dengan Sehun.

Selama pelajaran berlangsung pikiran Luhan terus saja tertuju pada surat yang ditulis Sehun untuknya. Jika mereka pergi kemana tujuan mereka selanjutnya? Bagaimana sekolah mereka? Luhan tahu jika Sehun itu cerdas tapi apa yang bisa dilakukan oleh anak sekolah menengah keatas seperti mereka.

Haruskah Luhan menerima ajakan Sehun?

Bagaimanapun akhirnya semua akan berjalan baik jika dilalui bersama-sama bukan. Biarkan kali ini Luhan menentang baba dan eommanya. Luhan ingin memilih jalan hidupnya sendiri.

Tapi...

.

.

.

.

.

Sehun terus saja melihat jam yang tertera di layar ponselnya. Bahkan setiap lima menit sekali dia mengalihkan tatapannya yang sedari tadi fokus pada pintu cafe pada ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan dari Luhan atau tidak. Saat bel pulang sekolah berbunyi dia langsung bergegas keluar dari kelas setelah memasukkan peralatan belajarnya dan melajukan motornya kesini. Tapi sudah 3 jam berlalu Luhan belum juga datang. Berbagai macam pikiran buruk terus memenuhi isi kepala Sehun.

Ini sudah kopi ke tujuhnya sejak dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe. Keadaan diluar sudah gelap karena memang sudah waktunya matahari diganti bulan ubtuk menghiasi langit. Dan itu juga berarti sudah tujuh jam Sehun menunggu Luhan disini. Bukankah disuratnya tadi Sehun berjanji akan menunggu Luhan sampai datang lalu mereka akan melarikan diri bersama-sama. Jadi selelah apapun Sehun menunggu dia tidak akan mengingkari perkataannya dan memilih pulang.

Sehun masih berharap banyak pada Luhan. Sejak tinggal bersamanya Luhan selalu menuruti kemauannya. Dan Sehun berharap kali ini Luhan mau menuruti kemauannya juga. Luhan juga pernah berjanji akan selalu membuat Sehun bahagia. Tapi kenapa sampai sekarang Luhan belum terlihat juga. Bahkan jarak dari sekolahnya menuju cafe ini hanya memakan waktu 30menit jika berjalan kaki. Tidak mungkin Luhan tersesat. Sudah ratusan kali mereka datang kesini untuk menghabiskan waktu luang.

"Maaf tuan kami akan segera menutup cafe" seorang pegawai cafe berseragam putih coklat mendatangi Sehun dengan sopan.

Hahh

Sehun menghembuskan napasnya lelah. Mungki ini adalah akhir kisah cintanya bersama Luhan. Mungkin tuhan juga tidak mengijinkannya untuk bersama Luhan. Dan dengan terpaksa besok tepatnya jam 9 pagi Sehun akan terbang ke Jepang sesuai keinginan appanya. Mungkin kali ini adalah kesempatan terakhirnya datang ke cafe ini. Entah kapan dia akan pulang dia pun tidak tahu. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah hanya mengikuti keinginan appanya.

Sehun mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Jalanan cukup lenggang tapi Sehun ingin berlama-lama menikmati angin malam Seoul yang pasti akan dirindukannya. Ditatapnya jutaan bintang dilangit yang seakan mengejek nasib buruknya. Sehun berharap kali ini hujan akan turun menemani kegundahannya seperti di drama yang sering Luhan tonton setiap sore hari.

Bahkan sebelumnya Sehun ingin mampir ke bar langganannya untuk sekedar meminum seteguk alkohol untuk menghilangkan ke gundahan di hatinya. Tapi dia sudah berjanji pada Luhan untuk tidak pergi kesana lagi. Disaat-saat seperti ini pun Sehun masih mengingat Luhan. Mungkin sejarang Luhan sudah tidur diranjang bersprei hello kitty miliknya. Dan juga seharusnya sekarang Sehun sudah pulang dan beristirahat karna esok dia akan terbang ke Jepang dan memulai harinya tanpa sosok Luhan disampingnya.

.

.

.

.

.

"Ayo Sehun-ah. Appa sudah menunggu kita dibawah. Kau tidak ingin ketinggalan pesawat bukan" Yemi masuk ke kamar anak laki-lakinya yang sudah berpakaian rapi tapi dari wajahnya seolah enggan untuk pergi.

"Hmm"

Sehun menyeret dua kopernya menuju lantai bawah dimana appanya sudah menunggu. Sehun benar-benar tidak menginginkan ini sebenarnya. Diliatnya appa dan eommanya tengah duduk di dalam mobil sembari menunggunya yang kesusahan menyeret dua koper tanpa ada yang berniat membantunya. Oh dan lihatlah eommanya malah terkekeh melihat tingkahnya.

Seho menoleh kebelakang untuk memastikan keadaan Sehun yang baru saja masuk kedalam mobil dengan wajah cemberut "Sudah kan?" Tanyanya sambil memperhatikan barang-barang Sehun.

"Mana Luhan?" Tanya Sehun kepada appa dan eommanya.

Kini gantian Yemi yang menoleh kebelakang menatap Sehun "Kemarin sepulang sekolah Luhan minta ijin pada eomma untuk pergi menjenguk temannya di Busan" Yemi tersenyum manis diakhir katanya. Setelah itu dia kembali menoleh kedepan karna Seho sudah mulai menyalakan mesin mobilnya dan pertanda mereka akan segera berangkat.

Walaupun penerbangan Sehun jam 9 pagi dan sekarang masih pukul 8 pagi setidaknya mereka harus bersiap-siap jika tidak ingin ketinggalan pesawat bukan. Rencananya Seho akan mengantarkan Sehun sampai ke Jepang tapi karena dia sangat sibuk akhir-akhir dengan proyek barunya dia hanya bisa mengantar putranya itu sampai di bandara.

Sehun menghembuskan nafasnya dan mengalihkan pandangan keluar jendela melihat mobil-mobil yang melaju "Jadi dia tidak mengantarku ya" sebenarnya suara Sehun cukup lirih tapi karena keadaan mobil yang sangat hening membuat Yemi dan Seho dapat mendengarnya dengan jelas dan ikut menghembuskan nafas.

Selama perjalanan hanya sepi yang memenuhi mobil berwarna silver tujuan Incheon Airport itu. Tidak ada yang mau membuka percakapan sejak mereka meninggalkan rumah. Mereka seolah menikmati setiap keheningan yang tercipta dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Termasuk Sehun yang tengah memendam rasa kecewanya kepada Luhan. Sehun tidak menyangka bahwa Luhan tidak ingin mengantarnya untuk melihatnya yang terakhir kali. Setidaknya mereka dapat berbagi pelukan sebelum Sehun pergi ke Jepang entah untuk berapa lama. Bahkan sejak semalam Sehun sudah mengirimi Luhan pesan tapi tak ada satupun yang dibalas. Sehun semakin yakin jika Luhan memang menginginkan perpisahan ini.

"Ayo Sehun-ah" Sehun mendongakkan kepalanya pada Seho yang sudah keluar dari mobil dan tengah menurunkan koper-koper milik Sehun dari bagasi. Tanpa membalasnya Sehun pun ikut keluar dan berdiri di samping Yemi setelah membawa salah satu kopernya. Setidaknya kali ini appanya mau membantunya membawa koper miliknya.

"Jaga dirimu disana. Jangan pernah pergi ke bar. Sekolah yang baik dan menjadi lulusan terbaik dan buatlah eomma dan appamu bangga. Eomma sudah mengabari bibi Zu untuk menjemputmu. Jaga selalu kesehatanmu. Eomma pasti akan merindukanmu" Yemi menasihati Sehun sebelum sang anak memasuki pesawat dengan mata berkaca-kaca. Ini adalah kali pertama Yemi untuk melepas anaknya ke negri orang. Dia sebenarnya tidak rela tapi ini adalah jalan terbaik untuk anaknya.

"Ingat pesan eommamu. Appa akan mengunjungimu bulan depan. Appa tidak ingin mendengar kau membuat masalah disana. Kau paham?" Seho ikut memberi nasihat pada anak laki-laki satunya tapi tentu saja dia tidak menangis seperti sang istri. Sehun hanya mengangguk dan memeluk eomma dan appanya bergantian setelah itu dia berbalik dan berjalan menjauh.

.

.

.

.

.

Slurp~

Ahh

Luhan yang baru saja dari dapur keluar sambil membawa segelas jus melon buatan Xiumin di tangan kirinya sedang tangan kanannya tengah sibuk memegang remot untuk menyalakan benda persegi di depannya. Siang ini entah mengapa sangat panas jadi Xiumin memutuskan untuk membuat jus segar dan Luhan memutuskan menjadi penikmat pertama jus itu. Dasar pemalas. Sejak kemarin kedatangannya Luhan hanya bermalas-malasan saja sepanjang waktu.

'Berita terkini. Dikabarkan bahwa pesawat dengan penerbangan menuju Jepang mengalami hilang kontak dan diduga jatuh di perairan. Sejauh ini pihak-pihak terkait tengah mencari keberadaan pesawat beserta penumpangnya yang dipastikan tengah terbawa ombak lautan yang besar dan-

Pyarr

"Lu astaga kau ini apa-apain sih kan aku sudah bi- yatuhan Lu kau kenapa" Xiumin datang dari dapur dengan wajah bersungut kesal namun berganti cemas setelah melihat raut wajah Luhan yang sekarang.

"Ti-tidak. Itu pasti bukan pesawat Sehun. Tidak mungkin. Tidak. Tidak. Se-sehun pasti sekarang ada dirumah"

"Lu..

"Ah Se-sehun pasti.. pasti masih menungguku di cafe. Sehun.. sehun pasti belum pergi.. Sehun hiks" Tangis Luhan pun pecah setelahnya.

TBC

Review please

keiLu notes :

Booya~~

Hehe maap telat apdet karna author males bgt bawaannya buat ngetik.

Chapter ini ngebosenin bgt menurut author.

Oh ya bentar lagi end jd sesuai janji author ini bakal happyend kok tenang aja.

Kemaren ada yg request buat bikin sehun mati nih udah author kabulin.

Oh ya kemaren ada salah satu riview yg bilang kalo pnh baca ff ini sebelumnya. Kasih link nya coba biar author baca dimana letak kesamaannya karna ff ini itu hasil imajinasi otak mesum author sendiri.

Author bakal kasih kalian 2 kejutan pas ending entar yg gk bakal kalian duga tentang hunhan. Yg pasti bkn adegan hunhan nikah atau enaena.

And last makasih buat yg udah review, favorite, dan follow.

Salam 520