Diaclamer : Naruto selalu punya om Masashi Kishimoto. Nggak berani ngaku-ngaku karena takut disantet *plaakk!*
Title : New Life
Pairing : Naruhina and others
Warning : Au, Gaje, Alur kecepetan, Typo yang berserakan, bahasa campur aduk kayak rujak dan masih banyak kekurangan di fanfic ini.
Yuhu ! Para readers sekalian...saya kembali dengan chapter 7! Makasih buat para readers yang udah mau ngebaca fanfic ini di chap 6 dan juga yang udah mau meluangkan sedikit waktunya buat ngereview. Setelah membaca review dari salah satu readers saya jadi kepikiran buat bikin scene NaruHinaGaara yang lebih lagi. Mungkin di chapter ini atau depan saya akan buat Naruto merasa cemburu, lalu marahan atau gimana sama Hinata. Pasti penasaran kan? Kalo penasaran tetep ikutin terus fanfic ini.
Kalo gitu langsung aja deh biar nggak kelamaan. Read Enjoy!
.
.
###########
"Dimana Hinata?" tanyanya to the point dengan suara mengintimidasi.
Mata jadenya menyisiri setiap sudut dan berhenti ketika maniknya berhasil menemukan sosok yang ia cari. Hinata, orang yang ia cari berdiri dengan raut ketakutan yang terlihat sangat jelas. Gadis itu bersembunyi di balik tubuh Temari yang lebih tinggi darinya.
Gaara tersenyum mengerikan. Lalu berjalan mendekati gadis itu.
'Astaga...bagaimana ini? Ke-kenapa Gaara-senpai nekat masuk ke kelasku sih? Kami-sama...tolonglah aku...'
.
.
###########
CHAPTER 7
Hinata berdiri mematung ketika Gaara menatapnya tajam. Pemuda itu menghampirinya bersama lebih dari sepuluh orang. Manik pemuda itu berkilat seperti seekor elang yang sudah menemukan mangsanya.
Hinata masih berdiri di belakang Temari. Tahu bahwa gadis berambut indigo itu merasa ketakutan, Temari, Sakura dan Ino lantas berdiri di depannya, mencoba melindungi gadis itu.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Temari sambil membentak. Orang-orang di dalam kelas hanya menyaksikan.
Gaara berhenti tepat di depan Temari, menatap datar Temari. "Aku tak ada urusan denganmu. Jadi minggirlah " perintah Gaara dingin.
"Urusan? Kau pikir aku percaya. Sekarang lebih baik kau kembali ke kelasmu dan jangan pernah mengganggu sahabatku.!?" bentak Sakura.
Gaara tak merespon perkataan Sakura. Maniknya menatap Hinata yang sedang berlindung di belakang Temari.
"Hyuuga Hinata. Jika kau ingin masalah kita cepat selesai, cepatlah berdiri di depanku. Atau aku akan menyingkirkan tiga gadis ini." ancam Gaara.
Temari geram. Ia merasa ingin sekali memukul kepala merah Gaara. Tapi suara Hinata menginterupsi.
"Ba-baiklah. Ta-tapi Gaara-senpai tidak boleh menyakiti teman-temanku."
"Hn" jawab Gaara.
Hinata kemudian meminta Temari, Ino dan Sakura untuk menyingkir. Ia tak ingin melibatkan teman-temannya karena ini adalah masalah pribadinya. Teman-temannya menolak dan tetap bersikukuh ingin melindungi Hinata. Sebagai sahabat, mana nungkin Temari, Ino dan Sakura membiarkan Hinata berurusan dengan Gaara. Tapi anak buah Gaara langsung membekap tiga Gadis itu.
"Lepas! Hey!" perintah Sakura yang dibekap oleh Kankuro.
"Dasar tidak jantan! Beraninya hanya dengan gadis!" tambah Ino.
"Mau kau apakan Hinata?!"tanya Temari sambil terus meronta.
"Ck. Kalian ini benar-benar membuat kesal saja. Jangan ikut campur." kata Kankuro.
"Te-teman-teman! Se-senpai...to-tolong lepaskan teman-temanku.." mohon Hinata.
"Apa gadis yang sudah melukaiku ini sedang memohon?" sindir Gaara.
"Ku-kumohon...me-mereka tak ada masalah dengan senpai. Jadi tolong lepaskan mereka."
"Aku akan melepaskan mereka setelah urusan kita selesai"
Hinata meneguk ludahnya sendiri. Jadi apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Apa ia harus minta maaf soal kejadian 'itu'?
"Ba-baiklah. Ak-aku mi-minta maaf...so-soal kejadian itu senpai. Ak-aku melakukannya dengan reflek. Maafkan aku..." kata Hinata sambil menundukkan kepalanya.
Gaara mendecih. "Kau pikir dengan minta maaf saja itu sudah cukup? Aku bisa saja menyakiti teman-temanmu itu." liriknya pada tiga gadis yang sedang ditahan oleh anak-anak gengnya.
"La-lalu...ap-apa yang harus aku lakukan agar Gaara-senpai m-mau memaafkanku dan melepaskan teman-temanku?"
Gaara makin mendekati Hinata dan gadis itu mundur ke belakang. Tatpan Gaara terlihat lebih tenang.
"Kalau begitu...jadilah pacarku" ucapnya tegas.
DEG!
Hinata mematung di tempatnya. Ap-apa? Me-menjadi pacarnya? Menjadi pacar senpainya ini? Apa ada yang sedang bercanda sekarang? Kalau memang ini hanya lelucon Hinata ingin tertawa sekarang. Tapi mata jade Gaara yang menatapnya saat ini menunjukkan keseriusan dan ketegasan.
Orang-orang di dalam ruangan itu, kecuali anggota geng Shukaku tampak terkejut luar biasa. Apa Senpai yang terkenal kejam dan sadis ini sedang meminta seorang gadis menjadi pacarnya? Tidak. Lebih tepatnya...memerintah gadis itu untuk menjadi pacarnya.
Sakura yang tak terima dengan perintah Gaara lantas meronta makin hebat. "Apa kau bilang?! Menjadi pacarmu?! Kau pikir kau siapa berani memerintah Hinata seperti itu!"
Kankuro langsung membekap mulut Sakura. "Diamlah! Kau ini minta ku pukul ya?!"
"Pukullah kami sepuasmu jika itu bisa membuat ketuq geng kalian yang menyebalkan itu menarik ucapannya!" balas Temari sambil menatap nyalang Kankuro.
"Berisik!"
"Hinata! Jangan dengarkan dia!"teriak Ino.
Hinata masih diam. Terlalu bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa dia turuti saja kemauan Gaara agar pemuda itu tak mengganggu teman-temannya? Tapi..ia sama sekali tak memiliki perasaan khusus pada senpainya itu.
"A-aku..."
"Aku benci menunggu."
Hinata bimbang. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Jika saja Hinata kuat. Dia bisa saja menghajar Gaara dan teman-temannya lalu mengusir mereka keluar.
Gaara tampak berjalan semakin dekat dan Hinata mundur ke belakang hingga akhirnya ia terpojok di belakang kelas. Gaara mengunci pergerakan Hinata dwnfan menwmpelkan kwdua tangannya ke tembok, sementara manik jadenanya menatap serius lavender Hinata.
"Bagaimana 'sayang?' kau tak punya pilihan lain bukan selain menjadi pacarku?"
Hinata meneguk ludahnya sekali lagi. Senpainya ini gila! Kenapa dia ingin sekali menjadikan dirinya pacarnya?! Sekarang apa yang harus ia lakukan?
"Hinata! Jangan menuruti perinta~upphh!" Ino langsung di bekap.
"Diam kau pirang! Atau aku akan memukulmu!"
Hinata menatap teman-temannya yang tak berdaya. Lalu menatap teman-temannya yang lain, memohon pertolongan. Tapi mereka terlalu takut dan tak mau berurusan dengan Gaara.
"Ku-kumohon G-Gaara-senpai. Le-lepaskan Sakura-chan dan lainnya."
"Kalau begitu jadilah pacarku." perintah Gaara dengan senyum penuh kemenangan.
Hinata tambah bingung. Jika sampai tak menuruti senpainya ini. Ia dan teman-temannya pasti akan dimusuhinya. Tapi jika Hinata menuruti Gaara dan menjadi kekasihnya, sama saja Hinata membohongi dirinya. Tiba-tiba...wajah Naruto terlintas di pikirannya. Semua hal tentang Naruto teebayang di kepalanya. Naruto yang selalu menolongnya, Naruto yang selalu baik padanya, dan Naruto yang selalu perhatian padanya. Tidak ! Ia tak bisa melakukannya! Ia terlanjur...menyukai Naruto...
"Ti-tidak. A-aku tak bisa melakukannya." kata Hinata dengan air mata yang mulai turun ke pipinya.
Gaara meraih wajah Hinata "Kenapa? Kenapa tidak bisa?!" tanyanya dengan penuh amarah.
Dengan ketakutan Hinata mencoba menjawabnya. "Ka-karena...a-aku...-"
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba...
BUAKH!
Tubuh Gaara jatuh ke samping. Ia merasa seseorang telah menendangnya. Hinata menatap Gaara yang tiba-tiba jatuh dengan mulut sedikit terbuka. Lalu menatap orang yang telah membuat pemuda bertato AI itu jatuh.
"NARUTO!" pekik tiga dara yang sedang di bekap.
Dan wajah Hinata langsung berubah terkejut ketika melihat orang yang sudah beberapa hari inj ia rindukan, Naruto sudah berdiri tepat di depannya. Dengan sikap yang sangat cool dan dia datang di saat yang tepat. Naruto...dia menyelamatkan Hinata lagi. Pemuda itu menatap Hinata sebentar lalu menarik Hinata ke belakang tubuhnya.
Set!
Hinata sudah berdiri di belakang tubuh Naruto. Pemuda berambut kuning itu berusaha melindungi Hinata dari Gaara. Tangan besar Naruto tampak menggenggam sebelah tangan Hinata, menyalurkan perasaan yang ingin melindunginya. Hinata jadi merasa tenang dan aman sekarang karena keberadaan Naruto.
"Na-Naruto..."
Tak lama suara pukulan lain terdengar.
BUK ! BUAK! DUK!
Sasuke, Shikamaru dan Sai memukul orang-orang yang membekap Sakura, Temari dan Ino. Sementar a kiba mebereskan yang lain. Kiba maju di hadapan orang-orang itu.
"Sakura berdiri di belakangku." titah Sasuke.
Sakura langsung berdiri di belakang Sasuke.
"Ino. Mundurlah." titah sai dan Ino langsung mundur ke belakang pemuda itu.
"Temari. Jangan jauh-jauh dariku." titah Shikamaru. Dan Temari mengikuti perintah Shikamaru dan berdiri di belakang pemuda berambut nanas itu.
Hinata tampak lega karena teman-teman Naruto sudah berhasil menyelamatkan teman-temannya.
"Teman-teman..." pekik Hinata.
"Tenanglah Hinata. Teman-temanmu aman jika bersama teman-temanku. " ucap pemuda itu.
Hinata menghela nafas lega. Ia harus berterimakasih pada teman-teman Naruto yang telah menyelamatkan sahabatnya. Juga pada pemuda berambut kuning ini yang kembali menyelamatkannya.
Gaara bangkit dari posisinya yang terjatuh. Ia menatap nyalang pada Naruto yang sudah merusak kesenangannya.
"Sialan kau Uzumaki. Hendak menjadi pahlawan kesiangan? Huh?" ejeknya.
Naruto tampak kesal. "Kaulah yang sialan! Apa maksudmu dengan membekap teman-temanku dan memojokkan Hinata? Apa tak cukup kau memukuliku ?"
"Masalah ini berbeda 'Kyuubi'."
Naruto tampak marah. Genggaman tangannya pada Hinata tampak mengencang. Hinata yang merasakan atmosfer di sekitarnya berubah tegang tak bisa berkata apa-apa. Karena di sini dialah yang menjadi penyebab perubahan atmosfer di sekitarnya.
"Apa maksud ucapanmu itu?!"
"Bukan apa-apa. Aku hanya memintanya menjadi pacarku." jawab Gaara santai.
Naruto makin mengeratkan genggamannya. "Kau pikir Hinata mau menjadi kekasihmu?"
"Mengapa tidak?" jawab Gaara.
Pemuda berambut merah itu maju ke hadapan Naruto. Dan Hinata makin mendekatkan dirinya pada punggung hangat Naruto.
"Sekarang menyingkir dari calon kekasihku, 'Kyuubi'." perintah Gaara dengan suara mengintimidasi.
"Kau pikir siapa kau berani mengakui Hinata sebagai calon kekasihmu. Kau harus melewatiku dulu panda merah." balas Naruto dengan suara yang tak kalah mengintimidasi. Hinata yang mendengarkan percakapan keduanya hanya bisa bergidik ngeri. Bagaimana bisa ada orang dengan aura mengintimidasi yang sangat kental seperti mereka?
"N-Na-Naruto..." gumam Hinata dengan suara bergetar. Dia tampak ketakutan.
Naruto menoleh sebentar pada Hinata di belakang bahunya. "Tenanglah Hinata. Aku tak akan membiarkan orang ini bertindak seenaknya padamu."
Gaara mendecih. Karena tak tahan ia melancarkan pukulannya ke wajah Naruto. Tapi Naruto berhasil menangkap kepalan tangan Gaara dengan satu tangannya. Sementara tangan satunya masih menggenggam tangan mungil Hinata. Manik keduanya saling melempar deathglare. Mencoba membuat takut lawan di hadapan masing-masing.
Tak lama bel masuk berbunyi, menginterupsi semua orang. Gaara lantas berhenti. Ia tampak kesal. Naruto membuang kepalan tangan Gaara.
"Lebih baik kau segera kembali Gaara. Ini bukan kelasmu. Dan ini sekolahan. Jadi kau tak bisa berbuat seenaknya." titah Naruto.
Gaara berdecih. "Aku akan kembali lagi." dan setelah mengatakan hal itu Gaara beserta rombongannya pergi meningalkan kelas Naruto.
Setelah Gaara menghilang Naruto menarik Hinata ke hadapannya. Menatap manik lavender Hinata dengan manik shappirenya.
"Kau tak apa-apa kan Hinata?" tanya Naruto.
Hinata mengangguk. "I-iya. U-untung saja t-tadi Naruto dan teman-teman datang. Terimakasih."
"Hn. Itu tak masalah. Yang jelas kau harus menceritakan semuanya nanti." titahnya.
Hinata tak bisa berkata apa-apa ketika shappire itu menatapnya serius. Ia hanya bisa menganggukkan kepala, mengiyakkan sebelum akhirnya mereka duduk di bangku masing-masing karena guru yang mengajar sudah masuk.
.
.
###########
"Ini tak bisa di biarkan! Aku harus melaporkan tindakannya yang sewenang-wenang itu pada Baa-chan!" geram Naruto sambil menggebrak meja kantin setelah mendengar penjelasan langsung dari Hinata.
Saat ini Naruto, Hinata dan tujuh orang lainnya sedang duduk di kantin. Saat bel istirahat berbunyi Naruto langsung menarik Hinata ke kantin. Tentu saja Sakura dan lainnya ikut. Dan tanpa di duga teman-teman Naruto juga ikut. Hinata sedang menceritakan perihal tadi pagi, saat Gaara masuk ke kelas 2-B dan menyuruhnya menjadi kekasih Gaara.
Naruto tampak marah mendengarnya. Ia ingin sekali menghajar wajah sok cool milik Gaara. Beraninya dia memaksa Hinata menjadi kekasihnya?!
"Tenanglah Dobe. Kita tak bisa bertindak langsung seperti itu." Kata Sasuke berusaha meredam emosi Naruto.
"Kau tahu kan? Ayah Gaara adalah donatur besar untuk KSHS. Jadi walaupun kau melaporkan hal ini pada kepala sekolah , nenekmu. Tetap saja percuma. Ia pasti akan tetap membiarkan Gaara." terang Shikamaru.
"Tapi kalau begini terus. Kita tak akan bisa tenang. Dia selalu bersikap sok berkuasa dan seenaknya. Dia juga selalu mencari masalah dengan kita!" kukuh Naruto.
"Yang dikatakan Naruto benar. Bahkan sekarang dia juga melibatkan Sakura, Ino, Temari dan Hinata." komentar Kiba.
Ino mengangguk. "Benar. Ku akui Gaara-senpai itu memang tampan. Tapi setidaknya jangan memperlakukan perempuan seenaknya! Memaksa menjadi pacarnya?! Yang benar saja! Aku sebagai perempuan tak terima dengan sikapnya!"
"Terutama Hinata. Dia sudah menjadi korbannya. Dan sepertinya Gaara memang tertarik dengan Hinata. Dan dia bisa saja menjadikan Hinata mainannya." tambah Sakura.
Naruto berusaha menahan amarahnya. Jadi Gaara tertarik dengan Hinata? Dan mungkin akan menjadikan Hinata mainannya?
"Aku tak akan membiarkan orang sebrengsek dia mempermainkan Hinata. Jika perlu aku akan menguburnya hidup-hidup jika dia berani melakukannya." kata Naruto dengan serius.
Sontak wajah Hinata memerah. Ternyata Naruto tak terima jika dirinya menjadi pacar Gaara. Jadi apa Hinata boleh bermimpi bahwa Naruto mulai menyukainya?
Sai yang duduk di dekat Hinata membisikkan sesuatu pada gadis itu.
"Naruto selalu melakukan hal yang ia ucapkan lho Hinata..." katanya menggoda.
Pipi Hinata makin memerah mendengar penuturan Sai. Kalau begini Naruto akan jadi overprotective pada Hinata.
"Yang jelas kita harus menjauhkan Gaara dari Hinata-chan!"Terang Temari.
"Te-teman-teman. Ka-kalian jadi bersikap overprotective padaku." kata Hinata.
"Bagaimana tidak Hinata? Kau sedang di incar oleh Gaara! Mana mungkin kami membiarkannya saja!" terang Kiba.
"Sebagai temanmu. Kami tak akan membiarkannya." jelas Sakura.
"Kami akan selalu ada untukmu Hinata." kata Ino.
Hinata hanya bisa mengangguk. Tapi ia senang karena teman-temannya begitu perhatian padanya. Ia tersenyum. "Terimakasih teman-teman."
Naruto dan lainnya tersenyum. "Ya. Jangan sungkan pada kami Hinata."
Kemudian mereka meneruskan saling bercerita. Hinara senang bisa berteman dengan mereka semua. Dan juga teman-temannya ini sangat peduli padanya. Memang asik jika mempunyai banyak teman.
Tiba-tiba Sakura ingat sesuatu.
"Oh iya Naruto. Setelah ini kan pelajaran Anko-sensei. Bagaimana dengan nyanyi duetmu dengan Hinata-chan?" tanya Sakura sambil meminum apel juicenya.
Naruto menggaruk kepalanya. "Aku dan Hinata belum latihan sama sekali."
"Bagaimana bisa?! Kalau begitu kalian bisa di hukum!" Cerca Kiba.
"Ini salahku. Sebenarnya kemarin minggu aku ingin mengajak Hinata latihan. Tapi tiba-tiba ayahku menyuruhku membantu pekerjaannya. Maaf Hinata. Karena aku kau akan di hukum juga." terang Naruto dengan nada menyesal.
Hinata jadi tak enak hati karena Naruto menyalahkan dirinya sendiri. " Jangan menyalahkan diri sendiri Naruto. Lagi pula jika di hukum, kita di hukum bersama bukan?"
Naruto menatap Hinata yang saat ini tengah tersenyum padanya. Perasaan Naruto menghangat. Hinata memang baik.
Tak lama bel masuk kembali berbunyi. Mereka bersembilan masuk ke kelas dengan mempersiapkan diri untuk tugas yang diberikan Anko-sensei. Sang guru killer itu.
.
.
#########
Sepertinya hari ini adalah hari yang sangat beruntung untuk Naruto dan Hinata. Pasalnya Anko-sensei, guru seni musik yang seharusnya mengajar pada jam ini tidak masuk ke kelas karena beliau sedang ada urusan di luar sekolah. Dan tugas praktek menyanyi duet yang diberikan Anko dimundurkan jadi minggu depan. Tak ayal Naruto langsung bersorak karena masih ada kesempatan untuknya dan Hinata berlatih. Sementara teman-temannya yang lain tampak kecewa karena pelajarannya mundur dua hari. Padahal mereka sudah susah payah latihan -_-. Kasihan...
Lalu sepulang sekolah, Naruto langsung mengajak Hinata berlatih untuk tugas Anko. Naruto meminta latihan di rumah Hinata karena rumah Hinata lebih dekat dari pada rumah Naruto. Hinata setuju dan akhirnya mereka keluar kelas sambil berbincang.
"La-lalu...kita mau menggunakan alat musik apa Naruto?" tanya Hinata.
"Kau bisa main alat musik apa?" tanya Naruto balik.
"Se-sebenarnya aku bisa main piano dan biola, atau harpa. Tapi alat musiknya aku tidak punya."
Naruto tampak takjub. "Hontou ka? Keren sekali. Tapi sayangnya aku juga tidak punya. Tapi kalau gitar aku punya."
"Naruto bisa main gitar?"
"Yah...lumayan..."
"Kalau begitu pakai gitar saja. Lalu lagunya nanti kita pilih setelah sampai rumahku." kata Hinata.
Naruto mengangguk setuju.
Ketika mereka hendak ke parkiran, mereka melihat Gaara sedang berdiri di dekat motornya yang berwarna merah. Hinata tampak ketakutan apa lagi tatapan Gaara jelas-jelas tertuju padanya.
Tiba-tiba Naruto menarik Hinata agar makin mendekat padanya lalu tangan tan pemuda itu menggenggam erat tangan putih Hinata.
"Jangan takut. Ada aku di sini."bisiknya lirih.
Hinata menatap wajah Naruto yang menunjukkan keyakinan dan Hinata mengangguk.
"Jangan lihat dia. Dan jangan jauh-jauh dariku." tambah Naruto.
Hinata kembali mengangguk. Ia kemudian berjalan bersama dengan Naruto sambil mendekatkan dirinya. Sebelah tangannya di genggam kuat dengan tangan hangat Naruto. Sementara tangannya yang bebas memeluk lengan Naruto. Jika dilihat-lihat mereka berdua tampak seperti pacaran. Mesra sekali.
Bahkan siswa-siswi KSHS yang melihat keduanya langsung cengo. Pasalnya baru kali ini mereka melihat seorang Uzumaki Naruto, yang terkenal cuek, sedang menggandeng mesra seorang gadis cantik nan manis yang merupakan murid baru. Sebagian fans Naruto menjerit sedih lantaran mereka mengira Naruto sudah memiliki pacar. Hinata jadi tidak enak dan berniat melepaskan pegangannya. Tapi Naruto malah melingkarkan tangannya pada bahu Hinata. Dan itu memubuat Hinata agak kelabakan.
"Na-Naruto.."
"Ku bilang jangan jauh-jauh dariku. Biarkan saja orang-orang itu."
Hinata hanya bisa diam. Walaupun Naruto melakukannya hanya untuk melindunginya dan mengelabuhinya dari Gaara, tapi Hinata sudah cukup senang karena perhatian yang diberikan Naruto padanya.
Naruto sedikit melirik Gaara yang berada tak jauh dari motornya yang sedang di parkir. Pemuda berambut merah marun itu menatap tajam Naruto yang sedang merangkul Hinata. Hinata tak menyadarinya karena terlalu takut.
Naruto melepaskan rangkulannya lalu naik ke motornya yang berwarna hitam dengan garis-garis oranye. Hinata terpana melihat motor Naruto. Pasalnya motor Naruto sangatlah keren dan bisa di tebak bahwa harganya pasti sangatlah mahal.
"Kau bawa jaket?"
Hinata menggeleng. Kemudian Naruto melepaskan jaketnya yang senada dengan warna motornya dan memberikannya pada Hinata.
"Pakai jaketku."
Hinata menerima jaket itu.
"Ta-tapi..."
"Kau ingin membeku di perjalan Hinata?"
Hinata langsung menggeleng. Memang benar sih akhir-akhir ini udara di konoha terasa lebih dingin dari biasanya.
"Kalau begitu cepat pakai jaketku. Aku tak mungkin membiarkanmu kedinginan."
Hinata menurut kemudian memakai jaket Naruto yang tentu saja naik ke motor Naruto.
"Pegangan yang kuat."
Gadis berambut indigo itu agak bingung, di mana dia harus berpegangan? Jujur saja, selama hidupnya ini ia belum pernah naik motor berboncengan dengan seorang laki-laki. Apa lagi motor seperti milik Naruto ini. Jadi ia putuskan untuk berpegangan pada seragam pemuda itu. Naruto sedikit berdecak dari dalam helm ya. Kemudian ia menuntun tangan Hinata untuk berpegangan pada tubuhnya. Ia merangkulkan kedua tangan Hinata melingkari perutnya. Hinata tentu saja kaget karena sekarang posisinya seperti memeluk pemuda itu dari belakang.
"Jika kau berpegangan seperti tadi, ku pastikan kau akan melayang terbawa angin Hinata. Jadi berpeganganlah seperti sekarang."
Hinata hanya mengangguk-angguk saja. Kemudian Naruto mulai menstarter motor kerennya dan pergi meninggalkan sekolahan. Ia sempat menengok sebentar pada Gaara dan di lihatnya pemuda itu sedang memukul jok motornya.
"Sialan kau Kyuubi!" kesal Gaara. Pemuda itu benar-benar akan menghabisi Naruto.
Motor balap milik Naruto meliuk-liuk di jalanan. Ia mengendarai motornya sangat cepat seperti seorang pembalap sungguhan. Padahal ia sedang membawa Hinata.
Hinata hanya bisa menutup mata sambil menenggelamkan wajahnya di punggung Naruto. Tangan yang melingkar di perut pemuda itu tampak mengencang lantaran Hinata benar-benar takut jika sampai dirinya jatuh. Gadis itu sedikit melirik spedometer motor Naruto dan maniknya langsung membulat karena ternyata Naruto berkendara dengan kecepatan 140km/jam. Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaan Hinata sekarang?
Hinata kembali menenggelamkan kepalanya di punggung Naruto. Hinata terlena dengan punggung tegap Naruto yang sangat hangat. Jaket yang ia kenakan mengeluarkan bau khas milik pemuda itu yang terasa sangat memabukkan untuk Hinata. Ia jadi merasa...seperti di peluk Naruto.
Hingga beberapa menit kemudian Naruto sudah sampai di apartemen milik kakak Hinata. pemuda itu langsung mengerem motornya hingga suara ban berdecit terdengar jelas.
+BROOMM CKIITT!+
Naruto menghentikan laju motornya. Naruto melirik Hinata yang masih saja memeluknya. Padahal ini sudah sampai.
"Ekhem!"
Hinata yang semula menutup matanya langsung membuka mata lavendernya.
"Kita sudah sampai"
Pipi Hinata berubah jadi merah, lantaran ia tak sadar jika sudah sampai. Sepertinya Hinata terlalu terlena dengan tubuh Naruto. Ia harus mulai hati-hati sekarang jika berboncengan dengan pemuda itu agar tak terlena lagi. Dengan pipi yang masih bersemu Hinata turun dari motor Naruto.
Naruto tersenyum mengejek. "Sepertinya kau sangat menikmati perjalanannya ya Hinata?"
Hinata memukul pelan lengan Naruto. Pipinya menggembung. "Si-siapa yang menikmati?! I-itu karena Naruto me-mengendari motor dengan sa-sangat cepat. A-aku seperti ingin mati saja."
Naruto tertawa. "Hahaha...padahal menurutku itu sudah normal lho Hinata. Kau harus mulai terbiasa dengan cara berkendaraku."
Keduanya masuk ke dalam. Hening. Itulah perasaan pertama saat memasuki apartemen yang tak begitu besar itu. Hinata menyuruh Naruto duduk sementara gadis itu membuatkan minuman untuk Naruto.
Naruto duduk di sofa. Tiba-tiba Naruto ingat kejadian sewaktu dirinya di obati oleh Hinata. Dan juga sewaktu ia jatuh menimpa Hinata dan menindih gadis itu di atas sofa ini. Entah kenapa Naruto jadi malu sendiri jika teringat hal itu. Bagaimana saat wajahnya hampir bertabrakan dengan wajah manis Hinata. Lalu saat tubuh besarnya menindih tubuh mungil Hinata. Dan saat bibir mereka hampi...ukh! Sepertinya Naruto harus memeriksakan jantungnya ke dokter karena sekarang kecepatan berdetaknya mungkin lima kali lebih cepat.
Tak lama Hinata kembali sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan.
"Silakan di minum Naruto."
"Ah, ya terimakasih Hinata." Naruto meminum minumannya.
Hinata ke kamarnya sebentar untuk berganti baju. Lalu kembali dengan pakaian santainya yang berupa celana hitam selutut dan kaos berwarna biru tua. Sederhana, tapi dapat membuat Naruto tak lepas memandanginya.
Melihat Naruto yang malah bengong, Hinata lantas memanggil namanya.
"Naruto?"
"Ah!Y-ya?" Naruto agak terkejut.
"Kita mulai saja memilih lagunya."
Kedua sejoli ini duduk di bawah saling berhadapan dan memangku tangan mereka dengan meja yang tak begitu tinggi. Sementara mereka sibuk mencari-cari daftar musik di Handphone. Jemari keduanya dengan lincah memilah lagu-lagu yang menurut mereka cocok.
"Hinata, bagaimana kalau lagu ini?" Naruto menyetel lagu yang hendak di tunjukkannya pada Hinata.
Hinata langsung terperanjat mendengar alunan musik Hardcore dari lagu itu. Lalu suara si penyanyi yang menjerit-jerit membuat Hinata hanya bisa meneguk ludah.
"Naruto, suaraku bisa habis jika menyanyikan lagu itu." protes Hinata dengan suara kalemnya.
"Benar juga ya?aku juga tak pandai menyanyi scream." kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Kalau lagu ini?" Hinata menyetel musik yang hendak ia tunjukkan pada Naruto.
"Musiknya bagus. Tapi terlalu datar. Dan lagi lirik lagunya artinya tentang kematian."komentar Naruto.
Hinata menggaruk pipinya dengan satu jari. "Be-benar juga sih. Jika menyanyikannya kita akan di anggap ingin melayat."
"Hn. Kalau bisa kita cari lagu yang enak di dengar dan liriknya bagus. Juga temponya sedang."usul Naruto.
Hinata tampak memikirkan usulan Naruto. "Lagu enak di dengar dan liriknya bagus ya?" Hinata kembali mengutak-atik ponselnya "Ah! Bagaimana kalau lagu ini Naruto?" Hinata menyodorkan ponselnya pada pemuda yang duduk di depannya itu. Suara petikan gitar yang sangat merdu dan tenang mengalun dengan indah.
"Hm...aku tahu lagu ini. Kuncinya juga aku hafal. Tapi lagunya aku tak begitu hafal." kata Naruto.
"Kalau begitu kita coba saja lagu ini. Kebetulan sekali aku suka lagu ini dan hafal liriknya."
"Oke! Jadi sudah kita tetapkan lagu ini yang akan kita nyanyikan!"
Hinata mengangguk. Naruto mencari lirik lagu dari lagu yang telah mereka pilih.
"Aku sudah mencari liriknya. Kau menyanyikan bagian wanitanya dan aku yang pria. Oke?"
Hinata mengangguk. "Lalu bagaimana dengan alat musiknya? Aku tak punya gitar dan ,Naruto juga tak membawa gitar."
"Soal itu gampang. Serahkan padaku. Yang penting sekarang kita hafalkan dulu lagunya."
Hinata menyetel lagu yang telah mereka pilih kemudian mulai menyanyi bersama dengan Naruto. Keduanya terlihat sangat fasih menghafalkan lagu itu. Suara merdu Hinata bercampur dwngan suara baritone Naruto yang serak serak basah menghanyutkan atmosfer sekitarnya. Kadang Naruto menambahkan lirik yang berbeda dan terkesan lucu hingga membuat Hinata tertawa. Lalu keduanya tertawa bersama. Karena terlalu asik berlatih, mereka tak menyadari jika seseorang sudah berdiri tepat di depan pintu.
"Hinata"
Hinata berhenti menyanyi ketika mendengar dirinta di panggil.
"Eh! Neji-nii" pekiknya ketika melihat Kakak sepupunya sudah berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya. Manik Neji menatap Naruto yang duduk di hadapan Hinata. Sepertinya sifat overprotective Neji mulai terlihat.
"Siapa dia?" tanya Neji sambil menatap tajam Naruto. Yang di tatap balas menatap sambil tersenyum sebisa mungkin.
"Di-dia temanku Nii-san." jawab Hinata dengan takut-takut.
Naruto berdiri memperkenalkan diri. "Perkenalkan. Namaku Uzumaki Naruto. Aku temannya Hinata." kata Naruto tanpa rasa takut sedikitpun. Padahal Hinata saja sudah ketakutan mendapat tatapan dari kakak sepupunya itu. Tapi Naruto malah bersikap santai dan biasa saja.
Neji agak terkejut karena Naruto terlihat sama sekali tak takut padanya. Padahal ia sudah memberikan death glarenya dan pemuda berambut kuning iitu bersikap biasa saja.
"Neji-kun! Kau ini tega sekali meninggalkanku! Apa kau tidak tahu barang bawaanku banyak dan berat!" protes seseorang yang baru saja masuk ke dalam.
Hinata yang baru melihat orang itu lantas memekik. "Tenten-Nee?!"
Wanita bercepol dua yang di panggil Tenten itu menaruh dua koper di tangannya. "Hai Hinata.."
Hinata berlari memeluk Tenten. "Ya ampun. Kenapa Tenten-nee baru ke sini? Aku sangat rindu tahu!"
Tenten balas memeluk Hinata. "Haha...maaf ya Hinata. Soalnya pekerjaanku di Swiss baru selesai beberapa hari yang lalu. Dan aku baru kembali ke Jepang hari ini. Dan aku akan merepotkan kalian dengan menumpang selama beberapa hari di sini karena aku belum mencari apartemen baru."
"Benarkah?"
Tenten mengangguk. Kemudian manik gadis ini beralih pada Naruto yang sedang berdiri.
"Eh ada tamu ya?"
Naruto beralih pada Tenten. "Perkenalkan aku Uzumaki Naruto. Temannya Hinata."
"Ah..Naruto ya? Perkenalkan juga aku Tenten. Tunangan Neji."
Mereka berdua saling berjabat tangan. "Apa benar cuma 'teman'?" Tanya Tenten menggoda. Naruto mengangguk sementara Hinata hanya tertunduk.
"Wah...sayang..ku kira kau pacarnya Hinata. Padahal menurutku kalian cocok sekali lho..." komentar Tenten.
BLUSSHH!
Wajah Naruto dan Hinata langsung memerah mendengar komentar Tenten. Cocok? Tentu saja!
"Cocok dari mana?" tanya Neji sarkastik.
"Tentu saja semuanya. Makanya kau hilangkanlah sifat overprotectivemu itu. Dan...sekarang lebih baik kau bantu aku menurunkan barang-barang bawaanku."
"Tapi-"
Sebelum kembali berkomentar Tenten langsung menyeret Neji keluar. Ketika melewati Hinata Tenten sedikit berbisik. "Bersenang-senanglah." yang langsung membuat wajah Hinata bertambah merah.
Setelah suasana hening Naruto dan Hinata jadi berubah canggung. Komentar dari Tenten tadi membuat keduanya jadi malu. Kemudian Naruto melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 05.30.
"Hinata. Ini sudah sore. Aku pulang dulu."
"Ah i-iya Naruto...ayo ku antar ke depan."
Hinata mengantar Naruto sampai depan di mana masih ada Neji dan Tenten. Naruto berpamitan pada pasangan itu lalu pergi dengan motornya setelah mengucapkan 'Aku akan menjemputmu besok pukul 6.15.' pada Hinata. Lalu melaju keluar dari komplek Apartemen itu.
Enatah besok Naruto bisa menjemput Hinata atau tidak, mengingat masih ada 'sang kakak yang overprotective'.
.
.
#########
Naruto beruntung karena ada Tenten sekarang. Pagi ini ketika ia hendak menjemput Hinata, Kakak sepupunya, Neji sudah berdiri tepat di depan apartemennya sambil memberikan tatapan membunuh pada Naruto. Naruto menyapa Neji dan Neji membalasnya dengan gumamam. Sepertinya akan sulit menangani si kakak yang 'Overprotective' ini.
Tapi tak lama, Hinata muncul bersama Tenten. Tenten menyapa Naruto dan Hinata juga. Tiba-tiba Neji menahan Hinata dan melarang Hinata berangkat bersama Naruto dengan alasan Naruto tak terlihat seperti pemuda baik-baik. Tapi Tenten menyahuti perkataan Neji dan mereka berdua bertengkar. Sementara Hinata dan Naruto hanya melihat.
Akhirnya Tenten marah pada Neji dan Neji berubah kelabakan. Naruto mengira sepertinya Neji memiliki kepribadian ganda karena saat ini Neji sedang memohon-mohon pada Tenten agar tidak marah.
Tenten berkata bahwa ia tak akan marah jika Hinata di biarkan berangkat bersama Naruto. Neji jelas menolak tapi Tenten mengancam akan terus marah jika Neji tak mengijinkan Hinata.
Akhirnya dengan terpaksa, Neji memperbolehkan Hinata berangkat bersama Naruto, tapi di sertai ancaman untuk Naruto agar ia tak macam-macam dengan adik sepupunya. Naruto hanya mengangguk. Kemudian ia dan Hinata berpamitan pada Tenten dan Neji. Lalu keduanya berangkat menggunakan motor. Neji agak melotot melihat Naruto menyuruh Hinata berpegangan padanya dan Hinata berpegangan dengan memeluk Naruto dari belakang. XD
"Apa-apaan si kepala kuning itu? Menyuruh Hinata berpegangan padanya? Lalu...kenapa Hinata malah memeluknya seperti itu!" protes Neji.
"Kalau kau masih protes, aku akan benar-benar marah padamu." ancam Tenten.
Neji langsung mengangguk dengan keringat dingin mengucur deras. Ternyata Neji lebih takut dengan tunangannya ini. XD.
Kembali ke Hinata dan Naruto. Saat ini Hinata agak heran karena Naruto kali ini mengendarai motornya dengan pelan. Tak seperti kemarin. Ia melirik spedometer yang hanya menunjukkan 60 Km/jam. Apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda ini? Padahal kemarin saja ia berkendara dengan kecepatan 140 km/jam.
"Ke-kenapa Naruto mengendarai motor pelan sekali?" tanya Hinata setelah sampak di parkiran sekolahan.
Naruto melepas Helmnya. "Kau ingin aku berkendara seperti kemarin?"
Hinata langsung menggeleng. "Te-tentu saja tidak! Ha-hanya...aku heran saja."
Naruto duduk di jok motornya. "Pemuda mana yang tega mengendarai motor ngebut di pagi hari ketika ia sedang membawa seorang gadis bersamanya?"
Hinata hanya bisa mengangguk-angguk. Oh...jadi Naruto memelankan motornya karena khawatir padanya ya? Kalau begini Hinata lama-lama bisa tambah Geer .
Ketika berjalan ke koridor, Naruto melihat Gaara berjalan ke arahnya. Dia berjalan sendirian , tak bersama anggota gengnya. Sontak pemuda itu langsung menggaet tangan Hinata dan merapatkan tubuh gadis itu padanya. Hinata semula tak sadar jika ada Gaara. Dan ketika Gaara sudah berdiri di depan mata Hinata langsung memeluk lengan Naruto.
"Hinata. Aku ingin bicara denganmu." kata Gaara serius.
Hinata tak berani menyahut ataupun menatap Gaara, saking takutnya dia pada pemuda tanpa alis itu.
Tak lekas mendapat jawaban, Gaara berniat menarik tangan Hinata. Tapi langsung di tepis oleh Naruto.
"Dia tidak mau. Jadi jangan memaksanya." ucapnya dingin.
"Dia tak mengatakan tidak mau. Jadi menyingkirlah 'Kyuubi'." Gaara langsung menarik salah satu tangan Hinata yang melingkar di lengan Naruto. Gadis itu tersentak. Tapi Naruto tak tinggal diam. Ia menarik sebelah tangan Hinata lebih kuat lagi dan akhirnya tarikan di tangan Gaara lepas. Tubuh Hinata kehilangan keseimbangan dan ia langsung jatuh dalam pelukan Naruto.
DEG!
Jantung Hinata langsung berdebar-debar ketika tubuhnya menabrak tubuh Naruto. Naruto melingkarkan salah satu tangannya ke punggung Hinata, memeluk Hinata protective. Hinata tak bisa berkata apa-apa.
"Kau menyakitinya Gaara!" bentak Naruto.
Gaara berdecih. "Aku tak menyakitinya. Aku hanya ingin bicara dengan gadis itu."
"Sudah ku katakan dia tidak mau. Jadi lebih baik sekarang kau pergi sebelum banyak orang yang melihat. Atau kau akan benar-benar ku habisi." ancam Naruto.
Gaara menendang tembok di dekatnya dengan sangat keras hingga suaranya mengagetkan Hinata. Kemudian dengan perasaan marah campur kesal, Gaara pergi dari hadapan mereka.
Naruto menatap kepergian Gaara dengan perasaan kesal. Gaara terlalu berlebihan. Jika ia menginginkan sesuatu ia pasti akan berusaha mendapatkannya. Dan sekarang yang Gaara inginkan adalah Hinata. Sebagai 'Teman' mana mungkin Naruto membiarkan Hinata menjadi mainan Gaara.
Naruto merenggangkan pelukannya. Sebenarnya Naruto sendiri agak bingung dengan tindakannya yang malah memeluk Hinata. Tapi ia berpikir ini untuk melindungi gadis itu.
"Dia sudah pergi." kata Naruto.
Hinata menghela nafas lega. "Syu-syukurlah..Terimakasih Naruto."
"Hn. Tanganmu tak sakit kan?" tanya Naruto sambil memegang tangan Hinata.
Gadis berambut indigo itu mengangguk. "Tidak."
"Syukurlah. Sebenarnya kenapa sih dia sangat ingin membawamu? Menjengkelkan sekali!" rutuk Naruto.
"Sudahlah Naruto...le-lebih baik kita k-ke kelas sekarang." kemudian keduanya berjalan ke kelas dalam diam.
Selama perjalanan keduanya mendapat tatapan dari semua siswa maupun siswi yang kebetulan lewat atau mereka lewati. Hinara hanya bisa bertanya tanya. Kenapa ia dan Naruto di tatap sampai segitunya? Apa mereka aneh? Atau bagaimana? Hinata jadi bingung.
"Ohayou minna..." sapa Hinata setelah masuk ke kelas
"Ohayou Hinata..." balas Sakura.
"Ohayou Hinata. Cieh...yang berangkat bareng Naruto. Pasti kau senang sekali.." goda Ino.
Naruto hanya nyengir sementara Hinata membalas perkataan Ino.
"I-Ino...k-kau terlalu be-berlebihan."
"Berlebiahan bagaimana? Eh Naruto kau tidak ngebut kan?" tanya Sakura.
"Hn." jawab Naruto ambigu.
"Nah begitu dong! Kau itu selalu membawa motor dengan kecepatan yang gila! Sepertinya jika dengan Hinata, kau tak akan ngebut."
"Ya...dia kan tidak mau kalau sampai Hinata kenapa- napa." tambah Ino.
"Te-teman-teman..." panggil Hinata dengan wajah merah.
Naruto pergi meninggalkan gadis-gadis itu. Ia berjalan ke bangkunya. Sasuke sudah duduk di bangku sampingnya dan Shikamaru sedang tidur berbantalkan lengannya.
"Kau benar-benar menjemputnya Dobe?" tanya Sasuke. Tak biasanya pemuda berwajah datar itu menanyakan hal yang tak begitu penting seperti ini.
"Hn. Aku khawatir jika dia sampai di labrak oleh Gaara. Tadi saja dia hampir di bawa paksa oleh si sialan itu." terang Naruto sambil menaruh tasnya di meja.
"Benarkah?"
"Iya. Untuk apa aku bohong."
Shikamaru yang ternyata mendengarkan percakapan keduanya lantas ikut bersuara. "Berarti itu tandanya Gaara memang sedang tertarik dengan Hinata."
Naruto membalikkan badannya, menatap si pemuda nanas mencari penjelasan. "Tertarik bagaimana?"
"Mungkin tertarik karena ia menyukai Hinata." jelas Shikamaru.
Naruto terdiam. Memikirkan penjelasan dari Shikamaru. Tapi...menyukai Hinata? Apa benar Gaara menyukai Hinata? Ini tidak bisa di biarkan! Sepertinya ia harus mencari tahu kebenarannya! Karena...Gaara adalah pemuda yang mengerikan. Tak akan ia biarkan Hinata jatuh dalam tipu daya pemuda yang selalu mencari masalah dengannya itu.
.
.
##########
Bersambung...
Kayaknya cerita ini semakin kedepan semakin gaje aja. Dan lagi...mungkin juga membingungkan. Entahlah...sepertinya author harus rehat sejenak untuk mencari inspirasi lagi. Dan buat pemberitahuan mungkin minggu depan saya nggak bisa update karena ada UTS...Author harus belajar biar nilainya nggak begitu hancur banget. Tapi tetep saya usahain buat update. Oke pokoknya jangan lupa RnR ya! Semakin banyak Review, semakin author semangat buat ngelanjutin fanfic ini ^_^.
