Disclaimer©Masashi Kishimoto

Guardian©Angels0410

Malam ini Hinata termenung di sudut kamarnya, berjongkok sambil terus menangis. Terus meratapi apa yang terjadi di kehidupannya sambil terus mendengar kegaduhan yang terjadi. Dua orang yang selalu dia hormati dan ia sayangi yang kini tengah saling memaki.

"Kalian semua brengsek Hyuuga!" Hinata menegang mendengar suara teriakan itu, "Setelah apa yang kami lakukan pada kalian, ini kah balasannya?!"

"Jaga ucapanmu Itachi!" Balas Neji.

"Dimana Hinata! Katakan dimana dia!"

Mendengar namanya disebut, Hinata memeluk lututnya semakin erat dalam ketakutannya.

"Untuk apa kau mencarinya?" Tanya Neji.

"Dialah pembunuhnya! Adikmu itu yang telah membunuh Sasuke."

Hinata semakin menangis.

"Diam kau Itachi!" Terikan Neji semakin keras.

"Mulai saat ini kami memutuskan semua hubungan yang ada diantara Uchiha dan Hyuuga." Ucapan itu penuh kesungguhan dan keseriusan. "Dasar PEMBUNUH."

"PEMBUNUH…"

Hinata menggeleng dalam tangisnya.

"PEMBUNUH…"

"PEMBUNUH…"

"Ti-Tidak!" Teriak Hinata.

Hinata terbangun dengan nafas memburu, keringat dingin mengucur deras di kening, kejadian itu kembali memasuki alam bawah sadarnya. "Bu-Bukan a-aku hiks… yang membunuh Sasuke-kun…" Ucap Hinata semakin sedih dan lirih. "A-Aku tidak mem hiks membu-bunuhnya."

Berulang kali Hinata ucapkan kalimat itu, "A-Aku tidak membunuh Sasuke-kun." Semakin dalam rasa sakit yang ia rasakan. Membuatnya terus menangis cukup lama dan tertidur karena lelah.

-o0o0o-

Kediaman keluarga Sabaku terlihat sangat tenang dan gelap. Lampu di beberapa ruangan pun sudah padam dan jam yang menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi masih ada mobil yang baru memasuki halaman rumah Sabaku. Setelah memarkirkan mobil ditempatnya, orang tersebut keluar dari mobil dan memasuki rumah. Dengan langkah pelan ia melewati ruang tengah.

"Gaara dari mana saja kau?"

Sebuah pertanyaan memberhentikan langkah orang yang baru saja memasuki rumah –Gaara. Gaara menoleh ke sumber suara dan melihat Temari sedang duduk di salah satu sofa ruang tengah. "Temari apa yang kau lakukan?" Bukannya menjawab pertanyaan Temari, Gaara malah balik bertanya.

"Sopan sekali adikku yang satu ini." Sindir Temari, tapi dia tidak terlalu mempermasalahkannya karna Gaara memang seperti itu. "Aku menunggumu pulang."

Wajah Gaara menyiratkan kebingungan, "Ada apa?"

"Duduklah. Ada yang ingin kubicarakan." Dalam remangnya pencahayaan di ruangan itu, Temari seperti ingin membicarakan hal penting. Nada suara Temari menegaskan hal itu dan Gaara pun mengetahuinya. Tanpa berlama-lama Gaara langsung saja duduk berhadapan dengan Temari. "Katakan." Ucap Gaara.

"Apa kau dengan Hinata sedang bermasalah?" Temari memandang Gaara dengan penuh intimidasi, agar Gaara mau menjawab pertanyaannya.

Gaara menghembuskan napas lelah, "Bisa bicarakan ini besok saja?"

"Tidak." Jawab Temari sangat cepat, "Ada apa dengan kalian? Kenapa Hinata sampai menangis tadi." Sepertinya Temari sangat ingin mengetahui segala hal yang berkaitan dengan adik iparnya itu.

"Menangis?" Tanya Gaara.

Sekarang Temari menunjukkan wajah emosi, "Ya, menangis. Saat aku ingin mengambil minum dan melewati kamarmu, aku dengar ia menangis dan mengucapkan sesuatu. Dan aku rasa dia sudah lama menangis."

"Oh."

Jawaban Gaara yang begitu singkat membuat Temari marah dan memukul meja. "Gaara!"

Gaara memandang datar pada sang kakak, "Aku ingin ke kamar sekarang." Tanpa menunggu jawaban Temari, Gaara langsung saja pergi dan menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

"Temari-nee tidak perlu sampai seperti itu." Tiba-tiba dari belakang Temari, Kankuro datang.

"Aku hanya tidak suka dengan kelakuannya Kankuro. Sudah tiga hari mereka di sini dan aku tidak pernah melihat mereka berbicara sedikit pun. Aku yakin mereka sedang bertengkar." Ucap Temari menjelaskan pada adiknya, Kankuro.

Kankuro hanya tersenyum melihat Temari, sepertinya Temari sangat mengharapkan hubungan Gaara dan Hinata. "Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya Temari-nee. Lebih baik Temari-nee tidur, ini sudah terlalu malam."

"Baiklah." Ucap Temari mengalah.

-0o0o0-

Hari ini Gaara harus bergulut dengan segala berkas-berkas pemindahan nama pemegang saham. Pekerjaan itu seharusnya selesai dengan mudah dan cepat, namun Itachi selalu mengganggu pekerjaannya. Itu membuat Gaara harus bekerja ekstra. Dikarenakan itu Gaara harus pulang dini hari hanya untuk menyelesaikan segala urusan perusahaannya.

Ia pun selalu memikirkan Hinata, sejak kejadian waktu saat itu ia sama sekali tidak berkomunikasi dengan Hinata. Dan kali ini ketika Temari menyatakan Hinata menangis, Gaara merasa bersalah.

Segala yang terjadi membuat kepala Gaara pusing. Karena itu ia lebih memilih untuk membersihkan dirinya dan menenangkan pikirannya. Dia belum pernah merasa selelah ini dalam hidupnya, hal-hal yang terkait dengan Hinata terlalu menguras energi dan perasaannya.

Setelah begitu lama di kamar mandi, akhirnya Gaara keluar dengan pakaian tidurnya. Ia berjalan menuju tempat tidur dan melihat Hinata yang tertidur. Benar yang dikatakan Temari, Hinata pasti sudah lama menangis. Matanya yang membengkak dan sesunggukkan dalam tidur, sudah menunjukkan semuanya.

Gaara mendekat pada Hinata dan duduk tepat di samping kirinya. 'Apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa tidak mau jujur padaku Hinata?' Gaara membatin sambil mengelus pipi Hinata. Terlihat Hinata yang sedikit terganggu oleh ulah Gaara dan mengubah posisi tidurnya.

Lalu Gaara membaringkan dirinya di samping Hinata dan tidur menghadap Hinata. Gaara terus saja memandang pada Hinata yang seperti terlihat kedinginan. Memang di kotanya siang bisa menjadi hari yang sangat panas dan malam menjadi sangat dingin. Dan mungkin Hinata tidak biasa dengan cuaca di kotanya. Gaara pun mendekat dan memeluk Hinata.

"Maaf… Aku tidak akan mengabaikanmu lagi." Bisik Gaara pelan dan memeluk Hinata semakin erat. 'Aneh, kenapa perasaanku begitu sakit ketika melihatmu seperti ini.' Tanya Gaara pada dirinya sendiri dan akhirnya ia pun tertidur sambil memeluk Hinata.

-0o0o0-

Apa kau mengetahui hal paling menyakitkan di dunia ini?

Melihat orang yang kau sayang menuduhmu melakukan hal yang buruk. Melihat orang yang kau sayang tidak ada lagi di dekatmu. Melihat orang-orang di sekitarmu menangis karenamu. Setiap detik bayang-bayang masa lalu menghantuimu dan kau tak mampu melakukan apapun.

-Hinata-

-0o0o0-

"Itachi, apa ini tidak terlalu pagi untuk berkunjung?"

Itachi hanya menggerakkan bahunya sebagai jawaban, "Bagaimana keadaannya paman?" Tanya Itachi.

Orang yang dipanggil paman oleh Itachi berjalan mendekatinya, keluar dari sebuah ruangan berpintu seperti jeruji sel. Dengan sebuah jas putih yang dia pakai, menjelaskan bahwa ia adalah seorang dokter.

"Masih sama seperti beberapa minggu lalu." Dokter itu memandang keruangan tempatnya keluar tadi. Di sana ada sosok perempuan berambut merah yang membelakangi mereka berdua. "Dia terus saja terdiam dan terkadang menyakiti dirinya sendiri."

Itachi menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam, sepertinya ia menenangkan dirinya. "Sampai kapan ia akan seperti itu?" Tanya Itachi setelah beberapa saat.

Dokter itu menyudahi pandangannya pada gadis itu dan beralih pada Itachi, bisa ia lihat raut terluka dan marah di wajah Itachi. Dirinya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Itachi, tapi satu hal yang ia ketahui. Itachi mencintai gadis itu.

"Tidak ada yang mengetahui hal itu Itachi." Dokter itu memegang bahu Itachi, "bersabarlah. Aku yakin dia akan sembuh."

Itachi hanya diam, "aku akan menemuinya sekarang."

"Baiklah." Dokter itu melepaskan bahu Itachi, "tapi, jangan memancing emosinya berlebihan Itachi. Itu tidak baik untuk mentalnya."

"Baiklah paman."

Itachi pun memasuki ruangan itu, mendekati gadis yang sedang duduk di tempat tidurnya. Itachi tepat berdiri di depan gadis itu, tapi gadis itu sama sekali tidak merespon. Itachi memandang mata gadis itu, hanya tatapan kosong yang didapatinya. Gadis itu sudah seperti mayat hidup, pucat dan tanpa respon.

"Karin…" panggil Itachi lembut, ia pegang pipi gadis yang ternyata bernama Karin itu. Tapi tidak ada respon, "Karinku…"

Itachi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, matanya sudah berkaca-kaca. Itachi menunjukkan sisi lemahnya pada gadis itu, ketika setetes air mata mengalir di pipinya. "Karinku…" Itachi tak tahan menahan segala beban pada perasaannya, hingga membuatnya berlutut di depan Karin.

"Karin…" Dipegangnya kedua tangan Karin, "bagaimana kabarmu?" Tanya Itachi. Walau Itachi sadar bahwa gadis itu tidak akan meresponnya, ia tetap bertanya. "Aku sangat merindukanmu."

Itachi menunduk, meletakkan kepalanya pada lutut Karin. "Kenapa kau harus seperti ini hanya karena Sasuke?" Ucap Itachi.

Tiba-tiba ada respon dari tangan Karin, tangan itu semakin mengepal kuat. Itu terjadi sedetik ketika nama Sasuke disebut.

"Karin, apa kamu tidak merasakan perasaanku?" Itachi tidak mempedulikan respon Karin, ia tetap melanjutkan ucapannya. "Aku sangat mencintaimu Karin."

Tidak ada respon apapun.

"Kenapa kau harus menyukai Sasuke? Kenapa di dalam pikiran dan hatimu hanya ada Sasuke?" Tanya Itachi dengan nada sedih dan ada sedikit kemarahan.

Karin merespon dan respon kali ini melepihi respon sebelumnya.

"Karin sadarlah." Itachi memandang mata Karin, "Sasuke sudah mati. Lupakan dia."

Karin menarik tangannya membuat genggaman Itachi terlepas. Karin juga mendorong Itachi hingga Itachi tersungkur ke belakang. "Bukan itu mauku. Bukan!" Teriak Karin.

"Sadarlah Karin bahwa aku sangat mencintaimu. Lupakan Sasuke yang sudah lama meninggalkan kita semua." Ucap Itachi keras. Itachi pun tidak bisa menahan emosinya.

"Bukan itu! Bukan itu mauku! Sasuke harus hidup!" Teriak Karin semakin keras. Ia melempar Itachi dengan segala benda yang ada di sekitarnya.

Karena teriakan Karin, beberapa perawat dan dokter memasuki kamar Karin dan segera menenangkan Karin. Ulah Karin yang bisa membahayakan orang lain dan dirinya sendiri, membuat dokter terpaksa harus menyuntikkan obat penenang pada Karin.

Itachi semakin merasa bersalah melihat Karin yang seperti itu. Karin yang selalu tertawa dan tersenyum padanya kini berteriak-teriak seperti orang gila. Itu sungguh menyiksa perasaannya.

Saat Karin mulai kehilangan kesadarannya, Karin dan Itachi tidak sengaja saling memandang. Terus saling menatap bagai saling menyalurkan perasaannya, hingga Karin tiba-tiba mengucapkan, "Maafkan aku Itachi." Sebelum ia benar-benar tertidur akibat obat bius.

Itachi sangat terkejut, memang ia tidak mendengar ucapan Karin tapi ia tetap tahu apa yang diungkapkan Karin melalui gerak bibirnya. 'Kenapa kamu harus minta maaf Karin?'

"Astaga Itachi. Sudah kukatakan jangan memancing emosinya dengan berlebihan." Marah dokter itu.

Itachi masih bingung, apa sebenarnya Karin sudah sembuh. "Paman Madara…" Panggil Itachi. Ternyata dokter itu adalah keluarga Sasuke. "Apa menurutmu Karin sudah sembuh dan berpura-pura gila?"

Dokter itu mengernyitka dahinya, "Apa maksudmu Itachi?"

"Karin tadi meminta maaf padaku." Itachi memandang penuh kesungguhan, seperti berharap agar paman itu menjawab ya. "Apa itu pertanda baik untuk kesehatannya?"

Dokter itu menghembuskan napas, "Ntahlah Itachi. Tapi aku harap itu pertanda baik. Aku akan pergi untuk pasien lainnya, kuharap kau tidak akan membangunkan Karin untuk sementara waktu."

Itachi hanya mengangguk dan menatap wajah Karin yang tidak sadarkan diri. Ini semua terjadi semenjak kematian Sasuke. Ini terjadi sejak pertemuaan Karin dan Hanabi dulu. Dan sampai saat ini Itachi masih tidak mengetahui apa yang sebenarnya.

Flashback On

Hari ini langit terlihat cerah dan sedikit panas. Bagi siapa pun ini hari yang baik untuk pergi berjalan-jalan dan menikmati liburan di pantai. Tapi bagi keluarga Uchiha ini adalah hari paling mendung bagi mereka. Keluarga mereka kehilangan seorang uchiha dan itu adalah Uchiha Sasuke.

Beberapa pelayat datang untuk mendoakan Sasuke, mereka berpakaian hitan dan terlihat sedih. Pemakaman kali ini sangat padat orang, entah dari mana saja datangnya pelayat-pelayat ini.

Ketika seluruh keluarga sedang menangisi Sasuke, tiba-tiba datanglah keluarga Hyuuga yang juga ingin memancatkan doa. Tapi jalan mereka dihadang oleh Itachi.

"Untuk apa kalian kemari?" Tanya Itachi dengan pelan namun sarat akan kebencian.

Neji memandang bingung pada Itachi. Bisa-bisanya Itachi perkata seperti ini, "Kami hanya ingin melayat Itachi."

"Jangan seperti kalian berduka atas kepergian Sasuke. Kalian bukannya senang dengan ini semua?" Tanya Itachi dengan suara keras, hingga mengundang perhatian pelayat lain.

Neji mencoba bersabar, "Itachi kami ikut berduka. Bagaimana pun dia sudah kami anggap seperti keluarga kami sendiri."

Itachi tidak bisa menahan emosi, ia langsung memukul wajah Neji. Terlihat sudut bibir Neji mengeluarkan darah, "Kalian semua berwajah dua!"

Semua orang terdiam melihat adegan itu. Dan hal itu sudah benar-benar mencoreng nama baik keluarga Hyuuga. "Apa maksudmu Itachi."

Itachi tersenyum kecut, "Kau!" Tunjuk Itachi pada Hinata yang ada di samping Neji, "Penyebab semua ini. Kau yang membunuh Sasuke!"

Seketika orang-orang mulai berbisik-bisik dan menatap Hinata dengan sinis. Hinata melangkah mundur ketika melihat Itachi yang mendekatinya. Namun sebelum Itachi semakin mendekat Neji menghalanginya.

"Apa maksud ucapanmu Itachi?" Tanya Neji dengan geram.

"Saat itu Hinatalah orang yang terakhir bersama Sasuke. Bukan begitu Hinata?" Itachi memandang penuh intimidasi pada Hinata. "Dan saat itu kalian sedang terlibat pertengkaran."

Hinata hanya diam dengan wajah pucat pasi.

"Tabrakan itu pasti ada kaitannya denganmu! Heh!" Ada jeda saat Itachi sedang menarik napas dalam, "Kau memang membawa nasib buruk pada orang lain. Kematian kaa-san mu kuyakin karena kesalahanmu."

"Itachi! Kau sudah melewati batasmu." Desis Neji.

Itachi menggeleng, "Itu memang kesalahannya. ."

Wajah Hinata terkejut dan menggeleng.

Neji memandang Hinata begitu juga orang-orang di ruangan itu termasuk juga Hanabi yang juga ada di belakang Hinata. Hinata tidak menjawab, ia hanya menunduk dan meneteskan air mata.

"Lihat! Benarkan yang aku katakan. Dialah penyebab Sasuke meninggal. Kelakuannya dan segala yang ada pada dirinya hanya membuat orang-orang di sekitarnya menderita." Ucap Itachi.

Hinata tidak tahan dengan semua ucapan Itachi, akhirnya berlari keluar ruangan itu. Dan Hanabi mengikuti Hinata.

"Nee-chan tidak mau menjelaskan pada mereka apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Hanabi ketika ia berhasil menghentikan langkah Hinata.

Hinata menangis dan menggeleng.

"Ayolah nee-chan aku tahu bukan nee-chan pelakunya. Katakan sesuatu pada mereka nee-chan." Hinata menggeleng. "Paling tidak berceritalah padaku."

Setelah cukup lama membujuk, Hanabi akhirnya tau apa yang terjadi. Dia sangat marah mendengar cerita Hinata. "Aku akan menyatakan semuanya." Ucap Hanabi marah.

Hinata langsung memegang tangan Hanabi, "Ti-Tidak. Kau tidak boleh menyatakannya Hanabi."

Hanabi bukanlah orang sebaik Hinata, dengan tergesa-gesa ia meninggalkan Hinata dan masuk kembali ke ruangan itu. Di sana masih terlihat Neji yang bertengkar dengan Itachi.

Hanabi berjalan cepat, semakin dekat dengan lokasi Neji dan Itachi. Semakin dekat dengan amarah yang tidak tertahan lagi. Saat Hanabi sudah berada tepat di depan Neji dan Itachi, ia berjalan begitu saja melewati keduanya menghampiri seorang gadis yang tengah menangis di samping foto Sasuke.

Hanabi langsung menuangkan air yang sudah dia bawa-bawa dari tadi. Sungguh sangat mengejutkan. Orang yang terus saja menangisi Sasuke dan tidak tau apa-apa mendapatkan serangan mendadak. Mungkin itulah yang dipikirkan semua orang.

Perlakuan Hanabi membuat Karin terkejut, "apa-apaan kau ini?" Wajah Karin terlihat kelelahan dan tertekan.

Hanabi hanya memandang bengis pada orang dihadapannya. Kini juga Itachi sudah ada di samping Karin dan Neji di sampingnya. "Hahaha…" Tawa Hanabi.

"Kau!" desis Karin.

Mendengar Karin bersuara, Hanabi menghentikan tawanya dan mulai berucap, "Hanya Kamisama yang tahu apa yang terjadi dan tentu saja orang yang melakukannya."

Untuk hari ini Uchiha dan Hyuuga menjadi tontonan gratis bagi seluruh orang.

"Kalian menuduhkan segala hal pada Hinata-nee, tanpa tahu yang sebenarnya terjadi. Dan kau itachi!" Hinata menunjukk tepat di depan wajah Itachi dengan jarak dekat. "Jangan pernah bawa-bawa kematian kaa-san. Kalian tak tahu apa-apa!"

Hinata memandang pada Karin, "Kau pikir cinta yang kau paksakan itu akan menerima balasan? Kau pikir penyebab kecelakaan itu karena Hinata-nee? Hahahaha"

"Ya itu karena Hinata." Ucap Itachi.

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu ditujukannya pada Karin tapi sepertinya Karin tidak ingin melawan atau lebih tepat berpura-pura tidak tahu. Hanabi jadi muak melihat wajah Karin yang seperti itu.

Hanabi pun menarik napas dan tersenyum saat berjalan mendekati Karin. Saat tepat di depan Karin, Hanabi membisikkan sesuatu pada Karin.

"Kau pikir apa nee-sanku yang salah?" Jedah saat Hinata menarik napas dan semakin menambah ketegangan ketika seringai muncul di wajahnya, "Bukannya saat itu kau juga ada di sana? Bukannya kau juga berperan dalam kematian Sasuke?" Bisik Hanabi

"Apa yang kau lakukan pada Karin." Tubuh Karin yang terlihat bergetar membuat Itachi khawatir. Keinginan Itachi untuk mendekati Karin pun dihalangi oleh Neji. Hal itu membuat Hanabi dengan sesukanya berbisik-bisik pada Karin.

"Wow… Kau menangisinya karena kau tahu ini kesalahanmu?" Bisa dilihat Karin menangis, "Kau menyebabkan pertengkaran antara Hinata-nee dan Sasuke-nii. Dan tabrakan ituuuu…"

"Bukannya kau yang melakukannya?" Tepat setelah mendengar itu Karin menegang, wajahnya benar-benar ketakutan. "Bukannya kau sudah bertunangan dengan Itachi? Jika Itachi mengetahuinya apa yang akan kau lakukan?"

Karin sama sekali tidak menjawab.

"Tangisilah hidupmu. Kau akan hidup seperti orang gila karena kesalahanmu itu. Jika aku melihatmu bahagia, maka saat itu semua orang akan mengetahui semuanya itu. Camkan itu." Ancam Hanabi.

Seperti ucapannya pada Hinata, ia tidak akan memberitahukan apapun pada orang lain, kecuali Karin. Melihat Karin yang terduduk di hadapannya dengan wajah pucat dan tanpa berkata apapun membuat Hanabi tersenyum.

"Aku akan melakukan apapun demi Hinata-nii. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku." Ucap Hanabi.

Setelah itu Hanabi membalikkan badannya, ingin meninggalkan tempat itu sebelum ia akan benar-benar meledak dan membeberkan semua. Tapi Itachi tak membiarkannya pergi begitu saja.

"Apa yang kau lakukan padanya?!" Tanya Itachi.

Hanabi hanya menghentikan langkahnya tanpa menoleh pada Itachi. "Tanyakan saja padanya."

"Hanabi!"

"Kami turut berduka dengan kepergian Sasuke-nii, dia adalah orang yang sudah aku anggap nii-sanku sendiri sama sepertimu Itachi-nii." Hanabi berucap penuh kejujuran dan nada suaranya pun menunjukkan hal itu. "Kumohon jangan menuduhkan semua kesalahan pada keluarga kami terutama Hinata-nee. Dia tidak bersalah."

Itachi tidak mau mengerti, ia tetap teguh pada keyakinannya. "Dialah orang yang bersama Sasuke…" Itachi mulai tidak bisa menahan perasaannya mengetahui adik kesayangannya meninggal. Dengan suara parau Itachi berucap, "Dialah orang yang bersama Sasuke. Kenapa hanya adikku yang meninggal?"

Hanabi menghembuskan napas berat, ia tidak menjawab pertanyaan Itachi. Dengan mantap ia melangkah meninggalkan tempat itu bersamaan dengan Neji. Ia harus merahasiakan itu semua, semua harus dirahasiakan sama seperti peristiwa itu.

Setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian Karin mengalami ketakutan yang berlebihan. Karin selalu saja menyatakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Itachi dan terkadang Karin juga menyakiti dirinya sendiri. Hal itulah yang membuat Karin berakhir di sebuah Rumah Sakit Jiwa Konoha.

FLASHBACK OFF

-0o0o0-

Hinata melangkah berlahan, menyusuri taman kepunyaan Sabaku dengan wajah yang terlihat tak menunjukkan ketertarikan pada keindahan taman tersebut. Tangannya memegang telpon yang tertempel di telinga dan sebuah tas kecil di tangan lainnya. Ia pun tampak menghela napas berkali-kali.

"Hanabi bisa temani aku ke suatu tempat?" Ucap Hinata pada orang yang tengah berbicara dengannya melalui suatu tempat.

"Aku tidak bisa nee-chan, ada urusan sekolah yang harus aku kerjakan. Sebenarnya nee-chan ingin mengajakku ke mana?"

"A-Aku i-ingin …" Hinata agak lama menjawab pertanyaan Hanabi, membuat Hanabi khawatir. "Halo nee-chan… halooo..."

"Aku hanya ingin melihat Sasuke-kun." Jawab Hinata dengan suara dipelankan. Kemudian terdengar nada tidak suka dari Hanabi, "Sudahlah nee-chan hentikan semua ini. Lupakan dia."

"A-Aku ha-"

"Hentikan nee-chan!" Kini Hanabi mulai meninggikan suaranya, "Nee-chan hanya akan menyakiti diri nee-chan."

Tidak ada lagi suara dari Hanabi atau pun Hinata. Mereka diam sampai Hanabi sendiri yang memutuskan sambungan telpon.

"Aku ingin pergi…" Hinata berucap pada dirinya sendiri. Karna di taman itu hanya ada Hinata seorang.

"Kemana?"

Hinata terkejut ketika Gaara ternyata ada di dekatnya. Padahal ketika dirinya bangun tadi pagi ia tak melihat Gaara. Dan Hinata kira Gaara sudah pergi untuk mengurusi perusahaannya.

"Kemana?" Tanya Gaara lagi.

Hinata bergerak gelisah, "Ke pe-pemakaman." Tutur Hinata dengan menunduk pada akhirnya.

"Ayo kutemani." Ucapan Gaara.

Perkataan Gaara membuat Hinata merasa tidak nyaman. Hinata pun berfikir untuk menolak kebaikan Gaara, namun sebelum itu Gaara sudah menarik tangan Hinata.

-0o0o0-

Hinata dan Gaara akhirnya sampai juga di tempat yang dimaksudkan Hinata. Kini Hinata memegang sebuah bunga yang dibawanya untuk pemakan tersebut.

Gaara terus saja berjalan mengikuti Hinata yang berada tiga langkah di depannya. Dahinya berkerut ketika memperhatikan tingkah Hinata yang selalu menoleh pada dirinya. Bahkan Hinata hampir saja menambrak pengunjung makam lain karena ia tidak melihat arah langkahnya.

"Hinata." Panggil Gaara yang mulai berjalan mendekati Hinata, "kau tak apa?"

Hinata menggeleng menjawab pertanyaan Gaara. Mereka kembali berjalan dengan posisi yang sama hingga langkah Hinata kembali terhenti.

Gaara melihat Hinata yang berhenti dan melihat ke arah dirinya. "Ada apa?"

"I-Itu bi-bisa berjalan di sampingku saja." Ucap Hinata dengan gugup.

Tingkah Hinata membuat Gaara ingin tertawa, tapi ia menahan diri. Sekarang mereka berjalan beriringan hingga Hinata menunjuk sebuah makam. "I-Itu…"

Mereka berjalan mendekati makam itu dan diatas baru persegi yang ditunjuk HInata tadi tertulis nama UCHIHA SASUKE. Marga yang sama dengan marga Itachi, nama yang sama dengan perkataan pelayan restoran sebelumnya.

Gaara melihat Hinata berjongkok dan meletakkan bunga yang tadi dipegangnya di atas batu tersebut.

"Sa-Sasuke-kun…" Hinata mengucapkan nama orang itu dengan suara parau. "Maaf… Maafkan aku Sasuke-kun."

Gaara semakin bingung melihat Hinata yang sudah menitikkan air mata dan meminta maaf berulang kali. Merasa tak tega melihat Hinata, Gaara pun berjongkok dan memeluk Hinata. "Tenanglah…"

Sesenggukan terdengar dari bibir Hinata dimana Hinata pun memeluk Gaara dengan kuat. "Berhentilah menangis." Bilang Gaara sambil mengelus kepala Hinata.

Tak lama Hinata kembali terlihat tenang dan melepas pelukan Gaara.

"Ga-Gaara-kun i-ini makam Sasuke-kun." Hinata berucap tanpa memandang Gaara, "Di-dia adiknya Itachi-nii dan ca-calon tunanganku se-sebelum ke-kejadian hiks itu."

Gaara tidak tahu harus merespon apa atas perkataan. Sebenarnya ingin mengetahui lebih banyak hal lagi mengenai Sasuke dan istrinya itu. Tapi melihat kondisi Hinata sekarang sangat tidak mungkin untuk menanyai nya.

"A-Aku akan menceritakan hubunganku dulu dan Sasuke-kun." Tambah Hinata setelah keterdiaman mereka beberapa saat tadi.

"Tidak perlu dipaksakan jika kau tidak ingin." Ucap Gaara.

Hinata menggeleng, lalu menatap ke arah Gaara. Lebih tepatnya ke retina Gaara. "A-Aku akan menceritakannya."

TBC

Terima Kasih Telah Bersedia Membaca Karyaku

Jika Kamu Berkenan, Favorite-Follow-Review Cerita ini.

HORAS!