Chapter 6
.
Author : SuzyOnix
Title : My Name Just Sasuke!
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Supernatural, Hurt/Comfort
Pair : Uzumaki Naruto X Uchiha Sasuke
Rating : M
Warning : YAOI! BL! OOC! LEMON! MpregFuture! Typo(s), AU! BadLanguage!
Don't ike Don't read !
.
.
Chapter 6 : It's not just lust!
.
.
Suara bising para pengunjung rumah makan disini, sedikitpun tak menganggu ketenangan kami berempat menyantap makanan. Sebenarnya dari kami berempat, hanya aku yang belum menyentuh makanan ini sama sekali.
Tepat di seberang meja ini, Shikamaru memakan daging sapi barbeque porsi besar dengan lahap. Ia tetap memanggilku dengan panggilan yang sama seperti pagi tadi setelah aku bangun tidur. Sasu-chan. Aku memang marah, tapi kemarahanku tak sampai padanya. Ia kurang peka dengan sikapku. Ia mungkin tidak bermaksud mengejekku, jadi aku mencoba untuk tidak ambil pusing dengan panggilan yang ia berikan padaku.
Disebelahnya, ada Kakashi dengan Takoyaki dan beberapa botol sake kosong dihadapannya. Ia tak menunjukkan tanda-tanda akan mabuk, padahal setelah memakan satu porsi Takoyaki-nya ia telah menenggak habis tiga botol sake. Perlu diketahui, Kakashi memakan dan meminum ini semua tanpa masker hitamnya—tentu saja. Ia menurunkan maskernya sebatas leher, hingga wajah tampan yang putih bersih itu nampak. Ia tak cacat sedikitpun. Sungguh, ia sangat tampan. Kulitnya putih, hidungnya bangir, dan bibir tipisnya itu nampak mengkilat ketika sake yang ia minum memolesnya. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa ia memakai masker walaupun wajahnya sangat tampan? Takut jika kulitnya yang putih bersih akan menghitam? Hahaha—Non sense!
Kekasihku—Naruto duduk disebelahku. Seperti biasa, ia tengah memakan helaian mie ramen yang sangat berlemak. Kentara sekali jika lemak yang terkandung didalam kuah kentalnya sangat berlebih. Aku jadi heran kenapa tubuh Naruto tidak kunjung gemuk, ketika satu kali makan ia menghabiskan tiga porsi ramen? Tidak—tidak boleh. Naruto tidak boleh gemuk. Orang yang memiliki berat badan berlebih akan mudah terserang penyakit. Aku tidak mau Naruto sakit!
'Aku tak akan membiarkan ia makan ramen lagi!', tekadku.
Aku? Aku lebih memilih mengaduk makanan yang ada di piring ini. Sedikitpun tak ada nafsu makan yang menghampiriku saat ini. Difikiranku, masih terbayang tentang kejadian pagi tadi di kamar mandi.
Setelah ia—uh! Memelukku, hanya dalam satu kedipan mata ia telah menghilang dari pandanganku. Yang terahir kuingat adalah suara pintu yang ditutup di belakang punggungku, dengan teriakan 'Ku tunggu di luar,' dari celah bibir merah pucatnya.
Aku tahu, itu mustahil. Ia melakukan semua hal mustahil itu dengan mudah seolah-olah dirinya bukan manusia. Itulah yang menjadi pertanyaan besar di kepalaku. Tapi, itu bukan poin terpenting yang bercokol di otakku. Ada hal lain lagi.
Sebelumnya, aku memang merasakan suatu hal yang aneh di bagian bawahku ketika ia memelukku, dan aku tahu itu apa. Di bangku sekolah menengah atas, hal itu dipelajari dalam pelajaran biologi_Reproduksi. Oke—memang tidak secara mendetail. Tapi perkataan-perkataan nista yang dijejalkan para Uchiha pada otak jeniusku, membuatku tahu. Terutama hubungan intim sesama laki-laki.
Satu kesimpulanku, ia 'tegang'.
Tapi, aku menjadi sangat rendah mengetahui hal yang satu ini. Lagi-lagi masalah gender, aku ini laki-laki. Aku tak mungkin bisa hamil dan melahirkan anak layaknya perempuan.
Setiap orang pasti mengharapkan buah hati sebagai pelengkap hidup, penerus keturunan mereka. Dan aku yakin pasti Naruto juga seperti itu. Ia pasti menginginkan anak, sebagai penerus keturunannya. Walaupun aku belum pernah berhubungan intim dengannya, aku yakin aku tak akan bisa menghasilkan anak. Aku tak mempunyai sel telur dan rahim. Aku hanya memiliki sel sperma sama seperti laki-laki pada umumnya. Dan dua sel sperma yang digabungkan tak akan membentuk embrio yang kelak akan menjadi bayi.
Seharusnya Naruto tahu akan hal itu.
Tapi, tunggu dulu—apa yang kupikirkan?! Aku berfikir seolah-olah aku dan Naruto akan melakukan hubungan intim saja. Lagipula, saat ini aku hanya kekasihnya. Dan hal itu tak berarti jika aku dan Naruto akan berhubungan seks lalu menikah bukan? Bodohnya aku!
Hubungan sepasang kekasih bisa putus kapan saja, right?
Jujur, aku masih belum yakin terhadap perasaan cinta Naruto padaku.
Aku mungkin mempunyai pemikiran jika sesungguhnya Naruto tidak mencintaiku. Ia tidak menginginkanku. Mungkin saja ia hanya menginginkan tubuhku. Seperti yang pernah aku dengar tentang masalah remaja masa kini. Seorang laki-laki yang mengatasnamakan cinta dalam hubungan seks. Setelah laki-laki itu mendapat semua yang ia mau, ia akan bersikapa tidak peduli pada kekasihnya. Dan pada akhirnya, si laki-laki akan memutuskan kekasihnya jika telah merasa bosan. Apakah benar Naruto juga seperti itu? Apakah ia akan membuangku jika sudah merasa bosan terhadapku? Membuangku seperti apa yang dilakukan para Uchiha? Karena aku laki-laki?!
Aku tak ingin Naruto membuangku, karena aku sangat mencintainya!
.
-sign-
.
Sepasang mata merah milik wanita itu memandang seorang remaja yang berada di salah satu meja di rumah makan dari balik kegelapan. Kedua matanya berkilat penuh amarah.
"Jadi dia yang dimaksud Asuma-sama," ia bergumam dengan lirih. "Aku punya saingan baru."
"Sasuke.." Bibir merahnya menyunggingkan senyum dingin. "Huh? Siapa tiga laki-laki bersamanya itu?" ia bertanya pada udara kosong.
Ia terdiam sejenak sebelum kembali berguman. "Hmm.. mereka bertiga bukan orang biasa. Aku harus berhati-hati.."
"Aku harus melapor.." dan sosoknya hilang dalam kegelapan.
.
-sign-
.
Satu meja di rumah makan itu menjadi pusat perhatian oleh para pengunjung lain. Sebuah meja yang diisi oleh tiga pemuda tampan dan satu remaja berwajah manis. Mereka tak memperhatikan secara terang-terangan keempat orang itu, namun mereka sesekali melirik keempat orang itu.
Naruto melirik Sasuke malaui ekor matanya. Ia heran kenapa Sasuke tak menyentuh makanannya sama sekali. Yang Sasuke lakukan hanya mengaduk makanan di atas piring itu hingga tak berbentuk, dengan pandangan yang kosong. Raut wajahnya juga muram. Ia jadi khawatir dengan keadaan Sasuke saat ini. Apa benar yang dikatakan Kakashi malam tadi, bahwa keadaan mental Sasuke saat ini terganggu.
"Sasuke," Naruto memanggil dengan baritone khasnya. Sasuke tak kunjung menoleh padanya, sehingga Naruto melanjutkan. "Jangan hanya dilihat, makanlah.."
Sasuke masih bergeming dengan pandangan kosong.
Mendengar perkataan Naruto, Kakashi dan Shikamaru yang larut dalam makanannya berhenti melahap makannya. Ia memandang Sasuke dengan raut wajah heran.
'Damn! Aku terlalu fokus pada makananku, sehingga tidak sempat melihat Sasuke,' batin mereka berdua merasa bersalah.
Kedua pasang mata itu menoleh pada Naruto secara serempak. Mereka memandang Naruto dengan pandangan bertanya, yang direspon Naruto dengan gelengan kecil.
"Sasuke!" Naruto berseru kaget ketika ia memandang Sasuke lagi. "Kau menangis?" ujarnya tak percaya.
"Eh?" Tubuh Sasuke tersentak kaget. Ia meraba pipinya, dan merasakan cairan hangat di telapak tangannya. "Ti—tidak," ia menyangkal dengan suara serak. Ia menghapus jejak dipipinya dengan kasar. 'Sejak kapan?' batinnya. Kedua mata hitamnya memandang kesana-kemari, asalkan bukan mata biru Naruto yang mengintimidasinya. Serta banyak pasang mata memandangnya ingin tahu, termasuk Kakashi dan Shikamaru.
Naruto menghela nafas berat. Ia menggeser duduknya pada kursi panjang yang mereka duduki dengan posisi sedikit miring menghadap Sasuke. Sebelah tangannya menarik pinggang Sasuke hingga kepala Sasuke bersandar pada dadanya. "Apa yang kau pikirkan, heum?" katanya.
"Tidak ada," ia menggeleng dalam pelukan Naruto.
"Jangan,"
Sasuke bingung. "Huh?" ia mendongak menatap mata biru Naruto.
Sebelah tangan Naruto yang bebas mencubit hidung mungil namun bangir milik Sasuke dengan gemas, membuatnya sedikit berwarna merah. "Jangan berbohong pada kekasihmu ini," katanya disertai senyum tipis.
Cup~
Pekikan kaget terdengar hingga ke inderanya. Kelopak mata Sasuke berkedip dengan lucu. Sedetik setelah mengetahui bahwa Naruto telah mencuri ciumannya, tepat dibibir, ia bisa merasakan wajahnya memanas hingga telinga. "Na—Naru?"
Kedua pemuda yang berada pada satu meja bersamanya selain Naruto berseru. "Ka—kalian?!" pekik mereka tak percaya.
Ketika menoleh, Sasuke mendapati wajah kedua pemuda itu kaget dengan rona tipis di pipinya. Dan lagi, ia juga melihat para pengunjung lain yang tengah memalingkan wajah merahnya. Oh~ Naruto sungguh keterlaluan. Mencium seseorang di depan publik bukanlah tindakan yang terpuji. Dan lagi, mereka berdua laki-laki. Apakah Naruto melakukan itu dengan sangat sadar.
Melihat keterkejutan kedua kawannya, Naruto menyerigai puas. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Sasuke dengan possessive. "Dia kekasihku," katanya dengan nada bangga.
"Hah?" kedua pemuda itu menganga dengan bodohnya. Yang mereka tahu, semalam Naruto mengatakan bahwa hubungannya dengan Sasuke masih abu_belum resmi. Dan sekarang Naruto mengatakan bahwa Sasuke telah menjadi kekasihnya. "Sejak.. kapan?"
"Pagi tadi," jawab Naruto enteng. Ia mengecup puncak kepala Sasuke yang beraroma citrus.
"Huh? Jangan bilang jika kau menyatakan cintamu di kamar mandi?" Shikamaru yang terlebih dahulu sadar dari keterkejutannya menebak cepat.
"Yeah right," Naruto mengangguk mengiyakan.
Kakashi yang mendengarnya tersedak salivanya sendiri. Ia mendelik tajam pada sahabat pirangnya itu.
PLAKK!
"Ouch!" Naruto mengaduh disaat sebuah geplakan ringan dari Kakashi mampir dikepalanya. "Apa yang kau lakukan, bastard!" sejujurnya, geplakan ringan dari Kakashi sama sekali tak sakit. Hanya saja, ia melakukannya di tempat yang banyak orang. Lihatlah para pengunjung lain yang memandang ke meja mereka dengan pandangan ingin tahu. Mereka jadi pusat perhatian, man!
"Kau tak pernah melihat pasangan kekasih ya?" Kakashi berujar dengan nada menyelidik, membuat Naruto mengerutkan dahinya bingung.
"Apa maksudmu?"
"Menyatakan cinta di kamar mandi? The Hell! Kau sangat tidak romantis, Naruto!" disebelah Kakashi, Shikamaru yang mendengar dengan seksama hanya bisa menggelengkan kepalanya miris. Ia tak menyangka jika pengetahuan Naruto akan percintaan nol besar. Selama lima tahun terakhir hidupnya dalam mendampingi perjalanan Naruto, ia berfikir jika Naruto telah berpengalaman dalam segala hal, termasuk cinta. Namun nyatanya?
Naruto memang penuh kejutan. Batin pemuda Nara dengan serigai tipis.
Mengerti apa maksud Kakashi, Naruto tersenyum kecut. Ia mengarahkan pandangannya pada Sasuke yang sedari tadi memandang percakapannya dengan Kakashi tanpa berkedip. "Sasuke.. maafkan aku, ne?"
"Kau tahu, aku orang yang kaku dalam hal percintaan. Jujur saja, ini adalah pernyataan cintaku yang pertama dan… terakhir," Naruto berucap salah tingkah. Namun di mata birunya memancarkan kejujuran yang membuat Sasuke paham bahwa Naruto benar-benar mencintainya setulus hati.
Cintaku yang pertama dan terakhir ..
… yang pertama …
… dan …
… terakhir?
Wajah putih Sasuke memerah hingga telinga, membuatnya nampak lebih menggemaskan. "Be—benarkah?" tanya Sasuke menutupi rasa senangnya. Semua keraguannya akan cinta Naruto padanya menguap sudah.
Naruto tersenyum dengan tulus. "Tentu saja," ia merendahkan wajahnya dan mengecup dahi Sasuke yang masih nampak merah dengan penuh perasaan. Ya, Naruto tidaklah bohong dengan perkatannya. Ia mencintai Sasuke apa adanya. Bocah dengan tingkah laku manis yang membuatnya jatuh hati. Dan juga wajahnya yang menggemaskan membuat Naruto tidak bisa berpaling darinya. Ia bahkan tak lagi menyentuh orang lain semenjak terakhir kali ia lakukan pada wanita penghibur berambut pirang pucat dua hari yang lalu. Naruto ingin jika, Sasuke lah yang akan menjadi satu-satunya orang yang akan disentuhnya mulai saat ini hingga selamanya. Sasuke akan menjadi pasangan hidupnya, selamanya.
.
-sign-
.
Hari telah beranjak sore ketika sebuah mobil hitam yang mengkilat apik melintasi gerbang utama mansion Uchiha. Setelah mobil itu diparkir rapi di dekat garasi, seorang pria bertubuh kurus dan mengenakan pakaian ala pelayan, keluar dari pintu kemudi mobil itu. Ia memutari mobil dari depan dan bergegas menuju pintu penumpang di belakang sisi kiri. Tangannya yang mulai berkerut karena bertambahnya usia membuka pintu itu dengan kepala menunduk.
Seperti seorang pangeran bangsawan, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang berada di dalam mobil itu keluar dengan gaya yang sangat anggun. Ia memakai pakaian kasual berukuran pas pada tubuhnya. Dengan kaos merah polos berlengan pendek dan celana jeans panjang berwarna hitam, membuat sosoknya terlihat sangat tampan. Walaupun sebuah perban tebal membalut sebelah lengannya, yang dikalungkan pada lehernya.
Sebelum melangkahkan kakinya, ia melihat bangunan mewah dihadapnnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Itachi!" sebuah panggilan familiar membuatnya menoleh. Di ambang pintu masuk, seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik melambaikan tangan padanya.
Tatapan pemuda itu berubah dingin. Namun, hanya beberapa detik sebelum sebuah senyuman manis ia tunjukkan. "Kaa-san.." langkah kaki jenjangnya bergerak mendekati wanita itu.
"Tadaima.." bibir tipisnya berucap dengan nada lembut.
"O—okaeri," suara bergetar dari wanita itu menjawab dengan sebuah terjangan pelukan. Ia peluk tubuh putranya itu dengan tangis yang membanjiri wajah putihnya yang mulai mengalami kerutan tipis tak kentara. "Kau baik-baik saja, bukan?"
Tekanan yang mengenai sebelah tangannya yang dibalut perban membuatnya meringis kecil. "I'm fine, kaa-san. Ugh—ini sedikit sakit.."
"Eh, ma—maafkan kaa-san, Itachi." wanita itu melepas pelukannya secara spontan.
"It's ok." Jawab Itachi maklum. Wanita yang melahirkannya dua puluh tiga tahun yang lalu ini memanglah sangat menyanyanginya melebihi segalanya. Tak peduli soal apapun itu, dirinyalah yang paling diutamakan oleh kaa-sannya. Semua yang dibutuhkannya selalu terpenuhi.
Tapi, ada satu hal yang membuatnya tidak bisa balik menyayangi kaa-sannya. Yaitu.. tabiat buruk kaa-sannya selama ini. Karena keegoisannya, orang yang sangat jelas tidak bersalah harus menjadi korban.
Diatas itu semua, ia juga tidak membenci kaa-sannya. Entah kenapa, ia tak bisa membenci kaa-sannya. Dirinya pernah mencobanya tapi semua itu sia-sia, dan iapun menyerah untuk membenci kaa-sannya. Ia hanya perlu tidak menyayanginya.
"Maafkan kaa-san karena tidak bisa menunggumu di rumah sakit. Saat kau dirawat, kaa-san ada urusan penting yang tak bisa ditinggal. Tou-sanmu juga," wajah basah itu memandangnya lekat penuh rasa bersalah, membuatnya terlihat seperti wanita lemah.
Itachi meringis kecil melihatnya. Di sudut hati kecilnya, ia merasa sedikit nyeri. "Ayo kita masuk kedalam, di luar dingin," Itachi berkata dengan anggukan. Sebelah tangannya yang bebas menggandeng pundak kaa-sannya. Setelahnya, ia masuk ke dalam mansion dengan senyum kecut yang tidak diketahui kaa-sannya.
Mungkin, inilah yang membuatnya tidak bisa membenci kaa-sannya. Kaa-sannya memang egois, tapi ia tak ubahnya seperti kaca porselen mahal. Sangat cantik, namun juga sangat rapuh.
'Kapan kau akan menyadari keegoisanmu, kaa-san?'
.
-sign-
.
To:Hyuga Hinata
From :Inuzuka Kiba
Hinata-san, pemuda bernama Naruto itu pergi dari distrik Shibuya dan pergi menuju Ota menaiki kereta api. Ada tiga orang bersamanya.
Pertama, ia bernama Hatake Kakashi. Tubuhnya tegap, warna rambutnya putih, dan ia selalu mengenakan masker hingga menutupi sebagian wajahnya. Dari aroma tubuhnya, aku yakin jika dirinya bukanlah manusia. Ia semacam iblis, namun bukan iblis rendahan. Kakashi iblis berkelas, baik mengenai rupa dan kekuatannya.
Kedua, ia bernama Nara Shikamaru. Tubuhnya kurus namun tinggi, rambutnya berwarna hitam dengan kuncir tinggi menyerupai nanas. Kebiasaannya selalu menguap bosan dan bergumam 'Mendokusai' tiap waktu. Sama halnya dengan Kakashi, ia juga bukan manusia biasa. Ia sama sepertiku—Werewolf. Akan tetapi, ia bukanlah werewolf tipe ganas melainkan tipe jinak. Ia tak memakan daging manusia. Makanannya hanya daging hewan dan juga makanan manusia pada umumnya.
Ketiga, namanya Sasuke. Untuk yang satu ini, aku tidak mengetahui nama keluarganya. Tubuhnya pendek dan berisi, membuatnya nampak mungil namun mengagumkan. Wajahnya cantik dan manis, walupun pada dasarnya dia adalah laki-laki. Kali ini, remaja ini benar-benar manusia biasa. Hanya saja, tingkah lakunya tidak seperti remaja kebanyakan. Sikapnya sangat.. unik. Satu hal lagi, Sasuke adalah kekasih dari Naruto.
Saya akan mengikuti mereka menuju Ota, jadi sekian yang bisa saya sampaikan untuk saat ini.
Send.
.
After Fifeteen minutes.
.
To:Inuzuka Kiba
From: Hyuga Hinata
Ada iblis dan werewolf bersama Naruto-kun? Dan juga, siapa Sasuke itu?! Kekasih kau bilang?! Naruto-kun sudah memiliki kekasih?!
At all, siapa bilang kau boleh memuji orang lain dihadapanku, heh! Lancang sekali kau!
Oh my~ aku tak menyangka jika Naruto-kun telah berubah menjadi Gay!
The Hell! Aku pasti lebih seksi dari pada bocah homo bernama Sasuke itu! Kenapa juga Naruto lebih memilihnya dari pada aku?!
Kau, Kiba! Terus awasi mereka, terutama Naruto dan Sasuke brengsek itu!
Singkirkan Sasuke dari Naruto, jika perlu bunuh sekalian! Aku tak ingin ada penganggu yang akan merusak rencanaku!
Send.
.
Kiba, pemuda bertubuh kurus dan berambut coklat itu sedikit merinding membaca e-mail dari Hinata. Pesan yang sangat kentara sekali jika terdapat amarah besar dalam setiap kalimatnya, terutama yang menyangkut kekasih dari Naruto.
Ia diminta untuk menyingkirkan Sasuke?
Fuck you! Batin Kiba menjerit frustasi. Apakah wanita bernama Hinata itu sudah gila?! Meminta dirinya untuk membunuh seorang manusia yang dikelilingi tiga monster?
Damn! Sudah pasti jika dirinya menolak. Ia tak mau mati sia-sia. Biarlah uang banyak ia tinggalkan, asalkan ia tak mengambil resiko untuk mati.
.
To: Hyuga Hinata
From: Inuzuka Kiba
I'm so sorry, Hinata-san. I think you're going to crazy!
Pekerjaanku hanyalah menjadi stalker, bukan untuk membunuh. Harus kuakui, membunuh manusia memanglah mudah, semudah mematahkan batang kayu lidi. Tapi jika batang kayu lidi itu dikelilingi tiga buah batu besar, Impossible! Aku tidak akan mampu, Hinata-san.
Aku menolah untuk membubuh atau lain sebaginya.
Send.
.
Wanita di seberang sana menggeram murka.
.
To: Inuzuka Kiba
From: Hyuga Hinata
Dasar pengecut! Seharusnya dari awal aku tidak memakai jasa buruk-mu itu. Kembalikan uangku!
Send.
.
Membaca pesan tersebut, Kiba menyerigai.
.
To: Hyuga Hinata
From: Inuzuka Kiba
No way! Sesuatu yang telah diberikan tidak bisa ditarik kembali.
Aku bukan pengecut, bitch! Jaga bicaramu! Aku hanya belum ingin mati, itu saja.
Send.
.
Gezz! Dia sama sekali tak bisa diandalkan! Wanita bernama Hinata itu menggerutu di kamar hotel yang ia tempati.
Aku harus mencari tahu sendiri jika telah seperti ini!
.
To: Inuzuka Kiba
From: Hyuga HInata
It's over, allright!
Aku tak butuh kau lagi, dasar anjing! Aku bersumpah akan membunuhmu jika aku bertemu denganmu lagi, sama halnya dengan Sasuke yang akan kumusnahkan dari muka bumi ini.
Hope you die right now.
Send.
.
Seperti aku takut padamu saja, sialan! Kau itu hanya kutu dimataku! Batin Kiba tak peduli. Kedua mata coklatnya melirik kedepan, dimana Naruto beserta yang lainnya berada beberapa meter didepannya.
.
To: Hyuga Hinata
From: Inuzuka Kiba
Yeah, allright!
Fuck you, bitch!
Send.
.
Danpada akhirnya, kerjasama di antara merekapun gagal total.
Wanita berambut indigo itu mengumpat sial. Uang yang diberikannya kemarin tidaklah sedikit, dan itu harus terbuang sia-sia tanpa guna. Pesan berguna yang ia terima hanya: Naruto menuju ke Ota.
Ota… Ota… Ota…
Ah! Seperti menang lotre besar, bibir sewarna darah itu menyerigai licik.
Aku tak akan melepaskanmu, Naruto-kun~
.
-sign-
.
Sasuke meregangkan otot-ototnya yang kaku karena duduk di dalam kereta selama semalamam. Setelah makan pagi kemarin, ternyata Naruto membawanya ke stasiun kereta. Naruto berkata padanya bahwa mereka akan berangkat menuju Ota_salah satu dari dua puluh tiga distrik khusus di Tokyo.
Petang ini setelah mereka sampai di Ota, mereka akan mencari penginapan untuk bermalam selama sehari.
"Naruto, sebenarnya kita akan kemana?" Sasuke tak tahan lagi. Ia sungguh penasaran kemana Naruto akan membawanya. Sebelumnya, tempat paling jauh dari mansion yang ia kunjungi adalah sekolah, yang berjarak tujuh kilometer dari mansion. Sungguh, ia tak pernah pergi jauh dari mansion selama enam belas tahun hidupnya. Dirinya baru menyadari bahwa selama ini ia hanyalah seekor burung dalam sangkar. Tapi kali ini, ia merasa bebas. Tak ada lagi Uchiha yang mengikat hidupnya. Hanya ada seorang terkasih yang akan menuntunnya menuju kehidupan masa depan.
"Kita akan ke Paris, Suke-chan.." jawab Naruto seraya membenarkan letak ransel berukuran sedikit besar di bahunya. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kotak kayu berbentuk persegi panjang. Ukurannya kecil dan ramping, membuat Sasuke bertanya-tanya apa isinya.
Di belakang mereka berdua, Kakashi dengan masker hitamnya dan Shikamaru yang selalu menguap bosan, tengah berjalan santai. Sama halnya seperti Naruto, dibelakang punggung mereka berdua terdapat ransel, namun dengan ukuran cukup besar.
Sedangkan Sasuke, ia hanya membawa ransel kecil berisi uang dan makanan ringan yang tersisa selama perjalan menuju Ota. Semua barang-barangnya yaitu pakaian termasuk dokumen pentingnya berada di ransel Naruto. Awalnya Sasuke juga ingin membawa ransel berisi banyak seperti halnya mereka, tapi Naruto menolak tegas. Naruto khawatir jika dirinya akan kecapaian. Ia juga mengingatkan jika yang mereka lakukan adalah perjalan jauh, entah kemana, Sasuke belum tahu.
Untuk saat ini, Sasuke tidak terlalu memperdulikan panggilan dengan suffix 'chan' yang diberikan Shikamaru, ataupun kekasihnya sendiri. Suke-chan. Itu panggilan konyol menurut Sasuke sendiri. Terlalu berlebihan bagi dirinya yang seorang laki-laki. Marahpun bukanlah pilihan tepat. Sangat tidak berguna. Sebaliknya, Kakashi dan Shikamaru selalu mentertawainya saat dirinya marah. Lebih menggemaskan, itulah yang mereka katakan padanya. Kakashi yang semula memanggilnya tuan muda, kini juga memanggilnya sama seperti Shikamaru. Sasuke tahu, mereka berdua pasti sekongkol. Naruto juga sama.
"Kau—apa? Pa—paris?" Sasuke yakin pendengarannya tidaklah terganggu sedikitpun. Naruto berkata padanya bahwa mereka akan pergi ke Paris, negara maju yang berada jauh di benua barat. Apa dirinya sedang mimpi?
"Ya, kita akan melakukan kunjungan ke Paris sebelum kita pulang," Naruto menjawab dengan senyum tipis. Ini memang bukanlah tujuan sebenarnya selama dirinya melakukan perjalan lintas Negara. Tujuan awal ia melakukan perjalanan adalah bersenang-senang, hanya itu. Dilain itu, iapun juga punya tujuan lain. Akan tetapi luasnya dunia ini membuatnya tak bisa berharap banyak akan menemukan orang yang amat dibencinya sedari dulu.
Dibalik itu semua, Naruto tak menyangka jika dirinya akan menemukan pedamping hidup, calon istrinya. Ia dulu berfikir jika seorang istri tidaklah penting. Seorang pedamping, baginya akan sangat merepotkan. Usianya tidaklah singkat. Entah hingga tahun keberapa dirinya akan mati, ia tak tahu. Yang dirinya tahu ialah, ia akan hidup panjang. Dan itulah yang membuat ia berfikir jika hingar bingar dunia ini haruslah dinikmati. Tidak hanya untuk dilihat, tapi juga dirasakan.
Tapi kini, pemikirannya berbalik seratus delapan puluh derajat setelah bertemu dengan Sasuke, malaikat hatinya. Entah keistimewaan apa yang dimiliki oleh Sasuke hingga dirinya begitu menginginkannya, memutar balik kewaransannya hanya dengan sikap polos bocah manis itu.
Ia tak lagi peduli pada pencariannya terhadap orang itu. Cukup sudah. Jika dirinya bukanlah orang yang akan menghukum perbuatan keji-nya, biarkan orang lain yang menghukumnya.
Naruto rasa, perjalannya harus segera diakhiri. Ia akan pulang. Mengenalkan calon istrinya pada Dad and Mom-nya. Dan ia akan menikahinya disana. Ia akan fokus pada masa depan dirinya dan Sasuke. Menetap di Negara tempat tinggalnya dan mengurus istri cantiknya.
Ke paris. Ini akan jadi perjalan terakhir mereka sebelum benar-benar pulang. Melihat betapa polosnya Sasuke akan dunia, membuatnya berfikir bahwa Sasuke memerlukan hiburan berupa lingkungan baru selain di Shibuya, Jepang. Ia akan mengajak Sasuke menaiki salah satu dari tujuh keajaiban dunia disana. Mungkin menetap selama beberapa minggu disana bukanlah pilihan yang buruk, sebelum kepulangannya.
Bukankah ini rencana yang sempurna?
"Naruto? K—kau bercan—da?!"
Naruto menyerigai tipis mendengar nada tak percaya dari Sasukenya. "Kita bicarakan ini setelah sampai di hotel, Suke-chan.." ujarnya tenang. Ia bisa melihat rona merah yang cantik menjalar di pipi putih kekasihnya. Bukan, itu bukan karena marah, Naruto yakin itu. Rona cantiknya muncul karena ia sedang tersipu. Jika Kakashi ataupun Shikamaru yang memanggilnya, rona itu karena marah. Ia bisa melihat semuanya dengan jelas, tidak seperti kedua kawannya yang sama sekali tidak peka.
Stasiun kereta itu sangat ramai. Lalu-lalang orang sibuk dengan segala urusan tertentu, mirip seperti lautan manusia. Pantas saja, stasiun kereta itu adalah stasiun Tokyo yang termasuk dalam jaringan JR East yang memegang jaringan terbesar di Tokyo, Jepang.
Sebelah tangan Naruto yang bebas mengandeng tangan Sasuke, berjaga agar Sasuke selalu disisinya dan tak terbawa arus manusia di satsiun itu. Ia tak lagi mengindahkan Kakashi dan Shikamaru yang tertinggal di belakang. Mereka bukan bocah, pastinya mereka tak akan tersesat. Berbanding terbalik dengan Sasuke yang awan selain sekolah dan rumah.
Sasuke tak lagi bertanya lebih. Ia percaya sepenuhnya kepada kekasihnya. Ia tahu pasti bahwa nanti dirinya akan mendapatkan penjelasan secara rinci, kemana dan kapan mereka akan pergi ke Paris, dan juga.. pulang.
Sasuke memang tak pernah mendatangi segala tempat di Tokyo, tapi disekolah menengah atas, ia mempelajari bagian-bagian negaranya beserta segala hal tentang Jepang. Sasuke juga tahu jika di distrik Ota, terdapat Bandar Udara Internasional Tokyo, yaitu Haneda. Sasuke tak tahu pasti letaknya dimana, entah dibagian utara atau tengah. Tapi yang pasti bandara itu ada.
Mengenai kata Naruto tentang 'pulang', Sasuke sama sekali tak pernah memikirkannya. Selama perjalan mereka di kereta tadi, obrolan ringannya dengan Naruto beserta Kakashi dan Shikamaru membahas mengenai kehidupan mereka sebelumnya. Mereka tinggal secara nomadem, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Saat Sasuke bertanaya alasan mereka melakukannya, Kakashi dengan santai menjawab sekedar untuk bekal hidup kedepannya. Sasuke tak tahu Kakashi berbohong atau tidak. Pancaran mata Kakashi selalu tenang, membuat dirinya tidak bisa menebaknya dengan benar. Saat bertanya pada Naruto ataupun Shikamaru, hanya sebatas senyum tipis yang mereka berikan. Sasuke mulai berfikir bahwa dibalik wajah tampan dan ramah mereka, menyimpan banyak rahasia.
Sebuah hotel berkelas di seberang jalan sana ialah tujuan Naruto akan menginap selama beberapa hari. Sebelum berangkat, Naruto harus mengurus paspor dan visa Sasuke terlebih dahulu. Ah, tidak. Ada baiknya jika, biarkan Kakashi atau Shikamaru yang mengurusnya. Menemani Sasuke on time, ialah ide bagus untuk berduaan dengan calonnya.
.
-sign-
.
Seorang wanita berambut indigo ala pony tail itu menyeret koper besarnya dengan buru-buru menuju pintu lift. Wajahnya dirias dengan make-up tipis, selain pada bibirnya yang dipoles gincu tebal sewarna darah. Pakaiannya terbuka, memperlihatkan tubuhnya. Di bagian atas, ia memakai kaos singlet ketat berwarna hitam yang hanya menutupi bagian dada besarnya, membuat perut ratanya terpapar oleh pandangan orang lain . Sebuah jaket dengan resleting yang tak ditutup membalut kaos singletnya. Ada bulu-bulu putih di bagian kerah jaket ungu yang dipakainya. Di bagian bawah, jeans ketat sebatas setengah paha melekat apik di tubuh pucatnya. Berkesan sexy and naughty.
Ia menunggu dengan tidak sabar di depan pintu lift yang masih digunakan.
Thing!
Sebuah suara pintu lift yang berdenting membuatnya bersiap. Ia telah menggenggam koper besar itu sebelum akan menaiki lift dan turun menuju pintu keluar hotel mewah ini.
Tapi, langkah kakinya yang akan menaiki lift terhenti seketika saat mata amethys-nya mendapati suari pirang familiar milik seseorang di dalam lift itu. Orang berparas tampan dan mempesona itu tersenyum manis pada remaja yang berada di sampingnya. Tubuhnya membeku.
Di detik setelahnya, pemuda pirang itu menoleh, membuat mata mereka bertemu.
Biru dan Amethys.
Seketika, senyum yang tadi bertengger di bibir merah pucat pemuda itu lenyap. Wajahnya berubah datar, dengan pancaran aura dingin yang dapat dirasakan wanita itu dengan jelas.
Tubuh wanita itu menggigil untuk sesaat. "Na—naruto-kun?" suara wanita itu berubah menjadi serak. Dadanya meluap tak tentu.
Naruto_pemuda pirang itu menuntun seseorang yang berada di sampingnya untuk keluar dari kotak lift. Berikut dengan dua pemuda lain dibelakangnya yang mengikut tanpa kata.
"Hyuga.." suara datar itu mengalun dengan ketengangan tinggi, juga tatapan pemuda itu yang sangat dingin dan menusuk. Tangannya yang sedari tadi mengandeng tangan remaja disampingnya dilepas, dan menjulur untuk meraih pinggang ramping milik kekasihnyanya dengan possessive.
Melihat perlakuan pemuda pirang itu pada remaja bermata dan berambut hitam, tubuhnya bergetar nyeri. Inikah yang dimaksud si bastard itu?
"I'm glad to see you again, Naruto-kun." Suara yang dibuat semanis itu terdengar panas di telinga keempat orang didepannya. Nada yang berkesan sok akrab itu membuat Naruto muak. "Sudah berapa lama kita tidak bertemu. Berapa ratus tahun'kah?" wanita itu tersenyum miring melihat keterkejutan kekasih Naruto. Kalimat terakhirnya mungkin membuat Sasuke syok. Hinata menduga jika kekasih pemuda pirang itu tidak tahu sama sekali, tentang siapa sebenarnya Naruto.
"Bad for me, Hyuga… and of course. This meet bad for you, too." Serigai tipis bertengger apik di bibir merah pucatnya. Ekor matanya melirik Sasuke yang mwnampakkan raut wajah tak percaya. Ah, Naruto hampir melupakan hal penting.
"Seperti dulu, kau sangat tampan Naruto-kun. Membuatku bertambah menginginkamu," wanita itu membusungkan dada besarnya dengan bangga. Ia mengerling nakal pada pemuda pirang itu. Menjadi wanita penggoda ialah ahlinya selama ini. Trik-trik yang selama ini ia gunakan untuk menahlukkan mangsanya selalu berhasil. Itu menambah kemungkinan jika Naruto akan tergoda dengan tubuh seksinya.
"Sangat tak mempan terhadapku, bitch!" Naruto menggeleng tak tertarik. Ia melihat tubuh seksi dihadapannya dengan jijik. Ia yakin jika tubuh itu sudah dijamah oleh orang ratusan orang yang berbeda, atau mungin ribuan orang? Fuck that! "Simpan saja sikap busukmu itu untuk jalang di luar sana. Kau menjijikkan! Dasar sampah!" suara itu sangat datar, namun sangat tajam. Perasaan Hinata bagai tertusuk duri mendengarnya. Ia buru-buru mengerjabkan matanya disaat cairan bening berlomba jatuh mengalir ke pipi pucatnya.
"Apa yang kurang dariku, Naruto-kun?!" Hinata berteriak murka. Batinnya mendidih mendengar perkataan Naruto. "Aku cantik, tubuhku juga seksi. Aku bahkan bisa membuatmu klimaks hanya dengan himpitan dada besarku." Tangannya bergerak menepuk dan meremas dada besarnya dengan percaya diri. "Tapi.. kenapa kau memilih dia Naruto-kun?! Dia laki-laki! Tubuhnya sedatar papan, ia tak akan bisa memuaskan nafsu besarmu, Naruto-kun! Dia hanya bocah homo murahan pemuas nafsu lelaki hidung belang diluar sana! Dia tak pantas untukmu! Hanya aku yang pantas mendampingimu, Naruto!" lelehan air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir keluar dengan deras. Ia tak peduli jika dirinya terlihat seperti wanita murahan di hadapan mereka, terutama Naruto. Perasaan rindu yang meluap didadanya tak bisa ia kendalikan. Setelah beratas-ratus tahun tak bertemu, ia akhirnya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang yang sangat dicintainya. Tapi, ia murka setelah mengetahui jika Naruto telah memiliki kekasih, apalagi seorang laki-laki. Tapi dalam batinnya, ia sedikit iri terhadap bocah itu. Kekasih Naruto memang manis, tapi ia menyangkal dan tak akan pernah mengakui itu semua.
PLAAK!
Sebuah tamparan keras menghampiri pipi pucat yang basah itu hingga merah. Pelakunya Naruto_tentu saja. "Beraninya kau menghina calon istriku, bitch!" Naruto menggeram murka, dengan mata birunya yang berkilat merah. Ia marah, sangat marah. Tak ada yang boleh menghina calon istrinya. Wanita satu ini memang sungguh keterlaluan sedari dulu! Ia tak salah jika membenci wanita itu seumur hidupnya. Lihatlah perbuatannya, ia bisa merasakan tubuh dalam pelukannya itu menegang dan bergetar. Dan lagi, perkataan vulgar Hinata membuat kemarahannya semakin tersulut. Dengan rasa percaya diri yang setinggi langit, ia mengatakan seolah-olah ia mampu membuatnya klimaks. Jangankan klimaks, ia tak akan 'bangun' walaupun wanita itu bertelanjang bulat dihadapannya sekalipun!
PLAKK!
Lagi, sebuah tamparan itu mendatangi Hinata lagi. Kedua pipinya telah basah dan merah sepenuhnya. Wajahnya yang cantik jelita nampak terkejut untuk kesekian kalinya. 'Naruto-kun, menamparku? Du—dua…kali?!'
Sedikitpun, tak ada lagi rasa iba dalam diri Naruto. Cukup sudah. Ia lelah berhadapan dengan wanita berhati batu didepannya ini. Baik dulu maupun sekarang, Hinata tetaplah Hinata. Wanita keji yang menghantui masa lalunya. Biarkan orang lain yang menghukumnya. Ia tak mau mengambil resiko jika wanita itu akan menghina Sasuke lebih jauh. Kondisi Sasuke saat ini masihlah belum baik benar.
Naruto kembali menuntun tubuh bergetar itu, diikuti oleh kedua sahabatnya yang sedikitpun tak bersuara sepatah katapun, melangkahkan kakinya melewati wanita yang masih syok dengan mata yang terbelalak lebar.
"Segera enyahlah, bitch!" bisik Naruto pada wanita itu sebelum melangkah menjauhinya, menenggelamkan wanita itu dalam kesunyian mencekam.
Wanita berparas cantik dan seksi itu terisak pelan. Kedua pipinya sakit, tapi hatinya lebih sakit, ah tidak, hatinya hancur menjadi serpihan debu. Naruto yang dikenalnya sebagai pemuda baik hati itu telah menaparnya hanya karena Sasuke! Bahkan, ia menamparnya dua kali tanpa pikir panjang, sedikitpun tidak ada keraguan dalam tindakannya.
Hinata baru menyadari, jika ia benar-benar telah melupakan hal paling penting semasa hidupnya. Kesalahannya di masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam kembali muncul ke permukaan. Kesalahan yang mungkin tak akan pernah dimaafkan oleh Naruto.
Ia.. ia telah …
'Aku telah—maafkan aku, Naruto-kun. Maafkan aku. Maaf, maaf, maaf …'
Setelahnya, ia memasuki lift dengan batin yang meninta maaf tiada henti.
.
-sign-
.
Naruto mengecup penuh sayang dahi Sasuke yang berkeringat, setelah menyelimutinya dengan selimut hangat sebatas dada. Seperti yang ia duga sebelumnya, mental Sasuke belum kuat. Cukup lama Sasuke menangis sesegukan di kamar hotel mereka akibat dari hinaan wanita itu padanya, hingga jatuh tertidur karena kelelahan.
Kedua kawannya berada tepat di samping kamar hotelnya. Mereka tak lagi bertanya setelah mengucapkan selamat malam. Mereka tak tahu apa-apa dengan masa lalunya, dan itulah yang membuat mereka tak berkomentar.
.
-sign-
.
Naruto masuk kedalam kamar hotel gelap itu tanpa suara. Ia takut akan membangunkan Sasuke yang tertidur lelap di atas ranjang.
Ia baru saja keluar untuk mencari makan. Ia sudah dua hari tak makan, membuat perutnya berkoar lapar dan tenggorokannya terasa kering. Seperti perkataannya beberapa waktu lalu, ia tak lagi bercinta lalu makan. Dirinya sungguh-sungguh hanya makan. Meminum darah mangsanya hingga kering lalu kembali menuju hotel.
Ia bergerak menyalakan saklar lampu di dekat pintu masuk.
Beep!
Dalam sekejab iris birunya yang memandang ranjang besar di ruangan itu terbelalak lebar.
Tak ada Sasuke yang terlelap beberapa jam lalu disana. Ranjang itu telah ditata rapi. Ketika melihat meja nakas yang seharusnya terdapat ransel hitam Sasuke, ia tak mendapatinya. Pun ketika ia melangkah menuju kamar mandi.
Kosong. Tak ada Sasuke didalamnya.
Kemudian, selembar kertas terlipat dua bagian yang sedikit menyembul di bawah bantal menarik perhatiannya.
Ia meraih kertas yang terasa basah di telapak tangannya dan membukanya.
.
Dear Naruto,
Naruto..
Aku berharap kau membaca surat ini ketika aku telah pergi jauh,
Naruto..
Aku ini laki-laki, bukan gadis seksi dengan sejuta kecantikan seperti dirinya. Aku tak memiliki apa yang wanita itu miliki. Mungkin perkataan wanita itu ada benarnya jika, aku tak pantas untukmu. Aku yakin kau akan mendapatkan yang lebih baik dari pada aku.
Naruto..
Aku benar-benar merealisasaikan bahwa aku… sungguh tak mengenal dirimu—sedikitpun.
Kejadian di kamar mandi tentang kecepatanmu berpindah tempat, dan juga—
-Sudah berapa lama kita tidak bertemu. Berapa ratus tahun'kah?-
—Perkataan wanita itu sungguh membuatku pusing. Yang kutahu, kau adalah seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh satu tahun. Dan kata 'berapa ratus tahun'kah' itu membuatku menyerah.
Hahaha—bukankah ini menggelikan? Aku kekasihmu, akan tetapi sekedar berapa usiamu aku tak tahu.
Uzumaki Naruto. Hanya itulah yang kutahu darimu. Pemuda tampan berambut pirang dengan senyum sehangat mentari. Kedua mata birumu yang jernih sangat mengagumkan, dan aku sangat menyukainya. Tatapan lembut yang kau berikan, juga kepedulianmu padaku membuat rasa cinta ini tumbuh tanpa kuminta.
Naruto..
Kau akan mengajakku ke Paris, dan ..pulang, benar?
Kau tahu? Itu semua terlalu berlebihan bagiku. Terbang melintas Negara tidak pernah terfikirkan olehku, bahkan dalam mimpi sekalipun. Sedari lahir, aku hanyalah sebuah boneka. Hidupku ditentukan dan penuh aturan, termasuk hukuman. Setiap melihat seekor burung yang melintas di angkasa, aku selalu berfikir jika ada baiknya aku menjadi seekor burung. Terbang bebas melintasi alam raya dengan kepakan sepasang sayap indah. Aku iri pada burung.
Jika kau mengajakku kesana, aku akan menjadi beban bagimu dan yang lain. Aku hanya manusia yang lemah. Dan aku sungguh tak ingin menjadi beban.
Naruto..
Kau mengatakan jika aku ini calon istrimu, benar? Andai kau tahu, betapa aku sangat bahagia ketika kau mengatakannya dengan lantang didepan wanita itu. Aku sangat berharap jika semua itu menjadi kenyataan. Menjadi istri dari orang yang sangat ku cintai, mana mungkin aku bisa menolak?
Menjalani hidup damai dengan orang terkasih, bukankah itu menyenangkan? Jujur, aku sangat menginginkannya.
Tapi, kukatakan sekali lagi. Aku ini hanyalah seorang laki-laki.
Semua orang yang menikah pasti akan mengharapkan keturunan, aku yakin kau juga seperti itu. Tapi, maaf. Aku tak punya rahim yang akan melahirkan keturunanmu. Itu hal yang mustahil. Itulah yang kuketahui di bangku sekolah. Hanya laki-laki dan perempuan yang bisa menghasilkan anak.
Maka dari itu, kau seharusnya mencari yang orang lain. Seorang gadis manis yang akan melahirkan keturunanmu di masa depan.
Naruto..
Aku berharap kau tidak lagi memakan ramen. Makanan itu sungguh tak sehat. Kau bisa sakit jika terus menerus memakannya.
Aku titip salam pada Kakashi dan Shikamaru, ya? Mereka orang baik, walaupun panggilan mereka padaku membuatku sedikit marah. Well—itu tak penting. Aku tahu jika mereka tak bermaksud seperti itu.
Uzumaki Naruto, aku sangat semuanya, aku sangat berterimakasih padamu. Rasa aman dan juga rasa cinta yang kau berikan padaku sungguh membuatku bahagia. Kau adalah orang pertama yang benar-benar menganggap keberadaanku.
Kumohon… jangan benci aku setelah ini. Aku hanyalah seorang pengecut yang tak bisa mengatakan semua ini secara terang-terangan.
Jaga dirimu baik-baik.
With Love,
Sasuke
.
Tangan Naruto bergetar ketika dia telah selesai membaca semuanya. Sasuke—di—dia—
"SASUKE—!"
Sebuah teriakan itu seolah menggema dalam ruang hotel yang ia tempati.
.
-sign-
.
Jalan besar yang dilalui Sasuke masih sangat ramai meskipun tengah malam hampir tiba. Ia berjalan melalui trotoar dengan pandangan kosong, tak peduli jika dirinya menabrak atau ditabrak oleh bahu pejalan kaki yang lain.
Ia tak tahu kemana tujuannya. Hatinya terasa kosong dan hampa. Suara bising lalu lalang kendaraan juga tak ia dengar. Hanya sepi yang bisa ia dengar.
Wajah dan hidungnya telah memerah karena menangis terlalu lama. Orang-orang yang melihat atau berpapasan dengannya memandangnya penuh iba.
Tidak. Sasuke tidak menginginkan tatapan iba seperti itu. Tatapan iba mereka seolah berkata jika dirinya adalah manusia paling menyedihkan di antara semuanya.
Langkah kakinya semakin cepat dan cepat, disaat bisik-bisik tentang dirinya mulai terdengar jelas di inderanya. Tak peduli apapun, ia terus berlari, melewati bangunan bangunan tinggi dan juga banyak toko yang berjajar rapi disisi kanan-kiri jalan besar. Hingga tanpa sadar, ia berlari menuju jalanan yang sepi.
Ia berhenti untuk memandang sekeliling. Sebuah jalan sepi tanpa siapapun. Hanya ada suara cicitan tikus yang ia linglung, dan kepalanya pusing.
Dan saat itulah, sebuah kain tiba-tiba menutup jalur pernafan dan mulutnya. Aroma asing memasuki indera penciumannya, membuat kepalanya bertambah pusing.
Ia meronta tak terima. Tangannya mencengkeram tangan lain yang menahan kain di depan jalur pernafasan dan mulutnya, mencoba mengeyahkan tangan itu. Ia berteriak tertahan oleh kain tebal itu.
"Mmmph—mph!"
"Get a sleep, boy…" suara fenimim dengan nada tajam masuk ke indera pendengarannya. Tangan yang membekapnya menekan semakin kuat.
"Khmn—hhM!—nnhs!"
Ini menyakitkan. Aroma asing yang dihirupnya membuat ia tak bisa bernafas. Dadanya bagai terhimpit bongkahan batu besar, sangat sesak. Tanpa sadar, setetes air mata mengalir di ujung mata hitamnya.
Tiga detik setelahnya, hanya gelap yang ia lihat.
"Dengan ini, my job is complete~" seorang wanita bermata merah itu menyerigai licik.
"Aku harap kau akan mati setelah malam panjang yang akan kau lalui sebentar lagi. Khukhukhu~" sosoknya dan remaja bekapan-nya itu menghilang dalam sekelebat bayangan hitam.
.
-sign-
.
Di depan bangunan mewah seperti istana tersebut, berdiri tiga pemuda dengan kemarahan yang besar. Ketiga pasang mata itu menatap bangunan itu dengan tatapan menyelidik.
"Kau yakin Sasuke ada disini, Shika?" pemuda berambut putih itu bertanya tak percaya.
"Aku yakin itu," bukan Shikamaru, pemuda berambut piranglah yang menjawab pertanyaan si rambut putih. "Apa kau tak bisa merasakan keberadaan iblis di sini? Aku sangat yakin jika iblis Asuma itu telah membawa Sasuke kesini."
"Sial! Aku tak berfikir jika iblis busuk itu akan bergerak secepat ini," suara Shikamaru menyahut dengan marah.
"Hey! Siapa disana?!" sebuah instruksi dari samping mereka membuatnya menoleh. Tak jauh disana, ada empat orang dengan tubuh besar menunjuk ke arahnya dengan intimidasi.
"Then, safe my wife is begin ," pemuda pirang itu berkata pada kedua kawannya.
Mereka bertiga berlari cepat menuju keempat orang itu. Naruto dengan ayunan pedang panjangnya dan tebasan mematikannya. Kakashi dengan dua shotgun caliber di kedua tangannya, serta pukulan dasyatnya. Dan yang terakhir, Shikamaru dengan tubuhnya yang seketika menjadi seekor wolf dengan setinggi orang dewasa, mencabik tubuh mereka hingga terkoyak.
.
-sign-
.
Sasuke telah sepenuhnya sadar disaat suatu cairan yang dingin mengguyur perutnya. Ia yakin telah membuka kelopak matanya, tapi semua tetap gelap.
Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan penghalang pandangannya. Namun, tangannya yang berada di atas kepalanya tak bisa ia gerakkan secara bebas.
Ia mendesis ketika lagi-lagi guyuran cairan dingin itu membasahi perutnya yang terpapar tanpa penghalang. Ia sama sekali tak merasakan ada kain yang seharusnya menempel di kulitnya ketika basah. Itulah yang membuatnya tahu.
"Lepas. Lepaskan a—" ia menggerakkan tangan-tangannya yang terikat di atas kepala, berharap ikatan tali bisa terlepas. "—Mnh—!" sebuah telapak tangan yang kasar itu mencengkeram kedua pipinya, memaksanya untuk membuka mulut. Sesuatu berbentuk bulat, entah berapa banyaknya, dimasukkan secara paksa dalam mulutnya. Ketika ia akan mengeluarkannya, mulutnya segera ditutup paksa. Mau tak mau, dirinya harus menelan bulatan-bulatan kering itu tanpa setetes air yang mengalir di tenggorokannya. Yang ditelannya tak berasa sama sekali.. Tidak pahit dan tidak manis, terasa seperti tawar di lidahnya.
"Tidak semudah itu, my pretty doll." Suara berat itu sepertinya ia kenal. Tapi siapa pemiliknya, ia lupa.
"Lepaskan aku..ssh.." ia kembali mendesis disaat benda yang kasar dan basah menjilat perutnya yang basah oleh cairan entah-apa-itu. Benda itu meliuk di atas perutnya, menjilati cairan di atas perutnya.
"Mmh—kau sangat nikmat, my pretty doll. Manis sekali …"
"Lepash—khan—aku breng—seekh!" Sasuke menjerit dengan cairan bening mulai mengalir dari kelopak matanya. Sekarang ia ingat siapa orang itu. Pria yang membelinya dari Uchiha. "Kumohon.. lepaskan aku—hiks," tangisnyapun pecah disaat benda lunak yang kasar dan basah itu tetap meliuk di atas perutnya.
Seakan tuli, pria berjenggot lebat itu tak menghentikan kegiatannya. Ia dengan kurang ajar malah mencubit puttingnya dengan kasar, membuat lelehan air matanya semakin bertambah deras.
"Arghhh! Ti—tidak! Let me go!" tangannya yang diikat meronta melepaskan diri. Kakinya yang bebas menendang-nendang tak tentu arah.
Tidak! Hanya Naruto yang boleh menyentuhku!
"Lepaskan aku!" tiap bagian tubuhnya meronta keras kepala, membuat Asuma_nama pria itu berdecak kesal. "Na—naruto! Naruto—Hiks—To—TOLONG AKU—Hiks! Hiks—NARUTO!"
"Hahaha—" pria itu menghentikan aksi menjilat perut Sasuke dan cubitan pada putting Sasuke sejenak. Matanya memandang wajah putih yang basah itu penuh minat. Raut katakutan dapat ia lihat dengan jelas di wajah cantik itu. "—HAHAHAHAHA! Berteriaklah sepuasmu. Tak aka nada yang menolongmu, termasuk orang yang bernama Na—ARGH!" perkataan Asuma terhenti ketika sebuah tendangan kuat dari arah sampingnya membuat tubuhnya terpental dan terjatuh dari atas ranjang. "Khh!" Asuma meringis sakit pada tubuhnya yang membentur lantai marmer dibawahnya dengan keras.
"Apa kau yang bernama Naruto, huh?" Asuma yang masih berada di lantai itu bersuara santai.
"Berani sekali kau menyentuh calon istriku, hn?" Pandangannya tertuju pada remaja yang diikat di atas ranjang. seketika, iris birunya berubah merah. "Jangan sebut namaku dengan mulut busukmu itu, brengsek." Suara dingin itu mengalun bagaikan suara Shinigami pencabut nyawa. Kedua matanya yang berwarna merah menatap Asuma penuh amarah.
"Na—naruto?" suara tercekat dari Sasuke Naruto dengar dengan jelas.
"Aku datang, Sasuke." Ia berkata penuh penyesalan. Salahnya Karena meninggalkan Sasuke tanpa pengawasan hingga Sasuke berada disini. Ini semua salahnya. Seharusnya ia menjaga Sasuke baik-baik. Bukan malah seperti ini, dimana ia melihat tubuh Sasukenya yang disentuh tangan busuk pria hidung belang seperti Asuma. Bukan seperti melihat perut telanjang calonnya yang dijilati dengan nikmat oleh lidah kasar pria gila itu.
Asuma kembali berdiri dengan tubuh yang terasa remuk. Kedua matanya balas menatap pemuda bersuarai pirang didepannya penuh benci. "Tch! Mengganggu saja!"
"Mengganggu katamu, hn?" Naruto berkata dengan nada penuh permainan. Ekor matanya melirik Sasuke yang berada di atas ranjang_memperhatikannya lebih jauh. Kedua tangan Sasukenya diikat di masing-masing tiang kepala ranjang, dan kedua matanya ditutup menggunakan kain yang telah sepenuhnya basah. Pakaian yang dikenakan Sasuke juga telah berantakan. Kancing kemejanya telah terbuka, memperlihatkan perut Sasuke yang di atasnya terdapat cairan bening berwarna merah. Ia yakin itu wine.
Kemarahannya tersulut hingga ke ubun-ubun.
"Ya. kau itu tak lebih dari seorang pengganggu. Tak tahukah kau, jika aku sedang bermain dengan boneka-ku?!" kedua tangannya bergerak meraih sebuah shotgun dari saku celana hitam panjangnya.
"Boneka katamu?"
"Ya, ia adalah boneka manis yang kebeli dengan harga milyaran dollar." Ia mengarahkannya pada Naruto. "Kau ingin mati, heum?" senyum miring bertengger di bibir yang tak lagi berwarna apik.
Naruto tersenyum tipis mendengar nada menantang dari pria didepannya. Ia mengangkat tinggi pedang panjangnya. "Seperti kau bisa, Jerk!"
DOR! DOR! DOR!
Dan sebuah pertarungan duel mati itu dimulai.
Asuma menembakkan kedua shotgun di tangannya secara bersamaan. Ia akan mengincar titik vital pemuda itu sehingga dia bisa langsung mati. Dirinya adalah penembak jitu, jadi dia sangat percaya diri jika dialah yang akan menang dalam duel maut ini dan membunuh Naruto. Ia dengan senang hati akan memotong tubuh Naruto menjadi potongan-potongan kecil, dan akan memberikannya pada anjing besar peliharannya di belakang rumah. Setelahnya, ia akan bermain dengan bonekanya yang manis. Menggagahinya secara kasar mungkin akan lebih menantang, mengingat jika bonekanya adalah mahluk polos.
Tapi, Naruto tak akan semudah itu dikalahkan. Ia menampik timah-timah panas yang meluncur ke arahnya dengan pedangnya. Hal yang sedikit membuat Asuma terkejut karena sebagian besar tembakannya berhasil ditampik dengan mudah.
Timah-timah panas itu meluncur menuju sekitar, melubangi tembok dan almari. Ada juga beberapa yang mengenai benda mudah pecah seperti kaca. Suara gaduh itu menggema dalam kamar luas bernuansa mewah itu, membuat suasana pertarungan duel maut mereka nampak semakin ramai dan menegangkan.
Kembali, sebuah hujan peluru terarah padanya. Ia berkelit kesamping dengan lincah. Naruto tetap menampik seraya berjalan mendekat.
DOR! DOR!
Sia-sia. Semua tembakannya berhasil ditampik dan dihindarinya dengan mudah. Gerakan cepat dari Naruto yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain membuatnya hampir menjerit frustasi.
Ceklek!—Ceklek!
Amunisi yang telah habis itu membuat Asuma memutar otak untuk mendapatkan senjata. Matanya melirik kesamping, dan ia mendapati sebuah pedang miliknya bertengger di dinding. Secepat yang ia bisa, ia berlari menuju dinding itu seraya membuang kedua shotgun tanpa amunisi itu.
Dengan reflek yang terlatih, Asuma menahan pedang Naruto dengan pedangnya sendiri tepat sebelum pedang milik Naruto membelah tubuhnya. Kedua pedang berbeda ukuran itu bersilangan.
Pedang milik Asuma besar dan berat, namun pendek. Sedangkan milik Naruto memang tak sebesar milik Asuma, tapi pedangnya lebih panjang dengan ujung yang melengkung runcing.
Keduanya mundur akibat ayunan yang sama kuatnya. Kedua mata mereka bertubrukan, dan mereka menerjang lagi.
Asuma mengarahkan ayunan lengannya dari samping, tapi Naruto dengan cepat mengkisnya, lalu mengarahkan mata pedangnya pada perut Asuma. Untuk menghindar, Asuma menunduk seraya berputar seperti rotasi jarum jam. Ia mengarahkan pada kaki Naruto setelah perputaran itu kembali pada titik awal.
Naruto melompat ke atas, dan sebelah kakinya menapak di atas kepala Asuma.
"Kurang ajar, kau!" Asuma tak terima. Kepala ialah sebagai tanda kehormatan setiap orang. Jika kepalanya diinjak, itu sama halnya dengan kehormatannya yang diinjak-injak!
Naruto melompat lagi ketika sebuah hunusan pedang pendek itu hampir menebas kakinya. Ia berhenti sejenak beberapa meter didepan Asuma. Ekor matanya kembali melirik Sasuke yang terengah tak berdaya berada di atas ranjang.
Cukup sudah main-mainnya. Sasuke nampak tersiksa dimatanya. Ia akan mengakhiri ini semua dengan cepat. Ia berlari maju menerjang Asuma dengan pedang yang siap mengayun. Di depan sana, Asumapun tak mau kalah. Iapun berlari kea rah Naruto dengan pedang besarnya yang ia angkat tinggi-tinggi.
ZRASHHT!
Suara tebasan itu sangat mengerikan. Tubuh mereka berdua saling membelakangi dan keduanya berdiri kaku.
"Khh-hgk!" cairan kental merah itu memuncrat dari celah bibir pria berjenggot itu.
Bruk!
Pada akhirnya, tubuh Asuma ambruk ke lantai dengan perut yang memuncratkan cairan merah kental. "Ghok—ohok!" ia berbatuk dengan cairan merah kental yang mengalir dari celah bibirnya semakin banyak. Kedua matanya terbelalak tak percaya. 'Aku.. kalah?!'
Naruto berbalik dan berjalan mendekati Asuma yang terkapar di lantai bersimbah darah. Bibirnya menyerigai keji. "Bukankah tangan busuk ini yang telah menyentuh tubuh calon istriku?"
Zratchtt! Zratchtt!
"GWARRRHHG!"
Ia mengayunkan pedangnya sebanyak dua kali, seketika kedua tangan Asuma telah terpisah dari bahunya. Bersamaan dengan itu, darah segar kembali memuncrat dari bekas potongan pedang panjang Naruto, hingga mengenai wajah tan-nya, serta bajunya.
Ia pun berjongkok, menyaksikan wajah ngeri Asuma dari dekat. Tangannya yang tidak memegang pedang itu bergerak menuju rahang Asuma, dan membukanya secara paksa. Jari-jari pianis milik Naruto itu masuk ke dalam rongga mulutnya kasar, dan meraih lidah Asuma. Lalu ia menariknya keluar.
"Mn—lehmn—sspt—kh!" suara Asuma sangat tidak jelas, tidak ada makna sedikitpun. Ia menggeleng panik.
"Lidah ini yang menjilat perut calon istriku, bukan?" Naruto tersenyum ala phsyco.
Tangan lain yang memegang pedang itu bergerak menuju wajah Asuma. Tanpa kata lagi, pedang tajam itu mengiris lidah kasar itu pelan-pelan, sangat menikmati ekspresi pria itu yang kesakitan tanpa suara. Tak lama setelahnya, pedang itu mengiris lidah kasar Asuma hingga putus, dan jari-jari itu membuang potongan lidah Asuma secara sembarang.
"!" Teriakan tertahan dikeluarkan oleh Asuma.
Setelahnya, yang dilihat Naruto adalah mata yang melolot horror dan wajah mengerikan dengan mulut menganga tanpa lidah. Mayat tanpa kedua tangan itu sangat menjijikkan, dengan kemeja putih yang telah berubah sempurna menjadi merah kental.
Naruto mengibaskan tangan dan pedangnya yang masih terdapat darah. Ia meletakkan pedangnya di lantai dekat ranjang dan menaiki ranjang tersebut. "Sasuke.." panggil Naruto lirih. Tangannya bergerak melepas simpul ikatan tali yang menginkat kedua tangan Sasuke.
"Na—naruto? Ken—khh—kenapa kau ada—hh—disini? Bagaimana bisa?!" Sasuke menjawab dengan suaranya yang masih serak. Hidungnya berkedut pelan mencium aroma garam dan besi. Ikatan di keduanya tangannya mengendur dan terlepas. Iapun membuka kain penghalang yang menutupi matanya. Begitu ia melihat cahaya dan sosok Naruto didepannya, ia terbelalak lebar. "Naru… da—darah..?" Sasuke berekspresi ngeri.
"Tenang saja. Ini bukan darahku," jawabnya seraya kembali membenarkan letak kemeja Sasuke untuk menutupi perutnya.
"Sungguh? La—lu.. ini darah..siapa?"
"Darah siapa, itu tak penting,"
Sasuke melirik sekitar dan ia mendapati selimut tak jauh darinya. Tangan rampingnya menyulur dan meraih selimut itu. Tanpa berkata, ia mengusapkan kain itu ke wajah Naruto yang berdarah dengan pelan.
Tubuh Naruto membeku merasakan perlakuan Sasuke. Bahkan dengan keadaannya seperti ini, Sasuke tetap berlaku baik padanya. Ia bisa merasakan setiap usapan kain yang membersihkan wajahnya dari darah itu begitu penuh perasaan. "Kenapa kau pergi dariku, hm?" Naruto bertanya to the point. Ia menghentikan gerakan tangan Sasuke dan kedua iris birunya memandang bola mata hitam dibawahnya yang berkaca-kaca dengan lembut.
Sasuke memalingkan wajah. Ia tak sanggup menjawab pertanyaan Naruto. Nafasnya terengah tak beraturan. Setetes demi setetes cairan bening mengalir di pelupuk mata indahnya.
Naruto melihatnya jadi khawatir. Ia ikut bebaring di sebelah Sasuke dan memeluk tubuh mungil yang menggigil itu dalam pelukannya. "Kau baik-baik saja, bukan? Apa ada yang sakit?" tanya Naruto penuh sayang dengan baritone khasnya yang sangat merdu.
"Hiks—tida—hh—dhhhkk—hiks," isakan lirih itu terdengar dengan nafas yang tersenggal.
"Sssshhh—tenanglah, aku disini." Tangannya mengelus surai raven calon istrinya untuk menenangkan.
Bukankah cobaan hidup itu sangat kejam? Bocah polos tak tahu apa-apa itu harus menaggung beban yang sama sekali tidak sepantasnya dia terima. Dijadikan kambing hitam atas keegoisan orang tuanya. Hingga membuatnya terjerumus dalam keadaan seperti ini.
Beberapa menit kemudian, suara isakan kecil tak lagi didengar oleh Naruto. Ia hanya merasakan jika tubuh Sasuke mulai terasa panas, dan nafasnya tersenggal tak beraturan.
"Suke, are you ok?" tanya Naruto ia melirik ke bawah, dan mendapati wajah Sasuke merona cantik hingga telinga. "Astaga! Apa yang terjadi padamu?" ia mengusap dahi Sasuke yang telah basah oleh peluh.
"Na ..khh—naru, Pah..hh—nas!" Sasuke berkata susah payah. Ia mengibaskan tangannya pada tubuhnya sendiri, berharap rasa panas itu segera lenyap.
"Katakan, Suke.. apa yang telah diberikan Asuma padamu?" Naruto seperti tahu gejala seperti ini. Mungkinkah jika—
"Pil..buh..hh—lhatth.. Pil Na—naru.."
Obat perangsang..
..perangsang..
…perang—sang…
"Obat perangsang?!" Naruto berkata tak percaya. Jadi, Asuma benar-benar akan memperkosa Sasuke tadi? Dengan obat perangsang? Cih! Picik sekali dia. Untung saja aku segera datang.
Sasuke menggeleng tak tahu. Ia hanya bocah, tak tahu obat-obatan yang digunakan oleh para orang dewasa. "Kh..hh.. pan—panash!" ia menatap Naruto dengan tatapan sayu penuh siksa.
"Naruh—panas..tolong...ini—hh, menyiksaku.."
Iris biru Naruto menatap mata hitam itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tak ingin hal ini terjadi. Walau dirinya sangat menginginkan Sasuke lebih jauh, tapi bukan seperti ini yang di inginkan Naruto. Ia ingin kesadaran disetiap hubungan mereka, tidak seperti ini, dimana Sasuke dalam pengaruh lain. Lagipula, Sasuke masih terlalu dini untuk penyembuhan rasa sakit yang dialami Sasuke detik ini. Bocah polos yang Naruto yakini tidak pernah ber-onani seperti remaja berhasrat tinggi lainnya. Tapi disisi lain, ia tak ingin melihat Sasuke tersiksa. Wajah putih penuh peluh itu memandangnya dengan memohon.
Jangan Sasuke..
Aku sungguh tak ingin menyakitimu..
"Na—naru…please.. i—ini menyiksaku. Hen..hentikan rasa panas—hh—ini.. kumohon.."
Naruto masih bergeming.
"Naru—mhnphh!"
Tidak. Naruto menyerah untuk yang satu ini. Wajah tersiksa yang Sasuke tunjukkan membuatnya sakit.
Dan Narutopun merendahkan wajahnya dan memanggut bibir plum Sasuke dalam. Ia menjilat dan melumat bibir kenyal itu, lalu menggigit kecil agak celah bibir itu terbuka. Lidahnya merangsek masuk ke dalam rongga hangat dan basah itu. Daging lunak tanpa tulang itu mengeksploitasi seluruh bagian mulutnya. lidahnya mengabsen deretan gigi rapi Sasuke, berlanjut ke langit-langit dan mencari titik sensitive yang membuat Sasuke mendesah nikmat.
Sasuke terbelalak lebar. Ciuman Naruto kali ini sangat berbeda. Lidah bertekstur lunak dan basah itu menjelajah rongga mulutnya dalam dan kasar. "Mhnnh..Ah—berhen—hhtihh—h!"
Sasuke tahu, jika tangan yang mulai menyentuh perutnya itu tangan Naruto. Tangan besar yang mengandengnya di stasiun beberapa jam yang lalu. Tangan yang sering kali menangkup wajahnya, serta tangan yang selalu menarik pinggangnya dalam dekapan hangat menyenangkan.
Tapi yang ini berbeda. Tangan itu mengusap tiap bagian tubuhnya, dari perut merambat ke bawah menuju pinggulnya, kemudian bergerak lambat menuju belakang di punggungnya. Tubuhnya yang sedikit miring membuat tangan itu bisa bergerak mengelus punggungnya dengan intens.
Hati serta otaknya mengatakan jika ini salah. Tapi tubuhnya mengatkan hal lain. Tubuhnya menerima ciuman kasar dan sentuhan intens itu sukarela, terbukti dengan getaran nikmat yang ia salurkan dalam desahan dan erangannya.
"Naru—to..hh..jangan… Ini buk—hh—khan yang kuinginkan. Tid—ak ..hh—sekarang, Naru—"
Perlakuan Naruto ini menjurus pada suatu hal yang Sasuke hindari. Ia takut, sangat takut.
"Tidak Sasuke. Ini harus kulakukan.." ia menghentikan ciumannya. Bibirnya merambat turun menuju leher jenjang Sasuke dan mengecup serta menghisapnya. "Aku akan menghilangkan panas pada tubuhmu hanya dengan ini." ia berkata lagi di sela cumbuannya pada leher Sasuke.
"Ahh~" satu desahan lolos dari celah bibir plumnya yang berwarna merah akibat ciuman kasar Naruto. Benarkah? Apakah hanya dengan cara ini rasa panas ditubuhnya bisa hilang? Tidak adakah cara lain selain hubungan seks? "Ak—aku takut Naru...hh,"
Suara lirih Sasuke menghentikan gerakan bibir Naruto seketika. "Apa yang kau takutkan, Suke? Aku hanya ingin menyembuhkanmu," ia menatap bola mata berkaca-kaca milik calonnya.
"Aku—Ah~ takut jika—Ah~~" bibir Naruto memang berhenti, tapi tidak dengan elusan tangan Naruto pada punggungnya yang semakin intens. "Setelah—hh—ini..kau akan..mening—galkanku.."
Ya, inilah yang Sasuke takutkan.
"Setelah—Naru ..merasakan tubuhku, ak—aku berfikir jika Naruto tak lagi akan..hh—menginginkanku. Aku..hh ..takut jika pada akhirnya Naru bosan padaku dan Naru akan meninggalkanku—hh.."
Perkataan Sasuke itupun sukses menghentikan gerakan tangan Naruto.
"Siapa yang mengijinkanmu berfikir seperti itu, Sasuke?!" Naruto berteriak marah. Jadi Sasuke berfikir jika perlakuannya dibarengi oleh keinginan seks belaka?!
"Aku mencintaimu, sungguh-sungguh mencintaimu Sasuke, bukan mencintai tubuhmu. Aku menginginkanmu seutuhnya, Sasuke. Aku menginginkamu, hatimu, cintamu, tubuhmu, semuanya Sasuke. Semuanya." Ujar Naruto dengan serius.
Sasuke tertegun mendengarnya. Sejauh inikah cintamu padaku?
Tak bisa ia sembunyikan senyum tipis yang menghiasi bibir plum merah Sasuke. Semua yang ditakutkannya tak akan menjadi nyata. "Aku juga mencintaimu, kau pasti tahu itu."
Mendengarnya, senyum manis merekah dibibir pucat Naruto. "Aku tak akan menyakitimu, aku janji. Percayalah padaku," ia mengecup bibir Sasuke sekilas.
"Secure me, pleasee…"
Perkataan Sasuke pun menjadi sebuah tanda bagi Naruto untuk berbuat apapun pada tubuhnya.
.
-sign-
.
"Aku tak menyangka mereka melakukannya dalam situasi seperti ini," suara Kakashi yang sedikit terengah membuat Shikamaru menoleh. Kakashi mendengar dengan jelas suara desahan serta erangan Sasuke yang menggema di dalam kamar tak jauh dari sofa mewah yang mereka duduki.
"Biarkan saja. Lagipula, pengganggu hubungan mereka sudah mati." Respon Shikamaru dengan nada malas. Sepasang mata kuacinya memandang banyak tubuh bersimbah darah yang tak bernyawa di sekitar sofa mewah yang mereka duduki.
"Kau benar. Kurenai pun sudah mati." Ia menyandarkan punggungnya lelah. "Tapi aku masih belum tahu ada hubungan apa antara Naruto dan wanita bernama Hinata itu,"
"Entahlah," respon Shikamaru dengan gedikan bahu.
Setelah itu, hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Kakashi lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya dan mendengarkan nyanyian malam pasangan Naruto dan Sasuke. Sedangkan Shikamaru lebih memilih menguap lebar dan hendak tidur di sofa itu.
.
-sign-
.
Tubuh mereka yang bergumul di atas ranjang king size itu telah polos sepenuhnya.
Sasuke tak tahu, entah sudah berapa kali Naruto menandainya hingga banyak tanda merah dengan hisapan-hisapan kuat di kulit putihnya. Dari belakang telinga hingga dada serta perut ratanya. Semua tak luput dari hisapan mulut ganas Naruto. Putingnya juga telah memerah karena cubitan gemas dari tangan-tangan nakal Naruto. Ia hanya merasakan kenikmatan yang membuatnya melayang.
"Nghmn…nh—!" Desahan erotis Sasukenya yang menggema di kamar mewah itu semakin membuat nafsu Naruto membuncah. Dengan bibir yang masih belum puas menandai leher putih Sasuke, ketiga jarinya telah tertanam sempurna di lubang ketat dan hangat yang akan memanja kejantanan ereksinya beberapa saat lagi. Jari pianis miliknya yang menusuk lubang Sasukenya dengan dalam hingga mengenai titik buntu di lubang analnya, menghasilkan desahan kenikmatan dari celah bibir Sasuke yang merah plum alami semakin memerah.
"Nmnhh—Ahh~ Naruh—" Kedua mata hitam Sasuke menatap Naruto yang bekerja menghisap putingnya dengan sayu. Tusukan jari-jari Naruto di lubangnya membuat dirinya sulit berkonsentrasi untuk memanja kejantanan Naruto dengan kedua tangannya. Berkali-kali kocokannya pada bola testikel Naruto meleset dan gerakan hand jobnya melambat pada batang ereksi sempurna yang sekeras batu milik Naruto.
Kejantanan telanjang yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu tidak sebesar ini. Waktu itu, yang ia lihat hanyalah kejantanan lemas milik Naruto yang menggantung di selangkaannya. Tapi tidak untuk sekarang. Kejantanan itu membesar dan berereksi penuh, hingga ia bisa melihat ujung kejantanan Naruto yang memerah indah.
Semua gerakannya diatas ranjang king size ini, adalah arahan dari Naruto. Bahkan jika Naruto tidak mengatakan: dirinya harus mengocok bola tertikel Naruto, ia tetap akan diam berbaring di ranjang dan menunggu Naruto 'menyembuhkan' tubuhnya yang terasa semakin panas. Tapi ia mempunyai keinginan lain diluar arahan Naruto. Yaitu: mengemut kejantanan besar Naruto yang ujungnya memerah. Sangat indah dimatanya, dan hal itu membuatnya tertarik untuk mencicipinya. Maniskah rasanya? Tapi, nanti. Ia akan memintanya pada Naruto setelah rasa panas ditubuhnya menghilang.
Naruto mendongak, setengah tak rela meninggalkan putting kemerahan yang terasa sangat manis di mulutnya. Ia mendapati wajah merona Sasuke dan tatapan sayu-nya. Ia menegakkan tubuhnya dan kembali melumat bibir merah Sasuke. Sangat manis dan kenyal, hingga membuat dirinya ketagihan. Ia melepaskan ketiga jarinya pada lubang anal Sasuke, membuat Sasuke sedikit mengerang kecewa karena rasa kenikmatan yang menyerang titik prostatnya pergi.
"Lingkarkan—kah—hh—kakimu dipinggangku, Sasu—" lagi, Naruto memberikan arahannya pada Sasuke. Perkataan Naruto dengan suara terenggah membuat Sasuke mengira jika Naruto pasti sudah sangat lelah. Ia sedari tadi menggarap tubuhnya, memanja titik-titik sensitive di tubuhnya dan membuat ia mendesah dan mengerang. Sasuke menurut tanpa banyak protes. Rasa panas pada tubuhnya tak kunjung hilang, sebaliknya rasa panas itu semakin menjadi.
Sasuke hanya tidak tahu, jika suara terengah Naruto disebabkan oleh nafsu yang membuncah menguasai diri Naruto.
Naruto mengarahkan kejantanannya pada lubang Sasuke. Ia menggesekkannya pada pintu masuk untuk sebagai salam dan merangsek masuk secara perlahan. Ia menggeram rendah. Sangat ketat,uh—! Lubang Sasuke menjepit kejantanannya erat, lebih erat dari semua lubang yang pernah ia coba, walaupun lubang itu telah ia longgarkan dengan tiga jari sebelumnya.
"Arghhhhh—Ish—ittai.. sakit. Nar—uhh," Sasuke meringis sakit. Kejantanan Naruto lebih besar dibandingkan tiga jari yang memasukinya tadi, membuat setetes liquid bening mengalir dari ekor matanya. Ini sakit sekali!
Naruto menghentikan gerakannya yang masih setengah jalan. Ia menunduk untuk menjilat air mata Sasuke. "Tenanglah, sakitnya akan hilang sebentar lagi..." katanya lembut. Ia pun kembali mencumbu Sasuke dengan dalam, mencoba mengalihkan rasa sakit pada lubangnya.
Setelah Sasuke menjadi lebih rilex, dengan sekali hentakan ia menusuk lubang Sasuke hingga kejantannnya tertanam sempurna.
Trusht!
"Mnh—!" desahan sakit Sasuke teredam oleh cumbuan Naruto. Tubuhnya seperti terbelah menjadi dua, membuat tetesan air matanya semakin deras.
Ia bisa merasakannya. Kejantanan panjang dan besar itu mulai bergerak keluar-masuk dalam lubangnya. Awalnya pelan, namun semakin bertambah cepat dan cepat.
"Mhnhh!—sakitthh—!" ini sungguh menyakitkan. Kejantanan besar milik Naruto seperti mengoyak lubangnya. Gerakan Naruto yang menusuk lubangnya bertambah cepat dan dalam, mengaduk lubang analnya dengan gerakan yang terkesan kasar, namun lembut disaat bersamaan.
Celah bibirnya yang merah merekah merintih dalam cumbuan dalam sang dominan. Tangan-tangan Naruto yang bekerja memanja tiap jengkal tubuhnya ia respon baik dengan erangan panas.
"AHH!" apa itu? Ke—kenapa rasanya nikmat sekali?
Lagi, satu titik dalam lubang analnya ditumbuk oleh ujung kejantanan sang dominan, membuat pandangannya mengabur dan penuh bintang.
Setiap mikrodetik penyatuannya, hanya desahan dan erangan yang bisa dilakukan Sasuke. Rasa sakit pada awal penyatuan mereka kini tergantikan oleh rasa nikmat yang sungguh luar biasa.
Tubuh mereka menyatu bagaikan puzzle—sangat pas. Mereka melengkapi satu sama lain, bersama saling mengisi kekosongan yang tak kunjung terisi.
Dua tubuh itu bergerak dalam ritme cinta yang penuh gairah, meskipun sang submissive dipengaruhi oleh suatu hal lain. Hentakan demi hentakan yang diberikan sang dominan pada sang submissive dipenuhi dengan sejuta rasa cinta, bukan hanya nafsu semata.
Sang submissive yang terbaring di bawah dengan tubuh terhentak merasa tubuhnya semakin panas. Cairan bening itu tak hentinya keluar dari mata hitamnya. Sakit, nikmat, panas. Rasa itu membaur menjadi suatu kesatuan yang menyenangkan. Tubuhnya bergetar menerima hujaman dalam sang dominan, dan bibirnya merintih. Melumer menjadi desahan dan erangan yang erotis.
Kepalanya mendongak disaat kepala pirang itu mendesak mencumbu leher jenjangnya yang penuh tanda cinta. Tangan besar yang memanja kejantanannya itu semakin intens, dan ia bisa merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya bersiap keluar.
"Na—naru, ak—khu mau—.." ia berkata disela desahannya yang tak henti mengalun merdu. Jari-jarinya yang ramping mencengkeram erat helaian pirang sang dominan.
Sang dominan tersenyum tipis, ia mendongak dan menatap bola mata hitam didepannya dengan senyum tulus. "Keluarkanlah..hh—Suke—khh.." kejantanannya menghujam lagi tubuh sang submissive lebih dalam dan kuat.
Sebuah titik dalam tubuhnya yang di tusuk kejantanan besar sang dominan membuat pandangannya memutih. Kepalanya kembali terdongak, sebelum suara teriakan klimaks membaur dengan geraman tertahan sang dominan. "Ah—NARUTOO!—h—mnhh.." dalam enam belas tahun hidupnya, ini adalah kali pertama ia mengeluarkan cairannya. Semua terasa sangat.. menakjubkan.
Daging hidup yang menyelimuti kejantanannya semakin ketat bersamann dengan teriakan sang submissive. Ia bergerak semakin dalam, menghentak tubuh itu dengan hujaman-hujaman semakin kuat dan kasar.
Sasuke yang masih belum sempat bernafas setelah klimaksnya, harus terbelalak merasakan daging hidup di dalam tubuhnya semakin membesar. Ia merasa lubangnya penuh. Didetik berikutnya, suara geraman sang dominan dan kejantanan sang dominan ditenggelamkan jauh dalam tubuhnya. "SASUKE—!"
"Mhnnn~" dan benih hangat itupun mengucur deras dari ujung kejantanan sang dominan yang tenggelam dalam tubuh submissive-nya, tertanam jauh di tubuh calonnya.
.
-sign-
.
Kedua tubuh polos itu masih berada di atas ranjang king size itu, berbaring dengan kepala Sasuke yang berada di dada bidang Naruto.
"Suke-chan, kau baik-baik saja?" suara serak Naruto yang penuh khawatir terdengar sangat manis di telinga Sasuke.
Rasa panas yang menyiksanya itu telah mereda pasca klimaks-nya. Seperti kata Naruto, kegiatan seperti ini memang sangat efektif untuk meredakan panas ditubuhnya.
"Ya, aku sangat baik-baik saja." Jawab Sasuke dengan senyumnya.
"Maafkan aku telah melakukan hal ini, Suke-chan. Kau tahu, obat perangsang yang kau minum hanya bisa disembuhkan dengan berhubungan seks,"
"Aku tidak meminumnya, Naruto. Aku dipaksa meminumnya," ralat Sasuke dengan nada ngambek. "Eh, obat perangsang katamu? Apa itu?" tanya Sasuke penasaran.
"Obat yang digunakan untuk membangkitkan nafsu seseorang, ditandai dengan rasa panas disekujur tubuh yang menyakitkan. Sama seperti yang kau rasakan tadi," jawab Naruto dengan suara yang kembali normal.
Diatas dadanya, Sasuke mengangguk paham.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Naruto pada Sasuke.
Sasuke diam sejenak sebelum berkata. "Penuh." Tidak. Itu bukanlah 'perasaan' dirinya saat ini. Ia tahu jika sebenarnya Naruto tahu perasaannya saat ini. Senang_tentu saja. Mendengar perkataan Naruto sebelum mereka melakukannya, membuat semua keraguannya pada Naruto menghilang tak berbekas.
Yang ia katakan adalah apa yang ia 'rasakan' pada perutnya. Naruto keluar di 'dalam' baru satu kali, tapi ia merasa perutnya sangat penuh. Cairan hangat yang keluar dari ujung kejantanan dominan-nya masih terasa hangat hingga saat ini.
Di bangku sekolah, dipelajari jika seorang laki-laki dan perempuan yang berhubungan seks, lalu sang laki-laki menyemburkan benihnya di 'dalam' tubuh sang perempuan, ada kemungkinan jika si perempuan bisa hamil. Lain lagi jika laki-laki mengeluarkan benihnya di 'luar' si wanita, maka bisa dipasikan jika si wanita tidak akan hamil.
Tapi untuk hubugan seks sesama laki-laki, tidak dipelajari di bangku sekolah sama sekali.
Jika benih sang dominan di keluarkan di 'dalam' tubuhnya, apakah dirinya bisa hamil?
Hahahaha—aku mulai gila! Batin Sasuke dongkol.
"Penuh? Apa maksudmu, Sasuke?" tanya Naruto dengan wajah bingung. Tangannya yang sedari tadi mengelus helaian raven Sasuke terhenti sejenak.
Sasuke mendengus pelan mendengar pertanyaan Naruto yang terdengar konyol ditelinganya. Tangannya yang masih melingkar di perut Naruto ia lepaskan. Jari-jari rampingnya bergerak mengelus otot-otot yang terbentuk sempurna di tubuh dominannya dengan menggoda. "Perutku," ujar Sasuke singkat.
Tubuh Naruto tersentak kecil merasakan gerakan menggoda jari-jari Sasuke di atas perutnya. "Maaf mengeluarkannya didalam,"
"Tidak apa-apa, sungguh. Ini terasa sangat hangat diperutku, dan aku suka."
"Jika kau suka, aku akan selalu mengeluarkan benihku di dalam tubuhmu ketika kita melakukannya.." ujar Naruto dengan serigai tipis.
Mendengarnya, telinga Sasuke terasa berdenging sesaat. "Kau berfikir kita akan melakukannya lagi?"
"Tentu saja. Kita akan menikah bukan?"
"Kau sedang melamarku?"
"Ha—ah." Naruto menghela nafas. Ia salah kata. Seharusnya, ia melamar Sasuke di puncak menara Eifel dengan kata-kata yang romantis, persis seperti apa yang telah ia rencanakan sebelumnya. Bukan pertanyaan langsung dengan empat kata 'Kita akan menikah bukan?'
God! Itu tidak ada romantisnya sama sekali!
Narutopun mengangkat kepala Sasuke yang berada didadanya. Ia bergerak turun dari ranjang dan mendudukan Sasuke di pinggir ranjang.
Ia berlutut di bawah Sasuke dan meraih tangan kanannya. "Sasuke, kau adalah sebuah pelita dalam hidupku. Menerangi jalan gelapku dan membuatku sadar akan jalan terang yang harus kulalui kembali. Dengan perginya dirimu beberapa jam yang lalu, membuatku sadar bahwa ketiadaanmu disisiku membuatku tidak mampu menjalani hidupku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu apa adanya. Semua yang ada padamu aku mencintainya. Kelebihan serta kekuranganmu bukanlah suatu alasan untuk mengurangi rasa cintaku padamu. Jadi—
—maukan kau menikah denganku?" Naruto berkata puitis dengan ekspresi memohon.
Sasuke tertegun sejenak sebelum mendengus keras. "Dobe." guman Sasuke tak kalah keras.
"E—ehhh?" Naruto bersuara tak percaya. Sasuke mengatainya 'Dobe'?!
"Kenapa kau mengataiku Dobe? Dasar!" ujar Naruto dengan wajah pura-pura marah. "Kau merusak kata-kata romantis yang kubuat, Teme. Seharusnya kau itu menangis terharu sambil berkata 'Aku mau, Naru-kun. Sangat mau, karena aku juga sangat mencintaimu' lalu memelukku. Bukan mengataiku 'Dobe'." Alisnya Naruto tekuk tajam untuk membuat Sasuke percaya bahwa dirinya marah.
Suara tawa kecil Sasuke membuat semua usahanya sia-sia. "Hahaha—kau itu lucu sekali, Dobe."
Hah, apa katanya? Lucu?
"Hey, berhenti mentertawaiku. Aku ini tidak lucu. Dan juga, aku bukan 'Dobe'." Elak Naruto.
"Tentu saja kau itu 'Dobe'. Tanpa kujawabpun, kau pasti sudah tahu jawabannya."
"Aku hanya ingin seperti pasangan lain. Melamar pasangannya dengan sangat romantis, mungkin?"
"Romantis kau bilang?" kening Sasuke mengkerut lucu. "Mana ada orang yang melamar pasangannya dengan tubuh telanjang?" dagu Sasuke menunjuk Naruto dengan senyum geli.
"Eh—ah, ini.." Naruto berkata canggung. Ia menggaruk pipinya salah tingkah. "A—"
"Jangan dijawab." Potong Sasuke. Ia mengajak Naruto berdiri dan berbaring lagi di atas ranjang.
Mereka kembali berbaring dengan posisi yang sama.
"Aku punya satu permohonan untukmu," Ujar Sasuke. Tangannya kembali bermain dengan perut calon suaminya.
"Apa itu?"
Sasuke menarik nafas panjang dan menghembuskannya berat. Permohonannya adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan."Buat aku mengenal dirimu seutuhnya. Maka dari itu, ceritakan semuanya tentang dirimu. Sejujur-jujurnya…"
.
-sign-
.
"Rencanaku gagal total, Kabuto-sama," suara feminism itu tersambung dengan handphone di seberang sana.
"Gagal? Bagaimana bisa?!" Suara beasar di seberang handphone menyahut.
Tak ada jawaban dari suara feminism itu.
Diseberang sana, suara helaan nafas nafas terdengar. "Baiklah. Gunakan rencana cadangan, Hina-chan.."
"Baik, saya mengerti."
"Ya, berhati-hatilah disana. Kabari aku secepatnya."
"Ya. Aku tak akan mengecewakanmu, Kabuto-sama."
"Bagus,"
"Ka—"
Klik. Sambunganpun terputus secara sepihak.
TBC!
Hai minna~
Maaf update-nya terlalu lama. Karena seminggu kemaren full banget sama ujian harian. Maklumlah, tanggal 29 Mei aku udahUjian Kenaikan Kelas..
Jadi, aku kebut deh selama seminggu ini.
Chapter ini terlalu panjang ya?
Balas Reviever chap kemarin:
Gembel: Thanks atas pujiannya ^_^ ini udah lanjuut..
Prim Rose Blue: Reaksi Mom and Dan-nya Naru? Nanti ya, mereka masih belum pulang. Hehehe…ini udah lanjut..
Guest(21 April): Sasuke adorable? Hohoho.. that's right!
Ns gues: Lemonnya udah kok. Tapi chapter ini jadinya malah kepanjangan. ^_^
Rea: Aduh Rea-san, makasih udah ngingetin. Penginnya tuh Suzy buat langsung tuh dikamar mandi. Tapi berkat baca review dari Rea-san, aku pun menundanya. Thanks so much..
Ifu Uchiha: Jawaban dari Ifu-san ada di chap depan(mungkin). #Plaak. Thanks for review..
Jasmine DaisynoYuki: Iya, Hinata n Kiba itu bukan manusia. Hinata itu juga Vampire, kalo Kiba itu werewolf seperti Shikamaru. Hubungan NaruKakaShika itu sahabat kok ^_^
aicHanimout: Mungkin iya. Itachi seperti di anime aslinya, tapi belum ketahuan sepenuhnya. ItaKyuu? Mungkin ada. Tapi dilihat alurnya, apakah bisa dimasukin di perjalanan Naruto menuju rumah. Neji meninggal kagak ya? Suzy masih bingung.
Siti583: Ini udah lanjut Siti-san ^_^
xsasuke: Ini udah lanjut. Moment NaruSasu-nya udah banyak belom? *smirk
Kaagari: Maaf kalo tempat mereka melakukan 'itu' tidak dikamar mandi. Kata Rae-san Sasuke masih trauma, jadi.. yah seperti alur yang diatas. ^_^
YoungChanBiased: Ini dah lanjut..
angelkyute56: Itachi jadi uke? Emangnya ada yang mau? aicHanimout penginnya ItaKyuu. Jadi gimana doong?
neko. chan. 75470 : Iya, mereka bakal ketemu lagi kok. Tapi belum untuk saat ini. ^_^
Qren: Ok, thanks ^_^
vipbigbang: Ok ^_^ sorry lama..
Namie: panggil aku Suzy aja ya? soalnya tuh namaku ^_^
Kuro Rozu LA: Ini udah lanjut ^_^
Oranyellow-chan: Alasan Itachi ikut nyiksa Sasuke belum muncul. Nanti akan ada flashback ttg rumah tangga keluarga Uchiha, kok. awalnya HinaKiba itu musuh, tapi sekarang Kiba enggak tahu, pro atau kontra. Pair ShikaKiba? Mungkin ada. ^_^
Dark de. ay: Ini udah ada lemon ^_^. Tentang fic yang lain, Suzy masih macet #hiks—hiks
AprilianyArdeta: enggak ketahuan kok,
Red Ocean: udah ada lemon'kan? *smirk
Cherry Blosoom: aduh… mereka baru sekali seks, udah nanyain kapan Suke hamil? Nanti pasti kok ^_^
Auntumn panda: udah kok. ^_^
Mischa: Gomen, ne? disini ngak diceritakan lebih detail mengenai hub AsumaKurenai. Ntar kalo dimasukin terlalu panjang. ^_^
Blue Ocean: Sasuke hamil anak Naruto? Nanti dulu ya. Mereka aja baru seks sekali, kok. ^_^
Dmarcha: FugaMiko itu ngak tahu Asuma punya Iblis. NaruSasu pasti punya anak kok ^_^
Nari: Gini ya.. Naruto itu memang melakukan seks dengan orang lain dan spermanya pun keluar. Hanya saja, Naruto memang sengaja tidak mengeluarkan benihnya di dalam tubuh parner seks-nya. Jadi sebelum benihnya keluar, Naruto melepas penyatuan tubuhnya dan mengeluarkan benihnya di luar tubuh patner —faham ngak? Suzy bingung mau jelasin kaya gimana. *huwe #Lariii
Guest(22 April): Ok, lemonnya dah ada kok. ^_^
Lolipop: Sasuke dijadiin vampire? Setelah mereka menikah ya.. ^_^
LKCTJ49: Ok, aku juga setuju ^_^
Raven Namikaze: Ini udah lanjut ..
EdyBrrr: Flashback Kabuto mengincar Naruto? Nanti ada kok.
Sasuke bakal dirubah Naruto jadi vampire kalo mereka udah menikah ^_^
Pastinya dong, Sasuke bakal dikenalkan Naru ama Mom n Dadnya.
.
.
Untuk Reviewer semuanya, Suzy mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas review kalian ;*
Keep RnR, ya?
.
.
SuzyOnix
Minggu, 03 Mei 2015
13. 17 pm
