Pairings
ChanBaek, HunHan, KaiSoo
Genre
AU, Lemon, Action, Romance
Rating
M
Length
Chaptered
Disclaimer
All cast in this story belong to themselves. Story and plot, all belong to author. Do not copy this story, plagiarism is strictly prohibited.
Warning
Mpreg, sexual content, mention of rape, lots of drug and alcohol, violence and abuse.
e)(o
"Hngh—geliiii!" rengek Baekhyun. Kedua telapak tangannya menapak di atas pundak lebar Chanyeol, meremas bagian itu kencang-kencang saat bibir basah Chanyeol mulai mengecupi kulit lehernya yang sensitif. Chanyeol ada di atas tubuhnya, mengurungnya dengan posesif. Pria itu bertelanjang dada, sementara dirinya sendiri sudah kehilangan celana; hanya tersisa atasan piyamanya yang itupun tiga bagian kancingnya terbuka. Nafasnya memburu, merasakan tubuhnya yang membara, terlebih jari-jari Chanyeol tidak berhenti menyentuh kulit tubuhnya yang terpapar.
"Ahh—kenapa Chanyeollie marah kalau aku bilang aku tidak mencintai Chanyeollie?!" teriak Baekhyun. Anak itu menggeliat, dan menggigit bibir resah saat gigi Chanyeol yang runcing menggigit main-main kulit lehernya.
Chanyeol mendengus seolah ucapan Baekhyun terdengar lucu. Mulutnya yang panas menciumi sepanjang garis rahang Baekhyun yang lembut dan wangi, membuat anak itu merengek. Lalu saat ia menemukan bibir bocah itu, tanpa peringatan ia meraupnya; mengulum bibir yang begitu lembut itu dalam lumatannya yang panas.
Tapi Baekhyun yang gengsi terus memberontak.
"Chanyeollie menyebalkan, jangan cium-cium—" Justru lidah Chanyeol terjulur, menerobos mulut Baekhyun yang terbuka. Tidak ada jalan untuk berhenti, karena pria itu bahkan tidak membiarkan Baekhyun untuk bicara.
Ciuman Chanyeol menuntut, meski masih lembut seperti biasa. Lidahnya terjulur keluar dari mulut Baekhyun, menjilati sepanjang garis liur milik-entah-siapa hingga kembali ke ceruk lehernya yang malam ini bertambah wangi di hidung Chanyeol; aroma strawberi dan floral yang entah sejak kapan menjadi favorit Chanyeol.
"Chanyeol." Baekhyun tersengal. Ia merengek saat celana Chanyeol terus bergesekkan dengan paha dalamnya.
Ini salah, karena selama seharian ini Baekhyun telah berusaha keras untuk menghindari Chanyeol. Bahkan Baekhyun memilih untuk tidak keluar dari kamar. Saat ia mendengar bahwa Chanyeol tengah disibukkan oleh pekerjaan, Baekhyun merasa tenang. Sebab para staf mengatakan bahwa Chanyeol adalah pria workaholik yang hanya akan berhenti bekerja saat semua pekerjaannya telah usai, dan itu biasanya terjadi saat hari telah mendekati pagi. Baekhyun tidak suka mengetahui belahan jiwanya hidup seperti itu, tapi Baekhyun tidak bisa mencegahnya karena ia sendiri tidak ingin bertemu dengan pria itu.
Itu bukan karena Baekhyun mengatakan ia mencintai Chanyeol lalu hal itu jadi mempengaruhinya.
Oke, mungkin sedikit.
Tapi yang sebenarnya adalah karena Baekhyun merasakan hal aneh—yang menyerang tubuh, hati, pikiran, serta jiwanya. Pertama kali ia merasakan hal itu adalah saat ia sarapan; suhu tubuhnya tiba-tiba menghangat, yang mana hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan demam. Lalu saat Baekhyun mencoba menggosok tangannya, yang Baekhyun rasakan justru malah sentuhan Chanyeol. Dari telinga, leher, puting susu; seluruh bagian sensitif di tubuhnya terbakar oleh sentuhan intim yang diingatnya.
Lalu saat ia mandi, ia dapat mencium aroma tubuh Chanyeol di tubuhnya. Baekhyun terus menggosok, dan menggosok, lalu menggosok lagi seluruh bagian tubuhnya, namun aroma pria itu tetap tidak hilang. Saat ia bertanya pada para staf, mereka semua justru menjawab serempak; tidak mencium aroma apa pun di tubuhnya selain aroma bunga dan strawberi. Itu gila, namun yang lebih gila dari itu semua adalah; selama seharian ini isi pikirannya hanya dipenuhi oleh Chanyeol. Bahkan saat ia mencoba untuk tidur, bayangan tentang semua kenangannya bersama Chanyeol meledak seolah memori di pikirannya tidak sanggup lagi untuk menampung itu semua.
Bayangan dirinya yang meneriakkan nama Chanyeol saat pertama kali mendapatkan tanda di lengannya adalah inti dari semua kegilaan itu.
"Tunggu dulu—anghh—Chanyeollie, aku menyerah, aku menyerah," ucap Baekhyun kepayahan. Kedua tangan mungilnya menangkup pipi Chanyeol, mengangkat wajah tampan itu agar mau melihatnya. "Chanyeollieee... dengarkan aku dulu."
Kemudian dengan enggan Chanyeol mengangkat wajahnya, dan menatap sepasang bola mata cokelat terang itu yang terlihat hampir menangis. Pada menit-menit pertama hanya terdengar kesunyian yang bercampur bersama deru nafas dari keduanya. Sampai yang paling pendek akhirnya menjadi orang yang pertama bersuara.
"Maafkan aku, Chanyeollie," bisiknya.
"Tentang?" Satu alis Chanyeol naik.
"Tentang perasanku," sahutnya malu-malu. Bulu matanya yang panjang bergetar saat ia menggulirkan bola matanya ke bawah, dan berbisik, "Aku tidak bisa memberi tahu Chanyeollie tentang perasaanku."
"Kenapa?" Anehnya Chanyeol menanggapi.
"Pokoknya tidak bisa!" rengeknya. "Itu rahasia." Pipinya merona merah.
Baekhyun yang naif, pikir Chanyeol. Justru bertingkah seperti itu hanya menegaskan pada Chanyeol bahwa dirinya memang mencintai Chanyeol. Namun, Chanyeol memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap wajah anak itu, mengusap pelipisnya yang dulu pernah dihiasi luka kecil. Di lain waktu, jika ada yang berani menyentuh miliknya lagi dengan cara apa pun tanpa seijin-nya, ia bersumpah tidak akan segan melenyapkan siapa pun keparat itu—tentunya—dengan cara yang tidak akan pernah keparat itu bayangkan.
"Chanyeollie," panggil Baekhyun. Suaranya begitu merdu di telinga Chanyeol, menyadarkannya, dan meski Omega itu telah memanggilnya dengan begitu kurang ajar, Chanyeol tidak pernah merasa terhina.
Phoenix menyukai bagaimana lelaki mungil itu memanggilnya—
—dengan seluruh pemujaan dan kasih sayang.
"Hm," sahut Chanyeol acuh tak acuh.
"Sebenarnya, hari ini aku merasa kepalaku pusing," adu Baekhyun. Jari-jarinya yang lentik menyentuh dada Chanyeol; mengusap tulang belikat pria itu yang begitu menakjubkan, juga luka sayat yang dulu dilihatnya di danau. Matanya menatap Chanyeol merajuk, dengan bibir yang ia gigit.
Chanyeol terpengaruh. Ibu jarinya menarik bibir itu lepas—sebelum ia yang lepas kendali. Pria itu tidak mengatakan apa pun tapi Baekhyun tahu Chanyeol mendengarkan.
"Kepalaku pusing karena seharian ini Chanyeollie ada di kepalaku." Mata puppy-nya berkedip-kedip cepat. "A-aku bukan sedang menggombal, ya!"
Chanyeol tidak bereaksi.
Membuat Baekhyun menghela nafas lega.
"Aku takut. Bahkan saat mandi, ada wangi Chanyeollie di badanku," terangnya. Ia mengendus tubuhnya, dan masih mencium aroma Chanyeol. Terlebih, Chanyeol berada tepat di atas tubuhnya, membuat aromanya menyumbat pernafasan Baekhyun. "Sekarang pun masih, tapi noona-noona bilang mereka tidak mencium apa pun. Itu aneh sekali, kan? Coba Chanyeollie cium." Kemudian anak itu menyentuhkan punggung tangannya di hidung Chanyeol.
"Minseok sepertinya benar," desah Chanyeol.
Mata puppy itu berkedip. "Apanya yang benar?" tanya Baekhyun tidak mengerti.
"Apa saja yang kau ingat Baekhyun?" tanya Chanyeol. Kepala Chanyeol meneleng ke samping, dan ada nada penuh godaan dalam suaranya yang berat dan serak itu, saat ia berbisik lamat-lamat. "Apa kau mengingat saat kau meneriakkan namaku di kamarmu, atau saat kita bercinta tadi siang?" Pertanyaan itu dikatakan dengan begitu arogan.
Mulut Baekhyun menganga lebar, matanya melotot hampir melompat keluar. Perasaan malu setengah mati menghampirinya saat ia berusaha menjawab; dengan gagap, "Si-siapa yang, aku tidak, Chanyeollie itu—"
"Ah." Chanyeol bertingkah seolah ia sudah menduga sesuatu. "Kau pasti mengingat semuanya, benar? Karena semuanya terasa begitu—" Mulutnya tiba-tiba dibekap Baekhyun.
"Chanyeollie selalu saja membuatku malu!" Bibir Baekhyun cemberut, menatap pria itu marah. Meski, rona merah di pipi hingga ke telinganya sudah menjelaskan segalanya.
Bola mata abu-abu terang Chanyeol menatap sepasang cokelat bening itu dalam; mencoba menggali ke dalam dirinya; apa yang membuat Omega-nya begitu malu setengah mati saat tengah membicarakan hubungan seksual mereka. Padahal biasanya, para kekasih Chanyeol selalu menjadi yang paling bersemangat setiap kali membicarakan hal tersebut. Meskipun Chanyeol tidak pernah menanggapi, dan hanya menganggap itu sebagai pujian atas permainan ranjangnya yang mereka nilai sebagai permainan ranjang paling menakjubkan.
Sayang, hal itu sepertinya tidak berlaku bagi Baekhyun, karena bocah itu sudah merasa malu bahkan sebelum Chanyeol sempat melakukan sesuatu. Bersikap malu-malu, dan tersipu di depan Chanyeol, jika hal itu dilakukan oleh orang lain mungkin Chanyeol tidak akan terpengaruh—bahkan hanya untuk sekedar peduli. Namun entah mengapa, justru sikap itulah yang membuat Chanyeol selalu bergairah terhadap bocah itu.
Chanyeol mengambil tangan yang membekapnya lalu membawa tangan itu ke lehernya. "Tidak apa-apa untuk mengatakan itu," bisik Chanyeol sabar. Mulutnya mendekat ke mulut Baekhyun, hingga hidung dan kening mereka saling bersentuhan. "Kau bisa mengatakan padaku apa pun yang kau rasakan, apa yang selama siang hari ini kau pikirkan, bahkan jika itu tentang seks—seks kita."
Itu terdengar begitu seksi.
Baekhyun merengek, belum merasa yakin dengan hal tersebut. "Tapi aku malu Chanyeollie." Tatapan mata polos Baekhyun membuat Alpha di jiwa Chanyeol menggeram buas; ingin memprovokasi Chanyeol agar segera melakukan sesuatu pada Baekhyun.
"Baekhyun," panggil Chanyeol. Nada suaranya tegas, tidak ingin dibantah.
"Semuanya, aku ingat semuanya!" kata Baekhyun keras. Tangan ranting itu memeluk leher Chanyeol erat-erat, saat ia mulai merengek, "Padahal aku sudah berusaha tidak memikirkan itu, tapi tetap tidak bisa. Maafkan aku."
Jawaban Chanyeol membuatnya tersipu.
"Seperti itu lebih baik," kata Chanyeol. Hidungnya membaui pipi Baekhyun, membuat anak itu tersenyum lucu. "Tidakkah kau berpikir jujur kepadaku jauh melegakan, hm?" bisik Chanyeol.
Paha telanjang Baekhyun yang mengangkangi pinggang Chanyeol tanpa sengaja mengusap celananya, membuat anak itu salah tingkah karena keintiman tersebut. "Tapi a-aku tidak biasa membicarakan hal seperti itu. Bu-bukankah itu tidak sopan? Aku, kan, masih anak SMA," jelas Baekhyun sambil membuang wajah malu-malunya.
Lalu kenyataan itu seketika membuat Chanyeol sadar, bahwa anak dalam dekapannya masih begitu belia. Tidak bisa ia samakan dengan semua kekasihnya terdahulu. Bahkan pada kenyataannya, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa disamakan dengan Baekhyun-nya yang cantik dan lugu.
"Apalagi Chanyeollie itu, kan, kekasih pertamaku," gumam Baekhyun pada dirinya sendiri.
"Kekasih?" Satu alis Chanyeol naik.
"Itu—bukan?" tanya Baekhyun, kembali menatap Chanyeol.
Pertanyaan menjebak.
Yang diucapkan dengan wajah, dan tatapan mata tanpa dosa itu.
Bukannya menjawab mulut Chanyeol justru menyentuh mulut Baekhyun gemas. Untuk sesaat Baekhyun merasa ngantuk, matanya terpejam main-main sambil menarik-narik lembut rambut api Chanyeol di jarinya yang gemetaran senang; memainkan rambut api itu seolah itu adalah rambut yang terdapat pada boneka atau sejenisnya. Sampai tiba-tiba jantung sialannya berdentum terlalu keras. Lebih keras dari sebelumnya. Rasanya begitu hangat dan nyaman, dentuman itu seperti menjelaskan perasaanya yang bahagia dalam dekapan Chanyeol-nya yang tampan.
Ditawan sampai mati pun Baekhyun sanggup, asal selamanya bersama Chanyeol.
Tanpa sadar Baekhyun terkikik malu karena pemikiran bodohnya.
Siku Chanyeol berada di samping kepala Baekhyun, bertumpu untuk menjaga dari berat tubuhnya. "Siapa yang mengatakan kau kekasihku?"
Sejak kapan berbisik-bisik menjadi terdengar begitu seksi di telinga Baekhyun. Pelan-pelan ia membuka matanya, kembali menatap Chanyeol. "Semua orang di rumah ini bicara begitu, para noona juga bicara begitu. Aku mendengarnya sendiri."
Persetan dengan orang-orang itu.
"Kau senang?" tanya Chanyeol lagi. Sekarang kening, dan hidung mereka kembali bersentuhan, membuat Baekhyun menangkup pipi Chanyeol, kemudian membelainya antusias.
"Aku senang," balas Baekhyun polos. "Ta-tapi wanita itu bilang, ini tidak akan bertahan lama," lanjutnya sedih.
Sejujurnya ia tidak ingat sejak kapan ia betah berbicara dengan anak kecil. Rasanya menyenangkan mendengar suara Baekhyun yang bergemerincing di telinganya. Namun, ucapan bocah itu membuat Chanyeol terkejut, dan hampir menjauhkan wajahnya, tetapi Baekhyun mencegah hal tersebut.
"Jangan, maafkan aku, aku tidak akan berkata seperti itu lagi!" ucap Baekhyun kalap. Matanya terpejam erat-erat, sama erat dengan pelukan tangannya di leher Chanyeol.
"Tidak apa-apa, biarkan aku." Wajah Chanyeol menjauh, lalu menatap sepasang mata yang terlihat berkaca-kaca. Tangannya mengusap surai Baekhyun yang mulai panjang sambil berbisik di mulutnya, "Jangan dengarkan wanita itu, kau mengerti?"
"Tapi aku takut," adu Baekhyun, bibir kecil-nya melengkung ke bawah.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Chanyeol. Ibu jarinya menghapus air mata di ujung mata Baekhyun.
Si mungil memeluk Chanyeol semakin erat, dan Chanyeol menenangkannya dengan memfokuskan pandangannya pada anak itu. "Aku takut—"
"Kita kehilangan kontak dengan—"
Tiba-tiba Minseok dan serombongan orang menerobos masuk ke dalam kamar, hanya untuk terkejut setengah mati melihat pria bertelanjang dada tengah menindih seorang bocah SMA tanpa celana di atas sebuah ranjang.
"—Oh astaga, seharusnya aku tidak, oh maafkan aku," ucap Minseok kikuk. Secepat kilat membalik tubuhnya ke belakang yang mana hal itu langsung diikuti oleh rombongan. "Kenapa aku bisa sampai lupa!" bisiknya menyesal.
Jaesuk menoleh ke arah Minseok. "Pantas saja kita ke kamar ini, aku pikir Mr. Park masih berada di ruang kerjanya."
"Ya, seharusnya memang begitu, tapi tidak, dia meninggalkan pekerjaan demi darling kecil itu," ucap Minseok geli. Di sampingnya Jaesuk terkekeh.
"Chanyeollie minggir," bisik Baekhyun keras. Matanya terpejam erat, dengan kedua tangan menutup wajah malu.
"Ada apa?" tanya Chanyeol. Suaranya tajam dan penuh kemurkaan; hampir membuat rombongan Phoenix berlari kabur menyelamatkan diri.
Minseok menelan ludah susah payah. "Semoga Tuhan memberkati kita semua," bisiknya penuh harap, lalu ia berbalik ke belakang dan memasang wajah tenang. "Sekali lagi aku minta maaf. Kedatanganku ke mari untuk memberitahumu bahwa kita baru saja kehilangan kontak dengan Jongin."
Memejamkan mata sesaat, Chanyeol lalu menyingkir dari atas tubuh Baekhyun. Pria itu duduk di pinggir kasur. Otot-ototnya merenggang, dan Baekhyun dapat melihat dengan jelas tato menyeramkan di punggungnya. Sebuah tato burung phoenix besar yang digambarkan seperti kobaran api, tengah menggigit leher ular naga bersayap yang terlihat seperti sekarat; itu seolah sesuatu yang jahat, dan brutal menyelubungi tato tersebut.
Minseok menghampiri Chanyeol dengan kemeja di tangan, sementara Baekhyun masuk ke dalam selimut untuk bersembunyi dari rasa malu yang menderanya. "Terjadi sesuatu?" tanya Chanyeol datar.
"Sepertinya ini ulah Mike." Minseok menyerahkan kemeja tersebut.
"Keparat itu," desis Chanyeol malas. Ia mengambil kemejanya, dengan ekor matanya yang tajam terus mengawasi Baekhyun, di mana anak itu tengah kesulitan mengambil celananya yang kebetulan berada di dekat kakinya. "Terus cari keberadaan Jongin, dan kirim beberapa Phoenix ke sana." Lalu Chanyeol yang agung membungkuk hanya untuk mengambilkan tuan putri Baekhyun celananya.
"Baik," ucap Minseok. Suaranya kaku dan tegang saat ia berkata, "Bos, ada seseorang yang ingin bertemu."
"Apa aku boleh ikut?" tanya Baekhyun sambil keluar dari dalam selimut; lelaki itu sudah bercelana sekarang.
"Tidak, jangan ikut. Kau tetap di kamar ini bersamaku darling kecil," balas Minseok cepat, yang langsung membuat Baekhyun cemberut, dan menatapnya merajuk.
"Siapa?" tanya Chanyeol.
"Kau tahu siapa dia," balas Minseok. Sikapnya kaku, dan terkesan benci.
"Tapi aku ingin ikut, aku ingin bersama Chanyeollie," ujar Baekhyun manja. Ia melipat kakinya kemudian duduk di samping Chanyeol sambil memeluk lengan Alpha itu erat-erat.
"Tetap di kamar ini Baekhyun," kata Chanyeol tegas. Pria itu beranjak dari kasur, dan berjalan menuju kloset.
"Kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Baekhyun. Tatapan matanya begitu sedih, membuat Minseok merasa bersalah. "Apa itu wanita yang lain?"
Pertanyaan itu membuat Minseok dan yang lainnya terkesiap. Sementara itu, Chanyeol mungkin mendengar, tapi pria itu memilih untuk masuk kloset, dan tidak mengatakan apa pun.
"Minseokie hyung, apa dia wanita?" tanya Baekhyun. Tatapannya penuh harap, seolah dengan begitu Minseok akan menggeleng padanya. Sayang, Minseok justru mengangguk kaku.
"Dasar playboy!" teriak Baekhyun. Ia mengucek matanya, dan terisak.
"Dia memang wanita, tapi kupastikan dia bukan bagian dari kekasihnya," jelas Minseok setengah berdusta. Ia duduk di samping Baekhyun, dan mencoba tersenyum. "Ini hanya soal bisnis, mereka telah mengenal sejak lama, dan kami tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada dirimu."
"Dia pasti wanita yang sangat cantik," kata Baekhyun. Senyumnya kecut.
"Tidak, jangan pasang wajah itu, kau membuatku..." Minseok cemberut dan semakin merasa bersalah.
"Tadi siang Chanyeollie mengenalkan aku pada kekasihnya, tapi kenapa sekarang Chanyeollie tidak mau melakukannya?" tanya Baekhyun. Ia menatap Minseok dengan tatapan mata yang menyiratkan perasaan sedih bercampur takut. Seolah anak itu berpikir bahwa wanita ini mungkin amat sangat berarti bagi Chanyeol, sehingga pria itu tidak sanggup untuk meninggalkannya demi Baekhyun.
Minseok menghela nafas. "Baiklah. Kuakui mereka memang pernah menjalin hubungan khusus. Hanya saja itu tidak lama, dan sama seperti hubungan Phoenix yang lainnya, wanita ini juga tidak berati apa-apa baginya. Jangan ragukan posisimu, karena posisimu jelas tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun." Kemudian Minseok kembali menghela nafas; kali ini amat berat. "Mereka pernah bertunangan—"
Mereka pernah bertunangan.
Chanyeol dan wanita itu.
"—Itu sama sekali tidak..." Minseok tidak melanjutkan ucapannya, karena Baekhyun tidak mengatakan apa pun. Ia juga tidak menangis, dan itu terasa aneh bagi Minseok. Bahkan ketika Chanyeol keluar dari kloset, bocah itu tetap tidak melakukan apa pun selain membuang pandangan, kemudian meringkuk di ujung kasur. Menghadap tepat dinding kaca besar di depannya.
Itu jauh lebih menyeramkan dari menangis.
"Sepertinya aku sudah salah bicara," bisik Minseok pada Chanyeol. Suara Minseok dipenuhi dengan perasaan bersalah yang mendalam, seolah ia baru saja melakukan dosa besar yang tidak sepantasnya dimaafkan.
"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Chanyeol sambil menggulung bagian lengan pada kemejanya. Pria itu mengenakan kemeja putih bersih yang terlihat pas membalut tubuhnya.
"Mengatakan yang sebenarnya," bisik Minseok tidak yakin.
Chanyeol hampir meledakkan kepala Minseok.
"Mungkin kami akan menunggu di luar," kata Minseok cepat. Ia berbalik pergi, sambil menggiring rombongan seperti pengembala itik.
Chanyeol mengusap rambut apinya dramatis, lalu berjalan menuju Omega yang terlihat begitu sedih di ujung ranjangnya. Telapak tangannya yang besar menekan tepian ranjang saat ia telah mengambil duduk. "Bangun, dan jangan menangis jika ingin ikut bersamaku." Suaranya datar dan acuh seperti biasa.
Namun tidak ada jawaban.
"Baekhyun."
"Aku tidak mau ikut."
Hening sekejap.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau melihat wajahnya."
"Kenapa?"
Baekhyun menoleh menatapnya pilu. "Karena dia tunanganmu," bisiknya.
Rahang Chanyeol kaku tegang, benci bagaimana takdir mengubah hatinya menjadi begitu lemah di hadapan Baekhyun. Seolah Omega itu adalah segalanya. Bahkan hanya dengan melihat ke dalam matanya, Chanyeol bisa merasakan apa yang Baekhyun rasakan. Sekarang, keinginan untuk melakukan segalanya demi bocah itu menjadi bagian dari obsesi Chanyeol.
Itu gila.
Tapi bahkan Chanyeol tidak tahu cara untuk keluar dari kegilaan itu.
"Dia pernah menjadi tunanganku, dan itu dulu. Sekarang kami hanya rekan bisnis, dan aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun rekan bisnisku," jelas Chanyeol tenang.
"Pergi saja, aku mengantuk," balas Baekhyun, masih berupa bisikan.
"Jangan menguji kemurahan hatiku Baekhyun," desis Chanyeol. Suaranya dipenuhi ancaman yang bukan main-main. Membuat Baekhyun mau tidak mau mengangat wajahnya dari bantal dan menatap pria itu takut.
Chanyeol benci saat harus membuat Omega-nya ketakutan.
"Bangun," katanya. Tidak merubah suaranya sama sekali.
Dengan patuh Baekhyun bangun dari tidur, dan menunduk saat air mata yang tersisa tiba-tiba mengalir; lewat di pipinya. Chanyeol mencengkram dagu itu lembut, dan menariknya agar mendongak menatapnya. Ibu jarinya mengusap lelehan air mata itu, saat Baekhyun tiba-tiba terisak. Mungkin hatinya begitu sedih dan kacau jadi ia mengabaikan peringatan Chanyeol.
"Kenapa banyak sekali—hiks—apa besok masih ada lagi?!" isaknya keras.
Chanyeol hanya diam.
"Mereka semua pasti cantik. Benar, kan?"
Chanyeol masih diam.
"Dasar playboy!" sindirnya keras-keras.
Chanyeol kembali menghapus air mata yang terus mengalir itu dengan ibu jarinya, menatap wajah kesepian itu lamat-lamat sambil bertanya, "Kenapa kau selalu menangis di depanku?"
Kenapa?
Hening yang panjang terasa begitu menyiksa.
"Karena aku... tidak berharga," terang Baekhyun. Bibirnya ia gigit gelisah.
Lalu bocah itu mulai merangkai kata yang terdengar begitu parau di telinga Chanyeol; sebenarnya itu lebih terdengar seperti omong kosong. "A-aku... tidak menarik, aku tidak cantik, aku tidak wangi, aku tidak berguna, dan aku bahkan tidak kaya. A-ku takut Chanyeollie meninggalkanku lagi. Aku tidak ingin kehilangan Chanyeol."
Sepasang abu-abu terang itu tiba-tiba berubah menjadi begitu gelap. Itu seperti apa yang baru saja diucapkan oleh Baekhyun adalah bagian dari penghinaan besar. Matanya menyala-nyala oleh kemarahan yang membuat Baekhyun ketakutan setengah mati, dan dengan cepat menerjang tubuh besar itu dalam pelukannya.
"Kau selalu mengucapkan hal yang membuatku marah," desis Chanyeol. Suaranya yang berat dan dalam bergaung di dalam kamar yang begitu sunyi. "Angkat wajahmu."
Dengan takut Baekhyun mengangkat wajahnya, dan mendapati Chanyeol tengah menatapnya tajam—itu lebih dari tajam. Bahkan rahangnya terlihat kaku tegang, berkedut seolah pria itu tengah berusaha menahan diri dari sesuatu yang brutal. Baekhyun pikir mungkin kesalahannya begitu fatal. Mungkin kata-katanya barusan punya makna lain di mata pria itu. Padahal ia hanya ingin Chanyeol tahu tentang ketakutannya. Chanyeol pernah meninggalkannya sekali, dan ia tidak ingin sampai ada kedua kali.
"Chanyeollie—"
"Jika," desis Chanyeol. Matanya menatap ke dalam sepasang cokelat bening yang terlihat begitu merana. Bola mata abu-abu terang itu berkilat oleh perasaan marah mendesak, yang hampir menghanguskannya dalam kemurkaan. "Jika kau tidak berharga, bagaimana bisa kau sampai di tempat ini? Jika kau tidak berharga untukku, untuk Park Chanyeol, kenapa aku membiarkanmu hidup? Kenapa aku melenyapkan mereka yang berusaha mengambilmu dariku? Apa seseorang yang menyedihkan akan kubiarkan tidur di ranjangku, dan memanggil namaku dengan begitu berani?"
Lalu Chanyeol merunduk, telapak tangannya menangkup wajah itu, dan berbisik untuk terakhir kali sebelum akhirnya memagut bibir mungil yang begitu candu itu dalam cumbuannya.
"Jangan merendahkan dirimu lagi, kau milikku, dan akan selalu begitu."
e)(o
Daun pintu terbuka, memunculkan sosok Chanyeol, dengan Baekhyun yang mengekor. Pemandangan itu terasa janggal di mata Minseok, sebab matanya dapat melihat dengan jelas bagaimana lelaki mungil di belakang punggung Chanyeol menggenggam telapak tangan Chanyeol erat-erat, sementara wajahnya merona. Jika itu belum cukup, maka binar di matanya yang indah itu pasti bisa menjelaskan sesuatu. Jadi Minseok berdehem, dan melirik penuh selidik pada Baekhyun yang langsung menatap ia lewat bulu matanya; itu adalah tatapan malu-malu yang dipenuhi bunga imajiner. Sesuatu pasti telah terjadi.
"Ada apa?" tanya Chanyeol saat mendapati Minseok yang termanggu.
Sambil berdehem—untuk menguasai dirinya kembali—Minseok membuang pandangan, dan tersenyum, hampir seperti menyeringai. "Tidak ada, mari kita temui dia," ucap Minseok sambil menghela Chanyeol untuk berjalan lebih dulu, sementara ia beserta para rombongan mengekor dari belakang.
"Kenapa mereka terus mengikuti kita?" tanya Chanyeol. Pertanyaannya merujuk pada rombongan pengawal yang terus mengekori mereka.
"Tadinya aku hanya ingin memastikan semuanya aman, juga karena kupikir Baekhyun tidak akan ikut." Matanya melirik Baekhyun jahil dan mendapati anak itu menatapnya salah tingkah. "Mereka seharusnya berjaga di depan pintu kamarmu."
Setelah itu tidak ada yang bersuara lagi. Mereka berjalan menuju ruangan di mana wanita itu berada, namu kali ini ruangan itu tidak sama dengan ruangan yang tadi siang di pakai oleh wanita bernama Heidi. Hal itu karena Baekhyun masih ingat betul bahwa pintu ruangan tadi siang tidak ganda seperti pintu di depannya—juga, tidak ada penjagaan ketat di depannya—seperti apa yang Baekhyun lihat saat ini. Wajahnya mendongak melihat pada Chanyeol-nya, dan menemukan pria itu tengah menyeringai.
"Dia benar-benar tidak berubah," ucap Chanyeol. Merasa lucu melihat sekitar sembilan orang pengawal—yang bukan miliknya—berdiri siaga di depan pintu. Ia menatap mereka satu-persatu, penuh cemooh, namun tidak ada diantara mereka yang berani membalas tatapan Chanyeol.
"Mrs. Seo sudah menunggu anda di dalam," kata salah seorang pengawal sambil membukakan pintu.
"Siapa yang bertamu sebenarnya," sindir Minseok keras yang langsung membuat para pengawal itu terkesiap lalu menunduk. Minseok menatap Chanyeol, dan pria itu terlihat begitu tenang; ia mengendalikan emosinya dengan sangat baik. Entah apa yang sudah Baekhyun perbuat, karena hal itu sepertinya sangat berakibat pada suasana hati Chanyeol.
"Tunggulah di luar," kata Chanyeol pada Minseok.
Setelah memberi komando, Chanyeol berjalan bersama Baekhyun untuk memasuki ruangan, namun tiba-tiba salah satu pengawal menahan lengan Baekhyun. Melihat hal itu Chanyeol segera menoleh, menatap pengawal itu ganas. "Lepaskan tanganmu darinya," desis Chanyeol berbahaya.
Pengawal itu langsung melepaskan tangan Baekhyun seolah tangan itu baru saja membakarnya. "Mrs. Seo ha-hanya ingin bertemu dengan anda. Beliau bilang, empat mata."
Tanpa mengatakan sesuatu, Chanyeol memasuki ruangan—
—bersama Baekhyun-nya, tentu saja.
e)(o
Sebuah ruangan pribadi, tempat Chanyeol biasa berbisnis, tetapi tidak untuk sembarang orang. Tempat itu hanya dapat dimasuki para pembisnis tinggi, politikus kotor, dan taipan kaya yang membutuhkan tangannya.
Ruangan itu didominasi oleh warna merah hati, dengan jendela besar terbuka lebar, sehingga angin malam berhembus dan mengakibatkan tirai hitam penutupnya berkibar dramatis. Ada perapian besar yang menyala-nyala, dinding berlapis kayu, serta lukisan-lukisan antik yang terpajang di dinding. Karpet bulu berada di tengah ruangan, menjadi alas untuk satu set sofa beludru hitam, di mana lampu kristal keemasan berpendar dramatis; menaungi ruangan.
Chanyeol memasuki ruangan, dan menemukan Seohyun duduk di sofa panjang. Wanita itu tengah menyesap wine merahnya, yang senada dengan gaun dan sepatu merah mawar-nya.
"Kau terlambat," kata Seohyun, mulut gelas berada di ujung bibirnya yang merah seperti delima. Ia menoleh, terkesiap menemukan Chanyeol tidak datang sendirian. Pegangan di gelas mengencang saat ia berkata, "Sudah aku katakan, aku hanya ingin kau datang sendirian!" Lalu tanpa diduga wanita bak dewi itu melempar gelas kristalnya hingga membentur lantai; pecah dan menjadi serpihan.
"Cha-Chanyeollie," cicit Baekhyun takut. Jari-jarinya mencengkram kemeja Chanyeol, mengkeret di balik punggung kokoh Alphanya.
"Ayo duduk," kata Chanyeol tenang sambil meraih pinggul Baekhyun, dan membawa anak itu ke sofa tunggal, tepat bersebrangan dengan Seohyun.
Seohyun menghela nafas—mencoba menguasai dirinya kembali—lalu tersenyum manis. "Maaf untuk yang tadi, aku hanya sedikit... ceroboh," ucapnya sambil menatap Baekhyun.
Tatapannya begitu tajam menusuk.
Saat tatapan mata wanita itu mengunci tepat ke arah Baekhyun, Chanyeol berdecak dan mengusap kepala Omega dalam pangkuannya. "Dia Baekhyun, Omegaku."
"Jadi dia yang sudah membuatmu melakukan banyak masalah," kata Seohyun. Nadanya terdengar sinis namun bercampur dengan rasa iri.
Perasaan iri mendalam yang sulit untuk dikendalikan.
Chanyeol tersenyum dingin, tidak ingin membuang waktu berharganya. "Untuk apa kau datang ke tempatku, bukankah salah satu Phoenix telah kukirim ke tempatmu?" tanyanya saat Baekhyun menguap dan bersandar di bahunya.
"Kau mengijinkannya duduk di pangkuanmu?" Seohyun justru malah mengatakan hal lain. Matanya terlihat menerawang, menatap posisi duduk Baekhyun yang nampak nyaman di atas pangkuan Chanyeol. Wanita itu kembali menatap Baekhyun, tepat di matanya sambil berkata lamat-lamat, "Dulu aku pernah berada di posisimu."
Ujung bibir Chanyeol berkedut.
Baekhyun berkedip, matanya membalas tatapan Seohyun saat wanita itu mulai mengenang.
"Rasanya menyenangkan saat dia memberimu perhatiannya. Itu karena dia tidak pernah melakukan itu pada sembarang orang," ujar Seohyun. "Dia mungkin sangat kasar, terlebih saat dia memperlihatkan kekasarannya di atas ranjang. Itu akan menyakitkan, tapi sebenarnya dia pria yang cukup romantis, dan selalu menepati janji. Dia memang bukan pria baik, tapi saat bersamamu dia akan menjadi pria sempurna. Aku sangat mencintai pria itu... pria yang kau miliki. Apa aku boleh memilikinya juga?"
Satu alis Chanyeol naik, menunggu.
Tiba-tiba suasana berubah menjadi begitu panas.
"Tidak boleh!" balas Baekhyun lantang. Dia memeluk leher Chanyeol; matanya menatap mata Seohyun ganas, dan jika saja mereka dapat merubah diri menjadi seekor srigala, mungkin wanita itu telah meregang nyawa di taringnya. "Chanyeollie—"
"Lancang sekali!" ucap Seohyun murka. Matanya melotot mendapati bocah ingusan itu memanggil mantan tunangannya dengan sebutan sehina itu. "Kau tidak punya sopan santun."
"Chanyeollie tidak pernah berbuat kasar padaku," ucapnya, menyeringai. "Dia melakukannya dengan sangat lembut, kau tahu kenapa—"
"Hentikan!" Seohyun mulai histeris.
"—Karena aku berharga untuknya!"
"Aku bilang hentikan!"
Hening yang begitu mengancam menggantung pekat di udara.
Mata dibalas mata. Tidak ada yang berpaling dari satu sama lain—dan Chanyeol bersumpah, ia belum pernah melihat tatapan itu sebelum ini; dari Baekhyun-nya yang mungil, yang penuh dengan sopan santun, dan begitu pemalu. "Jangan pernah menginginkan milikku." Itu terdengar seperti geraman srigala betina yang murka, begitu seksi—dan bola mata cokelat terang itu berkilat-kilat, sama seperti saat Chanyeol tengah kukuh mempertahankan miliknya.
Seohyun menggertakkan giginya; panas api cemburu hampir membakar saat ia tahu keduanya begitu mirip. Omega di dalam dirinya ikut murka, merasa terkhianati oleh sesuatu yang pada kenyataannya tidak pernah bisa ia miliki seutuhnya.
Tiba-tiba Chanyeol merasa gerah. Ia merenggangkan lehernya yang terasa kaku, lalu mengusap pinggang anak itu untuk menarik perhatiannya.
Saat Baekhyun menoleh bingung, menatapnya lewat sorot mata polos dan kekanakkan miliknya, Chanyeol tidak tahan untuk tidak menghadiahi bocah kesayangan-nya itu lumatan di mulutnya. Itu mungkin sesaat, tapi efeknya begitu besar bagi Baekhyun. Pipinya merona malu, dan Chanyeol tertawa entah untuk alasan apa.
"Dia tidak pernah seperti itu," ujar Chanyeol dalam tawa. Namun tawa itu dalam sekejab hilang. Digantikan oleh seringaian dingin, dan tatapan mata yang menyiratkan kepuasan serta perasaan bangga. "Dia begitu menakjubkan, benar, kan, Seohyun?"
Saat mereka masih saling diam, Jaesuk dan dua staf muncul dari balik pintu; membawa baki minuman. Seohyun menghembuskan nafas, dan menuang wine baru sementara staf lain berjongkok untuk membersihkan pecahan gelas. Chanyeol menyulut rokok demi mengisi paru-parunya dengan zat bernama nikotin. Kepulan asap pekat terlihat mendesak keluar di mulutnya saat pipinya menyekung menghisap rokok tersebut. Matanya menatap Baekhyun, dan mendapati bocah itu tengah menatapnya. Lalu entah mengapa Chanyeol langsung melihat jam; pukul sebelas.
"Kau mengantuk?" tanya Chanyeol.
Jaesuk telah selesai dan keluar dari pintu bersama dua orang staf tadi.
Baekhyun menggeleng cepat, dan Chanyeol tahu anak itu berbohong, tapi ia memilih diam. "Kapan ini selesai?" cicit Baekhyun. Kepalanya terkulai di pundak Chanyeol untuk menyembunyikan mulutnya yang menguap lebar.
Mata Chanyeol menatap Seohyun. "Kurasa cukup basa-basinya, kau bisa mengatakan tujuanmu sekarang."
"Kau mengasuh bayi sekarang, apa itu tidak merepotkan? Dulu kau begitu agung dan ditakuti, tapi sekarang aku mulai ragu," kata Seohyun mencoba memprovokasi. Ia merasa segalanya belum usai, dan saat ia ingin kembali bicara, pria itu memotong cepat.
"Seohyun..." ucap Chanyeol. Suaranya mengancam. "Lupakan semua omong kosong tentang kita... semua itu tidak ada artinya bagiku," lanjutnya dingin.
Baekhyun masih dapat mendengar; sayu-sayup suara jeritan wanita itu yang begitu nyaring dan menakutkan. Bahkan suara jeritan itu lebih gila dari suara jeritan wanita bernama Heidi. Itu adalah tipikal jeritan yang biasa ia dengar di film-film hantu. Baekhyun ketakutan, namun juga penasaran. Sayang, matanya tidak sanggup lagi terbuka; ia benar-benar mengantuk. Yang dapat Baekhyun lakukan hanya memeluk leher Chanyeol erat-erat, kemudian jatuh tertidur.
"Selamat malam, Chanyeollie..."
e)(o
Wanita itu telah pergi, dan Chanyeol memilih untuk tidak mengantarnya sampai ke gerbang karena ia hampir saja mencelakai Omega-nya.
"Sebenarnya untuk apa dia datang?" tanya Minseok.
"Untuk mengambil apa yang saat ini tengah Sehun ambil," balas Chanyeol.
"Kenapa orang-orang begitu menginginkan rusa kecil itu?" Kening Minseok mengkerut.
Chanyeol mendengus dalam seringaian. "Saat dia telah tiba, aku akan menunjukkan sesuatu padamu," ujarnya. Begitu misterius.
Minseok mengangguk. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Minseok. Ucapannya menjurus pada Baekhyun yang tertidur pulas di pangkuan Chanyeol.
Mengangguk, pria itu mendongak, dan menatap Minseok. "Seohyun cemburu pada Baekhyun, dan aku berkata padanya bahwa masa lalu kami hanya omong kosong."
"Itu kata-kata yang bijak." Minseok mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dia pasti semakin terobsesi padamu sekarang."
Chanyeol mendengus. Telunjuknya mengusap bibir bawahnya. "Dia ingin mencelakai Baekhyun, dia melempar gelasnya ke arah anak ini tapi gelas itu hanya mengenai lututku.."
Minseok mendesah. "Saat mendengar suara jeritannya untuk yang kedua kali, aku langsung menerobos masuk. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada darling kecil kita."
"Dia baik-baik saja." Chanyeol meyakinkan, namun seperti lebih kepada dirinya sendiri. Ia menunduk memandang wajah Baekhyun yang terlelap damai. Dengusan keluar dari mulut Chanyeol melihat wajah polos bocah itu. Baekhyun begitu mungil, dan sanggup ia remukan kapan saja. Begitu rapuh, tapi sanggup menarik perhatiannya. Seluruhnya. "Kenapa tidurmu begitu nyenyak... padahal kau tahu kau berada di sarang setan," bisik Chanyeol serak, membelai bibir Baekhyun yang begitu lembut di jarinya; candu barunya.
Minseok ikut mendengus. Suaranya begitu menggoda saat ia berkata, "Kau bukan setan, kau itu monster."
Bola mata Chanyeol bergulir saat ia mulai mengingat. "Dia memanggilku begitu," kekehnya menyeramkan.
Minseok berdehem, merasa sedikit terintimidasi. "Bagaimana rasanya?" Tanya Minseok mengalihkan topik.
Kening Chanyeol mengkerut. "Apa?"
"Mendapatkan Omega diusia dua puluh empat tahun," balas Minseok. "Kau terkejut?"
"Aku marah," jawab Chanyeol jujur. "Aku sangat marah, hingga rasanya aku ingin membunuhnya." Dan saat ia mengucapkan itu kening Baekhyun mengkerut, seolah mendengarnya, membuat Chanyeol menyeringai.
"Kau tidak melakukannya." Minseok mengucapkannya dengan begitu percaya diri.
Seringaiannya melebar. Bola mata abu-abu terang itu menggelap, lalu berkilat penuh gairah. "Memilikinya jauh lebih menyenangkan," bisiknya.
"Aku bisa melihatnya. Kau bahkan tidak bisa menjaga sikap hingga harus menodai meja barmu sendiri," sindir Minseok.
"Itu sempurna Minseok, aku bahkan melakukannya dengan sangat pelan." Mata Chanyeol terpejam, masih bisa merasakan kehangatan yang sempat membungkusnya erat.
"Kau terlihat begitu puas, dan jauh lebih tenang," balas Minseok. "Seperti singa kekenyangan."
"Aku masih lapar Minseok," gumam Chanyeol. Matanya terbuka, nampak kelaparan. "Selalu lapar," lanjutnya. Jari-jarinya membelai helaian anak rambut Baekhyun dari kening sampai ke pipinya, dan menatapnya buas.
"Syukurlah." Minseok tersenyum lega, membingungkan Chanyeol.
"Kau sangat..." desis Chanyeol.
Minseok mengangkat tangan. "Aku tahu." Tiba-tiba ia menarik nafas cepat, seperti asma. Matanya berair. "Aku hanya, aku pikir Baekhyun sama sepertiku, tapi aku tidak ingin dia menyerah, tidak seperti aku."
"Kau bisa kembali pada Jongdae jika kau mau," ucap Chanyeol.
Minseok mendengus. "Sumpahnya adalah sumpah prajurit sejati." Ia lalu menunduk, menatap lantai, kosong. "Dan aku tidak ingin melukai harga dirinya. Aku tahu saat hari di mana dia pulang, sesuatu telah terjadi. Dia bilang dia tidak bisa lagi bersamaku, dia bilang dia telah gagal. Awalnya aku tidak mengerti mengapa Jongdae bicara seperti itu, padahal ia dan timnya mendapat penghargaan atas jasa mereka. Tapi, saat aku mencari tahu sendiri apa yang telah terjadi, apa yang menimpa padanya, aku baru yakin sesuatu memang telah terjadi."
"Kau tidak ingin membantu Jongdae menjebloskan si tua bangka itu ke liang lahatnya?" tanya Chanyeol.
"Tidak ada satu orang pun yang bisa mengadili Mayor Jenderal Jonghyun Lee kecuali Jongdae Kim. Tua bangka itu harus membayar sembilan nyawa prajurit yang telah ia korbankan di peperangan hanya demi untuk nama baiknya." Nafasnya memburu. "Dan aku akan siap membantunya, kapan pun dia memerlukan bantuanku."
"Kau sudah berdamai dengan masa lalumu rupaya," gumam Chanyeol.
"Bagaimana denganmu? Dengan ikatan persaudaraan antara dirimu, dan...
...Kris Wu."
e)(o
Seohyun memasuki Mansion Wu dan menjerit saat matanya bertemu pandang dengan Kris. Wanita cantik itu membawa sepatu hak tingginya hingga mencapai tempat Kris duduk.
Tepat di singgasananya.
"Ini ruang kerjaku jika kau lupa," kata Kris masih sambil memakai kacamata bacanya. Pria Kanada itu terlihat panas dengan kemeja abu-abu dan rambut pirang keemasan pendek.
"Kau harus membawa kelinci kecil itu pergi dari rumah tunanganku," kata Seohyun. Nadanya memerintah, dan ia bahkan tidak segan mengambil pena yang tengah dipegang Kris saat pria tampan itu tidak mendengarkan.
"Mantan tunanganmu," koreksi Kris.
"Aku tidak peduli!" Seohyun kembali menjerit, seperti wanita sinting.
Ruangan itu begitu gelap. Semuanya berwarna hitam pekat dengan gradasi merah marun yang cantik. Bahkan kursi yang dipakai Kris berwarna sama dengan hiasan berupa ukiran kepala naga yang tepat berada di kepala kursinya. Mencerminkan dari mana datangnya ia; seorang pewaris Wu sejati, sekaligus pemimpin Dragon.
Kris memandang ke depan, malas. "Biarkan aku menyelesaikan ini, atau pengendalian diriku akan hancur dan besok orang-orang akan menemukan kepalamu berada di atas meja kerjaku sebagai hiasan baru."
Bibir Seohyun membentuk garis tipis. Dengan cepat ia memutar pundak Kris hingga menghadap ke arahnya. "Kau harus mendengarkan aku, sekarang." Lalu ia naik ke atas pangkuan pria itu, mengangkangi pinggang Kris, dan menarik kerah kemejanya. "Aku masih mencintainya, Kris... Aku sangat... sangat-sangat mencintainya."
"Kalau begitu dapatkan dia kembali," kata Kris.
"Kau harus membantuku, aku tidak bisa melakukan ini sendirian," ucap Seohyun. Tangannya membuka satu-persatu kancing kemeja Kris. Bahkan ia melepas kacamata baca pria itu, dan mengecup tepat di bibirnya.
"Apa imbalannya?" tanya Kris acuh.
"Bukankah kau menginginkannya, menginginkan bocah itu?" ujar Seohyun. Wanita itu menekan penis Kris tepat di kewanitaannya. "Kau bisa mendapatkannya Kris."
"Lakukan dengan baik, dan aku akan mempertimbangkannya," balas Kris sambil meremas payudara yang terasa begitu lembut di telapak tangannya.
"Kau pasti akan melalukannya untukku," balas Seohyun dalam seringaian sambil membiarkan wajah tampan pria itu terbenam dalam kelembutan payudaranya.
Seohyun rela melakukan apa pun, bahkan jika itu artinya ia harus membuka pahanya di atas penis Kris; untuk memuaskan pria itu. Hanya agar semua keinginannya berjalan mulus, karena hanya pria itu yang dapat membantunya.
e)(o
"Persetan!"
Sehun berteriak. Membanting stir dan hampir masuk jurang kalau saja ia adalah seorang supir amatir. Jalanan begitu gelap, angin berhembus mirip tornado yang Luhan pikir sanggup menerbangkan mobil yang tengah ditumpanginya. Pegangannya erat pada tepian kursi—dan sepertinya ia hampir mengompol—padahal jelas ada tenda besar di selangkangannya. Matanya melirik Sehun, mendapati pria tampan itu tengah begitu fokus mengemudi. Lalu saat Luhan menoleh menatap kaca spion, ia bisa melihat tiga mobil hitam tengah membuntuti mereka.
Berusaha mendapatkannya.
Rasanya begitu gila karena mereka terus saling mengejar lebih dari satu jam, namun tidak ada satu pun dari mereka yang ingin menyerah.
"Mungkin ada milyaran sel sperma di bola kembarku yang ingin segera meledak, kau sialan!" Luhan berteriak murka. Ia mencengkram tepat di selangkangannya, basah langsung merembes membuat celananya becek seolah anak itu baru saja mengompol. Mulutnya terbuka, mencoba mengais udara saat pasokan oksigen terasa semakin berkurang; mencekiknya. Terlebih aroma Sehun seolah sengaja menggodanya dengan brutal. Luhan merasa pusing, hampir gila. Tubuhnya terbakar, mendamba; membutuhkan pelepasan, segera, atau ia akan mati.
Luhan tidak bisa mencegah rintihan yang keluar dari mulutnya. Bahkan jari-jari kakinya menggulung, dengan kening mengkerut dan tubuh merona parah. Ia benar-benar sekarat, obat itu telah bekerja untuk membakarnya.
"Tenangkan dirimu Sehun," gumam Sehun pada dirinya sendiri; begitu terpengaruh dengan aroma carrier di sampingnya. Bahkan tanpa melihat ke bawah, ia tahu penisnya baru saja hidup. Bergerak minta dilepaskan.
Dan dipuaskan, tentu saja.
"Aaaarrrgggghh!" jerit Luhan. Satu tangannya berusaha mengambil sesuatu yang baru saja jatuh dari dalam kantung celananya.
"Ada apa? Kenapa kau menjerit?!" Sehun berteriak. Berbelok ditikungan yang tajam, dan lampu truk yang berjalan berlawanan arah dengannya hampir saja membuatnya buta.
"Rubikku, rubik itu, di mana?!" teriak Luhan.
"Rubik apa? Lupakan saja, kembali duduk di kursimu!" Sehun berucap seolah Luhan adalah anak kecil. Satu tangannya terulur tepat mengenai dada Luhan, mendorong, untuk mencegah anak itu jatuh dari kursi.
"Ahn!" rintih Luhan. Tangannya menekan telapak tangan Sehun di puting susunya, mencegahnya pergi.
Sehun menelan ludah, merasakan benda yang mirip kerikil kicil berada tepat di bawah telapak tangannya. Pada awalnya, Sehun menikmati saat di mana Luhan mulai nakal; dengan sengaja menggesekkan jari-jari Sehun di puting susu miliknya. Namun saat orang-orang itu mulai menembaki mereka, Sehun sadar bahwa mereka belum bisa melakukan hal itu di saat genting seperti ini.
DOR
PPYAAARR
Orang-orang itu kembali menembak, tidak sabaran. Kali ini tepat mengenai kaca belakang mobil hingga bagian itu bolong, dan Luhan tidak bisa berhenti berteriak karena—persetan—ia benar-benar tengah sekarat.
"Kau harus membantuku!" Luhan berteriak pada Sehun.
"Segera setelah kita keluar dari masalah sialan ini," gumam Sehun.
Luhan menjerit panjang. "Aku benar-benar sekarat!"
DOR
"Keparat!" Sehun membungkuk lalu mengambil senjata api di kakinya. Saat mereka berbelok, dengan cepat Sehun menyerang balik. Menembak menggunakan tangan kirinya yang sama ahlinya dengan tangan kanan.
DOR
DOR
DOR
Sehun hampir tidak melihat jalanan, dan bersyukur karena jalanan yang mereka lewati begitu sepi.
"Mereka pasti akan mendapatkan kita, mereka semakin dekat!" teriak Luhan. Tubuhnya merosot, tersengal dan pusing semakin mendera hingga semuanya hampir terlihat samar.
DOR
DOR
"Tidak," kata Sehun begitu yakin. "Jika kita melompat di—"
"Melompat?!" Luhan berteriak.
"Kenapa, kau takut?" tanya Sehun.
"Tentu saja aku tak—"
DOR
"Merunduk!" Sehun mendorong kepala Luhan agar ia merunduk.
DOR
DOR
"Aku tidak mau melompat dari mobil ini!" Luhan tetap berteriak. Matanya bergulir ke atas menatap Sehun yang tengah sibuk mengemudi sekaligus menembak—dan sialan—pria itu terlihat begitu seksi saat lampu jalan yang menyala menyoroti wajahnya.
Dengan cepat Sehun menambah kecepatan sambil mendesis, "Kalau begitu tidak ada jalan lain."
Lalu Luhan mendengar suara, seperti kereta. Ia mengangkat wajahnya, dan menemukan rel di ujung jalan yang tidak memiliki palang pintu. Meski begitu gelap namun Luhan tahu pasti bahwa tidak lama lagi sebuah kereta akan melewati rel tersebut. Matanya melotot, menoleh menatap pria di sampingnya yang nampak begitu siap menerima kematian.
"Apakah kita akan mati?" tanya Luhan. Punggungnya tegak, dan bersandar pada sandaran kursi.
"Tidak, tentu saja tidak," ucap Sehun saat bola matanya bergulir ke arah kereta yang melaju; menggonggong dengan suara nyaring yang membuat Luhan di sampingnya menahan nafas.
"Kereta itu semakin dekat," kata Luhan tegang sambil menatap kereta dan mobil-mobil yang terus mengikuti mereka dari balik kaca spion.
Sehun mendengus. "Ini dia," bisiknya.
"Aku harap kita lebih dulu lewat sebelum kereta itu yang melewati kita lebih dulu," harap Luhan. Ia mulai merasa mual melihat cahaya di ujung jalan yang menandakan kereta sialan itu semakin mendekat.
Detik-detik menegangkan saat Sehun kembali menambah kecepatan, dan menancap gas seolah hidupnya hanya bergantung pada benda tersebut.
Satu.
Dua.
Tiga.
Luhan bisa melihat cahaya yang langsung membuatnya melompat ke pangkuan Sehun, mengangkangi pria itu kemudian memeluknya erat-erat. Ini mungkin gila, tapi setidaknya ia akan mati dalam pelukan pria idamannya; ia tidak akan mati sia-sia.
"Pejamkan matamu," bisik Sehun lembut.
Luhan memejamkan matanya patuh, dan menjerit, "Aaaarrrrggghhh!"
PPPLAAASSHHHH
Kereta itu bergerak melewati rel dengan begitu cepat, menghadang tiga mobil yang sedari tadi mengikuti Sehun. Lalu tepat saat ekor kereta menghilang, tidak ada apa pun di depan mereka selain kegelapan.
Sehun dan Luhan menghilang dalam gelap pekat malam.
e)(o
Suara sepatu menggema di dalam kamar yang luas dan dingin. Hanya cahaya bulan yang menjadi penerang bagi ruangan tersebut; menyusup melalui dinding kaca besar yang tidak tertupi tirai. Pemilik kamar itu—Chanyeol—berjalan menuju ranjang, sementara Baekhyun berada dalam gendongannya. Matanya melihat ke depan, tanpa emosi. Siluet tubuhnya nampak begitu indah, memenuhi dinding kamar. Ia terlihat besar, kuat, dan kokoh, seperti seekor raksasa yang tengah menggendong peri kecil.
"Chanyeollie." Tiba-tiba Baekhyun merintih dalam tidurnya, bergerak gelisah dalam gendongan Chanyeol.
Pria itu menunduk, saat Omega-nya kembali merintih. Nafasnya memburu, seolah tengah menahan sesuatu yang begitu mendesak. Kening Chanyeol mengkerut, membiarkan Baekhyun mengambil nafas tersendat, hampir seperti tercekik, lalu mendesah begitu panjang. Sekarang semuanya menjadi lebih jelas; anak itu tengah menemui pelepasan. Mungkin memimpikan sesuatu yang erotis dengan Chanyeol sebagai bahan fantasinya. Sebuah seringaian nakal muncul; sejujurnya pria itu begitu terpengaruh dengan desahan tersebut.
"Chanyeol," gumam Baekhyun pelan sambil membuka kedua matanya, dan begitu terkejut mendapati dirinya berada dalam gendongan pria itu.
Tanpa mengatakan sesuatu Baekhyun langsung menutup kedua matanya dan berpura-pura kembali tertidur; pikirnya Chanyeol tidak akan peduli. Pria itu menurunkannya di ranjang, dan tidak melakukan apa pun. Sambil menghela nafas lega, Baekhyun kembali membuka mata dan melihat pria itu tengah duduk di tepian kasur, memunggungi dirinya. Baekhyun juga dapat melihat Chanyeol yang tengah membuka satu-persatu kancing kemejanya dari siluet yang terlukis di dinding kamar, dan tepat saat pria itu menarik lepas kemejanya melewati kepala, Baekhyun langsung kembali memejamkan mata.
Menunggu.
Satu menit pertama dan Baekhyun masih dapat mendengar suara alas sepatu, namun di detik berikutnya ia tidak mendengar suara apa pun selain keheningan yang begitu panjang.
Bocah itu menggigit bibir, kemudian membuka mata. Pelan-pelan menoleh ke ujung kasur tapi tidak menemukan siapa pun. Kamar nampak begitu sepi. Namun betapa terkejutnya ia, karena saat matanya menoleh cepat ke balik punggungnya; sepasang abua-abu terang menyambutnya tajam. Pria itu berdiri menjulang di sisi kasur, terlihat dominan sekaligus menakutkan; sebab cahaya yang berpendar hanya mampu menyinari setengah dari sisi wajah dan tubuhnya. Pria itu terlihat seperti seekor srigala kelaparan yang tengah menunggu mangsanya sadar akan kehadirannya; dan dalam kasus ini, Baekhyun lah mangsa tersebut.
Celakalah ia.
"Mencariku?" bisik Chanyeol dalam seringaian.
Baekhyun memekik, saat tanpa aba-aba Chanyeol menerjang, kemudian memagut bibirnya ke dalam sebuah ciuman panjang. Lidahnya yang nakal menerobos masuk, menghisap dan menjelajahi isi mulut Baekhyun tanpa ampun. Ciumannya menuntut, penuh gejolak seolah ia telah menunggu untuk waktu yang cukup lama. Satu tangannya bergerak cepat mengambil pergelangan tangan Baekhyun dan membawanya ke atas kepala anak itu, sementara tangan yang lain turun dan dengan gesit menurukan celana itu melewati pantatnya; memukul pantat itu keras-keras hingga pemiliknya menjerit.
Chanyeol begitu bringas, sanggup melumpuhkan lawannya tanpa perlawanan.
Mengerang, Baekhyun menggerakkan kedua tangannya liar; memohon untuk dilepaskan. Tubuhnya terbakar dan keringat mulai muncul mengotori pelipisnya. Lubangnya licin dan berkedut, melelehkan setitik precum, sementara benda hidup di antara pahanya telah bangun, menabrak perut Chanyeol intim. Di atasnya, Chanyeol begitu gesit dan bergairah. Pria itu melepaskan tangannya, dan membiarkan yang lebih mungil menyentuh tubuhnya.
"Chanyeollie—hhh!" Baekhyun tersengal. Jari-jarinya gemetaran dan terasa linu, mencengram di rambut Chanyeol. Matanya setengah terbuka, dan bibirnya bergerak semampunya untuk mengimbangi ciuman pria itu yang begitu menguras tenaganya.
"Buka kakimu," perintah Chanyeol.
Baekhyun merasa begitu malu, namun ia tetap melakukannya karena itu adalah perintah dari Aphanya.
Kedua kaki Baekhyun terbuka lebar, mengangkangi pinggang Chanyeol. Paha dalamnya menggesek celana Chanyeol, memberi sengatan nikmat. Jari-jari kakinya menggulung ketika Chanyeol beranjak, menarik lepas piyama yang dipakainya, dan segera setelah tubuhnya telanjang bulat di atas sprai kasurnya yang hitam legam hingga begitu kontras dengan kulit putihnya yang bersinar, juga di bawah tatapan sepasang abu-abu terang yang begitu buas, Baekhyun dengan segenap kewarasannya berbalik tidur menyamping; memejamkan mata erat-erat.
Ada rengekan kecil yang keluar dari mulutnya saat angin berhembus dan membelai tubuh telanjangnya sambil lalu, tapi yang membuatnya kembali merengek adalah karena Chanyeol baru saja mengecup lengan atasnya. Pria itu kembali memukul pantatnya, meremas benda itu untuk menarik perhatian Baekhyun. Rasanya begitu nikmat, saat kulit pantatnya disentuh dan bergesekkan dengan telapak tangan Chanyeol yang besar.
"Chanyeollie," rengeknya. Baekhyun mendesah; menggumamkan nama Chanyeol di setiap kecupan nakal pria itu di sepanjang lengannya. Kecupan seringan kapas itu berlanjut hingga ke telinganya; pria itu mulai menjilat, dan membelai dengan menggunakan lidahnya yang kasar. Membuat tubuh Baekhyun gemetaran. Giginya yang runcing bahkan menggigit main-main daun telinganya, membuat nafas Baekhyun putus-putus dan tersengal, bahkan kedua tangan anak itu telah mengepal di bawah pipinya.
"Chanyeollie jangan—nnh." Baekhyun memohon. Telapak tangannya yang kecil mencoba menjauhkan mulut Chanyeol tapi pria itu tidak menyerah.
"Buka matamu," bisik Chanyeol.
"Tidak—angh!"
Baekhyun menggeleng brutal, dan merintih merasakan usapan telapak tangan Chanyeol di pinggulnya yang sempit. Tangan Chanyeol begitu kasar, menghantarkan rasa panas dan kejutan listrik yang membuatnya sulit untuk menolak pria itu. Usapan itu lalu menjalar menuju perut, turun ke paha hingga paha bagian dalamnya; mengusap bagian itu bolak-balik tanpa berniat menyentuh penisnya yang telah bangun; basah dan licin oleh precum. Kecupan nakal itu turun, membawa jejak bibir seorang Phoenix yang begitu panas—dan sadar atau tidak—Baekhyun menjenjangkan lehernya hanya agar Chanyeol lebih leluasa menggarap bagian tersebut.
"Ngh—nnh!" Baekhyun mengerang saat Chanyeol menyerang pantatnya berkali-kali. Pria itu menyeringai, dan kembali mengurung Baekhyun begitu posesif. Tangannya menarik tubuh Baekhyun mendekat padanya, hingga anak itu kembali telentang; pasrah hanya untuknya.
"Kau basah," ucap Chanyeol saat mata mereka bertemu pandang. Yang lebih mungil membalas tatapan itu malu-malu, sementara yang lebih jangkung menatapnya dengan begitu berani. Jari-jari terampil Chanyeol bergerak kurang ajar, membelai di area ceruk bagian luar Baekhyun yang lembab dan licin, sementara bibir nakalnya turun untuk menciumi leher sampai ke dadanya; mengecup sambil lalu puting susunya kemudian meraup benda kecil itu ke dalam mulutnya; menghisap dan melumat kerikil itu secara bergantian. Penuh pemujaan.
"Kumohon," sengal Baekhyun. Salah satu tangannya meremas sprai di bawahnya sementara tangan yang lain mencengkram rambut di tengkuk Chanyeol. Pria itu mulai menyusu di dadanya, melecehkan puting susunya seolah ia ingin menelan benda itu.
Pria itu mempermainkannya dengan rakus. Tanpa belas kasihan.
Kepalanya menjejak bantal, dan liur hampir menetes di tepi bibirnya saat dua jari Chanyeol bergerak memasuki ceruk lembabnya yang berkedut lapar. Omega di dalam jiwanya menggelepar karena senang atas perlakuan Alpha-nya. Sementara Chanyeol mendengus, masih enggan meninggalkan dada Baekhyun. Dua jarinya bergerak gesit, membuat pola yang telah ia hafal di luar kepala. Ia hanya perlu masuk sedikit lebih dalam, lalu menekuk jari-jarinya untuk memberikan anak itu—
"Chanyeol!"
—Kenikmatan.
Lubang Baekhyun mencengkram jari-jari Chanyeol, membuat Chanyeol menggeram merasakan betapa ketat dan hangatnya lubang tersebut. Ia mulai bergerak konstan, memberikan anak itu kenikmatan. Meskipun telah dimasuki satu kali, namun lubang itu masih terasa begitu sempit, hal ini membuat Chanyeol tidak sabar untuk segera memasuki Omeganya. Pria itu tidak sabar untuk segera membawa Baekhyun pada pusaran kenikmatan yang akan membuatnya lupa dengan segalanya—ia hanya akan mengingat Chanyeol, karena hanya nama itulah yang tersisa dalam ingatannya.
"Chanyeollie," desah Baekhyun. Jari-jari tangannya naik; membelai dan menggaruk punggung kekar pria itu melewati pundaknya. Mata anak itu membalas tatapan mata Chanyeol—namun tidak bertahan lama karena tatapan mata itu membakarnya.
Membakarnya sampai ke tulang.
Membuat tubuhnya membara hingga memunculkan rona. Baekhyun begitu malu saat pria itu mengorek lebih dalam; menggaruk dinding lubangnya intens, dan membelai prostatnya dengan sengaja secara berulang kali. Nafasnya tersengal, bibirnya terbuka tepat di depan dagu Chanyeol yang runcing. Pusing karena rasa nikmat membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Setitik air mata nampak menggenang di pelupuk matanya saat lagi-lagi pria itu menekan di tempat yang sama. Mungkin ia akan orgasme bahkan sebelum pria itu benar-benar memasukinya.
Rangsangan ini hanya mempercepatnya pada kematian.
"Ahn—ahh—ahh—Chanyeollie." Baekhyun mendesah pasrah. Wajah cantik itu memerah penuh gairah, sementara bibirnya bengkak; menekan nadi di leher Chanyeol.
"Lihat aku," bisik Chanyeol, menjilat di sepanjang garis rahang Baekhyun yang lembut; merayunya.
"Chanyeol—angh!" Baekhyun menekan tengkuk Chanyeol, menatap pria itu lewat bulu matanya yang bergetar.
Jari-jari itu tercabut dari lubangnya, membuat Baekhyun merintih. Ia tahu itu adalah sebuah peringatan bahwa Chanyeol akan segera memasukinya. Baekhyun bisa mendengar suara risleting yang diturunkan, dan dirinya tidak perlu menebak risleting milik siapa itu, karena pemiliknya jelas-jelas tengah memandanginya dengan begitu panas. Mata itu begitu tajam, dan bersinar dikegelapan. Baekhyun menarik nafas panjang, mulut mungil itu terbuka lebar saat Chanyeol mulai memasukkan ujung penisnya yang kering dan tumpul pada tubuhnya.
Tanpa pelumas.
Membuat segalanya menjadi semakin menyiksa.
Baekhyun menangis, memohon pada Chanyeol. Rasanya begitu sakit, dan gigitan di bibirnya tidak membantu. Pria itu terus mendorong, membawa penisnya semakin dalam. Tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan sekali pun besok adalah kiamat.
"Sakiiiit." Baekhyun menggigit ujung telinga Chanyeol dan memejamkan matanya erat-erat; membawa setetes air mata. Jari-jarinya bekerja mencakar punggung Chanyeol kasar untuk meredakan rasa sakitnya, tapi Chanyeol tidak terlihat mengeluh.
Rasanya lebih sakit dari yang pertama karena lubangnya baru saja dipakai tadi siang, sehingga sakitnya menjadi berlipat ganda. Jari-jarinya menarik rambut api Chanyeol, dan mengerang saat pria itu tidak mau berhenti.
"Sakit, aku mohon—hiks!" Baekhyun menjambak rambut Chanyeol. Protes saat pria itu membungkam mulutnya dengan ciuman sementara penisnya terus menghentak. Penis besar itu masuk untuk membobol lubangnya.
"Ini tidak akan lama," kata Chanyeol sambil menggeram menahan rasa nikmat saat lubang itu bekerja seolah ingin meremukkan penisnya. Menelan penisnya dengan cara yang sadis.
"Chanyeollie sakit," adu Baekhyun. Ia mulai terisak dan bergerak gelisah di bawah kungkungan Chanyeol. Kening bocah itu mengkerut merasakan penis Chanyeol yang mulai memenuhi dirinya. Tarikan nafas panjang keluar dari mulutnya saat barbel logam milik pria itu menggesek dinding anusnya, membuat bulu di sekujur tubuhnya berdiri. "Chanyeollie... Chanyeol..."
Semuanya mulai membaik. Barbel logam yang terasa begitu dingin itu telah melakukan pekerjaannya dengan baik; menggaruk di tempat yang tepat tanpa menyakitinya.
Chanyeol mendengus, mulutnya terbuka untuk meraup bibir Baekhyun dan pinggulnya kembali menghentak membuat anak itu mendesah dalam ciumannya. Lubangnya berkedut lapar, tanpa sadar menghisap penis Chanyeol semakin dalam. Tubuh Baekhyun begitu hangat, melingkupi penisnya hingga darahnya berdesir, mengalir menuju pembuluh darah di otaknya, dan membuat dirinya tidak tahan untuk kembali menggerakkan penisnya; memukul prostat bocah itu dengan ujung penisnya yang tumpul.
Tidak butuh waktu lama.
"Ngah!" Baekhyun mendesah keras. Mulai merasakan pusing yang lain. Ia bisa merasakan sengatan di tubuhnya seiring dengan tusukan penis besar Chanyeol yang kian cepat. Tidak ditahan-tahan. "Aah—Chanyeollie—a-ah." Tubuh itu menggeliat, bersinar dan mengkilap di bawah naungan cahaya bulan. Pinggul Baekhyun ikut bergerak berlawanan arah dengan pria itu. Meraih kenikmatan bersama.
"Kau selalu nikmat," puji Chanyeol. Ia meremas pantat Baekhyun; memukul pipi pantatnya sambil terus menusuk lubang itu tanpa ampun. Keningnya mengkerut dalam, menyentuh kening Baekhyun di mana anak itu tengah sibuk mendesahkan namanya. Penis besar itu terus menusuk di titik yang sama, tepat di prostatnya. "Lihat, kau menyukainya," bisik Chanyeol arogan. Penuh seringaian yang menggoda.
Baekhyun memerah malu, berusaha membuang wajahnya namun wajah tampan Chanyeol mengikuti ke mana wajahnya pergi. Menatapnya dalam seringaian menyebalkan. "Jangan—n-nh—jangan menatapku sep—akkh!" Baekhyun mendesah, hidungnya membentur hidung Chanyeol. Tidak ada waktu untuk protes karena setiap kali ia bicara penis dan logam itu akan bekerja untuk menghentikannya.
"Katakan," tantang Chanyeol.
Suara yang keluar dari mulutnya hanya berupa desahan dan jeritan.
"Katakan lagi," dengus Chanyeol penuh cemoohan.
"Ahh—ahh—Chanyeollieh," desah Baekhyun putus asa. Ia mengetatkan lubangnya, dan menyambut ciuman lapar Chanyeol. Liur mereka mulai berceceran, mengotori dagu dan leher, tapi siapa peduli? Kakinya melilit pinggang Chanyeol, menjejak kain celana di pahanya menggunakan jari-jari kakinya hingga celana itu merosot turun melewati pantat Chanyeol yang kencang. Baekhyun terus melakukan hal nakal tersebut hingga celana itu turun dan menggulung di mata kaki Chanyeol. Bibirnya merengek dalam ciuman Chanyeol, sebab kakinya yang pendek tidak sanggup mencapai ujung kaki Alpha-nya.
"Kau ingin menelanjangiku?" goda Chanyeol. Satu tangannya bermain dengan dua puting susu Baekhyun, sementara mulutnya menciumi garis rahang Baekhyun hingga ke lehernya. Wajah tampan Chanyeol terbenam di sana, menikmati leher Baekhyun yang lembut dan wangi.
"Hiks—tidak sampai!" rengeknya saat celana itu tidak juga lepas, membuat Chanyeol mendengus geli. Pria itu mengangkat wajahnya dan menjejak celananya hingga benda itu terlepas dari kakinya. Baekhyun terkikik, lalu mencium pipi Chanyeol; senang pria itu mengabulkan permintaannya.
Mereka telanjang, melingkupi tubuh satu sama lain. Panas dari suara kulit yang beradu membuat Omega mungil dalam pelukannya terus merengek. Ia menggigit main-main jari Baekhyun yang menyentuh mulutnya, bermain dengan anak itu. Mereka memeluk, mencium, dan berbagi nafas di mulut pasangannya. Baekhyun tidak hanya menjadi pihak yang menerima, ia juga mulai belajar untuk memberi. Salah satu hal yang paling Baekhyun sukai adalah saat di mana ia mengetatkan lubangnya hanya agar penis Chanyeol terjepit, dan dirinya bisa mendengar suara geraman buas Chanyeol yang datang dari dasar tenggorokannya.
Begitu seksi dan mengundang.
"Angh—ahn—ahh—ahh—Chanyeol," desah Baekhyun payah. Tangannya menangkup rahang Chanyeol dengan mata setengah terpejam. Kedua kaki anak itu semakin memeluk pinggang Chanyeol erat, dan Chanyeol semakin tidak terkendali. Penis besarnya terus menusuk, bergerak keluar-masuk di lubang yang lebih mungil, membuat logam berbelnya menggesek dinding lubang Baekhyun kasar hingga tubuh itu gemetaran. Baekhyun bahkan tidak peduli jika logam dingin itu membuat dinding lubangnya lecet.
"Dekat," bisik Chanyeol. Mulutnya mencium mulut Baekhyun, sementara matanya terbuka, menatap panas wajah yang dipenuhi kenikmatan itu. "Berikan padaku," sambung Chanyeol di sela-sela ciumannya.
"Nnh—Chanyeollie-hh—ahh—ahh." Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangannya mengusap bisep Chanyeol yang mengkilap karena keringat, dan tubuhnya terus bergerak akibat tusukan penis besar Chanyeol. Baekhyun merasa mual karena rasa nikmat, jari-jari kakinya menggulung dan pahanya mengejang merasakan tusukan Chanyeol yang semakin cepat. Dekat, ia memang telah dekat. Tepat di ujung sana. "Lagi—ahh—lagi, aku mohon!" mohon Baekhyun saat merasakan gelombang orgasmenya yang semakin dekat.
Orgasmenya berada di ujung dan suara geraman Chanyeol di telinganya adalah sebuah panggilan untuknya.
"Berikan padaku," bisik Chanyeol serak. Mata Chanyeol menatap mata Baekhyun, begitu intens dan penuh gairah. Chanyeol adalah pria dengan feromon seksual yang panas, dan Baekhyun hanya seekor domba kecil yang tersesat. Celakalah ia.
Wajah Baekhyun menengadah, tepat menatap langit-langit kamar. Bocah itu merintih nyaring, dan mulutnya terbuka, dengan pinggul yang terus bergerak mengikuti Chanyeol. "Nnh—nnh—ahn—Chanyeol!" Ia Menggigit bibir saat merasakan orgasmenya yang kian dekat. Hanya butuh tiga tusukan terakhir sebelum akhirnya bocah itu melonglong panjang untuk menjeritkan nama Chanyeol dengan penuh kenikmatan dan kepuasan.
Mulutnya tetap terbuka, kehilangan oksigen dan jati diri untuk sesaat. Ia tidak tahu apakah bercinta memang senikmat ini, atau Chanyeol adalah seorang dewa seks sehingga dirinya dapat merasakan orgasme yang luar biasa menakjubkan. Bahkan rasanya kalimat luar biasa menakjubkan saja belum cukup untuk menggambarkan kebahagiaan yang dirinya rasakan.
"Kita belum selesai." Tiba-tiba bisikan berat dan serak itu berdengung tepat di telinganya, membuat Baekhyun terkesiap, dan menatap tepat di mata Chanyeol. Pria itu masih kelaparan, dan mata itu menjelaskan segalanya.
"Hm." Baekhyun mengangguk, dan mulai mendesah saat pria itu kembali bergerak. Rasa nikmat itu kembali hadir, menyengatnya. Rasanya begitu lengket di bawah sana, bahkan ia bisa merasakan lelehan spermanya yang berceceran di perutnya dan perut Chanyeol—juga precum pria itu yang menetes, dengan cara paling erotis, di dalam tubuhnya.
Penis Chanyeol masih membengkak, namun tak ada tanda-tanda pria itu telah dekat. Bahkan gerakan di bawah sana begitu santai, seolah ia tidak ingin terburu-buru. Matanya menatap Baekhyun, tidak teralihkan, dan itu membawa debaran gila di dadanya, memukul tepat di ulu hati Baekhyun. Ia mencoba untuk tidak terpengaruh, menoleh ke arah lain, dan berpura-pura buta. Desahan keluar dari mulut mungilnya, dan Baekhyun begitu malu karena Chanyeol menatapnya seolah ia tengah merekam kejadia itu.
"Hanya lihat aku," kata Chanyeol. Nada suaranya memerintah.
Baekhyun kembali menatap wajah jelmaan dewa itu. Mengenyahkan rasa malunya dan mencoba untuk percaya diri. Ia mendorong pria itu mendekat padanya, dan Chanyeol menurut, pria itu mencium bibir Baekhyun dalam. Namun gerakkan yang dilakukannya membuat Baekhyun terkejut; tanpa peringatan Chanyeol menarik tubuh-nya hingga ia harus berpegangan di leher pria itu. Tubuhnya menjadi lebih tinggi dari Chanyeol karena Chanyeol baru saja membawa tubuhnya duduk di atas pangkuannya.
Tubuhnya meluncur di atas tubuh Chanyeol. "Nnh—Chan!" Dan mulut Baekhyun terbuka, ingin mengais oksigen saat penis besar itu tiba-tiba membentur prostatnya keras.
Chanyeol menyeringai, tidak ingin membiarkan Baekhyun sadar. Pria itu langsung mencengkram pinggang Omeganya, dan membuat tubuh itu memantul di atas pangkuannya. Gigi Chanyeol saling menggertak, buas, dan ia mulai berkeinginan tinggal selamanya di dalam kehangatan ini.
"Chanyeol, Chanyeol—ahn!" Bocah itu terus mendesah. Wajah cantiknya menunduk, menatap Chanyeol dalam tangis. Baekhyun terisak, merasakan prostatnya yang bengkak. Ia memeluk Chanyeol, dan bergerak mengikuti perintah Alpha-nya. Pinggulnya terus bergerak naik dan turun, sesekali memutar; menarikan tarian paling erotis yang sepertinya akan menjadi tarian favorit Chanyeol.
Tubuh mereka menyatu, begitu pas karena mereka adalah sepasang yang dipasangkan langsung oleh leluhur. Kebahagiaan ini terlalu banyak, tapi ia tidak ingin berhenti. Jari-jarinya meyibak sejumput rambut di kening Chanyeol, dan mulutnya mencium tepat di keningnya yang basah. Mulut itu lalu turun, mencium alis, pelipis, dan sepanjang garis rahang Chanyeol. Tangannya meraih tubuh Chanyeol dalam sebuah pelukan, dan mulutnya kembali mencium, di leher hingga ke bahunya yang bertato. Hidungnya menekan leher Chanyeol, menikmati aroma Chanyeol yang gelap; seperti wine dan dosa yang menjadi satu.
Matanya setengah terpejam, merasa tersiksa dengan tusukan Chanyeol yang tiba-tiba melambat. Baekhyun terlalu lelah untuk melakukan semua ini sendirian, tapi bukan berarti ia ingin berhenti. Ia mencoba, dan tetap terasa kurang.
Tolong.
"Tolong aku, kumohon," pintanya. Ia meraih wajah tampan Chanyeol dan membelai kontur wajah yang keras itu dengan kelembutan jari-jarinya.
Chanyeol menatap sepasang cokelat terang itu. Tangannya memeluk tubuh Baekhyun, dan menyentuh mulut itu dengan mulutnya; berbisik di sana. "Tidak, aku tidak akan menolongmu, aku akan menghancurkanmu."
Lalu Chanyeol menghempaskan tubuh itu hingga kembali terbaring di atas kasurnya. Tanpa perlawanan. Mulutnya kembali memagut bibir Baekhyun dalam ciuman lapar, dan penis besarnya dengan logam barbel mematikan itu menyentak semakin dalam; meraih kenikmatannya sampai ia puas dan rasa laparnya hilang.
Menghancurkan Baekhyun.
to be continued
cuap-cuap: Halo readersnimku sayang~ maaf ya ini lama banget update-nya/ngumpet/ maaf karena udah membiarkan kalian menunggu lama geng:''''''3 katanya kangen, gimana? Apa chapter ini bisa mengobati rasakangen kalian? ㅠ ㅠ
Kalian baca Q/A di bawah oke, ini adalah kumpulan pertanyaan kalian baik lewat pm, review, line, wp/love/
Q: kenapa updatenya lama banget? Dihitung-hitung kamu up cuma sebulan sekali.
A: iya lama karena pertama aku punya real life, kedua aku punya penyakit: penyakit malesssss LoL jadi misalkan aku udah nyelesain 7k, nah sisa chapternya itu aku langsung males lanjutin._. biasanya pas aku mau up, hari itu juga baru aku lanjutin. maaf ya^^"
Q: konfliknya banyak banget ya, terus berat-berat(?)
A: sebenernya konfliknya nggak banyak, soalnya masing-masing couple konfliknya saling berkesinambungan(?) dan akhirnya menuju chanbaek :3 Liat aja nanti dear~~~
Q: Heidi Kim itu OC? Dia bakal muncul lagi gak?
A: iya OC. Mungkin, tapi jangan terlalu berharap soalnya cewek yang ditidurin chanyul terlalu banyak LoL
Q: momen chanbaeknya dikit, kenapa jadi berasa baca ff hunhan ya di chapter ini?
A: kan udah jelas judulnya "aku menemukanmu rusa kecil" jadi tentang hunhan dulu~ tapi di sini udah banyak kan, momen chanbaeknya? :3
Q: masing-masing couple punya konflik ya? jangan banyak-banyak dong konfliknya biar bisa fokus.
A: sebenernya ada alesannya si kenapa masing-masing couple punya konflik. Alesannya adalah untuk menghindari konflik yang ini: chanyeol mendua, punya selingkuhan, punya masa lalu yang dicintai, baekhyun diperkosa kris, baekhyun punya anak dari chankris-_-" aku jujur gak mau kalau chanyul itu hatinya melemah gitu, kayak remaja ababil yang kerjaannya gundah gulana/halah/aku maunya chanyeol tuh di depan orang lain gak punya hati, dan santai menghadapi cobaan hidup:''') dia cuma lemah kalau sama baekhyun aja XD
tapi orang ketiga, hmmmm leh ugha^^
Q: Baekhyunnya udah di naena berarti udah diklaim ya?
A: belum dong, kan belum heat kkkkk Kalo di ff ini, saat heat terus dinaena itu artinya udah diklaim^^
Q: Kapan Chanyeol berantem kayak sehun?
A: Chapter depan kayaknya, Chanyeol sadis soalnya kalau berantem🔥/api membara/
Q: kapan sih "akan ada malam tanpa siang untuk kita bercinta tanpa akhir"?
A: naena full itu ya? siang malam nonstop? Nanti dong pas heat :'''''3
Q: Kenapa banyak uke lolli(?)
A: tadinya ff ini mau pedo ._. tapi abis itu aku mikir, nanti chanyeolnya tua kalo pedo, jadi yaudadeh pedo tapi dikit/apaan/baek itu manja karena dia baru 18 dan biasa diperlakuin kayak anak kecil sama orang tuanya~ makanya dia cengeng dan baperan XD sementara luhan itu genius, orang genius itu suka ada "cacatnya" nah luhan ini gitu, feminim banget, dan suka sama hal-hal berbau cewek, tapi tenang aja dia gak cengeng kkkkk dan dudu; dia gak loli kok, dudu itu kurbel LoL
Q: si baekhyun orang tuanya masih idup apa mati?
A: ini masih rahasia, akan terjawab di chap depan :33333
Q: jadi chanyeol nggak tau kalo baek itu adiknya daehyun, gimana perasaannya ya kalau tahu adiknya daehyun ada di rumahnya(?)
A: dear, kayaknya kamu butuh aQua :) masa aku udah jelasin panjang lebar kamu gak nangkep maksud cerita ini ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
Q: kris sama chanyeol kayaknya ada sesuatu ya? Sodara?
A: yaaaaaps! dari sekian readers, cuma kamu doang yang peka dearㅠㅠㅠㅠㅠㅠ hebat kamu, seratus buat kamu, luv!
Q: kapan masa lalu chanyeol yang kelam dijabarin?
A: di chapter depan insyaallah dijabarin :''''3
Q: banyakin moment couple lain dong? Eh di sini ada sulay sama kristao gak?
A: nah ini nyebelinㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ aku kasih banyak moment couple lain, yang satu protes bilang jangan dibanyakin moment mereka, banyakin chanbaek aja, yang ini malah bilang couple lain terlalu sedikit momentnya. Jadi ya aku putusin; suka-suka aku ajalah ya kkkkkkk
Q: Umur para pemain?
Park Chanyeol: 24
Oh Sehun: 23
Kim Jongin: 23
Byun Baekhyun: 18
Luhan: 20
Do Kyungsoo: 23
Kim Jongdae: 27
Kim Minseok: 26
Kim Suho: 24
Zhang Yixing: 23
Kris Wu: 26
Huang Zitao: 18
Oke, itu tadi kumpulan pertanyaan dari kalian geng~ kalau belum jelas silahkan tanya lagi makasih banget untuk readersnim yang setia nagih dan setia nunggu/bow/ btw aku ngakak pas tau kalau chap 5 udah 10k yang baca, itu aku yakin kalian bolak-balik baca NC-nya doang LoL
Jangan lupa vote dan komentar, komentar yang panjaaaaang banget, siapa tau aku jadi semangat update cepet-cepet/ketcup/
Aku mau tanya, di sini ada orang Karawang? Apa cuma aku doang cbs dari krwng LoL kalau ada anak krwng lain, temenan yuuuuuk :3
