.
.
Je Suis Amoureuse
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Rated : T
Pair : Sasuke Uchiha x Sakura Haruno
Warning : AU, OOC, Typos, bahasa tidak baku dan tidak efektif, diksi entahlah, dll
.
Previous Chapter:
"Moshi-moshi , Ayam!" katanya lantang setelah panggilan teleponnya dijawab, raut wajah senang terpatri di wajahnya.
" Ingat! Jika orang tuamu mengatakan hal yang menurutmu aneh. Jangan pernah menyetujuinya." setelah mengatakan itu, Sasuke memutus sambungan telepon secara sepihak dan membuat Sakura berdecak kecewa.
"Ba.. baiklah, aku akan mencobanya." Sakura berkata penuh keraguan. Ia ingin berlari menghampiri Sasuke dan bertanya ini-itu, apa-bagaimana dan harus apa. Ponsel putih miliknya juga hilang entah kemana.
"Ayam, sebenarnya apa alasan kita dijodohkan?" tanya Sakura.
"Bukankah sudah kubilang untuk menolaknya." kata Sasuke sambil memeriksa surat-surat kelengkapan untuk kepindahannya ke sekolah baru.
"Lalu kenapa orang tuamu itu, seolah menjauhkanku darimu? Padahal kita sudah bertunangan." tanya Sakura.
"Hahh, bersabarlah selama setahun. Belajar yang rajin, jadilah lulusan terbaik. Jaga kenang-kenangan dariku ini." Sasuke mengambil napas sejenak. "Jidat, kau tidak akan bisa menghubungiku selama setahun nanti. Jadi, jangan pernah merindukanku dan bersabarlah menunggu." Lanjut Sasuke sambil memberikan sebuah benda persegi seperti kotak untuk Sakura.
"Aku akan menagih jawabanmu setelah kembali. Menikah denganku atau kita berpisah secara baik-baik." ujar Sasuke tanpa memberikan waktu untuk Sakura berbicara.
.
.
Welcome and enjoy this chapter ^_^
.
.
.
Setahun kemudian, Hari Kelulusan Konoha Academy
Halaman Konoha Academy nampak ramai dipenuhi siswa-siswi dengan toga mereka, raut kebahagiaan dan tangis haru menghiasi wajah-wajah cantik juga tampan siswa-siswi lulusan KCA. Setelah pengumuman kelulusan dan wisuda yang diselenggarakan di dalam aula kebesaran KCA. Kini mereka berkumpul bersama-sama di halaman KCA, mengenang saat pertama kali mereka datang kemudian mengikuti MOS KCA sebagai murid baru.
Mereka adalah lulusan-lulusan berprestasi di Jepang, tidak ada diantara mereka yang pulang tanpa memegang beberapa atau bahkan berpuluh-puluh piagam. Di tengah kebersamaan mereka nampak Naruto, Hinata, Sakura dan juga Ino begandengan tangan agar tidak terpisah. Mereka berempat tertawa bersama-sama, walaupun tanpa Sasuke yang mungkin sedang merayakan kelulusannya di Perancis, sendirian.
"Omedetou, minna!." teriak Ino memamerkan deretan gigi-giginya yang putih juga rapi.
"Iya, selamat atas kelulusannya Naruto-kun, Ino dan Sakura." kata Hinata tanpa gagap, pengendalian diri-nya sudah bagus. Gadis yang menjabat sebagai kekasih Namikaze Naruto sejak lima bulan yang lalu itu nampak memerah karena kepanasan, keringat menghiasi dahinya dan tenggorokannya terasa kering.
"Wuhuhu, selamat ya teman-teman." cengiran Naruto pun terlihat, tangannya yang kekar melingkar di pinggang Hinata.
"Félicitations pour tes examens!" teriak Sakura tak mau kalah dari teman-temannya. [Selamat atas kelulusannya]
Mereka berempat terdiam dan memandangi Sakura yang masih asyik tertawa. Merasa tidak ada yang tertawa, Sakura menyudahi tawa garingnya. Gadis bersurai merah muda dengan cincin di jari manisnya itu nampak bingung melihat ke arah teman-temannya.
"Qu'est-ce qu'il y a?" tanya Sakura. [Ada apa ya?]
"DITUNGGU UNDANGAN PERNIKAHAN SAKURA HARUNO DAN UCHIHA SASUKE!" teriakan Naruto dan Ino lebih mendominasi daripada teriakan Hinata. Mereka berteriak kompak sambil mengulurkan tangan ke arah Sakura, seolah akan menerima apa yang mereka minta.
"Anoo.. itu bagaimana ya." Sakura tergagap meladeni teman-temannya itu.
"Ayolah Sakura... Mana Sasuke-mu itu? Katanya mau pulang setahun lagi. Ini sudah setahun lho! Memangnya tidak kangen?" kata Ino sambil merangkul sahabat seperjuangannya itu.
"Apa ada kabar baru dari Teme?" tanya Naruto.
"Ck, bisakan kalian diam seperti Hinata. Aku tidak bisa menghubunginya selama setahun ini Naruto, apa kau sudah lupa?" Sakura menjitak kepala Naruto sekeras mungkin.
"Adaww.. Sakit.." jerit Naruto.
.
.
.
.
KONOHA CAFE
Sakura duduk seorang diri di salah satu meja dekat jendela. Setengah jam yang lalu Sakura masih tertawa dan mengobrol dengan teman-teman seangkatannya di kelas Italia dengan tambahan Naruto, Hinata, Ino dan pacarnya—Sai. Pesta kecil-kecilan di Konoha Cafe untuk merayakan kelulusan serta perpisahan bisa dibilang sukses, walaupun ada beberapa yang tidak bisa hadir.
Banyak diantara teman-teman Sakura yang akan melanjutkan studi ke negri orang. Sakura sendiri tidak berminat untuk belajar di luar negeri. Di Jepang saja sudah cukup, Sakura memilih Universitas Kyoto sebagai masa depannya.
Sakura melamun, mengingat kenangannya bersama Sasuke di Konoha Cafe. Di meja yang di tempatinya sekarang, pertemuan pertama Sasuke dan Sakura tanpa adanya pertengkaran, saat di mana Sasuke berpamitan untuk pergi ke Perancis, kemudian memperingatinya untuk tidak menerima perjodohan yang akhirnya diterima Sakura. Kenangan aneh.
Lalu lalang pelayan yang sibuk melayani tidak mengganggu Sakura. Lampu-lampu pinggir jalan yang mulai hidup dengan sedikit kendaraan yang melintas, pertokoan dengan lampu kerlap-kerlipnya menjadi fokus Sakura saat ini. Jam sudah menujukkan pukul sembilan malam, namun Sakura tak kunjung pulang ke apartemennya. Sakura masih menunggu seseorang, berharap seseorang yang ditunggunya akan datang—menepati janjinya setahun yang lalu.
"Kopi tidak baik untuk kesehatan." suara baritone berdengung di telinga Sakura, membuat Sakura tersentak dan menoleh ke sumber suara.
"Sa..Sasuke?" katanya tak percaya.
"Hm, seleramu bagus." kata Sasuke sambil meminum kopi hitam tanpa gula yang sudah di minum setengah oleh Sakura.
"Cih, jangan meremehkanku Uchiha!" kata Sakura sambil mengusap kasar sudut matanya yang berair, tangan lentiknya menarik dasi biru Sasuke.
CUP
Satu kecupan ringan mendarat di pipi tirus Sasuke. Sasuke tampak dewasa dengan kemeja dan dasi yang dipakainya urakan. Tubuhnya lebih tinggi dan otot-ototnya terpahat lebih jelas daripada setahun yang lalu. Dada bidang Sasuke menggoda Sakura untuk bersandar dan tidur dalam dekapannya, sayang harapannya harus sia-sia karena Sasuke tidak mungkin memperlakukannya se-gentle itu.
"Berani sekali, Jidat." seringaian Sasuke membuat Sakura menyesal dan percaya bahwa Sasuke benar-benar di hadapannya, bukan ilusi atau imajinasi liar Sakura.
"Jadi? Lulusan terbaik KCA?" tanya Sasuke sambil meminta hasil kelulusan Sakura. Dan yah.. dengan sombongnya Sakura memberikan sebuah sertifikat penghargaan sebagai lulusan terbaik.
"Apa ini?" Sasuke menaikan alis pertanda tidak suka terhadap hasil Sakura.
"Tentu saja penghargaan lulusan terbaik." Sombong Sakura
"Yang kumaksudkan lulusan terbaik KCA. Ini hanya lulusan terbaik kelas Italia, baka jidat!" Sasuke melempar kertas penghargaan itu tepat di muka Sakura.
"Ck, bersyukurlah sedikit." Bentak Sakura.
"Payah." Ejek Sasuke.
Mereka terdiam beberapa menit, tampak bingung memulai percakapan. Sakura menyibukkan diri dengan lalu lalang mobil di jalanan, sedangkan Sasuke sibuk dengan gadgetnya. Makanan yang baru saja mereka pesan tidak tersentuh, entah karena Sakura yang sudah kenyang atau Sasuke gengsi untuk mulai makan.
"Apa keputusanmu?" pertanyaan Sasuke terdengar serius disertai mata onyxnya yang memandang tajam.
Sakura sempat bingung dengan pertanyaan Sasuke, namun akhirnya ia menangkap maksud pertanyaan tiba-tiba itu. Dahinya berkerut untuk mengambil keputusan. Selama setahun ini ia tidak pernah memikirkan jawaban dari pertanyaan Sasuke, ia kira Sasuke tidak akan menagih pertanyaan yang menurut Sakura konyol itu. Sakura sudah tahu pasti, jika memutuskan untuk membatalkan perjodohan ini orang tua mereka pasti turun tangan dan memaksa. Tidak ada jalan lain selain melanjutkan perjodohan konyol ini, bahkan Sakura ragu dengan perasaannya sekarang.
"Aku menerima. Tidak ada gunanya menolak." kata Sakura mantap dengan pandangan tajam seperti yang dilakukan Sasuke.
"Hahh.." Sasuke menghela napas pelan. "So, will you marry me, Jidat?" katanya tanpa ada unsur keromantisan.
Yah, Sakura akan muntah jika Sasuke tiba-tiba beromantis ria. Cukup menjadi Sasuke yang biasanya untuk melamar Sakura, dengan kemeja kusut, wajah datar dan tangan yang saling menggenggam sebagai point pluss. "Yes, I will" jawab Sakura tak kalah datar.
.
.
.
.
Pernikahan Sakura dan Sasuke termasuk kilat, tiga bulan setelah kelulusan mereka diharuskan naik ke pelaminan. Orang tua mereka mendesak dengan alasan lebih baik menikah lebih cepat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat pasangan-pasangan zaman sekarang sudah tidak peduli akan dosa.
Hari ini tepat pernikahan Sakura akan berlangsung di salah satu kuil tua milik keluarga Uchiha. Teman-teman dekat Sakura juga Sasuke nampak datang dengan dress code Kimono. Ada beberapa rekan-rekan bisnis Fugaku dan Kizashi.
Mikoto dan Mebuki nampak bahagia melihat putra-putri mereka menikah. Sedari tadi, seulas senyum tulus tak pernah sirna dari wajah keduanya. Kemudian, Sasori benar-benar pulang untuk menghadiri momen pernikahan ini. Ia sedikit kesal dan malu karena dilangkahi adiknya, begitu pula dengan Itachi yang juga dilangkahi Sasuke. Entah Sasori dan Itachi yang tidak laku atau memang Sakura dan Sasuke terlalu terburu-buru menikah, sepertinya option kedua lebih tepat.
"Selamat ya Jidat. Akhirnya aku bisa melihatmu menikah, kukira bakal jadi jones seumur hidup." kata Ino sambil menyerahkan sekotak kado yang entah isinya apa. Pacarnya—Sai berdiri tenang di samping Ino. Ia menyalami Sasuke dan mengobrol sedikit dengannya.
"Ck, kau saja yang kelamaan. Makasi ya, Pig. Isinya apa?" tanya Sakura, matanya menatap penuh minat pada kado yang diberikan Ino. Pasti barang bagus, pikirnya.
"Ahaha, pakaian untuk sumo." jawab Ino sambil tertawa.
"Seriusan?" Sakura bertanya dengan nada polos dan mimik wajah tanpa dosa.
"Ya enggaklah. Nanti dibuka kalau pestanya udah selesai." ujar Ino menjelaskan. "Ayo Sai, kita makan-makan." lanjutnya sambil mengamit lengan Sai.
"Selamat ya Sasuke. Jaga Sakura ya, jangan sampai kepalanya terbentur. Sepertinya, Jidat sedikit tidak waras hari ini. " kata Ino sebelum meninggalkan Sasuke dan Sakura.
"Jadi gini rasanya menikah. Capek, ngga seru!" keluh Sakura yang sudah mulai pegal-pegal karena menyambut tamu yang tiada habisnya.
Entah kenapa, rasanya Sakura santai sekali dengan pernikahan suci ini. Ia tak merasa begini-begitu, khawatir ini-itu, atau berpikir kabur. Pernikahan ini, rasanya Sakura seperti sedang memasak di dapur—tenang dan santai. Ia tidak merasa sangat bahagia seperti pengantin wanita pada umumnya. Mungkin efek benturan di kepalanya tadi malam, saking bingungnya memakai shiromoku ia sampai tersandung dan jatuh menghantam lantai.
"Hn," jawab Sasuke seadanya.
Sasuke tak kalah santai dengan Sakura. Namun berbagai rencana sudah berkecambuk dipikirannya, bersliweran menata hal-hal yang perlu dilakukannya untuk masa depan keluarga kecilnya. Bukan masalah keuangan, kekayaannya tidak diragukan lagi. Bukan masalah hati, karena Sasuke tidak begitu mengerti bab-bab menata hati. Ia membiarkanya mengalir, seiring waktu ia pasti bisa menyayangi atau mencintai Sakura sepenuhnya. Bukan masalah anak, ia tidak kepikiran memiliki momongan dalam waktu dekat dan Sakura pasti setuju dengannya.
Tapi ini masalah lain yang menurutnya lebih mengerikan jika ia tidak bertindak sebagaimana mestinya, ia takut. Takut Sakura akan marah dan meninggalkannya. Setidaknya Sasuke bisa mencegah berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi, meminimalkan hal-hal yang buruk. Sehingga masalahnya tidak terlihat mengerikan.
"Teme, pestamu payah sekali. Tidak ada ramen." keluh Naruto. Di sampingnya ada Hinata yang tersenyum maklum.
"Ck, berisik Dobe. Silakan angkat kaki jika menginginkan ramen di pestaku." kata Sasuke.
"Hahh.. aku kasihan pada Itachi-nii. Punya adik nyebelin, dilangkahin lagi. Bagaimana perasaanmu, Itachi-nii?" Naruto berlagak sedih merangkul Itachi yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Aku sangat sedih sekali Naruto. Dasar adik durhaka." Itachi menimpali dengan gaya melankonisnya. Seketika Sasuke ingin muntah melihatnya. Sedangkan Sakura dan Hinata hanya tertawa.
"Nii-san tidak suka punya adik perempuan?" tanya Sakura.
"Bukan begitu Sakura-chan. Aku sangat bersyukur punya adik yang cantik dan baik sepertimu, tidak seperti Sasuke yang keras kepala dan bandel. Peliharaannya saja Ayam, jangan sampai Sakura-chan diduakan ya!" kata Itachi.
"Tenang saja Nii-san. Aku berniat membuat ayam bakar besok pagi. Ahahaha!" ujar Sakura.
.
.
.
.
Apartemen Sasuke
Setelah menikah, Sasuke memutuskan tinggal di apartemen. Walaupun Ibunya tidak setuju, karena kasihan pada Sakura yang pasti kerepotan mengurus rumah dan kuliahnya. Sakura hanya menurut saja, baginya tinggal dimana pun sama saja asalkan tidak dibawah kolong jembatan.
"SASUKE UCHIHA BANGUN. DASAR UCHIHA PEMALAS!" Sakura berteriak sambil menyeret kaki Sasuke. Dan hasilnya—
BRAKK
—Sasuke jatuh dengan tubuh tengkurap di atas lantai.
"Ck, apa Jidat?" teriaknya kesal.
"Lihat sudah jam berapa. Jam sepuluh siang. Astaga!" teriak Sakura geram. Tangannya menarik selimut yang ikut terjatuh bersama badan Sasuke. Melipatnya asal kemudian melemparnya tepat diatas bantal yang masih tertata rapi di depan kepala ranjang.
"Hari ini libur. Pergi sana, istri berisik!" ketus Sasuke sambil merebahkan diri di atas tempat tidur, berniat kembali ke alam mimpinya.
"Ck, seharusnya kita tinggal di Masion saja. Setidaknya ada Mikoto kaa-san yang membantuku membangunkan Uchiha kebo sepertimu." kata Sakura.
Dahinya membentuk perempatan. Ia sangat kesal. Sudah bangun pagi-pagi. Bikin sarapan yang akhirnya hanya ia seorang yang memakannya. Bersih-bersih apartemen tanpa ada yang membantu, karena kemarin ia belum sempat membersihkan setiap sudut apartemen Sasuke. Sedikit menyesal karena tidak menerima bantuan Mikoto kaa-san. Ia pikir Sasuke akan membantunya, kenyataannya apa? Sasuke sama sekali tidak beranjak dari kasur sejak kemarin. Bahkan isi kulkas hanya tinggal beberapa buah tomat dan air mineral dingin. Ia harus belanja.
"Aku akan pergi belanja dengan Ino. Kalau lapar, beli makanan di luar saja." pamit Sakura sambil membanting pintu kamar.
"Hn," gumam Sasuke setengah mengigau.
Di depan apartemen, Ino sudah menunggu dengan mobil Enzo kesayangannya. Sempat heran melihat Sakura keluar dari apartemen dengan wajah ditekuk seribu lipat. Bahkan wajahnya memerah. Apa yang dilakukan Sasuke? Pikir gadis pirang itu.
"Kenapa Jidat?" tanya Ino setelah Sakura masuk ke dalam kursi penumpang di samping Ino.
"Ck,tidak udah dibahas. Ayo berangkat." ujar Sakura sambil mengutak-atik ponselnya.
"Jadi mau kemana? Konoha mall atau swalayan biasa?" tanya Ino.
"Ke Konoha mall saja. Sekalian shopping, sudah lama sekali tidak shopping." Ujar Sakura ceria.
"Ckck, semoga Sasuke tidak bangkrut." ujar Ino sambil mendelik ke arah Sakura yang sedang pamer uang.
Konoha Mall
Sudah dua tas belanja dipegang Sakura, sedangkan Ino sudah membawa lima tas belanja. Meskipun Sakura yang ingin shopping, sepertinya nafsu belanja Ino lebih besar. Mereka masih memilih-milih baju, tas, dan sepatu yang kiranya cocok. Kadang Sakura juga menyeret Ino untuk melihat peralatan dapur, maklum ibu rumah tangga baru.
Setelah dua jam akhirnya mereka selesai dengan acara shopping mereka. Kaki-kaki Sakura terasa tegang dan pegal, berjalan dua jam nonstop mengitari hampir seluruh penjuru Konoha mall. Ino masih fresh dan bersemangat, shopping adalah hobinya. Tak heran kakinya belum mati rasa setelah keliling Konoha mall.
"Saku, ke Flow Cafe yuk! Kita makan siang." kata Ino sambil melangkah lebih cepat dari Sakura yang sudah lemas dan berjalan layaknya siput.
"Ya ampun. Baru sebentar sudah capek begitu?" ejek Ino.
"Sudah dua jam, Ino. Apanya yang sebentar!" kata Sakura sambil menyender pada sofa yang didudukinya. Segelas minuman dingin dan beberapa makanan telah tersedia di depannya. Segera saja Sakura mengambil potongan pertama steaknya. Namun tangannya berhenti, teringat sesuatu.
"Ada apa, Jidat? Sedang diet?" tanya Ino heran.
"Ah, tidak ada." balas Sakura cepat. 'Sasuke pasti belum makan siang. Ah, sudahlah! Bukan urusanku.' batin Sakura.
"Saki, bagaimana pernikahanmu?" tanya Ino.
Pernikahan? Lagi-lagi Sakura tersadar bahwa ia sudah menikah. Sedikit aneh dengan pembicaraan Ino yang mulai membahas kehidupan barunya bersama Sasuke. Jujur saja, perikahannya saat itu tidak begitu membekas di hati Sakura. Rasanya hampa, biasa, dan entahlah. Sakura tidak begitu mengerti. Ia yang menyetujui pernikahan itu dan saat ia tersadar, sedikit penyesalan muncul dihatinya.
Apa semuanya akan baik-baik saja setelah ini?
Apa Sakura bahagia?
Apa Sasuke benar-benar menerima pernikahan ini?
Apa Sasuke mencintainya?
Atau memang benar pernikahan ini hanya sekedar formalitas atas keinginan orang tua mereka. Jika diingat, Sakura tidak pernah akur dengan Sasuke bahkan sampai sekarang. Walaupun Sasuke memenuhi beberapa kewajibannya sebagai suami yang baik, seperti memberinya uang lebih dan mengantar-jemput Sakura ke kampus.
"Jidat?," satu kali.
"Sakura?" dua kali masih tidak ada respon.
"Jidat, ada apa? Kau bisa bercerita padaku jika ada masalah." Ino berkata sambil menepuk bahu Sakura.
"Entahlah Ino, aku tidak tahu. Seperti yang kau tahu, pernikahan ini hasil perjodohan." kata Sakura, nafsu makannya sudah hilang.
"Maksudmu?" tanya Ino.
"Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku hanya mencoba yang terbaik, itu saja." Sakura menatap sendu makanan dihadapannya.
"Bahkan aku tidak tahu, apakah Sasuke mencintaiku?" tenggorokan Sakura tercekat saat mengatakan kalimat yang selama ini selalu membanyanginya.
"Saki, aku tahu perasaanmu. Aku yakin semua akan baik-baik saja." kata Ino menghibur.
"Semoga saja, Pig."
.
/
)
/
.
TOBECO
A/N: Chapter ini yang paling berantakan. Alurnya ngebut pake banget, banyak typo disana-sini. Mau bagaimana lagi, tiba-tiba stuck ditengah cerita jadi agak aneh mau lanjutin.
Dan gomen atas kelemotan saya untuk update chapter ini, sepertinya chapter-chapter selanjutnya juga tidak kalah lemot T_T #dilempar ke got. Sebenarnya saya udah minder duluan update chapter ini, semakin banyak semakin amburadul banget fic ini. Bagi yang bingung sama sifatnya Sasuke yang semakin hari semakin menyerupai ayam kate(?) peliharaanya, itu sebenarnya iseng eh ternyata malah bikin bingung -_- nanti diperbaiki lagi.
Bales review XD
hikmah. adiastuti: Ini udah lanjut, makasi udah review sama ngikutin terus. Gomen updatenya lama. Wah, syukurlah fic ini masih ada yang suka. Arigatouu #hug
Iqma96: Nyehehehe, jadi malu nih sama Iqma -_- sepertinya aku setuju sama yang kerasukan kakek madara. Kesian si kakek ngga ikut di fic ini, makanya dia rasukin tuh si Sasuke ahahaha. Nani? Bingung? Sama dong saya juga bingung sendiri XD ini udah lanjut, gomen lama.
Ayumu Nakashima: Bernarkah bikin penasaran? Bagian mananya? XD Oh ya, soal itu Sasuke awalnya sangat tidak menerima perjodohan ini. Kemudian soal tidak saling kenal, biasalah Sasuke ingin Sakura jauh-jauh gitu, biar si Sakura nggak kena masalah. Si Sasu kan orangnya penuh masalah #kenaAmaterasu. Soal ke Perancis itu ada alasannya tersendiri, nanti dijelaskan dichapter selanjutnya. Sebenarnya si Sasuke sayang sama Sakura, seperti yang saya katakan tadi Sasuke nggak ingin Saku kena masalah. Jadinya ya sikapnya Sasu labil gitu. Pengen jauh tapi kangen si Sasukenya ahahaha XD
Kumada Chiyu: Nee, keliatannya perubahan sifat Sasu menonjol banget ya. Enggaklah disini, si Saku maupun Sasu nggak bakal saling ngejahatin. Wkwkwk, kirain pada nggak nyadar soal sifat Sasuke. Maklum author newbie, masih bingung mau nggambarin sifatnya Sasu XD
Qamara Risa Li Atoda: Ini juga sibuk, penat banget malah -_- Paling anti sama PHP, dijamin ga bakal ada kasus PHP wkwkwk. Kenapa jadi review-mu penuh advertisement :3
Rachel-Chan Uchiharuno Hime: Ara ara, gomen soal ke-plin-plan-an Sasuke. Dianya lagi bingung, nanti bakalan dijelasin dichapter selanjutnya. Tapi pelan-pelan ya, soalnya ini juga lagi kena WB. Baru cari-cari mood buat nulis lagi XD Soal kita menikah nanti atau berpisah baik-baik, mungkin sudah dijelaskan implisit disini, jadi jika Sakura nerima perjodohan bakal nikah, tapi kalau nolak mereka bakal pisah baik-baik.
hanazono yuri: Arigatou udah nyempetin baca sama review. Diusahakan tidak ada pihak ketiga XD tapi belum tahu nantinya.
Spesial thanks to: Iqma96, Roxxyrock, Qamara Risa Li Atoda, Rachel-Chan Uchiharuno Hime, desypramitha26, Kumada Chiyu, sudoer. arekndapblekputrakeramat, shintaiffah, Nakashima Rie, Arisaa ayugai, Anka-Chan, Eysha CherryBlossom, ntika blossom, blackwing123, .9, hanazono yuri, MahaSasuSaku, RovieUS, Uchizuma Angel, hikmah. Adiastuti, mantika mochi, iachan. iachan, Arisa Sakakibara, Fuji Seijuro, elfarizy. Adakah yang belum saya sebutkan? XD
THANKS FOR SUPPORT, MINNA-SAN.
MIND TO REVIEW AGAIN?
