Elfjoy137 Present

KYUMIN FANFICTION

Bared To You

Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast

Rate : M

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan, ada beberapa tokoh OOC

DLDR

Please enjoy ^^

Remake Novel karya SYLVIA DAY 'Bared To You'.

Hak cipta terjemahan Indonesia : Gramedia

This is mature story. Don't Like? Just Don't Read !

P.M : All is Sungmin's POV

Ok. Let's check this out !

.

.

.

~JOYER~

.

.

.


.

BAB 7

.


Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah kami tiba. Lampu blitz kamera meledak di sekeliling kami sementara kami berjalan di hadapan barisan pers. Aku bersembunyi di balik diriku sendiri dan sangat ingin menjauh dari ketegangan yang memancar dari tubuh Kyuhyun.

Begitu kami memasuki gedung, seseorang memanggil namanya dan ia berbalik. Aku menyelinap pergi, melesat diantara para tamu lain yang berdiri menghalangi pintu depan.

Ketika tiba di aula, aku menyambar dua gelas wine dari seorang pelayan dari seorang pelayan yang berjalan lewat dan mencari Donghae sementara aku meneguk wine dari salah satu gelas. Aku melihatnya di seberang ruangan bersama eommaku dan Kangin, dan aku pun berjalan menghampiri mereka, meletakkan gelasku yang sudah kosong di atas meja yang kulewati.

"Sungmin!" Wajah eommaku berseri-seri ketika ia melihatku. "Gaun itu sangat menakjubkan di tubuhmu.

Ia melakukan gerakan mencium kedua pipiku tanpa benar-benar melakukannya. Ia terlihat cantik dalam gaun ketat biru berkilau. Batu safir bergelantungan di telinga, leher, dan pergelangan tangannya, menegaskan mata dan kulitnya yang pucat.

"Terima kasih," aku meneguk wine dari gelas keduaku ingat bahwa aku memang berencana berterima kasih kepada eommaku untuk gaunnya.

Donghae melangkah maju, mengamit sikuku. Ia menatap wajahku satu kali dan langsung tahu aku sedang resah. Aku menggeleng, tidak ingin membahasnya sekarang.

"Kalau begitu, wine lagi?" tanyanya lirih.

"Tolong."

Aku merasakan kedatangan Kyuhyun sebelum aku melihat wajah eommaku bercahaya. Kangin juga sepertinya menegakkan tubuh dan mengendalikan diri.

"Sungmin." Kyuhyun menempelkan tangannya di bagian bawah punggungku yang telanjang dan sentakkan kesadaran menjalari diriku. Ketika jemarinya meregang di tubuhku, aku bertanya-tanya apakah ia juga merasakannya. "Kau kabur."

Aku menegang mendengar nada mencela dalam suaranya. Aku melemparkan tatapan yang menyatakan semua yang tidak bisa kukatakan di depan umum. "Kangin, apakah kau pernah bertemu dengan Cho Kyuhyun?" tanyaku kepada ayah tiriku.

"Ya, tentu saja." Kedua namja itu berjabat tangan.

Kyuhyun menarikku lebih dekat ke sisinya. "Kita berdua beruntung karena mendampingi dua yeoja paling cantik di Seoul."

Kangin membenarkan sambil tersenyum sayang kepada eommaku.

Aku meneguk sisa wineku dan dengan penih rasa terima kasih mengganti gelas yang kosong itu dengan gelas baru yang diserahkan Donghae kepadaku.

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke arahku dan berbisik kasar,"Jangan lupa kau datang ke sini bersamaku."

Dia marah? Apa-apaan? Mataku menyipit. "Kau berani berkata begitu?"

"Jangan disini, Sungmin." Ia mengangguk kepada semua orang dan menuntunku menjauh. "Jangan sekarang."

"Jangan selamanya," gumamku, mengikutinya hanya supaya aku tidak menimbulkan kehebohan dihadapan eommaku.

Kyuhyun memperkenalkanku kepada orang-orang, kurasa aku memberikan penampilan yang cukup bagus –berbicara pada saat yang tepat dan tersenyum saat dibutuhkan—tetapi aku tidak benar-benar memperhatikan. Aku terlalu menyadari dinding es di antara kami dan amarahku sendiri. Kalau aku membutuhkan bukti bahwa Kyuhyun berpegang teguh pada keputusannya untuk tidak bersosialisasi dengan wanita-wanita yang ditidurinya, aku sudah mendapatkannya.

Ketika makan malam diumumkan, aku ikut dengannya ke ruang makan dan menusuk-nusuk makananku. Aku minum beberapa gelas anggur merah yang mereka sajikan bersama makanannya dan mendengar Kyuhyun berbicara kepada orang-orang yang duduk semeja dengan kami. Kyuhyun tidak berusaha mengikutsertakan aku dalam pembicaraan, aku merasa senang.

Aku tidak tertarik sampai ia berdiri diiringi tepuk tangan dan naik ke atas panggung. Lalu aku berputar dari kursi dan mengamatinya berjalan kearah mimbar, tidak mampu menahan diri mengagumi keanggunannya dan wajahnya yang tampan.

Ketika ia selesai berbicara, aku berdiri dan bertepuk tangan, membuat dirinya dan diriku terkejut. Tetapi orang-orang lain dengan segera ikut berdiri dan bertepuk tangan, dan aku mendengar orang-orang sibuk berbicara di sekelilingku, pujian-pujian lirih yang memang pantas didapatkannya.

"Kau yeoja muda yang beruntung."

Aku menoleh menatap yeoja yang berbicara tadi. "Kami hanya….berteman."

Senyumnya yang tenang entah bagaimana berhasil mendebat kata-kataku.

Orang-orang mulai mejauh dari meja-meja mereka. Aku baru hendak meraih dompetku sehingga aku bisa pulang ketika seorang namja muda menghampiriku. Dengan wajah tampan dan senyum lebar kekanak-kanakkan, ia berhasil membuatku tersenyum tulus untuk pertama kalinya sejak keluar dari limusin.

"Halo," katanya.

Sepertinya dia tahu siapa aku, yang membuatku terpaksa pura-pura aku tidak tahu siapa namja itu sebenarnya. "Halo."

Ia tertawa, dan suaranya ringan dan memesona. "Aku Shim Changmin, adik Kyuhyun."

"Oh, tentu saja." Wajahku memanas. Aku tidak percaya aku begitu tenggelam dalam perasaan kasihan pada diriku sendiri sampai aku tidak mampu menyadarinya.

"Wajahmu memerah."

"Maaf." Aku tersenyum malu.

Ia mengulurkan lengannya padaku. "Apakah kau ingin berdansa?"

Aku melirik ke tempat Kyuhyun berdiri di kaki tangga yang mengarah ke panggung. Ia di kelilingi orang-orang yang ingin berbicara kepadanya, dan sebagian besarnya adalah yeoja.

"Bisa kulihat dia masih tertahan," kata Changmin dengan nada geli.

"Ya." Aku hendak memalingkan wajah ketika aku mengenali wanita yang berdiri di samping Kyuhyun –Jung Jessica.

Aku meraih dompetku dan berusaha menyunggingkan seulas senyum kepada Changmin. "Aku sangat ingin berdansa."

Sambil bergandengan tangan, kami berjalan ke ruang dansa dan melangkah ke lantai dansa. Band mulai memainkan irama waltz dan kami bergerak dengan mudah, dengan alami mengikuti irama musik. Ia penari yang ahli, cekatan, dan penuh percaya diri.

"Jadi, bagaimana kau bisa mengenal Kyuhyun?"

"Aku tidak mengenalnya." Aku mengangguk kepada Donghae ketika ia meluncur lewat bersama seorang yeoja.

"Kau bekerja untuknya?"

"Tidak." Jawabku.

"Kyuhyun pasti benar-benar tertarik padamu sampai menyeretmu ke tempat ini hanya setelah bertemu satu atau dua kali denganmu."

Aku menyumpah dalam hati. Aku tahu orang-orang akan menarik kesimpulan sembarangan, tapi aku sangat ingin menghindari rasa malu. "Kyuhyun mengenal ibuku dan mengundangku datang ke sini, jadi ini hanya masalah dua orang yang menghadiri acara yang sama dalam satu mobil dan bukannya dua mobil."

"Jadi apakah kau masih lajang?"

Aku menarik napas dalam-dalam, merasa tidak nyaman walaupun kami berdua bergerak dengan mulus. "Well, aku belum memiliki pasangan tetap."

Changmin menyunggingkan senyumnya. "Malamku baru saja berubah lebih baik."

Ia mengisi sisa waktu dansa itu dengan cerita-cerita lucu tentang industry musik yang membuatku tertawa dan menyingkirkan pikiranku dari Kyuhyun.

Ketika dansa itu berakhir, Donghae datang untuk berdansa denganku. Kami berdansa dengan sangat baik sebagai pasangan karena kami belajar berdansa bersama. Aku bersantai dalam pelukannya, merasa beruntung karena memiliki Donghae yang mendukungku secara moral.

"Apakah kau bersenang-senang?" tanyaku dengan lirih padanya.

Tangannya mengencang ditanganku, matanya mengeras. "Kau terlihat tersiksa. Bagaimana cara dia mengacaukan segalanya?"

"Kurasa akulah yang mengacaukannya. Kita akan membicarakannya nanti."

"Kau takut aku akan menghajarnya di sini di depan semua orang."

Donghae menempelkan bibirnya ke keningku sejenak. "Aku sudah memperingatkannya tadi. Dia tahu aku akan menghajarnya."

"Oh, Donghae." Kasih sayangku padanya membuatku terharu. Seharusnya aku tahu Donghae pasti akan melontarkan ancaman seperti kakak laki-laki kepada Kyuhyun. Donghae memang seperti itu.

Kyuhyun muncul di samping kami. "Aku menyela."

Itu bukan permintaan.

Donghae berhenti dan menatapku. Aku mengangguk. Ia melangkah mundur sambil membungkuk, matanya menatap wajah Kyuhyun dengan panas dan tajam.

Kyuhyun menarikku mendekat dan mengambil alih dansa itu seperti ia mengambil alih segalanya.

"Kau terus melarikan diri," gerutunya dan memberengut menatapku.

"Sepertinya Jessica menjadi pengganti yang baik."

Alisnya terangkat dan ia menarikku lebih dekat. "Cemburu?"

"Serius lah." Aku memalingkan wajah.

Ia mengeluarkan suara frustasi. "Jauhi adikku, Sungmin."

"Kenapa?"

"Karena aku yang menyuruhmu."

Amarahku terbit. Aku memutuskan untuk melihat apakah pembalasan adalah sesuatu yang adil dalam dunia Kyuhyun. "Jauhi Jessica, Kyuhyun."

Rahangnya mengeras. "Dia hanya teman."

"Artinya kau tidur dengannya …? Atau belum."

"Tidak, sialan. Dan aku tidak ingin melakukannya. Dengar –"

Musiknya mulai berakhir dan ia memperlambat langkah. "Aku harus pergi. Aku membawamu ke sini, dan aku lebih suka apabila akulah yang mengantarmu pulang, tapi aku tidak mau menarikmu pergi apabila kau sedang bersenang-senang. Apakah kau lebih suka tetap disini dan pulang bersama Kangin dan eommamu?"

Bersenang-senang? Apakah dia bercanda atu benar-benar tidak tahu? Atau lebih buruk lagi. Mungkin ia sudah melupakanku sama sekali sampai dia tidak memperhatikanku.

Aku menjauh darinya, membutuhkan jarak di antara kami. "Aku baik-baik saja. Lupakan aku."

"Sungmin." Ia mengulurkan tangan ke arahku dan aku cepat-cepat melangkah mundur.

Sebuah lengan merangkul punggungku dan Donghae berbicara. "Aku akan mengurusnya, Cho."

"Jangan menghalangiku, Donghae," Kyuhyun memperingatkan.

Donghae mendengus. "Aku mendapat kesan bahwa kau sendiri sudah melakukannya dengan sangat baik."

Aku menelan keresahanku dengan susah payah. "Kau memberikan pidato yang luar biasa, Kyuhyun. Itu adalah bagian terbaik dari malam ini."

Ia menarik napas tajam mendengar ejekan tersirat itu, lalu menyusurkan tangan ke rambutnya. Tiba-tiba ia menyumpah dan aku menyadari alasannya ketika ia mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari saku dan melirik layarnya.

"Aku harus pergi." Matanya menatap mataku. Ujung jarinya membelai pipiku. "Aku akan meneleponmu."

Lalu ia pun pergi.

"Apakah kau ingin tetap disini?" tanya Donghae lirih.

"Tidak."

"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang."

"Tidak, jangan." Aku ingin sendirian sejenak.

"Baiklah."

"Maukah kau keluar dan meminta pelayan memanggil limusin Kangin ke depan? Aku akan ke toilet sebentar."

"Oke." Donghae mengelus lenganku. "Aku akan mengambil selendangmu dari tempat penitipan jaket dan menemuimu di luar.

Aku pun segera bergegas menuju toilet yang letaknya agak jauh. Tidak ada orang lain di toilet itu selain pelayan, sehingga tidak ada orang yang memburu-buruku. Aku segera masuk ke salah satu bilik dan memilih berlama-lama di sana.

Aku begitu sakit hati karena Kyuhyun sampai aku merasa sulit bernapas, dan aku sangat bingung melihat perubahan suasana hatinya. Kenapa ia menyentuh wajahku seperti itu? Kenapa ia marah ketika aku tidak dapat tetap berada di sampingnya? Dan kenapa ia merasa terancam oleh Donghae? Kyuhyun memberikan pengertian baru pada pepatah lama tentang 'sebentar dingin sebentar panas'.

Aku menarik napas dalam-dalam, melangkah keluar, dan berhenti ketika melihat Jung Jessica bersandar di meja rias sambil bersedekap. Ia sudah jelas ada di sana untuk menemuiku, menunggu saat pertahanan diriku sedang lemah. Langkah kakiku goyah; lalu aku pulih dan berjalan ke westafel untuk mencuci tangan.

Ia berbalik menghadap cermin, mengamati bayanganku. Aku juga mengamatinya. Gaunnya cukup seksi. Ia terlihat seperti supermodel dan memancarkan daya tarik seks yang eksotis.

Aku menerima handuk tangan yang di sodorkan pelayan toilet kepadaku, dan Jessica berbicara kepada wanita itu dalam bahasa Spanyol, memintanya memberikan sedikit privasi kepada kami. Aku mengakhiri permintaan itu dengan, "Por favor, gracias." Itu membuat Jessica mengangkat sebelah alis dan membuatnya mengamatiku lebih seksama lagi, yang kubalas dengan ketenangan yang sama.

"Oh, astaga," gumamnya, begitu si pelayan keluar dari jarak dengar. Ia mendecakkan lidah dan suara itu mengusik sarafku seperti kuku yang menggesek papan tulis. "Kau sudah tidur dengannya."

"Dan kau belum."

Ucapanku sepertinya membuatnya terkejut. "Kau benar, aku belum. Kau tahu kenapa?"

Aku mengeluarkan uang kertas seribu won dan menjatuhkannya ke atas nampan perak. "Karena dia tidak mau."

"Dan aku juga tidak mau, karena dia tidak bisa berkomitmen. Dia muda, tampan, kaya, dan dia menikmatinya."

"Ya." Aku mengangguk. "Benar sekali."

Matanya menyipit,raut wajahnya yang ramah mulai berubah. "Dia tidak menghormati yeoja-yeoja yang ditidurinya. Begitu dia menjejalkan kejantanannya ke dalam dirimu, berakhirlah sudah. Sama seperti yang lain. Tapi aku masih di sini, karena akulah yang ingin dipertahankannya untuk jangka panjang."

Aku mempertahankan sikap tenangku walaupun 'pukulan' itu menerjangku tepat di tempat yang paling menyakitkan. "Menyedihkan sekali."

Aku berjalan keluar dan tidak berhenti sampai aku tiba di limusin Kangin. Aku meremas tangan Donghae ketika aku masuk, lalu berhasil menunggu sampai mobil itu melaju di jalan sebelum mulai menangis.

.

~Bared To You~

.

"Hey, baby girl," seru Donghae ketika aku berjalan dengan langkah diseret-seret ke ruang duduk keesokan harinya. Ia hanya mengenakan celana panjang yang longgar, Donghae duduk berbaring di atas sofa dengan kaki terulur, disilangkan dan ditopang di atas meja kopi. Ia terlihat tampan, acak-acakan, dan nyaman menjadi dirinya sendiri. "Bagaimana tidurmu?"

Aku mengacungkan jempol dan berjalan ke dapur untuk mengambil kopi. Aku berhenti di meja sarapan, alisku terangkat melihat rangkaian bunga mawar merah di atas meja. Aromanya harum dan aku menghirupnya dalam-dalam. "Apa ini?"

"Itu di antarkan ke sini untukmu satu jam yang lalu. Pengiriman di hari Minggu. Cantik dan supermahal."

Aku mengambil kartu dari penjepit plastic di sana dan membukanya.

AKU MASIH MEMIKIRKANMU.

-KYUHYUN-

"Dari Cho?" tanya Donghae.

"Ya." Ibu jariku mengusap apa yang kuanggap adalah tulisan tangannya. Aku mengambil secangkir kopi, berharap kafein bisa memberiku kekuatan dan mengembalikan akal sehatku.

"Sepertinya kau tidak terkesan." Donghae mengecilkan volume televisi. "Apa yang terjadi?"

Aku meniup uap di atas cangkirku dan menyesap dengan ragu. "Aku berhubungan seks dengannya di dalam limusinnya dan di langsung berubah sedingin es setelah itu."

Donghae mengamatiku. "Kau mengguncang dunianya, bukan?"

"Ya, benar." Dan aku merasa kesal karena memikirkannya. Kami memiliki hubungan. Aku tahu itu. Aku menginginkannya lebih dari apa pun kemarin malam, dan hari ini aku sama sekali tidak ingin berhubungan dengannya lagi. "Rasanya sangat luar biasa. Pengalaman seksual terbaik dalam hidupku, dan dia juga merasakan hal yang sama. Aku tahu itu. Itu pertama kalinya dia berhubungan seks di dalam mobil, dan pada awalnya dia agak enggan, tapi kemudian aku membuatnya begitu bergairah sampai dia tidak bisa menolak."

"Benarkah? Tidak pernah?" Donghae mengelus pangkal janggutnya. "Kebanyakan namja menghancurkan mobil mereka dengan cara berhubungan seks di masa sekolah. Malah, aku tidak bisa memikirkan satu orang pun yang tidak pernah melakukannya kecuali para kutu buku dan orang-orang yang sangat jelek, dan dia bukan keduanya."

Aku mengangkat bahu. "Kurasa berhubungan seks dalam mobil membuatku menjadi pelacur."

Donghae berubah kaku. "Apakah itu yang dikatakannya?"

"Tidak. Dia tidak berkata apa-apa. Aku mendengarnya dan 'temannya', Jessica. Kau tahu, yeoja yang ada dalam sebagian besar foto yang kau cetak dari Internet? Dia memutuskan mengasah kukunya dengan pembicaraan licik di toilet."

"Wanita jalang itu cemburu." Ucap Donghae.

"Rasa frustasi seksual. Dia tidak bisa tidur dengan Kyuhyun, karena ternyata yeoja-yeoja yang tidur dengannya langsung dilempar ke tumpukan sampah."

"Apakah Cho berkata seperti itu?" Sekali lagi, amarah menghiasi pertanyaan Donghae yang lirih.

"Tidak dengan kata-kata sebanyak itu. Katanya dia tidak tidur dengan teman-teman yeojanya. Dia bermasalah dengan yeoja-yeoja yang menginginkan lebih daripada kesenangan di atas ranjang, jadi dia menempatkan yeoja-yeoja yang ditidurinya dengan yeoja-yeoja yang berteman dengannya dalam dua kelompok terpisah." Aku menyesap kopiku lagi. "Aku sudah memperingatkannya bahwa pengaturan seperti itu tidak akan berhasil untukku dan katanya dia bersedia membuat beberapa penyesuaian, tapi kurasa dia termasuk orang yang mengatakan apapun yang diperlukan demi mendapat apa yang diinginkannya."

"Atau kau akan menakutinya sampai ia berlari pergi terbirit-birit?"

Aku melotot. "Jangan membuat alasan untuknya.

"Baiklah..baiklah.. Aku lapar. Kau ingin memesan apa?" Kata Donghae sambil memegang telepon.

"Terserahmu saja."

.

~Bared To You~

.

Aku berangkat ke kantor dua puluh menit lebih awal pada hari Senin, berharap bisa menghindari Kyuhyun. Dengan pagi sesibuk itu, waktu berlalu dengan cepat dan aku tidak punya waktu untuk memikirkan masalam pribadiku. Lalu aku menjawab telepon dan mendengar suara Kyuhyun di ujung sana. Aku tidak siap mendengarnya.

"Bagaimana hari Senin-mu sejauh ini?" tanyanya, suaranya membuat tubuhku bergetar.

"Sibuk." Aku melirik jam dan terkejut melihat saat itu sudah jam 11.40.

"Bagus," jeda sesaat. "Aku mencoba meneleponmu kemarin. Aku meninggalkan beberapa pesan. Aku ingin mendengar suaramu, Sungmin."

Mataku terpejam dan aku menarik napas dalam-dalam. Aku mengerahkan segenap kendali diriku untuk menjalani hari tanpa mendengar pesan suara. "Aku bertapa dan bekerja sedikit."

"Apakah kau menerima bunga yang kukirim?"

"Ya. Bunganya indah. Terima kasih."

"Bunga itu mengingatkanku pada gaunmu."

Apa yang sedang dilakukannya? Aku mulai berpikir Kyuhyun menderita kepribadian ganda. "Beberapa wanita mungkin menganggap itu romantis."

"Aku hanya peduli pada apa yang kau katakan." Kursinya berderik seolah-olah ia berdiri. "Tadinya aku ingin mampir…. Aku ingin melakukannya."

Aku mendesah, menyerah pada kebingunganku. "Aku senang kau tidak melakukannya."

Lalu jeda lagi. "Aku pantas mendapatkannya."

"Aku tidak mengatakannya untuk bersikap jahat. Itu adalah kenyataan."

"Aku tahu. Dengar ….. aku sudah mengatur makan siang di kantorku sehingga kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk pergi dan kembali."

Setelah ucapan selamat tinggalnya yang berupa 'Aku akan meneleponmu' malam itu, aku bertanya-tanya apakah ia ingin berhubungan lagi denganku setelah ia selesai dengan apapun yang mengganggunya. Itu adalah kemungkinan yang kutakuti sejak Sabtu malam, sadar bahwa aku harus memutuskan hubungan dengannya, tetapi merasa tegang karena keinginanku untuk tetap bersamanya. Aku ingin kemabali merasakan saat murni dan sempurna dari keintiman yang kami alami bersama.

Tetapi aku tidak bisa membenarkan satu saat di antara saat-saat dimana ia membuatku merasa seperti sampah.

"Kyuhyun, kita tidak punya alasan untuk makan siang bersama. Kita memulai segalanya hari Jumat malam, dan kita…mengurus masalahnya pada hari Sabtu. Kita akhiri saja sampai disana."

"Sungmin." Suaranya berubah serak. "Aku tahu aku mengacaukan segalanya. Biarkan aku menjelaskan."

"Kau tidak perlu melakukannya. Ini bukan masalah."

"Ini masalah. Aku harus bertemu denganmu."

"Aku tidak mau—"

"Kita bisa melakukannya dengan cara yang mudah, Sungmin. Atau kau bisa membuatnya menjadi sesuatu yang sulit." Nada suaranya terdengar tajam dan membuat denyut nadiku berpacu.

Aku memejamkan mata, mengerti bahwa aku tidak cukup beruntung untuk lolos dengan obrolan selamat tinggal di telepon. "Baiklah. Aku akan naik ke kantormu."

"Terima kasih." Kyuhyun mengembuskan napas dengan keras. "Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu."

Aku menutup telepon dan menatap foto-foto dimejaku, mencoba memikirkan apa yang harus kukatakan dan menguatkan diri menghadapi pengaruh yang kurasakan begitu melihat Kyuhyun lagi.

Menyerah pada sesuatu yang tidak bisa kuhindari, aku kembali bekerja membandingkan pengaruh visual dari kartu-kartu contoh.

"Sungmin."

Aku melompat dan berputar di kursi, terkejut melihat Kyuhyun berdiri di samping bilikku. Aku melirik jam dan menyadari bahwa lima belas menit sudah berlalu tanpa sepengetahuanku.

"Kyu—Tuan Cho. Kau tidak perlu turun ke sini."

Wajahnya tenang dan datar, tetapi matanya muram dan panas. "Siap?"

Aku membuka laci dan mengeluarkan tas tangan, mengambil kesempatan itu untuk menarik napas dalam-dalam dan gemetar. Aroma Kyuhyun sangat luar biasa.

"Tuan Cho." Suara Hangeng. "Senang sekali melihatmu. Apakah ada sesuatu—?"

"Aku datang ke sini untuk menjemput Sungmin. Kami punya janji makan siang."

Aku menegakkan tubuh tepat waktu dan melihat alis Hangeng terangkat tinggi. Ia pulih dengan cepat, wajahnya kembali ramah seperti biasa."

"Aku akan kembali jam satu," aku menenangkannya.

"Sampai jumpa. Semoga makan siangmu menyenangkan."

Kyuhyun menempelkan tangannya di bagian bawah punggungku dan menuntunku ke lift, membuat Victoria mengangkat alis ketika kami berjalan melewati area penerimaan tamu. Aku bergerak gelisah sementara ia menekan tombol lift.

Kyuhyun menghadapku sementara kami menunggu lift, membeli lengan blus satinku dengan ujung jarinya. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihatmu dalam gaun merah itu. Aku mendengar suara-suara yang kau keluarkan ketika kau bergairah. Aku merasakan dirimu menyelimutiku, meremasku dengan erat, membuatku mencapai kenikmatan dengan begitu dahsyat sampai terasa menyakitkan."

"Jangan teruskan!" Aku memalingkan wajah, tidak mampu melihat caranya yang intim ketika menatapku.

"Aku tidak bisa menahan diri." Ucapnya.

Lift yang berhenti membuatku merasa lega. Ia menangkap tanganku dan menarikku masuk. Setelah ia memasukkan kuncinya ke panel, ia menarikku lebih dekat. "Aku akan menciummu, Sungmin."

"Aku tidak—"

Ia menarikku ke tubuhnya dan menempelkan mulutnya ke mulutku. Aku menolak selama mungkin; lalu aku melelh ketika merasakan lidahnya membelai lidahku dengan perlahan dan manis.

Aku kembali kebingungan ketika ia menarik diri.

"Ayo." Ia menarik kuncinya ketika pintu lift terbuak.

Resepsionis Kyuhyun yang berambut merah tidak berkata apa-apa kali ini, walaupun ia menatapku dengan tatapan aneh. Namun sekretaris Kyuhyun, Yesung, berdiri ketika kami berjalan mendekat dan menyapaku ramah.

"Selamat siang, Nona Lee."

"Hai, Yesung." Sapaku.

Kyuhyun mengangguk singkat ke arahnya. "Tahan telepon-teleponku."

"Ya, tentu saja."

Aku memasuki kantor Kyuhyun yang luas, mataku terpaku ke sofa tempat ia pertama kali menyentuhku dengan intim.

Makan siang disajikan untuk dua orang di bar—dua piring yangdi tutup dengan nampan logam.

"Bagaimana kalau ku taruh tasmu?" tanya Kyuhyun.

Aku menatapnya, melihat ia melepas jas nya dan menyampirkannya di lengannya. Aku terpesona melihat tampilannya tanpa jas.

"Sungmin?"

"Kau tampan, Kyuhyun." Kata-kata itu meluncur dari mulutku tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Alisnya terangkat; lalu matanya melembut. "Aku senang kau menyukai apa yang kau lihat."

Aku menyerahkan tasku kepadanya dan berjalan menjauh, membtutuhkan jarah di antara kami. Ia menggantung jaket dan tas tanganku di gantungan jaket, lalu berjalan ke arah bar.

Aku bersedekap. "Kita selesaikan saja masalah ini. Aku tidak ingin berhubungan denganmu lagi."


.

.

To Be Continued

.

.


Annyeong ^^

Aku kembali membawa Bared To You BAB 7. Mian lama update nya ^^

Hayoloh, kok Sungmin ngga mau berhubungan sama Kyu lagi tuh, kenapa? Kkk~ tunggu next bab ya :p

Pada panas dingin baca Bab kemarin? Sama saya juga xD

Sumpah deh, pas pertama baca buku ini juga yang kebayang tokohnya itu Kyuhyun dan Sungmin. Mungkin keseringan baca FF KyuMin.. kkk~
Ok Just it…

Big Thanks To:

Heldamagnae , Love Kyumin 137 , Rly. , abilhikmah , kyuxmine , Kyuminsimple0713 , Frostbee , TiffyTiffanyLee , dewiktubagus , OvaLLea , Tika137 , PumpkinEvil , HaeHar , siganteng , Hana , kyumin sefi , babyChoi137 , Cywelf , HeeKyuMin91, parkhyun , Rinda Cho Joyer , asdfghjkyu, PaboGirl , pinkKYUMIN , farihadaina , Nuralrasyid , Gyeomindo , 99 , kyumin , fariny , bunyming , BTY , ChoLeeKyuMin , pinzame , miadevi137 , kyuminJoy137 , kimjaejoong309 , steffifebri and Guest. (Yang di cetak tebal adalah reviewer di BAB 4 yang baru masuk dan reviewer BAB 5 dan 6 ^^)

Walaupun review nya makin lama makin sedikit, tapi aku berterima kasih banget buat kalian, khusunya yang sudi untuk me-review ^^

Buat yang namanya belum tercantum diatas, maaf ya, mungkin review nya belum masuk u.u

Thank You So Much :*

And keep REVIEW ~~