Mawar Kertas dan Gula-gula Kapas

Summary: Mana yang akan kamu pilih? Orang yang tidak punya apa-apa tetapi mencintaimu, atau orang yang memiliki segalanya tetapi tidak mencintaimu?

Pairing: Alibaba x Kougyoku, Judal x Kougyoku

Rate: T

Disclaimer: Magi ©Shinobu Ohtaka. Saya hanya seorang fans berat :)

Warning: ABSOLUTELY OOC. Abal. Alay. Gaje. Garing. Roman gagal. Humor nggak kena. Typo. Tidak mengikuti Kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung bahasa gaul tidak baku. Tidak suka? Silakan klik tombol back.

.

.

.

.

.

.

Don't forget I'm just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her.

-Notting Hill (1999)-

.

.

.

.

.

.

Kabar mengejutkan datang dua minggu sebelum hari pelaksanaan perayaan ulang tahun SMA Imperium Leam. Pertama, seluruh kelas diwajibkan membuka stand yang akan dikunjungi peserta lomba dari sekolah lain, dan stand-stand tersebut bakal dilombakan berdasarkan jumlah pengunjung tertinggi serta highest profit. Kedua: Kouha, Hakuryuu dan Alibaba terpilih menjadi tiga tokoh utama dalam drama crime-drama-action berjudul The King. Konsep dasarnya memang diambil dari film super epic The Godfather, namun plot cerita yang Kougyoku baca dari naskah yang dipegang Kouha ternyata jauh berbeda dan lumayan menarik. Bercerita tentang seorang pria muda bernama Jonathan Bastianich yang kehilangan ayahnya, seorang boss mafia yang mati ditembak pada suatu pesta. Jonathan terpaksa melanjutkan legacy ayahnya untuk menjadi boss mafia. Dalam surat wasiat ayahnya, Jonathan diharapkan dapat merebut kembali sebuah wilayah yang dinamakan Area 25, kota kecil gersang di salah satu daerah Texas yang ternyata adalah ladang emas. Semenjak kematian ayahnya, Area 25 itu kini dipegang oleh seorang gubernur bernama Anthony Leroy. Selain harus merebut area itu dari Gubernur Leroy, boss mafia lain yang hendak menguasai area tersebut adalah David Salvatore, pria tiran yang merupakan musuh besar Jonathan dalam dunia mafia. Alibaba berperan sebagai Jonathan Bastianich, Kouha sebagai Gubernur Leroy dan Hakuryuu sebagai David Salvatore.

Kelas Kougyoku, 2-4 kabarnya akan membuka semacam salon yang hanya akan melayani hairdress, nail art, dan face painting. Salah satu kelas 3 akan membuka maid cafe, kelas 2-1, kelasnya Kouha akan membuka obake atau rumah hantu, ada kelas yang akan membuka board game centre, mini theatre dan sebagainya. Ketika tiga bersaudara Kou ini mengungkapkan ide stand kelas masing-masing, Hakuryuu hanya mendecak kesal.

"Kelasku bakal buka kedai makanan." Jawabnya enggan. "Mereka mengeksploitasi kemampuan memasakku dan Alibaba dalam mengelola kedai sungguhan."

"Kurasa kau tidak perlu terlalu memikirkan bagaimana stand kelasmu. Penampilan kita bakalan lebih penting." Kata Kouha seraya menepuk bahu Hakuryuu dengan naskah. "Mau latihan lagi, nggak?"

"Boleh."

Maka Hakuryuu dan Kouha berdiri lagi. Kouha mengambil sebuah kursi dan menata serta menempatkan kamarnya sebagai ruang kerja seorang Gubernur dan ia duduk dengan pongahnya sambil menyilangkan sebelah kaki. Hakuryuu keluar kamar, kemudian mengetuk dan masuk dengan langkah berat namun muram sesuai karakter Daniel Salvatore yang diciptakannya.

" 'Bonjour, Monsieur Leroy. Sungguh hari yang indah.' " ucapnya dengan nada tenang dan perlahan.

" 'Mau apa kau kesini, begundal selatan!?'" Kouha menggebrak meja dengan suara geraman yang agak terlalu dibuat-buat. " 'Aku tidak pernah sudi membiarkan langkah penuh dosamu berada di daerah pemerintahanku!'"

Hakuryuu menghela nafas, lalu melempar naskah ke kasur Kouha, tepat di depan Kougyoku. Ia mengerang kesal dan mengomat-ngamitkan beberapa umpatan yang tidak begitu nyaman didengar karena beraksen Perancis bagian selatan.

" 'Tidak apa-apa, mon ami. Aku punya pendeta dalam keluargaku. Niatku ke sini adalah untuk menjalin persaudaraan dan membagi kekuatan bersama Anda, Monsieur Leroy.' "

Kougyoku menonton adegan yang mereka latih berdua dengan seksama, karena biasanya mereka berdua akan meminta masukan dan saran serta kritik darinya sebagai referensi untuk latihan adegan berikutnya. Lagipula ia tidak punya kegiatan ataupun tugas. Kadung bosan juga karena Judal belum juga memberikan kabar.

Judal sudah hampir seminggu pulang ke Australia, namun tiada kabar terkini darinya. Kougyoku sudah menempuh segala macam media untuk menghubungi. Email, twitter, Facebook, Path, Skype, Whatssapp, LINE, SMS, BBM, pesan, dan telepon berkali-kali semuanya tanpa balasan. Mungkin jika Judal tidak memberikan kabar dalam waktu dekat ini, Kougyoku akan mencoba mengirimkan merpati pos dari Jepang ke Australia. Ia mengerti bahwa Judal pasti sangat, sangat sibuk dengan skripsi, wisuda, dan kegiatannya seputar model, fotografi dan fashion blog yang dikelolanya. Tetapi status mereka yang kini sepasang kekasih merubah keadaan hati Kougyoku. Ia jadi lebih merindukan paras Judal, suara Judal, aroma tubuhnya yang diselubungi parfum La Nuit de L'homme Yves Saint Laurent, cara menyetirnya yang terlalu menahan diri untuk tidak ngebut, pembawaannya yang nanggung antara bocah laki-laki dan pria muda, surai legam Godfather style yang selalu berayun lembut dan anggun, kata-katanya yang pedas dan sarkastis...

Judal sedang apa sekarang?

Sudah makan? Sudah mandi?

Apakah sidang skripsinya lancar?

Setelan macam apa yang dia rancang atau pesan untuk upacara wisudanya?

Apakah pekerjaannya sebagai fotografer atau model amatir di Australia menyenangkan?

Apakah setidaknya, di sudut benak Judal terlintas bahwa Kougyoku sekarang adalah pacarnya, yang benar-benar membutuhkan kabar darinya?

Kougyoku mengambil sebuah bantal dan membenamkannya di wajahnya, berusaha meredam gemuruh rindu dan airmata yang mulai mengalir menuruni pipinya. Ia benar-benar merindukan Judal sampai rasanya mau mati depresi karenanya.

"Hey, Kougyoku! Apa kau baik-baik saja?" tanya Kouha.

Gadis berambut fuscia panjang itu mengangkat kepalanya dan mengangguk.

.

.

.

.

.

.

Selain statusnya yang sekarang adalah kekasih Judal, kehidupan Kougyoku berjalan normal seperti biasa. Kouen semalam menelpon, menanyakan bagaimana kegiatan sekolahnya dan Kouha, apakah Koumei cukup peduli untuk memberikan mereka makan dan uang jajan (karena Koumei terkenal luar biasa kikir di mata kedua adiknya). Kougyoku menghadapi ulangan matematika bersama sang guru matematika yandere Jafar-sensei, hasilnya dipajang di majalah dinding dan seluruh kelas dinyatakan lulus kecuali dirinya. Sejujurnya Kougyoku tidak pernah merasa malu ataupun sedih mendapat nilai 2.3, karena ia menyadari kekurangannya di mata pelajaran tersebut, tidak seperti Kouha yang lebih pandai darinya. Namun karena ia mendapat nilai 2.3 dan seluruh penjuru sekolah melihatnya, ia merasa ingin menenggelamkan diri di Laut Mati saja.

"Harusnya kau lebih berbangga diri." Kouha mengunyah sebungkus chocolate bar dengan santai pada saat istirahat. Ia dan Kougyoku makan di atap bertiga dengan Toto. Morgiana sibuk pacaran dengan sepupu mereka, siapa lagi kalau bukan Hakuryuu. "Alibaba dapat 0. Bahkan Jafar-sensei mewarnai namanya dengan stabilo dan digambar mahkota kecil di atas nilai nol itu agar semua orang tahu bahwa Alibaba murid terbodoh seangkatan kita."

"Dia separah itu, ya?" tanya Kougyoku canggung.

"Kalau ada satu kata diatas 'idiot', mungkin itu dia." balas Toto. "Nilainya cuma bagus di Bahasa Inggris, olahraga, Biologi dan Ekonomi. Sisanya nol besar. bahkan kadang saking tidak teganya memberikan remedial kepadanya seorang, Jafar-sensei mengundang Alibaba ke apartemennya dan menyuruhnya mengerjakan remedial disana."

"Sudahlah, nggak baik ngomongin orang." Kougyoku mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. "Gimana kalau kita ngomongin hal lain?"

"Lihat, lihat!" Kouha berdiri, melangkah berkeliling dengan congkaknya. Ia mengusap-usap bagian atas bibirnya seakan-akan ada kumis lebat yang tumbuh disana. " 'Pergi dari wilayahku, begundal-begundal selatan! Pergi atau kutembak keluar isi kepalamu!'"

Lalu Kouha berpura-pura memberondong satu pasukan dengan gatling gun. Kougyoku dan Toto tertawa lalu bertepuk tangan. Cara Kouha memerankan Gubernur Anthony Leroy sudah lebih natural dibanding beberapa hari silam.

PING!

Kougyoku merogoh ponselnya dan melihat ada sebuah pesan masuk. Nomornya tidak dikenal, dan Kougyoku membukanya dengan enggan.

[from: unknown number (+61 8231 xxxxxx)]

Yo, Gyo-gyo. Maaf aku baru bisa mengabarimu. Ini nomer baruku. Ponselku rusak. Jadi cuma bisa telepon, SMS dan Skype via laptop. Sidangku sudah selesai, dan aku lulus dengan nilai A+. Aku sekarang sudah lumayan nganggur, belum ada job. Aku online Skype setiap jam 7 sampai jam 10. Sesuaikan waktumu. I love you, beautiful bitch :*

-Judal-

Kougyoku tersenyum kecil. Antara kangen, senang sekaligus jengkel. Ia buru-buru mengetik jawaban dengan penuh semangat.

[to: Judal, new number (+61 8231 xxxxxx)]

Wah, iya? Selamat ya, Judal-chan \(^0^)/~ keren banget bisa dapet A+. Iya, nanti malam ayo kita video call. Aku kangen tingkat maksimaaaaal /^w^)/~~ ngomong-ngomong, jangan panggil pacarmu dengan sebutan bitch. Itu nggak lucu. Love you too, take care :**

"Kougyoku!" panggil Toto. "Ayo pergi, sebentar lagi masuk."

"Ah, iya."

Mereka berpisah duluan dengan Kouha dan melanjutkan langkah ke kelas. Jafar-sensei melihat Kougyoku dan Toto melewatinya. Pria kurus itu menjegal lengan Kougyoku hingga gadis itu mundur kembali beberapa langkah.

"Ren Kougyoku, hari ini sepulang sekolah ikut remedial dengan kelas 2-2, ya." Katanya datar.

"Heeh?! Kenapa harus hari ini?! Kenapa harus gabung dengan kelas lain?"

"Yah, alasannya gampang saja." Jafar-sensei menghela nafas. "Di kelasmu hanya kau yang tidak lulus ulangan kali ini dan di kelas 2-2 hanya Ren Hakuryuu saja yang tuntas."

Kougyoku menghela nafas. "Oke."

"Padahal kalian bersaudara. Lucu mengetahui bahwa kedua saudaramu tuntas dengan nilai sempurna sementara kau...tidak."

"Hubungan darah tidak menjamin kualitas penggunaan otak, sensei." Balas Kougyoku pedas.

"Bercanda." Jafar-sensei menepuk pundaknya lembut. "Pulang sekolah, di kelas 2-2, ya."

Lalu sang guru matematika yandere itu pergi begitu saja. Kougyoku yang mendadak panik karena belum belajar sama sekali buru-buru masuk kelas 2-2 dan menjambak kemeja seragam Hakuryuu.

"Kita masih saudara kandung, kan? Aku butuh bantuanmu untuk remedial matematika nanti sore. Mau, kan?" ucapnya tanpa titik dan koma sambil mengguncang-guncang lengan Kougyoku.

"Umm...o...oke." balas Hakuryuu kagok. "Kau foto saja soalnya, nanti akan kukerjakan semampuku."

"Jangan hanya semampumu. Ini remedial, tahu! Jika aku tidak lulus lagi, Jafar-sensei sialan itu akan menaruh nilai tertinggi yang bisa kuraih di laporan akhir, dan itu bakalan tidak bagus untuk karier masa depanku di dunia perkuliahan, tahu!"

"Oke, oke. Tenanglah, Kougyoku." Hakuryuu menepis tangan Kougyoku dari kemejanya. "Akan kukerjakan sebaik yang aku bisa, oke?"

Kougyoku tersenyum lebar dan membungkuk hormat. "MOHON BANTUANNYA."

.

.

.

.

.

.

Pukul 4 sore.

Kougyoku duduk di banjar 3 shaf 4, satu-satunya tempat kosong dan jika dilihat dari mejanya yang penuh dengan coretan kecil-kecil bekas contekan, pastilah mejanya Hakuryuu. Tidak seperti Kouha yang mendapatkan nilai bagus karena ia ikut bimbingan belajar dan rajin latihan disana, Hakuryuu adalah tipe orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai bagus, ditambah kelihaiannya dalam mencontek yang benar-benar belum pernah dikalahkan siapa pun. Beberapa anak-anak di kelas 2-2 yang lain juga sudah mempersiapkan contekan masing-masing, ada pula yang hendak bermain bersih. Kougyoku tidak pernah peduli dengan kegiatan contek-mencontek tersebut. Menurutnya, hal seperti itu merupakan sesuatu yang lumrah dilakukan pelajar di negara mana pun. Ia sendiri juga seringkali mencontek PR kedua saudaranya.

Jafar-sensei masuk dengan tenang, membawa satu gepok kertas fotokopian. Setelah mengedarkan absensi remedial, beliau membagikan kertas ulangannya dan pergi begitu saja meninggalkan beberapa barang-barangnya di meja guru di depan kelas. Kougyoku langsung ambil langkah sigap memotret kertas soal remedialnya dan mengirimkannya kepada Hakuryuu. Soalnya hanya setengah dari soal ulangan kemarin, dan beberapa angkanya diganti. Kougyoku berpura-pura mengerjakan, sementara anak-anak lain sibuk gerabak-gerubuk membuka contekan. Ada juga yang amat sangat pasrah mencoret-coret kertas ulangannya. Jafar-sensei kembali setengah jam kemudian, dengan membawa sebuah laptop dan ia langsung mengerjakan sesuatu, seakan tidak peduli kepada 30 murid yang sedang mengerjakan remedial mata pelajaran yang diajarkannya. Hakuryuu baru membalas pesan Kougyoku 20 menit sebelum ulangan berakhir. Kougyoku buru-buru menuliskan jawabannya tanpa ia pedulikan mau benar atau salah. Jafar-sensei mulai menghardik dan memasang mata karena kegaduhan mulai timbul karena rasa panik anak 2-2 (mungkin contekan mereka tidak pas dengan jawabannya).

"Sst, sssstt!"

Kougyoku sudah menyelesaikan semua soalnya ketika mendengar bisikan itu dari seberang mejanya. Alibaba, dengan raut wajah super frustasi memberikan isyarat kalau ia tidak mengerti sama sekali bagaimana cara mengerjakan soal tersebut. Kougyoku merasa iba, namun pasti bakal ketahuan kalau ia memberikan kertas ulangannya pada Alibaba untuk disalin. Jarak meja mereka lumayan jauh sehingga tulisan Kougyoku tidak akan mudah dibaca dari tempat Alibaba duduk.

Ia menarik nafas dalam-dalam, rasa tegang menghinggapi tengkuknya.

Ponsel pintar miliknya ia turunkan. Kougyoku menendangnya dengan hati-hati sehingga sekarang ponselnya menggelosor ke kaki Alibaba. Cowok pirang itu dengan sigap menunduk, memungut ponsel pintar itu dan menyalin gambar kertas jawaban yang dikirimkan Hakuryuu secepat yang ia mampu.

"Yah, waktunya habis. Kumpulkan kertas kalian dan tinggalkan sekolah ini. Jangan kelayapan kemana-mana, ya. Berbahaya!" seru Jafar-sensei.

Alibaba mendecak kesal. Ia kehabisan waktu dan berusaha menulis lebih cepat tanpa ketahuan ia tengah melihat ponsel di bawah kolong mejanya. Kougyoku sempat melihat, dari 20 soal yang diberikan, Alibaba baru mengerjakan 11 diantaranya. Perlahan, Kougyoku menarik kertas Alibaba dan mengambilnya.

"Aku kumpulkan saja. Jafar-sensei bakal curiga kalau kau tidak buru-buru mengumpulkannya." Bisik Kougyoku.

Alibaba mengangguk paham. Ia mengungkapkan terima kasih tanpa suara, dan mengamankan ponsel Kougyoku di kantongnya. Kougyoku mengumpulkan kertas ulangan mereka berdua, membereskan peralatannya dan keluar kelas bersama Alibaba. Mereka berjalan beriringan tanpa membuka pembicaraan, lalu cowok pirang itu menaruh kembali ponsel Kougyoku ke kantung kemeja pemiliknya.

"Makasih. Aku nggak tahu bakal seperti apa nantinya kalau kau tidak membantuku."

"Sama-sama." jawab Kougyoku datar.

"Boleh aku mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih?"

"Supirku bilang bakal jemput." Tolak Kougyoku halus.

"Tidak usah jauh-jauh. Mungkin sekedar minum soda sambil menunggu supirmu datang?"

Kougyoku mengangguk pelan. "Terima kasih, dengan senang hati."

Mereka memilih untuk duduk di bangku panjang di bawah pohon. Alibaba pergi menghampiri vending machine dan membelikan sekaleng green tea untuk Kougyoku dan ginger ale untuk dirinya sendiri. Mereka minum dalam diam. Kougyoku menelaah keadaan, berusaha mencari obrolan agar suasana tidak begitu kikuk. Ia lalu menyadari bahwa Alibaba membawa sebuah guitar case di samping membawa tas sekolahnya.

"Buat apa kau bawa gitar, Alibaba-chan?"

"Oh, ini." Alibaba mengelus-elus gitar kesayangannya. "Aku diminta tampil mengisi acara sekolah, cuma nyanyi dan main gitar. Padahal sudah dipilih menjadi tokoh utama drama. Agak bikin capek juga, sih. Tapi nggak apalah, tidak setiap hari aku begitu, kan?"

"Iya." Kougyoku mengangguk. "Ayo, tunjukkan kemampuanmu." Mainkan aku satu lagu."

"Nggak, ah. Aku nggak mau, Kougyoku." Tolak Alibaba tegas.

"Ayolah, buat aku percaya kau bisa main gitar." Kougyoku tersenyum lebar.

Alibaba menatapnya sengit, lalu sejurus kemudian ia melunak. Cowok pirang itu mengeluarkan gitarnya, lalu memangkunya. Ia berpikir sebentar, lalu mulai mencari-cari nada. Jari-jarinya mulai memetik senar dan memperdengarkan sebuah harmoni yang bisa dibilang lumayan 'keras'.

"Ini D." Alibaba menunjukkan bagaimana posisi jemarinya di guitar tabs dan bagaimana bunyinya, lalu memindahkan kembali posisinya perlahan namun tangkas. "Ini E. Ini A. F kres minor."

Lalu Alibaba memetik melodi tersebut berulang-ulang. D, E, F kres minor. Melodi tersebut mulai ia kenali ketika Alibaba mulai mendendangkan liriknya.

I think we have an emergency,

I think we have an emergency

If you thought I'd leave then you're wrong,

cause I won't stop holding on

"Keren banget." Kougyoku bertepuk tangan saking senangnya. "Boleh aku coba?"

"Silakan." Alibaba memberikan gitarnya kepada Kougyoku.

"Ehm? Gimana tadi?" Kougyoku kelimpungan meletakkan jarinya pada guitar tabs.

Alibaba menuntun jari-jari Kougyoku lembut pada chord yang benar lalu menekannya dengan hati-hati dan mempergunakan tangan satunya untuk mengajarkan Kougyoku bagaimana cara membunyikannya.

Jreng!

"Itu E."

Lalu Alibaba dengan lembut memindahkan posisi jari Kougyoku.

"Itu D." Lalu pindah lagi. "Ini C."

Kougyoku menggeser tangannya dengan asal dan menggenjrengnya. "Itu?"

Alibaba tertawa. Ia membetulkan posisi telunjuk Kougyoku. "Kalau ini jadi A minor."

Kougyoku kembali mengingat-ingat bagaimana posisi-posisi chords sebelumnya. E. D. C. A minor. E. D. C. A minor. Makin lama makin cepat dan makin halus cara memetiknya. Semuanya mulai terasa mudah, dan...

Jret!

"Aww!" Kougyoku menjerit panik. Jari manisnya tergores senar dan meninggalkan garis merah pekat di ujung bukunya.

"Oh, berdarah." Alibaba mengambil gitarnya dan kembali meletakkannya di case. "Sini, biar kutangani."

Alibaba menarik tangan kiri Kougyoku dan melekatkan ujung jari manisnya yang berdarah ke bibirnya. Kougyoku merasakan jari manisnya menjadi hangat dan basah, lalu seperti disengat kecil karena Alibaba menyesap darahnya perlahan. Ia bisa merasakan bibir Alibaba yang tipis dan lembut, lidahnya yang basah dan berpapila. Kougyoku hanya bisa termangu, sebab segala pergerakan yang dibuatnya begitu natural dan nyaman.

Hisap. Jilat. Lap.

"Sudah hal biasa dalam belajar main gitar, ada kalanya tanganmu tergores begini. Butuh waktu, memang. Tetapi lama kelamaan tanganmu bakal jadi kebal." Jelasnya lembut.

"Umm..." Kougyoku mengangguk. "Bagaimana tanganmu?"

"Begini..." Alibaba merapatkan telapak tangan kirinya dengan tangan kiri Kougyoku. Ia bisa merasakan ujung buku jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya terasa kasar, keras dan kapalan. Tekstur yang sama juga terasa di telapak tangannya. Di luar semua itu, tangan Alibaba begitu hangat, cenderung panas. Ia meloloskan jemarinya di lekukan jemari Kougyoku, lalu mengelitiki telapak tangannya lembut.

"A...Alibaba-chan...ahaha...geliii..." Kougyoku tertawa.

Ia menjauhkan tangannya namun tangan hangat Alibaba menggamit pergelangannya. Tatapan mereka bertemu dalam diam. Sepasang chrysoberyl bertemu dengan light ruby dengan pandangan yang begitu sulit untuk diuraikan. Tatapan Alibaba begitu intens, lembut, sekaligus hampa pada waktu yang bersamaan.

"Alibaba-chan..."

"Kougyoku...aku...uum...aku..."

Kougyoku melihat Ka Koubun berjalan mendekat. Ia melepaskan genggaman tangan Alibaba dan mengambil tasnya. Lalu ia berdiri dan menghabiskan green tea yang tadi dibelikan si cowok pirang sebagai ucapan terima kasih.

"Makasih, ya. Aku harus balik duluan. Kapan-kapan ajari aku main gitar lagi." Katanya sambil berlalu. Gadis berambut fuschia panjang itu memberikan tasnya kepada si supir dan melangkah masuk ke jok belakang mobil mewah yang menjemputnya.

Alibaba hanya memperhatikan gadis itu hingga ia tidak ada lagi di jarak pandangnya. Alibaba tersenyum masam dan tertawa lirih pada dirinya sendiri.

"Aku memang bodoh, ya." Gumamnya. "Tikus got macam begini berani-beraninya mimpi bisa pacaran sama tuan putri."

.

.

.

.

.

.

Judal is online.

Calling...

"Oy, Gyo-gyo." Judal menyapa dari sebrang sana. Ia tengah mengenakkan sebuah T-shirt longgar berwarna hijau pucat dan tengah memakan sesuatu di boks kertas dengan sumpit. Ia kembali mengepang rambut legam panjangnya meski kini kepangannya jadi lima kali lebih tipis dari kepangannya yang dulu. "Di dekat flat-ku ada kedai masakan Cina yang enak. Ini bakmi pedas dengan irisan babi panggang. Ada wortel, tauge, kol, oh! Ada tahu suteranya juga."

Kougyoku tertawa, begitu bahagia menemukan Judal yang super ekspresif seperti biasanya muncul pada video call pertama mereka.

"Bagaimana cuaca disana?" tanya Kougyoku.

"Baik." Judal meninggalkan laptopnya sebentar, lalu kembali lagi sambil membawa satu guci air dingin. "Hanya panas sekali. Aku biasa menyetok air es di kulkas untuk menghilangkan haus."

"Sepertinya segar. Kesibukanmu apa sekarang?"

"Makan, makan, dan makan." Jawab Judal ketus. "Yah, kegiatan selesai, pekerjaan belum ada dan aku malas sekali mau berolahraga. Masakan Cina di kedai ini enak dan segar, bukan sekedar fast food biasa. Kalau aku menghabiskan waktu lebih lama begini, otot perutku yang awalnya six pack bisa membengkak jadi zero pack."

"Zero pack..." Kougyoku terkikik geli. "Judal-chan jadi bunciiiit. Geli, ah. Kayak om-om."

Setelah efek komedi kalimat Judal sirna, keduanya terdiam. Cowok berambut legam itu kini berpipi gembul, yang membuatnya malah terlihat seperti anak berusia 15 tahun, bukan pria muda beranjak dewasa berumur 22 tahun. Kougyoku cukup kaget melihat penampilan Judal yang lumayan signifikan itu. Judal di sebrang sana mendengus dan menatap layar dengan pandangan bosan.

"Oy, Gyo-gyo." Panggilnya ketus. "Katakan sesuatu."

"Aku kangen banget padamu, Judal-chan." Ungkap Kougyoku. "Aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu."

"Sabar, ya. Uang untuk terbang ke Jepangnya belum ada."

"Aku bisa minta Kouen-nii atau Koumei-nii, atau Hakuei-nee untuk meminjamkanmu uang atau..."

"Nggak usaaaah..." Judal menukas. "Selain aku sebenarnya bukan bagian dari keluargamu, aku nggak suka berhutang. Apalagi dengan Koumei."

Kougyoku tersenyum tipis. Ia menatap mata Judal dalam-dalam melalui webcam.

"Judal-chan..."

"Apa?"

"Katakan..." bisik Kougyoku. "Katakan kalau kau mencintaiku."

"Haaah?!" Judal memekik tidak senang. "Apaan, sih? Kenapa jadi terdengar drama banget begini? Kau sakit, Gyo-gyo?!"

Kougyoku menggeleng. "Aku hanya ingin kau mengatakannya. Aku rindu suaramu. Dan karaktermu. Itu saja."

"Baiklah," Judal mendengus. "Aku mencintaimu, Gyo-gyo."

"Senangnyaaaaa~" Kougyoku berguling-guling di kasurnya, membiarkan Judal di seberang sana melihat perbuatan salah tingkahnya yang bodoh.

"Habis ini kau minta aku apa lagi? Karaoke satu album One Direction?"

"Boleh." Kougyoku terkikik. "Jangan, deh. Suaramu jelek. Bisa hancur speaker laptopku nanti."

Judal terdiam. Ia menggosok-gosok hidungnya. Nampaknya ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.

"Gyo-gyo..."

"Apa, Judal-chan?"

"Um..." Judal menggigit bibirnya. "Jaga dirimu baik-baik."

"Pasti."

"Aku off. Bye."

BEEP!

Judal is offline.

Kougyoku juga menyusul Judal untuk offline, mematikan laptopnya dan bersiap untuk tidur. Video call dengan Judal benar-benar menyenangkan. Ia ingin melakukannya besok lagi, meskipun ia akan tidur jauh lebih larut setelahnya. Kalimat terakhir yang dikatakan Judal agak membuatnya terganggu. Jaga dirimu baik-baik adalah kalimat standar yang biasa dikatakan orang yang kita sayangi kalau tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk diungkapkan. Itu tentu saja bentuk perhatian. Namun Kougyoku menafsirkannya sebagai hal lain.

Seperti kemungkinannya mengisi kosongnya keberadaan Judal dengan...

...cowok lain...

Kougyoku menampar-nampar mukanya. Apa yang baru saja dia pikirkan? Ia mencintai Judal sejak dia kecil, dan kini cowok berambut hitam legam itu kini sudah sah menjadi pacarnya. Apa yang kurang sempurna dari itu? Angin apa yang membuat Kougyoku berpikir demikian?

"Judal..." bisiknya dalam hening. "Aku benar-benar membutuhkanmu secepatnya."

.

.

.

.

.

.

Hai, readers. Saya tahu update-an saya memakan waktu yang luar biasa lama. saya lagi pulang ke jakarta, dan akan agak susah update lagi karena fasilitas tidak memadai. Sebentar lagi liburan semester, dan goal saya adalah menamatkan semua fic yang masih on-going, semi-hiatus, dan hiatus dalam ending yang luar binasa memuaskan. Eniwei, thanks banget yang udah mau mantengin karya author dablek yang malas dan susah update ini macam Mawar kertas dan Gula-gula kapas. Sejujurnya saya begitu menikmati saat-saat menulis fic ini. Saya tentu saja sangat mencintai Judal-kun yang imut lucu menggemaskan dan oh-so-tsundere, dan bagi alibaba-chan lovers, saya bener-bener minta maaf karena keberadaan Alibaba selalu menjadi penghancur hubungan orang. kan itu memang keahliannya #upskeceplosan.

Yosh, mari kita akhiri bacotan author yang super nggak guna ini dengan ucapan maaf atas keterlambatan update dan terima kasih atas ketersediaannya membaca fic saya. Berikanlah review yang banyak karena review anda sekalian ada semangat saya untuk tetap menulis.

Itu aja. See you guys on the next chapter.