A Taste of Your Love

Chapter 7

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Drama

Rated : T

Warning :

AU!, Typo(s), gaje

.

Present~

.

.

"Hari itu adalah ciuman pertamaku." Kiba terkekeh.

"Sekarang aku tahu rasa cintamu untukku. Rasanya manis." Sekali lagi, Kiba terkekeh.

Ino mengusap air matanya yang keluar sedikit, ia coba menguatkan diri. Bertepatan dengan jadwalnya mengepak barang, ia tiba-tiba saja teringat perkataan Kiba di malam saat ia ada di pesta perayaan temannya.

Kiba bilang ingin bertemu dengannya di suatu tempat, tapi itu tidak mungkin lagi. Ino jadi menyesal telah mampir ke kehidupan pemuda sma nan polos itu. Ia menyesal kenapa harus masuk dalam permasalahan orang lain.

Ino pikir mungkin hubungannya akan jadi biasa saja, sama seperti remaja kebanyakan. Tapi nyatanya yang ia alami berbeda, ia mendapat perlakuan yang berbeda, itulah yang membuatnya memutuskan untuk tidak tinggal lebih lama.

Ibu Kiba ada di depan rumahnya seorang diri, dan Ino memberanikan diri berjalan mendekat.

"Saya telah memenuhi permintaan anda untuk menjauh dari Kiba." Ino menatap tepat di mata wanita paruh baya di hadapannya.

"Sebaiknya segalanya sudah beres sebelum Kiba pulang."

Ino tersenyum masam. "Tidak masalah, orang suruhan saya pasti bisa membereskannya dalam sepuluh menit."

Ibu Kiba tersenyum miring.

"Sejujurnya, apa Kiba tahu alasan kenapa ibunya bertingkah seperti diktator begini? Kenapa dia tidak diijinkan melakukan apa yang dia inginkan? Dan kenapa setiap hari dia selalu diminta menjaga toko sampai malam, sedangkan ibunya ingin anaknya terus belajar tanpa henti?"

Rahang wanita itu mengeras.

Ino tidak takut. Hubungaannya dengan Kiba sudah berakhir mulai hari ini, jadi ia tidak sungkan mengeluarkan seluruh isi kepalanya ke ibu Kiba sendiri. Ia tahu mungkin kedengarannya agak lancang beradu argumen dengan orang yang lebih tua, tapi ia bisa apa? Ibu Kiba lah yang menyakiti hatinya terlebih dahulu.

"Tahu apa anda dengan urusan keluarga saya? Saya ibunya, jadi saya yang lebih tahu tentang perasaan anak saya."

Ino membuang muka, ia sebal sekali mendengarnya.

"Saya rasa anda tidak perlu terlalu keras dengan diri anda sendiri. Karena anda yang mungkin pernah gagal di masa lalu, menjadikan anda begitu memaksakan kehendak pada anak anda."

Ibu Kiba hampir melayangkan pukulannya, namun Ino keburu mengundurkan diri.

"Maaf sudah lancang, saya harus segera pergi sebelum Kiba pulang."

.

.

.

Kiba menelepon berkali-kali, dan Ino hanya bisa menghiraukannya. Ah, mungkin anak itu sudah berhasil mencuri ponselnya lagi. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, atau mungkin menjelaskan sesuatu yang bahkan anak itu sudah tahu darimana asalnya.

Ino mencoret-coret halaman buku kuliahnya sejak tadi, tidak konsen dengan perkataan dosen di depan. Tenten yang sedari tadi juga tidak konsen hanya mendesah lelah. Ia tidak konsen karena memikirkan Ino, siapa tahu temannya itu sakit atau kenapa.

"Kau baik-baik saja?"

Ino mengangguk. "Aku hanya tiba-tiba merasa lelah."

"Sudah makan?"

Ino menggeleng.

"Benar dugaanku, kau pasti butuh makan. Memangnya siapa yang akan menolak menu kantin kampus kita?" Tenten terkikik lucu, membuat Ino ikut tersenyum singkat.

"Ya sudah, habis ini kita makan- eh Ino, ada telepon dari tadi, kenapa tidak kau angkat?"

Ino mematikan teleponnya. "Semuanya sudah berakhir, kenapa aku harus mengangkat teleponnya?"

Tenten berusaha berpikir sejenak. "Kalau begitu kau ganti ponsel saja, supaya dia tidak meneleponmu lagi."

Ino mengangkat bahu, ia bahkan tidak terpikir untuk melakukan hal semacam itu. Terlalu sayang kalau nomor yang sudah tersebar di semua orang-orang terdekatnya harus diganti. Bagaimana kalau ia ingin menghubungi teman-temannya? Memangnya hidupnya ini hanya berpusat pada Kiba?

"Tidak ah, kurasa teralalu kekanak-kanakkan."

"Jujur saja aku tidak mengerti, tapi mungkin lebih baik kalau kau bicara baik-baik dengan anak itu sebelum membuat keputusan sulit. Aku yakin perasaanmu akan lega."

Yang jadi masalahnya adalah, masalah yang dialami Ino tidak sesederhana itu. Kalau dia bicara dengan Kiba, bisa-bisa Kiba malah marah dengan ibunya. Ino tidak mau disalahkan lagi, apalagi sampai disebut merusak sikap baik Kiba yang selama ini cenderung tidak pernah membentak ibunya.

"Kalau kau mau membicarakan ini dengan anak itu, aku yakin dia juga bisa mengerti kenapa kamu memutuskan pergi. Beri dia alasan yang baik, kadang berbohong supaya tidak menyakiti hatinya juga tidak terlalyu buruk. Dia pasti bisa menerima."

Ino memegang bahu Tenten. "Terimakasih, Ten."

.

.

.

Ketika pulang kuliah pada petang hari, Ino mendapati ada seorang anak berseragam yang duduk sendirian di halte. Ia tidak bisa melihat dengan begitu jelas siapa yang ada di tempat itu karena lampu jalan berada tepat di atas halte yang berpenutup.

Anak itu berdiri, membuat jantung Ino berdegup kencang.

"Aku pikir kau akan langsung pindah jauh dari sini, ternyata tidak." Kiba tersenyum tipis.

Ino diam. Ah, dia lupa kalau sudah pindah! Kenapa dia lewat jalan ini lagi?

Perempuan pirang itu merutuki diri sendiri.

"Aku jadi ingin tahu dimana kamu tinggal sekarang." Kiba semakin mendekat, membuat Ino merinding.

"Tidak ada yang ingin kamu katakan padaku?" Kiba membelai surai pirang Ino.

"Kalau kau kira aku akan semudah itu menyerah, itu tidak akan pernah terjadi." Kiba kini memegang pundak Ino dengan kencang.

"Kenapa kau tidak menjawabku sejak tadi?"

"Apa yang harus aku katakan? Aku pergi dengan kemauanku sendiri, apa yang salah?"

"Tidak, itu karena ibuku, bukan kemauanmu sendiri." Kiba makin mencengkeram pundak Ino.

"Ya, kau benar. Ini semua karena ibumu, lalu kenapa?"

Kiba melepaskan cengkeramannya, ia mendesah lelah.

"Ayo kita putus saja," Itu kalimat paling waras yang bisa Ino sampaikan, ia sudah menantikannya seharian ini.

Kiba menggeleng takjub. "Apa aku berbuat salah padamu?"

"Tidak, hanya saja aku rasa aku tidak terlalu suka memaksakan hal yang tidak mungkin."

"Ibuku hanya tidak suka aku pacaran ketika masih sekolah, percayalah padaku."

"Baguslah, kalau begitu tidak salah kalau aku minta putus darimu."

Ino sudah akan melangkah pergi, namun Kiba kembali menarik tangannya. Pemuda itu tidak suka menghentikan pembicaraan secara sepihak, apalagi ketika pembicaraan itu sendiri belum menemukan ujungnya.

Kiba mencium bibir Ino, merengkuh tubuh perempuan itu dalam pelukannya.

"Berjanjilah kamu tidak akan pergi kemanapun, aku akan segera kembali ketika sudah lulus."

Ino diam, membiarkan tangannya dan tangan Kiba bertaut.

"Kalau aku sudah bekerja nanti, aku mungkin tidak berada di sini lagi. Aku akan pergi ke kota lain."

"Baguslah, kita bisa bertemu di kota itu." Satu tangan Kiba masih menyisiri rambut Ino.

Ino tidak bisa berjanji, tapi ia harap hal itu jadi nyata.

.

.

.

4 Years Later

Deru kereta membangunkan kehidupan pagi di stasiun, membuat pagi itu diisi manusia dari berbagai kalangan. Pelajar, pekerja, dan orang lain yang mungkin hanya ingin menikmati indahnya hidup dalam gerbong kereta.

Tukang koran juga ambil andil dalam menikmati indahnya hidup, mendapatkan beberapa lembar uang dalam perjalanan kereta pagi ini.

Ada seorang perempuan yang memakai mantel dalam perjalanan itu, di tangannya ada setumpuk berkas kantor yang tidak muat dalam tas selempangnya. Itu Ino, yang kini sudah bekerja di sebuah redaksi surat kabar.

Ia berkali-kali membenahi tasnya yang merosot. Sayang sekali ia tidak dapat tempat duduk pagi ini, karena ia agak terlambat bangun. Tadi malam ada pesta kantor. Ia berkali-kali melirik jamnya, berharap tidak terlambat lagi seperti kemarin.

Ketika akan turun, Ino masih menyempatkan diri membenahi beberapa map yang ada di tangan, agak berantakan tadi setelah ditabrak seorang ibu dengan bayi di gendongan.

Keluar dari kereta, Ino mendapati dirinya berjalan di sekitar stasiun. Ia harus beli kopi, agar tidak mengantuk di pagi hari ini, dan setelahnya ia bisa berjalan kaki keluar dari stasiun, menuju kantornya.

Ada serombongan mahasiswa yang sedang duduk-duduk di dekat mesin minuman, sepertinya mereka sedang magang, terlihat dari setelan hitam putih mereka. Ino hanya memandang mereka sekilas dan berjalan menuju tempat yang ia tuju.

"Heh, bukankah Kiba tadi malam dapat shift malam dengan kita?" Salah satu diantara mereka bicara, membuat langkah Ino berhenti.

"Iya, kenapa?"

"Lalu dimana dia sekarang? Kenapa tidak ikut pulang dengan kita?"

"Apa mungkin dia ketiduran lagi di kantor?"

"Heh, mana mungkin. Aku lihat dia tadi jalan keluar kantor kok, tapi sekarang aku tidak tahu dimana." Yang lain juga ikut bicara.

Ino melangkah lagi, dengan kaki gemetar. Ia tidak salah dengar, itu pasti Kiba yang ia kenal.

"Kemana sih anak itu? Coba telepon dia."

"Hai, teman-teman." Seorang lelaki berlari dengan memegangi satu cup kopi di tangan.

"Kau ini kemana saja?"

"Aku tadi beli kopi sebentar, terus ke toilet. Kalian sih tidak mau menungguku buang air kecil dulu di kantor tadi, malah buru-buru keluar."

Ino menatap orang yang sedang bicara itu, ia melihat Kiba secara nyata. 4 tahun sudah berlalu, dan selama itu pula mereka tidak pernah saling berkomunikasi. Saat masih sma, mungkin ponsel Kiba disita oleh orang tuanya, tapi Ino tidak tahu kemana anak itu dan ponselnya setelah lulus sma.

Perasaannya menuntun Ino berjalan mendekat, tapi ia ragu. Ia takut Kiba sudah melupakannya. 4 tahun tidak dihubungi satu kalipun, membuatnya merasakan patah hati untuk kesekian kali. Terakhir kali Kiba bilang akan menemuinya, tapi nyatanya tidak ada apapun yang terjadi.

Ino mundur, ia memutuskan untuk kembali ke tempat tujuannya. Ia berakhir berkomunikasi dengan penjual kopi.

Satu pesan masuk ke ponselnya. Ino merogoh tas.

082761509XXX

Aku selalu memperhatikanmu sejak turun dari kereta, tapi aku tidak memberitahumu kalau aku ada di sini. Aku ingin kamu menyadari keberadaanku, agar aku berani mengajakmu bicara lagi.

Apa kau bersedia bicara padaku?

Taman kota, pk 21.00.

Aku tunggu malam ini.

Ino mengalihkan pandangannya dari ponsel, beralih menatap Kiba dari kejauhan. Di sana, sudah ada Kiba yang tersenyum menatapnya. Ino juga melakukan hal yang sama, ia tersenyum dan membalas tatapan Kiba.

Setelah ini, akan ada secercah harapan yang cerah bagi mereka berdua.

.

.

.

THE END

A/N : chapter ending edisi gabut. Iya, memang apalah daya saya yang hanya nulis ngasal ini. Aku nggak bisa bikin ending yang bagus. Iya aku tau, alurnya kecepetan, ehe. :(

Kalau yang sering baca ffku /sombs/ pasti tau kalau aku suka bgt gantungin ending, karena aku pengen pembaca berimajinasi sendiri. Seneng gak luh, heheheh

Terimakasih teman-teman yang sudah mendukung ff ini, semoga cerita ini dari awal sampai akhir berkenan di hati kalian. :)

Sampai jumpa di lain kesempatan. *tebar bunga*

.

.

Jeanne : Boleh kok, asal Kiba udah gak dibawah umur lagi ya tayangku. /ngeroleplay jadi emaknya Kiba/

xoxo : Ini tidak sad ending, karena aku tidak mencantumkan sad ending dari awal. :''

Lin Xiao Li : karena Ino makan ati sama omongannya si emak :(

Iya qaqaq, aku masih anak kuliahan. Semester delapan, ehe :(