Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC. NaruHina. Rush.
Selamat membaca.
Stolen Moment
oleh VikaKyura.
Dalam keremangan yang diciptakan tudung kain itu, kedua ametis Hinata melebar. "N-naruto-kun?"
Pusat kota kecil itu tampak sibuk seperti biasanya.
Tetapi, tempat tersebut terlihat sedikit lebih lengang.
Rupanya berita tentang pernikahan Hinata telah tersebar sampai ke sepenjuru kota. Barangkali, penduduk di sana banyak yang pergi ke kota Kapital. Sebuah kota besar yang menjadi ibu kota kerajaan itu memang terletak agak jauh dari tempat tersebut, yang hanya merupakan kota kecil di perbatasan kerajaan. Sebagian orang di sana memang telah dipekerjakan untuk menyiapkan acara pernikahan, ada pula orang yang pergi ke kota besar itu sekedar untuk melihat prosesi pernikahan si gadis dan turut merayakan pestanya.
Sebenarnya banyak orang yang kaget mendengar kabar pernikahan ini. Hinata memang cukup populer di sana. Ia banyak diperbincangkan, terutama oleh kalangan lelaki di kota kecil tersebut. Padahal gadis bermanik ametis itu tidak sering menampakkan diri di tengah kota, juga dikenal sebagai pribadi yang kalem dan tidak banyak bicara. Meski terkesan pendiam, namun tak ada yang buta oleh pesona si gadis yang memang cantik alami dan baik hati. Makanya, semua orang tampak terkejut saat mendengar kabar mengenai Hinata yang hendak dipersunting oleh seseorang dari Kota Kapital.
Selama ini banyak lelaki yang berniat ingin mendekati Hinata, namun berterimakasih pada imej sang kakak yang diberitakan sangat protektif, maka tak ada satu pun dari mereka yang berani mendekat.
Benar. Naruto memang tidak pernah menunjukkan sikap posesifnya secara terang-terangan. Bahkan ia terkesan tidak sadar saat melakukan itu. Namun telah terlanjur beredar rumor di kota yang menyatakan si pemuda akan mengenyahkan siapapun yang berani mengganggu adiknya.
Sepertinya berita semacam ini memang tidak pernah sampai pada telinga Naruto dan Hinata sendiri, tetapi secara tidak langsung pemberitaan ini telah membuat Hinata aman dan terhindar dari berbagai macam gangguan.
Meski sedang cukup sepi, namun sebuah kota kecil masih tetaplah kota. Aktivitas manusia tak akan pernah terhenti di sana.
Sedang melangkah dengan tergesa di tengah tempat itu, seorang perempuan berambut merah jambu nampak berjalan mondar mandir seolah sedang mencari keberadaan seseorang. Ada sesuatu yang mengganggu benaknya. Hinata tampak berat hati menerima pernikahannya ini. Dan sikap Naruto yang tampak acuh itu . . Ada apa gerangan? Ia ingin tahu.
Setelah cukup lama memindai beberapa tempat, akhirnya si perempuan berhenti melangkah ketika mata hijaunya mendapati siluet tiga orang pemuda yang kini tengah berkumpul di sebuah meja di luar kedai minum.
Sakura melihat ketiga rekan satu timnya itu sedang duduk mengitari meja tersebut, membuatnya menaikkan alis. Tidak biasanya ketiga pemuda itu menghabiskan waktu bukan untuk berlatih, melainkan bersantai-santai dan menghabiskan waktu bersama seperti demikian. Pasti ada yang salah.
Tunggu, jika diperhatikan lebih dekat, terlihat di sana Sai tengah menepuk pundak Shikamaru yang sedang terlihat jengkel, sementara Naruto yang tampak mengabaikan mereka sedang sibuk mengasah mata belati di tangannya.
"Kau dengar tidak, Naruto? Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?" tanya Shikamaru. Tak ada jawaban, membuat Shikamaru membuang nafas pelan.
Si pemuda berambut kuning terang sudah cukup lama duduk diam di sana tanpa melakukan hal yang berarti. Dan hal tersebut sudah berlangsung dalam beberapa hari belakangan ini, membuat dua rekan satu timnya cukup kerepotan karena mereka tidak dapat melakukan pekerjaan, berlatih atau bahkan sekedar mengatur strategi untuk misi selanjutnya dengan kondisi mental Naruto yang seperti demikian.
Sai pun dibuat bingung karenanya. "Apa ini karena pernikahan Hinata-san?"
Alis Naruto sedikit berkedut. Benar saja, pemuda bersafir biru itu pasti akan memberi perhatian jika nama adiknya disebut.
"Ah, kau gagal menghentikannya pergi." Ujar Shikamaru paham. Naruto melanjutkan menatap kosong bilah belati di tangannya.
Pemuda berkuncir satu itu mendecak. "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Hinata, tapi apa kau ingin terus duduk diam di sini tanpa melakukan apapun?" gerutunya. "Jika kau benar-benar tidak ingin dia pergi, hentikan pernikahannya sekarang dan bawa dia pergi!"
Sai tampak kaget dengan saran tersebut, sementara Naruto mulai menyimpan belatinya di meja. Bukannya ia sengaja mengabaikan kedua rekannya, Naruto hanya tidak tahu harus bercerita apa. "Aku . . tidak bisa." Ucap si pemuda pada akhirnya. Ia mengacak rambut pirangnya, kentara sedang berada dalam dilema.
Lalu tiba-tiba, Naruto merasa kepalanya dipukul dari belakang. Sontak ia memekik.
"Apa yang kau lakukan hah, baka? Meninggalkan Hinata-chan sendiri di tempat orang-orang kaya itu!"
Si pemuda bermata biru berbalik dan melihat seorang perempuan berdiri di belakangnya, "Sakura-chan?"
Sementara Sai sempat melonjak, dan Shikamaru langsung menggerutu, "Kau mengagetkanku!"
Tetapi Sakura mengabaikan, tetap mengacungkan tinjunya pada Naruto. "Kau tidak berniat mengantarkan adikmu menikah? Kakak macam apa kau?!"
Bukannya memprotes karena telah dipukul, mimik Naruto malah berubah muram. Ia bergumam. "Hinata akan baik-baik saja disana."
"Apa maksudmu dia baik-baik saja? Lalu kenapa Hinata-chan terlihat sangat kesepian?" bantah Sakura.
Naruto mengerjap, "K-kau melihat Hinata?"
Sakura menatap pemuda itu sejenak, lalu membuang nafas. Perempuan itu ikut mendudukan diri di sana. "Tentu saja. Aku bahkan bertemu dengannya. Dia tampak cantik seperti biasa, tapi entah mengapa Hinata-chan terlihat murung padahal besok seharusnya menjadi hari bahagianya. Kau tahu kenapa dia seperti itu?"
Naruto seolah bimbang untuk sesaat, lalu ia mengalihkan pandang. "Kukira setiap perempuan pasti akan merasakan hal seperti itu sebelum menikah."
"Geez, tentu saja. Tapi kau pikir ulah siapa dia murung seperti itu? Saat kau sebagai satu-satunya keluarga yang seharusnya mendampinginya di momen seperti ini, bahkan tidak datang sama sekali!" Sakura dibuat kesal, "Bagaimana tanggung jawabmu sebagai seorang kakak?" Gerutunya.
Sai yang sedaritadi hanya menonton kini ikut mengangguk setuju, "Sebagai seorang kakak, bagaimana pun sikapmu itu dingin sekali, Naruto-kun."
Sementara Shikamaru malah berkomentar lain, "Kau adalah kakaknya, maka kau masih punya hak untuk menentang pernikahan adikmu. Daripada kau terus berada dalam dilema seperti ini, sebaiknya bertindak saja. Bawa dia pergi."
Penuturan ini membuat Sakura melonjak. Ia berbalik pada Shikamaru. "Apa? Naruto menentang-"
"Hentikan itu." potong Naruto. Matanya kembali menatap bilah belati tanpa ada minat. "Aku tidak mempunyai hak apa pun."
"Tapi dia adikmu ma-"
"Hinata bukan adikku, dan aku bukanlah kakaknya." Sela Naruto cepat.
Entah mengapa untuk pertama kalinya Naruto mempunyai inisiatif untuk menjelaskan ini. Ia tidak ingin orang-orang salah menganggap mengenai hubungannya dengan Hinata lagi, terutama rekan-rekan yang kini sedang menyudutkannya.
Naruto kembali memandang mereka. "Kami tidak bersaudara seperti yang orang kira."
Hening beberapa saat sebelum ketiga orang di depannya itu melonjak bersamaan dengan mata yang melebar. "Ha?!"
"Lagipula, Hinata telah memutuskan sendiri pernikahan ini. Aku tidak bisa mencegahnya atau pun ikut campur." Untuk ke sekian kalinya, Naruto hanya mendesah pelan. Ia kembali mengingatkan, "Aku tidak mempunyai hak apa pun."
"A-apa maksudmu, kalian bukan adik kakak?" Sakura masih tidak bisa mempercayai pendengarannya.
Sai masih sama syoknya, sedangkan Shikamaru hanya bergumam paham, "Ah. Jadi begitu."
Meski belum dijelaskan, rupanya hanya Shikamaru yang bisa langsung mempercayai perkataan Naruto tersebut. Membuatnya mengerti atas sikap Naruto yang selalu posesif dan sangat protektif jika berkaitan dengan Hinata, juga alasan dari kegalauan si pemuda pirang saat ini. Akhirnya, prasangkanya mengenai perasaan Naruto terhadap Hinata, kini beralasan.
"Naruto, cepat jelaskan apa maksudnya ini?!" Sakura tidak sabaran.
Naruto menghela nafas, "Aku dan Hinata bertemu sekitar delapan tahun lalu setelah kami sama-sama kehilangan keluarga akibat perang. Bagi anak-anak seperti kami, hidup dalam pelarian sangat sulit, karenanya kami memutuskan untuk tinggal bersama. Hanya itu. Orang-orang yang mulai berasumsi sendiri bahwa kami bersaudara."
Sakura menangkup mulutnya. "Oh Tuhan,"
"Tentu saja orang-orang akan mengira begitu." Ujar Sai, ia menempatkan ibu jari dan telunjuknya di dagu sambil mengangguk-angguk.
"Lalu, apa ada yang terjadi antara kau dan Hinata?" Tanya Shikamaru, membuat Sakura dan Sai menengok padanya bersamaan.
Naruto mengalihkan pandang, "Tidak, tidak ada."
Namun mimik ketiga rekannya itu tampak berubah dari syok menjadi merasa curiga.
"Kau selalu mencemaskannya belakangan ini, dan terus membicarakannya. Hinata ini, Hinata itu." tutur Sai, menirukan Shikamaru. "Belum lagi sikapmu yang berubah menjadi tidak bersemangat seperti sekarang. Jadi ini karena Hinata-san? Akhirnya aku bisa melihat sisi lemah Naruto-kun, yang ternyata disebabkan oleh seorang wanita. Ini cukup menarik untuk ditonton."
"Hey!" Shikamaru menyikut lengan Sai.
Naruto semakin memalingkan wajahnya.
"Naruto. Ayo kita pergi saja ke tempat Hinata." Ajak Shikamaru pada akhirnya.
Naruto hanya bergumam lirih, "Pergi ke sana pun akan percuma saja."
"Apakah terlalu sulit untuk menemui gadis yang telah meninggalkanmu?" Shikamaru menggaruk kepala belakangnya, sementara Naruto tak menghiraukannya lagi.
"Jadi, Naruto sebagai seorang pengawal yang kuat namun tidak bisa mengatasi patah hati? Kini aku benar-benar tahu kelemahanmu." Ujar Sai, entah bermaksud menggodai atau hanya menyuarakan pikirannya saja.
Sementara Sakura hanya bisa mengerjap-kerjapkan mata melihat interaksi normal yang ditunjukkan ketiga rekan lelakinya. Bagaimana bisa mereka bersikap biasa, sementara sebuah kenyataan mengenai seorang pemuda dan seorang gadis tanpa ada hubungan darah telah tinggal bersama selama bertahun-tahun baru saja terungkap?
"T-tunggu dulu!" Akhirnya perempuan itu bersuara. "Jika kalian tidak bersaudara, itu berarti . . benar dugaanku. Selama ini kau menyukai Hinata-chan, Naruto?"
"Apa?" Naruto tersentak dan menengok sekaligus, membuat Sakura mengerjap karena kebingungan. "Aku memang menganggapnya sebagai orang yang penting bagiku, tapi-"
"Kau tidak sadar dengan perasaanmu sendiri." Sela Shikamaru. "Semuanya sudah jelas Naruto, jangan mengelak lagi. Bukankah sudah pernah kubilang, jika kau tidak mengatakannya langsung maka Hinata tidak akan mengerti?"
Sai mengangguk. "Bukankah kau tidak ingin Hinata-san pergi meninggalkanmu dan menikah dengan lelaki lain?"
Sakura kembali terlihat kaget dengan pembicaraan antar lelaki yang tidak diketahuinya ini. Jadi . . memang tepat pula dugaannya.
Sementara sepasang safir biru Naruto melebar untuk beberapa saat. Namun kemudian, wajahnya kembali dibalut sendu. "Tapi sudah terlambat sekarang. Hinata telah dibawa pergi."
"Lalu kenapa tidak kau hentikan, Naruto?" tanya Sakura.
Naruto menggeleng. "Aku tidak bisa." Ada jeda sejenak saat ia mendesah pelan. "Hinata tidak layak untuk hidup bersamaku. Kami berasal dari kalangan yang berbeda. Aku tidak bisa mencegahnya pergi."
Penuturan Naruto membuat ketiga rekannya terkejut. "Apalagi yang sedang kau bicarakan?" tanya Shikamaru.
"Toneri berkata, Hinata adalah putri dari keluarga bangsawan Hyuga." ungkap Naruto. "Dan kalian pasti tahu siapa itu Hyuga."
Tentu saja grup pengawalan seperti mereka tahu mengenai informasi semacam ini, membuat keterkejutan mereka bertambah.
"Apakah Hyuga yang kau maksud adalah klan besar di Negara Api?" respon Sai, kaget. Naruto menjawab dengan anggukan.
"Dan kau tidak tahu mengenai ini, bahwa selama ini Hinata adalah putri dari klan besar tersebut?" Tanya Sakura, kali ini Naruto menggeleng dan menjawab, "Dia tidak pernah membicarakannya."
Sakura menghela nafas dalam.
"Jadi begitu." Ucap Shikamaru, hanya pemuda itu yang masih bisa berpikir dengan kepala dingin sekarang. "Jika benar Hinata berasal dari klan Hyuga, maka pernikahannya ini memang masuk akal. Setahuku, orang yang akan menikahinya itu berasal dari kalangan bangsawan juga."
Sakura mengangguk. Sebelumnya, ia pun dibuat terkejut dengan pernikahan yang tiba-tiba ini. Ia sempat berfikir bahwa Toneri menikahi Hinata karena terpikat dengan kecantikan gadis itu, sama seperti laki-laki lain, namun ternyata alasannya bukan hanya karena itu.
"Jika begitu, pantas saja Toneri-san merahasiakan identitas pengantinnya sampai saat ini. Jika sampai dunia tahu bahwa seorang keturunan Hyuga masih hidup, maka ini bisa membuat dunia berada dalam kekacauan. Jika aku tidak salah, klan Otsutsuki masih merupakan kerabat dari klan Hyuga." Ucapnya.
Naruto terkesiap, "Kekacauan? Apa maksudnya?"
Namun bukannya menjawab, Sakura hanya memandang Naruto dengan raut yang sulit diartikan.
Alih-alih, Sai lah yang menjawab, "Klan Hyuga telah jatuh saat Negara Api kalah perang delapan tahun lalu. Petinggi Hyuga yang merupakan salah satu panglima perang negara itu, terbunuh dalam pertempuran. Kematiannya merupakan salah satu alasan tumbangnya Negara api. Kemudian, seluruh anggota klan Hyuga ditangkap, sedangkan para keluarga petinggi klan yang merupakan kalangan bangwasan telah dibantai, agar mencegah keturunannya untuk dapat membangkitkan klan besar tersebut dan kembali berkuasa. Ini adalah politik perang yang berlaku di dunia." Jelas Sai. "Aku membacanya dari buku sejarah." Tambahnya.
Naruto masih terlihat bingung, karenanya Sai melanjutkan, "Maka jika semua bangsawan Hyuga telah dibantai, seharusnya tidak ada keturunan bangsawan yang tersisa dari klan tersebut."
"Dengan kata lain, Hinata adalah putri dari bangsawan Hyuga yang lolos dari pembantaian, dan sekarang sedang berada dalam pelarian." Shikamaru menegaskan.
Mendengar ini, manik biru Naruto melebar lagi. Untuk sesaat, rautnya berubah resah, dan sesaat kemudian berubah menjadi menyerah. "Jika begitu, satu-satunya hal yang dapat membebaskan Hinata adalah dengan menikahi seorang bangsawan dari klan lain. Begitu?" gumam si pemuda, bahunya melemas. "Sekarang aku mengerti. Hinata akan aman jika menikahi lelaki itu."
Hening.
Sampai Sakura menggebrak meja, "Apa yang kau bicarakan, Naruto? Kau benar-benar berfikir Hinata-chan memang menginginkan pernikahan ini?" tanyanya.
Naruto mendongak. "Tentu saja. Dia telah memutuskannya sendiri. Dia pun akan ama-"
"Kau bodoh! Jelas sekali Hinata-chan punya alasan lain yang tidak bisa ia katakan. Bagaimana jika, dia melakukan ini hanya untuk melindungimu?" tanya perempuan itu lagi.
"Apa maksudmu?" Naruto bertanya, keheranan.
Lalu Shikamaru mengambil alih. "Jika penjelasan mengenai identitas Hinata itu benar, maka kau bisa dituduh sebagai orang yang telah membawa lari keluarga bangsawan. Terlebih, jika pun Hinata dibiarkan hidup dan dianggap sebagai tawanan perang, kau juga bisa dituduh telah menyembunyikan tawanan. Maka, sesuai dengan hukum perang, kau sudah melakukan sebuah tindak kejahatan, Naruto." Jelasnya panjang lebar. "Jika kabar ini muncul ke permukaan, hidupmu bisa berada dalam bahaya juga."
Naruto dibuat tercengang. "A-apa benar begitu? Hinata hanya melindungiku?"
Tak ada yang menjawab. Sepertinya, baik Shikamaru, Sai maupun Sakura sama-sama masih berada dalam syok karena tak ada yang menyangka bahwa pembicaraan mereka akan berubah menjadi semakin rumit dan mendalam seperti ini.
Naruto kembali meremas kepalanya. "Meski begitu, tak ada alasan bagi Hinata untuk hidup bersamaku. Juga, tidak ada alasan lagi untuk membawanya kembali-"
"Bukankah kau menyayanginya?" Potong Sakura.
"Tapi itu tak bisa dijadikan alasa-"
"Bagaimana jika Hinata-chan merasakan hal yang sama denganmu? Bagaimana jika ternyata dia juga menyukaimu?"
Naruto melebarkan matanya, lagi. "Itu tidak-"
"Lalu untuk apa dia melakukan semua ini? Bagaimana jika, alasan Hinata-chan tidak pernah mengungkit masa lalunya itu karena ia sudah merasa cukup bahagia hidup bersamamu? Apa dia pernah mengeluhkan kehidupan kalian?"
"Tidak, tapi-"
"Sekarang, dia melakukan ini demi dirimu, Naruto." Sakura mendesah. "Untuk menyelamatkanmu. Lalu kenapa kau bersikeras menekan perasaanmu padanya? Hinata-chan tidak akan tahu apa yang kau fikirkan jika kau tidak menyampaikannya."
Naruto membeku untuk sesaat, lalu ia kembali menangkup kepalanya. "Dia selalu tampak polos dan positif. Juga tak pernah banyak bicara jika kami sedang bersama. Aku pikir itu hanya akan menggangunya jika kami terlalu dekat, ataupun jika aku tiba-tiba bertindak melewati batas yang sudah kami buat selama delapan tahun ini." pemuda itu nampak frustasi. "Lagipula aku ragu Hinata akan melihatku dengan cara yang sama, jadi aku tak berani sekedar untuk membayangkannya."
Sakura tertegun, tidak pernah melihat Naruto dalam keadaan seperti ini sebelumnya. "Jangan salah, Hinata-chan tidak selemah itu. Lagipula, dia jelas memiliki perasaan untukmu. Mungkin dia hanya merasa gugup saja saat berada dekat denganmu. Kau seharusnya lebih mengerti sikap Hinata-chan."
Naruto termangu sambil berkedip. Mereka-ulang bayangan ketika Hinata selalu tampak gugup dengan wajah yang tersipu setiap kali bicara dengannya. Lalu pemuda itu mulai menangkup dahinya, saat perlahan ia paham. "Jangan bilang dia . ."
Sakura mengangguk, lalu mendongak perlahan untuk menatap langit. "Ketika seorang gadis telah mencintai seseorang, perasaannya tidak akan berubah dengan semudah itu." Kemudian Sakura kembali memandang Naruto sambil tersenyum. "Bahkan jika ada seorang lelaki yang menawarkan kehidupan bergelimang harta padanya, perasaan cinta itu tidak akan berubah. Kau harus percaya pada Hinata-chan."
Naruto dibuat tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menelan ludah, tangannya mulai mengepal.
Mungkin ini memang bukan saatnya untuk merasa terhibur, namun melihat Naruto yang sedang seperti ini . . entah mengapa membuat rekan satu timnya malah merasa ingin terkekeh, yang sedang berusaha mereka tahan-tahan.
Kecuali Sai yang bisa dengan polosnya menyatakan apa yang sedang ia pikirkan. "Ternyata Naruto-kun yang hebat dan ditakuti benar-benar bisa dibuat berada dalam kondisi menyedihkan seperti ini oleh seorang wanita. Aku masih tidak percaya kau yang sungguh peka dalam pekerjaan, tapi bisa sepolos ini dalam hal percintaan."
Kali ini, bukannya mendapatkan sikutan tangan Shikamaru, giliran tinju Sakura yang mendarat di punggung Sai, membuatnya memekik.
"Jadi, apa kau masih tidak ingin melakukan apapun, untuk menyelamatkannya? Aku yakin Hinata-chan tidak pernah menginginkan pernikahan ini." tanya Sakura.
Naruto tak menjawab, nampak masih dalam dilema. Beberapa hal masih membebani benaknya. Apakah langkah yang benar, untuk membawa Hinata kembali menjalani kehidupannya? Bukannya ini hanya akan menyulitkan gadis itu?
"Dan satu hal, Naruto. Jika nama besar Hyuga kembali melibatkannya pada perpolitikan dunia, maka jangan salah, keselamatan Hinata bisa saja terancam. Aku yakin, lelaki bernama Toneri ini akan memanfaatkannya untuk itu." jelas Shikamaru.
Kali ini Naruto kembali terkesiap sambil segera mendongak, hanya untuk terlihat lebih resah. "Lalu apa yang bisa kulakukan?"
"Bawa dia pergi, sebelum semuanya terlambat." Saran Sakura. Naruto hanya memandangnya dengan manik yang lagi-lagi melebar.
"Tapi bagaimana dengan keselamatannya? Jika orang-orang mengetahui dia adalah seorang Hyuga, maka hidup bersama denganku pun keselamatannya masih bisa terancam. Jadi bagaimana bisa aku membawanya pergi?"
"Justru itu, kau harus mencegah sebelum identitasnya terungkap. Barangkali semua orang telah mengira bahwa semua keturunan bangsawan Hyuga telah mati, buktinya sampai saat ini tak ada yang pernah mengejarnya dan mengetahui keberadaannya, benar kan?" Tutur Shikamaru.
Sakura megangguk. "Aku yakin Toneri-san punya alasan mengapa ia tidak segera mengungkap identitas Hinata-chan. Tapi aku pun yakin ia mempunyai rencana untuk mengungkapnya sesaat setelah pernikahan terlaksana. Jadi, identitas Hinata-chan masih aman untuk sekarang."
"Dengan kata lain, kau harus segera membawanya pergi sebelum Hinata-san resmi dinikahi orang itu." Sai memperjelas.
Naruto mengambil nafas dalam. Lalu, dengan raut penuh determinasi, ia berkata. "Kalian benar."
Sakura tersenyum, "Jadi, sekarang kau setuju untuk menculiknya kan?"
Shikamaru dan Sai mengangguk. "Kau bisa mengandalkan kami jika butuh bantuan."
Naruto segera menggeleng. "Aku tak bisa melibatkan kalian. Ini terlihat cukup berbahaya."
"Justru karena itu kami tak bisa membiarkanmu sendiri, Naruto-kun. Kadang kau bisa bertindak ceroboh, terutama saat kau sedang dalam keadaan dipenuhi cemas seperti ini." Sahut Sai.
"Lagipula, kau pikir misi berbahaya apa yang telah kita emban selama ini?" timpal Shikamaru. "Yang seperti ini saja tidak akan cukup untuk membunuh kami."
Naruto tampak ingin berucap lagi, namun Sakura segera memotong. "Jika sudah diputuskan, maka kalian harus segera bergegas untuk mulai menyusun rencana."
x x x
Jarum jam berputar cepat, membuat waktu terasa terlewat begitu saja.
Hinata bangun pagi-pagi, saat fajar pun baru saja menyingsing di luar sana.
Tetapi, perayaan pernikahan sudah mulai membuat kegaduhan meski hari masih dalam pagi buta seperti sekarang. Serangkaian upacara pernikahan bahkan belum dimulai, tetapi alunan musik sudah dinyalakan semalaman.
Kini mentari semakin menjulang di horizon timur, membuat pagi tersebut mulai dilingkup terang.
Hinata telah dipindahkan pada sebuah ruangan berdekorasi indah. Sebagai tempat untuknya berbenah dan menunggu selama persiapan upacara pernikahan dilangsungkan. Ruangan itu ditata sama indahnya dengan kamarnya yang kemarin. Dinding yang terbungkus oleh rangkaian kain tenun bercorak indah. Meja-meja yang bertahtakan berbagai macam jenis bunga. Karpet dengan bulu halus binatang.
Ya. Ini adalah hari pernikahannya.
Sekarang, ia sedang mengenakan sebuah gaun tradisional. Sebuah kimono putih berbahan sutera halus berendakan rangkaian mawar merah di bagian bawahnya. Sangat cantik, namun terasa sedikit berat saat dipakai. Rambut indigo gelapnya diangkat, ditata dalam sebuah sanggul longgar dan ditusuk dengan konde berkepala naga yang memiliki warna emas. Gantungan dua buah lambang yin bercak putih ditengahnya dikaitkan di mulut naga tersebut.
Tetapi, meski ini seharusnya menjadi hari bahagia gadis itu, Hinata malah terlihat muram. Ia tidak mengenal siapapun, dan seseorang yang sangat ingin ia temui juga tidak berada disana. Ia hampir menangis, namun tentu saja ditahannya dengan sekuat tenaga.
Waktu sudah hampir merujuk pada jam 9 pagi.
Hinata masih duduk dengan tenang di pusat ruangan, membiarkan saja dirinya didandani. Diciprati air bunga, dibacakan doa, dopolesi make up, dibaluti perlengkapan gaun pengantin, dan persiapan lainnya.
Para geisha telah bolak-balik memasuki ruangan Hinata semenjak tadi , begitu pula para wanita dari rumah hiburan lainnya yang memang bertugas untuk mengurusi kebutuhan Hinata selama berlangsungnya pernikahan ini.
Mereka bertanggung jawab dalam menyelesaikan persiapan mempelai wanita.
Ketika gadis itu telah selesai berbenah, salah seorang geisha mulai menutupi seluruh tubuh Hinata dengan kain tudung tak tembus pandang, tidak tanggung-tanggung menyembunyikan tubuhnya dari ujung kepala sampai pada kakinya.
Mereka mengatakan, ini adalah salah satu ritual penting bagi para mempelai wanita untuk membiarkan dirinya dibungkus seperti itu, agar terlindung dari hal-hal buruk menjelang pernikahan. Rupanya, ini merupakan salah satu tradisi dalam pernikahan tradisional ala tempat itu, semacam kepercayaan. Tidak ada yang boleh melihat pengantin wanita sebelum prosesi pernikahan selesai dilakukan.
Benar. Tradisi pernikahan di kota itu. Seperti halnya tradisi untuk mengarak pengantin pria di sepanjang kota sebelum upacara pernikahan dimulai. Sang mempelai pria diarak dengan menunggangi kuda, diiringi oleh rangkaian manusia yang mengekorinya sambil memangku berbagai macam seserahan. Alunan musik, nyanyian, tarian, juga suara petasan ikut memeriahkan jalanan yang dilewatinya.
Sementara Hinata menunggu dalam diam di kamarnya. Menunggu pasrah hingga pengantinnya datang menjemput. Seharusnya memang begitu, tetapi bukan Toneri yang ia tunggu saat ini. Naruto, kah? Tidak, tentu si gadis bahkan tidak berani untuk sekedar mengharapkan kehadiran si pemuda di pernikahannya ini.
Melainkan Sakura, karena perempuan itu berkata akan datang lagi untuk mengunjunginya. Setidaknya, Hinata berharap bisa bertemu dengan seseorang yang ia kenal sebelum ia benar-benar dinikahkan.
Hinata menunggu sudah cukup lama. Ia tahu mengenai tradisi arak-arakan yang harus dijalani pengantin pria, dan malah berharap agar rangkaian acara itu tidak akan cepat selesai. Ia memang tidak pernah menduga bahwa sebuah pesta pernikahan dapat dilaksanakan serumit ini. Ditambah lagi, dokter perempuan yang ia tunggu tidak kunjung datang.
Sekarang, ia kembali ditinggalkan sendirian dalam ruangan yang sepi dan redup itu. Sebuah kamar disamping pintu masuk mansion, yang telah sengaja dipersiapkan agar mempelai wanita dapat dengan mudah dibawa ke luar. Karena prosesi pernikahan akan diselenggarakan di taman.
Karena tidak tahan lagi dengan semua keheningan ini, Hinata hampir saja akan mengutuk semesta. Ketika akhirnya ia mendengar sebuah suara datang dari pintu masuk kamar itu. Suara pintu yang digeret terbuka.
Penglihatannya gelap akibat tudung yang menutupinya, membuatnya tak bisa melihat apa pun atau siapa pun yang sedang ada di sebrangnya.
"Sakura-san?" Panggilnya. Hinata tahu memang kemungkinannya sedikit saat Sakura akan mengunjunginya secara privasi seperti ini lagi, karena segala medikal chek-upnya telah selesai. Namun tetap saja gadis itu berharap.
Tapi tak ada yang merespon.
Hinata sempat ragu, barangkali ia hanya salah dengar. Lalu ia kembali bertanya, "Apa ada seseorang disana?"
Apa ini sudah saatnya ia dibawa pergi? Hinata menelan ludah. Ia masih belum siap, dan tidak akan pernah siap.
Namun masih belum ada jawaban.
"Bisakah seseorang mengatakan padaku apa yang sedang terjadi?" Ia berhenti sejenak, "Aku sama-sekali tidak mengetahui mengenai jadwal acara ini."
Tetap tak ada suara. Ruangan itu masih tetap hening. Hinata mendesah pelan. Mungkin ia memang hanya salah dengar. Mereka memang hanya memberitahu Hinata untuk tetap menunggu tenang disana, dan tidak mengatakan apapun lagi.
Padahal semua orang pun tahu, menunggu bisa menjadi hal yang sangat . . menyakitkan.
"Pasti terasa sungguh membosankan bagimu saat kau disuruh untuk duduk diam sendirian di tempat seperti ini."
Hinata melonjak saat ia mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal tiba-tiba berbisik tepat di samping telinganya.
Dalam keremangan yang diciptakan tudung kain itu, kedua ametis Hinata melebar. "N-naruto-kun?"
.
.
.
Bersambung.
A/N.
Aku sedikit kesusahan karena ternyata alur fanfic Not There versi NaruHina ini sungguh berbeda dari fiksinya UlquiHime. Karakter mereka, dan latar belakang hidup mereka juga sangat berbeda. Makanya aku agak kebingungan nulisnya jadi sering stuck begini, maafkaaan yaaa.
Anyway, momen Naruhina-nya sungguh sangat sedikit sekali, bahkan hampir tidak muncul di chap ini ya? hehe demi kelanjutan cerita, mohon sabar.
Silahkan review lagi :)
-balasan review reader yang tidak login-
ana : umm, sepertinya itu naru sudah datang? hehe
Sampai ketemu di chapter depan~
Updated : 10/11/16
Terima kasih buat review/fav/follownya :)
Silahkan beri komentar di kolom review.
