Part 2
Happy reading!
.
.
.
.
Sudah tiga hari berlalu sejak Jenny dimakamkan, dan aku belum menemukan siapa pembunuh Jenny. Segala pemikiran terbesit di kepalaku, apapun itu.
"Kau cukup berani untuk mengabaikan kalimatku, Huang Zitao."
Aku terlonjak saat melihat guru yang menghampiriku. Ternyata aku melamun. Aku hanya mengangguk seraya meminta maaf.
"Setidaknya tolong pertahankan prestasi yang tidak masuk akalmu itu."
Aku menghela nafas. Guru ini memang benar-benar membenciku. Yah, salahku dulu aku seringkali kabur saat pelajarannya dan tak tanggung-tanggung aku mengerjainya dengan menaruh lem di kursinya atau menyelipkan serangga di loker mejanya.
Dengan kesal aku mencoba fokus dengan kalimat guru itu. Tiba-tiba ponselku bergetar dan aku membukanya.
From: Pengganggu.
Aku sudah mendapat informasi. Naiklah ke atap.
Tanpa basa-basi aku langsung melompat keluar jendela dan pergi ke atap tanpa menghiraukan teriakan dari Guru.
Aku bergegas menaiki tangga menuju atap dan bertemu dengan Yifan yang memandang keluar sekolah. Aku hanya terkekeh.
"Membolos kelas?" tanyaku membuatnya menoleh padaku.
"Tidak juga," jawabnya. "Sedang ujian praktek antrian sangat panjang. Aku bosan."
"Jadi, apa yang kau dapat?"
"Sebenarnnya aku tidak dapat apapun."
Aku merenyitkan keningku. "Apa?"
Yifan mengendikkan bahunya. "Informanku mengatakan ia sudah menanyai hal seputar Jenny pada anak-anak panti. Hasilnya nol. Mereka semua menutup mulut mereka hampir tidak ada saksi juga."
Aku menghela nafasku. Apa benar-benar tidak ada harapan untuk menemukannya?
"Jangan khawatir, mereka pasti akan menemukannya."
Aku hanya mengangguk, "Kupikir aku ingin mencarinya sendiri."
"Mencari pembunuh? Seorang diri? Tidak akan aku biarkan."
Aku mendecak, "Apa hakmu melarang?"
Yifan kembali mengendikkan bahunya. "Aku hanya ingin melindungi temanku."
"Jujur saja aku mulai muak dengan alasan yang seperti itu. Mulai besok aku akan mencoba menyelidikinya sendiri."
"Kau akan menyeret dirimu sendiri dalam bahaya!" protes Yifan.
"Aku tidak bisa diam begitu saja dan menunggu sedangkan pembunuh adikku masih berkeliaran diluar sana!" bentakku kemudian memutar tubuhku dan meninggalkan Yifan namun ia menahan tanganku.
"Jika ia mengincar Jenny, kemungkinan besar ia juga akan mengincarmu, Zitao. Pernah memikirkan itu?" ucapnya.
"Yang ada dipikiranku hanyalah bagaimana caranya menangkap bajingan itu dan menghakiminya di depan mataku." Kataku lalu menarik tanganku kasar. "Aku bukanlah orang yang butuh perlindungan. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Usainya aku benar-benar meninggalkan Yifan dengan langkah yang sengaja aku hentakkan. Memang seharusnya aku tidak berkata seperti itu padanya. Benar, posisiku juga bisa saja dalam bahaya. Hanya saja, aku tidak bisa hanya berdiam diri membiarkan orang itu bebas begitu saja.
.
.
.
.
Aku pulang dengan berbagai spekulasi yang ada di dalam kepalaku. Aku memikirkan segalanya. Pelaku, tujuan, dan yang lainnya. Aku menghela nafasku. Kepalaku mulai pening, sepertinya aku harus memikirkan hal yang lain sejenak. Yah, mungkin tidur sebentar akan menghilangkan penatku.
Saat menapakkan kaki di pintu panti, aku melihat Kepala panti dan juga Heian Yi keluar dari panti dengan terburu-buru dan wajah yang gelisah. Kelihatan sekali Kepala Panti tengah menyeret Heian Yi keluar. Biasanya, pak tua itu tidak pernah menyeret anaknya. Dengan penuh rasa penasaran, aku mengendap untuk mengikuti mereka. Aku menghentikan langkahku saat mereka berhenti di halaman belakang panti. Aku menyembunyikan diriku di balik tembok dan mengintip sedikit. Aku juga menyiapkan rekaman lewat ponselku setidaknya jika percakapan mereka akan mengarahkan aku pada sesuatu yang berguna nantinya.
"Aku tidak bisa melakukan ini lagi ayah!" ujar Heian Yi dengan suara yang bergetar.
"Kau pasti bisa! Ayolah! Kau berandal tapi hatimu seperti anak ayam!" tukas Pak tua itu menepuk lengan anaknya dengan tangannya yang gempal.
"Ayah! Polisi akan mencariku! Ini semua salah Ayah!" teriak Heian Yi tertahan semakin lama suaranya semakin menciut. "Setiap malam, aku tidak bisa tidur. Aku selalu terbayang wajah gadis kecil itu. Aku takut ayah!"
Gadis kecil? Mungkinkah itu?
Pak tua itu mencengkram kerah baju anaknya. "Jadilah pria Heian Yi! Kau tahu betapa sulitnya hidup? Ini lah yang dinamakan bertahan hidup! Kau harus melakukan apapun meskipun harus membunuh sekalipun!" katanya. "Uang kita sudah semakin menipis untuk mengurusi anak-anak itu! Tapi dari tempat ini lah satu-satunya warisan nenekmu ada! Tidak ada yang mau mengapdosi anak-anak itu karena akreditasi tempat yang buruk. Mau tidak mau kita harus membuang mereka satu-persatu!"
Aku mengepalkan tanganku erat. Tidak salah lagi, merekalah yang membunuh Jenny!
"Siapa kau?"
Aku terlonjak saat mendengar suara berat dari belakangku. Saat aku menoleh, aku melihat dua orang pria berbadan kekar tengah melihat penuh curiga padaku. Gawat! Aku harus segera pergi dari sini.
"Aak!" belum ada aku mengambil langkah kedua pria itu langsung menangkapku dan membawaku ke hadapan Heian Yi dan Ayahnya. Sesekali aku berontak tapi dua lawan satu. Aku tidak berdaya. Aku sengaja menjatuhkan ponselku ke tanah sebagai bukti. Tapi sepertinya mereka menyadarinya dan langsung menginjak ponselku hingga berkeping-keping.
"Tuan, kami menemukannya sedang menguntit Anda dari balik tembok." Ujar salah satu dari mereka.
"Wah, wah Huang Zitao." Ujar pak tua itu saat melihatku dengan senyum yang menjijikan, berbanding terbalik dengan Heian Yi terlihat takut. "Seberapa banyak kau mendengar?
Aku tidak menjawab, aku hanya menatap pak tua gempal itu dengan geram. "Semuanya. Aku tahu semuanya dasar orang gila. Membunuh anak kecil tak berdosa hanya demi menyelamatkan harta!"
Pak tua itu tertawa lalu menendang wajahku. "Panggil kawan-kawanmu dan bawa dia. Aku ingin kalian membungkam mulutnya didepanku. Kupastikan ia tidak akan mengatakan ini pada siapapun!"
"Baik, Tuan!"
Aku berontak sekencang yang aku bisa sambil mencaci maki pak tua itu hingga salah satu memukulku hingga tidak sadarkan diri.
.
.
.
'Bugh!'
Aku terbangun saat sebuah pukulan keras menghantam wajahku. Aku mengerjapkan mataku sesaat, mencoba memfokuskan pandanganku yang buram. Kedua tanganku juga dipegang erat oleh dua bawahannya. Aku tidak bisa kabur. Jenny, sepertinya aku akan diinterogasi sampai mati. Mereka membawaku ke tempat terpencil agar mayatku tidak mudah ditemukan nantinya.
"Bagaimana tidurmu? Nyenyak kah?" tanya pak tua itu berdiri di hadapanku. Aku hanya mendecak mengabaikannya.
Aku memekik saat pak tua itu menarik rambutku kencang memaksaku untuk menatapnya. "Akhirnya aku bisa menyingkirkan orang seperti dirimu, berlagak seperti pahlawan, menyelamatkan kecoak-kecoak lemah dari predatornya. Inilah hukum alam, Huang Zitao. Yang kuat akan menghabisi yang lemah."
Aku menggertakkan gigiku melihat pak tua itu. Ia menguatkan cengkramannya pada rambutku kemudian ia mendorong wajahku kencang. "Habisi dia." Ujarnya lalu mundur beberapa langkah membiarkan anak buahnya mengambil ancang-ancang untuk menghajarku. Tidak ada jalan lain, aku harus melawan mereka untuk keluar dari sini.
Saat kedua pria ini lengah, aku berhasi membebaskan diriku dan menumbangkan dua orang di sampingku. Aku mengincar orang yang bersenjata lebih dan mengambilnya. Meski yang kudapatkan hanyalah sebuah tongkat, ini lebih dari cukup. Setelah mengeratkan peganganku pada tongkat itu, aku berlari maju menerjang mereka. Amarahku menjadi pengali dua kekuatanku untuk menghabisi bawahan yang pak tua itu bawa. Serangan balik mereka pun tak aku hiraukan sakitnya, aku terus dan terus mengayunkan tanganku menyerang mereka. Pukulan terakhir membuat tongkat itu patah. Sayang sekali aku sama sekali tidak dapat menggunakannya untuk menghabisi pak tua yang kini terdiam gemetaran melihatku. Usai berurusan dengan anak buahnya, aku berjalan mendekati pak tua bajingan itu yang kemudian mengeluarkan sebilah pisau untuk melindungi dirinya.
"Jangan mendekat!" teriaknya sambil memegang pisau itu dengan kedua tangannya lalu mulai menyerangku dengan membabi buta.
Mudah bagiku untuk menangkis tangannya dan menghantam perutnya yang gemuk dengan dengkulku membuatnya meringkuk kesakitan. Sambil mengatur nafasku, aku mengambil pisau yang ia jatuhkan dan mengarahkannya pada pria tua itu. aku tersenyum, rasanya aku tidak sabar untuk menikam si brengsek di depanku ini.
"Siapa yang lemah sekarang?" kataku sambil menyeringai. "Pisau ini bisa menikam dadamu hingga menembus jantungmu. Pernah merasakannya? Mau coba?"
"S-Selamatkan aku! Jangan bunuh aku! Maafkan aku! Aku akan melakukan apapun! Jangan bunuh aku!"
Terlambat. Semua sudah terlambat.
"Minta maaflah di neraka nanti!"
Saat aku hendak menikamnya. Tiba-tiba saja ada seseorang menutup mataku dan menarik tubuhku mundur.
"Aku tidak tahu kau bisa jadi seliar ini, Huang Zitao."
Aku menoleh kebelakang, melihat pemuda jangkung yang berdiri di belakangku. "Yifan-ge…Bagaimana bisa—"
"Heian Yi yang memberi tahuku." Ujarnya sambil menjauhkan tangannya, membuatku merenyitkan dahi bingung. "Membunuh orang seperti dia hanya akan mengotori tanganmu dengan sia-sia. Aku yakin, Jenny juga tidak akan menyukainya. Lagipula, bukannya kau sudah berjanji padaku untuk tidak bertarung lagi?"
Aku mendorong tubuh Yifan kencang, "Mind your own damn business Wu Yifan! Bajingan gila ini harus segera aku tumpas dan membiarkannya membusuk di neraka!"
"Kau tahu konsekuensinya jika membunuh orang kan, Huang Zitao? Jangan hancurkan semua kerja kerasmu hanya karena sampah itu." Ujar Yifan kemudian menunjuk pak tua yang tergeletak tak sadarkan diri. Aku juga melihat ia mengeluarkan busa dari mulutnya. "Lihat? Ia sudah syok dengan seranganmu tadi. Itu lebih dari cukup untuk memberinya pelajaran."
"Orang seperti dia tidak akan pernah belajar, Wu Yifan! Ia akan terus seperti ini jika aku tidak—"
"Jenny tidak akan kembali jika kau membunuhnya, Zitao! Apa kau tahu bagaimana perasaannya di alam sana jika tahu kakaknya telah menjadi seorang pembunuh? Apa ia pernah memintamu untuk membalaskan dendamnya?"
Aku terhenyak. Aku tahu, orang yang sudah mati tidak akan pernah kembali lagi. Tapi…tapi…
"Jenny…" lirihku lalu menunduk menyembunyikan airmataku saat kenangan tentang Jenny melintas di kepalaku.
Aku merasakan sebuah sentulan di tanganku. Yifan menarik dan menggenggam tangan kemudian ia mengiringku berjalan.
"Aku sudah menghubungi polisi untuk mengurus sisanya. Sekarang, kita harus mengobati luka-lukamu."
.
.
.
.
Aku duduk diam di atas kasur kamar milik Yifan yang saat ini tengan mengobati luka di tanganku. Sesekali aku terhentak dan meringis saat antiseptik mengenai lukaku.
Aku hanya menunduk dan melamun. Aku tidak mengerti, padahal aku ingin berubah menjadi lebih baik. Tapi, kenapa Tuhan mengambil sesuatu yang sangat berharga bagiku? Aku tidak bisa menepati janjiku dengan Jenny. Aku tidak bisa melindunginya, aku bukanlah kakak yang baik.
"Dosa apa yang dulu pernah aku perbuat di kehidupanku sebelumnya sampai aku mengahadapi semua ini?" gumamku.
"Apa?"
"Kedua orang tuaku membuangku ke panti asuhan yang tidak jauh beda dengan neraka. Aku dipukuli sampai rasanya seluruh tubuhku mati rasa. Aku tidak ingin percaya pada siapapun, aku membuat tembok pemisah dengan dunia luar agar luka di hatiku tidak bertambah. Aku bertarung dengan Heian Yi dan kawan-kawannya selain karena mereka memang brengsek tapi juga untuk melampiaskan rasa kesepianku. Tidak hanya Heian Yi, berandal dari sekolah lain pun mengenalku. Mereka menjulukiku 'Panda gila'" aku terkekeh sesaat saat menyebut panggilanku. "Dunia memang kejam, bukankah begitu? Di saat kau mencoba melakukan kebajikan rasanya segala hal yang kau lakukan seperti ditolak oleh Bumi. Aku tidak bisa menggunakan kemampuanku untuk melindungi Jenny. Akhirnya aku benar-benar merasa seperti sampah kehidupan."
"Itu tidak benar."
"Kau berbeda denganku, Wu Yifan! Kau tidak akan tahu rasanya terkucilkan, teraniaya…" bentakku saat Yifan menyela kalimatku. Aku berdiri dan melihat Yifan yang hanya diam.
"Kau adalah manusia yang sempurna. Segala hal kau memilikinya. Wajah yang tampan, tubuh yang sempurna, memiliki harta yang banyak, kecerdasan, teman yang banyak, segalanya kau memiliki itu! Kau tidak mengerti betapa susahnya aku saat itu, kau bisa hanya duduk manis meminta dan mendapat yang kau inginkan! Iya kan?"
Aku terkejut saat tiba-tiba Yifan berdiri dan mencengkram bajuku. "Kau tahu apa tentang aku?" ucapnya pelan dengan nada yang sangat rendah membuat bulu kudukku berdiri.
"Kau pikir, mudah menjadi diriku, Huang Zitao?" Wajah Yifan tidak menunjukkan amarahnya. Tapi dari nada bicaranya itu menjelaskan semuanya.
"Benar, aku orang kaya. Orang serba berkecukupan. Aku tidak mengerti sedikitpun tentang hidupmu yang terbengkalai. Tapi, ada yang harus kau ketahui bahwa hidupku terkekang seperti burung yang terjebak dalam sangkarnya."
Aku terpaku melihat Yifan yang kemudian mulai melepaskan cengkramannya padaku. "Sejak kecil aku tidak pernah diperbolehkan untuk melihat dunia luar. Yang aku lakukan belajar, belajar dan belajar bagaimana bisa menjadi penerus perusahaan yang baik. Benar, aku bisa meminta apa saja yang kumau. Tapi, itu hanyalah objek. Mereka tidak pernah memberikan keinginanku yang sebenarnya. Kebebasan. Keluar dari lingkaran penerus perusahaan Ayahku yang bahkan selama aku hidup, aku tidak pernah melihat wajahnya. Akhirnya setelah aku memohon dengan segala cara, aku dapat bersekolah di luar. Aku bisa melihat dunia luar, aku bisa membuat teman. Tapi memang benar, aku masih naïf sehingga terkadang yang aku dapatkan adalah pengkhianatan."
Mulutku terkunci rapat. Aku tidak dapat berkata apapun. Aku tidak tahu, bahwa Yifan juga memiliki masa lalu yang seperti itu.
"Jangan pernah menilai orang lain dari sampulnya, Huang Zitao. Itu pelajaran umum."
"Jangan mencuri kesempatan untuk kembali mengguruiku." Ujarku.
"Kau memang masih harus banyak belajar."
Aku memalingkan mukaku lalu kembali duduk, kali ini aku lebih memilih duduk di atas lantai beralaskan karpet.
"Sebenarnya ada sebuah pertanyaan yang sudah berada di kepalaku sejak lama." Ujarku sambil memeluk lututku. "Kenapa kau begitu baik padaku?"
Yifan berdengus, "Geer amat!"
Langsung saja aku menarik bantal yang ada dan menggebuk wajah Yifan. "AAH! MENYEBALKAN!"
Yifan meletakkan bantal yang ada di wajahnya kembali kemudian duduk di sampingku. "Mungkin kau tidak ada mengingatnya. Tapi waktu itu, saat awal kelas 3, aku harus mengikuti lomba debat untuk pertama kalinya. Aku gugup sekali. Lalu,tiba-tiba saja aku bertemu denganmu yang saat itu masih menggunakan seragam sekolah menengah pertama."
"Kau kenapa? Habis melihat hantu?"
"Hah? Ti-tidak. Tidak."
"…Tuh, permen untukmu. Setidaknya itu akan menenangkanmu."
"Sejak itu aku terus mencari informasi tentang dirimu, lalu secara tidak sengaja kita bertemu di atap."
"Itu lebih ke kisah bagaimana pertama kali kau bertemu denganku." Kataku.
"Kalau alasan lebih lanjutnya, karena aku ingin melihatmu tersenyum. Setiap kali aku memperhatikanmu, kau seperti akan menangis."
Kembali, mulutku terkunci. "Tidak sering juga aku melihatmu bertarung. Aku tahu kau sangat kuat di luar, tapi sangat rapuh di dalamnya. Karena itu, sekalian membalas budi, aku ingin melindungimu. Setidaknya, membuatmu tersenyum." Ujarnya kembali dengan senyum 100 voltnya.
"Berusahalah Zitao, buktikan pada Jenny di surga sana bahwa kau bisa menepati janjinya. Aku akan mendukungmu, karena kau temanku."
Mendengar itu, entah kenapa rasa senang meluap di dadaku. Ada seseorang yang setidaknya masih peduli padaku. Hal itu membuatku ingin menangis—tidak, aku sudah menangis sekarang. Hanya saja aku selalu menyembunyikannya. Aku kira aku selalu sendiri dan hidup dalam kesendirian. Kukira aku tidak akan kesepian. Ternyata aku salah.
"Zitao? Astaga, Kau menangis?" tanya Yifan menyenggol lenganku.
"…berisik!"
Aku bisa merasakan, Yifan saat ini sedang melihatku sambil terkekeh. "Menangis itu tidak salah. Menangis itu adalah tanda bahwa kau sudah terlalu tegar dalam waktu yang lama." Ujar Yifan merangkulku dan menepuk-nepuk kepalaku.
" . !" tekanku dengan suara yang terpendam karena wajahku saat ini sudah terbenam sepenuhnya di lututku.
"Sebenarnya, aku sedikit iri padamu, Zitao." Ujar Yifan membuatku mengangkat kepalaku dan melihatnya.
"Kenapa?" tanyaku menahan segukanku.
"Kau terlihat sangat bebas, dan juga, setidaknya ada orang yang membutuhkanmu. Sejak aku mengatakan aku akan keluar dari lingkaran penerus. Dari via telefon ayahku mengatakan aku tidaklah berguna. Tidak ada yang membutuhkanku sejak itu."
"Tapi aku butuh…" kalimat itu terselip begitu saja dari mulutku.
Yifan menolehkan wajahnya dan menatapku. "Aku membutuhkanmu." Aku tidak mengerti, aku tidak bisa menghentikan lidahku untuk mengatakan itu.
Aku ingin sekali mengatakan 'AKU MENARIK KATA-KATAKU!' begitu keras namun mulutku tak bisa aku gerakan. Rahangku seperti membatu. Kami bertatapan lama, mungkin hanya semenit tapi rasanya begitu lama. Aku bisa melihat diriku di pupil mata Yifan yang terus menatapku. Semakin lama aku merasakan mata Yifan semakin mendekat. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali memastikan mataku kembali normal setelah—mungkin—kering karena menatap Yifan terlalu lama. Tapi nyatanya tidak. Yifan memang mendekatkan wajahnya padaku. Semakin dekat, aku refleks memejamkan mataku yang kemudian disusul perasaan sesuatu menempel di mulutku. Dia menciumku…
Sesaat kemudian, ia menjauhkan wajahnya. Aku membuka mataku dan melihatnya. Wajahnya terlihat serius, hal itu membuat wajahku terasa terbakar. Apa? Aku terpesona padanya? Mungkin semua kejadian belakangan hari ini membuatku gila dan berpikir bahwa orang di hadapanku ini sangatlah menawan. Sesaat kemudian, Yifan mengalihkan pandangannya dariku.
"Ma-Maaf, aku tidak sengaja." Ujarnya terbata sambil menggaruk tengkuknya. "Sikapku, sepertinya sudah kelewat batas…"
Aku hanya diam, terus melihat Yifan yang tidak berani melihatku lagi. Aku tidak tahu kenapa, aku ingin merasakannya lagi.
"Yifan-ge…" panggilku sambil mencolek bahunya.
Saat Yifan menoleh kembali ke arahku, kini giliranku yang menciumnya dan membuatnya terkejut. Berbeda denganku yang hanya diam, Yifan mulai menggerakkan bibirnya membalas ciumanku. Kalau boleh jujur, ini hal yang pertama untukku. Aku tidak pernah bisa mendekati gadis-gadis dan berkencan, atau lebih tepatnya aku sama sekali tidak pernah memikirkan itu.
"Yifan-ge, coba beritahu aku…" kataku sesaat setelah melepas ciuman kami. "Apa seorang teman berciuman juga?"
Yifan terdiam sejenak, "Tidak…biasanya tidak."
"Jadi?"
"Jadi?" ujar Yifan mengembalikan pertanyaanku.
"Apa kita masih bisa di sebut sebagai 'teman'?" tanyaku.
"Teman ya…" gumam Yifan sambil berpose berpikir sesaat. " Yah mungkin bisa." Jawabnya. "Atau lebih tepatnya, menjadi teman hidup."
"Yaish!" desisku sambil menoyor wajahnya.
Yifan hanya tertawa. "Bagaimana Zitao? Mau jadi teman hidupku?"
Aku mendengus. Tapi jauh dilubuk hatiku aku malah merasa senang. Jantungku ini seperti tamborin yang digebuk dengan kencang.
"Pffft, Dasar bodoh." Ucapku.
Yifan tertawa kecil, "Aku anggap itu sebagai iya." Ujarnya lalu kembali mendekati wajahku.
Aku mendecak kesal lalu langsung melingkarkan tanganku dan memeluk lehernya kemudian menariknya sampai wajahnya kita berjarak sangat dekat. "Jika ingin menciumku lagi, jangan terlalu lama."
Yifan hanya tersenyum. "Mau bagaimana lagi? Ini pertama kalinya untukku."
"Kau bercanda…"
"Aku serius…"
"Tapi, kau sepertinya lihai sekali."
Yifan tersenyum, "Mungkin naluri lelaki."
Belum sempat aku mengajukan protesku, Yifan sudah kembali meraup bibirku. Aku mengeratkan pelukanku, tidak ingin melepaskan sentuhan dari pemuda di hadapanku ini. Setelahnya, aku tidak mengingat lagi apa yang kita lakukan setelahnya. Semuanya gelap, tidak ada yang aku ingat. Tapi yang jelas, yang aku tahu saat itu, aku merasa bahagia.
.
.
.
.
Suasana ramai menyelimuti ruang auditorium sekolah seusai pemberian penghargaan kepada siswa-siswi kelas 3 yang telah lulus. Aku menepuk tanganku saat Yifan-ge—begitulah aku memanggilnya sekarang—maju kedepan sebagai lulusan terbaik. Sekilas kami bertatap mata, aku tersenyum dan ia membalasnya dengan seringaian lebar. Yah, mencuri pandang dengan kekasih sendiri tidaklah buruk.
Tidak terasa 6 bulan berlalu begitu saja sejak kejadian itu. polisi sudah membekuk Pak tua itu dan Heian Yi serta menyita panti asuhan. Pak tua itu dipenjara 25 tahun atas pembunuhan tingkat pertama dan ditambah 20 tahun atas kekerasan pada anak. Sebenarnya masih banyak lagi kejahatan yang ia lakukan hingga ia harusnya mendapat kurungan seumur hidup atau mati. Tapi, jika memang ini yang terbaik aku tidak bisa melakukan apapun. Untuk Heian Yi, ia hanya mendapat kurungan 3 tahun dan rehabilitasi. Ia tidak sejahat kelihatannya. Kemudian, aku dipindahkan ke panti asuhan yang lain, dan kali ini penurus pantinya jauh lebih baik atau bahkan bisa dibilang ia sangat baik. Bahkan belakangan ini kami mulai akrab. Sebenarnya Yifan pernah mengajakku untuk tinggal bersama tapi aku tolak mentah-mentah. Aku masih ingin pera—perjaka maksudku. Aku juga ingin hidup mandiri, sekarang saja aku mendapat pekerjaan paruh waktu sebagai penyaji di sebuah café. Yifan-ge kadang suka berkunjung—atau lebih tepatnya ia membuat onar dengan sering merayuku di sana. Lalu, aku naik ke kelas dua dengan nilai yang memuaskan. Peringkat 3 dari 240 sudah sangat cukup bagiku.
Seusai upacara, aku menunggu Yifan-ge di luar Auditorium. Saat ia keluar dari pintu ia celingak-celinguk mencariku.
"Yifan-ge!"
Ia menoleh dan tersenyum. Niatnya aku akan menghampiri dirinya tapi tiba-tiba saja segerombolan siswi menyerbu Yifan-ge dengan membawa berbagai hadiah mulai dari bunga, surat dan yah aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku hanya tertawa melihat wajah Yifan-ge yang kebingungan, padahal ia sedang melempar pandangan 'tolong-aku' padaku. Yah, dia memang terkenal mau bagaimana lagi?
Akhirnya kami berdua bisa duduk di atap sekolah seperti biasa ditemani dengan berbagai hadiah yang di terima oleh Yifan-ge. Aku melihatnya sekilas, kancing di seragamnya sudah habis terlepas.
"Kau apakan bajumu?" tanyaku.
"Oh ini," gumam Yifan-ge melihat bajunya sekilas. "Gadis-gadis yang tadi meminta kancingku. Kenang-kenangan katanya."
Aku hanya menganguk saja sambil mengalihkan pandanganku. "Cemburu?" tanyanya.
Aku langsung menoleh padanya. "Untuk apa? Toh itu hanya kancing." Ucapku yang ditertawai oleh Yifan. "Lagipula kau sudah memberiku banyak hal yang sangat berharga."
"Ngomong-ngomong…" ujar Yifan-ge menadahkan tangannya padaku.
"Apa?"
"Hadiah darimu. Jangan bilang kau tidak menyiapkan hadiah untukku."
"Memang tidak." Ujarku santai sengaja agar aku bisa melihat wajah kecewanya.
Aku tertawa sejenak lalu merogoh sakuku dan memberikan sesuatu padanya. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk gembok kecil berwarna perak. Yifan-ge terlihat sedikit terkejut.
"Beberapa hari yang lalu, gaji pertamaku turun. Lalu aku membeli ini berpasangan dengan kalung ini." Ucapku menunjukkan kalungku berbandul kunci.
"Pesannya, Jangan berikan hatimu pada siapapun, ge! Mengerti?"
Yifan-ge tersenyum. "Tentu saja, benda ini akan menjadi harta seumur hidupku." Ucapnya kemudian dia menarik wajahku dan mengecup bibirku. Aku sengaja menarik bajunya menahan Yifan-ge untuk memperlama kecupannya.
Dan akhirnya aku menemukan seseorang yang telah menjadi alasanku untuk tetap hidup di dunia yang kejam ini. Dialah Wu Yifan, si bodoh menyebalkan yang selalu saja mengangguku dan mengguruiku. Tapi, ia mengubah hidupku, ia menarikku dari kegelapan yang selama ini menguasaiku dan aku… mencintainya.
Aku merasa aku akan hidup tenang, begitulah yang kupikirkan. Tapi aku tidak menduga. Ternyata rintanganku belum selesai sampai di sini.
.
.
.
.
-To be continued-
a/n: tungtungtunggg~~ update kilateuuuu malah jadi pendek ya? /laughs/ last part will be post as soon as possible! Dimana Tao nanti ninggalin Krisnya gitu /heh/ Thank you for reading ^^)/
