OTP: Jung Taekwoon (Leo) x Cha Hakyeon (N) – VIXX by Jellyfish ent

Genre: Romance Comedy BL

Rating: porn, d'oh

Disclaimer: casual Bahasa, slang; typo; unfunny jokes

.

.

.

Professional Porn Star Required!

.

.

.

.

"Heh! Bocah sangean! Sekarang aku sudah datang ke apartemenmu jadi kau harus kasih aku file-nya!" bentak Hakyeon, terduduk di ujung kasur.

"Yeee, baru juga duduk. Chill. Gue mau mandi dulu." Balas Taekwoon. "Ini jam 2 pagi…" lanjut Hakyeon sambil mengerutkan dahi. "Lo emangnya mau hubungan sama orang yang bau babi?"

"Hubungan?"

"HUBUNGAN APA?!" Hakyeon baru mengerti arah tujuan Taekwoon. Taekwoon hanya tertawa geli, lalu membalas, "Ya… hubungan apa yaaaa…"

Wow. Hakyeon hanya bisa menganga. "AKU SUDAH GILA DATANG KESINI DUA KALI!" batin Hakyeon, sembari melirik Taekwoon. Taekwoon membuka jaketnya, lalu sweaternya, lalu t-shirtnya, lalu… "EH KINTIL, BUKA BAJUNYA DI WC!"

"Ini rumah juga rumah gue, keles." Balas Taekwoon membalikkan badan, menunjukkan abdomen yang kencang dan tertata. Bahunya yang lebar, kulitnya yang putih, dan dada yang bidang. Ditambah lekuk dua kali tiga yang bertengger di atas perutnya, menunjukkan Taekwoon tidak hanya orang mesum, tapi orang mesum yang rajin olahraga. "Nggak usah banyak teriak, di samping kiri nggak ada orang. Kanan lagi dinas keluar negeri. Tapi di bawah ada induk semang, ntar dikira gue ngapa-ngapain lo kalo teriak-teriak." Lanjut Taekwoon. "Itu yang kukhawatirkan, sialan…" balas Hakyeon dengan suara kecil.

"Hm? Lo bilang apa, kak?"

"Nggak ada." Balas Hakyeon singkat.

"Ngomong apa?" lanjut Taekwoon mendekati Hakyeon.

"NGGAK NGOMONG APA-APA!"

"Ngomong, nggak? Atau aku apa-apain disini sekarang." Balas Taekwoon sembari mendaratkan kedua tangannya di sisi badan Hakyeon di atas kasur. Hakyeon yang duduk merapatkan kakinya, tegang. Sementara Taekwoon yang sadar dengan reaksi-reaksi humanis yang lucu dari laki-laki berkulit cokelat sehat itu malah semakin ingin menggodanya. "Ngapain lo rapetin kaki? Kayak perawan aja." Tanya Taekwoon. "Y-Y-Ya kamu nggak usah deket-deket kenapa, sih? Dibilang nggak ngomong apa-apa, kok!"

Taekwoon menggerakkan jari telunjuknya di atas paha Hakyeon. "…!"

"Lo… ngarep sesuatu, ya…?" tanya Taekwoon lagi. "SI-SI-SIAPA YANG NGAREP KAMU NGAPA-NGAPAIN AKU?!" balas Hakyeon spontan. "…AH!"

Taekwoon ingin kayang, jungkir balik, lalu ngakak.

"Bego." Jawab Taekwoon mempertahankan muka lurusnya. "Tunggu gue selesai mandi dulu, tuan m-e-s-u-m Cha Hakyeon."

"YANG MESUM ITU KAMU! CEPET SANA MANDIIII!" Hakyeon segera mendorong tubuh Taekwoon menjauh darinya. Rasanya geli dan aneh menyentuh tubuh laki-laki lain yang lebih muda, namun dengan tubuh yang lebih besar darinya. Ditambah lagi, entah kulit Taekwoon atau kulit Hakyeon yang berkeringat, rasanya seperti lembab dengan semilir pheromone di antara mereka. Entah milik siapa. Yang pasti, menguap dan bersenyawa di ruangan itu.

"CEPETAAAAAAAN!"

"Iya, iya. Lo horny banget, sih." Balas Taekwoon sembari berjalan lunglai ke kamar mandi. "CUMA ORANG YANG BIKIN TUGAS AKHIR FILM PORNO YANG BERHAK DIKASIH TITEL HORNYYYY!" Hakyeon tetap marah-marah, tapi Taekwoon tidak peduli. Dia hanya melambaikan tangan cepat dan meninggalkan Hakyeon dengan emosinya yang tidak jelas tujuannya.

BLAM.

Akhirnya, Taekwoon masuk ke kamar mandi. Bagus.

Hakyeon sudah berpikir panjang. Sepanjang sepuluh menit, lebih tepatnya. Dia akan mencari sendiri file footage dirinya dari computer Taekwoon yang sudah menyala di atas meja belajar itu. Saat sampai di apartemen tadi, Taekwoon sudah menyalakan computer, dan computer itu sepertinya tidak dikunci. Seandainya Hakyeon tahu kenapa alasan computer Taekwoon tidak dikunci adalah karena manusia jantan di kampusnya sudah terlalu sering meminjam komputernya untuk mengambil film porno terbaru…

Hakyeon punya misi.

Dan itu harus dituntaskan.

"Baiklah, kita lihat kau sejenius apa, tuan Jung." Pikir Hakyeon. Hakyeon dengan cepat menggerakkan mouse-nya, sembari matanya yang sudah agak buram tanpa kacamatanya – yang sudah dia pecahkan sendiri beberapa saat lalu di depan kedai – dengan lihat membaca cepat setiap judul folder yang ada di file explorer. "Di luar dugaan, dia anak yang rapi." Folder yang ada di dalam computer tersebut tersusun dengan nomor dan bahkan tanggal, ditambah judul yang diberi nama dosen tertentu. "Tugas, tugas… cari folder tugas… eh. Apa ini?"

Old Computer_Dont Open ; sebuah folder dengan judul tersendiri. Kata 'don't open'-nya membuat Hakyeon bertanya-tanya. "PASTI INI KUMPULAN YANG ANEH-ANEH! Dasar mahasiswa mesum…"

Iya sih, bolehlah dikata mesum. Tapi Hakyeon tetap saja penasaran dan akhirnya membuka folder itu.

20100110_Yoo Yeonjin

2010630_Yoo Yeonjin

… Yoo Yeonjin

"… Woah, dari judul folder-nya, udah lama banget. 2010… nama ini… nggak kukenal. Pasti nama aktris yang aneh-aneh. Foldernya juga banyak banget…"

Hakyeon meng-scroll layer computer itu sampai bawah. "…? Berhenti sampai 2014…?" gumam Hakyeon penasaran. "Berhenti? Kenapa berhenti? Aku jadi penasaran…"

Hakyeon mengklik folder terakhir dari kumpulan folder itu. Isinya masih ada folder lagi. Satu buah folder, dengan judul 'Rumah Sakit Pusat Seoul_Day X". Hakyeon berpikir apakah ini sejenis porno dengan kink aneh seperti cosplay atau sejenisnya. Yang pasti, Hakyeon semakin mengerutkan dahinya ketika saat dia mencoba membuka folder tersebut, folder itu dikunci password. "Heeeee…pakai sandi segala… mencurigakan…"

"Mencurigakan mana dengan orang yang seenaknya mengacak-acak computer milik orang lain tanpa izin?" tanya Taekwoon dari belakang. "W-W-W-W-W-WHAAAA!" Hakyeon kaget. Dirinya mengangkat kaki refleks, lantas menendang ujung meja. "ADAOW!"

"Lo lagi ngapain, dah?" tanya Taekwoon. "N-ng-nggak apa-apa! Kamu kalau sudah selesai mandi, bilang, dong!"

"Ye elah, gue baru mau ngomong, lo asik sendiri di computer gue. Nyari porno? Bukan disitu tempatnya, tapi disi-"

Taekwoon terdiam sesaat melihat layer komputernya. "Lo ngapain, sih?!" mendadak Taekwoon meninggikan suaranya. Tangannya terlihat cepat menutup file explorer itu dengan marah, lalu menghela napas panjang. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Hakyeon. Matanya sangat tajam, seperti telah menahan marah.

DEG! Hakyeon terkejut dan mendadak bahunya menegang. Kakinya melemas. "Aku cuma…"

"Nggak usah sembarangan buka-buka computer orang! Nggak sopan!" bentak Taekwoon.

Hakyeon merasa bingung. "…"

"File lo ada di kamera gue! Gue simpen disana! Jadi jangan – "

"Apa-apaan, sih?" potong Hakyeon. "Nggak yang ini, nggak yang itu, aku terus yang dimarahi. Kamu juga sama aja kayak Hongbinnie, aku ini orang asing, dan aku bukan pesuruhmu. Aku tahu aku memang salah, tapi nggak usah pake ngebentak…"

"…!" Taekwoon baru sadar dia meninggikan suaranya. "Errr… gini, gue minta maaf, gue tadi emosi…"

"KALIAN PIKIR AKU NGGAK BISA EMOSI APA?!" balas Hakyeon. "Siniin, file-nya! Ini urusan terakhir kamu sama aku! Kita nggak akan ketemu lagi!"

"Kak Hakyeon, gue minta maaf…"

"BACOT, SIAL! SINIIN KAMERA BRENGSEK LO, PUKIMAK! GUE TEMPELENG LO PAKE KREBIPETI BARU TAHU RASA LO!" potong Hakyeon nyolot. Taekwoon baru sadar, orang yang dihadapannya ini bisa berubah dari laki-laki sopan lembut menjadi preman mulut gas. "M-maaf kak." Lanjut Taekwoon, sembari mengambil kameranya dengan perasaan bersalah. "Ada di memory card." Lanjut Taekwoon.

"Ck. Bangsat kalian semua… dimana, sih?" gumam Hakyeon kesal.

"Ada di bagian bawah… itu yang bergerigi, ada slotnya di dalem."

"Ish! Udah susah nemunya, susah dibuka juga!" keluh Hakyeon yang sudah benar-benar ngambek, sampai tidak focus. Slot yang seharusnya ditarik ke belakang dengan jempol untuk membukanya, dia mendorongnya dengan seluruh tangannya. "Grrrrrrrrrrr…."

"Kak Hakyeon, bukan gitu cara lo buka kamera, hati-hati ntar –"

"BERISIK!"

TAK!

"Eh-"

PRAAAAK.

Slot memorinya terbuka.

Berserta isi kameranya yang jatuh dan terpecah di lantai.

"… WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"WEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!"

Taekwoon mangap.

Hakyeon mangap.

"AAAAAAAAAAAHHH! MAAFKAN AKU TAEKWOON-AH!"

"Duhh… gimana ini… ini kamera gue nyicil, lagi…" keluh Taekwoon sambil mengusap lensa yang pecah di lantai. "Lensa favorit gueeeeeeeeeeeeeeee!" jerit Taekwoon. "AAAAAAAAA MAAF AKU GANTIIIIIIII!"

Taekwoon mendesah napas panjang lagi. "Ini masalahnya bukan cuma harga, tapi kameranya keluaran lama… duh…"

"B-Berapa emang harganya?" tanya Hakyeon.

"Yakin mau denger?" tanya Taekwoon lagi sambil mengerutkan dahi. "Yakin! Ini salahku… maaf aku tadi… emosi… duh…"

"Gue nggak yakin lo nemu, bahkan kalo nemu juga mungkin nggak bakalan kebeli."

"Berapa, sih?" tanya Hakyeon. Taekwoon mengambil ponselnya, lalu mengetik beberapa kata. Sepertinya dia membuka forum jual beli kamera, dan beberapa menit kemudian, dia menunjukkan layer ponselnya pada Hakyeon. "Ini udah ga produksi lagi. Kalo ada juga, second, dan harganya…"

"… DEMI USUS BABI…"

Harganya sekitar biaya hidup Hakyeon selama tujuh bulan.

Hakyeon tercekik.

"MUAHUAL BUANGET GELOOOOOO!"

"Hhhh…mau gimana lagi." Taekwoon mengumpulkan pecahan kamera yang tersisa dan menaruhnya di atas meja belajarnya. "Gue masih punya dua kamera lagi, sih… hm?"

Taekwoon melirik Hakyeon yang terduduk di lantai dan menunduk, sepertinya dia merasa bersalah dan terlihat sangat menyesal. "Aku… boleh cicil, nggak?" tanya Hakyeon dengan suara kecil. Jelas Hakyeon tidak mendengar kata-kata Taekwoon soal dia memiliki dua kamera cadangan lagi. Tapi, mendengar suara Hakyeon dan logatnya yang kembali sopan, Taekwoon berpikir Hakyeon mungkin sudah melupakan marahnya. Dan suara kecilnya sangat lucu.

Bagaimana suaramu jika kau kuapa-apain, ya? Apa bakalan lebih lucu?

"Nggak usah bayar juga nggak apa-apa, kok, kak." Sambut Taekwoon.

"HE? Beneran?!" balas Hakyeon dengan suara yang terdengar lebih ceria. "Cuma satu hal aja."

"Lo mesti re-take film sama gue. Kalau nggak mau, gue tuntut." Bisik Taekwoon dari belakang. "Film yang kemaren juga jadi rusak lho… jadi tanggungjawabnya jangan setengah-setengah. Sekalian bikin ulang aja filmnya." Lanjut Taekwoon.

"E-EEEEEEEHHHH….?! Rusak?!"

Taekwoon jelas berbohong. Mana ada file di memory card yang bisa rusak cuma gara-gara jatuh? Tapi melihat reaksi Hakyeon yang betul-betul terkejut tanpa rekayasa, Taekwoon sekalian saja rekayasa semuanya. "Yup. Lo juga mesti ngelayanin gue sembari gue bikin footage baru. Itung-itung lo kerja, tapi gajinya buat ngeganti kamera. Ini kamera kesayangan gue, lho." Kata Taekwoon sambil menyolek pipi Hakyeon yang masih terbengong-bengong. "Gue serius, ya."

"… Uhhk…"

Hakyeon menelan ludahnya.

"Jadi… sekarang aku harus apa…?"

"Mandi, terus tidur sama gue."

Baru saja Hakyeon mau protes, Taekwoon sudah memutar-mutar pecahan kamera yang paling besar di tangan kanannya. "…Ampuni aku Tuhan…"

.

.

.

BIIP BIIIP BIIP.

"HHHHH!" Hakyeon membuka matanya dengan cepat. Pukul tujuh pagi saat dia tersadar di atas kasur. Di atas kasur Taekwoon. Dengan Taekwoon di sampingnya.

Hakyeon meraba-raba dadanya.

Lalu meraba-raba selangkangannya.

Selanjutnya, meraba-raba bokongnya.

"…Nggak sakit."

Hakyeon selamat.

Jika kita putar waktu sekitar empat jam yang lalu, Hakyeon memang menuruti permintaan Taekwoon untuk mandi. Dengan jantung berdebar dan rasa penyesalan sudah lepas kendali, Hakyeon selesai mandi dan mengenakan piyama yang dipinjamkan Taekwoon padanya. Piyama yang berwarna biru muda itu terasa jauh kebesaran, meskipun tinggi mereka tidak jauh berbeda, namun piyama tersebut sangat longgar untuk Hakyeon. Hakyeon keluar dengan tegang dan malu ke ruangan tidur lagi, dan mendapati Taekwoon sudah memakai piyama hitam dengan motif garis vertical kecil. "… Udah."

"Akhirnya kelar juga." Jawab Taekwoon, sembari tersenyum dengan beragam arti. "Terus, kau mau apa…" tanya Hakyeon ragu. "Tidur bareng lo. Sini." Panggil Taekwoon santai sambil melambaikan tangannya. Hakyeon berjalan pelan menjawab panggilan Taekwoon seperti pesuruh yang penurut. Hakyeon berdiri di depan Taekwoon sambil merapatkan kakinya, menundukkan pandangannya. Dia melihat bayangan tulang belikat Taekwoon di belahanbaju piyama hitam itu, lalu menutup matanya.

Aaaah… berakhirlah kehidupan kampus gue yang bersih…

Taekwoon mengenggam tangan Hakyeon pelan. Hakyeon tersentak, namun dia tidak berani menolak sentuhan Taekwoon. "Lo cantik." Puji Taekwoon.

"… Aku laki-laki, lho." Jelas Taekwoon. "Dari luar juga keliatan kali, lo cowok. Tapi cantik, kok." Lanjut Taekwoon, kemudian mencium tangan Hakyeon pelan. "…! K-kamu…"

"Ya?"

"Kamu gay, ya?" tanya Hakyeon.

"…Bukan, kak Hakyeon sayang." Jawab Taekwoon sambil membuat wajah sedih. "Gue ini biseksual."

"SAMA AJA!" balas Hakyeon sambil menjitak kepala Taekwoon pelan. Taekwoon tertawa. "Beda, lah. Gay itu artinya gue cuma doyan cowok. Gue doyan semuanya, kok. Cowok, cewek. Asal bukan yang galau setengah-setengah."

"Apaan, sih…" keluh Hakyeon.

Hakyeon jadi teringat Hongbin. Begini rasanya disukai oleh sesame jenis? Ada perasaan yang aneh dan tidak enak. Memang menjadi gay menjadi sebuah anomaly dalam masyarakat. Namun Hakyeon tidak terlalu ambil pusing. Asalkan orangnya baik, apapun preferensi seksualnya bukanlah sesuatu yang mengganggu Hakyeon.

Kecuali yang di depannya ini, orang baik entah, biseksual iya. Biseksual ujung-ujungnya juga setengah gay, menurut Hakyeon. Jadi sebenarnya Taekwoon tidak masuk standar untuk diperlakukan baik oleh Hakyeon. Namun rasa bersalah dan bokek menjadi alasan Hakyeon harus pasrah.

"Tidur bareng gue malem ini."

Taekwoon menarik tubuh Hakyeon ke dalam pelukannya.

Hakyeon sudah menutup matanya erat-erat karena ketakutan. Tapi yang Taekwoon lakukan sekarang…

Mencium rambutnya,

Mencium pipinya,

Sambil memeluk Hakyeon dengan hati-hati.

Ini di luar perkiraan Hakyeon. "Eeh…"

"Gue mau meluk lo." Lanjut Taekwoon, kemudian merebahkan dirinya dan Hakyeon di atas kasur. "…J-jadi aku harus ngapain lagi?"

"Ya tidur lah, bego. Besok masih ada kuliah kan?" jawab Taekwoon sembari menguap dan menutup matanya. "Lo kira gue mau ngapain lagi, sih? Hahaha."

"Ish!" Hakyeon memukul pelan dada Taekwoon yang ada di depannya.

"Gue bilang, gue mau tidur sama lo. Ya tidur. Sekarang." Jawab Taekwoon, volume suaranya mengecil. "Gue capek, terus setengah mabuk, nih. Jangan berisik ya. Jangan pulang juga. Jangan ngapa-ngapain, pokoknya diem aja gue peluk, oke?"

Hakyeon merasa bingung. Mungkin Taekwoon bukan orang jahat.

Mungkin.

Kalau memang begini semua permintaan Taekwoon… MUNGKIN… hanya MUNGKIN… Hakyeon bisa menurutinya hingga hutangnya lunas.

"Selamat malam, kak Hakyeon."

Hakyeon kemudian mendengar dengkuran halus di telinganya, beserta degup jantung yang berdetak rileks dan teratur di hadapannya. Tulang belikat yang ada di hadapannya, wangi sabun yang sama di antara mereka.

Mungkin akhirnya dia bisa tenang beberapa jam.

"Selamat pagi, bodoh."

.

.

.

.

.

TBC./