Title : It's Fated
Writer : nickeYJcassie
Cast : YunJae-Min, YooSu, Kim Jaehee (Jaejoong's Nuna), Shim (Jung) Jaeyoon, Jessica Jung (SNSD), Park Bomi, etc.
Rating : T (PG 17)
Genre : YAOI, Straight, Friendship, Romance, MPreg ^^
Lenght : 7 of 8
Disclaimer : YunHo MILIK JaeJoong, JaeJoong MILIK YunHo, Cerita ini ASLI MILIK saya.
Warning : YAOI, Boys Love, Typo(s), Ide pasaran, EYD kacau, Judul ga sesuai dg cerita, No Majas, Alur lambat-kadang cepet, yg tidak suka genre, pairing, atau other pairingnya, lebih baik tidak memaksakan membaca daripada nanti menyesal dan berakhir marah-marah, saya cinta damai. Jadi,
TIDAK SUKA? JANGAN BACA! - NO BASH!
ps: italic Flashback
..
..
..
~*It's Fated by nickeYJung*~
Chapter 7
Untuk kesekian kalinya Jaejoong melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lima puluh menit berlalu, namun sedari tadi pria cantik itu hanya mondar mandir di kamar Yunho seraya menggigit ujung kuku telunjuknya –gelisah.
Gerutuan kecil terdengar keluar dari mulutnya. Ia merutuki kebodohannya yang dengan mudahnya menurut saja pada Yunho saat pria yang kurang lebih satu jam lalu menjadi kekasihnya itu menyuruhnya menunggu di kamar.
Jaejoong menghentikan langkahnya. "Bodoh! Kenapa aku harus menurutinya? Bukannya aku bisa pulang dan meninggalkan mereka berdua?" Gerutunya sambil berkacak pinggang.
Perlahan kaki jenjangnya melangkah menuju pintu. Jaejoong hendak membuka pintu bercat putih itu, namun ia sedikit ragu hingga untuk beberapa detik tangannya hanya terdiam memegang handle pintu itu.
Sekali lagi ia merutuki sikapnya, kenapa juga dia harus ragu? Bukankah dia tinggal membuka pintu itu kemudian pergi dari sana?
Jaejoong menempelkan telinganya ke pintu. "Shit! Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Apa mereka sedang melepas rindu?" Ia berbicara sendiri dengan nada sedikit sewot. Entah kenapa kedatangan mantan –tidak, mungkin (masih) istri Yunho itu membuatnya sedikit kesal, ingat hanya sedikit! Tidak lebih. Mungkin bukan kesal, ia hanya terkejut saja. Ya terkejut. " -Arggh! Ada apa denganku?" Jaejoong menggeram menahan teriakannya. Sungguh, dia tak mengerti dengan dirinya saat ini.
Fyuuh...
Menghembuskan nafas, akhirnya Jaejoong memutuskan keluar dari kamar itu. Wajahnya ia buat sedatar mungkin. Kakinya melangkah menghampiri Yunho untuk berpamitan. Yeah, sebenarnya bisa saja dia langsung pulang tanpa berpamitan lebih dulu, namun bagaimanapun dia seorang tamu yang masih punya sopan santun.
"Yunh—" Ucapannya terhenti saat matanya menangkap Yunho tengah berpelukan dengan Jessica.
Untuk beberapa saat Jaejoong hanya mematung melihat pemandangan di depannya. Ekspresi wajahnya tak bisa digambarkan, antara terkejut, marah, sedih atau bahagia. Entahlah, hanya Jaejoong yang tahu perasaannya saat ini.
"Oh, Jae.." Dengan cepat Yunho melepaskan pelukannya dengan Jessica. Pria tampan itu tersenyum hangat pada Jaejoong, tak mengacuhkan raut wajah pria cantik kekasihnya itu.
Jaejoong berdehem kecil, manik matanya bergerak ke atas –tak ingin menatap Yunho. "Maaf mengganggu, aku hanya.. ingin pamit.. pulang." Ucapnya memaksakan tersenyum pada Jessica yang tengah menatapnya.
"Kenapa tak menginap saja? Ini sudah malam."
"Tidak, Jaeyoon pasti mencariku, jadi aku harus pulang secepatnya... Um.. baiklah, kalau begitu aku pergi.." Jaejoong mengangguk kecil mencoba bersikap ramah pada Jessica. Ia pun berbalik hendak pergi.
"Bisakah aku meminta waktumu sebentar Jaejoong-ssi?" Jessica bertanya lembut pada Jaejoong membuat pria cantik itu kembali membalikkan tubuhnya –tak jadi pergi.
"Ye?"
"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, sebentar saja.. bisakah...?"
Jaejoong mentap Yunho bermaksud meminta penjelasan, namun pria Jung itu malah menganggukkan kepala dan kembali duduk di sofa. "Duduklah.." Suruhnya menepuk tempat di sebelahnya.
"Baiklah... tapi aku hanya punya waktu sebentar." Dengan terpaksa Jaejoong pun duduk di samping kanan Yunho. Sementara Jessica duduk di sofa single sebelah kiri Yunho.
"Sebelumnya, aku minta maaf karena belum berkenalan secara pribadi denganmu. Jung Sooyeon imnida, tapi orang-orang lebih sering memanggilku Jessica.." Perkenalkan Jessica dengan ramah.
"Aku tahu." Dingin dan pendek, hanya itu jawaban Jaejoong. Entah kenapa begitu bertatapan langsung dengan Jessica, rasa tidak suka itu muncul begitu saja. Padahal dulu ia tak begitu mengenal Jessica, ia juga mendukung saja ketika dulu Yunho memberitahukan hubungannya dengan yeoja itu, tapi sekarang? Apa mungkin karena Jessica yang telah membuat sahabatnya patah hati? Atau karena hal lain? Entahlah, Jaejoong sendiri tidak mengerti.
Yunho berdehem. Ia bisa paham dengan sifat sahabatnya plus kekasihnya itu. Jaejoong memang terkesan angkuh jika dengan orang yang baru ia kenal.
Jessica sendiri hanya tersenyum simpul mendengar nada yang sedikit ketus dari Jaejoong, namun ia tak mempermasalahkan sikap calon istri mantan suaminya itu.
"Aku tak tahu harus memulainya dari mana tapi... sebenarnya kedatanganku kemari untuk meminta Yunho kembali padaku."
DEG
Jaejoong langsung menoleh dan menatap Jessica saat ucapan itu terlontar.
"Tapi sayang Yunho menolakku.." Imbuh Jessica dengan mimik wajah yang dibuat sesedih mungkin. " –Yunho bilang dia sudah menemukan penggantiku. Awalnya aku tak percaya, tapi setelah melihatmu aku... –hah... aku sungguh sedih..." Jessica mendundukkan kepala dan menutup mulut dengan sebelah tanggannya.
Jaejoong sendiri masih menatap Jessica. Pria cantik itu merasa jengah melihat sikap yeoja model itu. "Kenapa harus sedih? Kau sendiri yang membuat Yunho pergi." Nada bicara Jaejoong masih terdengar ketus dan dingin.
Jessica mendongkakkan kepalanya, ia balas menatap Jaejoong. Dan tiga detik kemudian yeoja itu tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Sekarang aku bisa tenang meninggalkan Yunho, karena dia berada di sisi orang yang tepat."
"Huh?" Jaejoong dibuat tak mengerti dengan sikap Jessica, bukankah tadi yeoja itu terlihat sangat menyedihkan? Lalu.. apa maksudnya dia tersenyum dan berbicara seperti itu?
Sepertinya lelaki cantik itu masih belum bisa menangkap maksud ucapan terakhir Jessica.
"Jaejoong-ssi, tolong bahagiakan Yunho.. Selama bersamaku, aku tak terlalu memperhatikannya. Aku egois lebih mementingkan karierku dibanding suamiku. Yunho sangat baik dan bertanggung jawab, hanya saja aku bukan orang yang tepat untuk menjadi istrinya... Jaejoong-ssi, aku percaya padamu, kau adalah satu-satunya orang yang tepat mendampingi Yunho. Terimaksih sudah melahirkan dan merawat Jaeyoon. Aku percaya kalian pasti bahagia." Tutur Jessica dengan senyuman di akhir kalimatnya. Ia tahu tentang Jaeyoon, karena Yunho menceritakannya tadi. Lantas ia pun berdiri dan menghampiri Jaejoong. " –Bolehkah aku memelukmu?"
Jaejoong masih menampakkan wajah tak mengertinya. Terlebih setelah tadi Jessica berbicara panjang lebar. Ia tak menjawab ataupun menyahut ucapan Jessica. Bahkan ketika yeoja itu sudah berdiri tepat di hadapannya, Jaejoong hanya mendongkak menatap Jessica dengan mata yang mengerjap beberapa kali. Sungguh sangat terlihat seperti orang bodoh.
"Aish, kenapa kau diam saja? Ya sudah aku peluk saja.."
GREP
Jessica mencondongkan tubuhnya merangkul leher Jaejoong. Wangi tubuh Jaejoong sangat lembut, tidak seperti aroma tubuh pria lain, dan Jessica menyukainya.
Setelah beberapa detik, yeoja berambut blonde itu pun melepaskan pelukkannya dan kembali menegakkan tubuhnya. Namun Jaejoong masih bergeming, sepertinya pria cantik itu masih bingung dengan apa yang terjadi. Ya Tuhan... kemana perginya Kim Jaejoong yang cool dan Jenius itu?
"Jangan lupa undang aku di pesta pernikahan kalian ya.."
"Boo..." Panggil Yunho menggenggam tangan Jaejoong.
"Ah... ye..." Meskipun Jaejoong menjawab begitu, namun tetap saja ia belum mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Tunggu! Kenapa dia jadi telat berpikir seperti ini? Ah, sepertinya ini karena sedari pagi dirinya mengurus Yunho yang tengah sakit. Mungkin dia kelelahan hingga tak mampu berpikir dengan baik. Pikir Jaejoong asal.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Jessica mengambil tas dan travel bagnya yang di simpan di dekat sofa yang tadi ia duduki.
"Kau menginap dimana?" Tanya Yunho seraya berdiri.
"Mungkin aku akan pulang ke rumah orang tuaku, aku belum menjelaskan pada mereka..."
"Aku yakin mereka pasti akan mengerti, jangan khawatir.."
"Nde... ah Jaejoong-ssi.. senang bertemu denganmu... annyeong..." Pamit Jessica tersenyum pada Jaejoong. Namun Jaejoong hanya membalasnya dengan anggukan kecil.
"Biar ku antar." Tawar Yunho.
"Tidak perlu, galkhae..." Setelah memberikan senyuman terakhir, Jessicapun pergi meninggalkan dua orang yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi sepasang kekasih itu. Ia hanya tersenyum melihat Jaejoong yang sepertinya masih belum mencerna semua ucapannya tadi.
Dan ketika Jessica sudah pergi, barulah Jaejoong tersadar. "Hahh... aku tidak mengerti..." Desahnya seraya menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Jinjja! Jaejoong merasa ada yang salah dengan dirinya hari ini. " –Bukankah tadi kalian berpelukan? Tapi kenapa mantan istrimu bilang—"
"Jangan memanggilnya dengan sebutan mantan istrimu, dia punya nama Jae," Potong Yunho tak suka dengan panggilan Jaejoong pada Jessica.
"Dia 'kan memang mantan istrimu."
"Iya... tapi tak perlu diperjelas juga.. hah, sudahlah... ayo kita tidur..." Yunho berjalan ke arah kamarnya.
"Eoddiga? Kau belum menjelaskan padaku Jung!" Jaejoong ikut berdiri.
"Jelaskan apa lagi? Bukankah semuanya sudah jelas? Seperti yang dikatakan Jessica tadi, dia ingin kita menikah secepatnya.." Yunho tersenyum menggoda.
"Tapi... bukankah tadi kalian... berpelukan..?" Cicit Jaejoong. Dan seketika ia merutuki pertanyaannya. Pasti si beruang itu berpikir yang tidak-tidak. 'Ppabo Kim Jaejoong!' Rutuknya dalam hati.
"Lalu? Tadi dia juga memelukmu 'kan...?" Pria tampan itu melipat kedua tangannya di dada. " –Ommo, jangan bilang kalau tadi kau... cemburu...? aigoo manis sekali..."
See benarkan? Yunho pasti berpikir yang tidak-tidak.
"Y-ya! S-siapa yang cemburu eoh? Aku hanya... aku.. hanya tak mengerti saja. Makanya kau harus jelaskan biar aku mengerti!"Hardik Jaejoong dengan wajah memerah karena malu –mungkin.
Yunho semakin tertawa keras melihat Jaejoong yang salah tingkah seperti itu. "Arrasseo, aku akan jelaskan... tapi bagaimana kalau ku jelaskan di kamar saja, biar lebih 'menarik'. Eottae?" Kerlingnya menggoda.
"Tidak perlu! Aku pulang saja." Dengan wajah masam, Jaejoong melangkahkan kakinya hendak pergi.
"Ey... kenapa jadi merajuk begitu eoh? Kau tahu? Kalau seperti ini kau semakin terlihat menggemaskan Boo..." Yunho menahan pergelangan tangan kiri Jaejoong. Lantas pria tampan itu menarik tubuh Jaejoong dan memeluknya dari belakang. Kedua tangannya melingkar di pinggang ramping Jaejoong, dan kepalanya ia tenggelamkan di leher Jaejoong.
" –Aku mencintaimu Jaejoongie..." Hidungnya menghirup aroma tubuh kekasihnya. " –Aku akan menceritakannya, tapi sekarang aku ingin istirahat... tubuhku lelah..."
Jaejoong bisa merasakan hembusan nafas Yunho yang hangat. Ya Tuhan, ia lupa kalau Yunho sedang sakit. "Maaf, aku lupa kalau kau sedang sakit." Ia menolehkan kepalanya ke belakang. Tangannya meraba kening Yunho. Memang masih terasa hangat. " –Ya sudah, kalau begitu istirahatlah... aku pulang dulu, besok ke sini lagi.."
"Tapi aku ingin kau menginap malam ini.." Rajuk Yunho manja.
"Shireo~~ Jaeyoon pasti mencariku."
"Tsk, tunggu!" Sedikit tidak rela, Yunho pun melepaskan rangkulannya dan mengambil ponselnya dari saku celananya. Jarinya bergerak di atas layar benda persegi panjang itu, kemudian memperlihatkannya pada Jaejoong.
'Arrasseo, malam ini Jaeyoon menginap di tempatku.. tapi ku ingatkan, jangan berpikiran ingin membuatkan adik untuk Jaeyoon malam ini! Kalau kalian melakukannya, Kubunuh kalian berdua!'
"Mwo?" Jaejoong melebarkan matanya melihat pesan singkat yang dikirim beberapa jam lalu oleh Changmin.
"Tadi sore aku memintanya menjemput Jaeyoon, dan bilang kalau malam ini kau menginap di tempatku, heee.." Yunho tersenyum tanpa dosa. " –Jadi, ayo kita tidur sayang..."
Cup!
Tak ingin hidupnya berakhir malam ini di tangan Jaejoong, Yunhopun mengambil langkah seribu masuk ke dalam kamarnya.
"Yya! Jung Yunho mati kau!"
Dan malam itu akhirnya Jaejoong terpaksa menginap di apartement Yunho. Tak ada hal spesial yang mereka lakukan. Hanya Jaejoong yang beberapa kali membully Yunho karena pria tampan itu selalu saja menggodanya. Entah itu memeluknya, melontarkan rayuan gombal, atau Yunho yang selalu tiba-tiba mencari kesempatan dengan memeluk dan mengecup pipi atau bibirnya. Malam itu juga Yunho menceritakan maksud kedatangan Jessica tadi.
._.
._.
Jessica menghempaskan tubuh rampingnya ke tempat tidur. Matanya menatap sekeliling kamarnya, kamar tidur yang sudah tiga tahun lebih tak disinggahinya, kamar tidur yang lebih besar dibanding kamar tidur lain yang ada di kediaman keluarganya –Jung Jihoo. Tidak ada yang berbeda, semuanya masih terlihat sama seperti dulu.
Pandangan matanya beralih ke atas, yeoja model itu menatap kosong atap kamarnya.
Sesaat lalu ia sudah menjelaskan semuanya pada orangtuanya. Awalnya kedua orangtuanya sangat marah dan menyalahkan Jessica, tapi akhirnya mereka berdua hanya bisa menerimanya, untuk apa mempertahankan jika sudah tak ada yang harus dipertahankan? Kedua orangtuanya juga sudah tahu perihal Yunho yang ternyata sudah memiliki seorang puteri, mereka juga kecewa karena merasa dikhianati, namun mereka mengganggap semuanya memang sudah takdir Tuhan. Mereka hanya berharap, puterinya bisa segera mendapatkan kebahagiaannya.
Jessica masih menatap atap kamarnya, mata indah yeoja itu berkaca-kaca, dan perlahan kristal bening jatuh dari kedua sudut matanya.
Menyesal.
Hanya itu yang kini ia rasakan. Ia menyesal jika mengingat apa yang terjadi padanya kini.
Kenapa dulu ia tak sungguh-sungguh mencintai Yunho, padahal ia tahu jika Yunho sangat mencintainya.
Kenapa ia menyia-nyiakan kasih sayang Yunho?
Kenapa ia lebih memilih egonya yang ingin menjadi seorang model terkenal dibanding dengan menjadi seorang istri yang baik?
Padahal tanpa bekerjapun kebutuhan materinya sudah pasti terpenuhi, mengingat siapa itu Jung Yunho.
Tapi itulah penyesalan. Dia selalu datang belakangan. Mungkin itu juga yang namanya cinta, kadang dia datang setelah kita merasa kehilangan.
Kedatangannya tadi ke apartement Yunho sebenarnya ingin mencoba peruntungannya, sebut saja ia tak tahu malu atau apapun itu, ia ingin kembali pada Yunho dan memulai semuanya dari awal lagi.
Tapi apa daya kenyataan kadang tak seindah harapan. Yunho menolaknya dan mengatakan kejujuran hatinya.
._.
"Untuk apa kau kemari?" Yunho menatap malas Jessica yang sudah duduk di ruang tamu apartemennya. Ketika ia tahu siapa orang yang bertamu malam-malam, ia dibuat terkejut saat orang yang sudah mulai ia lupakan berdiri di hadapannya sambil menyunggingkan senyuman. Awalnya Yunho ingin menyuruh Jessica pergi, namun ia sadar, permasalahannya dengan Jessica belum benar-benar tuntas, hingga ia –terpaksa- mempersilakan wanita itu masuk dan menyuruh Jaejoong menunggu di kamarnya.
"Aku.. aku.." Jessica sungguh gugup, bola matanya bergerak gelisah. Ia meremat tas LV nya. " –Mianhae.. aku minta maaf Yunho, setelah kehilanganmu aku baru sadar kalau aku—" Sekali lagi Jessica menggantungkan ucapannya.
"Jika kau kemari untuk memintaku kembali padamu, dengan terpaksa aku menolak. Maaf , aku tidak bisa. Kekecewaanku sudah berubah menjadi rasa benci, bahkan rasa cintaku padamu dulu tak bisa mengobatinya, terlebih sekarang aku... aku sudah punya orang lain, orang yang sangat aku cintai, dan orang yang telah memberiku keturunan."
"A-apa?" Wanita bersurai blonde itu melebarkan matanya terkejut. Memberikan keturunan? Maksudnya?
"Maaf Sooyeon-ah... empat tahun yang lalu, tepatnya sehari sebelum kita menikah, aku meniduri orang lain, dan itu sahabatku sendiri. Aku tak pernah tahu kalau dia mengandung karena ku pikir itu hal mustahil karena dia seorang pria, tapi ternyata dia pria yang istimewa. Tuhan menitipkan rahim di tubuhnya, hingga..."
"Kau—" Jessica menutup mulut dengan berdetak kencang. Apa Yunho bilang? Meniduri sahabatnya? Pria? Apa namja Jung itu tengah membuat lelucon? Jika iya, ini sungguh tidak lucu!
Jessica menggelangkan kepalanya tak percaya.
"Maaf..." Suara Yunho terdengar lirih. Ia tahu Jessica pasti sangat terkejut, tapi itulah kenyataannya, sekarang dirinya sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Jessica, dan ia ingin mengatakan semuanya, tanpa ada kebohongan.
Selama lima belas menit ruangan itu terasa hening, Yunho dan Jessica hanya terdiam bergeming dengan berbagai pikiran yang berkelebat di benak keduanya.
Sungguh, Jessica tak menyangka sama sekali. Shock? Tentu saja. Jadi Yunho membohonginya? Apa itu bisa disebut pengkhianatan? Lalu.. apa Yunho... gay?
"Ha-ha..." Tawa yang dipaksakan keluar dari mulut Jessica. Wanita itu masih menatap lantai apartement Yunho. Ia tak ingin mempercayai ucapan Yunho tadi, tapi... " –Sepertinya Tuhan sudah mengatur semuanya. Mungkin ini alasan kenapa aku selalu merasa belum siap memiliki anak darimu, mungkin Tuhan sudah lebih tahu apa yang akan terjadi. Dia membuatku egois hingga kau meninggalkanku dan kita bercerai. Bukankah ini seperti sudah direncanakan, Yunho-yah?" Jessica mendongkak menatap sendu Yunho.
Yunho balas menatap Jessica. Rasa bersalah menghinggapinya saat melihat kekecewaan di mata wanita yang pernah hidup bersamanya itu. Ia mengangguk pelan. "Nde, mungkin ini sudah takdir..."
"Takdir yang begitu mengejutkan. Tsk..."
"Nde..." Yunho hanya mendesah lirih.
"Jadi, apa sekarang kau masih membenciku?" Jessica kembali bertanya. " –Apa yang akan kau lakukan jika dulu aku tak meminum obat pencegah kehamilan itu? Jika kita mempunyai anak. Apa yang akan kau lakukan saat tahu kau juga memiliki seorang anak dari temanmu?"
Yunho terdiam. Pertanyaan itu yang selalu terlintas di benaknya, dan sampai sekarang ia belum menemukan jawabannya.
Seandainya itu terjadi, apakah ia akan memilih Jaejoong dan mengakui perasaannya yang sebenarnya, jika dari dulu ia sudah menyukai Jaejoong? Atau tetap mempertahankan rumah tangganya dengan Jessica?
Sejenak ia tersentak dengan pemikirannya sendiri. Ia kembali menatap Jessica yang masih menatapnya. "Mungkin kau akan lebih terluka, karena aku... aku akan memilih Jaejoong. Seandainyapun Jaejoong tak bercerai dengan Changmin tapi aku akan tetap memilihnya, karena sebenarnya aku sudah menyukai Jaejoong sejak dulu, sejak kami masih sekolah, dan mungkin kita—"
"Geuman! Aku tahu apa yang akan kau ucapkan selanjutnya, jangan diteruskan.." Jessica memejamkan matanya tak ingin mendengar ucapan Yunho selanjutnya. Ternyata ia tak benar-benar mengenal Yunho. Selama kurang empat tahun berumah tangga pun tak membuat Jessica mengenal Yunho sepenuhnya, mungkin lebih tepatnya tak peduli, karena ia sadar, dulu ia terlalu larut dengan kesibukannya sebagai seorang model.
Mengambil nafasnya dalam. " –Jadi ini sudah ditakdirkan 'kan? Aku yang menolak memiliki anak darimu, kita yang bercerai, kau yang mengetahui kalau kau ternyata sudah memiliki seorang anak, dan perceraian Jaejoong dengan Changmin atau siapa itu aku tidak kenal, bukankah ini memang sudah di atur oleh Tuhan? Jadi sekarang, aku hanya akan berusaha menerima semuanya dengan lapang, meskipun itu mungkin sedikit sulit... Dan yang pasti, aku ingin bercerai denganmu secara baik-baik, tak ingin ada rasa kecewa atau benci. Jadi Yunho, apa kau masih membenciku? Seperti yang kau bilang di awal tadi?"
Entah Jessica harus bersyukur atau kecewa dengan kenyataan yang menamparnya kini, tapi mungkin bersyukur adalah hal yang lebih tepat, karena setidaknya ia belum sempat memberikan keturunan pada Yunho. Dan jika itu sempat terjadi, entah bagaimana nasibnya dan anak mereka, karena Yunho sudah pasti akan meninggalkan mereka.
Yunho tak tahu harus berkata apa, yang pasti apa yang Jessica katakan semuanya benar. Ini sudah menjadi takdir mereka, dan tak seharusnya memang ia membenci Jessica meski dulu wanita itu telah membuatnya kecewa. Ya Tuhan.. kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Bukankah tak adil jika dirinya terus membenci Jessica, sedangkan dirinya sendiri yang membuat takdir rumit seperti ini?
"Maafkan aku Sica, tak seharusnya aku membencimu, aku hanya merasa kecewa hingga—"
"Aku mengerti." Potong Jessica kembali. Kini wanita cantik itu tersenyum. " –Jadi diantara kita sudah tidak ada rasa dendam 'kan?" Wanita itu terkekeh pelan, namun hatinya terasa sakit. Kemudian ia membuka tasnya dan mengambil sebuah map dari sana, lantas ia menyimpan map itu di atas meja.
" –Awalnya aku kemari memang ingin memintamu kembali, tapi ternyata... hah.. sudahlah.. ini, ini berkas perceraian kita. Tadinya pengacara keluargamu yang ingin memberikannya, tapi aku memintanya supaya aku saja yang memberikannya padamu. Aku sudah menandatanganinya, tadinya kalau kau bersedia kembali padaku, aku akan merobeknya, tapi ternyata itu tidak mungkin, hahaha..." Jessica tertawa kecil.
Yunho mengambil map itu, membuka dan membacanya dengan seksama. Lantas ia mengambil pena dari laci nakas. Kemudian tanpa ragu pria tampan itu membubuhkan tandatangannya di sana. Dan saat itu keduanya sudah resmi bercerai.
"Apakah orang yang bernama Jaejoong itu pria yang tadi membukakan pintu?"
"Ya, dia datang tadi pagi untuk merawatku." Sahut Yunho sambil menyimpan kembali surat cerai mereka di atas meja.
"Merawat? Kau sakit?"
"Um, aku demam, tapi sekarang sudah lebih baik..."
"Dia cantik sekali.. apa benar dia seorang pria?" Tanya Jessica lagi tak percaya. Jessica memang baru bertatap muka dengan Jaejoong tadi, dulu ia memang tak mengenal, lebih tepatnya tak ingin mengenal teman-teman dekat Yunho, jadi ia merasa asing.
Yunho terkekeh. "Dia memang sangat cantik, mungkin itu juga alasan Tuhan menitipkan rahim di tubuhnya, supaya dia bisa menikah dengan lelaki lagi, hahaha..." Tawanya keras.
"Ck, kau ini... tapi benar juga, mungkin itu juga yang membuatmu jatuh cinta padanya dulu, ah aku jadi iri. By the way dia suka melakukan perawatan wajahnya di salon mana? Kecantikannya sangat natural.."
"Hahaha..." Yunho semakin tertawa keras. " –Jangan sampai dia mendengarmu mengatainya cantik. Dia memang cantik dan sudah menjadi seorang 'ibu' tapi tetap saja dia laki-laki, dia juga kadang terlihat manly."
"Jinjja?" Tanya Jessica tak percaya.
"Nde."
"Kalau begitu aku harus berbicara dengannya." Jessica tersenyum sedang Yunho hanya mengernyitkan alisnya bingung.
Keduanya kembali terdiam.
"Anakmu pasti mirip denganmu? Atau mirip dengan Jaejoong?"
"Matanya mirip denganku, tapi kulit dan bibirnya mirip Jaejoong, namanya Jaeyoon, Shim Jaeyoon... dia perempuan, tapi aku akan memastikan marganya menjadi Jung secepatnya."
"Shim?" Tanya Jessica sedikit bingung.
"Saat Jaejoong dinyatakan hamil dulu, sahabat kami Shim Changmin menikahinya, tapi akhirnya kemarin mereka bercerai. Bukan karena aku kembali, tapi diantara mereka memang tak ada rasa cinta, bagaimanapun mereka bersahabat. Lagipula Changmin sudah menemukan belahan jiwanya. Jadi mereka memutuskan untuk bercerai saja, dan Jaejoong... aku sedang berusaha untuk membuat hatinya luluh. Jujur saja, dia orangnya sangat keras kepala, tidak mudah menaklukkannya, tapi dia bersedia menerimaku, yeah walaupun belum bisa mencintaiku..." Jelas Yunho panjang lebar. " –Huh, kenapa aku jadi curhat begini?" Pria tampan itu tertawa.
"Aku yakin ini akan berakhir indah... aku juga berharap kelak bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik darimu!" Gurau Jessica.
"Hahaha... aku berd'oa untuk kebahagianmu Sica."
Keduanya kembali tertawa, menghapus kebencian dan kekecewaan yang sempat singgah di hati mereka.
"Mmmm Yunho-yah, bolehkah aku memelukmu? Mungkin ini terakhir kali aku memelukmu, ani... anggap saja ini pelukan persahabatan. Bolehkah?"
Yunho terlihat berpikir, tapi tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya dan berdiri merentangkan tangannya.
Melihat itu Jessicapun ikut berdiri dan menghampiri Yunho. Keduanya berpelukan hangat, pelukan yang mengawali persahabatan mereka.
._.
Jessica mengusap lelehan airmatanya. Ia tersenyum getir. Semenyesal apapun, ia tetap saja tak bisa mengubah takdirnya, mungkin takdirnya memang bukan bersama Yunho, dan ia harus bisa menerimanya.
Wanita itu tersenyum, ia tak khawatir melepaskan Yunho karena mantan suaminya itu berada di sisi orang yang tepat, yeah.. perlahan Jessica mulai menyukai sosok Jaejoong.
._.
._.
~*It's Fated by nickeYJung*~
5 Februari 2013
Pesta ulang tahun Jaeyoon berlangsung meriah. Seperti apa yang diinginkan gadis cilik itu sebelumnya, banyak balon dan pita serta sepuluh badut yang memeriahkan pesta bocah yang baru menginjak usia tiga tahun itu.
Berbagai kalangan menghadiri acara tersebut. Dari rekan kerja dan karyawan YJ Group, karyawan Dream Restaurant, serta anggota keluarga mereka turut hadir di sana.
Yunho menepati janjinya pada sang anak untuk membuatkan pesta yang meriah jika dulu Jaeyoon mau memanggilnya appa. Dan malam itu Jaeyoon nampak sangat bahagia sekali.
Acara tiup lilin dan potong kue telah usai. Tamu undangan terlihat sangat menikmati pestanya, mereka tampak senang melihat pertunjukan sulap dari badut-badut yang disewa oleh Yunho.
Yunho dan Jaeyoon yang paling terlihat antusias di antara semuanya, dan itu memang sudah tak aneh lagi, mengingat duo Jung itu sangat menyukai acara pesta. Keduanya seolah tak peduli dengan tatapan para tamu yang merasa tingkah mereka terlalu berlebihan, yang belum tahu mungkin merasa heran sekaligus terkejut, dan yang sudah tahu watak keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Seperti Jaejoong, pria cantik itu hanya berdiam diri di salah satu sudut hallroom hotel, sesekali Jaejoong meneguk minumannya dan menggeleng jengah melihat tingkah autis calon suami dan puterinya itu.
"Yang sabar ya Jae..." Yoochun menghampiri Jaejoog dan menepuk pundak Jaejoong sambil tersenyum –mengejek.
"Kapan mereka berhenti menyukai hal yang membosankan ini?"
"Untukmu mungkin membosankan, tapi untuk mereka... ini surga, eu kyang kyang~" Junsu tertawa sedikit kencang membuat Jaejoong semakin kesal.
"Ck, kalian membuat moodku tambah buruk! Omong-omong kemana Changmin? Aku tak melihatnya." Jaejoong mengedarkan matanya mencari sosok tinggi sahabatnya.
"Seperti tidak tahu saja, apalagi yang dia lakukan saat menghadiri pesta mewah seperti ini? Tentu saja berburu makanan." Sahut Yoochun malas.
"Lihat di sana! Sepertinya Bomi tertular penyakit Changmin." Junsu menunjuk Changmin dan Bomi yang tengah tertawa sambil saling menyuapi. Dan sekali lagi, Jaejoong hanya bisa memutar bola matanya. Kapan orang-orang di dekatnya berhenti berbuat yang aneh-aneh?
Ah, berbicara tentang Changmin, keluarga Changmin memang sempat terkejut mengetahui Jaeyoon bukan darah daging Changmin, tapi kemudian mereka menerimanya dengan lapang. Karena seperti yang sudah dikatakan dulu, keluarga Changmin tidak terlalu memusingkan dan tak mau ikut campur dengan kehidupan pria penyuka segala jenis makanan itu, yang penting Changmin bahagia, itu sudah cukup untuk mereka.
"Mohon perhatiannya..." Suara Yunho menginterupsi semua tamu yang tengah menikmati pesta itu, tak terkecuali Jaejoong yang langsung menoleh ke arah panggung, di mana Yunho berdiri –dengan sebuah mic di tangannya.
" –Ada satu hal yang ingin ku sampaikan pada kalian.." Yunho kembali melanjutkan ucapannya. Ia sedikit meremat mic yang dipegangnya karena sedikit gugup." –Seperti yang sudah keluargaku sampaikan beberapa hari lalu tentang status gadis cilik yang sedang berulang tahun hari ini... Shim Jaeyoon, yang mungkin sebentar lagi namanya akan berubah menjadi Jung Jaeyoon, adalah anak kandungku, anak yang dilahirkan dari seseorang yang sekarang sangat aku cintai... Aku tak peduli tanggapan semua orang terhadapku, aku akan terima umpatan, cacian, makian, atau apapun itu karena memilih keputusan ini. Tapi ini adalah keputusanku, dan aku sudah siap menerima segala konsekuensinya..."
Mengambil nafas sejenak. " –Aku akan menikahi ibu dari Jaeyoon. Dia adalah pria terhebat yang pernah ada..."
Bagi yang belum mendengar berita tentang siapa ibu kandung Jaeyoon mungkin mereka terkejut karena dengan jelas Yunho menyebutnya seorang pria. Tapi bagi yang sudah tahu, mereka hanya menunggu ucapan sang GM selanjutnya.
"Selama hampir empat tahun ini dia harus hidup sebagai seorang istri dan ibu, padahl dia adalah laki-laki, tapi hanya karena keistimewaannya, dia harus menaggung semuanya... Jika bisa, aku ingin memutar waktu dan menemani hari-harinya yang pasti tidak mudah, tapi sayangnya aku hanya bisa berandai-andai... Tapi sekarang, aku ingin menebus semuanya, aku ingin memberinya kebahagiaan, aku ingin menjadikan dia pendamping hidupku..." Yunho menarik nafas –lagi.
" –Kim Jaejoong! Maukah kau menikah denganku? Memulai kehidupan yang baru denganku dan anak kita? Aku mencintaimu..." Ucapan itu terlontar dengan sangat jelas dan tegas.
Semua yang hadir tak ada yang berani mengeluarkan suara satu katapun, mereka terlalu larut dengan suasana yang, entahlah.. bisakah mereka menyebutnya romantis? Karena Yunho dengan gentlenya mengungkapkan 'rahasia' kehidupannya dan melamar calon istrinya di muka umum.
Dan seketika lampu ruangan itu mati, semua tamu terkejut dan sedikit ricuh, namun tak lama sebuah lampu menyorot –fokus seseorang yang tengah berdiri di sudut ruangan.
Jaejoong menghalau lampu yang menyorot wajahnya dengan tangan kirinya.
Tiba-tiba lampu di atas panggung juga menyala –menyorot dua orang pria yang tengah duduk di hadapan sebuah grand piano, dan tak lama kemudian alunan nada indah terdengar.
Dengan terampil jari-jari indah Yoochun menari di atas tuts. Pria bersuara husky itu terlihat sangat mahir dan menikmati permainan pianonya.
Jaejoong berdiri terpaku. Ia bahkan tak sadar sejak kapan kedua sahabatnya itu pergi. Seketika tubuhnya meregang bersamaan dengan suara indah Junsu yang mengalun.
Pintu telah terbuka, dan kau masuk
Aku tahu itu adalah kau
Kau berjalan ke arahku dan menunjukkan wajahmu begitu cantik
Ini terlihat familiar
Jantungku berdebar
Kau telah mengambil hatiku
Jaejoong bergeming dengan lampu yang masih menyoroti tubuhnya –sekitarnya masih gelap-
Aku akan memberitahukan padamu sekarang
Aku akan berani
Bolehkah aku mencintaimu?
Ini adalah yang pertama kalinya untukku
Aku tidak ingin kehilangan itu
Cinta telah tiba
Aku akan melakukan yang terbaik
Lagu ini... lagu yang sering ia dan Yunho nyanyikan jika tengah berkumpul di apartement milik Yunho yang berada di Incheon dulu. Jika dulu mereka selalu membawakan lagu itu dengan diiringi sebuah gitar, sekarang Junsu membawakannya dengan iringan piano yang dimainkan oleh Yoochun. Terdengar begitu indah di telinga Jaejoong.
Sebuah lagu yang menurutnya sukup romantis. May I love You by Yurisangja.
Ini terlihat familiar
Jantungku berdebar
Kau telah mengambil hatiku
Ini adalah yang pertama kalinya untukku
Aku tidak ingin kehilangan itu
Bolehkah aku mencintaimu?Mata Jaejoong hanya terfokus pada dua orang yang tengah asik dengan dunia mereka di atas stage.
Begitu banyak tangisan dan air mata
Tapi aku telah menemukanmu
Bolehkah aku mencintaimu?
Sampai lagu itu terhenti, barulah lampu kembali menyala.
Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan sangat terkesan dengan penampilan dua lelaki tampan itu. Bahkan mereka pikir Yoochun dan Junsu adalah idol yang dibayar Yunho untuk memeriahkan acara, padahal kenyataannya mereka hanya teman dekat Yunho.
"Dulu kita sering menyanyikan lagu ini, aku yang bermain gitar dan kau yang bernyanyi, padahal sejujurnya, dulu lagu ini adalah ungkapan hatiku untukmu, hanya saja aku terlalu pengecut dan hanya bisa mengatakannya lewat lagu." Suara Yunho kembali terdengar. " –Jaejoong-ah apa jawabanmu?"
Yunho masih berdiri di stage, Yoochun dan Junsu sudah berdiri di samping grand piano sambil memperhatikan Jaejoong.
Semua mata tertuju pada Jaejoong. Mereka penasaran dengan jawaban namja yang baru mereka ketahui sebagai ibu dari gadis cilik yang berulang tahun hari ini, namja istimewa yang bisa mengandung dan melahirkan. Tadinya mereka tak percaya ada kejadian seperti itu, namun mereka pikir tak ada yang tidak mungkin jika Tuhan mengijinkan.
Semua orang yang baru melihat sosok Jaejoong menampakkan reakasi yang berbeda, ada yang kagum, ada yang iri, ada yang terpukau, bahkan ada yang terpesona dengan ketampanan yang dimiliki pria itu. Mereka sepakat, Jaejoong tidak hanya tampan sekaligus cantik, namun pria itu lebih dari indah.
Perlahan Jaejoong melangkahkan kakinya berjalan ke arah stage di mana Yunho berdiri tengah menunggu jawabannya. Ia naik dan menghampiri Yunho.
"Apa yang kau lakukan?"
"Ye?"
"Bukankah sudah ku bilang aku ingin lamaran yang romantis huh?"
"Tapi –bukankah ini.. ro..man..tis..?" Yunho mengusap tengkuknya seraya tersenyum canggung. Beberapa hari yang lalu ia meminta saran dari sahabat jidatnya itu, dan ini adalah konsep yang diberikan Yoochun untuk melamar Jaejoong, melamar sekaligus mengumumkan pada semua orang kalau dirinya adalah ayah kandung Jaeyoon.
"Romatis? Tapi kurasa tidak. Justru ini sangat memalukan." Sahut Jaejoong dingin.
Yunho tak tahu harus berkata apa melihat reaksi dingin dan kata-kata sarkastik Jaejoong. Ia tak mengerti. Namun karena tak ingin berlama-lama menjadi tontonan gratis, ia pun segera melayangkan pertanyaan intinya. "Lalu, apakah kau mau menikah denganku Jaejoongie?"
Sejenak Jaejoong hanya diam memandang wajah penuh harap di depannya.
Semua orang menahan nafas, berdebar menanti jawaban yang akan dilontarkan namja cantik itu.
"Aku... aku menolak... maaf..."
._.
._.
._.
._.
._.
~*It's Fated by nickeYJung*~
To Be Continued
Yaaah ko TBC lg? Katanya END?
Maaf readerdeul, ternyata chap ending ini kepanjangan 9k+ word, jd saya membaginya jd dua, makanya TBC nya ga elit bgt ye?
Saya bingung mau ngeCut nya dimana -_-
Tapi Chap depan janji Ending, n full of YunJae moment *oopss* dan bakal di publish mungkin dua hari lagi? 3 hari lagi? Ato minggu depan? Paling lambat minggu depan, tp tenang ga bakal PHP lg, mood saya lg bagus, jd pasti semangat publish :D
Ya sudah, silahkan tinggalkan jejaknya bila berkenan,
Kritik, saran, masukan, koreksi sangat diperlukan, tp sampaikan dengan bahasa yg sopan ya... ^^
YUNJAE IS REAL...!
Always Keep The Faith...^^
