Sebelumnya…

"KYAAA" terdengar jeritan Eren.

Jean dan Armin langsung melesat menuju sumber suara. Dan…

BRAK

"Khhh…"

Jean dan Armin langsung menatap horor pemandangan didepan mereka.

"A…apa yang terjadi…" tanya Armin ketakutan.


Be My Butler

Hajime Isayama

T+

"Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya, Eren rela melakukan apapun, termasuk menjadi butler dari seorang Rivaille"

Note: khusus Chapter ini alurnya maju mundur,,, mohon maap sedalam-dalamnya…


/Chapter 6 : Flashback/

Malam sebelum pergi ke desa…

"Ugh… aku dimana?" Eren membuka matanya perlahan. Ia menatap langit-langit ruangan itu. 'Kamar siapa ini? Kenapa banyak bau menyengat?' pikir Eren bingung.

"Sudah sadar rupanya" ujar Hanji tanpa rasa berdosa. Ia masih sibuk mencampurkan beberapa cairan di tabung reaksi. "Irvin, bagaimana menurutmu?" tanya Hanji.

Disebelahnya terlihat Irvin tengah membaca sebuah majalah olahraga. "Cairan itu tak seperti biasanya. Biasanya, warnanya lebih pekat dan baunya lebih menyengat" ujar Irvin tanpa melihat pekerjaan Hanji.

"Oh, aku lupa memasukkan sianida" Hanji menepuk jidadnya dan memasukkan sebuah cairan dengan bau seperti almond. *Yupi-chan: Hanjiii, kau ingin membunuh orang? Hanji: ('3') aku tak berniat membunuh mereka, aku hanya ingin meracuni mereka/trollface/ Yupi chan: /facepalm/*

"Nah, ini sudah selesai" Hanji mengangkat hasil kerjana tinggi-tinggi. "Ayo kita berikan pada minuman Annie" usulnya. "Aku ingin mengetahui reaksinya setelah ia meminum ini" Hanji mengatakan itu, seolah-olah Annie adalah tikus percobaan. (AN: mungin inilah yang membuat Annie merencanakan hal gila)

"Levi-kuunnn, kau jaga anak ini dulu, sementara aku mau memberikan cairan ini kepada Annie" ujar Hanji sembari menarik lengan Irvin.

"Levi?" ulang Eren bingung.

"Tch, seenaknya saja memanggilku 'Levi'" dengus Rivaille kesal.

Mata Eren langsung terbelalak ketika menyadari jika disampinya ada seorang Rivaille. Mungkin ia tak menyadarinya karena dari tadi Rivaille terus diam seperti mayat #dibantai Levi.

"Kenapa? Kau baru menyadari keberadaanku?" tebak Rivaille tepat sasaran.

"Eh, ya… seperti yang kau katakan" jawab Eren salting sekaligus gugup. "Ano…"

"Ya, aku adalah Leviniisan-mu" jawab Rivaille cepat, bahkan sebelum Eren bertanya.

"EH!? Be..benarkah? lalu kenapa kau mencuri berkas rahasia keluargaku?" tanya Eren lagi.

"Kenapa?" ulang Rivaille dengan intonasi mengejek. "Kenapa kau tidak tanyakan itu pada kakekmu?"

"Kakek?" ulang Eren tak percaya. "Apa yang telah kakek perbuat padamu?" tanya Eren cemas.

"Dia―" Rivaille menatap Eren dengan tatapan menusuk. "―telah membunuh kedua orang tuaku"

"Apa?!" pekik Eren tak percaya.

"Dan aku akan―" Rivaille menatap Eren dengan tatapan 'ingin membunuh'.

Sementara Eren ketakutan sendiri. Ia teringat mimpinya kembali. Mimpi yang mengingatkannya pada seseorang yang selama ini sudah dianggapnya sebagai 'kakak laki-laki'nya, Levi.

"―Balas dendam terhadap keluargamu" Levi keluar dari lab Hanji.

BLAM

"Levi-niisan" lirih Eren.

B

M

B

"Moshi moshi, kakek ada apa?" tanya Mikasa setelah menerima telepon dari kakeknya.

"Mikasa, kau harus mendengarkan ini…" ujar Kakek Eren agak panik.

"Ada apa?" tanya Mikasa lagi.

"Aku baru mendengar jika kau akan menikah dengan anak bernama Rivaille setelah mendapat undangan pernikahan kalian. Tapi aku yakin jika kau tak pernah mengenalnya sebelum kalian dijodohkan, jadi aku akan bercerita sedikit tentangnya" ujar Kakek Eren yang mulai bisa mengendalikan emosinya.

Mikasa langsung memencet tombol speaker. Dan Annie dkk langsung pasang kuping.

"Dulu sebelum Eren dan kau lahir…"

B

M

B

15 tahun lalu…

"Mama, siapa kakek tua itu?" tanya seorang anak lelaki berumur 5 tahunan yang berwajah datar. Ia menari-narik lengan mamanya.

"Stt, Levi! Kau tak boleh menghina orang tua!" bentak mama anak berwajah datar itu.

"Hahaha, tak apa-apa" ujar seorang kakek tua dengan jas labnya, dialah Kakek Eren. "Wah, anakmu sudah besar ya. Rasanya baru kemarin dia lahir, ternyata aku sudah tua ya, hahaha"

"Iya, Levi memang cepat sekali besar! Oh ya, kudengar Carla juga sedang mengandung 9 bulan, berarti sebentar lagi anda akan menjadi 'Kakek' ya" mama Levi berbasa-basi.

"Iya, perkiraan dokter, besok Carla akan melahirkan, hahaha, aku memang sudah tua! Umurku saja sudah 59 tahun" sementara kakek Eren dan Mama Levi mengobrol tentang Carla dan bayinya, Levi jauh lebih tertarik melihat-lihat hasil kerja ayahnya dan Kakek Eren.

Ayahnya dan Kakek Eren adalah patner kerja, mereka adalah dokter bedah paling terkenal diseluruh dunia. Kasus sesulit apapun berhasil mereka selesaikan. Jadi hampir 99% operasi berhasil jika mereka berdua yang menanganinya.

"Ayah, aku datang membawakan bekal" Carla datang dengan perut seperti badut.

"Mama, ada badut cantik!" ujar Levi polos.

"Levi, ini tante Carla, bukan badut!" Mama Levi menjewer telinga anaknya.

"Kau tak usah begitu, Levi itu anak yang manis kok! Aku bahkan ingin mempunyai anak seperti Levi" Carla tersenyum sambil mengelus-elus perutnya.

"Carla, seharusnya kau dikamarmu kan? Besok kau akan operasi Caesar *#Author langsung joget Caesar#. Carla: bukan itu woooi (-_-)* kan?" tanya Kakek Eren cemas.

"Ayah tenang saja, aku baik―" belum sempat Carla melanjutkan kata-katanya. "Ayah, sepertinya air ketubanku sudah pecah" ujarnya. Tak lama darah mengalir dari sela-sela kakinya.

SIIINGGG semuanya malah terdiam seperti patung. Mungkin karena terlalu shock.

"Cepat panggil dokter!" titah Kakek Eren. ia langsung menggopoh Carla. "Carla, kau duduk disini dulu"

Carla menurut dan duduk di tempat periksa.

Sementara semuanya sedang kalang kabut, Levi malah sibuk membersihkan darah Carla yang tercecer. Benar-benar pecinta kebersihan -_-.

_Skip Time_

"Selamat Carla, anakmu seorang laki-laki!" Mama Levi menggendong seorang bayi laki-laki berambut coklat tua. "Sayangnya, ia tak bisa dijodohkan dengan Levi"

"Hahaha, aku juga inginnya menikahkan anakku dengan Levi, sayang dia laki-laki" ujar Carla. Padahal ia habis melahirkan, tetapi ia masih bisa bercanda dengan Mama Levi.

"Tch" sementara Levi hanya menggerutu didekat pintu keluar.

"Levi kau tak boleh begitu!" mama Levi memperingati anaknya.

"Aku benci dia" Levi kembali menggerutu. Tidak, ia bukannya tidak suka pada bayi laki-laki itu, dia hanya takut jika nanti bayi itu akan mengotori bajunya dengan luir bayi itu.

"Kau takut bajumu kotor?" tebak mama Levi tepat sasaran. Wajah Levi agak merona disana. Sementara Mama Levi dan Carla tersenyum geli. "Cepat atau lambat, kau pasti akan menyukai bayi ini" Mama Levi menggendong bayi itu ke tempat Levi bersandar.

Levi melihat bayi itu dengan setengah hati. Namun detik berikutnya, ia memandang bayi itu dengan ekspresi kagum. "Manisnya…" sebuah kata yang keluar dari mulutnya itu membuat seluruh readers yang membaca ini langsung kebelet pengen nyubit pipi Levi. Sementara Mamanya hanya tersenyum geli.

"Manis kan?" tanya Mama Levi pada anaknya semata wayang.

Levi mengangguk pelan.

"Kau boleh coba menggendongnya" ujar Carla.

Dan dengan hati-hati, Levi berusaha menggendong bayi itu. ia tampak sangat senang. "Rasanya hangat, sangat nyaman" ujarnya pelan.

"Dia akan menjadi adikmu, Levi-niisan" ujar Mama Levi, ia mengedipkan sebelah matanya pada Levi.

Sementara wajah Levi kembali merona.

"Lalu kau mau memberinya nama siapa?" tanya Mama Levi kepada Carla.

Carla berfikir sangat keras. "Hmm siapa ya?"

"Bagaimana kalau Eren saja?" usul Grisha. "Itu nama yang gagah menurutku"

"Boleh juga, namanya Eren, Eren Jaegar" ujar Carla mantap.

"Eren, cepetlah besar!" ujar Kakek Eren.

Sementara bayi berambut coklat kayu itu tertawa.

B

M

B

"Jadi, selama ini Kakek dan ayah kandung Rivaille itu adalah patner kerja?" tanya Mikasa setelah sang Kakek selesai bercerita.

"Iya, tetapi ayah Levi meninggal karena suatu kecelakaan. Dan Levi selalu menganggap bahwa akulah yang menyebabkan kematian ayahnya" lirih sang Kakek. "Lalu setelah Ayahnya meninggal, Levi dan ibunya pindah ke desa. Dan setelah itu aku tak pernah mendengar kabarnya lagi"

"Lalu, apa hubungan Rivaille dan Eren selama ini? Kenapa aku tak tahu jika kakek dan ayah Rivaille patner kerja?" tanya Mikasa bertubi-tubi.

"Kau tak ingat? Kau dulu pernah bertemu dengannya kan? Waktu itu ada pesta ulang tahun perusahaan keluarga kita, hampir semua presdir dari perusahaan-perusahaan besar di kota ini menghadiri pesta itu. keluarga Arlert, Kirstein, Leonhart, Fubar, Springer, Blous, dan keluarga-keluarga presdir lainnya. Lucunya, anak-anak dari keluarga-keluarga kaya yang menghadiri pesta itu, hampir semuanya seumuran denganmu dan Eren" kenang sang Kakek.

"Apa?!" bukan hanya Mikasa yang shock, Annie dkk juga shock.

"Jadi selama ini, dia sudah merencanakan ini?" gumam Annie.

"Mungkin" jawab Reiner setuju.

"Kalian, cari Eren Jaegar! Dia dalam bahaya besar!" titah Annie. Semuanya langsung berpencar kecuali Mikasa.

"Maaf kek, kita bicarakan lain kali ya, aku ada urudan mendadak, nee" Mikasa langsung memutus teleponnya. "Aku harus menyelamatkannya!" ujar Mikasa. Kepalanya sudah dipenuhi fantasi-fantasi buruk yang terjadi pada Eren.

"Semuanya, ini gawat!" ujar Armin ngos-ngosan.

"Ada apa?" tanya Mikasa dan Sasha berbarengan, yang lainnya sudah berpencar mencari Rivaille dan Eren soalnya.

"Mikasa kau ikuti aku, Sasha panggil semuannya menuju tempat tiang bendera!" Armiin langsung menarik lengan Mikasa.

B

M

B

Satu jam setelah keluarga Smith sampai di Desa…

"Eren, tolong bawakan barang bawaan ku menuju ruang istirahatku" titah Levi. Kemudian Levi pergi meninggalkan Eren.

"Tunggu, Levi-niisan!" panggil Eren.

"Jangan memanggilku begitu!" bentak Levi, ia kemudian pergi meninggalkan Eren yang terluka.

"Niisan" lirih Eren. ia mulai membawa beberapa tas Rivaille.

"Eren, aku mau bicara" tiba-tiba Mikasa mengagetkannya.

"Aku sedang sibuk Mikasa, nanti saja setelah ini selasai" ujar Eren. Ia mengangkat sebuah tas besar dan hendak membawanya ke tempat istirahat Rivaille, namun Mikasa menghentikannya.

"Ini penting Eren, sebentar saja kumohon" pinta Mikasa memelas.

Eren menatap barang bawaan Rivaille yang tinggal sedikit. "Baiklah, sebentar saja ya"

Mikasa yang mendengar kalimat persetujuan dari Eren langsung menarik lengan sang Jaegar muda pergi dari tempat itu.

Diam-diam Levi mengikuti mereka. "Untung aku sudah memasanginya dengan alat penyadap, semuanya akan beres" ujarnya sembari menguping pembicaraan Eren dan Mikasa.

B

M

B

Vila keluarga Smith, pukul 08:40 malam…

Rivaille berjalan santai menuju ruang makan. Ia haus, sangat haus. Tadi ia habis membersihkan loteng yang sangat kotor tentunya ia membersihkan loteng itu sambil mendengarkan percakapan Eren seharian ini.

"Ini tehnya, Tuan dan Nyonya" ujar Christa sembari menaruh dua cangkir teh diatas meja makan.

"Eh? Aku tadi pesan kopi, bukan teh" ujar Irvin. Ia menaruh koran yang tadi ia baca.

"Sudahlah suamiku, sayang kalau tehnya tak diminum" ujar Hanji, ia sudah mulai meminum tehnya.

"Kalau kau tak mau, biar aku saja yang minum" Rivaille menyambar cangkir yang masih hangat itu dan meminumnya sampai tak besisa.

"Rivaille? Kau dari mana saja?" tanya Hanji cemas.

"Aku habis membersihkan gudang dan loteng yang sangat kotor" ujar Rivaille. Kepalanya mulai pusing. "Sepertinya aku kelelahan, aku kekamar duluan"

"Istirahat yang cukup kau kurang sehat akhir-akhir ini" ujar Hanji.

Sementara Rivaille sempat menangkap senyum kemenangan Annie. 'Terlalu cepat bagimu untuk merasa puas, dasar bocah tengik' batin Rivaille, saat sudah berjalan jauh dari ruang makan, ia merogoh sakunya. Dan JRENG JRENG… sebuah botol berisi obat penawar cairan Hanji. Ia membuka penutup botol itu lalu meneguknya.

"Levi-Niisan!" pekik Eren saat menemui Rivaille yang tengah meneguk obat penawar itu. "Kau sedang minum apa? Obat peninggi badan?" tanya Eren polos. Sepertinya Eren sedang menantang bahaya, selamatkan dirimu Eren! TATAKAE

Rivaille tak menghiraukan Eren, ia terus meneguk obat penawar itu sampai tak tersisa. Dan…

BRUGH

Ia jatuh didekapan Eren.

"Kau baik-baik saja? jangan-jangan kau berniat bunuh diri untuk menyusul orang tuamu?" tebak Eren panik. Ia memeluk tubuh mungil Rivaille dengan erat.

"Eren…" panggil Rivaille dengan suaranya yang seperti orang sekarat.

"Apa? Ada apa? Kalau butuh bantuan, aku selalu siap membantumu, apa pun permintaanmu akan kutepati" ujar Eren.

Rivaille menyeringai. "Kalau begitu, mulai sekarang kau harus dengarkan perintahku…"

Eren menatap Rivaille dengan tatapan penuh tanya. Tetapi Rivaille tak mempedulikannya.

"Tolong gendong aku ke kamarku" titah Rivaille.

"Baik" Eren langsung menggendong Rivaille menuju kamarnya.

*dan kejadian selanjutnya, seperti yang terlihat diCCTV yang disembunyikan Annie*

*setelah CCTV Annie dimatikan*

"Sudah kau matikan?" tanya Rivaille ketus.

"Sudah, tapi bagaimana kau tau jika Annie menyembunyikan CCTV diruanganmu?" Eren bertanya sembari melihat sebuah bingkai foto kecil yang sedikit terlihat dari salah satu tas Rivaille yang sedikit terbuka. Ia menghampiri tas itu dan handak mellihat foto yang ada dibingkai itu. dan terlihatlah foto dua orang anak lelaki yang satu berwajah datar dan yang satu lagi sedang tersenyum manis. Itu foto dirinya dan Rivaille yang diambil 10 tahun lalu. Ia lalu memasukkannya kedalam sakunya.

"Aku memasang alat penyadap dibajumu" ujarnya datar. Ia menatap langit-langit kamarnya, tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Kalian tahu mengapa? Karena itu adalah efek samping dari obat penawar cairan Hanji, setidaknya itu lebih baik dibandingkan harus melakukan adegan 18++ dengan anak paling polos sedunia bernama Eren Jaegar.

"Eren" panggil Rivaille. "Tolong gendong aku kesuatu tempat" pinta Rivaille. "Tapi sebelumnya, kau harus membuat seorang pengganggu tertidur untuk sementara" Rivaille menyeringai.

"Siapa?" tanya Eren penasaran

"Mikasa"

Mata Eren langsung membulat. Tetapi sedetik kemudian ekspresinya berubah patuh. "Baiklah"

B

M

B

Eren dan Rivaille menunggu seseorang dibalik pintu masuk vila keluarga Smith. Tubuh Rivaille masih tak bisa digerakkan, sehingga Eren harus membantunya bersembunyi dibalik pintu. Sementara ia tengah bersiap-siap membekap sepupunya sendiri, Mikasa.

CKREK

Pintu terbuka, tetapi Eren menunggu saat yang tepat karena masih ada Armin yang menemani Mikasa.

"Bagaimana jika kubuatkan teh agar kau lebih rileks?"

"Baiklah, terima kasih Armin" Mikasa memegangi kepalanya yang nyut-nyuttan lantara kepikiran sepupunya terus.

"Kalau begitu, aku ke dapur dulu" Armin buru-buru pergi ke dapur dan berniat membuatkan secangkir teh untuk sahabatnya.

Inilah kesempatannya, saat Armin sudah menghilang dari pengelihatan mereka, ia langsung membekap mulut Mikasa.

"HMPTTT…hhhmmmttt" Mikasa meronta-ronta agar bisa terlepas. Tetapi karena sudah terlanjur menghirup obat tidur itu, ia jadi kalah power.

Tak lama Mikasa mulai merasakan efek dari obat tidur itu. ia mulai mengantuk dan badanya terasa lemas.

"Maafkan aku Mikasa…" sesal Eren.

"Kau lama sekali, bocah" ujar Rivaille tak sabaran.

"Dia sudah pingsan" ujar Eren, ia meletakkan tubuh sepupunya didekat pintu. "Maaf, Mikasa" sesal Eren lagi. Ia mulai menggendong tubuh mungil Rivaille dan membawanya ketempat sesuai instruksi dari Rivaille.

B

M

B

"Tempat ini" gumam Eren kagum.

"Ya, ini tempat kita bermain dulu" jawab Rivaille santai. "Rasanya aku sedikit rindu pada tempat ini"

"Aku juga" ujar Eren ia masih sibuk mengagumi foto-foto dan barang-barang yang penuh kenangan akan dirinya dan Levi masih tertata rapih disitu.

"Aku yang membersihkannya" ujar Rivaille kemudian.

"Eh?!" pekik Eren. "Jadi tadi kau membersihkan tempat ini?"

Rivaille mengangguk. Setengah tubuhnya sudah mulai bisa digerakkan. "Biar bagaimana pun, kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri"

"Tetapi, bukankah kau dendam padaku?" tanya Eren menantang maut.

"Ya, and setelah seluruh badanku bisa digerakkan, aku akan membunuhmu" ujar Rivaille, ia sedikit melirik Eren. ternyata Eren gemetaran dengan jawaban Levi barusan. "Kenapa kau tidak kabur saja? kalau kau kabur sekarang, aku tak akan bisa mengejarmu"

Eren menggeleng sambil sesenggukkan. "Tidak!" ujarnya. Ia mulai terisak dan menangis.

"Tch, dasar" Rivaille membuang muka. "Kenapa?" tanyanya menggantung.

"Karena aku sudah berjanji" jawab Eren. ia mengelap air matanya dengan tangannya.

"Huh?" Rivaille menatap Eren bingung.

"Aku berjanji akan selalu mendampingimu" ujar Eren.

"Dasar bocah" ujar Rivaille kembali membuang muka. Sepertinya seluruh tubuhnya sudah mulai bisa digerakkan. Jadi, bagaimana jika ia membunuh bocah ingusan didepannya ini sekarang juga? Rivaille pun menggapai sebuah pisau didekatnya dan menyembunyikannya dibalik badannya. Ia menerjang tubuh Eren yang sekarang sudah lebih besar darinya.

"Kalau kau memang berniat membunuhku, aku tak akan melawan" ujar Eren lagi. "Karena…" Eren mulai terisak."Aku…" Eren terisak lagi, kali ini air matanya mulai mengalir dipipinya. "Selalu menyukaimu, Levi-niisan…"

DHEG

DHEG

DHEG

'Iblis apa yang telah merasukiku?' batin Rivaille. Tubuh Levi terasa lemas.

DHEG

DHEG

DHEG

'Aku hampir membunuh orang yang kusayangi' Rivaille menatap Eren yang sedang ditindihnya. Eren tengah menutup matanya pasrah.

DHEG

DHEG

DHEG

Rivaille mengelus kepala Eren. 'Ah, mungkin lebih baik jika diriku ini mati saja' Rivaille nemusukkan pisau itu pada dada kirinya.

DHEG

"Kau harus jadi lelaki yang kuat, Eren" ujar Levi sebelum tak sadarkan diri.

"Niisan?" Eren membuka sebelah matanya. matanya langsung membulat.

BRUGH

"Levi-niisan!" pekik Eren. "KYAAAAA" jeritnya frustasi.

BRAK

"Khhh…"

Jean dan Armin langsung menatap horor pemandangan didepan mereka.

"A…apa yang terjadi…" tanya Armin ketakutan.

TEBECE


AN: maap kalo banyak yang gak ngerti baca chap ini, karena alurnya maju mundur… jadi saran saya lihat baik-baik, pahami, dan rasakan dengan hati nurani… *lu pikir ini apaan*

Yosh, Yupi chan minta maap karena updatenya molor banget )w udah banyak tugas, lagi ulangan harian,,, dan BUNTU IDE )u #ditimpuk yupi ama pak ustad. *bawa pergi Yupinya. Ustad Rivai: itu Yupi gw wooi! Yupi chan: *berlari makin cepat*

AyakLein24: lagi ehem ehem? *langsung mikir gak jelas*

AlstroemeriaSBT8: suara apa hayoo? Sas, kan elu yang minta ada adegan YURIan ama YAOIan? '3')v

Azure'czar: RivaEren itu adalah sebuah virus yang bikin ketagihan kaya nakrkoba *otak author mulai ikutan konslet*

LinLinOrange: oke, oke,,, '3')y

Roya chan: isi dari sekret rom*RIP english* itu terkuak dichapter ini, tenang sajah…

Elevixxx: yosh, maap karena baru updet, banyak tugas dan ulangan harian,,, p('_')q

Adelia-chan: iya, semuanya dari pesantren al sekoting u,u)v #Joko:*pundung dipojok ruangan* Yupi chan: sudahlah Joko, ini Yupi chan bawa yupi sekarung. Ustad Rivai: *langsung nyembet yupinya*#

Hasegawa Nanaho: makasih banyak,,, Yupi chan sangat terbantu karena Nanaho chan *boleh panggil begini?* membantu meralat kata-kata yang masih salah '_')v

SedotanHijau: *lari menghindari teror, seseorang tolong Yupi chan!*

Ferishia09: anda stress karena nonton The Call? Saya pas nonton The Call aja sampe loncat ke bangku temen dan langsung meluk temen *lebay* '3')w

AkakoNichiya: oke, oke,,, RivaEren akan diperbanyakkk p('_')q TATAKAE!

Kazue Ichimaru: scene terakhir ambigay? Ampunnn saya tidak bermaksud membuatnya menjadi ambigay!